
YANG DI RASA
********************
Selamat membaca ...
***************************
‘ The Playground ‘
“Bang .....” Suara Papi John terdengar bersamaan dengan satu tangannya yang menyentuh pundak si Abang yang
sudah memberikan pisau dengan ukuran medium bergerigi di bawahnya pada Daddy Jeff untuk di pegangi.
Sementara si Abang sendiri sudah mencengkram dagu si pria dan meminta Black untuk membuat lidah si pria
yang akan ia eksekusi itu terjulur.
Abang tak melanjutkan apa yang ingin ia lakukan saat mendengar Papi memanggil sambil menyentuh pundaknya.
Abang sontak menoleh. “Apa kau coba menghentikanku Pi?” Ucap Abang seraya bertanya pada Papi.
“Kau harus segera kembali ke Rumah Sakit sekarang”
Abang yang sempat melengos malas pada Papi tadi langsung menoleh kembali dengan wajah yang kini sedikit
serius.
“Little Star sudah sadar”
Ucapan Papi membuat si Abang terdiam sejenak sambil memandangi salah satu Dad - nya itu.
“Apa Little Star, histeris lagi?....”
“Tidak....”
“Dia hanya sadar dan membuka bola matanya saja kan?”
Varen menyungging miris.
“Abang....”
Abang nampak nanar. Kini wajahnya sudah kembali menghadap pada pria yang kemungkinan besar sudah berada
di ujung mautnya dan sosok yang akan mengambil nyawanya itu sudah kini menatap tajam dan dingin pada pria yang mulutnya masih dipaksa untuk terbuka dengan lebar.
“Little Star tidak akan mendengarku, apalagi menggerakkan bola matanya untuk melihatku ....”
CLAK!
Suara dari alat yang dipegang Abang terdengar sudah digerakkan dan menjalankan fungsinya melalui tangan si Abang.
Seiring suara jeritan yang mengerikan saat alat yang dipegang Abang memisahkan sebuah benda kenyal dari salah satu indra laki – laki di hadapan si Abang. Ada perut yang langsung terasa seperti mulai berputar isinya dan meminta dikeluarkan.
Perutnya si Tan – Tan.
“Little Star sudah sadar Bang. Dia sudah bisa diajak berkomunikasi”
Varen sontak menoleh lagi pada Papi dengan wajah yang nampak terkejut bercampur tak percaya.
“Benar begitu John?”
Papi langsung mengangguk pada Daddy Jeff yang bertanya barusan padanya.
Daddy Jeff pun sontak memegang dadanya dan ia nampak lega.
“Benar Pi?!”
“Benar, Bang”
Papi menyahut yakin.
“Daddy R called me and told that ( Daddy R yang menghubungiku dan mengatakan itu )” Papi sekali lagi meyakinkan.
“Kau segeralah kembali ke Rumah Sakit. Little Star pasti mencarimu”
Varen mengangguk lalu memberikan alat pemotong ditangannya pada Black yang langsung di barter dengan
sebuah handuk kecil yang Black berikan pada Tuan Mudanya itu.
Sementara Nathan masih terpaku ditempatnya, menatap pemandangan di depannya.
Dimana ada seseorang yang sudah nampak begitu lunglai dengan kepala tertunduk dan sesuatu berwarna merah
menetes terus menerus dari mulutnya.
“Than! Temani Abang!” Titah Papi. Namun Nathan sepertinya tidak mendengar, ia nampak terbengong dengan
wajah yang sedikit pasi.
“Jonathan Alton Smith!”
Barulah Nathan tersentak dan mengalihkan pandangannya pada sang Daddy yang barusan berseru padanya.
“Ah! .... Ya, Dad??????! ....” Nathan tergugu.
“Kau pergi kembali ke Hospital bersama Abang”
“I – ya....”
Nathan sedikit tergugu, lalu memandangi Abang yang sedang membersihkan tangannya dengan handuk dan berbicara dengan Black serta Ammar.
“Kau pergilah. Biar aku dan Papimu yang mengurusnya, dan semua yang ada disini”
Varen mengangguk dan hendak melangkah setelah ia selesai berbicara dengan Black dan Ammar sembari masih
menyeka tangannya dengan handuk basah yang ia pegang, Nathan mengekorinya.
Namun baru selangkah Varen berhenti dengan tiba – tiba, membuat Nathan yang sedikit tak fokus itu menabrak
pelan punggung kokoh si Abang.
Varen mengabaikan tubrukan pelan Nathan di punggungnya. Ia berbalik dan mengayunkan langkahnya dengan
cepat membuat Nathan latah untuk menengok dan memperhatikan sang Abang.
SREEETT!!!!
Ternyata Abang menyambar pisau yang tadi ia berikan pada Daddy Jeff dan mengayunkan nya dengan cepat
mengiris sebuah jaringan kulit leher secara horizontal sampai menyentuh nadi hingga semburan warna merah tak ayal langsung keluar dari sana, bersamaan dengan kejangnya seseorang dalam duduknya yang terikat.
“Bersihkan ini semua Ammar!” Seru Varen pada tangan kanannya itu.
Ammar pun menyahut patuh.
Dan Varen melanjutkan langkahnya kembali untuk bergegas keluar dari ruangan tempatnya berada setelah
berpamitan dengan cepat Pada Papi dan Papa Bear.
***
Varen mengayunkan langkahnya lebar – lebar. “CELINEEEE!!”
Dengan kencang Varen memanggil Celine yang belum dilihatnya saat ini.
Nathan dan dua Dad mereka sudah mengekori si Abang.
Papi dan Papa Bear sekaligus mengingatkan Tan – Tan untuk tidak perlu menceritakan apa yang sudah terjadi pada para Moms mereka.
“Kau paham kan?”
“Huuumm ....”
Nathan hanya menjawab dengan hum – an sambil mengangguk pelan.
“Are you okay, Boy?” Tanya Daddy Jeff pada putra sulungnya itu.
“Huuumm ....”
Lagi – lagi Nathan menjawab dengan cara yang sama seperti sebelumnya.
“Ingat, pada Via pun kau tak perlu cerita! Nanti....”
Daddy Jeff tidak melanjutkan kata – katanya karena Nathan mengangkat satu tangannya dan kemudian berjalan
cepat menuju wastafel yang berada tak jauh dari tempat beberapa mobil terparkir setelah Nathan melihat wastafel tersebut.
“Kenapa dia?”
Daddy Jeff hanya mengendikkan bahunya saja menjawab pertanyaan Papi yang juga sedang memperhatikan Nathan, kala si Tan – Tan berjalan dengan tergesa menuju wastafel terdekat. Dan kemudian, ----
“HOEEEKKKK!”
“Ckckckck. Lembek sekali anak lo Jeff.... baru begitu saja sudah mual!”
***
Hospital ( Rumah Sakit )
“Little Star.....”
Poppa dengan sangat pelan memanggil Andrea lagi.
“Pop – Pop..... pa .....”
Poppa sontak mendekati Andrea dengan cepat, kala tangan Andrea terulur padanya sembari terbuka dan tertutup
dengan cepat, sekaligus menatap Poppa dengan wajah yang memelas juga seperti memohon agar Poppa segera mendekat pada Andrea.
Poppa tak ayal langsung membawa Andrea dalam dekapannya dengan mata yang berkaca – kaca.
Saat ini Poppa seperti melihat Andrea yang berumur lima tahun, kala dirinya dan Momma datang kembali ke
Save House setelah beberapa waktu menghilang tanpa kabar, akibat permasalahan dengan seseorang bernama Joven.
Kedua tangan Andrea terulur pada Poppa dan Momma untuk menggapai.
“Oh Little Star ..... Baby.....”
“Pop – Pop..... pa .....” Andrea menyahut dengan mendekap erat sang Poppa sembari terisak.
Poppa tak bersuara lagi. Hanya membiarkan putri sulungnya dan Momma itu memeluknya dengan terisak.
Poppa membiarkan terlebih dahulu Andrea yang seperti ini dalam dekapannya, sembari ia mengelus – elus lengan
Andrea dan menempelkan kepalanya pada kepala sang putri yang bersembunyi di dada bidang Poppa.
Momma dan yang lainnya yang kini mengelilingi Andrea hanya menatap dua orang yang saling berpelukan itu
saja tanpa bicara. Ada segumpal asa yang diliput sejumput bahagia, karena sepertinya Andrea sudah bisa diajak berkomunikasi dan berinteraksi setelah ini.
Poppa menatap lekat – lekat wajah Andrea saat putri sulungnya itu sudah tidak lagi terdengar terisak, dan
langsung menarik pelan tubuh Andrea agar senantiasa Poppa bisa melihat wajah Andrea.
“Little Star.....” Ucap Poppa sembari merapihkan dengan cekatan dan perlahan rambut Andrea yang menempel sebagian di wajah putrinya itu.
“Drea.....”
Momma kini mendekati juga sang putri.
“Mom – maaa.....”
Sama seperti halnya pada Poppa tadi, Andrea langsung seolah meminta sang Momma untuk memeluknya.
Momma tak perlu berpikir untuk memeluk putrinya dan Poppa itu.
“Mom – maaa.....”
“Drea..... sayang.....”
“Mommaa ..... Drea .....
Drea .....”
“Ssssshh..... udah ya .....? ..... udah. Drea sudah baik – baik aja.....” Momma menenangkan, dengan belaian lembut penuh kasih di kepala Andrea.
“Ta ..... pi ..... tapi.....” Andrea terbata dan nampak tak tenang.
__ADS_1
“Ssssshh..... Drea.....”
Momma membuat gerakan pelan agar Andrea menatapnya.
“Drea, liat Momma.....”
Andrea pun menatap sang Momma yang menciptakan senyuman di wajahnya.
“Drea, paham ucapan Momma?”
Andrea mengangguk lemah.
Momma mengembangkan senyumnya.
“Coba Drea perhatikan sekeliling Drea .....”
Andrea perlahan mengedarkan pandangannya.
Dari mulai Poppa yang juga tersenyum padanya dan membelai rambutnya, lalu Daddy R yang sudah berada di
sisinya, Kevia, Mama Jihan yang sedang menggandeng Aina, Rery dan Adrieanna berikut Daddy Dewa dan Mom Ichel yang kesemua sedang tersenyum pada Andrea.
“Apa kamu mengenali kami semua Little Star .....?.....” Kini Daddy R yang berbicara sembari membelai lembut kepala Andrea dengan dirinya yang masih tersenyum.
Andrea mengangguk.
Daddy R dan semua yang bersamanya kompak menghela nafas lega.
Dan Daddy R langsung juga membawa Andrea dalam dekapannya.
Andrea terisak lagi sambil memanggil nama Daddy R.
Daddy R menenangkan Andrea, lalu mengecupi gadis yang adalah menantunya, namun juga sudah seperti anak
baginya.
“Hush now Little Star... ( Sudah jangan menangis lagi ya Little Star ... )”
“.......”
“Everything will be alright.... ( Semua akan baik – baik saja ) ......”
“Yes Daddy R ... ( Iya Daddy R )...” Ucap Andrea pelan dan Daddy R menangkup lembut wajah Andrea sembari
tersenyum, dan menyeka buliran air mata menantu kecilnya itu. ‘Abang mana ...? ...’
Andrea membatin karena matanya tak melihat keberadaan sang suami.
‘Abang ga ada disini... Apa... Abang, sudah merasa ... kalau aku ini kotor? ... jadi Abang ...... enggan melihatku lagi...?’
***
Daddy R memisahkan diri setelah Andrea sudah kembali tenang, dan sudah mulai diajak mengobrol santai oleh yang lain dengan sedikit – sedikit dan perlahan. Dokter Alan juga sudah selesai memeriksa kondis Andrea, dan dari apa yang sudah diterangkan Dokter Alan sekiranya sudah membuat keluarga Andrea yang berada bersama istri kecil Abang itu bisa merasa cukup lega. Meski esok, Andrea harus melakukan serangkaian tes lagi.
Daddy R menghubungi Papi di ponselnya, dan mengatakan tentang kondisi Andrea saat ini untuk segera
disampaikan pada putra sulungnya itu yang pasti akan merasa sangat bahagia jika kabar tentang Andrea yang sudah membaik dan sudah bisa diajak berkomunikasi sampai ke telinga putranya itu.
Suasana di ruang rawat Andrea kian menghangat, dengan wajah – wajah kelegaan yang juga nampak. Mereka
yang ada saat ini sedang mengelilingi Andrea. Mommy Ara juga sudah menghubungi Kediaman dan menyampaikan kabar baik perihal Andrea melalui Gappa.
Namun ada satu yang mengganjal untuk Daddy R dan semua yang berada bersama Andrea saat ini. Andrea tidak bertanya soal Abang.
“Apa Drea merasakan sesuatu yang ga enak di tubuh Drea?” Tanya Momma.
“Eng – ga Momma.....” Jawab Andrea. “I feel okay ( Aku merasa baik – baik saja )”
Andrea tersenyum tipis.
Momma ikut tersenyum lalu membelai kepala Andrea dengan lembut.
“Momma akan tanya Uncle Alan apa kamu sudah boleh makan”
Momma berkata dan beranjak dari sisi Andrea sejenak kemudian.
“Little Star tidak bertanya soal Abang?”
Poppa sedikit penasaran, bertanya dengan berbisik pada Momma dan Momma menggeleng.
“Mungkin karena itu Little Star nampak muram. Karena Abang tidak berada disini?”
Momma, Daddy R dan Mom Ichel yang sedang berdekatan itu pun serentak manggut – manggut.
“Aku mau menemui Alan dulu sebentar” Pamit Momma dan berjalan ke luar ruang rawat Andrea bersama Mommy Ara untuk menemui Dokter Alan di ruangannya.
***
“Lo sudah hubungi John atau Jeff kan R?”
Daddy R mengangguk.
“Gue sudah menghubungi John untuk menyampaikan pada Abang” Ujar Daddy R.
“Ya sudah” Sahut Poppa. “Abang pasti sudah mengarah kesini”
“Biar gue yang memberitahu Little Star, kalau Abang sebentar lagi datang ....”
***
“Little Star.....”
“Ya, Dad .....?.....”
“Jika kamu mencari Abang.....”
“Ga apa Dad, Drea ..... mengerti .....”
“........”
“Mungkin, Abang - sudah jijik pada Drea sekarang.....”
***
To be continue ....
YANG DI RASA
********************
Selamat membaca ...
***************************
‘ The Playground ‘
“Bang .....” Suara Papi John terdengar bersamaan dengan satu tangannya yang menyentuh pundak si Abang yang
sudah memberikan pisau dengan ukuran medium bergerigi di bawahnya pada Daddy Jeff untuk di pegangi.
Sementara si Abang sendiri sudah mencengkram dagu si pria dan meminta Black untuk membuat lidah si pria
yang akan ia eksekusi itu terjulur.
Abang tak melanjutkan apa yang ingin ia lakukan saat mendengar Papi memanggil sambil menyentuh pundaknya.
Abang sontak menoleh. “Apa kau coba menghentikanku Pi?” Ucap Abang seraya bertanya pada Papi.
“Kau harus segera kembali ke Rumah Sakit sekarang”
Abang yang sempat melengos malas pada Papi tadi langsung menoleh kembali dengan wajah yang kini sedikit
serius.
“Little Star sudah sadar”
Ucapan Papi membuat si Abang terdiam sejenak sambil memandangi salah satu Dad - nya itu.
“Apa Little Star, histeris lagi?....”
“Tidak....”
“Dia hanya sadar dan membuka bola matanya saja kan?”
Varen menyungging miris.
“Abang....”
Abang nampak nanar. Kini wajahnya sudah kembali menghadap pada pria yang kemungkinan besar sudah berada
di ujung mautnya dan sosok yang akan mengambil nyawanya itu sudah kini menatap tajam dan dingin pada pria yang mulutnya masih dipaksa untuk terbuka dengan lebar.
“Little Star tidak akan mendengarku, apalagi menggerakkan bola matanya untuk melihatku ....”
CLAK!
Suara dari alat yang dipegang Abang terdengar sudah digerakkan dan menjalankan fungsinya melalui tangan si Abang.
Seiring suara jeritan yang mengerikan saat alat yang dipegang Abang memisahkan sebuah benda kenyal dari salah satu indra laki – laki di hadapan si Abang. Ada perut yang langsung terasa seperti mulai berputar isinya dan meminta dikeluarkan.
Perutnya si Tan – Tan.
“Little Star sudah sadar Bang. Dia sudah bisa diajak berkomunikasi”
Varen sontak menoleh lagi pada Papi dengan wajah yang nampak terkejut bercampur tak percaya.
“Benar begitu John?”
Papi langsung mengangguk pada Daddy Jeff yang bertanya barusan padanya.
Daddy Jeff pun sontak memegang dadanya dan ia nampak lega.
“Benar Pi?!”
“Benar, Bang”
Papi menyahut yakin.
“Daddy R called me and told that ( Daddy R yang menghubungiku dan mengatakan itu )” Papi sekali lagi meyakinkan.
“Kau segeralah kembali ke Rumah Sakit. Little Star pasti mencarimu”
Varen mengangguk lalu memberikan alat pemotong ditangannya pada Black yang langsung di barter dengan
sebuah handuk kecil yang Black berikan pada Tuan Mudanya itu.
Sementara Nathan masih terpaku ditempatnya, menatap pemandangan di depannya.
Dimana ada seseorang yang sudah nampak begitu lunglai dengan kepala tertunduk dan sesuatu berwarna merah
menetes terus menerus dari mulutnya.
“Than! Temani Abang!” Titah Papi. Namun Nathan sepertinya tidak mendengar, ia nampak terbengong dengan
wajah yang sedikit pasi.
“Jonathan Alton Smith!”
Barulah Nathan tersentak dan mengalihkan pandangannya pada sang Daddy yang barusan berseru padanya.
“Ah! .... Ya, Dad??????! ....” Nathan tergugu.
“Kau pergi kembali ke Hospital bersama Abang”
“I – ya....”
Nathan sedikit tergugu, lalu memandangi Abang yang sedang membersihkan tangannya dengan handuk dan berbicara dengan Black serta Ammar.
“Kau pergilah. Biar aku dan Papimu yang mengurusnya, dan semua yang ada disini”
Varen mengangguk dan hendak melangkah setelah ia selesai berbicara dengan Black dan Ammar sembari masih
menyeka tangannya dengan handuk basah yang ia pegang, Nathan mengekorinya.
Namun baru selangkah Varen berhenti dengan tiba – tiba, membuat Nathan yang sedikit tak fokus itu menabrak
pelan punggung kokoh si Abang.
Varen mengabaikan tubrukan pelan Nathan di punggungnya. Ia berbalik dan mengayunkan langkahnya dengan
__ADS_1
cepat membuat Nathan latah untuk menengok dan memperhatikan sang Abang.
SREEETT!!!!
Ternyata Abang menyambar pisau yang tadi ia berikan pada Daddy Jeff dan mengayunkan nya dengan cepat
mengiris sebuah jaringan kulit leher secara horizontal sampai menyentuh nadi hingga semburan warna merah tak ayal langsung keluar dari sana, bersamaan dengan kejangnya seseorang dalam duduknya yang terikat.
“Bersihkan ini semua Ammar!” Seru Varen pada tangan kanannya itu.
Ammar pun menyahut patuh.
Dan Varen melanjutkan langkahnya kembali untuk bergegas keluar dari ruangan tempatnya berada setelah
berpamitan dengan cepat Pada Papi dan Papa Bear.
***
Varen mengayunkan langkahnya lebar – lebar. “CELINEEEE!!”
Dengan kencang Varen memanggil Celine yang belum dilihatnya saat ini.
Nathan dan dua Dad mereka sudah mengekori si Abang.
Papi dan Papa Bear sekaligus mengingatkan Tan – Tan untuk tidak perlu menceritakan apa yang sudah terjadi pada para Moms mereka.
“Kau paham kan?”
“Huuumm ....”
Nathan hanya menjawab dengan hum – an sambil mengangguk pelan.
“Are you okay, Boy?” Tanya Daddy Jeff pada putra sulungnya itu.
“Huuumm ....”
Lagi – lagi Nathan menjawab dengan cara yang sama seperti sebelumnya.
“Ingat, pada Via pun kau tak perlu cerita! Nanti....”
Daddy Jeff tidak melanjutkan kata – katanya karena Nathan mengangkat satu tangannya dan kemudian berjalan
cepat menuju wastafel yang berada tak jauh dari tempat beberapa mobil terparkir setelah Nathan melihat wastafel tersebut.
“Kenapa dia?”
Daddy Jeff hanya mengendikkan bahunya saja menjawab pertanyaan Papi yang juga sedang memperhatikan Nathan, kala si Tan – Tan berjalan dengan tergesa menuju wastafel terdekat. Dan kemudian, ----
“HOEEEKKKK!”
“Ckckckck. Lembek sekali anak lo Jeff.... baru begitu saja sudah mual!”
***
Hospital ( Rumah Sakit )
“Little Star.....”
Poppa dengan sangat pelan memanggil Andrea lagi.
“Pop – Pop..... pa .....”
Poppa sontak mendekati Andrea dengan cepat, kala tangan Andrea terulur padanya sembari terbuka dan tertutup
dengan cepat, sekaligus menatap Poppa dengan wajah yang memelas juga seperti memohon agar Poppa segera mendekat pada Andrea.
Poppa tak ayal langsung membawa Andrea dalam dekapannya dengan mata yang berkaca – kaca.
Saat ini Poppa seperti melihat Andrea yang berumur lima tahun, kala dirinya dan Momma datang kembali ke
Save House setelah beberapa waktu menghilang tanpa kabar, akibat permasalahan dengan seseorang bernama Joven.
Kedua tangan Andrea terulur pada Poppa dan Momma untuk menggapai.
“Oh Little Star ..... Baby.....”
“Pop – Pop..... pa .....” Andrea menyahut dengan mendekap erat sang Poppa sembari terisak.
Poppa tak bersuara lagi. Hanya membiarkan putri sulungnya dan Momma itu memeluknya dengan terisak.
Poppa membiarkan terlebih dahulu Andrea yang seperti ini dalam dekapannya, sembari ia mengelus – elus lengan
Andrea dan menempelkan kepalanya pada kepala sang putri yang bersembunyi di dada bidang Poppa.
Momma dan yang lainnya yang kini mengelilingi Andrea hanya menatap dua orang yang saling berpelukan itu
saja tanpa bicara. Ada segumpal asa yang diliput sejumput bahagia, karena sepertinya Andrea sudah bisa diajak berkomunikasi dan berinteraksi setelah ini.
Poppa menatap lekat – lekat wajah Andrea saat putri sulungnya itu sudah tidak lagi terdengar terisak, dan
langsung menarik pelan tubuh Andrea agar senantiasa Poppa bisa melihat wajah Andrea.
“Little Star.....” Ucap Poppa sembari merapihkan dengan cekatan dan perlahan rambut Andrea yang menempel sebagian di wajah putrinya itu.
“Drea.....”
Momma kini mendekati juga sang putri.
“Mom – maaa.....”
Sama seperti halnya pada Poppa tadi, Andrea langsung seolah meminta sang Momma untuk memeluknya.
Momma tak perlu berpikir untuk memeluk putrinya dan Poppa itu.
“Mom – maaa.....”
“Drea..... sayang.....”
“Mommaa ..... Drea .....
Drea .....”
“Ssssshh..... udah ya .....? ..... udah. Drea sudah baik – baik aja.....” Momma menenangkan, dengan belaian lembut penuh kasih di kepala Andrea.
“Ta ..... pi ..... tapi.....” Andrea terbata dan nampak tak tenang.
“Ssssshh..... Drea.....”
Momma membuat gerakan pelan agar Andrea menatapnya.
“Drea, liat Momma.....”
Andrea pun menatap sang Momma yang menciptakan senyuman di wajahnya.
“Drea, paham ucapan Momma?”
Andrea mengangguk lemah.
Momma mengembangkan senyumnya.
“Coba Drea perhatikan sekeliling Drea .....”
Andrea perlahan mengedarkan pandangannya.
Dari mulai Poppa yang juga tersenyum padanya dan membelai rambutnya, lalu Daddy R yang sudah berada di
sisinya, Kevia, Mama Jihan yang sedang menggandeng Aina, Rery dan Adrieanna berikut Daddy Dewa dan Mom Ichel yang kesemua sedang tersenyum pada Andrea.
“Apa kamu mengenali kami semua Little Star .....?.....” Kini Daddy R yang berbicara sembari membelai lembut kepala Andrea dengan dirinya yang masih tersenyum.
Andrea mengangguk.
Daddy R dan semua yang bersamanya kompak menghela nafas lega.
Dan Daddy R langsung juga membawa Andrea dalam dekapannya.
Andrea terisak lagi sambil memanggil nama Daddy R.
Daddy R menenangkan Andrea, lalu mengecupi gadis yang adalah menantunya, namun juga sudah seperti anak
baginya.
“Hush now Little Star... ( Sudah jangan menangis lagi ya Little Star ... )”
“.......”
“Everything will be alright.... ( Semua akan baik – baik saja ) ......”
“Yes Daddy R ... ( Iya Daddy R )...” Ucap Andrea pelan dan Daddy R menangkup lembut wajah Andrea sembari
tersenyum, dan menyeka buliran air mata menantu kecilnya itu. ‘Abang mana ...? ...’
Andrea membatin karena matanya tak melihat keberadaan sang suami.
‘Abang ga ada disini... Apa... Abang, sudah merasa ... kalau aku ini kotor? ... jadi Abang ...... enggan melihatku lagi...?’
***
Daddy R memisahkan diri setelah Andrea sudah kembali tenang, dan sudah mulai diajak mengobrol santai oleh yang lain dengan sedikit – sedikit dan perlahan. Dokter Alan juga sudah selesai memeriksa kondis Andrea, dan dari apa yang sudah diterangkan Dokter Alan sekiranya sudah membuat keluarga Andrea yang berada bersama istri kecil Abang itu bisa merasa cukup lega. Meski esok, Andrea harus melakukan serangkaian tes lagi.
Daddy R menghubungi Papi di ponselnya, dan mengatakan tentang kondisi Andrea saat ini untuk segera
disampaikan pada putra sulungnya itu yang pasti akan merasa sangat bahagia jika kabar tentang Andrea yang sudah membaik dan sudah bisa diajak berkomunikasi sampai ke telinga putranya itu.
Suasana di ruang rawat Andrea kian menghangat, dengan wajah – wajah kelegaan yang juga nampak. Mereka
yang ada saat ini sedang mengelilingi Andrea. Mommy Ara juga sudah menghubungi Kediaman dan menyampaikan kabar baik perihal Andrea melalui Gappa.
Namun ada satu yang mengganjal untuk Daddy R dan semua yang berada bersama Andrea saat ini. Andrea tidak bertanya soal Abang.
“Apa Drea merasakan sesuatu yang ga enak di tubuh Drea?” Tanya Momma.
“Eng – ga Momma.....” Jawab Andrea. “I feel okay ( Aku merasa baik – baik saja )”
Andrea tersenyum tipis.
Momma ikut tersenyum lalu membelai kepala Andrea dengan lembut.
“Momma akan tanya Uncle Alan apa kamu sudah boleh makan”
Momma berkata dan beranjak dari sisi Andrea sejenak kemudian.
“Little Star tidak bertanya soal Abang?”
Poppa sedikit penasaran, bertanya dengan berbisik pada Momma dan Momma menggeleng.
“Mungkin karena itu Little Star nampak muram. Karena Abang tidak berada disini?”
Momma, Daddy R dan Mom Ichel yang sedang berdekatan itu pun serentak manggut – manggut.
“Aku mau menemui Alan dulu sebentar” Pamit Momma dan berjalan ke luar ruang rawat Andrea bersama Mommy Ara untuk menemui Dokter Alan di ruangannya.
***
“Lo sudah hubungi John atau Jeff kan R?”
Daddy R mengangguk.
“Gue sudah menghubungi John untuk menyampaikan pada Abang” Ujar Daddy R.
“Ya sudah” Sahut Poppa. “Abang pasti sudah mengarah kesini”
“Biar gue yang memberitahu Little Star, kalau Abang sebentar lagi datang ....”
***
“Little Star.....”
“Ya, Dad .....?.....”
“Jika kamu mencari Abang.....”
“Ga apa Dad, Drea ..... mengerti .....”
“........”
“Mungkin, Abang - sudah jijik pada Drea sekarang.....”
***
__ADS_1
To be continue ....