THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 90


__ADS_3

💙 PARA PASANGAN  💙


**************


Selamat membaca ...***


Liburan tahunan keluarga sudah dilewati dengan senang dan bahagia.


Saat ini seluruh Keluarga kembali berkumpul dulu di Indonesia untuk acara empat bulanan kehamilan keduanya Ara.


“Sini deh tangannya Kak Ara.”


“Kenapa, Sweety?.”


“Biar gue ketularan lagi.” Ucap Fania yang menaruh tangan Ara diperutnya.


“Kamu nih. Nanti kalau sudah saatnya dikasih juga akan muncul itu adiknya Andrew.” Sahut Ara sambil tersenyum dan mengelus –elus perut Fania.


“Iya si Jol. Sabar, yang penting usaha kan sudah.”


“Bukan udah lagi Kak Jeff.” Sahut Fania. “Jor – joran kalo soal menggempur gue sih si Donald Bebek nih.”


“Pantang berhenti sebelum benih habis. Ya kan?.” Sahut Andrew sambil cengengesan pada semua saudara laki –


lakinya yang kini sedang berkumpul bersama di Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith yang berada di Jakarta.


Para pria pecinta istri itupun tergelak bersama.


“Mulai deh.”


“Kaga laen.”


“Loh memang iya benar itu yang dibilang si Donald Bebek. Pantang berhenti sebelum benih habis.”


Dewa ikut nyeletuk.


“Hahaha.” Para pria pecinta istri dan punya hobi yang sama soal urusan ranjang itupun tergelak bersama lagi, sementara para wanita memutar bola mata mereka malas dan memilih untuk memisahkan diri untuk membicarakan soal acara empat bulanan Ara.


**


Hubungan setiap pasangan di Keluarga Adjieran Smith semakin hari selalunya akan semakin mesra. Para Sultan Muda anggota Klub Bucin Pecinta Istri itu toh selalu bisa membuat para istri melayang dengan segala perlakuan mesra dan kejutan manis dari para suami mereka yang begitu posesif, keras kepala, royal namun tak pernah ragu menunjukkan pada dunia betapa para Sultan Muda Keluarga Adjieran Smith itu begitu memuja dan mencintai istri – istri mereka.


Namun jika sifat manja dan cemburunya para pria anggota The Bucin Klub itu datang, para istri mereka yang sudah terlatih itu harus bersikap ekstra sabar menghadapinya. Kalau mereka bilang A ya harus A, karena kalau tidak, para suami itu akan menghajar para istri habis – habisan, dalam artian mengurung para istri dalam kamar tanpa diberi kesempatan untuk menggunakan sehelai benang pun ditubuh mereka.


Seperti saat ini, pasangan suami istri yang tergolong baru yakni John dan Prita sedang berada di luar kota. John yang memiliki rapat dengan koleganya di sebuah kota terbesar di Kepulauan Nusa Tenggara.


Bukan tanpa sebab John menyuruh Prita untuk ikut dengannya sekarang ini.


Si Om sedang cemburu pada seorang single daddy yang anaknya ikut kelas dance anak – anak yang diajar oleh Prita.


“Kita berapa hari disini Pi?.” Tanya Prita saat mereka sudah tiba di Hotel yang akan mereka tinggali di Bali selama mereka berdua ada disana.


“Lihat saja nanti.” Jawab John sambil memainkan rambut istrinya itu. “Anggap saja ini sekalian bulan madu lagi.”


“Bulan madu?. Nah di LA kita udah bulan madu, kan?.”


“Itu kan ramai, sekarang hanya kita. Anggap saja bonus.”


“Kamu nih. Pasti cemburu sama Daddynya Sheila kan?.”


“Engga.”


“Alah, dua hari yang lalu kamu denger dia ngundang aku buat makan malam di rumahnya, terus tau – tau kamu suruh aku ikut kesini.”


“Salah kamu terlalu ramah.”


“Ya masa aku mau galakin dia, sementara anaknya kan murid dance aku. Lagian aku juga udah nolak, kamu juga denger sendiri.” Ucap Prita. “Jangan cemburuan sih Pi.” Prita merajuk. “Kamu mah posesif banget, sama aja kayak Kak Andrew dan yang lainnya. Percaya dong sama aku, mana aku pernah punya niat buat mengkhianati kamu sih?.”


“Ya tetap saja aku ga suka, melihat ada pria yang lain yang mencoba mendekati kamu. Coba kalau ada wanita lain yang mendekati aku, kamu juga pasti ga suka kan?.”


“Tau ah. Jadi orang ga pernah mau ngalah! Omongan aku selalu aja dibalikin!.”


Prita bangkit dari duduknya lalu beranjak ke atas ranjang, sementara John masih ditempatnya sembari memperhatikan istri kecilnya yang nampak sedang merajuk itu. Namun tak lama ia menyusul Prita ke atas ranjang dan memeluk istrinya itu dari belakang.


“Sudah jangan marah. Lebih baik sekarang kamu berbalik dan berikan aku ciuman selamat malam, karena kalau


engga, aku pastikan piyama kamu ini akan aku robek.”


“Ck!.”


Prita berdecak sebal pada John, namun pada akhirnya dia tetap berbalik dan melakukan apa yang dibilang John sebelumnya.


Tapi yah tetap saja, ujungnya seluruh kancing piyama Prita sudah copot dari tempatnya juga dan John sudah mengukung tubuh Prita yang kini sudah polos sama seperti dirinya.


‘Diikutin kaga diikutin, ujungnya gue digempur juga!.’

__ADS_1


***


Kediaman Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia


Michelle sedang memandang sedikit sinis pada Dewa yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang hingga lututnya.


“Kamu kenapa si Yank?. Dari tadi aku perhatikan cemberut aja ga selesai – selesai.”


“Kamu mau kemana sih?. Kok aku ga boleh ikut?.”


Michelle bertanya dengan sebal, lalu Dewa mendekatinya.


“Bukannya ga boleh ikut, aku hanya ada pertemuan dengan beberapa teman pria untuk membicarakan soal investasi mereka di restoran yang akan aku buka di Indonesia. Kalau kamu ikut kamu pasti bosan, Yank.”


“Apa ada wanita diantara para teman pria kamu itu?.” Michelle menatap Dewa.


“Ya kalau mereka membawa partner aku ga tahu, Yank.” Ucap Dewa sambil berjalan kedalam walk in closet dan berpakaian.


“Nah ya sudah, apa salahnya aku ikut?.” Michelle mengikutinya.


“Nanti Baby Mika sama siapa?.”


“Banyak orang disini.” Sahut Michelle.


“Kamu kenapa sih Yank, uring – uringan begini?. Lagi PMS kamu?.”


“Salah ya, kalau aku mau ikut suami aku pergi?.”


Dewa tersenyum dan mendekati Michelle.


“Ga salah Ayank, tapi ini aku bukan pergi untuk kongkow. Aku mau bicarakan bisnis aja. Nanti kalau kamu ikut, aku hanya takut kamu merasa bosan.”


Michelle diam tak menjawab.


“Janji, Boo – Boo hanya sebentar, hem?.” Ucap Dewa lagi sembari tersenyum dan memegang bahu Michelle. “Aku


berangkat ya?.”


Dewa mencium kening Michelle lalu mengambil dompet dan ponselnya.


“Siapa Savana?.”


****


“Jeff ..” Panggil Jihan yang kini bersama Jeff yang sedang duduk – duduk di halaman belakang.


Namun kemudian dia menarik Jihan dalam pangkuannya.


“Kamu cari panggilan sayang untuk aku gitu. Di rumah ini wanita yang ga romantis itu kamu perasaan. Yang lain punya panggilan sayang untuk suaminya.”


Jihan terkekeh mendengar ucapan Jeff. “Ya habis aku bingung mau panggil kamu apa.”


“Ya apa kek, kamu pikirkan. Kreatif sedikit.” Sahut Jeff.


“Emmmmm, apa ya? Papa Jeff?.”


“Ya bolehlah.”


“Atau Papa Bear?.”


“Memang aku beruang?.”


“Ih norak deh. Papa Bear itu kan dipake buat sebutan pria yang manly, seksi ....” Jihan menjelaskan dan Jeff langsung menatap istrinya sambil senyum – senyum ga jelas.


“Jadi aku seksi dimata kamu? ....”


“Seksi!.” Jihan manggut – manggut. “Tapi m*sum!....”


“Tapi suka kan dim*sumin aku?.”


Jihan berlagak berpikir.


“Aku anggap diam kamu sebagai ya. Jadi jangan kemana – mana, diam disini sampai semua orang sudah tidur.”


“Kenapa gitu?. Orang lagi tunggu waktu makan malam si.”


“Ya nanti selepas makan malam kita kembali kesini lagi.”


“Mau ngapain coba?.”


Jeff menyeringai. “Aku belum pernah msumin kamu di kolam renang.”


***


“Little F mana Ndrew?.” Tanya Ara saat dia sedang membantu menyiapkan makan malam.

__ADS_1


“Ada diatas sedang main sama anak – anak. Nanti gue panggilkan mereka kalau makan malam sudah siap.”


“Something’s wrong? ( Ada masalah? ).”


Reno bertanya pada Andrew karena wajah pria itu nampak sedang memikirkan sesuatu.


“Little F ingin hamil lagi. Sangat.”


“Konsultasi lah sana. Disini ada Clarissa, atau ya nanti setelah acara bayi gue dan Ara kalian bisa ke London untuk konsultasi dengan Judith.”


“That’s why ( Justru itu ), Judith pernah bilang kalau bisa tunggu minimal lima tahun kalau Little F mau hamil lagi.”


Reno manggut – manggut.


“Sudah jelaskan pada Fania?.”


“Sudah, R.”


“Then? ( Lalu? ).” Tanya Reno.


Andrew menghela nafasnya.


“Dia hanya jawab iya saja. Tapi gue tahu kalau dia kepikiran. Gue juga belum siap saat ini kalau Little F mau hamil lagi. Kehamilan Andrea dan prosesnya masih terbayang sampai sekarang. I’m still freak out ( Gue masih takut ).”


"Tapi Little F masih pakai kontrasepsi?."


"Masih."


“Ya sudah coba nanti aku yang bicara sama Little F.”


“Thanks Ra.”


***


“Heart....” Selepas makan malam dan bercengkrama sebentar, semua orang sudah kembali ke kamarnya masing –


masing, termasuk Andrew dan Fania.


“Hemmm ....”


Fania sedikit menggeliat karena Andrew sudah menciumi tengkuknya.


“Kangen....”


“Tadi pagi kan udah!.”


“Sekali mana cukup, Heart.” Ucap Andrew disela c*mbuannya.


“Sekali dari mana coba?.”


Andrew terkekeh.


“Boleh ya, hem?.”


“Kalo aku bilang ga boleh juga ga akan ada pengaruhnya kan?. Tetep aja kamu bakal pretelin baju aku. Di robek


malah kadang – kadang.” Fania menggerutu.


“Kalau sedang mengomel Mommanya Andrea nampak menggemaskan.” Andrew mencubit pelan hidung Fania. “Boleh ga nih?.”


“Meong!.”


***


“Babe?....”


“Astaga.” Ara terperangah menatap suaminya yang hanya memakai satu lembar pakaian ditubuhnya. “Kamu apa –


apaan sih, Hon?. Stok baju dilemari habis memangnya?.”


Reno terkekeh.


“Aku justru mau tanya, piyama biru muda aku mana yang baru kamu buatkan itu?.”


“Ya dicuci dulu lah, Hon.”


“Heeemmmm ....” Reno masih berdiri ditempatnya.


“Ya udah cari yang lain sih, piyama kamu kan banyak.”


“Kamu ga ingin melakukan sesuatu gitu, Babe?.”


“Apa?. Minta aku yang ambilkan piyamanya?.” Sahut Ara.


“Perkosa aku misalnya?.”

__ADS_1


***


To be continue ...


__ADS_2