
VISITING – Berkunjung
Selamat membaca ....
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Sementara Varen sudah masuk ke dalam sebuah kamar yang berada di lantai satu rumah yang Varen dan Andrea
sambangi hari ini, tempat dimana kakek kandung Varen tinggal. Kamar itu berada sedikit agak diarea dalam rumah.
Andrea masih berdiri ditempatnya sampai wanita yang ditemuinya dan Varen di Sabang keluar bersama seorang wanita yang seusia Gamma.
“Loh, kenapa masih berdiri?”
Wanita yang Varen dan Andrea temui di Sabang berbicara pada Andrea.
“Tidak apa – apa”
“Mari, silahkan duduk” Wanita itu mempersilahkan Andrea. “Oh iya, aku Tara”
“Andrea”
Andrea menyambut uluran tangan wanita bernama Tara itu dengan ramah.
“Kalian ini ada tamu bukannya dipersilahkan duduk”
Tara berbicara pada semua orang yang berada bersamanya dan Andrea saat ini, lalu mengkode Andrea agar mendekat ke sofa panjang untuk duduk.
“Andrea, ini keluarga kami. Aku Tara, putri pertama di keluarga ini. Ini ayahku, Arav. Ibuku, Inggrid. Yang ini adikku, Tami. Sepupu kami, Gita. Dan ini nenekku, Indri”
Tara memperkenalkan satu per satu mereka yang dibilang wanita itu keluarganya pada Andrea.
“Ini Andrea, istrinya Alvarend”
“Halo apa kabar, saya Arav”
Pria yang diperkenalkan Tara sebagai ayahnya dan mungkin seusia Poppa itu mengulurkan tangannya dengan ramah pada Andrea.
“Baik. Senang bertemu” Andrea menyambut uluran tangan ayah Tara dengan sopan. “Andrea” Ucap Andrea.
Tapi hanya ayahnya Tara yang nampak ramah pada Andrea selain Tara. Sisanya sedang memandangi Andrea dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Andrea sedikit risih sebenarnya, tapi sudahlah dia tak mau ambil pusing soal itu. “Senang bertemu kalian semua” Ucap Andrea ramah dan sopan pada mereka yang ada dihadapannya.
“Sungguh sombong sekali kalian, datang bertamu dengan membawa bodyguard masuk ke rumah orang”
Nenek Tara bersuara dan berkata sinis dan memandangi Andrea dengan sinis juga.
“Neekkk ..” Tara menyela neneknya agar tidak cari gara – gara.
Andrea tersenyum saja.
“Jaga bicara anda Nyonya” Tetapi Ammar yang tidak suka mendengarnya. Niki, bodyguard yang satunya pun memandang horor pada neneknya Tara yang memang nampak angkuh itu.
“Ammar ... jangan tidak sopan”
Andrea menoleh pada Ammar seraya menggeleng pelan. “Maaf Nyonya Andrea, wanita itu berlaku tidak sopan pada anda” Ucap Ammar.
Andrea hanya menjawab Ammar dengan gelengan kepalanya, mengkode agar Ammar tidak perlu menanggapinya. Lalu kembali lagi menatap orang – orang yang dihadapannya dengan sikapnya yang nampak elegan.
“Apa anda keberatan jika kedua bodyguard kami ini berada disini, Nyonya?”
Andrea menatap neneknya Tara.
“Tentu saja aku keberatan”
Andrea menampakkan senyum elegan nya juga. “Baiklah jika memang anda keberatan” Ucapnya pelan. “Ammar.. Niki..”
“Ya Nyonya Andrea?” Ammar dan Niki berucap berbarengan.
“Kalian tunggu saja di depan”
“Tapi Nyonya..” Ucap Ammar dan Niki.
“Tidak apa – apa. Kita harus menghormati mereka” Sahut Andrea pada dua bodyguardnya dan Varen itu.
“Tuan Varen meminta kami disini untuk menjaga Nyonya” Ucap Ammar.
“Cih!”
Neneknya Tara terdengar berdecih. Memandang sinis pada Ammar dan Niki.
“Nek!. Sudahlah”
Tara sedikit mendelik pada sang nenek yang tampak angkuh itu. Lalu sebentar saja ia kembali menoleh pada Andrea dan tersenyum padanya. Ayah Tara juga nampak geleng – geleng pada ibu mertuanya itu.
“Ibu, sudahlah! Jaga sikapmu. Mereka sudah jauh – jauh datang kesini untuk menjenguk ayah. Jadi hargailah!”
Neneknya Tara itu nampak mendengus sebal lalu mendudukkan dirinya di sebuah sofa single.
“Maaf untuk ketidak nyamanan kamu, Andrea” Ucap ayahnya Tara. Andrea tersenyum padanya.
“Tidak apa – apa, Tuan” Ucap Andrea.
“Mari, silahkan duduk”
“Terima kasih”
Andrea kembali menoleh pada Ammar dan Niki yang masih berdiri didekatnya. “Tunggulah didepan”
Ammar dan Niki hendak protes. Namun Andrea langsung menyambar.
“Tidak apa – apa. Nanti aku yang bilang pada suamiku, kalau aku yang memaksa kalian tunggu didepan”
“Baiklah Nyonya Andrea” Ucap Ammar patuh, lalu ia dan Niki beranjak ke pintu depan namun tetap berada didalam rumah dan memasang mata mereka ke arah sang Nyonya muda.
**
Di kamar Peter Alexander ...
“Bo.. bolehkah .... aku.... memelukmu ...? ..” Pinta Peter Alexander dengan menatap seolah memohon pada Varen yang masih bergeming dalam posisinya. “Oh .. Tuhan.. terima.... kasih .. akhirnya... kakek .. bisa .. bertemu.. dan .. bahkan .. bisa.. memelukmu..”
Varen pada akhirnya mengangguk dan mendudukkan dirinya disisi ranjang samping Peter Alexander dan membiarkan pria tua yang rentan itu memeluknya dengan sangat erat sembari masih luruh dalam tangisnya.
Peter Alexander menangkup kedua wajah Varen yang masih nampak datar menatapnya.
“Ka .. mu .. begitu... tampan.. seperti... ayahmu ..”
Varen menarik satu sudut bibirnya.
“Ta ... pi .. Kamu .... juga .. mirip .... Anthony...”
“Dia kakekku” Ucap Varen.
“I .. ya.. kamu.. benar .. dia.... merawat.. ayahmu... dengan .. baik.. begitupun.. dengan.. dirimu..”
“.........”
“Tak .. heran ... jika ... Reno..... juga .... dirimu ..... lebih.. mirip .. An .... daripada.. aku.....”
Sejenak keduanya terdiam. Namun Peter masih memandangi cucunya itu dengan pandangan haru saking tak percaya pada akhirnya satu cucu dari putra kandung yang telah membuangnya itu sudi datang untuk menemuinya setelah dua puluh dua tahun.
“Re .... no ... punya .. dua .. anak... bukan ..?”
“Ya. Adikku, Valera namanya” Sahut Varen. Peter manggut – manggut dan tersenyum.
“Ka .... mu... tidak ........ mengajaknya... atau ..... ayahmu ...... yang ..... melarang?..”
__ADS_1
Peter kemudian menunduk lesu. Nampak sedih.
“Valera di London bersama Dad dan Mom”
“Ah.... Kyara ... ibumu.... aku ... juga... punya... banyak... kesalahan... padanya ...”
“Mom sudah memaafkanmu. Dia tidak pernah membencimu. Mom juga titip salam untukmu”
“Iya .... Kyara.. wanita..... yang ... baik.. dulu.. aku .. yang..... menilainya ... padahal .. dia... baik ....... seperti... almarhumah ..... Rina ......”
“.........”
“Re .. no .. tahu .. kalau... kamu ..... datang... kesini... untuk ... menemuiku?....” Tanya Peter yang memandangi Varen kembali. Varen mengangguk.
“Iya dia tahu”
Peter manggut – manggut.
“Dia...... masih .. membenciku ... ya? ...”
“Kau ingin aku menjawab jujur atau bohong?”
Peter tersenyum miris.
“Su .. dahlah.. aku .... sudah ... jawabannya..”
“....”
“A..... ku ... benar.. benar .... merindukannya..... Reno .. putraku..”
“....”
“Ber ... harap ..... sebelum .. aku .. menutup .... mata .. aku... bisa... melihatnya ... walau ... hanya ... sebentar ... saja...... dan .. memeluknya .. mengatakan... pada... ayahmu... betapa... aku.. menyesali... semua.. perbuatan ... burukku... di .. masa ... lalu .. pada... ibunya ... dan .. betapa .. aku... begitu.. merindukannya... ayahmu.....”
Peter menunduk lagi, tubuhnya nampak kembali bergetar.
“Re... no ... ayah ... begitu .. merindukanmu ..... nak ...” Peter luruh dan terbata.
“Akan kusampaikan itu padanya”
Peter tersenyum pada Varen.
“Te... rima .. kasih..”
“Tidak perlu berterima kasih padaku"
Varen kemudian menghela nafasnya. Memandangi sedikit lama Peter yang memandanginya dan menyentuh wajah
Varen lagi.
“Baiklah.. k-”
Varen seolah ingin mengatakan sesuatu namun tak jadi setelah kata pertamanya tadi.
“Sudi .. kah ..... kamu .. memanggilku... kakek? ...”
Varen menghela nafasnya lagi
“Ba-ik lah.. kakek... aku tidak bisa berlama – lama disini. Jadi aku rasa aku harus berpamitan sekarang”
“Ka..... kek ... mengerti...”
Varen kemudian berdiri.
“Kamu... datang .... bersama .. siapa .. nak?......”
“Istriku”
“Is ..tri?..”
“Iya istriku”
“Iya benar. Maaf tak mengundangmu” Ucap Varen.
“Tak .. apa ...”
“Ya ......”
“Me.. ngapa .. kamu .. tak .. membawanya .... menemuiku? ...”
“Dia tidak ingin mengganggu pembicaraanmu denganku”
“Bi... sa..... kamu .. membawanya.. kesini? ... aku... ingin ... bertemu... dengan .... cucu..... menantuku ...”
“Baiklah. Tunggu sebentar”
**
“AAHHH!! ....”
Varen disambut dengan suara teriakan seperti orang kesakitan saat ia keluar dari kamar kakeknya yang terletak agak disudut dalam rumah dan menutup pintu.
‘Little Star? ..’
Varen segera berlari ke ruang tengah dimana sumber suara teriakan itu berasal. Tempat dimana ia meninggalkan Andrea disana. Mata Varen sontak membulat melihat apa yang kini ada dalam pandangannya.
Betapa terkejutnya si Abang, melihat Andrea sedang menduduki seorang wanita yang sekilas ia lihat tadi berada bersama anggota keluarga Alexander lainnya dengan kedua tangan Andrea yang nampak sedang mencengkram kuat rambut dikepala wanita yang ada di bawahnya. Yang kini sudah meronta dan meraung – raung minta dilepaskan.
“LEPAAAASSS!!.. AAHHH!! .... TOLOONG!!....”
Dan mereka yang berada didekat Andrea sedang mencoba melerainya.
“LEPASKAN DIA! YA TUHAAN!!”
“LITTLE STAR!”
**
“Jadi kamu istrinya Alvarend?” Tanya wanita yang mungkin seusia sedikit diatas Momma. Dia, Inggrid yang bertanya pada Andrea. Ibunya Tara, adik tiri Daddy R.
Andrea yang sudah duduk disebuah sofa single bersebrangan dengan wanita itu yang duduk berdampingan dengan suaminya, ayah Tara pun mengangguk. “Iya aku istrinya Alvarend” Jawab Andrea.
“Apa kalian dijodohkan? Karena orang tuamu punya hutang pada suamimu dan keluarganya itu, lalu kamu yang jadi jaminannya?. Karena sepertinya usiamu masih sangat muda.”
"Gampangnya sih dijual atau jual diri" Sindir wanita bernama Gita.
“Tidak” Sahut Andrea singkat. “Alvarend sendiri yang memilihku” Tambah Andrea.
“Berapa memang usiamu?”
“Tujuh belas tahun”
“Apa?!” Tara dan keluarganya berseru bersamaan. Nampak terkejut.
“Kamu, masih usia tujuh belas tahun dan sudah mau dinikahi?”
“Tidak ada yang salah dengan itu menurutku”
“Aneh!”
“Alah, paling – paling MBA. Sengaja melempar diri ke pelukan laki – laki macam Alvarend yang bukan hanya tampan tapi kaya begitu.. kalau engga ya jual diri”
“Jaga bicara anda, tolong”
“Ga usah sok lo!”
“Gita!” Ayah Tara mendelik pada gadis yang bicaranya asal itu.
“Tau lo Git! Jangan kurang ajar, kenapa?!” Timpal Tara.
__ADS_1
“Eh, gue bicara kenyataan ya, jaman gini. Cewek – cewek kayak dia pasti mau hidup senang pakai cara instan! Tapi hebat juga ini anak kecil bisa nge - gaet cowok kakap kayak Alvarend itu! Pasti udah pro dia! Ayam palingan juga. Tapi sok polos!”
“Gita!” Kini Ayah Tara membentaknya.
“Ck!”
Ammar dan Niki datang dengan segera karena mendengar ayah Tara sedikit berteriak.
“Nyonya Andrea, apa ada masalah?” Ammar dan Niki sudah mendekat.
“Tidak Ammar. Jangan khawatir. Kalian kembalilah ketempat kalian tadi. Jangan mendekat, jika aku tidak memanggil”
“Baiklah Nyonya”
****
“Maafkan dia, ya nak?”
“Tidak apa om. Aku paham. Sirik, tanda tak mampu” Ucap Andrea setelah menyesap sedikit teh yang agak panas, yang disuguhkan seorang IRT keluarga itu padanya.
“Apa lo bilang?!”
“Aku bilang, sirik tanda tak mampu. Karena dari nada bicaramu, sepertinya kau merasa kalah saing denganku”
Brak!
Wanita bernama Gita itu kemudian beranjak dari duduknya dan menggebrak meja didepan Andrea. Namun Andrea
tetap dalam mode woles dan memandang pada wanita bernama Gita itu. “HEH! Jangan mentang – mentang lo bawa bodyguard lo pikir gue takut sama lo!. Bukan lo yang bayar juga kan itu mereka!”
“Memang bukan. Suamiku yang menggaji mereka. Tetapi aku juga bukannya tak mampu untuk menggaji jangankan
dua bodyguard, dua belas bodyguard pun aku mampu untuk menggajinya ..”
“Heleh! Bacod aja lo gede!”
“Bahkan ayahku bisa menggaji dua ratus bodyguard sekaligus jika aku yang memintanya”
“Pecun kalo naek derajat begini nih!..”
“Gita!” Tara dan ayahnya sama – sama membentak wanita itu.
“Gita duduk!” Nenek Tara bersuara dan mengkode Gita dengan mata dan gerakan kepalanya untuk duduk kembali. “Memang siapa ayahmu?”
Nenek Tara berpaling pada Andrea. “Entah apa kalian mengenalnya” Jawab Andrea sopan. “Ayahku Andrew Adjieran Smith” Sambung Andrea.
“Apa?!”
Ibu dan Nenek Tara nampak sangat terkejut.
“Jadi, kamu.. anak dari wanita yang bernama Fania? ..”
“Iya betul”
Andrea menjawab dan mengangguk seraya tersenyum.
“Heh! Pantas aja! Ga heran kalau ibumu si Fania itu!”
“??”
“Makanya dia buru – buru menikahkan putrinya dengan putra sulungnya Reno. Heran! Apa kurang harta suaminya dan harta limpahan dari Reno yang dirampas dari kita?! Sampai dia buru – buru menjodohkan anaknya dan anak Reno biar hartanya semakin bertambah! Serakah sekali wanita miskin itu!”
“Inggrid!”
“Memang benar begitu!”
“Ibuku tidak seperti itu, Nyonya”
Andrea menatap ibunya Tara dengan tajam. Namun masih berusaha mengontrol emosinya meski hatinya geram mendengar sang Momma direndahkan.
“Tolong tarik kata – kata anda tentang ibuku” Pinta Andrea baik – baik, masih berusaha sopan. Namun Inggrid malah berdiri dan berkacak pinggang sambil melotot pada Andrea.
“Tidak akan! Ibumu itu wanita miskin, serakah yang sok polos didepan kakak tiriku, Reno. Lalu berlaku murahan hingga ayahmu mau menikahinya!”
SPLASH!
“Argghh!!!! .... Panaas!! ..” Inggrid langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan setelah Andrea menyiramkan teh yang memang sedikit agak panas yang tadi disuguhkan padanya oleh seorang asisten rumah tangga ditempat itu.
“Ma!”
“Inggrid!”
“Tante!”
“Sudah ku bilang untuk mencabut kata – katamu tentang ibuku. Dia bahkan jauh lebih baik darimu” Andrea berdiri dari duduknya.
“Perempuan kurang ajar!” Neneknya Tara hendak menampar Andrea. Namun tak sulit bagi Andrea untuk menangkap tangan neneknya Tara yang tadi terayun untuk menamparnya itu.
“Nyonya Andrea!”
“Sudah ku bilang jangan mendekat jika aku tidak memanggil kalian! Kalian Tuli?!” Andrea sedikit membentak Ammar dan Niki.
“Ma-af Nyonya..”
“Apa tadi anda bilang, aku? Perempuan kurang ajar? Aku rasa kalian yang kurang ajar”
“Akh sak-kiit....” Neneknya Tara melirih dan meringis.
“Andrea, tolong lepaskan tangan nenek” Pinta Tara dengan pelan. Andrea memandanginya namun tangannya masih mencengkram tangan neneknya Tara.
“Lepasin!” Gita tau – tau sudah mendekat dan melepaskan cengkraman Andrea dari tangan istri Peter Alexander itu
dengan cepat dan kasar. Lalu mendorongkan kedua tangannya dibahu Andrea dengan kasar. “Berani lo ya?!”
“Hei!” Ammar dan Niki sudah sigap. "Ka-......."
“Tetap ditempat kalian” Ucap Andrea pada dua bodyguardnya itu. Sementara Tara memegangi neneknya yang kesakitan, serta ayah Tara dan adiknya membawa Inggrid setelah wajahnya disiram teh panas oleh Andrea.
“Cewek kurang ajar lo! Berani – beraninya lo siram tante Inggrid pakai teh panas dan nyakitin nenek gue?!. Ga tau diri! Pecun murahan seperti yang tante Inggrid bilang, sama kayak mama lo!”
BUGH!
Bukan tamparan yang seketika melayang dari tangan Andrea, tapi tinju yang mendarat tepat dihidung Gita yang kemudian terhuyung lalu tak lama ada darah yang keluar dari hidungnya.
**
“LITTLE STAR!”
Tubuh Andrea langsung diangkat Varen dengan segera.
“KENAPA KALIAN DIAM SAJA?!” Varen berteriak pada dua bodyguardnya dengan wajah marah.
“Ma-maaf Tuan, Nyonya Andrea yang melarang kami untuk mendekat”
“Hish!”
Tubuh Andrea yang sudah diangkat Varen dari atas tubuh Gita itu dihadapkan pada dirinya.
“Ada apa ini Little Star?”
“Di..”
“Istrimu merasa tersaingi olehku. Hu-uu.. Dia lalu menyerangku tanpa alasan.. Hu-uu.. Dia bahkan menyiram wajah tante Inggrid dengan teh panas karena Tante mencoba menjauhkannya dariku setelah menyerangku .. Hu-uu..”
“Apa benar begitu, Little Star ..?”
“Istrimu begitu kasar dan menakutkan.. Hu-uu... dia tidak pantas menjadi pendampingmu .. seharusnya dia menghormati kami karena kami keluargamu biar bagaimanapun juga, Alvarend.. Hu-uu..”
**
__ADS_1
To be continue .....