
♥ AFFECTION – Kasih Sayang ♥
Selamat membaca.....
London, Inggris
“Kalaupun mau dipisah, gimana cara misahin nya coba, Fan?.” Jihan yang masih berada di London, kini sedang berada di Kafe berikut Workshop milik Fania. Dua wanita matang itu sedang menunggu suami mereka menjemput keduanya berikut Rery dan putri kedua dua J versi couple.
“Ya ga tau juga, Ji. Habis gue ga enak sama Kak Reno en Kak Ara soal si Andrea yang ga bisa banget ketinggalan sama si Varen. Kalah ketergantungan narkobah ....”
Jihan terkekeh kecil.
“Kenapa mesti merasa ga enak coba?. Orang si Abang juga nyaman – nyaman aja sama sikapnya Drea. Apalagi Kak Reno sama Kak Ara sama Drea. Kalau Andrea sakit aja, mereka lebih – lebih panik daripada kamu dan Andrew.”
“Gue justru takut ketergantungannya si Drea itu berlanjut sampe gede ke Varen. Malah makinan.” Ucap Fania. “Gue ga mau nanti ujung – ujungnya si Abang ngalahin mimpinya buat kuliah di Universitas impiannya Cuma gegara si Andrea.” Sambung Fania. “Jangan sampe anak gue yang satu, jadi penghambat anak gue yang lain.”
“Ya ga akan seperti juga kali Fan.” Sahut Jihan sambil ia memberikan susu dalam botol pada anak keduanya dan Jeff yang diberi nama Loulia Aina Jeff Smith.
“Namanya takut Ji.”
“Tunggu aja sih tiga tahun lagi. Drea kan sudah bersekolah di sekolah umum juga. Toh tiga tahun lagi dia sudah beranjak besar, pasti akan mengerti sendiri.”
“Ya mudah – mudahan.” Kata Fania dan Jihan pun tersenyum.
“Lagipula, kalau sekarang kamu misalkan mau berusaha misahin Drea dari si Abang, ga akan bisa juga. Abang pasti protes keras kekamu.” Ucap Jihan dan Fania kini manggut – manggut.
“Iya juga sih.”
Tak seberapa lama Jeff dan Andrew pun tiba di Kafe dan Workshop milik Fania itu.
***
“Hai!.”
Fania menyapa Andrew dan Jeff yang baru saja tiba.
“Ada apa?. Mukanya serius amat?.” Tanya Fania sambil menangkup wajah Andrew yang nampak merungut itu untuk menatapnya. Setelah ia dan Jihan salim pada keduanya. Andrew mengecup bibir Fania sekilas.
“Sorry lama.” Ucap Andrew. “Rery mana?.” Tanyanya.
“Lagi dibawa Walker.” Sahut Fania dan Andrew manggut – manggut. “Muka kamu kenapa ini ditekuk begini?.” Tanya Fania lagi pada Andrew karena pertanyaannya belum dijawab. Andrew mendengus sembari menghela nafas.
“Ada masalah di Perusahaan yang berada di Italy.”
Jeff yang menjawab.
“Huum ....” Fania dan Jihan sama – sama ber hum ria.
Kemudian Fania memanggil salah satu karyawannya untuk memesankan Andrew dan Jeff minuman dan yang lainnya sesuai keinginan kedua pria yang nampak lelah itu.
“Besok malam lo ikut gue ke Italy Jeff....” Titah Andrew.
Jeff manggut – manggut.
“Bukannya lusa kalian mau balik ke Indo?.” Sambar Fania.
Jeff melirik Fania sambil mengkode dengan kepalanya.
“Tunda dulu!. Nathan juga masih liburan.” Ucap Andrew. “Tolong pegang, aku mau ke restroom.” Andrew menitipkan ponsel miliknya pada Fania dan si Kajol pun mengangguk sambil menerima ponsel Andrew.
“Memang masalah apa sih Kak?. Kok dia kayaknya kesel banget?.” Tanya Fania pada Jeff saat Andrew pergi ke toilet.
“Ada yang menggelapkan uang Perusahaan dalam jumlah yang sangat besar. Jadi beberapa unit chopper dan small jet tertunda pembuatannya. Padahal bulan ini sudah harus diserahkan kepada pemesan.” Jeff menjelaskan. “Si Andrew double kesalnya. Satu, lo tahu dia perfeksionis. Apalagi sampai di complain orang.”
“Terus?.”
“Kedua, orang yang menggelapkan uang Perusahaan itu, cukup dipercaya Andrew disana untuk mengelola keuangan Perusahaan. Bahkan anaknya dibiayai Andrew untuk kuliah di Stanford dan yang satu diberikan pekerjaan di JP Morgan.” Sambung Jeff.
Fania manggut – manggut.
Jeff menoleh pada Jihan.
“Satu minggu lagi disini ga apa ya?.” Ucap Jeff pada istrinya yang kemudian mengangguk sambil tersenyum.
“Sorry ya ....”
Fania meminta maaf karena merasa tidak enak pada Jeff dan Jihan.
__ADS_1
Jeff terkekeh kecil.
“Seperti lo ga tahu dia aja Jol.... lo tahu sisi temperamental dia kan?.” Ucap Jeff.
“Iya sih.”
“Ini sudah yang kedua kali. Dan orang yang menggelapkan uang ini dulu juga sesuai approvement (persetujuan) gue, jadi ya tanggung jawab gue juga. Dia sudah memecat satu divisi karena satu orang itu. Lo bisa bayangkan sendiri deh.”
“Kasihan dong yang ga tau apa – apa.” Sahut Fania.
“Ya mau gimana?. Kalau dia sudah seperti itu, siapa yang berani membantah ucapannya?. No one ( Tidak seorang pun). Ditambah ini Perusahaan Pribadi kalian. Di Smith Company pun kalau Andrew sudah memutuskan sesuatu saat dia sedang marah, bahkan R terkadang angkat tangan daripada harus berdebat dengan si Donald Bebek kalau dia sedang terlewat gusar..” Jelas Jeff lagi.
Fania hanya bisa menghela nafasnya saja.
****
“D ....” Panggil Fania saat ia dan Andrew sudah sampai di Mansion Utama Keluarga. Andrew sedang berdiri sambil menopangkan kedua tangannya di sanggahan balkon dengan sebatang rokok yang terselip di dua jemarinya.
Andrew langsung menoleh sembari tersenyum pada Fania dan berbalik untuk mematikan rokoknya. Kemudian menarik Fania untuk dipangkunya.
“Masih memikirkan soal masalah di Perusahaan kita yang di Italy?.”
“Ya sedikit.”
Cup!.
“Biar hilang kesalnya.” Ucap Fania setelah memberi kecupan di bibir Andrew yang kemudian tersenyum padanya.
“Maaf ya, jadi sedikit mengabaikan kamu.” Ucap Andrew.
“Aku paham. Dan aku ga merasa diabaikan kok.”
“I love you....”
“Love you more....”
“Kita belum memberikan ucapan selamat malam pada Andrea, Rery dan selusin anak kita yang lain.” Ucap Andrew sembari berdiri dengan mengangkat tubuh Fania yang selalu dirasa ringan baginya itu.
“Haha.... iya..... tapi turunin aku ih.” Andrew terkekeh kecil melihat sang istri yang setengah meronta dalam gendongannya itu.
“Cium dulu tapi. Huum.” Andrew memonyongkan bibirnya.
“Donald Bebek dasar ....”
****
Mereka juga berpapasan dengan para Mom dan Dad yang lain saat akan mampir ke kamar para bocil yang sudah dibiasakan untuk tidur dikamar yang terpisah dari orang tuanya, kecuali saat mereka masih bayi atau ada kalanya mereka merengek sedang ingin tidur bersama oran tuanya.
Selebihnya ada para Nannies (Para Pengasuh) yang akan menjaga para bocil ditiap kamar mereka. “Abang sama Nathan mana?.” Tanya Andrew pada Ara yang kebetulan berpapasan dengannya dan Fania saat Andrew tak menemukan Varen dan Nathan di kamar mereka.
“Dikamarnya Andrea. Sama Daddy R juga.” Sahut Ara.
Andrew dan Fania pun mengangguk lalu menuju kamar si incess.
***
🎶
Life Ain’t Anything Alone, Can’t You See ...
(Hidup Tak Berarti Jika Sendirian)
You’re an Angel in My Eyes
(Kau Malaikat Dimataku)
Everyday, You Closer To Me
(Setiap Hari, Kamu Semakin Mendekatlah Padaku)
🎶
“Sepertinya kita tidak dibutuhkan lagi untuk menyanyikan Lullaby (Nina Bobo).”
Andrew berbisik yang didengar Fania dan Reno saat sudah berada di kamar Andrea dan gadis kecilnya itu sudah terlelap dengan Varen yang sedang menyanyikan sebuah lagu disisi Andrea sambil mengelus – elus punggung gadis kecil itu yang tidur menyamping menghadap sang Abang.
Fania pun tersenyum melihat tiga bocil yang kelewat akur tidur bersama diatas ranjang Andrea yang cukup besar itu. Nathan juga sudah nampak terlelap begitupun Varen yang semakin lama suara nyanyiannya makin lemah dan tak terdengar lagi. Abang juga sudah nampak mulai terlelap sambil memeluk Andrea.
‘Ya sudahlah. What will be will be (Yang terjadi terjadi) lah dimasa depan nanti.’ Batin Fania melihat kedekatan Varen dan Andrea. Bahkan wajah Andrea saat tidur yang memeluk boneka panda kecil, nampak begitu damai dan bahagia.
__ADS_1
“Abang tahu lagu itu?.” Tanya Andrew sembari masih berbisik. Reno mengangguk.
“Tahu.... dia suka, karena gue sering putar kalau sedang bersama dia dimobil.” Sahut Reno yang juga berbisik, takut jika mengganggu para malaikat kecil yang sudah terlelap dengan nyenyak itu. “Dia juga tahu itu lagu yang punya makna untuk kita bertiga.” Sambungnya. “Dan saat pertama kali dia mendendangkan lagu itu kalau sedang
menemani Drea tidur, Drea juga menyukainya.”
Andrew dan Fania tersenyum.
“Baguslah. Daripada lagu Nina Bobo kamu, D ....”
**
🎶
And If You Ask Me To, Daddy’s Gonna Buy You a Mockingbird
I’ma Give You The World
I’ma Buy A Diamond Ring For You, I’ma Sing For You
I’ll Do Anything For You To See Your Smile
(Dan Jika kamu meminta Ayah untuk membelikanmu seekor Mockingbird)
(Dunia pun Akan Ayah Beri)
(Akan Ku belikan Cincin Berlian Untukmu, Bernyanyi Untukmu)
(Ayah Akan Melakukan Apapun Untuk Melihat Senyummu)
🎶🎶🎶🎶🎶
And If That Mockingbird Don’t Sing, and The Ring Don’t Shine
I’m Break That Birdie’s Neck
I’ll Go Back to Jeweler Who Sold It To Ya
*And Make Him Eat Every Carat, Don’t F*k With Dad! Ha – Ha
(Dan Jika Mockingbird Yang Dibeli Itu Tidak Bernyanyi Seperti Seharusnya dan Cincinnya pun Tak Bersinar)
(Ayah Akan Patahkan Leher Burung Itu)
(Ayah Juga Akan Kembali Ke Penjual Berlian Itu)
(Dan Membuatnya Makan Setiap Karat, Jangan Macam – Macam Dengan Ayah! Ha – Ha)
🎶
**
Fania hanya bisa geleng – geleng kalau ingat Andrew menina - bobokan Andrea. Bukan lagu pengantar tidur yang didendangkan, tapi si Poppa malah nge-rap.
‘Damai kaga tidur anak gue, mimpi buruk yang ada!.’ Batin Fania.
**
Time seems like flies away ... ( Waktu seolah terbang )....
Tiga tahun kemudian ...
(Cepet ye khan ....)😃
“Si Drea beneran ga kenape – kenape itu kalo si Varen kuliah di Amerika sono?.”
“Ga kenape – nape kayaknya sih. Die udah mau masuk SMP udah ngerti kali kalo si Abang mau kuliah..”
“Kesianan Papa sih, kayaknya die sedih aja itu muke nye.”
“Reno juga merasa seperti itu sih.”
“Abang juga berat sih sebenarnya kalau harus meninggalkan Drea. Dia kepikiran Andrea sedih kalau dia pergi ke Massachusetts.”
“Khitbahin aje udeh.”
“Apaan itu?.”
“Kawin Gantung!.”
__ADS_1
**
To be continue.....