
A PIECE OF BITTER
( Sedikit Kepahitan )
Selamat membaca....
Hospital ( Rumah Sakit )
Varen turun dengan tergesa dari mobil yang ia tumpangi bersama Nathan yang dikemudikan oleh Celine.
“Pelan – pelan Bang!”
“Hati – hati Tuan!”
Nathan dan Celine spontan berseru, karena Varen bahkan sudah turun sebelum mobil yang dikemudikan Celine
berhenti dengan benar di depan lobi Rumah Sakit.
Namun Varen mengabaikan seruan Nathan dan Celine dan dia begitu tergesa memasuki lobi Rumah Sakit untuk
segera bisa melihat dan bertemu Andrea yang katanya sudah bisa diajak berkomunikasi dan berinteraksi dengan normal.
Asa yang diliputi bahagia dalam hati Varen begitu membuncah. Ia begitu tak sabar untuk bertemu dengan Andrea. Bahkan saking tak sabarnya menunggu pintu lift terbuka, Varen naik dengan setengah berlari melalui tangga untuk sampai ke lantai empat tempat dimana ruang rawat Andrea berada.
***
Varen sudah mencapai lantai dimana ruang rawat Andrea berada. Ia berhenti sejenak, untuk sekedar mengatur
nafas.
Ada Daddy Dewa, Daddy R dan Poppa didepan ruang rawat Andrea, selain tiga bodyguard mereka.
Daddy Dewa dan Daddy R berikut Poppa serta merta menoleh saat melihat keberadaan Varen yang kemudian
disusul Nathan dibelakangnya.
Varen pun berjalan mendekat pada tiga Daddynya itu dengan diikuti Nathan. Sementara Celine memilih untuk menunggu di mobil saja.
Dan ketiga Daddy tampan yang masih nampak gagah di usia mereka pun spontan tersenyum dan menepuk serta
mengacak rambut Varen dan Nathan saat dua putra mereka itu muncul dihadapan mereka.
“Hatimu sudah lebih baik sekarang, hem?”
“Lumayan Dad...”
Ketiga Daddy tampan itu manggut – manggut lalu, Daddy R kembali mengusap kepala si Abang hingga membuat
rambut si Abang sedikit bertambah acak – acakan.
“Dan kau?”
“Apa Dad?” Sahut Nathan.
“Kau ikut ‘bermain’ di Playground?. Kau menyukainya?”
“Haard to explain. ( Suliit dijelaskan )”
Nathan geleng – geleng dengan ekspresi wajah yang membuat ketiga Daddy tampan itu terkekeh kecil.
“Bagaimana Little Star?”
Varen bertanya dan nampak sedikit tak sabar untuk segera masuk ke dalam ruang rawat Andrea.
“Hold on, Boy. ( Sebentar, Nak )”
Poppa sedikit menahan tubuh Abang yang hendak masuk ke dalam ruangan.
“Ada apa?”
“Ada sesuatu yang ingin kami katakan padamu terlebih dahulu” Ujar Poppa lagi, membuat Nathan yang tadinya
hendak langsung masuk ke ruang rawat Andrea mengurungkan dulu niatnya dan memilih untuk mendengarkan apa yang ingin Poppa dan dua Daddynya lain mungkin ingin mengatakan sesuatu perihal Andrea pada Abang.
“Something’s wrong?. ( Ada sesuatu yang salah? )” Tanya Varen sedikit was – was.
“A little bit. ( Sedikit )”
“Ada apa?. Papi bilang tadi Little Star sudah baik – baik saja dan sudah bisa berinteraksi dan berkomunikasi dengan normal”
“Itu memang benar” Poppa yang menyahut.
“Lalu?”
Daddy R meremas pelan bahu Abang.
“Little Star ...... sepertinya belum bisa kau temui dulu saat ini”
“Apa?”
Varen tentu saja kaget mendengar ucapan Daddy R barusan. Ia keheranan.
“Ta-pi, kenapa.....?????”
“Little Star .....”
**
“Little Star.....”
“Ya, Dad .....?.....”
“Jika kamu mencari Abang.....”
“Ga apa Dad, Drea ..... mengerti .....”
“........”
“Mungkin, Abang - sudah jijik pada Drea sekarang.....”
( Daddy R nampak terkejut mendengar ucapan Andrea barusan. Ia pun segera menghampiri Andrea )
“Kenapa kamu bicara begitu Little Star?” ( Daddy R menangkup pipi Andrea sembari menatap Andrea dengan
tatapan teduhnya ) “Abang ga mungkin jijik sama kamu...” ( Ucap Daddy R ) “Apa yang kamu pikirkan Little Star ...? ...”
( Poppa datang mendekat )
“Ada apa, hem?”
“Drea paham mengapa Abang tidak disini, Dad .. Pop ...”
“Maksud kamu apa Little Star?” ( Poppa yang bertanya )
“Setelah apa yang terjadi pada Drea .. setelah .... apa ... yang dilakukan oleh laki laki itu .. Abang pasti....”
*“**Little Star listen to me.**( dengarkan aku ) tidak ..”*
“Drea lelah Dad, Pop. Drea mau istirahat sebentar”
( Andrea tersenyum tipis pada Poppa dan Daddy R yang masih menangkup wajahnya itu. Lalu melepaskan
perlahan tangan Daddy R dari wajahnya dan berbaring lalu menutup kedua matanya. Daddy R dan Poppa hanya bisa menghela nafas mereka saja ).
“Little Star, yang sudah terjadi bu..”
“Please Dad, biarkan Drea sendiri. Boleh?”
“Tapi Little Star ..”
“Sekaligus Drea minta tolong, katakan pada Abang tidak perlu menemui Drea”
__ADS_1
“Little Star dengarkan Poppa ...”
“Jangan ganggu Drea!” ( Drea berseru dalam posisinya yang sudah berbaring dan tetap menutup matanya itu )
( Sedikit banyak cukup mengejutkan Poppa dan Daddy R yang memang sedang berada didekat Andrea. Dan
mereka yang berada didalam ruangan cukup terkejut juga mendengar suara Andrea yang sedikit meninggi dan terdengar gusar )
( Pada akhirnya Daddy R mengkode Poppa dengan gelengan agar mengikuti dulu keinginan Andrea saat ini. Poppa mengangguk paham )
****
“Ada apa?”
( Momma yang datang bersama Mommy Ara setelah dari ruangan Dokter Alan melemparkan pertanyaan kala saat ia dan Ibu Peri datang dan memperhatikan wajah – wajah dalam ruangan Andrea nampak sedikit tegang )
( Poppa dan Daddy R menceritakan apa yang Andrea katakan berikut sikapnya tadi perihal Abang. Momma dan Mommy Ara seketika manggut – manggut )
“Lebih baik biarkan dulu aja deh”
( Momma berpendapat )
“Tadi juga Alan bilang, meski Drea sudah bisa diajak berkomunikasi dan berinteraksi dan nampak normal, tapi kondisi psikisnya juga masih dalam tahap observasi” Jelas Momma.
( Momma berbicara dengan sangat pelan dengan Poppa dan lainnya yang berjarak dari brankar Andrea )
“Iya, jadi biarkan saja dulu. Nanti kalau kita memaksa untuk menjelaskan, lalu Little Star malah merasa tertekan, nanti dia menjadi paranoid atau histeris lagi. Lebih baik jika nanti Abang datang, dan Little Star masih seperti itu, kalian bicara dan jelaskan pada Abang”
( Mommy Ara menambahkan ucapan Momma. Poppa dan Daddy R manggut – manggut kemudian )
****
“Jadi untuk saat ini lebih baik kau jangan menemui Little Star dulu secara langsung”
“Ga! Aku mau menemui Little Star sekarang juga! Aku akan menjelaskan padanya bahwa tidak terjadi apapun
padanya!”
“Tenangkan dirimu Boy.. kami sudah berusaha untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, namun Little Star
tadi sempat hampir menjadi tidak stabil lagi”
“Aku tidak bisa tenang” Abang memang sedikit gusar.
“Bang, sabarlah dulu. Give Little Star some times and space to calm herself ( Berikan Little Star sedikit waktu dan ruang untuk menenangkan dirinya sendiri )”
“Daddy R benar, Bang. Tunggulah dulu, kita lihat dulu perkembangan Little Star sampai beberapa jam ke depan. Kami juga sudah bicara dengan Uncle Alan. Dia pun bilang untuk jangan dulu membuat Little Star merasa tertekan .. ada beban dihatinya atas perkiraan dirinya sendiri pada apa yang sudah menimpanya”
“Dan beban itu ia rasa padamu”
“Maka itu akan kuperjelas padanya sekarang!”
Varen bersikukuh, ia tak tenang.
“Tidak ada beban yang perlu Little Star tanggung, dia tidak perlu merasa malu padaku, jika itu yang kalian maksud. Kalian sendiri juga tahu, Little Star tidak sampai 'dikotori' oleh keparat yang sudah ku habisi itu!”
“We understand about it, Boy ... But.... ( Kami mengerti itu, Nak .. Tetapi ) ..”
“Tolong minggir Dad ....”
****
“Little Star ...”
Varen pada akhirnya masuk ke dalam ruangan Andrea dan dengan segera menghampiri Andrea yang berbaring diatas brankarnya.
Daddy R, Poppa dan Daddy Dewa memang cukup sulit menahan keras kepalanya si Abang.
“Slowly Abang...” Ucap Mommy Ara pada sang Putra sebelum Varen melangkah lebih dekat pada Andrea.
****
“Little Star ...” Panggil Varen pada Andrea yang sepertinya sedang melamun itu.
menoleh pada Varen.
“Hey, Little Star ... ga mau peluk Abang?” Ucap Varen lagi dengan lembut sembari tangannya terulur untuk
membelai kepala Andrea, bahkan ingin sekali Varen membawa Andrea yang matanya nampak berkaca – kaca itu dalam pelukannya.
Namun Varen tidak ingin gegabah, karena ia takut menyakiti tubuh Andrea yang nampak masih lemah itu. Andrea hanya memandangi Varen dalam diam. Varen tetap menyunggingkan senyumnya, dengan wajah yang dibuatnya menghadap, untuk menatap Andrea lamat – lamat.
“Abang ...”
“Lit ...”
“Abang tidak perlu ada disini”
Andrea memiringkan tubuhnya kemudian.
“Abang jangan dekat – dekat Drea lagi ...”
“Little Star, dengarkan Abang...” Varen coba lagi berbicara. Ia hendak menjelaskan.
“Pergi, Abang”
“I won’t! ( Aku ga mau! )”
“Aku bilang pergii!! ..”
****
Beberapa waktu kemudian ....
Nathan menghampiri Varen yang berada di luar ruang rawat Andrea setelah Andrea bersikeras menyuruhnya pergi dari hadapan Andrea.
Varen juga sempat bersikeras pada Andrea, namun Momma meyakinkan Varen untuk mengikuti dulu keinginan Andrea saat ini dan Mommy Ara juga ikut membujuk Varen. Pada akhirnya Varen pun mengalah dan mengiyakan untuk tidak berada didekat Andrea saat ini.
Dengan pertimbangan kondisi Andrea, terutama psikisnya. Meski tak rela, Varen undur diri dari hadapan Andrea.
“Bang ... Drea udah lelap kalau lo mau masuk” Nathan duduk disamping Varen yang hanya pergi ke luar ruang rawat Andrea dan duduk di sebuah kursi panjang di dekat meja para suster jaga.
Nathan tak langsung mendapat sahutan dari Abang yang nampak frustasi dan sendu itu.
“Atau lo mau balik dulu bareng gue sama Via?. Lo bisa istirahat sebentar di Kediaman Bang. Sambil nunggu kondisi Drea stabil, gue nanti bantu buat kasih Drea penjelasan yang sebenarnya dan membuat dia sadar tentang apa yang terjadi secara keseluruhan saat di Yacht perempuan laknat itu”
“Lo aja yang balik Than”
“.....”
“Biar gue disini aja” Sambung Abang.
“Tapi lo juga butuh istirahat Bang”
“Little Star beneran sudah pulas?” Tanya Varen mengalihkan.
“Iya...”
“Well, gue lihat Little Star dulu kalau begitu”
Varen beranjak dari tempatnya.
****
“Mendekatlah Bang. Drea sudah pulas kok”
Momma yang baru saja melangkah dari sisi brankar Andrea tersenyum pada Varen yang sudah masuk dalam
ruangan, namun nampak ragu untuk mendekat.
Poppa yang berada didekat Momma juga mengkode dengan kepala licinnya agar Varen mendekat saja, tak mengapa. Varen mengangguk dan melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Lelah begitu nampak di wajah Varen, bercampur dengan cemas dan sendunya.
Namun tetap, meski Andrea menolaknya, meski rasanya perut Varen pun sudah begitu perih dan tubuhnya hampir terasa luluh lantak akibat kurangnya istirahat dan banyaknya hal yang dia lakukan seharian, Varen enggan disuruh untuk makan apalagi pulang ke Kediaman.
Poppa dan Daddy R tetap berada di dekat brankar Andrea, sementara Momma mengistirahatkan tubuhnya di sofa dalam ruang rawat Andrea bersama Mommy Ara yang juga enggan untuk kembali ke Kediaman.
Yang membuat Rery juga ikut tinggal karena khawatir akan kesehatan sang Momma juga Mommy Ara dan akan
menawarkan untuk melakukan setiap hal jika kedua ibunya itu menginginkan sesuatu, beli makanan misalnya. Atau apapun, yang penting dua ibunya yang ia sayangi itu tidak kerepotan atau kelelahan.
****
“Little Star ....”
Varen mengulurkan tangannya untuk membelai kepala Andrea dengan sangat perlahan.
Daddy R dan Poppa sudah menyingkir dari dekat brankar Andrea, untuk memberikan ruang pada si Abang.
“Maafkan Abang, Little Star .......”
Varen berbicara dengan sangat pelan, sembari mengusap kepala dan surai Andrea dengan lembutnya.
“Seharusnya Abang datang lebih cepat .. sehingga kamu tidak akan sampai menjadi seperti ini”
......
“Abang mengerti kamu marah .. Abang telat datang, hingga kamu sempat dipermalukan”
Lirih terdengar ucapan Varen yang pelan itu.
“Abang memang bersalah Little Star .. Abang tidak menjaga kamu dengan baik .. Seharusnya Abang selalu ada didekat kamu.. Abang ceroboh.. maaf..”
Varen terdiam sejenak. Lalu Varen menyunggingkan senyum tipis pada Andrea yang nampak pulas tertidur itu.
“Kalau kamu berpikir b*j*n*an sialan itu sudah mengotori tubuh kamu\, Little Star .. itu tidak sampai terjadi. Meski .. dia sempat mempermalukan kamu .. tapi tidak sampai.. yang kamu takutkan tidak sampai terjadi..”
......
“Tapi tetap sudah Abang bereskan. B*j*n*an sialan itu\, juga wanita keparat yang ingin mempermalukan kamu\, serta membuat kamu sampai begini.. serta membuat kita ke-..”
Varen nampak muram. Bayangan janin di perut Andrea yang terpaksa dia putuskan untuk diangkat membuat
tenggorokan Varen tercekat dengan kuat. Hingga sebulir air mata menetes dari pelupuk matanya.
“Maaf, Little Star .... maaf,... Abang .. harus mengambil keputusan tanpa bicara dulu dengan kamu... maaf ...” Varen tak lagi berbicara, ia tertunduk lesu dengan kedua tangannya diatas kepala.
Hingga sebuah rematan pelan di pundak Varen, membuatnya mengangkat kepala dan mendongak. “Istirahatlah
sebentar, Boy. Kau sudah terlalu lelah”
......
“Sekali – sekali janganlah membantah”
Varen tersenyum tipis, menatap Poppa yang sudah kembali berada didekatnya.
Dan pada akhirnya Varen mengangguk.
****
“Abang mau kemana?”
“Aku akan beristirahat di luar Mom” Jawab Abang pada Mommy Ara.
“Itu kamar tunggu kosong Abang, disitu lebih nyaman” Timpal Momma.
“Iya Bang. Poppa sama Dad R juga mau pergi kok katanya, mereka ga akan pakai itu kamar tunggu”
“Kau saja sana yang beristirahat. Atau kalian berdua lah yang pakai Moms”
“Kami sudah cukup beristirahat di Kediaman” Sahut Ibu Peri.
Varen menarik sudut bibirnya.
“Iya Abang, istirahatlah disana. Muka kamu udah keliatan cape banget”
“Tak apa Mom. Aku takut Little Star akan merasa terganggu dengan kehadiranku saat dia sadar nanti, jika dia melihatku didalam sana” Ucap Varen. “Tak apa, aku diluar saja”
“Abang, mau nih lihat kami berdua ngedrop karena mengkhawatirkan kondisi kamu, selain memikirkan Drea?”
Ucap Momma.
“Mom,....”
“Nurut apa Bang, nurut”
Momma sedikit memaksa, pada sang putra sulung sekaligus menantu yang cukup keras kepala itu.
“Kalau perlu tuh gorden tutup, pintu rapetin. Kalo takut Drea liat kamu disana” Cerocos Momma.
Varen menghela nafasnya.
“Ya sudah, aku istirahat disana”
****
Varen membaringkan tubuhnya diatas sebuah kasur yang terbilang cukup nyaman di dalam kamar tunggu yang
tersedia di ruang rawat Andrea yang memang eksklusif itu. Meski sempat sedikit sulit untuk benar – benar terlelap, namun pada akhirnya lelah yang menyelimuti diri Varen, membuatnya bisa tertidur juga.
Baru beberapa menit saja, Varen mulai kembali pada kesadarannya, saat sebuah sentuhan lembut merayap di wajahnya. Varen pun membuka matanya dan pemandangan dihadapannya membuat Varen terkesima. Seutas senyum dari wajah yang masih nampak pucat, cukup mengejutkannya.
Varen sampai tergesa mengangkat tubuhnya untuk duduk sembari mengusap sedikit matanya.
“Li... Little Star? ...”
Varen sampai tergugu melihat sosok yang tadi menolaknya kini sudah duduk didekatnya, dengan Rery yang berada
juga didekatnya dan memegangi pouch infusan ditangannya.
Varen langsung meraih pelan tangan yang masih bertengger di garis rahangnya.
“Maafin Drea, Abang ..” Sosok yang Varen cinta dengan gilanya itu bersuara. “Sa – yang, Abang ..”
Senyuman lebar langsung terbit di wajah Varen detik itu juga.
“Oh, Little Star ...” Tak ayal Andrea langsung Varen bawa dalam dekapannya.
Haru dan bahagia kini ada dihati Varen, karena Andrea tak lagi menolak keberadaannya lagi sekarang.
“Ma – af, kalau Drea buat Abang sedih ...” Lirih Andrea.
“Engga, sayang. Engga ... justru Abang bahagia sekarang ...”
“Abang pasti kesusahan ya, karna Drea?...”
“Engga! Sama sekali engga” Abang membantah dengan cepat.
“Abang jangan bohong.. wajah Abang, kelihatan lelah banget. Abang begini pasti karena Drea .. iya kan? .. maafin Drea ya Abang, sudah menyusahkan Abang..”
Varen menangkup dengan sumringah wajah Andrea sembari menggeleng.
“I’m okay, very okay now Little Star. Kamu mau bicara dengan Abang seperti ini. Itu sudah cukup buat Abang. Lelah Abang seketika hilang. Lelah Abang juga bukan karena merasa kamu susahkan, sayang” Ucap Varen dengan tersenyum pada Andrea sembari menatap wajah yang ia tangkup dengan kedua tangannya itu. “I love you, Little Star ..” Lalu dikecupi wajah Andrea dari mulai kening, hidung, kedua pipi Andrea.
Hingga saat Varen hendak menyambar bibir Andrea, -
“Mm.. bisa tolong adegan yang itu di skip dulu ga?”
Ah, Rery.. ganggu aja.
****
__ADS_1
To be continue...