
### SHOW US THE SUN ### Tunjukkan Pada Kami Mentari
*********
Selamat membaca.....
*********
Dunia seolah berhenti berputar saat ini bagi enam wanita di Keluarga Adjieran Smith. Bukan lagi mendung, namun badai seakan sudah memporak – porandakan hidup mereka. Awan yang terasa begitu hitam dan pekat, membuat semua terasa gelap.
Kini keenam wanita tersebut sudah berada didalam kamar mereka masing – masing setelah Ben dan Theresa menunjukkan kamar – kamar yang telah tersedia itu.
Yang juga keenam wanita itu sendiri baru sadari bahwa kamar yang mereka tempati sudah memiliki identitas sendiri dari tiap masing – masing pria mereka. Baru benar – benar disadari oleh Fania, Ara, Mom, Prita, Jihan bahkan Michelle, dalam kamar yang mereka tempati sekarang, ada foto mereka dengan pasangannya masing – masing, berikut foto bersama para buah hati dan foto seluruh keluarga besar.
Fania memandangi fotonya dan Andrew dan setetes air mata pun jatuh lagi. Lalu matanya memandang sebuah foto
dimana seluruh keluarga besar Adjieran Smith ada disana, termasuk mama Anye dan... Keluarga Cemara berikut Ibu Yuna.
“Ya Allah, Papah, Mamah..” Fania seketika mengingat orang tuanya.
Begitu kacaunya keadaan yang menimpa di London ini sehingga Fania sampai lupa pada orang tuanya dan kini ia
teringat, kepanikan diwajahnya pun muncul lagi.
“Ben! Theresa!.” Fania memanggil dua orang yang setia di Keluarga Adjieran Smith itu dengan tergesa keluar dari kamarnya.
“Sweety ada apa?.” Ara yang mendengar suara Fania setengah berteriak dari kamarnya itu pun segera keluar juga dari kamarnya, karena kamarnya bersebrangan dengan Fania. Ben dan Theresa pun tak lama datang menghampiri Fania, berikut para wanita yang lain juga ikut keluar kamar.
“Kak....” Prita menghampiri Fania, membuat Fania tak jadi bertanya pada Ben dan Theresa hal yang ingin cepat – cepat ia tanyakan. Dan ia langsung beralih pada Prita.
“Papah, Mamah?. Tau kabar mereka sebelum lo denger insiden di rumah Uncle Keenan?.” Fania setengah mengguncang Prita.
“Ya Allah Ibu....” Jihan juga tersadar pada ibunya yang berada di Indonesia.
“Ibu Yuna ada dirumah Papah sama Mamah kan?.”
“Iya Kak....” Ucap Prita. “Tapi terakhir komunikasi, saat kita sampai London Kak.. Itu juga katanya mereka bertiga mau pergi kemana gitu.” Ia mengingat – ingat.
“Ya Allah... mudah – mudah mereka ga apa – apa ....” Fania mengusap kasar wajahnya. Merasa putus asa karena tak ada satupun orang yang bersamanya memiliki alat komunikasi. Bahkan sepertinya Televisi pun tidak ada ditempat itu. Wajah khawatir mereka pun nampak lagi. Saat ini mereka seperti buta dan tuli tentang apa yang terjadi diluar sana.
Namun tidak ada yang bisa mereka lakukan walau hanya sekedar mencari tahu tentang kabar.
“Kita berdoa agar Papa, Mama dan Ibu baik – baik saja disana.” Ucap Ara pada Fania, Prita dan Jihan. “Setidaknya
disana ada Omar dan Eddie ....” Sambungnya. “Orang – orang yang sedang menyerang kita, pasti mengincar Dad dan para suami kita.. mereka pastinya akan lebih fokus disini.”
“Kak Ara benar ..” Sahut Michelle dan Fania, Prita dan Jihan kemudian manggut – manggut. “Papa, Mama dan Ibu pasti baik – baik saja.”
“Mudah – mudahan, Chel... mudah – mudahan mereka bertiga tidak kena imbas apapun dari apa yang terjadi disini.”
“Aamiin.”
**
Pada akhirnya, ketujuh wanita itu kembali lagi ke kamar mereka masing – masing. Dan putra – putri kecil, ada bersama para ibu mereka dalam kamar. Para pengasuh berikut Ben dan Theresa diminta untuk beristirahat oleh Mom.
Mom sendiri berada dalam kamarnya sendirian. Ia mematut didepan foto – foto yang tergantung didinding dan terutama memperhatikan lamat – lamat fotonya dan Dad yang nampak bahagia itu.
Air mata Mom turun lagi. Tangannya terjulur untuk mengusap wajah Dad pada foto, kemudian mengusap foto para putranya.
__ADS_1
Mom menangis dalam diam, rasanya sudah tak ada lagi daya dalam tubuhnya. Namun sesak kian memenuhi rongga dadanya.
*
“Momma, where’s Poppa?*. ( Momma, dimana Poppa? ).” Bocah perempuan berumur hampir lima tahun nan cantik
dan menggemaskan itu bertanya pada sang Momma yang sudah berbaring miring disampingnya.
“Poppa ... still working, baby..... ( Poppa .. sedang bekerja, sayang )....” Ucap Fania sembari tersenyum meski rasanya getir dan membelai kepala putrinya dan Andrew itu yang hendak ia tidurkan.
“Poppa will bring me doll again, right? ( Poppa akan membawakanku boneka lagi, kan? ). Because Poppa said, he will bring me doll eve-ry day ... ( Karena Poppa bilang, dia akan membawakanku boneka se-tiap hari.. )....” Ucap Andrea dengan senangnya, Fania hanya tersenyum. “Right Momma? ( Iya kan Momma? ).”
Fania tak kuasa untuk tak mengangguk, meski rasanya tenggorokannya sudah tercekat. Mulutnya tak sanggup untuk mengatakan pada putrinya tentang apa yang menimpa sang Poppa serta kakek dan ayahnya yang lain.
Toh mungkin Andrea belum tentu paham jika Fania coba menjelaskan. Selain dirinya tak tega pada putri kecilnya dan Andrew itu, andai ia bilang, mungkin sang Poppa tidak akan pernah membawakan Andrea boneka lagi.
“Why are you crying, Momma? ( Kenapa Momma menangis? ).” Ucap Andrea sambil membelai pipi ibunya yang tanpa sadar meneteskan air mata kala teringat pada sang Poppa.
“Ah, there’s a lot of dust in my eyes.... ( Ah, mataku terkena banyak debu ).” Lagi, Fania tersenyum pada putri kecilnya itu. “Go to sleep now, hem? ( Tidur sekarang, ya? ).” Fania memeluk Andrea sambil me - nina - bobo - kan nya.
“Okay Momma! ....”
Andrea ceria seperti biasa, Fania melebarkan senyumnya.
“If Poppa come home, tell him to kiss me good night! ( Kalau Poppa sudah pulang, bilang padanya untuk memberikanku ciuman selamat malam ).” Ucap Andrea lalu memeluk sang Momma lalu memejamkan matanya.
‘Maafin Momma, Andrea.... Momma ga bisa janji kalau Poppa akan memberikan kamu ciuman selamat malam kali
ini ....’
Fania menggigit bibir bawahnya sambil mengelus – elus punggung Andrea dalam buaian nya. Semata – mata untuk
‘D.. pulang ya .... pulang untuk dan Andrea....’
**
Lima wanita muda di Keluarga Adjieran Smith kini sudah duduk bersama dalam satu bagian ruangan. Mereka kini
sudah tak lagi menangis meraung, hanya sisa tangisan mereka yang nampak diwajah dan dimata. Namun mereka duduk dalam diam tanpa suara. Larut dalam lamunannya masing – masing.
Raga mereka sedang duduk diam, namun sepertinya jiwa mereka sedang terpisah dari raga yang pandangannya
kosong itu.
Berharap bisa kembali memutar waktu, dan mungkin berharap esok tak pernah datang. Namun harapan terus menyala dalam hati mereka masing – masing, berharap dengan sangat, hal yang paling menyakitkan itu tidak benar – benar terjadi.
“Mrs... ( Nyonya )....”
Suara Theresa memecah lamunan kelima nyonya muda tersebut. Mom dan Mama Anye memilih untuk tetap berada dikamar mereka.
“Ya? ....”
Ara yang menyahut, karena kebetulan Theresa berbicara didekatnya.
“All of you must eat, Ma’am ( Anda semua harus makan, Nyonya ).” Ucap Theresa dan kelima wanita muda itu
menoleh pada Theresa.
“We’re not hungry, Theresa ( Kami tidak lapar, Theresa ).” Sahut Prita.
__ADS_1
“I know it’s hard..... very ... but all of you must strong for those angels .. ( Aku tahu ini berat ..sangat .. tapi anda semua harus kuat untuk para malaikat kecil kalian..).”
Ucapan Theresa mengena dihati kelima wanita itu. Theresa benar, mereka punya anak – anak yang akan lebih membutuhkan ibu mereka saat ini. “Aku panggil Mom dan Mama Anye dulu kalau begitu.”
**
Mom dan Mama Anye datang bergabung setelah Jihan mengetuk kamar mereka. “Anak – anak sudah tidur?.” Tanya Mom dengan suaranya yang masih serak. Putri dan para menantunya itu mengangguk.
“Me and Ben will take you to the dining room ( Aku dan Ben akan mengantar anda semua ke ruang makan ).”
“Dining room? ( Ruang makan? ).” Tanya Mama Anye. Theresa dan Ben mengangguk.
“This way .... ( Lewat sini ) ....”
Ben merentangkan satu tangannya untuk mempersilahkan dan mengantar para nyonya ke ruang makan yang Ben dan Theresa bilang.
Namun Mom nampak bergeming dan tubuhnya memutar seperti sedang memperhatikan tempat dia berada saat ini. “Kenapa, Mom?.” Tanya Ara.
“Ini .... seperti ...” Mom menggantung kata – katanya membuat enam wanita lainnya sedikit bingung.
“Mom!.” Putri dan menantunya berjalan cepat menyusul Mom yang juga berjalan cepat ke satu arah seperti sedang memastikan sesuatu.
“Ben! Theresa! This is.. ( Ini ... ).” Mom memandang pada dua pelayan setia keluarganya itu. Saat dia sudah berada dibagian lebih dalam selurusan dari lorong kamar yang juga membuat enam wanita lainnya sedikit terkejut menyadari bahwa tempat mereka berlindung sekarang lebih besar dari dugaan mereka.
Koridor tempat kamar yang berbaris itu ternyata mengarah kepada lorong yang terbagi tiga. Keenam wanita selain Mom itupun tercengang. Tempat itu seperti tempat rahasia.
“Yes, Mrs. Erna.. this is or save house ( Iya , Nyonya Erna.. ini rumah perlindungan kita )....” Ucap Ben.
“Oh ya Tuhaaan!! .. pantas saja aku merasa familiar dengan tempat ini.” Ucap Mom seraya menghela nafas lalu
menutup mulutnya.
“Mom tahu tempat ini?.” Tanya Fania yang penasaran. “Save House? ( Rumah Perlindungan? ).” Tanyanya lagi dan Mom mengangguk cepat.
“Iya ini Save House keluarga kita!.” Ucap Mom antusias. “Tempat ini memang tempat berlindung kita yang sudah Dad dan suami kalian siapkan.” Sambungnya. Binar asa nampak dimata Fania dan para wanita yang lainnya. “Setidaknya kita dan anak - anak aman disini.”
“Bagaimana Mom tahu?.” Michelle ikut bertanya.
“Mom pernah berada disini beberapa belas tahun yang lalu.” Sahut Mom.
Michelle dan yang lainnya lumayan terkejut.
“Ingat saat Dad diculik dan disandera lalu dibawa ke Rusia, lalu kamu dan keluarga kita di Bandung langsung di bawa jauh dari Jakarta oleh orang – orangnya Dad untuk mengamankan kalian?.” Michelle pun mengangguk pada Mom. “John membawa Mom kesini, bersama Theresa dan Ben!.”
“Jadi, Mom tahu kita ada di daerah mana? Tempat ini .. Save House ini... Mom berarti tahu akses keluar masuk dari sini, kan?!. Kita bisa mencari tahu kabar Andrew dan yang lainnya berarti , Mom?!.”
Mata Fania sudah berbinar dan wajahnya nampak bersemangat.
“Ayo Mom, tunjukkan bagaimana bisa keluar dari sini. Biar Fania yang mencari tahu keberadaan Andrew, Dad dan yang lainnya.”
Fania meraih tangan Mom.
“Tunjukkan Mom ....”
Hati Fania, Ara, Prita, Jihan, Michelle bahkan Mama Anye pun berbunga. Ada harapan besar untuk mencari tahu keadaan Dad dan para pangeran. Ada asa yang mulai lagi berkembang untuk dapat bertemu dengan para pria terkasih mereka.
****
To be continue ...
__ADS_1