THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 351


__ADS_3

Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye


*************************************************************************


DON’T WORRY BE HAPPY!


Selamat membaca ..


🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith


Suara tawa menggema di dalam Kediaman Utama keluarga cetar membahenol itu. Kini bahagia kian menyelimuti


hati dan wajah – wajah setiap anggota keluarganya.


Ada perbincangan ringan yang diliputi canda dan bullian kecil dari para kakak ke adik-adiknya, juga sebaliknya dan dari para orang tua ke anak-anaknya.


“Hoy bocah-bocah! Gantian sini mainnya!” Itu Varen yang bersuara pada dua bocah ang sedang asik bermain game


konsol dan tidak memberikan kesempatan pada saudaranya yang lain untuk bermain meski sudah diingatkan berkali-kali.


“Nanti duluuuuu!! Belum selesaaaiiiii” Sahut Varo dan Ares, dua bocil yang matanya tetep fokus ke layar televisi dimana keduanya sedang asik balapan dalam permainan.


“Sini ga?!”


“Enggaa!!”


“Wah! Song to the Ngong nih!”


“Ah gaje!”


Varo menyahut.


“Waduh! Beneran songong nih bocah! Siapa yang ngajarin??”


“Momma sama Mamiii!!!..” Seru Varo spontan membuat Varen juga yang lainnya cekikikan.


“Woah! Pitnah aje si bule koplak anaknya! ..” Protes Momma sementara Mami Prita cengengesan aja.


“Memang benar kata Varo. Memang kalian berdua suka punya celetukan aneh-aneh makanya itu anak-anak suka


mengucapkan itu celetukan kalian” Sambar Poppa.


“Ish! Kamu bukannya belain aku, malah ikut-ikutan mojokin aku!” Protes Momma pada Poppa yang duduk disisinya sembari main kartu dengan Andrea, Nathan dan Mom Ichel.


“Yaa aku kan bicara benar, Heart ..” Sahut Poppa dan Momma langsung mencebik. “Kamu sama Prita itu, kalau


sedang nyeletuk kan suka asal. Tidak lihat-lihat situasi. Makanya Varo, Ares, Isha bahkan Aina suka ucapkan celetukan-celetukan kalian itu” Sambung Poppa.


“Iya, iya aku yang salah!” Seru Momma yang membuat Poppa menjeda permainan kartunya lalu menoleh pada


Momma.


“Ck! Aku itu..”


“Kalo kamu ga suka,..”


“Bukan aku ga suka..” Poppa meletakkan kartunya, lalu memiringkan badannya karena sepertinya Momma


agak-agak tersungging, eh tersinggung.


“Nih, tampar aku mas! Tampar!”


Ah, ternyata si Momma iseng aje seperti biasa. Karena setelahnya ia cekakak.


“Yeeeee PEA!!”


Yah, Mami Prita kembali keceplosan berseloroh mengatai sang kakak yang dari muda sampe sekarang gesreknya ga ilang-ilang.


Sisanya cekikik dan cekakak saja.


Sementara Poppa yang gemas karena sering kecele dengan sikap Momma, mengangkat tubuh Momma yang langsung ia kunci dengan tangan dan kakinya, lalu di gelitiki membabi buta oleh Poppa.


“Ampun! Ampun! Ampuunn!!... Ampuunnn Poppaa!!.. Donald Bebeeekk!!!..”


Si Momma yang sedang di gelitiki oleh Poppa tanpa ampun itu heboh sendiri.


Hingga kemudian Poppa menghentikan jarinya yang menggelitiki Momma dengan uselan hingga si Momma masih


tetap heboh sambil cekakak tanpa saringan.


“Ingat umur hoy!!” Varen geleng-geleng melihat kelakuan dua orang tua yang memang suka lupa umur itu. “Sok mesra!”


Poppa dan Momma langsung saja menatap si Abang.


“Iri?..”


“Bilang Boooss!! ..”


“Duo bebek yang kompak!”


***


“Apa kamu mau coklat panas Little Star?”


Varen bertanya pada Andrea disela perbincangan dengan keluarga mereka yang lain.


Karena hari sedang hujan, jadi Varen menawarkan pada Andrea minuman kesukaannya sejak kecil itu.


“Engga usah Abang, nanti kalau mau Drea buat sendiri”


“Aku mau dong Abang!”


“Aku juga!” Valera dan Mika menyahut bergantian, meledek si Abang.


“Masa bodoh!” Seru Varen sembari melirik sini pada keduanya. “Belajar sana!”


“Aku sudah pintar sejak lahir!”


“Idem!” Dua gadis muda itu kembali saling menyahuti si Abang bergantian.


“Cih!”


Varen berdecih.


“Tidak lebih pintar dariku!”


“Sok!”


“Dari sejak masih di perut Ibu Peri!”


“Biarin-biarin jangan dipisahin..” Celetuk Mami Prita melihat perdebatan Varen versus dua adiknya perempuannya yang ceriwis itu.


***


“By the way, why you guys don’t say that you were gone to Bandung this morning?...... ( Ngomong – ngomong


kalian kenapa tidak bilang akan pergi ke Bandung sejak tadi pagi? )” Mama Fabi yang sedang menikmati berbagai macam makanan yang Daddy R dan Mommy Ara bawa dari Bandung itu bertanya.


“They’re on ‘mission’, Fabi.... ( Mereka pergi untuk sebuah ‘misi’, Fabi ) ..”


Daddy Dewa yang menyambar menjawab pertanyaan Mama Fabi.


“Huuumm..” Mama Fabi manggut-manggut.

__ADS_1


“Oh iya itu ngomong-ngomong untuk acara syukuran, sudah dihubungi panti-panti yang anak-anaknya mau kita


undang?..”


Nenek Yuna bersuara. “Udeh!” Ake Herman dan Ene Bela kompak menjawab. “Tadi saya sama si mamah udeh telponin itu pengurus dari beberapa panti asuhan pade sama Tuan Anthony juga”


Yang berada didekat Ake Herman pun manggut – manggut.


“Anak – anak dari panti asuhan yang biasa kita undang? ...” Tanya Daddy Dewa.


Ake Herman mengangguk. “Sebagian. Sebagian lagi anak yatim, piatu ama dua – dua nye itu yatim piatu yang belom pernah kita ajak ....”


“Ada yang kasih daftar panti asuhan yang baru? ....”


“Bukan, Mamah keingetan tempat tinggal dulu kite orang yang di Bekasi, Wa. Kalo kaga salah ade banyak juga anak yatim katanye disono, waktu Mamah sama Papah maen kesono .... Jadi Mamah inisiatip aje mau ngundang mereka ... Kaga ape – ape kan?....”


“Ya tidak apa dong Ma, malah bagus sih kalau Ara bilang, paling tidak kan bantuan kita nantinya bisa disalurkan ke banyak tempat juga.... untuk ladang pahala kita juga kan?”


“Iyes, bener! Mudahan bisa jadi peringan dosa di akhirat nanti ....”


Mama jihan menimpali. Yang merasa banyak dosa manggut – manggut aje. “Waduh, kalo udeh ngomongin akherat


Papah merinding! ...”


Yang mendengar cekikikan.


“Makanye ngaji banyakin! Jangan maen orgen mulu! Liat noh, kulit udeh kisut!” Celetuk Ene Bela.


“Kancil lari ngejar siput!” Ake Herman ikut nyeletuk.


“Cakeeppp....” Yang duduk agak jauh ikut merapat.


“Siput lari pergi ke sawah!”


“Cakeeppp....”


“Mane bisa itu siput lari! Jalan aje lelet kaga nyampe – nyampe!”


Ene Bela sewot.


Sisanya cekakakan.


“Namanye juga pantuunn! ...”


“Terusin Ke!”


“Ampe mane tuh tadi? ...”


“Siput lari ke sawah!”


“O iye!”


Maklum aki – aki tahap akhir, jadi kalo dialihin dikit, lupaan dah.


“Ulangi deh ulangi, biar afdol!”


“Kancil lari ngejar siput, siput lari pergi ke sawah!” Ulang Ake Herman.


“Cakeeppp....”


“Biar kate kulit Papah udeh kisut, Cinta Papah Herman ke Mamah Bela kaga bakal berubah!”


“EEEEAAA!!”


****


“Jadi fix nya kita ini acara syukuran nya kapan sih?”


“Empat hari dari sekarang”


“Lalu Cruise-nya kapan?”


“Kalau Kak Drea sudah lebih sangat baik kondisinya”


“Okay, okay”


“Oh iya ngomong-ngomong, Abang....”


“Kenapa Little Star, Hem?


....”


“Niki, bagaimana keadaannya?. Terakhir yang Drea lihat sepertinya dia dipukuli habis-habisan oleh orang-orang


itu”


“Dia sudah baik sekarang. Niki tidak hanya dipukuli, tapi dilukai dengan tusukan juga di perutnya ...”


“HAH?!”


“Jangan khawatir ..... Niki kuat. Dia sudah baik – baik saja sekarang kok..... malah dia sudah menghubungi Abang dan menanyakan kondisi kamu ...”


“Kita jenguk Niki yuk, Abang? Ya?! ....”


Varen tersenyum dan mengangguk. “Iya. Besok tapi ya?”


Andrea pun mengangguk.


****


Malam sudah menjelang ....


“Itu Uncle Sean kan?”


Rery bersuara kala ia menyalakan televisi di ruang keluarga saat mereka semua sedang kembali bersama untuk makan malam yang masih disiapkan, selepas waktu maghrib.


“Besarkan volumenya, Rery...”


“Cih! Lihat wajahnya itu!”


“Ini kasusnya sindikat yang menculik Kak Via dan Kak Drea itu kan?”


“Hem!”


“Dads kok ga dapat penghargaan juga macam Uncle Sean?. Kalian juga berperan besar mengungkap sindikat itu, kan?”


“Ck! Kami tidak membutuhkan penghargaan!”


“Benar! Cih! Tak penting!”


“Ya kan tapi lumayan, bisa masuk Tivi?! ....”


“Halah! Stasiun tivi lokal disini aja Oma! .... Apa hebatnya coba?!”


“Are they going to have a death sentence?... ( Apa mereka akan mendapatkan hukuman mati? )”


“Semoga saja! Itu pantas untuk mereka” Celetuk Mika. “Tapi kok hanya sedikit saja sih, yang ditunjukkan penjahatnya? Bukankah sindikat itu seharusnya banyak orang-orangnya?”


“Sisanya sudah mati!”


****


Televisi langsung saja dimatikan Momma yang langsung merebut remot tivi dari tangan Rery, setelah pernyataan tegas nan membuat merinding dari para pria, kecuali Gappa dan Ake serta para adik laki-laki itu terdengar berikut wajah ketat mereka yang nampak tidak senang.


“Makan! Ga usah bahas yang ga ngenakin!”

__ADS_1


Begitu kata Momma yang langsung menyimpan remote televisi rada jauh dari orang – orang.


“Iya, betul itu! .... Things happened are happened ( Yang sudah terjadi biar saja terjadi ).... Yang buruk tidak perlu diingat lagi, tinggalkan saja di belakang ...... Lebih baik kita memandang ke depan saja, memperbaiki diri terutama”


“SETUJUUU!!”


****


“Touring yuk!”


“Ayuuuukk!!! ...”


“Kita kan mau pergi pesiar Little Star, baby”


“Dad R was right, Kak Drea. Kak Drea kan juga harus fokus dengan pemulihan kondisinya Kak Drea? ...”


“Benar itu yang dikatakan oleh si Little Ghost. Kamu fokus dulu dengan pemulihan kamu, Little Star. Toh kita mau mengadakan acara syukuran empat hari lagi .... jadi harus jaga kesehatan kalau acara pesiar tidak ingin batal.....”


“Iya sih Pii, ingin aja Drea tuh jalan – jalan keliling kulineran”


“Iya memang, sayang juga itu motor-motor sudah lama tidak digunakan ...”


“Iya tuh kan. Ayo dooooonnnggg! Yang dekat-dekat aja kita touringnya. Sekaligus Glampcamp kan bisa tuh, sebelum kita pesiar?”


“Boleh juga sih.. Sounds great”


“Iya kan, Bang?. Seru kan tuh Glampcamp?. Sudah lama juga kan kita semua tidak pergi camping! Ayoo Abang,


yaaaaaa????”


“Kita kan sudah menentukan jadwal untuk kita berangkat for our Cruise. Mana sempat untuk pergi Touring dan


Glampcamp?...... Belum lagi kamu belum pulih benar, Little Star. Next time saja ...”


Varen pun mengiyakan ucapan Poppa.


“Ah! Kalian memperlakukanku macam aku ini pesakitan!”


“Little Star ....”


“Memang seperti itu kenyataannya! ....”


“Yah, ngambek deh! Jelek deh!”


Papi John meledek Andrea.


Andrea mencebik.


“Ck! Tau nih ih! Kita itu kasih tau buat kebaikan kamu, Juleha!”


“Iya, iya, aku pahaamm ....”


Andrea berdiri dari tempatnya.


“Ya sudah aku mau ke kamar!”


“Little Star....”


“Permisi orang-orang sehat!”


“Hhh.... Ya sudah, ya sudah ....”


Varen meraih tangan Andrea dengan hati yang tak kuasa pada Andrea yang merajuk dan sempat melemparkan


sindiran itu, lalu memangku istri kecilnya yang sedang merungut itu.


“Jalan – jalan saja ya? Pergi pakai mobil, touring dengan motor next time aja ..... ya?”


“Tapi Drea yang menyetir ya?”


“Hmmm ...”


“Yaaaa??.. Lagian kita mau konvoy kan?. Ga akan Drea kebut juga!”


“Iyaa, tapi ingat satu hal ......”


“Hati-hati karena sudah lama Drea tidak menyetir sendiri, kan?. Iya Drea tahu!”


“Bukan....”


“Lalu?”


“Nanti kalau aku membiarkanmu menyetir, ingat juga kalau menyetir mobil itu layaknya kamu dan aku yang sedang melajukan pernikahan kita ini ..... Kamu terutama ..”


“Asik dah nih anak naga ngeluarin perumpamaan”


Celetukan Momma yang membuat lainnya cekikikan.


“Apa sih Momma!”


“Ye Momma ngomong bener si, anak naga kan situ? .... yang dipangku anak bebek!”


“Ah Momma nih motong aja!”


Tan – Tan menimpali.


“Terusin Bang! Siapa tahu bisa ku jadikan pakem-pakem dalam hidup kuh! .... Eeeyyyaaaa!...” Celoteh si Tan –


Tan yang mendapat sambutan cekakakan berikut toyoran.


“Ah sudah ga jadi! Malas!”


“Ca elah anak naga ambekan kek bapaknya!”


“Biar! Yang penting tampan dan kaya!”


Varen menimpali celetukan Mami Prita.


“Terusin dong itu kuot!”


“Malas!”


“Ah anak naga ga asik!”


“Masa bodoh!”


“Menyetir mobil itu layaknya kita ini menyetir suatu hubungan pernikahan...”


Poppa bersuara.


“Terutama kalian para istri yang tahu persis betapa kami mencintai kalian dan bagaimana kalian bisa mempengaruhi kami ...”


“Jadii? ..”


“Jadi kalian sebagai pengendali setir, wahai para wanita Adjieran Smith ... tetap jaga jarak aman, jangan berhenti mendadak, karena hati ini tak siap untuk kehilangan”


Asek daaahhhh


“Mantap Poppaahh!!!...”


“Receh banget Donald Bebek, emmmuuut juga nih palanya!”


****


To be continue....

__ADS_1


Road to End


__ADS_2