
# TUNGGU AKU DI JAKARTA #
*************************************
Selamat membaca...
‘WOY PASANGAN BEBEK! CEK JAPRI GUE!. YANG SATU DIHUBUNGI SUSAH! YANG SATU DIHUBUNGI SIBUK TERUS ITU PONSEL KALIAN!. URGENT!!!!!’
“Ada apa? Kenapa Daddy menulis seperti ini?. Apa ada hal buruk yang terjadi di Jakarta?.”
Varen melirik jam dikamarnya, mungkin sudah jam tiga sore di Jakarta saat ini.
‘Dad, Ada apa?.’
‘Si Drea berantem habis – habisan di Sekolahan.’
Nathan yang menjawab, mata Varen membulat sempurna setelah membaca jawaban dari Nathan. Tanpa berpikir lagi Varen pun langsung menghubungi Nathan.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam!. BERANTEM GIMANA ITU ANDREA, THAN?!!!!.” Cecar Varen tanpa ba – bi – bu lagi. Nathan sampai menjauhkan ponsel dari telinganya sebentar saking kencengnya itu suara si Abang.
“Ya Berantem gimana sih?! Pake nanya lagi! ....” Sahut Nathan malas – malasan.
“TERUS DREA?!. DIA GIMANA?!. APA DREA TERLUKA?! AMMAR KEMANA?! KENAPA BISA DIA SAMPAI MEMBIARKAN DREA TERLUKA?!.”
Nathan mendengus kesal, kembali menjauhkan ponselnya. Pasalnya dia ngantuk berat plus cape. Ngurusin itu para bocah keganasan si Drea, belum lagi menghadapi para orang tua mereka. Meskipun para Daddies juga ikut pasang badan dan untungnya tak ada yang mau memperpanjang masalah ini.
Toh yang salah anak – anak mereka juga. Yah meski juga para Daddies nya menggunakan kuasa mereka untuk masalah si Drea ini. Pada akhirnya para orang tua murid korban si Andrea pun memilih damai dan menerima kompensasi yang ditawarkan oleh tiga Daddies yang ada di Jakarta.
Daripada mereka ditemuin sama itu dua naga yang ada di London?. Jangankan Perusahaan dan karir politik mereka yang bisa selesai dalam waktu singkat. Bisa – bisa sekeluarga bisa berakhir di jalanan atau ancaman nyawa melayang bisa langsung mereka dapat.
Yang satu naga temperamental dikit – dikit mau dan hobinya bakar – bakaran sama matahin tulang orang. Yang satu naga kalem, tapi sekalinya senget motong tangan orang. Yang jelas rasanya penjahat di negeri ini bukan tandingan itu dua naga atau bahkan Daddies nya yang lain.
Belum lagi Papa made in Italia yang sama gilanya.
Kalau orang mungkin memelihara kucing atau anjing dirumahnya, Papa Lucca memelihara Puma sebagai binatang peliharaan nya. Bahkan si Papa gila made in Italia itu hobi memutuskan jari para musuhnya dengan pemotong cerutu miliknya.
Mau macem – macemin si Drea, apalagi sampai menyeretnya ke ranah hukum?. Selain sudah akan kalah telak karena kalah kuasa, bisa – bisa sebelum sampe akherat udah dikasih rasa dulu neraka di Dunia oleh itu para Daddy tampan yang punya kepribadian banyak.
Bukan Nathan dan keluarganya menyepelekan hukum yang berlaku, tapi salahkan dunia ini yang macam hutan. Yang kuat yang bertahan hingga mampu berkuasa. Dalam hal perkelahian Andrea pun si cute girl versi London itu pada dasarnya ga salah – salah amat. Kalau dia yang memulai atau sok jagoan, Poppa dan Mommanya sudah
pasti yang paling pertama akan menghukumnya.
“Si Drea ga kenapa – napaaaa... Cuma tangannya aja pada bengkak gara ....”
“APA LO BILANG??!!. TANGAN DREA SAMPAI BENGKAK???!!!!.KENAPA BISA SEPERTI ITU NATHAN?!.” Varen sudah memotong ucapan Nathan, sebelum Nathan menyelesaikan kalimatnya. Nathan yang menerima telpon Varen sembari tiduran itu mengusap telinganya sendiri.
“Ya ampuuuun Baaaanng ... Bisa ga sih biasa aja ngomongnya?! Sakit kuping gue tau ga?!. Ya tangannya bengkak karena berantem lah. Tadi kan gue udah bilang dia berantem!.”
“Mana Drea???!!!!. Sambungkan gue dengan Drea sekarang!!.”
“Lagi tidur kali tuh anak. Istirahat. Lo telpon Mami atau Papi kek. Mama Bear kek lo telpon sana kalo mau ngomong sama si Drea. Gue cape banget ini Bang, baru ....”
Klik!
Varen pun mematikan ponselnya.
Nathan pun berdecak sebal karena si Abang mematikan panggilan tanpa permisi.
Nathan tak ambil pusing, karena matanya sudah berat, seberat bebannya gegara si Andrea hari ini.
****
Frognal, London, Inggris
‘WOY PASANGAN BEBEK! CEK JAPRI GUE!. YANG SATU DIHUBUNGI SUSAH! YANG SATU DIHUBUNGI SIBUK TERUS ITU PONSEL KALIAN!. URGENT!!!!!.’
Fania dan Andrew sama – sama mengernyitkan dahi mereka saat membaca pesan Jeff dalam grup chat keluarga mereka. Kemudian pasangan bebek itu saling tatap dan langsung membuka jalur pribadi obrolan diaplikasi chat mereka dengan Jeff dalam ponselnya masing – masing.
‘Donald Bebek! Kajol! Anak lo berkelahi di sekolah!.’
‘Dan kalian tahu gue ada dimana sekarang? Hospital!.’
Seperti itu bunyi pesan Jeff yang membuat Andrew dan Fania seketika panik.
“Kamu hubungi Prita, Heart. Aku akan menghubungi Jeff. Kita ke Jakarta hari ini juga!.” Ucap Andrew dan Fania langsung mengangguk.
****
Jakarta, Indonesia
“Drea, ini Poppa kirim pesan katanya sebentar lagi akan menelpon dan ingin bicara denganmu.”
“Oh please, Mom Icheel ... bilang saja pada Poppa aku sedang tidur atau apalah ... aku takut dimarahi Poppa ....”
__ADS_1
“Ya itu konsekuensi yang harus bisa kamu terima, Drea ......”
“Iya aku tahu, tapi aku belum siap untuk bicara dengan Poppa sekarang ... Please ... Mom Ichel bilang sama Poppa aku sedang istirahat ya?. Bilang saja aku masih shock.”
“Dan membuat Poppa mu gusar karena berpikir sesuatu yang buruk terjadi pada kamu?. Kamu tahu Poppa mu itu bisa saja mengamuk dan kamu belum pernah melihatnya benar – benar mengamuk bukan?. Jika dia sampai mengamuk, bahkan sekolahmu itu bisa ia ratakan dengan tanah tanpa ia berpikir lagi, hanya karena dirinya berpendapat kalau kamu sampai terluka.”
Gluk!.
“Begini saja, bilang aku sedang istirahat, nanti kalau aku sudah bangun, Poppa bisa menghubungi Mommy untuk bicara denganku, ya...?. Please ....??.”
“Baiklah.”
****
Massachusetts, Amerika Serikat
“Hish! Seharusnya gue tidak mengurangi fasilitas dari Daddy dan Poppa kalau tahu akan seperti ini jadinya!.”
Varen menggerutu sendiri.
****
“Assalamu’alaikum Mama Bear...”
“Wa’alaikumsalam Abang ..”
“Mama Bear dimana?.”
“Di rumah utama Sayang. Kenapa Bang?.”
“Bisa aku disambungkan dengan Drea, Mam?.”
“Sebentar ya, kebetulan Mama mau antar makanan untuk Drea.”
****
‘Drea...’
‘Ya Mam ..’
‘Makan dulu ya?.’
‘Makasih ya Mama Bear..’
‘Sama – sama .. Oh iya ini, Abang mau bicara sama kamu ....’
‘Abang?.’
‘Iya, nih!.’
****
Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia
“Miracle Andrea!.”
Gluk!
‘I’m dead! (Mati gue!).’
Andrea menelan kasar salivanya saat mendengar suara bariton pria yang ia kenal dengan sangat. Suara dari seseorang yang sejak kemarin ia hindari, karena takut dimarahi karena ia sampai berkelahi. Andrea yang sebenarnya sudah bangun dari tadi, meski melewatkan Subuhnya hari ini, mendadak kaku ditempatnya.
“Miracle Andreaaaa .... I know you’re wake up already! (Aku tahu kau sudah bangun!).”
Suara yang sepertinya masih berdiri ditempatnya itu terdengar lagi di telinga Andrea. Andrea merapatkan lagi matanya, membekukan tubuhnya, saat langkah kaki itu terdengar mulai berjalan mendekatinya meski suara langkah itu tak terdengar berisik. Tapi Andrea tahu, kalau pria dengan suara bariton berat yang meski bicara dalam
mode normal itu kini sudah berada didekatnya.
“Jangan coba membodohi ku Nona Miracle Andrea. Aku tahu kau sudah bangun. Jika kau tetap mau berpura – pura tertidur dan tak mau berbalik, aku akan mengangkat dan melemparkan mu ke kolam!.”
Andrea mendengus, sekaligus menghela nafasnya berat.
“Eh, Poppaa ...”
Andrea menunjukkan rentetan giginya pada sang Poppa yang kini sedang bertolak pinggang dalam balutan baju santai sambil menatap dirinya yang masih bersembunyi dibalik selimut meski sudah berbalik menghadap sang Poppa, meski hanya kepala Andrea saja yang nampak menyembul.
Andrea menarik dua sudut bibirnya tinggi – tinggi pada sang Poppa. “Poppa sendirian?. Tidak bersama Momma? Rery ikut?.”
“Kau tahu aku tidak akan pergi kemanapun kecuali ke kantor tanpa Momma mu!. Jangan coba mengalihkan. Bangun, aku ingin bicara padamu.”
Andrea masih bergeming di tempatnya. Andrew masih bertolak pinggang.
“Satu ...”
Andrew mulai menghitung.
__ADS_1
“Jika hitungan ketiga kau tidak juga mau beranjak dari ranjangmu, aku akan benar – benar menceburkan mu ke kolam, lalu akan ku siram dengan air es. Dua ...”
“Yes Sir! (Siap Pak!).”
Andrea langsung bangkit dan berdiri dari ranjangnya lalu langsung berdiri layaknya prajurit yang sedang di inspeksi oleh komandannya.
Sang Poppa amat menyayangi dan mencintainya memang, tapi kalau Andrea membuat masalah, Poppa pun tak segan menghukumnya dengan berbagai cara. Begitu juga dengan Mommanya. Dan Andrea tahu betul, ancaman sang Poppa tak pernah hanya berupa ancaman kosong saja.
Dulu saat Andrea pernah beberapa kali nakal dengan berlebihan sejak si Abang kuliah di Harvard, Poppa mensabotase Sosial Medianya selama tiga bulan. Bahkan Andrea tidak diperbolehkan menonton TV, dan saat belajar menggunakan laptop pun itu ditunggui. Bahkan ponselnya pun disita oleh Poppa.
Sungguh penyiksaan yang hakiki untuk Andrea yang tak bisa hidup tanpa ponsel dan sosial media, layaknya anak – anak jaman now.
Dan jika tadi Poppa bilang akan menceburkan nya ke kolam, fix itu pun sudah pasti ia lakukan jika Andrea tak segera beranjak dan bangun dari ranjangnya. Pasalnya Andrea memang pernah diceburkan sang Poppa karena pernah melawan Momma saking ia keras kepala. Jadi dia tidak ingin merasakan lagi di lempar ke kolam oleh Poppa meski Andrea pandai berenang.
Karena lemparan Poppa itu terasa begitu kuat hingga air kolam terasa perih menyentuh kulitnya. Tambah lagi mau disiram air es. Hish, tak terbayang dinginnya, karena langit Jakarta sedang gelap dan diguyur hujan pagi ini.
***
“Jika hitungan ketiga kau tidak juga mau beranjak dari ranjangmu, aku akan benar – benar menceburkan mu ke kolam, lalu akan ku siram dengan air es. Dua ...”
“Yes Sir! (Siap Pak!).”
“Katakan, apa benar tentang apa yang sudah kamu lakukan kemarin di Sekolahmu??? ..”
“Be – benar .... Poppa..”
“Benar kamu sendirian yang menghajar mereka sampai seperti itu?.”
“Iy – ya Poppa ... Tapi aku melakukannya ...”
“Apa kamu masih mengingat ucapanku tentang bertanggung jawab atas segala hal yang kamu perbuat...?.” Andrew menyela kalimat putrinya itu.
“Ma – masih Poppaaa ....”
“Bagus.”
“Apa Poppa akan menghukumku...?.”
“Menurutmu?.”
***
Bandara Internasional Jendral Edward Lawrence Logan, Massachusetts, Amerika Serikat
‘ Oh iya ini, Abang mau bicara sama kamu ....’
‘Abang?.’
‘Iya, nih!.’
“Hish! Seharusnya gue tidak mengurangi fasilitas dari Daddy dan Poppa kalau tahu akan seperti ini jadinya!.”
Varen menggerutu sendiri, sembari teringat ucapan Andrea saat Mama Jihan mengatakan kalau Varen ingin bicara padanya, tapi Andrea menolak mentah - mentah. Setelah kurang lebih enam belas tahun, baru ini Andrea menolak bicara dengan Varen begitu kukuhnya. Meski Varen sudah berusaha merayu lewat para Dads dan Moms di Kediaman Utama yang berada di Jakarta.
Tapi tetap saja penolakan yang ia dengar, bahkan coba meminta Papi meng-loud speaker panggilannya pada Andrea, saat gadis itu tetap bersikeras tak ingin bicara padanya pun, malah langsung dimatikan oleh Andrea.
'Aku bilang aku ga kenal sama orang yang namanya Abang!.'
- - Klik! - -
Varen berkali – kali mengusap wajahnya dengan kasar didalam pesawat komersil dan merutuki dirinya sendiri yang minta fasilitas jet pribadi tidak diberikan padanya selama dia berada di Massachusetts untuk kuliah.
Dan sekarang ada hal yang menurut si Abang begitu mendesak hingga ia pergi ke Bandara tanpa berpikir lagi, mencari tiket menuju Indonesia, menuju Jakarta, karena si Cute Girl Bar – Bar itu bilang tidak kenal lagi padanya.
Kesal, karena harus melewati waktu penerbangan selama dua puluh lima jam, lebih lama daripada menggunakan jet pribadi. Tapi tak apalah, beruntung juga ada pesawat yang berangkat ke Indonesia saat Varen sudah membawa passport dan visanya langsung ke Bandara, setelah mendengar si Drea bilang ga kenal siapa itu Abang.
‘Little Staaarrr... hanya karena Abang memarahi kamu sedikit saja, masa marahnya sampai seperti ini ???? ..... Segala bilang ga kenal lagi!.’
Varen mengusap lagi wajahnya dengan kasar. Gusar dan was -was, baru kali ini dimusuhi sama anaknya Thanos, setelah selama belasan tahun mengenal Andrea yang selalu manja padanya. Tadinya sempat berpikir untuk ia abaikan ngambeknya Andrea. Tapi mengingat betapa keras kepalanya gadis itu, si Abang tidak mau mengambil resiko sepertinya.
Kalau Andrea benar – benar mewujudkan kata – katanya soal ga mau mengenal Varen sebagai abangnya?. Rasanya tak terbayang kalau saat ketemu, lalu Andrea buang muka dan sama sekali tak mau bicara pada Varen. Padahal dari bayi Andrea sudah berada dalam tangannya.
‘Makin besar ada aja kelakuannya!. Mau marah tapi nanti dia lebih tambah marah. Haish ... nasib ... nasib ... kenapalah gue harus menyayangi Andrea lebih dari nyawa gue sendiri?..’
Varen menghela nafasnya dengan berat hingga pesawat komersil yang ditumpanginya lepas landas. Otw Jakarta.
***
🎵Tunggulah aku di Jakarta mu ..🎵
Eyyaaaa....
***
To be continue ..
__ADS_1