THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 257


__ADS_3

Eh, ketemu lagi ni hari. Gimana - gimana, seneng ape enek ketemu lagi baru pisah sebentaran?. 😃


🍨🍨🍨🍨🍨🍨


 


FEEL BAD


( Merasa Buruk)


 


Selamat membaca ...


“Dad.....”


“Hem?..... kenapa Little Star?”


“Maaf soal motor Dad. I feel bad about it. ( Aku menyesal soal itu ). Soalnya motor Dad Boo – Boo yang paling dekat dengan pintu garasi” Ucap Andrea. “Tadi aku hilang fokus, makanya aku slipped”


Andrea memasang wajah memelas nan penuh penyesalan ke Daddy Dewa. Toh memang benar itu yang Andrea rasa. Merasa bersalah dan menyesal pada Daddy Dewa yang orangnya malah tersenyum dan mengacak pelan rambut Andrea lalu memeluk gadis itu.


“Jangan kamu pikirkan soal itu Sayang” Ucap Daddy Dewa. Mereka semua sudah selesai kulineran malam di kaki


lima. Sesuatu yang sudah lama rasanya tiga hot daddies itu tidak lakukan. Dulu Momma yang memperkenalkan mereka dengan tongkrongan rakyat biasa, hingga akhirnya terbiasa, meski tak sering juga.


“The most important is, that you are okay, Little Star.... ( Yang penting kamu tidak apa – apa, Little Star.. )” Ucap Daddy Dewa lagi.


“Dad Dewa benar. Yang penting kamu baik – baik saja. Hanya motor begitu, dia juga punya banyak uang untuk membeli yang baru. Tapi jika kamu sampai cedera parah, itu lebih bahaya untukmu dan untuk kami semua”


“Huumm..... Poppa dan Daddy R mu, pasti akan menghajar kami habis – habisan karena dianggap gagal


menjagamu”


“Terlebih lagi bocah tengik satu ini” Daddy Dewa melirik Varen. “Dia pasti akan disiksa habis – habisan by that two Black Drakes ( oleh dua Naga Hitam itu )” Yang dilirik pun manggut – manggut pasrah.


“Ya sudah, ayo kita pulang”


“Ayo”


**


“Gimana Than? Masih bisa dibawa itu motor?” Tanya Daddy Dewa pada Nathan yang sedang mengecek motornya.


“Sepertinya sih masih bisa. Tapi mungkin pelan – pelan. Agak goyang ini stangnya” Jawab Nathan.


“Ya sudah kalau memang masih bisa. Ga perlu meminta Arjun untuk membawakan kendaraan buat mengangkut ini


motor” Ucap Daddy Dewa.


“Ya udah. Biar aku saja yang bawa ini motor” Nathan menawarkan diri.


“Beneran?” Daddy Dewa memastikan, Nathan langsung mengangguk.


“Sekali lagi Drea mohon maaf ya, Dads?” Ucap Andrea kembali memasang wajahnya yang penuh penyesalan itu.


“Gara – gara Drea kalian jadi repot” Tiga Hot Daddies itupun tersenyum.


Andrea memilin bibirnya. Daddy Jeff memeluknya.


“Tenang, nanti Dad kirim tagihan pembelian motor baru ke Tuan Alvarend” Ucap Daddy Dewa sambil memainkan


alisnya. “Kebetulan naksir model barunya Triumph”


“Atur sajalah Daad .....”


Varen menyahut pasrah, tiga Hot Daddies dan Nathan pun terkekeh.


***


“Ya sudah ayo lekas kita pulang. Tiga Mommies kalian sudah menunggu lama” Ucap Papi yang membuang puntung rokok yang sudah hampir habis ke bawah kakinya. Yang lain langsung mengangguk.


Sebelum meninggalkan Taman Kota tempat dimana ke enam orang itu berada, Andrea menyempatkan diri untuk


berterima kasih, pada beberapa orang yang masih duduk – duduk di lesehan sekitar pedagang kaki lima musiman itu mangkal.


Andrea mengenali wajah – wajah orang yang menolongnya tadi, dan sebagian masih ada disana. Varen ikut


menemani Andrea, ikut juga berterima kasih pada orang – orang tersebut.


Membayarkan semua tagihan mereka yang masih nongkrong ditempat itu, sebagai bentuk terima kasih, meski


mungkin orang – orang yang menolong Andrea tadi, menolongnya tanpa pamrih. Termasuk juga bagi – bagi sedikit rezeki kepada para pedagang dengan tidak mengambil uang kembalian, meski sisa uang kembalian mereka lebih besar dari pada harga makanan itu sendiri.


“Ini kartu nama saya”


Varen memberikan kartu namanya pada sebagian orang disana, termasuk pedagang yang berada di dekat mereka.


“Jika ada yang menanyakan soal kerusakan akibat kecelakaan tadi, minta mereka menghubungi saya di nomor yang tercantum di kartu itu” Ucap Varen sopan.


“Oh iya, Mas” Sahut orang – orang yang sudah memegang kartu nama Varen.


“Baiklah terima kasih sekali lagi, kami permisi” Andrea dan Varen berpamitan dengan menunjukkan keramahan dan senyum mereka.


“Sama – sama Mba, Mas” Sahut orang – orang itu lagi.


Andrea dan Varen pun undur diri dari hadapan orang – orang tersebut.


*****


“Kalau memang sampai besok tidak ada yang menghubungi soal kerusakan itu, minta Ammar mencari tahu contact


person orang yang bertanggung jawab soal Taman ini di Dinas Pertamanan Kota”


Papi berkata pada Varen yang langsung manggut – manggut. Lalu bersiap di atas motor masing – masing. Varen


membantu memasangkan helm di kepala Andrea.


Andrea akan dibonceng Varen menggantikan Nathan, karena Nathan akan mengendarai motor Daddy Dewa. “Maaf ya Tan – Tan jadi menyusahkan elo deh ..” Ucap Andrea pada Nathan.


“Halah! Justru aneh, kalau lo ga menyusahkan gue Cute Giirl!!..”

__ADS_1


Nathan memencet hidung Andrea yang orangnya langsung terkekeh, diikuti tiga Hot Daddies yang juga terkekeh dan sudah bersiap di atas motor masing – masing. Sementara Varen seperti biasa tersenyum dengan gaya cool nya.


“Ya sudah duluan saja kalian” Ucap Papi pada Andrea dan Varen. Ia sudah standby diatas motornya bersama Daddy Dewa di belakang Nathan yang akan di kawal oleh motornya dan motor Daddy Jeff yang berada di depan Nathan.


Varen mengangguk. “Oh iya Dads, sebentar”


Varen lebih mendekat ke arah tiga Daddiesnya dan Nathan yang kemudian nampak mengangguk bersamaan.


“Ya sudah kami jalan ya?”


“Iya hati – hati”


Daddy Jeff  dan rombongan yang akhirnya jalan duluan. Varen kemudian memakai helmnya.


“Ayo naik, Little Star ...” Andrea mengangguk dan langsung naik ke atas boncengan motor Varen dengan meregangkan kakinya. “Hold tight ( Pegang erat – erat )”


******


Varen sudah melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


Menikmati terpaan angin yang menyapa keduanya sepanjang jalan.


Keduanya sama – sama terdiam.


Namun Andrea melingkarkan tangannya dengan erat di perut Varen.


‘Eh?’


Andrea menautkan alisnya, karena Varen tak membawanya kembali ke Kediaman Utama.


“Kita.. tinggal disini dulu ya?” Ucap Varen saat sudah menghentikan motornya dan membuka helm yang ia pakai.


Varen membawa Andrea ke Kediaman Pribadi Daddy R yang tak jauh dari rumah utama.


“Iya”


Andrea pun turun dari boncengan motor Varen. Hendak melepaskan helmnya sendiri, namun tangan Varen sudah lebih dulu melepaskan helm dari kepala Andrea dengan perlahan.


“Yuk”


Varen mengajak Andrea masuk ke dalam Kediaman dengan menggandeng tangan istri kecilnya itu, setelah


memberikan helm dan menyuruh salah seorang pekerja yang menghampiri Varen untuk memasukkan motornya ke dalam garasi


**


Varen dan Andrea sudah masuk ke dalam kamar mereka di Kediaman Pribadi Daddy R.


Kamar yang menjadi saksi  bisu penyatuan keduanya untuk menyempurnakan pernikahan mereka.


“Aku akan siapkan air di bath tub agar kamu bisa berendam sekaligus relaksasi” Ucap Varen sembari membantu Andrea melepaskan jaket bomber nya. Memperhatikan juga kaos di balik jaket bomber yang dipakai Andrea, nampak bawahnya agak kotor. Varen menyingkap sedikit.


Varen terdengar mendengus pelan.


“Perih?” Tanya Varen karena ada baretan dipinggang Andrea.


Andrea mengangguk. “Sedikit” Jawab Andrea.


Varen kemudian berjalan masuk ke dalam walk in closet.


**


“Tidak usah berendam ya kalau begitu?”


“Ga masalah sih, hanya perih sedikit”


Andrea memegangi kaosnya kala Varen berjongkok, membersihkan luka Andrea disisi kiri pinggangnya lalu


mengobatinya. “Jangan, jangan berendam. Ini akan perih jika terkena air. Bersihkan diri sekenanya saja ya?” Ucap Varen dengan tersenyum.


“Iya”


****


“Aku bantu ke kamar mandi?” Varen menawarkan diri setelah membersihkan dan mengobati luka dipinggang kiri


Andrea.


“Aku bisa sendiri” Sahut Andrea.


Varen mengangguk.


“Aku ambilkan kamu baju ganti dulu, hem?”


“Abang..”


“Ya?”


Varen menyentuh wajah Andrea.


“Apa Abang tetap akan melakukan Vasektomi dan kita tidur di kamar yang terpisah karena perbuatan Drea ini?”


“Kamu bersihkan diri dulu, ganti baju, lalu kita bicara” Sahut Varen datar namun ia menyunggingkan senyum tipis. Andrea pun mengangguk dan berjalan menuju kamar mandi.


***


Di dalam kamar mandi pribadi Andrea dan Varen ..


‘Kalau Abang tetap pada keputusannya gue harus bagaimana?’


Andrea termangu di depan cermin wastafel.


‘Drea menyesal Abang... Drea tak pikir panjang... Abang benar, otak Drea memang pendek, Drea bodoh! Tapi Drea ga rela Abang sampai harus melakukan Vasektomi karena kebodohan Drea.. Apa harus sampai seperti itu?..’


Andrea tertunduk lesu, bahunya sedikit bergetar.


“Hey, Little Star ..” Varen langsung meraih lengan Andrea karena saat ia masuk, Varen melihat Andrea tertunduk dan seperti sedang menangis. “Ada apa, hem? Ada yang baru kamu rasakan sakit?”


“....”


“Maafkan Drea Abang.... Drea menyesal ... Abang jangan berkorban karena kebodohan Drea .. Abang mau pisah

__ADS_1


kamar ga apa, Drea terima. Mau pisah rumah juga ga apa. Drea memang ga pantas jadi istri Abang,  ka ..”


“Stop!” Varen menginterupsi cerocosan Andrea, mengangkat dagu Andrea agar wajah istri kecilnya itu berhadapan dengan wajahnya.


“Kalau Abang mau menceraikan ..”


“Aku bilang stop,” Sambar Varen lagi. “Dengar....”


Varen mengangkat tubuh Andrea dan di dudukkan nya di atas lantai wastafel.


“Lihat sini”


Varen menempatkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri paha Andrea.


“Bicara apa kamu, hem?” Ucap Varen sembari menatap Andrea. “Aku tidak suka mendengarnya. Aku benci. Bahkan


lebih benci dari mengetahui kamu mengkonsumsi morning after pill tanpa sepengetahuanku, tanpa berdiskusi dulu denganku”


“Karena itu..”


“Aku belum selesai bicara ..”


“......”


“Aku marah iya, kesal, benci, iya”


“......”


“Tapi hanya pada sikap kamu yang mengkonsumsi pil itu. Bukan pada diri kamu, Little Star ..”


“......”


“Kamu bersalah, jelas. Maaf, jika sempat membentak kamu...”


Varen menatap Andrea lamat – lamat.


“Sedikit banyak, akupun juga bersalah atas sikap kamu ini. Seharusnya aku membicarakan soal anak dengan kamu


sejak awal pernikahan kita. Dan karena aku menundanya, jadilah kamu melakukan apa yang sudah kamu lakukan..”


“Maaf ....”


Andrea menundukkan kepalanya lagi.


“Dengar, aku mencintai kamu, Little Star ... seberapa besarnya itu, aku rasa kamu sudah cukup tahu. Harus tahu bahkan”


“......”


“Tahukan seberapa  besar aku mencintai kamu?”


“......”


“Lihat dan jawab aku”


“Iya, Drea tahu”


“Jika memang begitu, seharusnya kamu paham, setiap keinginanmu akan selalu aku coba untuk kabulkan, meski kadang dengan beberapa pertimbangan. Apa susah berdiskusi atau bertanya dulu denganku, jika memang kamu mau menunda kita memiliki anak?”


“Drea.. otak Drea kan pendek Abang.. hiks! ..”


Varen meletakkan tangannya dipunggung Andrea dan menempelkan kepala istri kecilnya yang mulai terisak itu, lalu memeluknya erat. “Maaf, Abang tidak bermaksud menyinggung kamu”


Helaan nafas frustasi pun Varen hembuskan. Kemudian menarik tubuh Andrea kebelakang dengan lembut,


mengangkat dagu Andrea lalu menghapus air mata istri kecilnya itu.


“Maafkan aku” Ucap Varen dengan tersenyum. "Maaf, jika ada ucapanku yang menyakitkan mu"


“Maafkan Drea juga Abang..”


Varen mengangguk seraya tersenyum. “Kita anggap ini selesai?”. Ucap Varen. “Lebih baik kamu segera membersihkan diri dan berganti baju, lalu istirahat, hem?. Tentang anak, kita bicarakan besok saja ya?”


Andrea menggeleng. “Abang jawab dulu, apa Abang tetap akan melakukan Vasektomi?” Tanya Andrea sambil


menatap Varen dengan tatapan memelas. Varen tersenyum.


“Maunya kamu, bagaimana?”


“Jangan .. Abang jangan melakukan itu..”


“Ya sudah Abang tidak akan melakukannya” Ucap Varen dan Andrea langsung memeluknya.


“Terima kasih Abang, maafkan Drea. Drea benar – benar menyesal”


“Sudah .... cuci muka, sikat gigi, bersihkan badan kamu lalu ganti baju, hem?”


“Iya .... ”


Varen pun tersenyum sembari melepaskan kunciran Andrea hingga rambut istri kecilnya itu tergerai. “Begini lebih cantik”


Cup....


“I love you, Abang ..”


“I love you more, Little Star ....”


“Sekali lagi Drea minta maaf” Ucap Andrea tulus.


“Iyaa” Sahut Varen sembari tersenyum. “Bersih – bersih dulu lalu ganti baju”


“Iya”


“Mau aku bantu?”


Ehem!


***


To be continue..


Selamat ber hari minggu

__ADS_1


__ADS_2