THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 203


__ADS_3

💝  KEPASTIAN  💝


💝💝💝💝💝💝💝💝💝


Selamat membaca...


💗💗💗💗💗💗💗💗💗


 


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia


“Si Drea ama si Abang lama emen sih diatas. Udeh jam dua belas lewat pan ini.” Celetuk Ene Bela yang sudah berkumpul di lantai bawah bersama keluarga yang lainnya.


“Sabar Ma, siapa tahu si Abang lagi nembak Drea itu.”


Daddy Dewa menyahut sembari terkekeh.


“Jadi bener si Abang cinta itu sama si Juleha?.”


“Bener Ne!. Ene ga lihat aja tadi si Abang sempat bersitegang disini.” Timpal Nathan.


“Bersitegang ama siape?. Eh tapi kan itu tadi ada cewe yang katanye lagi deket sama si Abang?. Adik iparnya saos puding.”


“Saos puding?.”


“Ya itu si Fla. Fla kan saos puding?.” Sahut Ene Bela asal, yang membuat semua orang otomatis tergelak.


“Het si Mamah, orang ganteng begitu dibilang saos puding!.”


“Ye abis namanya Fla!.”


“V – L – A, VLA! Lidah dibenerin nape udah sering bolak balik ke luar negeri juga. Pernah lama di London, masih aje kaku itu lidah.”


Gantian Fania yang menyambar sambil geleng – geleng memandangi emaknya.


“Bodo ah!.”


“Udeh ah ribut aje!.”


Papa Herman menyela.


“Susul mereka Than!.” Andrew tak sabar. “Lama sekali! Jangan – jangan dia berbuat tak senonoh pada Andrea!.” Ucap si Poppa asal yang langsung mendapatkan kepretan dari Momma.


“Ini mulut kalo ngomong!.” Mulut Poppa dibekap Momma.


“Ya habis lama sekali.”


“Halah kamu Drew, waktu sama Fania juga kayak apa coba?. Berduaan melulu maunya, kan?.” Celetuk Ara.


“Ya Fania dua puluh tahun waktu itu. Sudah besar. Andrea baru tujuh belas tahun lewat beberapa menit!.”


“Tahu lo, Ndrew! Ga usah ribet!. Lo kan mau berbesan sama R?. Ya sudah kasih waktu itu si Abang nyatakan perasaannya sama Andrea. Lo ga lihat tadi dia secara ga langsung dia mengumumkan pada kita semua soal perasaannya ke Andrea?. ”


“Ck!.”


“Udah jangan ribut! Tuh mereka turun!.”


****


“Happy Birthday Miracle Andreaaa!! ...” Ucapan Ulang tahun yang terdengar kompak menyambut Andrea yang sudah berada di tangga dan hendak turun dalam gendongan Varen. Wajah Andrea otomatis sumringah, berikut senyuman lebar yang terbit di wajahnya. Varen menurunkan Andrea sesuai permintaan gadis itu.


Andrea benar – benar bahagia. Tujuh belas tahunnya diawali dengan segala yang sempurna menurutnya. Abang Varen yang ternyata mencintainya juga, dan sudah menyatakan terang – terangan perasaannya pada Andrea. Bahkan satu kecupan dibibir Andrea terima dari Abang. Sungguh tak pernah Andrea bayangkan.


Dan kini semua anggota keluarganya hadir tanpa terkecuali. Bahkan Papa Lucca dan Mama Fabi juga menyempatkan datang untuknya.


Para Daddies dan Mommies, Dua Kakek kesayangan yang selalu memanjakannya, termasuk para Nenek, juga adik


– adiknya baik Rery maupun adik – adik dari Mommies dan Daddies nya  yang lain.


Padahal setahu Andrea mereka sudah tidur semua tadi. Tapi sekarang mereka ada disini dan memelukinya bergantian, mencium pipi dan memberikan hadiah mereka untuk sang kakak perempuan mereka itu.


Ucapan, pelukan, ciuman di setiap bagian wajah dan kepala kecuali dibibir, yang udah di sentuh Abang, Andrea dapatkan bertubi – tubi dari semua anggota keluarganya. Senyuman Andrea terus bertahta diwajahnya.


Sudah hal biasa dalam Keluarga Adjieran Smith untuk memberikan kejutan – kejutan kecil pada setiap anggota keluarga yang berulang tahun. Jadi bukan hal yang aneh juga jika Andrea mendapat kejutan malam – malam dihari ulang tahunnya.


Hanya tidak setiap tahun dan tidak disetiap ulang tahun, seluruh anggota keluarga bisa berkumpul utuh seperti malam ini. Biasanya di esok hari atau beberapa hari setelahnya.


“Make a wish? ( Buat permintaan? ).”


Andrea menggeleng. “Aku sudah mendapatkan semua keinginanku, dan keinginan terbesarku.”


Andrea memandang pada Varen yang juga tersenyum lebar lalu membelai dan mengacak rambutnya pelan.


“Sudah cukup, bahkan lebih dari cukup. Dengan memiliki Poppa, Momma, Rery dan kalian semua dalam hidupku.


Jadi aku tidak punya permintaan lain lagi. Aku selalu menyelipkan doa setiap hari agar kita terus seperti ini. Jadi tidak ada lagi yang ku inginkan, selain keluargaku yang sempurna ini.” Ucap Andrea tulus. Momma dan Poppa memeluk dan mengapitnya.


***

__ADS_1


“Sudah kamu ungkapkan padanya, Boy?.” Bisik Daddy R ditelinga Varen.


Varen mengangguk sembari tersenyum.


“Apa dia menerima kamu?.” Gantian Mommy Ara yang berbisik.


“Menurut Mom?.” Varen balik bertanya, sambil memainkan alisnya. Ketiga orang itu duduk sedikit jauh dari Andrea yang sedang sibuk membuka kado dengan direcoki oleh adik – adiknya, namun gadis yang sedang berulang tahun itu terus saja tertawa bahagia.


Para Kakek dan Nenek sudah lebih dulu undur diri untuk beristirahat, maklum dah tua. Tulang dah ga bersahabat, mata cepet ngantuk.


“Tadi diatas lama ngapain Bang?. Cup Cup Uye, ye Bang?.” Goda Nathan yang memainkan alisnya dan Varen terkekeh lalu menoyor kepala Nathan. Mereka yang berada dekat Varen ikutan terkekeh. “Ca elah Abang, suka malu malu kadal.”


“Elo yang kadal!.”


Varen menoyor lagi kepala Nathan yang sedang kepo itu. Yang lain hanya terkekeh.


“Pasti udah kamu ambil itu ciuman pertamanya Little Star kamu itu kan?.”


Varen memutar bola matanya malas pada sang Mommy.


“C’mon Mom, apa perlu dibahas?.”


“Tapi sudah kan, Bang?. Pasti sudah. Sebelas dua belas dengan Daddy dan Poppa tuh main sambat!.”


“Halah kayak sendirinya ga suka nyosor aja!.”


“Duh Mami, masih ingat aja sosoran pertama Papi...”


“Amit deh!.”


Tuk!


Andrew memukul jidat Varen dengan sendok kue ditangannya. “Sakitlah Pop!.” Ucap Varen yang mengelus jidatnya sambil mencebik.


“Benar kamu sudah menciumnya?.”


Varen melengos sementara Momma hanya mesam – mesem saja seperti yang lainnya.


“Jawab ....”


“Menurut Poppa?.” Tanya Varen sambil memainkan alisnya tanpa takut pada sang Poppa yang sedang setengah melototi nya.


“Dia masih tujuh belas tahun! Jangan sembarangan!.”


Tuk!


Jidat Varen jadi sasaran lagi sendok kue ditangan Andrew yang masih bersih itu.


“Apa kau mau mati?.”


“Apa Pop mau melihat Little Star bersedih seumur hidupnya?.”


“Sudah berani menjawabku, heh?.”


“Siapa guruku, heh?.”


“Bocah tengik!.”


Tuk!


Satu ketukan dari sendok ditangan Poppa mendarat lagi di jidat Varen yang kemudian kabur mendekat pada Andrea yang sedang bersama dengan adik – adiknya.


Namun Poppa tersenyum penuh arti. Ia tahu Varen dengan sangat. Anak sulung Daddy R dan Mommy Ara itu juga


sangat dekat dengannya dan Fania.


Meski Varen selalu mengatakan sedari dulu bahwa Andrea adalah miliknya pada sang Poppa, namun Andrew sempat berpikir dan tak memaksa jika kelak saat dewasa Varen punya pilihan lain.


Rencana perjodohan antara Andrew dan Reno sebenarnya juga bukan main – main, namun juga tidak dianggap


terlalu serius. Hanya kesepakatan kecil yang meskipun ada harap didalamnya kelak Varen dan Andrea benar – benar bersama.


Namun rencana perjodohan mereka tak seperti perjodohan yang serius. Tak mau menutup kemungkinan jika diantara Varen dan Andrea punya pilihan lain dalam hidupnya.


Jika keduanya punya pilihan masing – masing, ya sudah. Biarkan saja. Jika salah satunya, mereka sudah bersiap untuk menenangkan yang satunya lagi.


Tapi sekarang tak repot, karena Varen dan Andrea tak merubah keputusan mereka. Ikatan mereka terlalu lekat, dari kecil hingga sekarang. Hati mereka sudah begitu terpaut satu sama lain.


Ucapan Varen belasan tahun yang lalu tak berubah ternyata. Dia tetap menginginkan Andrea, hatinya tak pernah berhenti mencintai gadis yang selama tujuh belas tahun ia sayangi dan lindungi sepenuh hati.


****


“Lo pastikan ulang, kalau Putra lo itu sungguh – sungguh pada Andrea, R!. Awas saja kalau dia sampai menyakitinya!.”


“Halah Donald Bebek, kan gue sudah bilang. Anak gue itu macam gue lah! Setia pada pilihannya!.”


****


“Aku ingin bicara tentang hal yang pernah ku bicarakan empat tahun lalu denganmu.”

__ADS_1


“About what? ( Tentang apa? ).”


“Tentang rencana perjodohan mu dan Andrea. Apa sudah kau pikirkan?.”


---


“Aku ingin tahu perasaanmu yang sesungguhnya pada Little Starmu itu. Jika kamu memang menyayanginya hanya


sebagai adik, jelaskan pelan – pelan mulai dari sekarang pada Andrea.”


---


“Dad memang tidak tahu bagaimana perasaan Little Star juga padamu yang sebenarnya. Mungkin nanti Dad, akan meminta Mom yang menanyakannya pada Andrea. Usiamu sudah matang, My Boy. Kau sudah harus berpikir untuk masa depan.”


---


“Kalau kamu memang setuju dengan perjodohan ini, kami akan mengikat kalian setelah Little Star lulus sekolah. Masalah menikah itu dibicarakan lagi nanti. Tapi jika tidak, pastikan Little Star tak tersakiti kelak, jika memang perasaannya bukan hanya keposesifan semata padamu sebagai Abangnya.”


---


“Dan dari apa yang aku tahu, kamu sedang dekat dengan Danita saat ini? Dan intensitas bertemu kalian sepertinya sering?.”


“Dia yang selalu berusaha dekat denganku, Dad”


“Lalu kamu sendiri?.”


“Harus berapa kali kukatakan?. Aku hanya mencintai Andrea. Tidak ada yang lain lagi. Aku bisa saja segera menyingkirkan perempuan bernama Danita itu,  jika aku tidak ingat pada Uncle Vla. ”


“Lalu mengapa kau tak pernah mau membahas soal perjodohan mu dan Andrea?.”


“Karena aku merasa itu tidak perlu. Aku dan Andrea tidak perlu dijodohkan karena aku yang menentukan bahwa Miracle Andrea adalah jodohku. Tak perduli jika dia tak mencintaiku selayaknya aku. Aku akan memiliki Andrea sepenuhnya dan akan ku pastikan itu”


“Percaya dirimu tinggi sekali, Boy!.”


“Aku belajar dari para ahli di Keluarga kita ....”


“Sudah kamu katakan padanya?.”


“Nanti saat dia berusia tujuh belas tahun.”


***


“Seberapa seriusnya dia dengan Andrea, mengapa sempat menanggapi Danita?.”


“Kan udah dibilang dia hanya berusaha untuk sopan pada adik iparnya Vla itu!.”


“Tau ih!. Tadi kan dia udah jelasin. Dia udah kasih peringatan pertama sama si Danita, tapi itu cewek yang masih kekeh aja deketin si Abang. Kan tadi Abang udah bilang, dia udah gerah sama si Danita. Kalo ga mandang si Vla, Abang ga bakal menahan diri buat kasih peringatan keras sama itu anak.”


“Aku kan hanya memastikan Heart, mereka nampak akrab tadi.”


“Akrab darimana sih Kak Andrew?. Orang si Abang selalu buang muka pas si Danita deketin dia.”


“Ya untung aja itu anak datang bareng Vla dan kakaknya. Kalau datang sendiri, mungkin si Abang sudah tak bisa menahan diri. Udah keliatan dari saat mereka ngobrol berdua kan?. Abang males – malesan nanggepinnya. Eh malah itu si Danita dan kakaknya malah nyeletuk begitu pas kita kumpul tadi.”


Mommy Ichel dan Mama Jihan ikut bersuara.


“Better you both shake hand ( Mending lo berdua salaman ).”


“Nah iya benar itu kata Papa Lucca. Jadi besanan kan?.”


“Hahahahahahaha!!!!...”


Para Daddies dan Mommies itu pun tergelak bersama.


***


“Sudah kamu katakan padanya?.”


“Nanti saat dia berusia tujuh belas tahun.”


“Yakin tidak mau merubah keputusanmu?. Kau masih punya kesempatan untuk memilih. Kulihat banyak gadis cantik dan baik disekelilingmu.”


“Tidak cukup cantik dan baik dibandingkan Little Star ku.”


“Halah bucin!.”


“Seperti Dad sendiri bukan?.”


“Berani menjawabku sekarang, heh?.”


“Aku belajar darimu.”


----


“Andrea baru akan menginjak usia tujuh belas tahun. Apa kamu akan menikahinya dalam waktu dekat?. Setelah ia lulus sekolah mungkin?.”


“Menikahi Andrea, Dad tak perlu tanya. Aku pasti akan menikahinya. Masalah waktu, Dad tunggu saja ... Lebih baik Dad siapkan saja uang yang tak terhingga untuk Pernikahanku dan Andrea nanti. Just in Case uangku kurang?. Lagipula setengah hartamu kan juga milikku, Andrea juga kesayanganmu, jadi jangan pelit.”


“Bocah tengik!.”

__ADS_1


***


To be continue ..


__ADS_2