THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 119


__ADS_3

☹    BLACK AND DARK    ☹ Hitam dan Gelap


Selamat membaca ...


***************


⚪ Present .. (Masa sekarang) ⚪


DUAAARRR !!!!


Suara ledakan terdengar dari kastil yang merupakan kediaman Uncle Keenan.


“TIIIDAAAAKKKKK!.”


Fania, Ara, Mom, Jihan dan Michelle berteriak bersamaan dengan air mata mereka yang kini berurai deras, menatap kastil yang nampak diledakkan dengan sengaja saat mobil yang mereka tumpangi berjalan dan api nampak menyembul akibat ledakan yang lumayan besar.


“D !!!!!!!.” Fania berteriak histeris memanggil Andrew dengan panggilan sayang yang selalu ia sematkan untuk suami tercintanya itu. Menatap ke arah belakang mobil dengan air matanya yang sudah turun.


DUAAARRR !!!!


Suara ledakan terdengar sekali lagi dari jarak mobil mereka yang sedang bergerak sekarang, berikut warna merah dari kepulan api yang menggumpal kemudian asap hitampun kian nampak.


“D !!!!..”


“RENO !!!!!..”


“DAD !!..”


“JEFF !!!! ..”


“BOO – BOO !!!! ..”


Kelima wanita yang berada didalam satu mobil itu berteriak bersamaan saat ledakan kedua terdengar meski mobil sudah agak jauh dari rumah Uncle Keenan dan suara ledakan kedua tak sebesar suara ledakan pertama yang sampai dikuping mereka.


“D, Kak Reno, Dad, Jeff, Kak Dewa, Kak John ..”


Fania menggumamkan satu per satu nama orang – orang terdekatnya, termasuk suami yang dicintainya, yang ia


ketahui masih berada di rumah Uncle Keenan saat ledakan terjadi. Ia menutup mulutnya dengan tangan, begitu juga dengan keempat wanita yang bersamanya yang air matanya sudah semakin deras membasahi wajah mereka sambil menatap ke arah rumah Uncle Keenan dari kejauhan.


“TURNED ROUND EZRA! (PUTAR BALIK EZRA!).” Teriak Fania. “TURNED ROUND I SAID! (PUTAR BALIK  KUBILANG!).” Fania kini beralih sang supir karena tidak mendapat jawaban dari Ezra yang duduk dikursi penumpang depan.


Supir yang melajukan mobil yang ditumpangi Fania dan empat wanita dalam keluarganya pun bergeming.


“OPEN UP! (BUKA!).” Fania menggedor kaca mobil dengan histerisnya sambil mencoba membuka bukaan pintu


mobil dengan cepat dan kasar. Namun pintu mobil terkunci dengan rapat dan kaca mobil itu begitu tebal ,hingga Fania merasakan kebas ditelapak tangannya. “OPEN UUPPP!!!!.... (BUKAAAA!!!..).”


Fania coba menendang pintu mobil dengan histeris dan begitu frustasi. “Mrs. Fania! (Nyonya Fania!).” Ezra yang seketika panik itu spontan berseru kencang.


“Fania ..” Mom bersuara mencoba memegangi Fania dengan air matanya yang tak berhenti menetes jatuh.


“TURNED ROUND EZRA! (PUTAR BALIK EZRA!).” Fania yang histeris itu kini berteriak lagi. Ia masih nampak


histeris hingga mengabaikan Mom yang coba menenangkannya begitupun dengan tiga wanita lain yang terus menangis, namun mereka mencoba menenangkan Fania yang nampak sudah seperti hilang akal itu.


Fania sudah meremas kasar bagian lengan jas Ezra.


“I can’t Ma’am, I’m sorry.. (Aku tidak bisa melakukannya Nyonya, Maafkan aku..).”


“Sweety ..” Ara bersuara lirih sambil melepaskan cengkraman Fania dari jas Ezra.


“Mereka masih disana ..” Fania pun berucap dengan sangat lirih sambil telunjuk mengarah ke belakang mobil. Air matanya juga terus turun dengan deras. “Mereka semua masih didalam saat kita pergi tadi!.” Ucap Fania dengan terisak.


Ara memeluk Fania dengan air mata yang juga deras turun dari matanya.

__ADS_1


“Kita harus kembali, Kak!.” Fania berseru sambil memegang kedua bahu Ara. “Kita harus menjemput mereka!.”


Kemudian Fania beralih lagi ke Ezra dan kembali meremas jas kerja Ezra juga mengguncangnya.


“TURNED ROUND EZRA! (PUTAR BALIK EZRA!).” Lagi – lagi kalimat yang sama yang meminta Ezra untuk memutar balik mobil kembali ke rumah Uncle Keenan keluar dari mulut Fania, memerintahkan pengawal pribadi kepercayaan mereka itu agar membuat supir memutar balikkan mobil yang dikendarainya.


“Mrs.... (Nyonya) ..”


“GET BACK THERE! WE NEED TO SAVE THEM! (KEMBALI KESANA! KITA HARUS MENYELAMATKAN MEREKA!).” Teriak Fania memerintahkan Ezra, namun pria itu menggeleng pelan, nampak lesu dan sendu.


“Fania ..” Mom kembali memegangi Fania.


“Mom ... bilang padanya untuk kembali Mom..” Fania terisak frustasi. Mom memeluknya dan membelai kepala Fania juga dengan bahunya yang bergetar dan menciumi pucuk kepala Fania dengan kesedihan yang juga ia rasa. “GET BACK THERE, EZRA! (KEMBALI KESANA, EZRA!).” Fania masih belum menyerah pada Ezra agar menurutinya.


“There’s nothing we can do, Ma’am. I’m so sorry. I also really want to get back there, but my order from them is to keeping all of you are save... (Tidak ada yang bisa kita lakukan, Nyonya. Aku benar – benar minta maaf. Aku juga sangat ingin bisa kembali kesana, tapi perintah untukku dari mereka adalah memastikan kalian semua selamat) ..”


Ezra berkata sambil memandangi Fania dengan wajah yang nampak suram, kemudian memandangi keempat wanita yang lainnya.


“But we have to Ezra ... we have to get back .. (Tapi kita harus Ezra .. kita harus kembali) ..”


“I have to keep my promise to them .. (Aku harus menepati janjiku pada mereka..).” Ezra tertunduk lesu. “If  something very bad happen to them.. (Jika sesuatu yang paling buruk terjadi pada mereka..).”


“STOP!.” Sergah Fania dengan kencang pada Ezra. “Even ... even there was an explosion, there still a hope, that they might be survived! .... (Meski... meskipun ada ledakan, masih ada harapan, kalau mereka semua selamat!...) .... That’s why we need to get back there.. (Itulah kenapa kita harus kembali kesana ..)..”


“After that two explosions .... (Setelah dua ledakan itu) ..”


“Our husbands were there (Suami kami semua masih disana).. My D was there.... (D – ku ada disana) ... I beg on you Ezra .. (Aku mohon padamu, Ezra).... let’s get back there and save them (ayo kita kembali kesana dan menyelamatkan mereka) .. Please Ezra (Kumohon Ezra) ..” Fania sudah begitu frustasi, suaranya tercekat, luruh dalam tangis dan isakannya. Fania memohon dengan suara yang menggambarkan kegetiran yang teramat pada Ezra.


“I’m so sorry, Ma’am. Hard for me to say this, but after that two explosions.... it’s impossible for anyone to be survived (Aku sungguh sangat menyesal, Nyonya. Berat untukku mengatakan ini, tapi setelah dua ledakan tadi ... sangat mustahil siapapun bisa selamat) ..” Ezra tertunduk lesu, suaranya pun terdengar parau.


Pada akhirnya tangisan Fania, Ara, Mom, Jihan dan Michelle pun pecah, dan Ezra hanya bisa tertunduk diam dalam mobil yang sudah dilajukan begitu cepat menuju suatu tempat yang saat ini hanya Ezra dan supir yang juga adalah seorang pengawal pribadi yang tahu.


Mobil yang sepertinya sudah benar – benar dipersiapkan para pangeran yang mungkin sudah berpikir jauh tentang hal buruk yang bisa terjadi. Mobil yang memang sudah terlihat nampak kokoh dari luar, dan rasanya mobil tersebut pun sudah didesain anti peluru, mengingat kacanya yang juga lebih tebal, selain lapisan baja yang nampak


Namun sayang, para pangeran dan sang raja tidak menyertai Fania, Ara, Mom, Jihan dan Michelle dalam mobil tersebut.


***


Isakan masih terdengar dari Fania, Ara, Mom, Jihan dan Michelle. Mereka berlima hanya diam dan memandang


kosong dengan air mata yang tak berhenti menetes dari mata indah mereka yang kini terlihat bengkak dan wajah – wajah cantik yang kini nampak sembab.


Fania memandang kearah luar jendela sambil menelan salivanya berkali kali ditenggorokan nya yang terasa begitu tercekat. Namun raut wajahnya tiba – tiba menunjukkan sepertinya ia mengingat sesuatu.


Fania terlihat celingak celinguk mencari sesuatu di samping dan bawahnya. “Kenapa, Kak?...” Tanya Michelle dengan sesenggukan, yang menyadari kalau Fania sedang mencari sesuatu.


“Tas gue..” Ucap Fania pelan sambil masih celingukan. “Hp gue ada ditas, kita bisa coba menghubungi Andrew dan yang lainnya.” Ucapnya lagi. Ara, Mom, Jihan dan Michelle langsung tersadar dengan ucapan Fania barusan.


‘Ah iya handphone, kenapa ga kepikiran?.’ Begitu pikir mereka.


Seperti langsung tersadar kalau masih ada harapan kalau para pangeran baik – baik saja, keempat wanita selain Fania juga celingukan mencari tas mereka.


“Masih ada harapan ..” Fania seketika merasa kalau masih ada asa yang tersisa untuk menghubungi Andrew dan


yang lainnya.


“Tas aku ga ada....”


Kelima wanita itu tidak menemukan tas mereka.


“Where’s or bags Ezra? (Dimana tas kami Ezra?).” Tanya Michelle pada Ezra dengan suaranya yang parau.


“Leethaar and some of our men was keep it (Leethaar dan beberapa orang kita memegangnya).” Sahut Ezra.


“But why? And how was Leethaar and others could have our bags? (Tapi kenapa? Dan bagaimana tas kami bisa dipegang mereka?)” Gantian Ara yang bertanya juga dengan suara yang parau.

__ADS_1


“For safety (Untuk keamanan).” Ucap Ezra. “In case our enemy were made all of you as their targets also (Seandainya musuh kita juga mentargetkan anda semua), thru your cellphones (dari ponsel anda).”


“Give me you cellphones then (Berikan ponselmu kalau begitu).” Ucap Fania. “Call them Ezra! (Hubungi mereka


Ezra!). We still have hope.. (Kita masih punya harapan)..”


Fania kembali berseru pada Ezra dengan binar harapan dimatanya.


Namun Ezra menggeleng. “I’m afraid I can’t do that (Sayangnya aku tidak bisa).”


“Do it! Call them! (Lakukan! Hubungi mereka!).” Fania yang rasanya tak puas mencoba menggeledah jas Ezra


dari tempatnya duduk.


“I also don’t have my cellphone with me..... (Ponselku pun tidak aku pegang) ....” Ezra menghentikan dengan sopan tangan Fania. Lalu melepaskannya juga dengan sopan. “No cellphone in this car.. (Tidak ada satupun ponsel dimobil ini) ...”


“For God Sake Ezra ... (Demi Tuhan Ezra..).”


Harapan Fania seolah terbang. Ia pun menutup matanya sambil menghela nafas frustasi dan kesedihan kembali menaunginya. Namun ada lagi yang terpikir diotaknya.


“How about your communication tool? (Bagaimana dengan alat komunikasimu?).” Fania celingukan dikedua telinga Ezra. “Hah, This! (Nah, ini!).” Fania memegang earphone putih dengan kabel yang tercantel disatu telinga Ezra. “You can talk from here right?! (Kamu bisa berbicara dari sini kan?!).”


Ezra menggeleng pelan. “I’m sorry Mrs. Fania, no more voice I hear from here (Maafkan aku Nyonya Fania, tidak ada lagi suara yang bisa aku dengar dari sini)..” Ucap Ezra. “All communications are off (Semua komunikasi sudah mati) ..”


Ucapan Ezra membuat Fania dan keempat wanita dalam keluarganya itu kembali putus asa dan sedih. Ara nampak teringat sesuatu.


“Ezra! Our kids... how about them? Where are they?. They’re save right? .... Mama Anye.. Prita .. everyone at Mansion?... Are we going back to Mansion? (Ezra! Anak – anak kami.. bagaimana dengan mereka?. Dimana mereka?. Mereka aman kan?.. Mama Anye.. Prita .. semua orang yang berada di Mansion?.. Apa kita akan kembali Mansion?).” Ara mencecar Ezra dengan pertanyaan.


Dan sontak Mom, Jihan, Michelle dan Fania juga langsung teringat pada keluarga mereka yang berada di Mansion saat mereka pergi ke upacara pemakaman Uncle Keenan.


Namun Ezra tak menjawab. Ia nampak mengeluarkan sesuatu dari bawah kakinya sambil melirik rekannya yang


menyetir mobil. Dan kemudian Ezra mengeluarkan dua buah benda yang nampak seperti masker respirator yang biasanya dipakai orang orang yang bekerja di lab atau semacamnya, dan salah satu masker yang dipegang Ezra, ia berikan pada supir yang kemudian langsung mengalungkan masker itu dilehernya.


Ezra pun juga nampak mengalungkan masker yang ia pegang ke lehernya. “Ezra?.”


Mom yang nampak bingung melihat Ezra dan rekan disampingnya itu mengalungkan sebuah masker di masing –


masing leher mereka itu berucap, menyebut nama Ezra dengan keheranan. Begitu juga dengan menantu dan anaknya yang mengernyitkan dahi mereka, karena gerak – gerik Ezra nampak aneh.


“What’s going on, Ezra? ... why you wearing a mask? (Apa yang terjadi Ezra? .... kenapa kau menggunakan


masker?).”


Pertanyaan Michelle mewakili keempat wanita lainnya.


Bukan tanpa sebab, karena Ezra hanya memberikan satu masker pada rekannya tapi tidak pada Michelle dan empat wanita dalam mobil itu.


“Very sorry .. (Mohon maaf dengan sangat ..).” Hanya itu yang ia katakan sebelum ia dan rekannya kemudian


memasang masker menutupi mata, hidung dan mulut mereka.


“What do you mean Ez (Apa maksudmu Ez)...”


Belum sempat Fania meneruskan kalimatnya, sebuah benda berbentuk seperti botol parfum aluminium yang sedari tadi sudah berada dalam genggaman Ezra, kini sudah ia pegang dengan kuat. Dan saat Ezra membuka tutup botol tersebut, dan gas nampak keluar dari dalam botol tersebut.


“What are.. (Apa yang)...”


Belum juga Ara sempat menyelesaikan kalimatnya ia merasakan matanya kian buram, begitu juga Mom, Jihan, Michelle dan Fania yang merasakan juga apa yang dirasa Ara kala gas keluar dari dalam botol, pandangan mereka kian buram lalu badan mereka terasa tak bertulang, hingga akhirnya mereka lemas, dan pandangan buram mereka pun menjadi gelap.


Michelle, Fania, Ara, Mom dan Jihan tak berapa lama benar – benar hilang kesadaran.


***


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2