THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 114


__ADS_3

💞💞   DIA, PRIA-KU   💞💞


**********************


Selamat membaca....


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia ..


“D ....” Panggil Fania saat dia dan Andrew sama – sama  sedang berada di ruang olahraga.


“Hem?.” Sahut Andrew yang sedang latihan angkat beban, sementara Fania sedang melemaskan otot lengan dan bahunya setelah latihan dengan sepasang dumb bell. “Kenapa Heart?.” Tanya Andrew setelah menurunkan alat angkat beban yang tadi ia pegang dan kini menghampiri istrinya itu.


“Kita jadi ambil Penthouse yang di Belleza itu?.” Fania balik bertanya.


“Sepertinya iya. Aku suka designnya.”


“Kenapa ga kita beli rumah skandinavia yang tiga lantai di timur Jakarta aja, D?. Kan enak tuh ada tetangga.”


“Rumah satu dan yang lainnya terlalu berdekatan.” Sahut Andrew yang kini sedang melakukan push up.


“Yah namanya juga komplek.”


“Kurang privacy.”


“Tapi kan itu komplek tertutup juga, D. Ada securitynya, ga sembarangan orang selain penghuni bisa sembarangan mondar mandir.”


“Rumahnya terlalu rapat satu dengan yang lainnya, aku rasanya kurang nyaman kalau harus tinggal ditempat dengan suasana seperti itu.”


“Kan enak D, banyak tetangga.” Ucap Fania yang selonjoran disamping Andrew yang sedang push up itu.


“Justru itu, terlalu banyak tetangga, nanti para pria yang bertetangga dengan kita bisa seenaknya saja memandangi kamu.”


“Ya ampun, kamu nih. Ya aku ga bakal tergoda juga sama cowo – cowo diluaran.”


“Aku tidak ingin mengambil resiko.” Ucap Andrew yang sudah selesai dengan push up nya lalu duduk disamping Fania.


“Dasar Donald Bebek, cemburuan ga ilang – ilang.” Sahut Fania yang kemudian menangkup wajah Andrew lalu mencubit kedua pipinya pelan dan Andrew tersenyum pada istrinya itu. “Engga bakal juga aku rela kepincut cowo lain. Cinta mati aku sama kamu D.” Ucapnya.


“Tetap saja aku tidak sudi kamu jadi bahan pandangan dan fantasi para pria diluaran sana.”  Sahut Andrew. “Nanti tahu – tahu ada yang gencar mendekati kamu, sok – sok sweet dengan segala keromantisan, kamu tergoda bisa – bisa.”


“Ga bakalan, D!.” Fania tersenyum dan geleng – geleng pada Andrew. ‘Lagian, kurang bersyukur amat udeh punya laki cakep begini, kaya kaga ketulungan, dan lagi.. ah itu otot suka bikin gue gelisah ah ah!....'


**


“Sweety.” Panggil Ara pada Fania selepas sarapan dan melepas para pria yang pergi ke Perusahaan atau mengurus urusannya masing – masing.


“Ya Kak? ...”


“Kamu mau ikut ke GI, ga?. Aku sama Michelle mau kesana, mau cek store yang ada disana sekaligus window shopping dan lunch bareng. Michelle juga mau ambil gelang pesanannya sekalian.”


“Yah, gue udeh janjian sama si Donald Bebek Kak. Mau ke Belleza.”


“Jadi kalian ambil Penthouse disana?.”


“Jadi Kak. Andrew ga sreg katanya kalo yang di komplek perumahan skandinavia itu. Dan dia maunya gue dateng ke kantor cabang baru yang di Senopati itu, sekalian bawain dia baju ganti.”


“Hm .. ya sudah kalau begitu. Nanti kamu ke Senopati nya diantar supir atau menyetir sendiri?.”


“Naek ojek sih pengennya. Kangen udeh lama kaga naek ojek.” Ucap Fania cekikikan begitupun Ara.


“Nanti bisa – bisa itu tukang ojek ditabrak sama si Donald Bebek gara – gara kamu duduk nempel sama itu tukang ojek diatas motor.”


Fanie tergelak. “Hahaha iya juga ya. Sianan entar itu tukang ojek yang kaga salah apa – apa jadi bulan – bulanan si Donald Bebek yang cemburuan.” Ara ikutan tergelak.


“Kalau gitu nanti kamu bareng aku sama Michelle aja berangkatnya. Kami kan diantar supir nanti, nah bisa ngedrop kamu dulu di kantor cabang baru yang di Senopati itu.” Ucap Ara dan Fania mengiyakan.


****


Didalam sebuah gedung perkantoran yang merupakan sebuah Perusahaan Batu Bara di daerah Senopati, Jakarta, Indonesia ...


Seorang wanita berparas cantik, menggunakan setelan casual berwarna hitam dipadukan dengan outer putih tanpa lengan lengkap dengan sepatu kets dan tas selempang branded, memasuki gedung perkantoran tersebut dengan menenteng juga sebuah paper bag disatu tangannya dan satu tangannya lagi sedang menempelkan ponsel ditelinganya.


“Masih meeting apa ya?.” Wanita itu bergumam dan ia pun menghampiri meja resepsionis dengan tersenyum dan


disambut dengan keramahan oleh sang resepsionis.


“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?.” Sapa resepsionis itu dengan sopan dan ramah.


“Saya ada janji bertemu dengan Tuan Andrew Smith.”


Resepsionis tersebut mengernyitkan dahinya. “Sebentar ya.” Ucap si resepsionis lagi sambil mengecek sebuah lembaran dimeja nya. “Mohon maaf, anda dengan siapa dan ada keperluan apa?. Karena saya belum menerima catatan apapun kalau Direktur kami itu memiliki janji dengan seseorang.”


“Oh, saya Fania..”


“Kamu lama banget sih! Nanti saya yang dimarahin sama Tuan Andrew karena kamu yang lelet!.” Suara nyaring seorang wanita berpakaian rapih dengan setelan blazer kerja namun nampak minim dibagian roknya dan sepertinya hanya menggunakan dalaman rendah dibalik blazer kerjanya, karena belahan dikedua asetnya cukup nampak, sedang memarahi seorang OB.


“Maaf Bu, tadi agak ramai di coffee shopnya.” Sahut si OB.


“Emang aja kamu lelet!.”


“Maaf, Bu.”

__ADS_1


“Ini kamu bener kan pesennya ini Cappucino?.” Wanita itu mengoceh lagi.


“Iya benar, Bu.”


Wanita itu berdecak dengan wajah ketusnya pada si OB.


“Maaf sebentar Bu Lani.”


“Ada apa lagi??!.” Wanita yang barusan mengoceh itu menyahut dengan ketus pada resepsionis yang menegurnya itu.


“Ini Bu, ada yang cari Tuan Andrew Smith. Sudah ada janji katanya.”


“Janji dengan Tuan Andrew?.” Wanita bernama Lani itu bertanya balik pada sang resepsionis. "Mana orangnya?!."


Si resepsionis mengangguk lalu menunjuk pada Fania yang masih berdiri didekat meja resepsionis sambil memperhatikan wanita yang dipanggil Lani itu. “Iya Bu, itu orangnya.”


Wanita bernama Lani itu memandang jengah pada Fania setelah menghampirinya. “Kamu ada janji dengan Direktur kami?.” Tanyanya. “Direktur kami ga punya janji dengan siapa – siapa hari ini jadi jangan mengada – ada.”  Cerocosnya lagi sebelum Fania menjawab.


“Maaf sebelumnya..”


“Lagipula jadwal beliau padat hari ini, dan kalau dia ada janji dengan orang, pasti saya asisten pribadinya yang tau duluan! ...”


‘Si Donald Bebek, ngambil aspri kek begini..’ Batin Fania.


“Udah deh jangan buang waktu saya! Mending sekarang kamu pergi, karena Tuan Andrew ga bisa diganggu!. Paling kamu termasuk cewe – cewe yang mau mengganggu Bos saya itu ya?!.” Ucap wanita bernama Lani itu dengan ketusnya pada Fania. “Mendingan kamu pergi aja deh! Jangan buang – buang waktu Bos saya, dia ga akan ngeladenin cewe – cewe macam kamu!.”


‘Set dah ini orang!.....’ Batin Fania menggerutu. ‘Oh iya, kantor baru pan yak, belom pade ditatar ini orang – orang kelles....’


“Denger ya, selain asisten pribadinya, saya ini calon istrinya Tuan Andrew, jadi kamu jangan coba – coba mengganggu calon suami saya itu!.” Ucap wanita bernama Lani itu kepedean.


‘Apaan?!.’


“Udah pergi sana!.”


“Tuan Andrew itu udah punya istri! Emang situ asisten pribadinya ga tau apa, kalo Bosnya udah nikah!.” Sahut Fania yang mulai ketus.


“Sok tau! Udah! Kamu tuh buang – buang waktu saya!. Cepat pergi sana kalo engga saya panggilin satpam!.” Ucap Lani sambil memandang sinis pada Fania dan menelisik nya dari atas sampai bawah. “Istrinya juga paling kalah cantik dan seksi sama gue! Bentar lagi juga ditinggalin!.” Ucapnya lagi dengan ketus lalu berbalik pergi dan setengah berlari menuju lift.


**


Triiiing ... Ponsel Fania berdering.


“Halo? ......”


“Kamu dimana”


“Aku udah di lobi.”


“Ya udah aku tunggu disini aja deh kalo gitu.”


“Naik aja, aku kan mau ganti baju juga. Aku tunggu di ruangan pribadi aku.”


“Aku ga tau ruangan kamu dimana. Kamu aja sih turun sini.”


“Ya sudah, aku turun untuk menghampiri istriku yang cantik jelita mengalahkan si jelitanya sendiri.”


“Gombal!.” Fania memutuskan panggilannya setelah kekehan Andrew sempat terdengar.


**


Seorang pria bersetelan jas kerja rapih nampak keluar dari lift dan berjalan dengan gagahnya menuju lobi. Membuat banyak mata yang berada disana memandang kearahnya, terutama para wanita. Selain memberi hormat, mata mereka menyiratkan kekaguman dan pengharapan yang luar biasa pada Pria berkepala plontos dan nampak jelas berotot itu. Namun sebelum ia mencapai lobi, sebuah suara memanggilnya.


“Tuan Andrew! ..”


Andrew pun spontan menoleh.


“Ya?.” Sahutnya.


“Kerja! Jangan keganjenan!.” Wanita itu melotot pada beberapa wanita yang didekat Andrew sebelum ia menyahut


pada Andrew.


“Tidak perlu sampai seperti itu Lani...”


Wanita itu menampakkan senyumnya yang nampak dibuat se - imut mungkin.


“Maaf ya, Tuan Andrew, habis mereka suka kegenitan.”


“Mereka tidak mungkin berani terang – terangan kan?, toh mereka tahu siapa saya setelah acara perkenalan tadi.”


“Iya, Tuan.” Wanita itu berucap sok imut.


“Jadi ada apa, Lani?.” Tanya Andrew pada wanita yang menghentikan langkahnya itu.


“Engga, saya Cuma mau tanya Tuan mau kemana?. Soalnya ada beberapa berkas lagi yang harus Tuan Andrew periksa ..”


“Saya akan kembali lagi keatas, saya mau...”


“D..”


“Nona!.” Seorang wanita nampak mengejar wanita didepannya itu saat ia menghampiri pria yang diketahui adalah Bos Besar Perusahaan di tempat itu.

__ADS_1


“Kamu?. Masih disini sih?!.” Ucap wanita bernama Lani itu pada wanita yang barusan mengatakan ‘D’ itu. “Kamu juga kerja ga bener! Udah saya bilang kan tadi, Tuan Andrew sibuk, dan saya suruh kamu usir dia pergi!.” Oceh nya lagi.


“LANI!!!.” Andrew wajahnya langsung berubah tak senang itu langsung menghardik wanita yang ia sebut namanya barusan. Wanita yang katanya asisten pribadinya itu sontak langsung terdiam karena super terkejut mendengar suara Andrew yang menggelegar itu. Begitu pula orang lain yang berada disekitaran Andrew, yang sama terkejutnya dengan Lani.


“Ma... maaf, Tuan Andrew, perempuan sok cantik ini bilang ada janji dengan Tuan, sementara hari ini saja Tuan baru mengunjungi kantor ini dan tidak ada list janji untuk bertemu dengan orang selama seminggu kedepan..” Lani berbicara dengan terbata dan sesekali menundukkan kepalanya.


“BERANI KAMU..”


“D..”


Fania menyentuh dada Andrew. Paham sang suami sudah mulai nampak naik pitam. Andrew sontak langsung menoleh pada Fania, menggenggam tangannya membuat Lani sedikit keheranan.


“Sudah jangan marah – marah.” Fania mengusap lembut wajah Andrew.


“Tapi dia sudah berani berbicara kasar pada kamu!.”


“Maaf Tuan, dia ini...”


“Saya Fania. Fania Andrew Smith. Dan ini suami saya. Apa sudah cukup jelas?.” Ucap Fania sambil berdiri tegak memandang pada wanita yang merupakan asisten pribadi suaminya di kantor cabang Perusahaan Smith tersebut.


“A ... A – PA?!! ..”


Mata Lani terbelalak menandakan ia shock mendengar ucapan Fania barusan. “Saya bisa paham sebagai karyawan baru, anda dan yang lainnya mungkin belum tahu banyak tentang suami saya. Mungkin saja tidak tahu tentang statusnya.”


Fania berbicara lagi.


“Tetapi sebagai seorang asisten Direktur, seharusnya anda bisa bersikap dengan baik kepada siapapun.” Ucap Fania. “Karena sebagai seorang asisten, anda akan menjadi cerminan bagaimana orang lain menilai atasan anda. Mungkin anda berpendidikan tinggi sehingga bisa diterima bekerja disini, tapi coba anda lihat kelakuan anda, cara


anda memperlakukan orang lain, seenaknya, kurang ajar bahkan. Dan coba lihat pakaian anda ini, lebih mirip LC daripada asisten Direktur.”


“Sudah Heart, jangan menghabiskan tenaga kamu berbicara dengan wanita tak bermoral ini....” Ucap Andrew sambil memandang tajam pada perempuan didepannya yang sudah tertunduk itu.


“Ah, iya aku lupa, D.” Fania menoleh sebentar pada Andrew lalu menatap Lani lagi. “Apa kamu berencana untuk menikah lagi?.”


“APA?!.”


“Hum....” Fania manggut – manggut. “Karena dia bilang dia calon istri kamu...”


“APA?!.” Andrew kembali berseru dengan kencangnya, lalu menatap sangat tajam pada wanita bernama Lani itu. “APA KAU SUDAH GILA?!. APA KAU PUNYA CERMIN?!.”


“Sa-saya ... mohon maaf, Tuan... Nyonya ...” Ucap Lani takut – takut.


"KAU BAHKAN TIDAK SEBANDING DENGAN SEHELAI RAMBUT ISTRIKU INI!."


Seorang Pria berusia sekitar sama dengan Andrew dan beberapa orang lainnya  menghampiri Andrew yang wajahnya sudah memerah seperti menahan marah. “Tuan Andrew, mohon maaf ada pa ini?.” Tanya pria muda


itu dengan sopan namun takut – takut. “Lani! Apa yang sudah kamu perbuat, sampai Tuan Andrew marah seperti ini?!.”


“SIAPA YANG HIRED ( MEMPERKERJAKAN ) PEREMPUAN INI?!.” Tanya Andrew masih dengan gusar pada pria


muda yang baru menghampirinya itu.


“Pak Bambang, Tuan.” Jawab si pria muda bersetelan rapih itu.


“PECAT DIA!.” Perintah Andrew dengan keras “ PECAT ORANG BODOH YANG SUDAH MEREKRUT WANITA SEPERTI INI.” Perintahnya lagi. “DAN SERET WANITA INI KELUAR DARI SINI SEKARANG JUGA!. SEKALIGUS PECAT DIA DENGAN TIDAK HORMAT!.”.


Pria muda itu mengangguk cepat.


“Tu – Tuan... tolong maafkan saya.. saya..” Lani memohon dengan berurai air mata, namun dua orang sudah mulai menyeretnya dan wanita itu meronta sambil memohon.


“Seseorang bersihkan barang – barang wanita ini dari meja kerjanya!.” Perintah pria muda itu pada beberapa orang yang berada didekatnya.


Fania hanya memperhatikan dengan malas wanita yang sedang diseret itu.


“ARI! KUMPULKAN SEMUA ORANG SEKARANG JUGA!.” Andrew menurunkan perintah lagi sementara Fania hanya berdiri diam disamping Andrew yang merengkuh pinggangnya.


“Baik Tuan.”


****


Sesuai perintah Andrew, tak berapa lama semua karyawan sudah dikumpulkan dalam satu lantai.


Fania berdiri disamping Andrew yang merangkulnya, dengan tersenyum memandang pada karyawan – karyawan Andrew didepannya. Kemudian ia menoleh pada Andrew yang sedang berbicara dengan segenap wibawanya, selain wajah tak senangnya yang masih nampak karena kejadian di lobi tadi.


Andrew sedang memperkenalkan Fania sebagai istrinya dan memberikan peringatan keras pada setiap karyawannya yang sedang berkumpul itu.


Fania memperhatikan suaminya yang sedang berbicara dengan gagah dan tegasnya itu.


Kulit yang bersih sedikit coklat, berwibawa pun gagah dengan otot yang tercetak jelas meski bersetelan jas kerja, rahang yang nampak kokoh dan tegas, hidungnya yang bangir, serta mata yang tajam dengan alis tebal yang melengkung sempurna. Rasanya wanita banyak yang sependapat dengan Fania, betapa pria disampingnya ini begitu mempesona. Belum lagi kekayaan yang tak terhingga di usianya yang masih disekitaran tiga puluhan.


Bahkan jika mungkin Andrew sekedar melirik para wanita yang mengaguminya itu, mereka bisa langsung jatuh cinta.


Fania tersenyum sembari mengagumi suaminya sendiri yang sedang berbicara dengan dingin dan nampak angkuh itu pada segenap karyawannya. Namun sesekali menoleh dan menatap Fania dan tersenyum dengan teduhnya.


‘Dia ... yang bisa membuat para wanita yang mengagumi dan memujanya itu mimisan seketika karena senyumnya, adalah suamiku. Dia .. Pria – ku, Hanya milikku.’


****


To be continue...


Jempolnya Manaaaa ???

__ADS_1


__ADS_2