THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 278


__ADS_3

PLEASE, DON’T GIVE UP!


( TOLONG, JANGAN MENYERAH! )


 


 


Selamat membaca ...


*************************


 


“R!”


Seorang pria yang berada di depan lobi Rumah Sakit melambaikan tangannya saat melihat Daddy R bersama Varen dan Andrea sedang tergesa lari dari arah parkiran.


“Bi! Gimana Nathan?!”


Itu Uncle Bryan yang sudah menunggu Daddy R berikut Varen dan Andrea setelah mengabarkan kalau Nathan berada di Rumah Sakit milik keluarganya yang ada di daerah sekitaran Bogor itu.


Uncle Bi langsung menghubungi Daddy Jeff yang kemudian menghubungi Daddy R dimana Nathan dilarikan setelah kecelakaan yang menimpanya, setelah salah seorang pihak Rumah Sakit mengenali Nathan sebagai salah seorang Putra dari kerabat Uncle Bi.


“Masih ditangani R. Operasinya belum selesai” Ucap Uncle Bryan yang kemudian langsung melesat ke Rumah Sakit dan sebelumnya memerintahkan Dokter – Dokter terbaik yang bekerja di Rumah Sakitnya untuk segera menangani Nathan.


Kebetulan memang Uncle Bi dan keluarganya tinggal tak jauh dari Rumah Sakit milik mereka sejak ia menikah. Baru kemudian ia menghubungi Daddy Jeff.


“Kondisinya sendiri? ...” Tanya Daddy R.


Sambil mengikuti langkah Uncle Bi yang membawa mereka ke area dekat ruang operasi di Rumah Sakit tersebut.


“.... Lumayan parah R, sorry.......” Ucap Uncle Bi dengan wajah yang sendu.


Daddy R berikut Varen dan Andrea menghembuskan nafas mereka dengan berat. Tak lama Poppa bersama      Momma dan Papi John muncul juga di Rumah Sakit dan sudah berada keempat orang tadi di dekat ruang operasi.


“Bagaimana Nathan?!”


Papi John langsung melontarkan pertanyaan saat sudah mendekat pada Daddy R, Varen, Andrea dan Uncle Bi. “Masih ditangani Pi”


“Tapi kondisinya?! ....”


“Lukanya cukup serius. Tangan kanannya patah, lumayan parah. Mobilnya, kalau menurut saksi mata yang membawa Nathan kesini, mobil Nathan menghantam pagar pembatas cukup keras lalu berguling dua kali tak lama api muncul dari bawah mobil"


Uncle Bryan mulai menjelaskan.


"Jadi meskipun Nathan tidak mengalami pendarahan hebat di kepala, seperti laporan yang gue dapat. Tetap saja mereka selain mengoperasi tangan Nathan juga mengecek jika ada luka dalam. Nathan sudah tak sadar saat dibawa ke sini soalnya”


Poppa dan yang lainnya mengusap kasar wajah mereka. Lalu Momma merengkuh Andrea yang sudah menangis


sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.


“Menurut yang menolong Nathan begitu, itu juga mereka yang membantu mengeluarkan Nathan dari dalam mobil


sebelum mobilnya terbakar. Mungkin saat berguling ada bagian tangki yang terbentur keras hingga bocor. Tapi belum tahu pasti sih”


“Omar sedang berada di tempat kejadian sekarang”


Uncle Bi pun manggut – manggut atas ucapan Poppa.


“Bi ...”


“Ya Fan?”


“Yang nolong Nathan masih ada?”


Uncle Bi mengangguk pada Momma.


“Ada, mereka sedang di kafe. Gue yang minta mereka menunggu disana. Mungkin kalian lebih ingin mengorek


informasi, jadi aku minta mereka menunggu”


“Antar Bi, gue mau ucapkan makasih udah mau nolong Nathan”


“Iya ayo”


“Kalian tunggu disini, biar gue bersama Fania pergi menemui mereka yang menolong Nathan” Ucap Poppa pada


Daddy R dan yang lainnya yang kemudian mengangguk.

__ADS_1


“Jeff dan Jihan mau kesini juga?. Gue belum sempat menghubungi mereka lagi”


Papi John berbicara pada Daddy R yang sedang bersandar di dinding dekat ruang operasi


“Sudah Pi. Tadi Papa Bear sudah menghubungiku. Dan katanya mereka segera menyusul kesini”


Abang yang menjawab.


“Ya sudah”


***


Sementara Poppa dan Momma bersama Uncle Bi pergi menemui beberapa orang yang sudi repot menolong Nathan dan segera membawanya ke Rumah Sakit untuk berterima kasih.


Daddy R serta tiga orang yang bersamanya menunggu dalam diam berselimut kekhawatiran juga keresahan menunggu pintu besar ruang operasi tempat Nathan sedang ditangani terbuka.


Waktu terasa lama bagi mereka yang sedang cemas menunggu kepastian tentang kondisi Nathan setelah operasi.


Hingga pada akhirnya pintu terbuka dan dua orang dokter yang masih lengkap dengan seragam operasi berwarna


hijau keluar dari sana, setelah Daddy Jeff dan Mama Jihan datang bersama Daddy Dewa dan Mom Ichel.


Sisanya menunggu kabar di rumah sambil menemani para krucil yang tidak mungkin ditinggal jika para orang tua berikut kakek dan nenek mereka pergi semua ke Rumah Sakit untuk melihat kondisi salah satu kakak mereka.


“Jeff.....” Mama Jihan langsung menggenggam erat tangan Daddy Jeff saat melihat dua orang berseragam hijau yang merupakan Dokter yang menangani Nathan. Daddy Jeff tersenyum menenangkan pada sang istri yang wajahnya amat cemas dan sembab.


“Kita sabar ya?. Mudahan mereka menyampaikan kabar baik”


Mama Jihan mengangguk sambil berdiri, lalu berjalan mendekati dua dokter yang baru saja keluar dari dalam ruang operasi.


“Bagaimana dia?.....” Poppa yang langsung bertanya pada dua dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi


tersebut.


“Nyawa pasien dapat kami selamatkan” Ucap salah satu Dokter yang sudah membuka masker yang tadi menutupi


mulutnya.


“Alhamdulillah .....”


Kelegaan hadir dihati semua orang yang menunggu kabar Nathan. Terdengar juga isakan dari kelegaan yang


keluar dari mulut Mama Jihan dan tiga wanita lainnya.


“Nyawanya memang sudah dapat kami selamatkan. Untuk kondisinya sendiri, kami sudah berusaha semaksimal


mungkin agar pasien mendapatkan penanganan yang terbaik. Untuk bagian tangan pasien yang patah, bisa sudah bisa diatasi dengan baik meski kondisi patahnya juga cukup parah tadi”


Salah satu Dokter mulai menjelaskan.


“Hanya saja ada cedera aksonal difus,  dampak dari benturan kepala dalam kecelakaan yang dialami pasien. Meski tidak terjadi pendarahan, tapi hal itu tetap dapat memicu kerusakan sel – sel otak”


Hati mereka yang sempat lega itu kini tegang lagi.


“Mak – sudnya Dok?”


“Garis besarnya, jika pasien sadar dalam waktu satu kali dua puluh empat jam, berarti cedera aksonal difus di otaknya tidak terlalu parah. Tapi jika melebihi waktu tersebut, kami akan memeriksa lebih lanjut”


“Jadi, mohon maaf, kalau kalian harus sabar menunggu hingga pasien sadar. Kami berharap kurang dari dua puluh empat jam saudara Jonathan sudah menunjukkan tanda - tanda yang positif, maka masa kritisnya dapat dianggap lewat. Seperti itu kira - kira”


“Jika ..... ternyata dalam waktu dua puluh empat jam, putra kami ..... belum sadar juga ..... apa..... itu mengancam nyawanya .....?.....”


“Mohon maaf Tuan, kami tidak merasa berhak untuk menentukan nyawa seseorang. Kami harus juga menunggu sampai waktu dua puluh empat jam itu jika pasien memang belum sadarkan diri. Setelahnya baru kami bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut tentang kondisi pasien”


“Kemungkinan yang bisa terjadi... apa saja? Tolong katakan ...”


“Pembengkakan otak, koma, hingga kematian”


*****


Sudah lebih dari dua puluh empat jam terlewat. Namun tanda – tanda positif dari Nathan belum terlihat.


“Bagaimana Dokter?”


Itu Daddy Jeff yang berbicara. Tak sabar ingin tahu bagaimana kondisi Nathan dan kemungkinan apa yang harus dirinya dan Mama Jihan hadapi, terkait kondisi sang putra yang mereka harap dalam satu kali dua puluh empat jam ini membuka mata.


Tak hanya Daddy Jeff dan Mama Jihan yang menunggu setiap kata yang keluar dari Dokter yang khusus


menangani Nathan.

__ADS_1


Semua anggota keluarga kecuali para adik selain Mika yang dititipkan pada para pengasuh mereka di Kediaman, sementara para orang tua berikut para kakek dan nenek sudah berada di Rumah Sakit sekarang.


Karena satu kali dua puluh empat jam telah terlewat dan tanda – tanda positif atas Nathan yang diharapkan


membuka matanya tak ada.


Dokter sudah memeriksa. Dan kini sudah berhadapan dengan Daddy Jeff dan setiap anggota keluarganya.


“Ada pembengkakan yang cukup serius pada otak saudara Jonathan ...”


*****


“Bangun Tan, gue kangen resenya elo, tau ga???...”


“Bangun Than, kamu kan masih harus berjuang?. Bangun, kita yang akan bantu Nathan berjuang nanti. Jangan


menyerah Tan, yuk bangun, habis ini kita Liburan”


“Bangun Boy, kau berhutang cucu pada kami...”


Nathan dinyatakan koma, setelah waktu dua puluh empat jam dilewati tanpa Nathan memberikan reaksi.


Daddy Jeff yang selalu berada disamping Mama Jihan kemudian menggenggam tangan sang istri yang sedang


menggenggam tangan putra mereka yang terbaring diam diatas ranjang tempat tidur dengan beberapa selang yang dihubungkan ke tubuhnya.


“Nathan marah sama Mama, iya? ... Nathan marah karena Mama dan Daddy tampar Nathan? ... Nathan marah


sama Mama, karena Mama bilang Nathan bejat, iya?. Makanya Nathan ga mau bangun, hem?”


Mama Jihan berkata lirih, dimana Daddy Jeff menelan pekat salivanya.


“Nathan tega lihat Mama, Daddy, Aina dan semua sedih begini ...?... Apa Nathan benci pada Mama dan Daddy


makanya Nathan hukum Mama dan Daddy dengan cara seperti ini? ... Nat – han... Nathan ga kasihan kah pada kami? ... ga kasihan sama Mama? ... Bangun Nak... Mama janji ga akan cerewetin Nathan lagi ...”


“Ji ...” Daddy Jeff yang sama sedihnya dengan Mama Jihan pun kian tercekat melihat sang istri yang nampak begitu sedih dan frustasi.


“Nat – han... katanya mau memperbaiki diri ... mau menunjukkan pada Mama dan Daddy... mana? ... kalau seperti ini ... Nathan mana bisa menunjukkan pada kami ...??? ... Bangun Nak – Mama ga akan tagih pembuktian diri Nathan soal perbaikan diri ... cukup Nathan membuka mata aja Nak, cukup Nathan hidup dengan baik ... Mama dan Daddy pasti bahagia ... Bangun yuk, nanti mama masakin semua makanan kesukaan Nathan ... bangun – nak... ba - ngun ... Nathaannn ---- ...”


Daddy Jeff tak sanggup berkata apa – apa melihat sang istri yang kemudian luruh dalam tangisnya sembari menelungkupkan wajahnya diatas tangan sang putra. Tak ada lagi ucapan dari mulut Mama Jihan selain isakan yang menyayat hati.


Daddy Jeff merengkuh tubuh Mama Jihan yang nampak begitu rapuh saat ini.


Sama, Daddy Jeff pun merasa sama rapuhnya dengan Mama Jihan. Namun Daddy Jeff sekiranya harus lebih tegar,


demi menguatkan Mama Jihan


Mata Nathan masih terpejam, nampak begitu tenang. Tertidur begitu lelapnya.


Meski Nathan masih bernafas, namun tak ada gerakan dari tubuhnya selama satu minggu ini. Bahkan sekedar


gerakan mata.


Rasa takut masih menyelimuti karena ‘tidurnya’ Nathan sekarang menciptakan berbagai kemungkinan.


Dan segala kemungkinan itu akan terjadi atas ijin Tuhan.


Apa Nathan akan terbangun atau Nathan kian terlelap dalam tidur di keabadian?.


*****


Suami yang ditinggal istrinya disebut Duda...


Istri yang ditinggal suaminya disebut Janda...


Anak yang ditinggal orang tuanya dapat disebut yatim piatu...


Tapi ...


Apa sebutan untuk orang tua yang ditinggal anaknya? ...


Tak ada ...


Karena perasaan orang tua yang ditinggal anaknya itu ...


Bak sesuatu yang begitu besar dan berat yang membentur dada dengan kerasnya, hingga menghimpit jantung ... menyumbat ketat pita suara ...


Tak terlukiskan sakitnya...

__ADS_1


*****


To be continue ...


__ADS_2