
♥ UNDENIABLE ♥ Tak Dapat Disangkal ♥
******************************
Selamat membaca.....
**************************
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia..
Tiga bulan berlalu ..
“Apa Andrew dan Fania sudah memberitahu soal dimana Fania akan melahirkan, Pa?.”
“Belum John. Si Endru sama si Fania belom bilang ape – ape.”
John manggut – manggut. Dirinya, Prita beserta si kembar sedang menginap di rumah Keluarga Cemara awal minggu ini.
“Kalo Mamah sih pengennya itu anak keduanya mereka lahiran disini. Biar adil kan tuh. Si Andrea kan di brojolin di London, nah itu adeknya Andrea biar di brojolin disini.”
“Kucing kali brojol.” Timpal Papa Herman pada Mama Bela dan John pun terkekeh.
“Pak, Bu, Tuan John.”
Seorang asisten rumah tangga Keluarga Cemara, memanggil sopan pada ketiga majikannya yang sedang mengobrol itu. Nampak Varo berada dalam gendongannya, dan Alisha digendong oleh salah satu asisten rumah tangga yang satunya.
Papa Herman dan Mama Bela langsung berdiri melihat dua cucu kembarnya itu.
“Loh kok si kembar dibawa kesini, Bi?. Sudah bangun memangnya mereka?.” Ucap John seraya bertanya. Dia juga ikut berdiri, hendak menggendong Varo tapi sudah disambar Mama Bela. Hendak menggendong Alisha, eh keduluan Papa Herman.
“Baru aja bangun ini Tuan.”
“Nah terus emak nye mana?.”
“Non Prita mau merah susu dulu Bu katanya. Stok asi nya sudah tinggal sedikit.”
“Ooh.” Mama Bela hanya ber oh ria.
“Titip Varo sama Alisha sebentar ya Pa, Ma!.” Ucap John.
“Mau kemana kamu emang?.” Tanya Mama Bela.
“Membantu Prita Ma, suami siaga kan.”
John cengengesan.
“Halah, modus aje kamu John. Ga bisa denger pabrik susu buka!.” Celetuk Mama Bela asal. John pun langsung tergelak geli.
“Tahu aja deh Mama Mertua yang cantiknya kelewatan..” Goda John. “Titip Varo sama Alisha ya sebentar.. kasihan nanti Prita kerepotan kan megang susu sama pabriknya sekalian?. Nah John bantu pegang pabriknya, kan biar lancar itu produk susunya sampai nanti ke dua konsumen cilik itu tuh.”
John memainkan alisnya sambil masih cengengesan pada Papa Herman dan Mama Bela.
“Sa ae John Lennon ngeles nye! ..”
John tergelak lagi sambil berjalan menuju kamarnya dan Prita.
“Seronde aje John!.”
“Siaaap!.”
John mengiyakan dengan berbalik sambil mengayunkan tangannya bak sedang hormat pada komandan sambil cekikikan sendiri.
Mama Bela hanya geleng – geleng, sementara dua asisten rumah tangga mereka itu mesem – mesem aja dah.
****
London, Inggris ...
Fania dan Andrew baru saja menyelesaikan makan malam romantis mereka di luar. Di sebuah restoran yang terbilang mewah di daerah Kensington, London. “D..”
Fania lebih mendekati Andrew yang duduk dibelakang kemudi mobil yang ia setir sendiri, karena ingin menikmati waktu berdua dengan Fania meski perut Fania sudah nampak menyembul.
Andrew tersenyum lebar, saat Fania juga sudah menyadarkan kepalanya di sisi kanan bahu Andrew dan nampak
manja.
“Kenapa hem?.” Tanya Andrew sambil mengusap pelan pipi Fania sebelum ia menjalankan mobilnya. “Apa kamu
ingin sesuatu?.” Tanya Andrew lagi. Di kehamilan kedua Fania ini Andrew tidak terlalu tersiksa kala Fania mengandung Andrea dulu.
Andrew tetap kebagian juga yang namanya Cauvade Syndrome, namun tidak separah saat Fania mengandung Andrea. Dulu hanya Andrew yang tersiksa dengan morning sickness dan ngidam yang aneh – aneh. Namun di kehamilan Fania yang kedua ini, Fania juga kebagian ikut ngidam, meski ga macem – macem juga permintaannya.
Hanya pola yang terbalik, dulu Andrew yang nampak payah saat Fania mengandung Andrea, kini terbalik, Fania yang cepat merasa letih. Dan Andrew yang menjadi sedikit lebih sensitif dari biasanya. Namun tetap, Andrew selalu mementingkan Fania dan Andrea juga diatas segalanya.
Dan hal – hal romantis untuk Fania akan selalu Andrew berikan dan lakukan bersama wanita tercintanya itu. Salah satunya ya makan malam romantis ditempat – tempat favorit dan kenangan mereka, baik tempat yang formal maupun yang santai.
Selalu bagi Andrew, adanya Fania dalam hidupnya dan bisa menjadikan wanita itu sebagai istrinya adalah hal yang patut ia syukuri setiap detiknya.
Terlebih lagi, kini mereka akan mempunyai satu anak lagi selain Andrea, yang juga menjadi hal yang Andrew syukuri selain kehadiran Fania dalam hidupnya.
“Aku pengen bersepeda deh ke Harry Potter and The Cursed Hill London.” Andrew menoleh cepat pada Fania saat
istrinya itu bilang ingin bersepeda malam – malam begini. Diluar pula. Yang benar saja.
Begitu kira – kira dalam hati Andrew.
“Kamu kan sedang hamil, Heart ..” Sahut Andrew sambil kembali fokus ke jalanan. “Lagipula sudah pernah kan kita bersepeda malam – malam mengitari London, bahkan sampai ke Winchester Palace. Fania menaikkan alisnya. “Kalau kamu ga sedang hamil enam bulan, aku akan iyakan.” Ucap Andrew sambil lagi mengusap pipi Fania yang wajahnya sedikit bersungut itu.
“Humm..”
“Mirip Andrea kalau wajah kamu seperti itu, Heart..” Ledek Andrew gemas sambil terkekeh pelan.
__ADS_1
“Anak aku, ya mirip lah ..”
“Anak aku juga dong!.” Timpal Andrew. “Kalau aku tidak sering berkontribusi, Andrea dan calon adiknya ini tidak akan ada.” Fania dan Andrew pun sama – sama terkekeh geli dengan candaan Andrew barusan.
Selebihnya Fania dan Andrew mengobrol ringan sembari bersenda gurau di dalam mobil hingga sampai ke Mansion
Utama.
“Oh iya D, ini adiknya Andrea sama juga ga mau cek jenis kelaminnya?.” Tanya Fania saat mereka sudah setengah jalan hampir sampai ke Mansion.
Andrew manggut – manggut. “Iya. Biar menjadi kejutan.” Jawab Andrew. “Ga apa – apa kan?.”
“Ga apa – apa kok.” Timpal Fania seraya tersenyum dan Andrew sedikit mengacak – acak rambut Fania.
“Kamu mau melahirkan dimana rencananya?.”
“Terserah kamu.”
“Sepertinya Papa dan Mama berharap kali ini kamu melahirkan di Indo.”
“Iya sih.”
“Kalau menurut aku sih, ya ga apa – apa kalau kamu memang mau melahirkan disana. Toh disini juga ada Fabiana yang juga akan melahirkan tak jauh berbeda waktu dengan kamu nanti.” Ucap Andrew.
“Ya udah nanti kita bicarain lagi deh. Udah mau sampe juga.” Sahut Fania saat melihat jalanan diluar sudah hampir sampai ke gerbang belakang Mansion.
Andrew mengangguk. “Heart.”
“Huum?.” Sahut Fania dengan hum – man – nya. Terdengar seksi di telinga Andrew. Belum lagi tubuh Fania yang makin nampak sintal itu kini jauh lebih menggoda di mata Andrew. “Kenapa, D..?.”
“Apa kamu lelah?.”
“Engga sih biasa aja. Udah ga terlalu gampang cape kayak waktu tiga bulan pertama.” Sahut Fania. “Kenapa?.”
“Tak apa. Tanya saja.” Ucap Andrew kemudian membuka kaca dan menyapa penjaga pintu Mansion belakang.
**
Mobil yang dikendarai Andrew sudah memasuki area halaman belakang menuju garasi pribadinya dan Reno. Tempat dimana koleksi mobil Andrew dan Reno berikut dua J dan kini Dewa juga ngejogrog disana.
Andrew langsung menutup garasi pribadinya itu rapat – rapat saat mobil sudah ia parkirkan ketempatnya, namun ia belum bergeming dari duduknya. Hanya melepas sabuk pengamannya dan membantu Fania melepaskan sabuk pengamannya juga.
“Kenapa? ..” Tanya Fania sembari tersenyum, sedikit salting karena Andrew menatapnya begitu lekat nan teduh.
“Who loves you?. ( Siapa yang mencintaimu?..)” Andrew sudah memiringkan tubuh sembari mencondongkan wajahnya menghadap Fania sambil mengusap usap kepala dan pipi wanita tercintanya itu.
“You.. ( Kamu .. ).” Sahut Fania yang jemarinya juga sudah membelai pelan satu sisi pipi Andrew.
“Who loves me?. ( Siapa yang mencintaiku? ).” Tanya Andrew lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari Fania.
“Me .. ( Aku .. ).” Jawab Fania.
“Thank You. ( Terima kasih ) untuk cinta kamu sampai dengan detik ini.” Andrew mengecup lembut bibir Fania.
“Apa sayang? ..” Andrew seperti berbicara dengan perut Fania lalu menempelkan telinganya diperut Fania, sembari masih mengusap – usap perut istrinya itu. “Oh .. oke..”
Fania masih tersenyum saat Andrew sudah mengangkat kepalanya lalu menatapnya lagi.
“Adiknya Andrea titip pesan tadi.”
“Apa?.”
Fania terkekeh kecil melihat mimik wajah Andrew yang seolah bisa mengobrol dengan bayi dalam perut Fania.
“Katanya dia kangen sama Poppa nya. Minta dikunjungi.” Andrew memainkan alisnya.
Fania terkekeh geli melihat ekspresi Andrew.
“Kasihan nanti dia ngambek..”
“D! ...”
Fania memekik saat Andrew mengangkat tubuhnya dengan hati – hati keatas pangkuan Andrew yang masih duduk di belakang kemudi, namun sudah memundurkan kursi kemudi itu hingga cukup berjarak dari setir mobil. Andrew menarik dagu Fania, dan tanpa permisi sudah me**gut bibir yang menjadi candunya sendiri itu.
“D, ini di mobil.” Ucap Fania setelah berhasil melepaskan bibirnya dari serangan tiba – tiba sang suami.
“Yang bilang ini kapal laut siapa?.” Sahut Andrew cepat lalu hendak lagi menempelkan bibirnya pada bibir Fania.
Fania meletakkan telapak tangannya dibibir Andrew. “Kita masih digarasi ini.” Ucap Fania yang hendak turun dari pangkuan Andrew dengan mencoba membuka pintu mobil disamping Andrew. Namun tidak terbuka, karena Andrew belum membebaskan kunci otomatis mobilnya itu, meski mesinnya sudah dia matikan.
Mobil masih tertutup rapat, namun begitu hawa dari luar yang hendak memasuki musim dingin itu cukup terasa didalam mobil.
“Memang kenapa kalau di garasi?. Ini bukan yang pertama kali, bukan?.” Goda Andrew dengan seringai nakalnya.
“Iya siiii.”
“Ga kangen memangnya, hem?.”
“Ya kangen.” Sahut Fania. “Tapi ga disini juga. Perut aku nih, ga liat?. Susah kan D .. Ga nyaman juga.” Fania setengah menunduk melihat perutnya lalu menatap Andrew.
“Tidak masalah.” Sahut Andrew yang matanya sudah berkabut itu, terlebih lagi dua pabrik susu bumil yang sedang duduk dipangkuannya itu, berada tepat didepan matanya, cukup membuat Donald Bebek gelisah belakangan ini karena ukurannya terlihat seperti habis diberikan baking powder. Ngembang.
“D .... di kamar aja.”
“Tanggung, Heart ..”
“D, ih ..”
“I’m on fire now, Heart .. apa kamu tega?.” Wajah Andrew nampak mengiba campur msum, campur juga yang sepertinya memang dia bilang kalau keinginan yang berhubungan dengan ‘kebutuhan’* suami sudah mencapai ubun – ubun terlihat dari matanya yang sudah nampak sayu, dan nafasnya yang mulai berat.
“D ..” Fania sedikit menggeliat kala bibir Andrew sudah mulai mengeksplor lehernya.
__ADS_1
“Aku janji takkan lama..” Ucap Andrew dengan suaranya yang sudah sedikit parau. “Ya..?..”
“Hmmm..”
Fania mulai terbuai.
‘Ya udahlah. Masuk Pak Ekooooo!!....’
**
Jakarta, Indonesia ...
Andrew dan Fania sudah berada di Jakarta saat ini. Mereka pada akhirnya memutuskan kalau anak kedua mereka akan dilahirkan di Indonesia. Andrea pun ikut pastinya. Toh dia juga masih home schooling belum bersekolah di sekolah umum, karena Andrew masih mempertimbangkannya.
Fania memperhatikan suaminya yang baru muncul dari lantai dua, menyambangi dirinya yang sedang berkumpul
bersama Dua J dan Jihan serta Prita, berikut Ibu Yuna dan Keluarga Cemara.
Varen ikut ke Jakarta bersama Andrew dan Fania, meski kedua orang tuanya berada di London. Si Abang selalu mau berada dimana Andrea ada. Lagipula sama dengan Andrea, Varen yang cerdasnya diatas rata – rata juga tidak pergi ke sekolah umum.
Jadi tidak masalah baginya mau sekolah pe kaga. Tetep aje si Varen pinter. Meski dua bocah itu tidak bersekolah disekolah umum seperti halnya Nathan, tapi para orang tua tetap memperhatikan pendidikan mereka, dengan selalu menyiapkan guru pribadi baik di London maupun di Jakarta.
“Mau kemana, D?.” Tanya Fania pada Andrew yang nampak rapih dengan kemeja kasual dan celana bahan.
“Aku lupa bilang, kalau hari ini aku ada janji temu dengan kolega aku yang baru datang dari Tokyo.” Jawab Andrew. “Kamu aku tinggal sebentar ya?.”
Fania tak langsung menjawab, sedang menelisik Andrew dari ujung rambut ( eh ujung kepala deh. Botak kan si Donald Bebek ) sampai ujung sepatu pantofel yang dipakai Andrew.
“Rapih banget. Wangi banget.” Selidik Fania.
“Ya masa aku ketemu kolega dengan celana pendek, Heart?. Aku juga pakai parfum yang biasa kok, ga ada yang berlebihan.” Andrew mengangkat satu tangannya dan mengendusi dirinya sendiri. “Lagipula aku juga ga rapih – rapih banget kok ini. Ga pakai jas kerja kan?.”
“Koleganya cewe apa cowo?.”
Fania masih bertanya penuh selidik dengan perutnya yang sudah terlihat membesar itu, hanya tinggal menghitung hari untuk kelahiran anak keduanya dan Andrew.
Andrew tersenyum pada Fania, sementara yang lain hanya cengengesan melihat si Kajol yang terlihat sedang nampak curiga pada Andrew.
“Udah ga ngajak aku, tapi wangi banget kayak gini. Cewe ya kolega kamu?.” Tanya Fania setengah ketus.
“Astaga Heart ..”
Sementara itu dua J cengengesan sambil kasak – kusuk
“Yakin gue sih ga bakalan jadi pergi itu si Andrew.” Bisik Jeff pada John yang langsung manggut – manggut sambil cengengesan seperti dirinya.
“Mentang – mentang aku udah jelek begini, gendut. Bosen liat aku?.” Fania keburu menyambar sebelum Andrew meneruskan kata – katanya.
“Nah kan.” Bisik Jeff lagi pada John dan Jihan yang mendengar kasak – kusuk dua pria yang suka beralih profesi jadi kang gibah juga ikut mesam – mesem pada akhirnya.
Andrew mendengus pelan. “Heart ..”
“Yakin aku cewe itu kolega kamu pasti. Cakep, seksi. Orang kamu dandan spesial begini, rapih banget pake kemeja baru lagi. Wanginya kek pake parfum sebotol.”
Fania membalikkan tubuhnya dan menghempaskan dirinya duduk di sofa pada ruang santai sambil melipat wajah dan mensedekapkan tangannya.
Andrew menghela nafasnya.
Pasalnya dia sudah sedikit terlambat, tapi Fania merajuk karena ga diajak plus curiga.
Kesel sih, tapi mau marah banyak orang, plus ga tega sama istri sendiri. Ditambah sedang hamil besar begitu.
“Ya elah Joooolll ... gitu aje ngambek!.”
Syahelah nyeletukin anak nye.
“Ho oh!.” Priwitan menimpali.
“🎶Biasanya tak pakai minyak wangi ... biasanya tak suka begitu .. saya cemburu.. saya curiga.. takutnya ada main disana..🎶”
Si Syahelah pun berdiri diantara Fania dan Andrew yang berjarak, menggoyangkan badannya tanpa dosa depan si Kajol.
“🎶Solalilali.. Olaolala..🎶”
Dan si Priwitan pun ikutan menggoda Fania seperti emaknya.
“Buka dikit Joss.”
Yah pada akhirnya Andrew pun terkekeh geli seperti lainnya yang melihat Mama Bela dan Prita yang sedang menggoda Fania itu. Kesel si Donald Bebek ga bisa bertahan lama – lama kalau Keluarga Cemara udah punya kelakuan.
“Ya sudah, ya sudah, aku ga jadi pergi kalau gitu.”
Andrew mengalah pasrah dan duduk disamping Fania serta langsung merengkuhnya.
Fania tak menjawab. ‘Eh, ini gue ngompol apa ya?.’ Fania membatin, merasakan seperti ada air yang keluar begitu saja dari bawahnya.
“Aku ganti baju dulu ya.”
Andrew berdiri dari tempatnya.
“Kak, ye diajak ngomong sama lakinye diem aje! ....” Celetuk Papa Herman sambil memperhatikan putri bungsunya yang diem dengan wajah yang nampak seperti sedang mikir.
“Udeh sono Ndru, kalo mau pergi pergi aje. Antepin aje si Kajol. Bawain martabak entar pulang ilang pasti ngambek nye.”
“Eh Kak, kamu ngompol?.”
Dan perhatian semua orang tertuju pada Fania setelah mendengar ucapan Papa Herman yang melihat air mengalir segaris di betis putri sulungnya itu.
“Waduh! Anak entog mau lahiiir...... !!!.”
*
__ADS_1
To be continue...*