THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 228


__ADS_3

⭕ BEYOND EXPECTATION  ⭕


( Diluar Dugaan )


⭕⭕⭕⭕⭕⭕⭕⭕⭕⭕⭕⭕⭕⭕⭕⭕


Selamat membaca.....


Keesokan harinya


Mood Andrea sedang ambyar pagi ini.


Udahlah malam pengantin dianggurin plus ditinggal Bebeb Abang gegara si Abang belum mau tidur sekamar dengan alasan karena Andrea belum lulus sekolah.


Eh, baru nikah kemarin meski baru akad, hari ini di suruh sekolah pula.


Kesal semalaman, hingga kesal itu ia bawa tidur dengan harapan besok pagi, ia akan merasa biasa saja.


Taunya eh taunya, mood Andrea tetap terasa berantakan.


***


“Widiiihhh basah banget itu rambut!!!!.....” Suara Nathan sampai ditelinga Andrea dari belakangnya.


Si Tan – Tan cengengesan saat Andrea menoleh padanya.


“Orang keramas ya basahlah rambutnya, Bodoh!”


“Little Star.....” Suara Abang berikut orangnya muncul dari kamar sebelah. “Abang ga suka mendengar kamu bicara kasar begitu”


Andrea tak menyahut, sementara Nathan nampak mengernyitkan dahinya. Memandang sedikit heran pada Andrea dan si Abang yang keluar dari kamarnya masing – masing.


“Kok .....”


“Duluan kebawah. Drea lapar!”


Andrea keburu menyela sebelum Nathan menyelesaikan kalimatnya. Dan ia segera berlalu dari hadapan Varen dan Nathan. Abang hanya senyum saja menanggapi ucapan Andrea barusan, lalu merapatkan pintu kamarnya, dan hendak juga melangkah menuju tangga. “Eh tunggu deh Bang!”


Nathan mencekal pelan lengan Varen.


“Kenapa?” Tanya Abang yang spontan menghentikan langkahnya.


“Kok lo keluar dari sini Bang?” Nathan balik bertanya.


“Kamar gue kan ini?”


“Iya gue tahu. Tapi kan lo sama Andrea sudah nikah?!.....”


“So?. ( Jadi? )”


“Ya, kan orang nikah mah bukannya udah tidur sekamar?” Nathan bertanya lagi. “Oh paham gue, antara lo dan Drea semalam pasti udah tidur sekamar ya? Cuma pas pagi lo atau si Drea balik ke kamar sendiri, soalnya pakaian kalian kan belum dipindahin?”


“Kami masih tidur terpisah”


“Hah? Apa lo bilang?!” Nathan sontak terkejut.


“Gue dan Drea masih akan tinggal di kamar masing – masing sama dia lulus sekolah” Ucap Varen santai dan kemudian dia melanjutkan lagi langkahnya, meninggalkan Nathan yang masih berdiri ditempatnya dengan mulut menganga.


****


Flash back on


“Are you sure about that?. ( Apa kau yakin soal itu? )”


“Ya, aku yakin”


“Beneran Abang ga mau itu ..... anu .....”


“Momma nakal ya, pasti otaknya sedang berpikir mesum!”


“Yeeee..... kayak sendirinya ga mesum aja!”


“Hahahahahaha .....”


****


“Well, jika memang sudah kau pikirkan hal itu baik – baik, ya itu sih ku kembalikan lagi kepadamu. Putriku sekarang istrimu. Hakmu. Asal kau tidak menyakitinya, maka itu bukan urusanku”


“Iya Poppa”


“Yah, sebenarnya juga kaga ape – ape kalo Abang mau minta hak Abang sebagai suami sama si Drea. Dia juga udah gede itungannya. Udah ngerti soal begituan pasti”


“Tak apa Ke, sudah ku pikirkan baik – baik soal ini. Lagipula Andrea masih sekolah”


“Abang ga apa – apa beneran?”


“Benar Momma”


“Yaaaa Momma sih juga ga mau ikut campur soal rumah tangganya Abang ama si Juleha, kecuali kalian yang minta. Cuma.....”


“Cuma ya beda sekali dengan Kak Andrew yang susah menahan ya Kak Fania?”


“Hahaha!!! .....”


“Hahaha!!!..... iya bener – bener Chel!”


“Halah! Sendirinya juga suka ga tahan”


“Enak abisan!”


“Haish! Kalian ini ..... ingat usia!”


****


“Ya apapun keputusanmu soal tetap tinggal di kamar yang terpisah sampai Andrea lulus sekolah, aku tidak mempermasalahkannya. Pun nanti jika sebelum Andrea lulus sekolah, lalu kau merubah keputusanmu aku juga tidak akan mempermasalahkannya. Asal kau yang memberikan pengertian pada Andrea”


“Iya Poppa”


“.............”


“Aku kan sudah bilang, aku ingin menikahi Andrea saat dia lulus sekolah nanti meski usianya baru tujuh belas tahun, semata – mata karena aku takut kehilangan”


“.............”

__ADS_1


“Maaf – bukan karena aku ingin buru – buru ‘menjamahnya’”


“.............”


“Tapi kemudian ternyata kalian mengambil keputusan untuk menikahkan ku dengan Andrea secepat ini. Ya .... aku merasa tak tega saja, jika aku harus ‘menyentuhnya’ sekarang”


“Tapi sebenarnya pengen?”


“Hhh .....” --- “Ya iyalah!”


“Hahahaha”


Flash back off


***


Andrea lebih banyak diam saat dalam perjalanannya ke Sekolah dengan diantar Varen.


Bahkan Andrea pura – pura sibuk dengan ponselnya.


Andrea tahu dan sadar, kalau sedari tadi si Abang sering meliriknya sambil menyetir, namun Andrea pura – pura tak memperhatikan.


“Little Star .....” Panggil Varen pada akhirnya.


“Hum?”


“Tumben diam aja?”


“Memang kenapa?”


“Kalau ga cerita, biasanya kamu setel musik keras – keras sambil nyanyi – nyanyi.....”


“Sedang males saja”


“Drea marah sama Abang?”


“Engga”


“Tersinggung? Karena Abang memutuskan agar kita tetap tidur terpisah sampai kamu lulus sekolah nanti meski kita sudah menikah?”


Andrea mengendikkan bahunya.


“Entah”


Varen menarik sudut bibirnya kemudian, lalu fokus sesaat karena akan parkir di halaman parkir sekolah Andrea.


“Little Star .....” Panggil Abang lagi yang sudah memasang rem tangan, namun tidak mematikan mesin mobilnya.


Andrea melepaskan sabuk pengamannya.


“Abang .....”


“Drea mau masuk, sebentar lagi bel” Ucap Andrea yang sudah membuka sendiri pintu mobil dengan menekan sebuah tombol.


“Iya sebentar Abang bicara dulu”


“Udahlah ga penting juga. Aku ikut kata Abang. Ingat kan?”


“Little Star.....”


Andrea bergegas keluar dari mobil. Namun gadis itu tak segera pergi. Ia sedikit menundukkan tubuhnya, menoleh pada Varen yang masih duduk dibelakang kemudi.


“Hanya Drea ga ngerti, sama apa yang ada diotak Abang. Kalau memang ga siap kenapa harus mengiyakan ucapan Poppa dan Daddy untuk segera menikah kemarin!”


“Iya makanya, makanya Drea dengarkan Abang dulu .....” Varen membuka sabuk pengamannya dan hendak keluar.


“Udahlah ga penting! Terserah Abang. Kan Drea ikut kata Abang? Jadi terserah Abanglah maunya gimana. Yuk ah, Assalamu’alaikum!” Andrea bergegas pergi dengan langkahnya yang ia buat lebar – lebar.


“Little Star.....” Varen keluar dari mobil sambil memanggil Andrea. Namun Andrea tak menggubris Varen, gadis itu langsung menghampiri temannya yang juga baru turun dari mobil dan berjalan bersama tanpa Andrea menoleh lagi pada Varen yang menghela nafasnya sedikit berat.


***


‘Pulang seperti biasa kan?’


‘Engga’


‘Ada kegiatan tambahan?’


‘Banyak’


‘Jadi Abang jemput jam berapa?’


‘Terserah. Ikut – Kata – Abang’


“Ck!”


Varen mencebik setelah chat terakhir Andrea.


‘Ya sudah, kabari Abang kalau sudah tahu kira – kira kamu selesai jam berapa’


‘👍’


‘Sayang Drea’


‘👍’


“Ngambek pasti. Orang mau kasih penjelasan tadi ga mau dengar. Hhh.....”


******


‘Abang berangkat jemput sekarang ya?’


‘Masih lamakah kegiatannya? Memang kegiatan apa saja sih, hem? Sudah makan? Atau ga apa deh, Abang berangkat sekarang saja jemput kamu ya?. Sudah hampir maghrib ini’


‘Iya sudah tahu’


‘Ya sudah Abang jemput sekarang kalau begitu’


Varen menyambar jaketnya dan bergegas keluar dari kamarnya.


******


Varen turun setengah tergesa ke lantai bawah, namun seketika langkahnya terhenti.

__ADS_1


“Loh? Little Star? Kamu sudah sampai? Kamu pulang dengan siapa?


“Teman”


“Siapa?”


“Sabrina. Daddy R juga lihat tadi”


“Kamu kok ga bilang sama Abang, saat kegiatan kamu sudah selesai?”


“Lupa”


Wajah Andrea nampak datar.


Varen menghela nafasnya. Paham pasti Andrea masih ga bagus moodnya.


“Ya sudah, Drea istirahat dulu ya? Mandi, nanti Abang bawakan makanan ke kamar” Ucap Varen.


“Ga usah. Nanti aku turun habis mandi” Sahut Andrea. Sementara itu para Daddies yang kebetulan sedang berkumpul saling tatap dalam diam.


Sementara para Mommies sebagian ada di kamarnya dan sebagian lagi sedang berada di dapur. Begitupun para kakek dan nenek.


“Dads, Drea ke kamar dulu”


Sebagian mengangkat jempolnya, sebagian menyahut termasuk Poppa”


*****


“Little Star .....”


“Hum?”


“Bisa bicara sebentar?”


“Bicara aja. Tidak harus ijin”


“Duduk sini”


Varen menepuk – nepuk sisi sofa di sampingnya dalam kamar Andrea.


“Ya sudah, Abang mau bicara apa?” Andrea duduk disofa, namun tidak disamping Varen. Ia duduk di sebuah sofa malas single, singgasananya kalau sedang menonton TV. Membuat Varen menghela nafasnya sedikit berat. Namun Varen biarkan Andrea duduk ditempatnya sekarang.


“Begini Little Star .....”


Varen menggeser duduknya, mendekati Andrea.


“Kamu kan tahu, Abang berencana menikahi kamu saat kamu lulus nanti?. Tapi ternyata Poppa dan lainnya memutuskan mempercepat pernikahan kita seperti itu”


“.............”


“Tahu kenapa Abang memutuskan mau menikahi kamu saat kamu lulus nanti?. Karena Abang takut kehilangan kamu, jika harus menunggu sampai kamu berusia dua puluh tahun”


“Bicara to the point saja, Drea lapar”


Varen menghela nafasnya lagi, lalu memijat keningnya.


“Intinya Drea masih sekolah, rasanya ga pantas kalau ...”


Varen menggantung kalimatnya.


“Ya kamu pasti pahamlah maksud Abang”


“.............”


“Abang mencintai kamu dengan tulus Drea, sejak dulu dan Drea tahu itu dengan pasti. Abang takut kehilangan, makanya Abang langsung mengiyakan saat Poppa dan lainnya mempercepat pernikahan


kita. Setidaknya Abang bisa merasa tenang, kalau Abang bisa menjadikan Drea istri Abang”


“.............”


“Abang ini laki – laki normal, sudah sah malah sebagai suami kamu. Kalau kita tinggal sekamar, Abang takut, kalau Abang tidak bisa menahan apa yang seharusnya Abang tahan sampai kamu lulus sekolah setidaknya”


“.............”


“Memang Drea mau, Drea masih pakai seragam SMA tapi sudah berbadan dua?”


“.............”


“Jadi tolong Drea paham posisi Abang .....”


“Ya sudah, Drea paham” Sahut Andrea.


Varen menyunggingkan senyumnya kemudian.


“Jadi kalau begitu, hingga sampai aku lulus. Hingga sampai pernikahan kita diumumkan, kita jalani hidup seperti biasa ya Abang?”


“Kurang lebih begitu. Anggap saja sementara ini kita pacaran. Tidak apa – apa kan?”


Andrea manggut – manggut.


“Tidak masalah”


“Ya sudah, kalau begitu. Terima kasih ya”


Varen tersenyum. Nampak lega.


“Kalau begitu seperti biasanya sebelum kita menikah. Abang seharusnya berada di Massachusetts kan?’


“Maksud Drea?”


“Kenapa Abang tidak kembali kesana aja, nanti sempatkan diri saat senggang kesini. Seperti biasa. Sampai Drea lulus sekolah”


“.............”


“Sudah kan ya kita bicaranya?. Drea lapar mau ke bawah, lagipula mau persiapan Maghrib berjamaah juga kan?”


“.............”


“Beritahu saja kapan Abang mau kembali ke Massachussets, nanti Drea bantu packing”


******


To be continue .....

__ADS_1


Seperti biasa, enjoy reading yeah.....


__ADS_2