
RELATION AND OTHER THING # Hubungan dan Hal Lainnya
Selamat membaca.....
Waktu bergulir lagi.
Masih di London
Setelah satu minggu berlalu dari acara pesta di Mansion, semua anggota Keluarga Cempedak alias Adjieran Smith termasuk para besannya kini sudah memulai aktifitas normal mereka lagi. Meskipun semuanya masih berada di London.
Yang biasanya tinggal di Indonesia pun, masih ditahan untuk berada disana. Tapi pada akhirnya kebersamaan seluruh keluarga dalam tempat dan waktu yang cukup lama, kian mengeratkan hubungan yang sudah memang terjalin erat sebelumnya. Terlebih hubungan keempat dara manis berikut dua jejaka tahun lawas.
Mom Erna dan Dad, Mama Bela dan Papa Herman, serta dua wanita setrong yakni Mama Anye dan Ibu Yuna.
Hubungan ke enam orang tua tersebut bukan lagi nampak seperti besan, melainkan lebih pada saudara.
Empat Oma yang nampak begitu klop satu sama lain dalam memperhatikan dan menyayangi para cucu – cucu menggemaskan nan pintar, selalunya mendukung dan membantu sama lain untuk mengurus cucu – cucu mereka, disaat para Daddy dan Moms itu para krucil sedang sibuk dengan beberapa hal.
Dua Opa pun sama kompaknya seperti para Oma, para cuculah yang jadi prioritas utama mereka saat ini. Udah sebodo amat sama emak bapaknya itu para krucil, The Cucu is number one sekarang mah.
****
“Sudah mulai betah di London, Bu?.”
“Lumayan Ra, punya tiga temen gosip permanen sekarang.”
Dua wanita yang sedang mengobrol santai di ruang tengah itupun sama – sama terkekeh.
“Mommy Ara!. Nene Yuna!.”
“Ada apa Andrea yang blaem – blaem?.” Tanya Ara saat Andrea datang menghampirinya dan Ibu Yuna di ruang tengah, dan guru les pribadi itu anak bebek juga ada di belakangnya.
“Mrs. Ara, Mrs. Yuna...”
Guru les pribadi Andrea menyapa dengan ramah kedua wanita yang ditemuinya, seraya hendak berpamitan karena waktu belajar Andrea sudah selesai. Anak bebek dan itik itu sudah mau belajar di ruangan terpisah dengan Varen, sejak guru Varen diganti dengan guru laki – laki sesuai kehendak bocah perempuan yang gede ambek sekaligus pocecip pada sang Abang tak sedarahnya itu.
***
“Andreaaaa cucu Ake yang caem....”
Papa Herman yang baru saja memasuki ruang tengah tempat Ara, Ibu Yuna dan Andrea berada itu langsung menyapa cucu perempuannya yang cantik tapi ambekan, pocecip dan suka lemes kadang – kadang, sekaligus juga hiper aktif!.
“Akeee! ...”
“Gappaaa!....”
“Hello beautiful angels! ....”
Dad yang datang bersama Papa Herman pun ikut memeluk dan menciumi cucu perempuannya yang paling besar itu seperti halnya Papa Herman.
“Ara, Yuna.” Sapa Dad pada dua wanita yang disebutnya.
“Dad, Pa, sudah selesai main golfnya?.”
“Udeh Ra.”
“Udah jago dong ya kamu, Man?.” Ledek Ibu Yuna pada Papa Herman.
“Wuih jangan salah, Yun. Tadi itu tiga belas hol, kelar!.” Sahut Papa Herman dan tiga orang dewasa itu pun terkekeh.
“Holes ake.....”
“Iya dah itu.” Sahut Papa Herman pada Andrea yang mengkritik ucapan Bahasa Inggris Papa Herman yang asal kedengeran mirip, kaga iyeng pegimane tulisannya. “Andrea udah selesai sekolahnya?.” Tanya Papa Herman.
“Already, Ke!..... Sudah!.” Jawab Andrea.
“Guuuuttt.....” Sahut Papa Herman lagi dan Ara, Ibu Yuna serta Dad pun terkekeh lagi.
****
Malam ini selepas makan malam, beberapa orang sudah berkumpul di ruang keluarga. Para pangeran yang pergi
bekerja pun kembali lebih awal saat sebelum makan malam.
Hanya Mika dan kedua orang tuanya yang tidak ikut makan malam bersama, karena sejak kemarin tiga orang itu
pergi menginap di Hotel untuk menghabiskan waktu bersama orang tua dan keluarga kandung Dewa yang sudah rindu pada mereka bertiga. “Assalamu’alaikum.”
Suara Michelle dan Dewa pun terdengar memasuki ruang tengah Mansion Utama Keluarga Adjieran Smith.
“Wa’alaikumsalam.”
“Lah kok udah pada balik?.”
“Ini si Mika merengek terus minta pulang ....”
“Maunya main sama Drea dan si kembar en Valera.” Sahut Dewa dan Michelle pada pertanyaan Prita. “Mana itu mereka?.” Tanya Michelle yang tak melihat itu para krucil berada di ruang tengah.
“Ada di ruang bermain bersama Fania, Fabiana dan Mama Bela.”
“Oh ya udah Kak Ara, aku sama Boo – Boo keatas dulu, sekaligus mau menggantikan pakaian Mika.”
“Sekalian kamu ajak Varen, Drea dan Nathan turun ya. apple pie nya sudah ready gitu!.” Ucap Ara.
“Bapak – bapak gendheng mana Ra?.”
“Lagi di ruang Billiard, Wa!....” Sahut Ara pada Dewa.
__ADS_1
“Hmmm ya udah!.”
“Far og Mor (Ayah dan Ibu) kamu ga ada rencana kesini lagi, Dewa?.” Tanya Mama Anye yang juga berada bersama Ara, Dad dan juga Mom serta Prita.
“Besok Ma, sebelum kembali ke Norweg Far og Mor akan mampir kesini dengan yang lain juga.”
Mama Anye pun manggut – manggut.
“Kenapa mereka buru – buru pulang sih Wa?.”
Mom ikut bertanya.
“Yah, Far og Mor sudah terlalu cinta pada Norweg dan lebih suka berada dipinggir danau daripada di tengah kota ....”
Mom serta lainnya yang sedang duduk – duduk bersama di ruang tengah itu kompak terkekeh mendengar ucapan Dewa. Sementara Michelle dan Mika sudah naik duluan untuk pergi ke kamar mereka.
“Ya sudah, aku mau menyusul itu bapak – bapak gendheng ke ruang billiard.” Pamit Dewa pada semua orang didekatnya itu.
“Oke.”
****
Ruang Bermain
“Mommaaa! .... Andrea nihhh!.”
Sebuah seruan keluar dari mulut Nathan yang nampak terlihat sebal.
"Ish nih anak.. " Gerutu Fania dalam gumamannya. “Dreaaa ... jangan suka ganggu Nathan dooooonnnggg ....”
“I don’t Momma.... (Engga kok Momma).” Sahut si Pocecip Little Girl itu santuy.
“Nah itu Nathan kenapa? ....” Tanya Fania pada putri semata wayangnya yang hiper aktif dan suka iseng itu emang kek emaknya biar kata masih kecil juga.
“Ah, Tan – tan lebay....”
“Emang kamu tuh yang suka gangguin orang! ....”
“Haish.”
Fania mendengus seraya bergumam melihat dua krucil yang suka ribut ini.
“Tell me, what is it? (Ayo bilang, ada apa?).” Tanya Fania pada Nathan dan Andrea.
“Ini Momma, Andrea merebut Hape aku! ....”
Nathan berseru sambil menunjuk Andrea yang memang sedang memegang ponsel milik Nathan, dan si pocecip little girl itu nampak asik sembari cekikikan sendiri sambil menatap layar ponsel yang ia pegang. “Ih, aku pinjam bukan merebut.” Andrea membela diri.
“Kalau pinjam itu bilang dulu, bukan langsung ambil!.”
“Drea .... kembaliin itu hapenya Kak Nathan.” Fania mencondongkan wajahnya pada Andrea.
"Dreaaa...."
"Momma cerewet ih."
"Miracle Andrea!."
Dan si pocecip little girl itu pun bersungut sambil mengembalikan ponsel Nathan dengan ga ikhlas. Lumayan Kicep kalau si Momma sudah melotot dan suaranya naek walau cuma setengah oktaf. “Nih.”
“Gitu dong jadi anak baik! .... Udah dipelototin Momma aja baru deh! .... Nanti kalo aku rebut, padahal punya aku, nangis deh, terus ngadu sama Abang! Aku deh yang dimarahin Abang. Disangka Abang aku yang gangguin Andrea ....” Cerocos Nathan.
“Tan – Tan pelit!.” Andrea memandang sebal pada Nathan.
“Dreaa.... ga boleh gitu!. Memang Momma sama Poppa ajarkan Drea jadi seperti itu?.”
“Memang Tan – Tan pelit!. Aku kan pinjam sebentar aja!.” Jawab Andrea ketus. "Menyebalkan!."
“Drea!. Begitu Andrea bicara dengan Momma?.”
“Maaf Momma ....” Ucap Andrea pelan sembari menunduk.
“Memang ponsel kamu mana?.”
“Dead (Mati).”
“Ya kalau ponsel Drea mati, berarti waktu bermain ponsel kamu sudah habis!. Jangan merebut ponsel orang lain!. Udah sering Andrea begini, ga hanya sama Nathan tapi sama Abang juga!.” Ucap Fania. “Nathan juga ya waktu bermain kamu dengan ponsel hanya tinggal sebentar lagi ....”
Nathan pun mengangguk cepat sambil memandang pada sang Momma yang sedang duduk didepannya dan Andrea dengan wajah yang serius dan suara yang agak menyeramkan ditelinga para krucil. Ga melengking sih Cuma kelewat teges didukung dengan raut wajah yang agak – agak tegang.
“Pokoknya Momma ga mau dengar kalian ribut karena berebut ponsel atau yang lain ya?.”
“Iya Momma.”
“Dan kamu Andrea, Momma ga mau ya kamu rebut – rebut mainan Kak Nathan atau orang lain. Ga boleh, mengambil barang tanpa seijin pemiliknya. Ga baik. Ngerti?. Mau barangnya Kak Nathan kek, Abang kek, atau barang - barang milik adik - adik Andrea!.”
Mamah Dedeh, eh Momma Fania sedang berceramah sedikit. Ngomel deng.
“Iya .... Momma ....”
“Jangan iya iya aja, nanti diulang lagi!.”
Andrea tertunduk lesu, wajahnya mulai muram.
“Udeh ah, anak jangan dimarahin mulu! Kesianan tau ga, tuh udah mau nangis kan dia?.”
Mama Bela dan Fabiana pun mendekati Fania.
“Yuk sini, Drea sama Ene ....” Ajak Mama Bela pada sang cucu.
“Ya lagian, keseringan begitu. Dibilangin bae – bae, diulangin lagi .... bener tuh kata si Nathan nanti kalo si Nathan membela diri, dia ngadu sama si Varen entar disangkanya si Nathan yang iseng padahal die. Siapa yang ngajarin tau ....” Cerocos Fania. “Gede kepala karena banyak yang belain.”
__ADS_1
“Leave it Fania .... (Udahlah Fania).... she’s just a kid (Dia hanya anak – anak) ....”
Fabiana bersuara sambil tersenyum. Ga tega juga liat Andrea.
Fania menghela nafas sembari mendengus.
“Lagi dapet kamu?. Marah – marah mulu Mamah perhatiin dari kemaren...” Ucap Mama Bela sambil mendekap Andrea yang sepertinya mulai terisak itu.
“Andrea denger ucapan Momma tadi ya, jangan diulangi lagi!....”
“I....ya ....”
“Tadi sudah memecahkan guci punya gamma, kemarin adik Varo hampir jatuh ke lantai gara – gara udah dibilang
jangan diangkat dari box nya, tetep kamu angkat juga!.”
“Udah Momma, Andrea jangan dimarahi lagi ... kasian ...” Kakak Nathan ikutan berkaca – kaca liat Andrea dicecer emaknya.
“Belum pernah Momma cubit, biar tahu rasa!.”
“Ja – ngan .... Mom –mma ....” Andrea yang nampak ketakutan itu sesenggukan.
“Udeh deh sono – sono .... biarin Mamah aje ama si Esmeralda yang disini sama mereka....” Syahelah mengibaskan tangannya dengan sebal akibat cucunya dimarahin sama si Kajol ampe sesenggukan.
“Hey, What’s going on? (Hey, Ada apa?).” Andrew datang ke ruang bermain, dan Michelle serta Mika berikut Varen juga ikut masuk ke tempat itu.
“Pop... Paaaa ....”
“Andrea....” Andrew langsung memeluk Putrinya yang sedang sesenggukan dipelukan neneknya.
“Andrea kenapa?.” Varen juga ikut mendekati Andrea dengan wajah cemas.
“Dimarahi Momma?.”
“Apalagi Ndrew?. Ya iya tuh dimarahin sama si Kajol.”
“Jangan terlalu keras pada Drea, Heart .... Kasihan sampai terisak sesenggukan seperti ini.”
“Siapa yang terlalu keras sih?!.”
Fania menyahut ketus.
Sementara Fabiana dan Michelle hanya diam saja.
“Ya kalau kamu ga terlalu keras Andrea ga sampai menangis hingga seperti ini.”
Andrew berbicara dengan berhadapan dengan Fania setelah Varen mengambil alih untuk membujuk Andrea agar tak menangis lagi bersama Nathan dan neneknya.
“Ya udah jangan nyolot! .... Biasa aja ngomongnya.” Si Kajol masih ketus. "Kalo aku keras sama dia, udah biru - biru itu pahanya!."
“Aku sudah bicara dengan biasa ini.” Sahut Andrew. “Kamu yang melotot sama aku .... juga jangan bicara seperti itulah.” Ucap Andrew pelan karena ada tiga bocah bersama mereka. “Aku hanya bilang, kamu jangan terlalu keras dan sering memarahi Andrea, apapun kesalahan dia. Kan bisa di diberitahukan pelan – pelan. Dia baru berusia enam tahun, Heart.”
“Terus, aku lagi yang salah?!.”
“Aku tidak menyalahkan kamu, Heart.”
“Ck! Serah lah!.” Fania berlalu begitu saja dari hadapan Andrew seraya berjalan untuk keluar dari ruang bermain. “Makin besar kepala aja itu dia bakalan!.” Fania menggumam kesal dengan kencang.
“Heart... “ Panggil Andrew pelan.
Namun Fania mengabaikan panggilan Andrew.
‘Kenapa sih, sedang PMS kah?. Perasaan gue bicara sudah dengan sangat biasa.’ Batinnya.
“Dia lagi kenapa sih?. Lagi dapet emang?.”
Mama Bela berdiri mendekati Andrew.
“Entah Ma. Setahu Andrew dia sedang tidak PMS.”
“Terus kenape itu dia kayaknya uring – uringan?. Ada yang die mau kamu ga kasih?.” Tanya Mama Bela lagi.
“Rasanya tidak juga Ma ...”
“Lagi boring saja kali itu Kak Fania! ....” Celetuk Michelle.
“Ck! Dari kemaren Mamah perhatiin die bawaannya kesel aje. Sape aje diomelin. Tadi siang si Teresa juga kena omel gegara setimbot yang die mau kaga ada jamur nye.” Cerocos Syahelah. “Kemaren udeh ngomelin si Hera, gegara si Andrea berenang kelamaan, padahal juga baru setengah jem itu bocah nyebur.”
Mama Bela masih nyerocos.
“Orang salah aje perasaan ama si Kajol dari kemaren.”
Mama Bela masih nyerocos sementara Andrew menghela nafasnya dan Michelle geleng – geleng. Dan Fabiana yang tadi ikut menghibur Andrea kini mendekati tiga orang dewasa yang masih berdiri itu.
“Maybe she’s just feeling unwell (Mungkin dia hanya sedikit lelah). Beside, Fania looks a little bit pale (Lagipula, Fania terlihat sedikit pucat).” Ucap Fabiana.
“Maybe you’re right, Fab (Mungkin kamu benar, Fab).” Sahut Andrew sambil manggut – manggut, lalu ia mendekati putrinya yang sudah berhenti terisak bersama Mama Bela. Lalu ia memeluk dan menciumi Putrinya yang sudah berhenti menangis tapi masih sesekali sesenggukan.
"Kurang piknik kali si Kajol!..." Gumam Mama Bela.
“Maybe she’s a little bit stressed? (Mungkin dia sedikit stress), staying at home quite long (Karena sudah agak lama berdiam di rumah).”
“I think you’re right (Kurasa kamu benar) ...” Sahut Michelle yang kini mengobrol berdua bersama Fabiana.
“She eat more than usual lately (Dia makan lebih banyak dari biasanya belakangan ini). And often (Dan sering). Some women are doing that when they are get stressed (Beberapa wanita kan begitu kalau lagi stres) ... And from what I’ve seen Fania’ gain weight, right? (Dan ku perhatikan sepertinya berat badan Fania agak bertambah).” Ucap Fabiana lagi dan Michelle manggut – manggut.
‘Iya ya, aku baru memperhatikan sepertinya Kak Fania terlihat lebih berisi tadi.’ Batin Michelle. ‘Mungkin dia stress karena sadar bertambah gendut, jadinya dia sensitif begitu.’
****
To be continue....
__ADS_1