
CAESURA-PENGGALAN
Selamat membaca..
‘Ini ....??’ langkah Nathan terhenti diteras rumah karena tetesan warna merah diatas lantainya. “VI!”
Nathan memekik ketakutan menyadari kalau noda berwarna merah itu adalah darah yang entah darah siapa.
Namun mengingat Kevia yang selalu bicara ingin menyusul sang mama kandungnya, atau saat Kevia bilang ingin membunuh papanya, jadilah praduga Nathan membuatnya takut tak terkira.
Nathan khawatir Kevia pendek akal dan melakukan hal gila.
“VIA!” Mata Nathan membulat sempurna. Kevianya disana, dengan tangan yang dibubuhi warna merah yang sama seperti noda diteras rumah. “Vi .. kenapa?!” Nathan begitu panik.
“Ga apa. Bukan darah gue” Ucap Kevia datar. Nathan langsung meraih tangan Kevia, meskipun pacarnya itu bilang dia ga apa – apa dan itu bukan darahnya.
“Vi..”
“Darah papa”
Sumpah jantung Nathan deg – deg – an nya luar biasa saat ini, paniknya bercampur takut sekarang. Nathan pun
celingukan.
“Ga ada siapa – siapa kalau lo cari mayat. Udah pergi dibawa istrinya. Ke rumah sakit mungkin” Ucap Kevia dengan datarnya.
“Ada apa, Vi? Apa yang terjadi? .. bisa begini ..?? ..”
“Gue tusuk papa”
Demi apa, Nathan menganga. Meluncur dengan tajam kebawah jantungnya.
“A-pa..?..!”
Kevia memandang Nathan dengan tatapan hampa. “Ga maksud tusuk dia sih, gue maksudnya mau tusuk itu
perempuan murahan dan anak haram diperutnya. Tapi papa menghalangi, jadi dia yang ketusuk deh”
“Vi..”
Nathan syok mendengarnya, tapi Kevia malah tersenyum padanya.
“Sekarang lo tau, gue cewe bermasalah. Ga tau sebutan untuk penyakit gue ini apa. Suatu saat gue pengen banget mati, suatu saat gue pengen papa yang mati, tapi yang paling gue inginkan mati ya itu perempuan murahan itu”
Nathan mengusap wajahnya. Kaget memang dirinya, tapi entah kenapa Nathan tak ingin hengkang dari sisi Kevia.
“Vi..”
“Sekarang mending lo pulang, pergi dari sini. Jangan pernah dateng lagi. Gue yang lo lihat selama ini, itu palsu. Gue sakit jiwa. Jadi lebih baik kita udahan. Buat keselamatan lo. Siapa tahu nanti otak gue yang korslet, lo ikutan gue tusuk”
Datar saja Kevia berbicara. Kosong kini pandangannya setelah memalingkan wajah dari Nathan.
“Gue ga perduli!” Sahut Nathan.
“Pergi, Jo..”
“Engga!”
“PERGI GUE BILANG!”
Kevia berteriak, mengarahkan telunjuknya pada pintu rumah. “Aku ga mau pergi!” Nathan bersikeras.
“Please Jo, gue ingin sendiri..”
“Ga mungkin Via, ga mungkin aku tinggalkan kamu sendiri dalam keadaan kamu yang begini. Aku ga akan pergi, aku akan tetap disini..”
**
“Kamu istirahat ya? Aku mau bersihkan noda yang ada dilantai bawah, habis itu aku kesini lagi. Pintunya awas jangan dikunci”
Nathan sudah membantu membersihkan noda darah di tangan Kevia dan mengantar gadis itu ke kamarnya.
“Pergilah Jo..”
“Mau makan apa? Aku pesenin makanan ya?. Kamu pasti belum makan”
Nathan sengaja mengabaikan permintaan Kevia barusan, mengalihkan pembicaraan. “Jo ..”
“Istirahat. Ganti bajunya jangan lupa. Aku kebawah sebentar”
**
Nathan menghela berat nafasnya. Berdiri bersandar pada jendela di kamar Kevia, yang orangnya Nathan paksa untuk beristirahat sejenak dan akhirnya gadis itu kini terlelap. Mungkin, Nathan sudah mengetahui ‘sisi lain’ Kevia.
Tapi sama sekali tak membuat Nathan ingin pergi menjauh dari gadis itu. Malahan Nathan semakin peduli, semakin tak ingin melepaskan Kevia. Namun saat ini Nathan was – was juga. Bukan pada perasaannya pada Kevia. Tapi pada nasib gadis itu sekarang. Nathan sedang memikirkan papanya Kevia.
Ingin tahu bagaimana kondisi pria yang katanya ditusuk oleh Kevia karena mencoba menyelamatkan sang istri
justru yang ingin ditusuk oleh putrinya. Berharap papanya Kevia itu selamat.
Karena jika tidak, Nathan yakin seyakin nya ibu tiri Kevia akan memperpanjang hal tersebut ke ranah hukum dan Kevia bisa – bisa dipenjara. Ah jangan sampai. Mudah – mudahan om Mustafa selamat.
Batin Nathan yang sangat berharap.
‘Apa perlu gue bahas dengan Abang ya?. Mungkin Abang bisa kasih solusi?. Atau gue bahas dengan para Dads
sekalian?’ Nathan sedang menimbang – nimbang dalam hatinya.
Nathan menghela nafasnya. Menarik tipis sudut bibirnya menatap Kevia yang terlelap diatas ranjangnya.
**
Nathan melirik arlojinya.
“Bodohlah! Kenapa ga gue lihat nomornya om Mustafa di ponselnya Via?”
Nathan menggumam sendiri. Ia mematikan rokoknya dalam asbak di halaman belakang rumah Kevia.
“Ini Ojol yang nganter makanan lama banget, keburu si Via bangun nanti. Pasti kelaparan dia” Nathan menggumam sendiri sambil melihat gerbang rumah Kevia dari jendela ruang tamu. Sudah hampir dua jam Nathan berada di rumah Kevia.
Tanda – tanda kepulangan papanya Kevia juga belum ada. Masih was – was hati Nathan.
“Via marah ga ya tapi kalau gue ambil nomor papanya dari dia punya ponsel?” Nathan naik ke lantai dua, menuju ke kamar Kevia.
Pasalnya tadi Nathan yang otaknya lagi ruwet itu meninggalkan Kevia sebentar untuk sekedar menenangkan diri sambil menghisap batang nikotin.
Iya Nathan perokok. Tapi diluar rumah. Jarang sih, tapi paling engga kemana – mana ada itu bungkus rokok
di sakunya.
“Vi?” Nathan memanggil Kevia karena saat Nathan masuk ke kamar Kevia yang tadi Nathan sengaja buka pintunya,
Kevia tak lagi ada diranjangnya.
Nathan mengarah ke kamar mandi yang ada didalam kamar Kevia. Mengetuk pintu dan memanggil Kevia.
“Vi? Kamu didalam?” Panggil Nathan. “Kalau ga jawab aku masuk nih ya?” Ucapnya lagi. “Vi?”
Nathan berbicara sambil mengetuk pintu kamar mandi Kevia.
“Ya udah aku masuk ya. Satu.. sampe tiga nih!. Dua ..” Nathan membuka pintu sebelum hitungan ketiga. “Vi?” Kosong itu kamar mandi. “Vi!” Nathan mulai panik, keluar tergesa dari kamar mandi, melirik balkon kamar, pun Kevia tak ada.
Nathan memanggil ke seluruh bagian rumah Kevia. Tetap tak ada tanda – tanda keberadaan sang pacar. Panik
beneran Nathan sekarang. Tergesa berlari ke halaman depan rumah Kevia. Pintu gerbang sedikit terbuka, dan ada seseorang berjaket hijau disana.
“Dengan mas Jonathan?” Ucap si pria berjaket hijau itu kala Nathan sudah menghampirinya.
“Iya Pak. Berapa total?” Tanya Nathan buru – buru.
__ADS_1
“Seratus lima puluh ribu mas” Jawab Pak Ojol sopan.
“Oh, oke. Ini. Pegang aja kembalinya”
“Beneran ini mas?” Driver ojol itu sumringah. Nathan memberikannya dua lembar rupiah berwarna merah muda,
yang lebih dari pesanannya. Kembaliannya lumayan juga, lima puluh ribu. Makanya itu driver Ojol memastikan.
“Iya Pak. Pegang saja kembalinya”
“Makasih mas”
“Sama – sama” Sahut Nathan. “Eh iya Pak, ini pintu bapak yang buka?”
“Engga mas, ini saya berani masuk karena pintunya udah kebuka pas saya dateng. Baru saya mau telpon mas – nya”
Duh, Nathan makin cemas hatinya. “Ya sudah terima kasih Pak”
Nathan merasa bodoh kayaknya sekarang. Uring – uringan sendiri di pekarangan rumah Kevia.
“Vi!” Nathan akhirnya masuk lagi ke rumah, memastikan sekali lagi keberadaan Kevia sembari menaruh makanan
diatas meja tamu. “Vi!”
Nathan mendengus frustasi bergegas pergi lagi ke halaman depan. Lalu langsung masuk ke mobilnya setelah
menutup pintu rumah Kevia tanpa dikunci, dan membuka pagar lebar – lebar.
Lalu menutup lagi rapat – rapat pagar, juga ia kaitkan cantelannya setelah mengeluarkan mobilnya dari pekarangan rumah Kevia. Nathan kecolongan. Kevia pergi diam – diam saat Nathan sedang berada di halaman belakang sepertinya.
‘Duh Vi .. kamu mau kemana coba sih?’ Nathan membatin sambil celingukan mengemudikan mobil dengan pelan,
memperhatikan jalanan yang ia lewati. 'Lo lagi Than, tolol banget. Masa ga ngeh si Via pergi!'
**
Nathan memberhentikan mobilnya dengan mendadak. Lalu langsung keluar dari dalam mobil setelah memarkirkannya sembarang. “Vi!”
Iya itu Kevia. Nathan menemukannya. Berjalan dengan pandangan kosong sampai Nathan menjegal langkahnya.
Nathan meraih kedua lengan Kevia. “Vi...” Ucapnya. “Kok pergi diam – diam gini ninggalin aku di rumah kamu?” Sambungnya.
Namun Kevia diam saja. Bahkan mencoba melewati Nathan, namun dengan segera Nathan pegang pergelangannya. “Ikut aku” Menarik pelan Kevia melalui tangannya.
“Kalau mau ajak gue kembali ke neraka yang dibilang rumah gue ga mau” Ucap Kevia datar tanpa melihat Nathan. “Lo pergilah sana, jauh – jauh dari gue” Kevia mengusir Nathan. Nathan pun menghela nafasnya.
Nathan memegang kedua lengan Kevia sembari tersenyum. “Aku kan sudah bilang, kamu ga akan aku biarkan
sendirian. Ga akan aku lepaskan”
Nathan membawa Kevia dalam dekapan, mengusap kepalanya kemudian.
“Yuk masuk mobil dulu. Kita bicara sambil jalan” Ucap Nathan sambil menarik lagi pelan tangan Kevia dan
membawanya masuk ke dalam mobil Nathan juga memasangkan sabuk pengaman ditubuh Kevia.
**
“Kita cari tempat makan dulu ya?” Ucap Nathan saat mereka sudah berada dalam perjalanan.
Sesuai permintaan Kevia, Nathan tak membawa Kevia kembali ke rumahnya.
Tapi yah Nathan kebingungan juga mau bawa Kevia kemana.
Mungkin aja Kevia makan dulu sembari dia mikir dan ajak Kevia ngobrol. – Begitu pikir Nathan. Mungkin juga bisa
membujuk Kevia kembali ke rumahnya bahkan.
‘Semoga saja’
“Gue ga lapar”
Kevia menjawab dengan pandangan yang lurus kedepan, tanpa menoleh pada Nathan.
“....”
“Kita beli makanan drive thru aja ya? Kalau kamu malas turun. Gimana?”
Ya gitu aja. Yang penting Kevia makan dulu. - Pikir Nathan
“Terserah aja” Sahut Kevia.
**
“Makan dulu, hem?” Pinta Nathan saat ia sudah membelikan makanan cepat saji melalui layanan drive – thru dan memarkirkan mobilnya di pelataran parkir restoran siap saji tersebut. Kevia masih diam saja.
Nathan menarik sudut bibirnya dan mengeluarkan makanan dari dalam kertas pembungkus warna coklat.
Mengambil satu buah burger dan membukakannya untuk Kevia.
“Makan dulu, please ....? ....”
“Lo engga?” Tanya Kevia pada Nathan.
“Aku sudah makan di rumah tadi. Masih kenyang. Kamu aja, hem?. Mau aku suapin?”
Kevia menggeleng. “Gue bisa makan sendiri” Kevia menggigit burgernya. Membuat Nathan menarik kedua sudut
bibirnya. Lalu mengusap kepala Kevia dan membiarkan gadis pemilik hatinya, yang sudah Nathan yakini seperti itu, menikmati makanannya hingga habis.
**
“Lagi? Masih ada kok ini”
Kevia menggeleng setelah Nathan menawarkan lagi makanan. “Udah cukup. Makasih”
“Ya udah”
“Jo ....”
“Ya?”
“Kita udahan ya?” Kevia memandang Nathan.
“Engga”
“Jo....”
“Aku bilang engga ya engga”
Nathan menyalakan mobilnya.
Kevia tak melanjutkan bicaranya.
“Kamu mau kemana sekarang?”
“Ke neraka” Jawab Kevia.
“Via!” Nathan geram.
“....”
“Sorry, ga maksud bentak”
Nathan tak langsung menjalankan mobilnya.
“Ga masalah”
“Jangan bicara begitu terus dong Vi .... aku mohon.... aku nih sayang beneran sama kamu Vi, ga mau kehilangan kamu .... please Vi .... kalau kamu khawatir soal papa kamu, jika dia kenapa – kenapa dan kamu harus berurusan dengan hukum, aku akan tetap mendampingi kamu.... Jangan khawatir soal itu. Aku akan minta bantuan Abang dan para daddies aku”
“Aku ga khawatir soal itu”
“....”
__ADS_1
“Penjara mungkin lebih baik, daripada rumah yang setelah mama pergi rasanya seperti neraka”
“Ya udah gini, sekarang kamu mau kemana?. Ke rumah saudara kamu? Di luar kota juga akan aku antar. Sekalipun
di luar negeri, tetap aku akan antar. Kemana aja aku antar”
“Ke neraka mau anter juga?”
“Via!”
“Canda....”
Kevia tersenyum.
“Makasih ya?”
Tangan Kevia terulur menyentuh wajah Nathan, untuk yang pertama kalinya Kevia yang memulai duluan skin – ship dengan Nathan.
Jangan ditanya bahagianya Nathan, merasakan tangan lembut Kevia dipipinya yang langsung ia pegang, agar
ga buru – buru Kevia lepaskan.
“Aku sayang sama kamu, Via. Ga peduli kamu kayak apa”
“Iya, makasih makanya. Udah sayang sama aku”
“Kamu?”
“Apa?”
“Sayang ga sama aku?”
Nathan menggenggam tangan Kevia, menanti jawaban.
“Iya, sayang ... aku sayang sama kamu. Udah sayang ...”
“Makasih ya?”
“Iya, sama – sama”
**
“Jangan lagi Vi, jangan lagi bicara soal kematian atau apapun itu. Jangan pernah pergi apapun yang terjadi. Aku
disini, kita hadapi sama – sama”
“Iya, Jo ....”
“Ya udah, mau kemana kita sekarang?. Ke rumah saudara kamu?”
“Ga punya saudara”
“Nenek Kakek?”
“Udah ngumpul sama mama”
“Jadi mau kemana?”
“Kemana aja asal ga ke rumah itu”
“Teman kamu?”
“Ga ada yang dekat”
‘Duh!’ Nathan jadi bingung sendiri. ‘Kalau gue bawa ke kediaman...? .... paling engga gue harus bicarakan sama semua dulu soal Via’
Sementara Via terdiam, sementara itu Nathan sedang keras berpikir.
‘Ah ya udah kesana aja dulu untuk sementara’
**
Intermezo dulu
Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia
“Abang”
“Hem?”
Semua orang sudah kembali ke kamar mereka masing – masing setelah pembahasan mengejutkan di ruang keluarga, berikut aura yang menyedihkan dan menyesakkan.
Melewatkan makan malam, karena rasanya rasa lapar dan keinginan untuk makan itu sudah hilang entah kemana. Kepikiran juga engga.
“Drea salah ya?”
“Soal?”
“Masalahnya Tan – Tan”
Varen terdiam. Bingung juga sih, rasanya tidak ada yang bisa disalahkan. Kalau perbuatan ya kesalahan Nathan memang fatal. Tapi Varen tak mau menghakimi. Kalau soal Andrea, rasanya Varen juga tak merasa Andrea salah, meski karena Andrea, aib Nathan terkuak semua soal perbuatannya pada Kevia.
“Mungkin memang sudah saatnya Little Star ... sudah saatnya apa yang Nathan sembunyikan harus diketahui semua orang yang ada disini” Varen membawa Andrea dalam dekapan.
“Drea merasa bersalah pada Tan – Tan. Sedikit banyak pasti dia merasa terguncang. Soal perbuatannya pada Kevia buat Drea sedih, tapi kalau ingat Tan – Tan tadi, Drea juga sedih ... Belum lagi lihat Papa dan Mama Bear ....”
“Nathan pasti paham tujuan kamu. Bukan untuk menyakitinya”
“Tan – Tan.... pasti benci Drea setelah ini... ya...? ...” Andrea mulai terisak.
“No Little Star... Nathan ga mungkin membenci kamu ...”
Varen menghela nafasnya sedikit berat. Membantu menyeka air mata Andrea yang sudah turun kepipinya.
“Sudah ya, kita lebih baik istirahat saja. Besok kita bicara dengan Nathan, hem?” Andrea mengangguk kemudian.
**
Esok hari
Semua anggota keluarga dalam kediaman sudah berkumpul di ruang makan. Termasuk para krucil namun minus Daddy Jeff, Mama Jihan dan Nathan yang belum turun.
Saling melemparkan senyum dan sapaan, namun aura ketegangan seolah masih ada diantara mereka. Bukan kebencian, namun sedikit kesedihan.
“Papa dan Mama Bear ga turun?”
“Biar aku yang panggil mereka. Sekaligus Nathan”
Yang lain mengangguki Varen.
“Paksa jika mereka tak mau turun. Semalam kita semua melewatkan makan malam”
“Iya, Pi” Sahut Varen yang kemudian berjalan menuju kamar Daddy Jeff dan Mama Jihan juga Nathan.
**
Dengan sedikit paksaan, Daddy Jeff dan Mama Jihan akhirnya mau bergabung turun untuk sarapan. Baru kemudian Varen menyambangi kamar Nathan.
“Tidak mau ikut turun sarapan bersama dia?”
Daddy Jeff bertanya pada Varen yang sudah kembali ke ruang makan namun Varen datang sendirian tanpa Nathan.
“Aku pikir dia sudah turun saat aku ke kamar kalian. Nathan tak ada di kamarnya”
**
To be continue..
Enjoy....
Noted :
Kemunculan para tokoh disesuaikan dengan porsinya yah. Jadi harap sabar, kalau ada yang menanti kemunculan tokoh – tokoh lain yang biasanya seliweran di sindang.
__ADS_1
Ngoggheyyyy???