THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 199


__ADS_3

🌟 LITTLE STAR - BINTANG KECIL 🌟


Selamat membaca .....


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia


“Mereka nampak akrab.”


Andrew yang sedang berdiri merokok bersama Lucca dan Reno memandang ke tempat dimana Varen dan Danita


berdiri, nampak mengobrol.


Lucca dan Reno spontan menoleh yang dimaksud Andrew. Lucca sudah paham Bahasa Indonesia dengan baik.


“Seem that girl who has a big feeling to our son. ( Sepertinya gadis itu yang memiliki perasaan besar pada putra kita ).”


Andrew dan Reno manggut – manggut setelah mendengar ucapan Lucca barusan.


“Bukankah lo pernah tanya soal kedekatan mereka, R?.” Tanya Andrew dan Reno mengangguk. “Lalu si Abang jawab apa?.”


“Hanya Teman.”


“Bukankah gadis itu tinggal di Massachusetts juga?.”


“Ya begitulah.”


“Mungkin seiring waktu mereka sudah berhubungan dan Abang belum cerita pada lo?.”


“Kita lihat sajalah.”


“And how if they already did?. My lovely Little Star will be so sad. ( Dan bagaimana jika mereka memang sudah berhubungan?. Little Star kesayanganku akan menjadi sangat sedih ).” Ucap Papa Lucca.


“Yang jelas, tidak akan aku akui lagi dia sebagai putra kandungku jika ia sampai bersama dengan adik iparnya Vladimir itu!....” Celetuk Daddy R.


“Should I vanished her?. ( Apa aku perlu mengenyahkan gadis itu? ).”


Andrew dan Reno terkekeh kecil pada Lucca yang terlihat gemas.


“I would rather to drink her blood than to see Andrea’s tears ( Aku akan memilih untuk meminum darah gadis itu daripada harus melihat air mata Andrea ).”


“Papa gila! Bahkan lebih gila dariku yang ayah kandung Andrea.” Celetuk Andrew sembari terkekeh kecil lagi. Lucca pun ikut terkekeh, sementara Reno menarik satu sudut bibirnya saja.


‘Lihatlah nanti apa yang akan bocah tengik itu lakukan. Aku pun penasaran.’ Batin Daddy R. 'Jika otaknya bermasalah hingga menyakiti Andrea, akan ku alirkan listrik disekujur tubuhnya.'


****


“Si Juleha mana sih?.”


Ene Bela celingukan mencari cucunya.


“Lagi ambil kamera di kamarnya.”


“Kok lama amat perasaan?.” Timpal Ene Bela.


“Coba deh Fania susulin.”


***


Fania melewati Varen dan Danita yang nampak sedang mengobrol itu. “Momma mau kemana?.” Tanya Varen.


“Momma mau panggil Drea, dicariin Ene, lama banget ambil kamera doang. Palingan dia lupa naro, kan kebiasaan itu dia. Suka naro apa – apa ga ditempatnya, udah gitu pelupa.”


“Biar aku yang panggilkan.”


“Udah Momma aja. Kamu ngobrol aja disini. Ajak Danita makan gih sana.”


Fania pun berlalu dengan menyunggingkan senyum ramah pada Varen dan juga Danita.


Danita juga menampakkan senyuman manisnya pada Fania.


***


Kamar Andrea ...


“Drea ...” Fania langsung membuka pintu kamar Andrea yang tidak terkunci tanpa mengetuknya terlebih dahulu. “Malah bengong disini lagi ... dicariin orang – orang tuh dibawah.”


“Iya Momma .... aku lupa dimana menyimpan kamera aku. Ini baru ketemu.”


Fania mendekati Andrea yang terduduk disisi ranjang.


“Drea ..... Drea sedih ada si Danita malam ini?.”


“Engga kok, Mom. Drea biasa saja.”


“Drea..... Drea itu ada diperut Momma selama sembilan bulan. Eh tujuh bulan deng! Keburu di brojolin paksa sama Aunt Judith.” Canda Fania lalu meletakkan tangannya dibahu Andrea, lalu Andrea menyandarkan kepalanya di bahu sang Momma.


Fania pun meletakkan tangannya diwajah Andrea, membelainya pelan.


“Jadi Momma tahu apa yang Drea rasa, meski Drea mencoba sekuat tenaga menutupinya.”


Andrea tidak menyahut.


“Andrea cinta kan sama Abang?. Bukan sebagai adik ke kakaknya? Tapi sebagai perasaan seorang perempuan ke


lawan jenisnya.”


Andrea mengangguk pelan.


Fania mengangkat kepala Andrea perlahan lalu memegang dagu putrinya sambil menghadapkan wajah Andrea


padanya.


“Apa Drea sudah bilang ke Abang soal perasaan Drea?.”


“Belum Momma. Dan Drea ga mau bilang.”


“Kenapa hem?.”


“Drea ga mau merusak kebahagiaan Abang kalau memang Abang punya hubungan dengan Danita.”


Andrea berkata pelan.


“Tapi kalau Drea ga katakan, Drea akan sakit sendiri dan hati Drea ini ga akan bisa lega.”


“Biarlah Mom. Daripada nanti Abang mengorbankan kebahagiaannya lagi buat Drea. Drea sudah cukup mengekang


Abang selama ini .... Momma sendiri kan tahu, Abang bagaimana sama Drea. Nanti kalau Drea bilang, dia pasti akan mengutamakan Drea. Dan Drea akan merasa sangat egois untuk itu.”


“Sudah dewasa ya anak Momma, hem?.”


Fania menangkup wajah Andrea dan Andrea tersenyum.


“Drea... Momma dan Poppa ini hidup dan berusaha untuk selalu membahagiakan kamu dan Rery. Kebahagiaan kalian berdualah yang menjadi prioritas Momma dan Poppa. Dan soal perasaan Drea ke Abang, Momma dan Poppa hanya bisa memberikan nasehat dan dukungan.”


Andrea mengangguk pelan dan masih mempertahankan senyumnya menatap sang Momma.


“Kalau masalah hati Poppa dan Momma tidak mau mengusik terlalu jauh. Karena biar bagaimanapun Abang juga


sudah seperti putra kami. Yang kami ingin ya melihat kalian bahagia. Semua .... kami ingin melihat semua putra dan putri kami bahagia.”


Fania masih menangkup wajah Andrea.

__ADS_1


“Jadi kalau Drea memang bersikeras tidak mau mengatakan perasaan Drea pada Abang, Momma juga tidak akan


ikut campur. Dan jika memang begitu, maka hadapilah. Sakit dan perihnya harus bisa Drea tahan. Nah mampu atau tidaknya, Drea sendiri yang tahu.”


“Iya, Momma ..”


“Momma dan Poppa bahkan semua Mommies dan Daddies di keluarga ini, akan selalu ada untuk Drea, hem?.”


“I love you Momma ..”


“I love you too, Sayang ..”


“Ya udah ayo kita turun Momma.”


“Oke deeh Kakaaaa ..”


Dua wanita beda usia itu pun keluar dari kamar Andrea, dengan sang putri yang menggandeng manja lengan sang


Momma sambil mengalungkan tali panjang dari sebuah kamera dilehernya.


 “Drea duluan deh ke halaman belakang. Momma mau ambilkan ponselnya Poppa dulu.”


“Okay!.”


***


‘Kenapa Drea?. Bukankah lo sudah mempersiapkan hati lo untuk pemandangan ini?.’


Andrea spontan menghentikan langkahnya saat matanya mendapati pemandangan yang membuat sakit tidak hanya pada matanya, tapi juga hati Andrea.


Varen sedang berdiri berdua terpisah dengan yang lainnya bersama seorang wanita yang seumuran dengan dirinya.


‘Masih cantikkan gue si!.’


Andrea membatin lagi.


‘Tapi Abang lebih suka sama dia, meskipun lo lebih cantik, Miracle Andrea.’


Hati Andrea sedang bercakap sendiri.


Meski sepasang laki – laki dan perempuan itu tak berinteraksi dengan mesra, namun tetap saja ia kesal.


‘Sialan!.’


“Nanti kita kembali bareng aja ya ke Massachusetts?.”


‘Masa Bodoh!.’


“Eh, Hai Andrea.”


Danita menegur Andrea dan Varen pun menoleh.


“Lama sekali ambil kamera?.” Tanya Varen datar.


“Lupa meletakkan dimana.” Sahut Andrea. ‘Mentang – mentang sudah punya Danita, sekarang ngomongnya begitu


banget sama gue.’


“Drea, Sayang ...”


“Eh, Mommy Peri.”


“Dicari Ene sama Ake tuh.”


Mommy Ara yang datang dari dapur dengan membawa sepiring puding utuh itu menegur Andrea sambil menunjuk ke arah para nenek dan kakeknya berkumpul.


“Sini aku bantu bawakan, Tante.”


Danita mengulurkan tangannya untuk mengambil puding dalam piring yang sedang dibawa Mommy Ara.


“Terima kasih, Tante.”


“Okay, Mom.”


“Ya udah. Yuk Drea.” Mommy Ara menggandeng Andrea untuk berjalan bersamanya ke tempat para kakek dan nenek berada.


***


“Apa kamu sedang menghindariku, Miracle Andrea?.”


“Ya ampun, Abang ngagetin ih. Untung ga jatuh nih pitcher nya ..” Sahut Andrea yang sedang mengambil jus dalam sebuah teko kaca yang sudah disiapkan oleh Mba Adis.


Varen hanya memandanginya, lagi – lagi dengan sorot mata yang tajam, hingga Mba Adis dan beberapa asisten


rumah tangga yang sedang ada di dapur buru – buru beranjak dari sana karena melihat wajah salah seorang Tuan Muda mereka sedang dalam mode dingin.


“Kamu belum jawab pertanyaanku.”


“Engga Abang, Drea ga menghindari Abang. Abang juga sedang ada tamu kan, nah Drea kan Abang lihat dari tadi ngapain ngobrol sana sini, Kan?.” Jawab Andrea yang mencoba menampilkan sikapnya yang biasa.


“Mengobrol dengan semua orang kecuali denganku?.”


Andrea menaikkan lagi sudut bibirnya.


“Kan Abang sedang ada tamu, Drea ga mau ganggu. Nanti saat Danita pulang kan kita bisa mengobrol?. Ya udah


ya, ditungguin ini jusnya. Nanti Momma keburu teriak kalau lama datang ini jus.” Sahut Drea santai lalu berlalu dari hadapan Varen.


Varen menggeram pelan saat Andrea selonong boi begitu saja dari hadapannya.


***


Kini para Mommies dan Daddies beserta para kakak sedang duduk – duduk di ruang tamu karena ruang tamu di Kediaman Utama lumayan besar luasnya. Lebih besar daripada ruang keluarga dan ruang santai di dalam Kediaman tersebut. Kebetulan juga Vladimir dan keluarganya sedang datang berkunjung. Jadi setelah selesai acara di halaman belakang, mereka semua pindah tempat untuk berkumpul dan mengobrol.


Para adik sudah dibawa oleh Para Nenek dan pengasuh mereka ke kamar tidur mereka masing – masing.


“How was your Bussiness Varen? ( Bagaimana Bisnismu Varen? ).”


Uncle Vla bertanya pada Varen yang sedang nampak asik dengan ponselnya.


“Doing good Uncle ( Berjalan baik Paman ).” Sahut Varen pada Uncle Vla, sembari menyimpan ponselnya disaku. “How was Rusia? ( Bagaimana Rusia? ).”


“Spring ( Sedang Musim Semi ). Waktu yang sepertinya tepat jika kamu mau berlibur kesana saat ini.”


Varen manggut – manggut.


“Kalau kamu mau nanti bisa bareng dengan kami ke Rusia setelah dari sini, kami juga tidak lama berada di Indonesia. Danita bisa menemani kamu, sebagai bentuk terima kasih kami juga karena kamu sudah banyak membantu dan menemaninya selama dia tinggal di Massachusetts.”


Shita, istri Vla bersuara dan berbicara dengan tersenyum pada Varen lalu menoleh pada adiknya, yang juga ikut tersenyum.


“Danita banyak bercerita tentang Varen, dan kalian cukup dekat ya sepertinya?.” Sambung Shita.


“Oh ya?.” Celetuk Daddy Dewa.


“Iya ..... kami juga sering pergi bersama, ya kan Alva?.” Ucap Danita yang memandang Varen penuh arti.


“Aku pribadi rasanya senang sekali jika adikku Danita ini memiliki teman dekat yang perhatian seperti kamu, Alvarend. Terima kasih ya?.”


Shita berbicara lagi dengan ramah.


Sementara yang lain juga menampakkan senyum mereka sembari mendengarkan tanpa berkomentar, termasuk


Andrea. Kalau Tan - Tan sibuk sebentar - sebentar melirik si Cute Girl yang sok - sok woles padahal Tan - Tan tau tuh anak pasti lagi kesel dan nelongso dalam hatinya karena ada Danita saat ini.

__ADS_1


“Kami tidak sedekat itu.”


Varen bangkit dari duduknya.


“Bangun, Little Star.” Andrea mendongak dalam duduknya dengan sedikit terkejut kala tubuh tinggi Varen sudah menjulang dihadapannya kini. “Sudah waktunya kamu tidur.”


“Ta-pi .. “


“Bangunlah.”


Varen berkata sambil memandangi Andrea dengan tatapan mengintimidasi pada gadis itu.


“Abang benar, ini sudah malam Little Star.” Ucap Daddy R sambil membelai rambut Andrea.


Sementara Uncle Vla nampak memperhatikan Varen yang kini sedang berdiri dihadapan Andrea yang masih duduk


disamping sang Poppa dan Daddy R.


Shita melirik pada suaminya, karena Varen menjawabnya dengan suara datar nan dingin soal kedekatannya dengan Danita.


“Emm .. Alva ...”


“Apa kamu tuli Miracle Andrea?.”


Varen menghiraukan Danita yang hendak berbicara. Ia kembali berbicara pada Andrea sebelum Danita menyelesaikan kalimatnya, dan pandangan Varen tetap pada Andrea.


“Tapi Abang, Uncle Vla dan keluarganya masih disini.....”


“Ab-bang .....”


Andrea spontan terkejut kala Varen sudah menundukkan sedikit tubuhnya dan tangannya sudah berada dibawah


ketiak Andrea.


“Letakkan tangan kamu dileherku seperti biasa.”


“Ta-pi Abang ...”


“Cepatlah.”


“Lakukan seperti yang Abang bilang, Little Star.”


Poppa menyuruh Andrea agar segera mengikuti apa yang Varen minta. Sambil mengkode dengan kepalanya kalau


tidak apa – apa, saat Andrea yang nampak gugup itu menoleh padanya. Momma juga menggerakkan kepalanya, mengiyakan ucapan Poppa.


Karena Momma menyadari kalau si Abang sepertinya sedang dalam mode menuju tidak senang.


Nathan kini memperhatikan raut wajah sang Abang dan seketika ia merinding. 'Mukanya agak - agak horor nih si Abang.'


“Drea malu Abang ...” Ucap Andrea pelan, namun ia sempat melihat Nathan mengkode sembari membesarkan matanya pada Andrea agar Andrea ikut maunya Abang sekarang.


Andrea pun pada akhirnya melingkarkan kedua tangannya di belakang leher Varen yang kemudian menggendongnya bak menggendong bayi koala itu berbisik ditelinga Varen, saat si Abang sudah mengangkatnya dan mengaitkan tangannya di bawah dua bongkahan sintal milik Andrea.


Tapi Varen tak menyahut padanya.


Andrea langsung menyembunyikan wajahnya diceruk leher Varen yang sudah menggendongnya itu. Sejujurnya Andrea malu, lebih ke canggung sudah digendong seperti itu didepan mereka yang tengah berada di ruang tamu, terlebih lagi ada Uncle Vla dan keluarganya.


Tapi Andrea hanya bisa pasrah. Wajah datar dan dingin Varen tadi sebelum si Abang menggendongnya itu membuat dirinya takut, karena Varen tidak pernah memberikan tatapan seperti itu padanya.


Dan orang - orang yang berada disekitar Varen pun nampak membeku karena wajah si Abang saat ini, tak sesantai biasanya.


“Aku dan adikmu tidak sedekat apa yang sudah ia ceritakan padamu dan Uncle Vla. Dan aku tidak merasa perhatian padanya.”


Varen membalikkan tubuhnya saat sudah melewati para Mommies dan Daddies yang duduk disofa, sambil tetap


menggendong Andrea.


“Aku bersikap baik padanya, hanya karena aku memandangmu Uncle.”


“Abang .....” Fania menyela ucapan Varen, karena merasa tidak enak pada Vladimir.


“Jangan banyak membual, karena bualanmu membuat Little Starku tidak nyaman. Dan segala hal yang membuatnya tidak nyaman, akan menjadi urusanku.”


Nada bicara Varen terdengar datar, namun matanya tajam menatap Danita.


‘Abang ....’ Andrea membatin. Ada rasa hangat menjalar didadanya kini.


“Bicara yang sopan, Abang ...”


“Aku sudah cukup sopan, Momma.”


“Bawa Drea ke kamar Abang, dia sudah lelah.” Daddy R berdiri dan berbicara pada putranya yang ia paham kalau si Abang kini sedang merasa tidak enak hati dan entah apalagi. Dan lagi sifat Varen kurang lebih adalah perpaduan antara sifatnya dan Andrew.


Jadi Daddy R cukup paham yang sudah saling mengkode mata dengan Andrew, agar si Putra sulung itu tak meledak saat ini dengan menggunakan Andrea sebagai alibi. Karena seluruh keluarga besarnya tahu, bagaimana sikap Varen pada Andrea sejak gadis itu hadir dalam dunianya.


“Aku tau kau memprovokasi Little Starku, dan aku tidak suka. Sangat tidak suka. Jadi berhentilah sampai disini.” Ucap Varen yang belum beranjak dari tempatnya berdiri.


Sementara Andrea seolah tak bergerak dalam gendongan Varen dengan kedua kakinya yang ia kaitkan dibelakang


pinggang si Abang yang nampak biasa saja, tidak merasa berat dengan beban tubuh Andrea dalam gendongannya.


Andrea sedang sedikit ketakutan pada Abangnya saat ini.


“Jangan berkhayal terlalu tinggi, Nona Danita. Aku bukannya baik, hanya mencoba bersikap sopan padamu karena kau adik ipar Uncle Vla. Tapi buang jauh – jauh pikiranmu jika kau merasa lebih indah daripada Little Starku.”


‘Hish ini anak!.’


Poppa dan Daddy R membatin, namun tak menyela ucapan Varen. Keburu sadar diri mereka sendiri. Bak sedang


bercermin pada anak muda yang dari nada bicaranya sudah terdengar tajam dan mendominasi meski bernada datar. Cukup membuat kelu siapapun yang sedang berhadapan dengannya.


“Aku sudah menyingkirkan semua bintang di langitku, agar hanya satu bintang kecilku yang bersinar disana. My One and Only Little Star ( Satu – satunya Bintang Kecilku ). Miracle Andrea. My Beloved Andrea ( Andrea ku Tersayang ).”


Varen kemudian berbalik dan mulai melangkah pelan, menjauh dari ruang tamu.


***


“Abang.....” Andrea berkata pelan dan terdengar lirih sambil masih menyembunyikan wajahnya di antara ceruk leher dan pundak Varen.


“Jangan menjauhi Abang lagi, ya?.”


Andrea hanya mengangguk tak bersuara dan Varen menyandarkan kepalanya di kepala Andrea sambil terus menggendong Andrea untuk menuju ke kamar.


“Drea Janji?.”


“Drea Janji,  Abang... Drea ga akan jauhi Abang lagi .....”


“Sa-yang Drea ..”


“Sa-yang Abang .....”


"Maafkan Abang ya?. Sudah membuat Drea sedih."


Andrea menjawab dengan anggukan lagi.


‘Jangankan seseorang, jika dunia ini mengusik Drea, maka aku akan mengerahkan seluruh apa yang kupunya untuk menghancurkannya, jika memang kamu yang memintanya, Little Star.....’


***


To be continue ...


Dilarang mesam - mesem

__ADS_1


Jempolin Ye...


Sayyyyyaaannnggggg Reader .... ♄♄♄♄♄♄


__ADS_2