
♣ A LITTLE BIT COMPLICATED ♣ Sedikit Rumit
Selamat membaca .....
Prita sudah selesai mandi dan sudah turun menghampiri John diruang tengah.
“Loh bajunya kenapa ga dipakai?.” Tanya John ada Prita yang malah mengenakan kaosnya yang lain, bukan baju yang tadi dia minta orang membawakan.
“Ogah banget pake baju yang tadi. Mendingan kaos gue pinjem kaos lo lagi lebih adem.” Jawab Prita dengan wajah sebal. “Nanti gue balikin.” Ucap Prita.
“Ck!.”
John berdecak. Sedikit cemberut, karena kaos yang Prita gunakan adalah kaos yang fit bodi kalau John yang pakai, dan kini dipakai Prita pun kaos itu tidak terlalu longgar. Membuat dua bukit yang berada dibaliknya sedikit tercetak.
"Ih jangan ribet deh, Kak. Soal baju doang."
“Ya udah ayo!.”
John mengambil kunci mobil, dompet dan ponselnya, lalu menggandeng Prita.
“Kak John mau ajak gue kemana emang pagi – pagi gini?.”
“Rahasia.” Sahut John sambil tersenyum. “Kamu ga ada acara kan hari ini?.” Tanyanya dan Prita menggeleng.
“Paling ya mampir ke kafe. Kalau dance ga ada kegiatan tiga hari ini.”
John manggut – manggut.
“Ya sudah, yuk.” Ajak John sambil membuka pintu apartemennya.
Prita mengangguk.
“Eh iya Kak, bisa mampir ke apartemennya Diana dulu ga?. Gue mau ambil hape gue disana.”
“Apa sih yang engga untuk kamu Prita?.”
John mengerlingkan satu matanya pada prita.
“Dih, kenapa lo jadi ganjen gini sih, Kak?.”
“Efek jatuh cinta mungkin?.” Ucap John yang membuat Prita sedikit geli tapi juga bahagia dengan kelakuan John saat ini. Terlebih lagi saat John menelusupkan jemarinya dan jemari Prita agar terpaut satu sama lain.
Mereka berjalan santai menuju lift layaknya dua sejoli yang dimabuk cinta. Si bule koplak sih rasanya yang tampak terlalu mabuk dengan cintanya pada Prita. Sementara Prita, meski bahagia, namun tidak terlalu menunjukkannya.
‘Tuhan yang tahu betapa bahagianya gue bisa dapet pernyataan cinta lo, Kak. Tapi ....’
***
Jeff sudah menapakkan kakinya di Jakarta, kemarin saat di London ia mengerjakan segala PR – nya disana dengan cepat namun tetap mengutamakan ketelitian agar bisa buru – buru lagi terbang ke Jakarta untuk menemui Nathan sekaligus mengurusi bisnis pribadinya serta yang utama adalah mengejar cinta Jihan.
Tak mau kalah jauh dari si John yang katanya mau nembak si Prita dan Jeff belum mendapat kabar terbaru tentang hal itu.
Ia melirik arlojinya saat sudah berada didalam mobil. Setelah masuk dan mendudukkan dirinya dikursi penumpang ia bergegas meraih ponselnya. ‘Gue penasaran si John jadi nembak si Prita ga?.’
“Tuan Jeff, kita kemana?. Ke Rumah Utama atau ke apartemen Tuan?.” Tanya pak supir dari balik kemudi.
“Ke Rumah Utama saja.”
“Baik Tuan.”
“Eh iya, John ada di Rumah Utama?.” Tanya Jeff pada supir keluarga itu.
“Tidak ada Tuan, semalam Tuan John tidak menginap di Rumah Utama.” Jawab Pak supir yang sudah melajukan mobil menuju Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith di Jakarta. Jeff pun manggut – manggut.
***
Triiiing.....
Nada dering ponsel John terdengar berbunyi dari dalam sakunya.
“Tolong terima Prita.” Ucap John sambil menyodorkan ponselnya pada Prita agar menerima panggilan karena dirinya sedang mengemudi dan ponselnya belum diletakkan di penyangga ponsel dalam mobilnya.
“Kak Jeff ini, Kak. Ogah ah!.”
Prita menyodorkan kembali ponsel John pada si empunya. Sedikit enggan karena nama Jeff yang tertera dilayar.
“Loh kenapa memang kalau itu Jeff?.”
“Males aja. Minta video call lagi.” Sahut Prita. ‘Pasti dia kepo deh kalo liat gue sekarang jam segini udah sama kak John.’
“Udah terima itu panggilan videonya Jeff. Simpan disitu aja.”
__ADS_1
John pun menunjuk ke phone holder dimobilnya.
“Widih!. Udah berduaan aja kalian jam segini?.”
Jeff tersenyum lebar saat wajah Prita terpampang dilayar ponselnya. Prita mengabaikan senyuman lebar Jeff yang mengarah ke ledekan pastinya.
‘Kan gue kate ape. Lemes pasti mulutnya ini bule gila!. Untung gue udah ganti baju. Coba kalo dia ngeh gue pake
kaosnya Kak John tadi, pasti berita hoax sudah menyebar dari mulut dia!.’
“Ganggu aja lo!. Kenapa?.” Sahut John seraya bertanya.
Jeff nampak terkekeh. “Prita .. coba lihat mukanya sini.” Goda Jeff karena Prita mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Sementara John hanya tersenyum sambil geleng – geleng karena Jeff nampak sedang menggoda sekaligus meledek Prita dari layar ponsel.
“Jadi ditembak belum sama Kakak John?.” Ledek Jeff lagi dan Prita spontan menoleh sambil mendelik pada John yang hanya senyam – senyum sambil mengemudi. Jeff terdengar terkekeh lagi di ponsel.
“Apaan sih Kak Jeff ih gaje banget!.”
“Cie .. malu – malu empus nih dek Prita. Udah ditembak ya?.”
Prita mencebik sambil melirik sinis pada Jeff. "Tau ah."
“Gimana Kakak John jadi nembak Adek Prita?.” Ledek si bule gila lagi.
“Gue selangkah lebih maju yang jelas dari lo!.” Sahut John sambil terkekeh.
“Ciiiieee..... yang ditembak pake cinta ...” Jeff kembali menggoda Prita yang wajahnya kini merona. “Diterima ga?.” Tanyanya tanpa menghilangkan wajah iseng miliknya itu.
‘Kok Kak Jeff bisa tahu sih?.’
“Menurut lo?.” Celetuk John karena Prita tak menyahut pada Jeff.
CUP!.
John mengecup pipi Prita dengan tiba - tiba dihadapan Jeff yang masih terhubung dalam video call.
“Kak ih!.” Prita spontan terkejut karena John yang mengecup pipinya dan disaksikan oleh sibule gila.
“Oh My Goood .. gue ke salip!.” Jeff tergelak. “Ciie Prita, merah tuh mukanya.” Masih terus menggoda Prita yang jadi salah tingkah dan John terkekeh geli.
“Tahu apa?. Soal si John yang mau nembak lo?.” Sahut Jeff yang masih cengengesan.
“Iyee.”
“Gimana ga tahu, orang Kakak John pengumuman sama kita – kita orang soal dia yang mau nembak lo.”
“Hah?!.”
Prita sontak terkejut mendengar ucapan Jeff barusan.
‘Berarti Kak Fania udah tau?.’ Batin Prita was – was. Ia sontak mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. ‘Tapi kan baru taunya Kak John yang nembak gue kan?. Belum tau jawaban gue kan?.’
“Sebelum nembak lo dia sudah hubungi R duluan soal rencananya menyatakan cintanya pada lo, tau ga?.”
“Beneran Kak John?!.”
Prita beralih pada John dan laki – laki itu mengangguk dengan santai.
“Ish Kak John nih! Ngapain sih pake gembar – gembor segala!.”
Dua J terkekeh bersama.
“Dengar ya Dek Prita, adikku sayang, pacarnya John sekarang.” Celetuk Jeff. “Tidak ada rahasia diantara kami para pria Adjieran Smith asal lo tau.”
“Ck!.”
‘Para pria?. Jadi Cuma Kak Andrew, Kak Reno, Kak Jeff sama Kak Dewa aja dong yang tau?. Berarti Kak Fania
belum tau kan?.’
Prita bertanya – tanya dalam hatinya.
‘Tapi Kak Andrew bisa aja udah kasih tau ke Kak Fania. Tapi kalo udah denger berita soal Kak John yang nembak gue, meski belum jawaban gue juga pasti Kak Fania udah telpon kalo engga WA gue bertubi – tubi. Tapi ga ada miss called ataupun pesan dari dia..’
Prita masih membatin, mengabaikan ocehan Jeff yang tak lama tak terdengar lagi. John memperhatikannya yang tiba – tiba terdiam dan nampak sedikit panik.
“Kenapa Prita?, hem?.” Tanya John sambil membelai kepala Prita.
“Ga apa – apa Kak.”
__ADS_1
Jeff juga nampak memperhatikan Prita dari layar ponsel.
“Kok tiba – tiba diam begitu?.” Tanya John lagi.
“Ga apa – apa, Kak. Cuma keingetan sama list jadwal dance, lupa naro dimana.”
“Oh.” John pun hanya ber oh ria dan fokus lagi pada jalanan.
“Ya sudah new couple. Nanti gue sambung lagi. Gue baru banget sampai Jakarta.” Ucap Jeff sebelum mengakhiri
video call nya.
“Oh lo sudah di Jakarta.” Sahut John.
“Yap. Gue istirahat sebentar di rumah. Nanti sore gue ke Bandung.”
“Selamat berjuang, Bro!.” John berlagak menyemangati Jeff sambil terkekeh.
“Lo boleh selangkah didepan sekarang John. Tapi akan gue pastikan kalau gue dulu yang akan naik ke pelaminan dengan Jihan.” Ucap Jeff pede.
“Doaku bersamamu, Brother!.” Sahut John lagi. Dan dua J, lagi – lagi terkekeh bersama.
“Oke deh, Bye.”
“Bye!.”
Jeff pun memutuskan panggilan videonya ke ponsel John.
Selang beberapa menit kemudian nada notifikasi pesan terdengar dari ponsel Prita.
‘Kak Fania belum tau soal John yang nembak lo kok, Prita.’
Sebuah pesan dari Jeff membuat was – was dalam hati Prita akhirnya pergi.
‘Hhhhh.. syukur deh.’
Prita menghela nafas lega, sambil mengetikkan pesan jawaban pada Jeff.
‘Thanks ya Kak Jeff. Jangan kasih tau Kak Fania dulu ya, soal gue dan Kak John.’
‘Iya gue paham. All of your brothers ( Semua kakak laki – laki lo ) pun paham.’
‘Thanks once again, Kak.’
‘You are very welcome, Sweety ( Sama – sama, Sayang ).’
“Kamu berkirim pesan sama siapa, hem?. Kak Fania?.”
“Bukan Kak. Sama Diana.”
“Oh.” Sahut John singkat. “Eh iya, Kak John penasaran deh reaksi si Kajol kalau tahu kita berdua sekarang punya hubungan. Pasti kamu .. kita diledek habis sama dia ya? ..”
Prita tak menyahut, hanya sedikit tersenyum dan mengangguk pada John.
“Gimana kalau kita hubungi dia sekarang?.” John hendak men – dial nomor Fania dalam ponselnya yang tertempel di phone holder.
“Eh.. Jangan! Jangan!.”
John sedikit merasa aneh pada sikap Prita.
“Kenapa sih?. Kamu ga sedang marahan sama Fania, kan?.”
“Enggalah.”
“Hem .. terus kenapa?.”
“Ga apa – apa. Nanti – nanti aja kasih tau Kak Fanianya.” Ucap Prita. “Lagian kita aja jadian sehari juga belom. Ga usah gembar – gembor dulu lah.”
“Masih ga percaya ya kamu sama Kak John?.” Ucap John sambil menoleh sesekali kepada Prita dan juga jalanan. “Masih ragu ya sama kesungguhan Kak John kekamu?.”
“Sedikit.”
John tersenyum sambil mengusap pelan kepala Prita. “Ya sudah, nanti kalau kamu sudah yakin sepenuhnya dengan perasaan Kak John, baru deh kita kasih tahu si Kajol.”
“Iya Kak....” Sahut Prita. ‘Prita percaya sama perasaan Kak John, tapi Kak Fania yang kayaknya engga bakal percaya gitu aja.’ Prita membatin.
To be continue.....
**Ritual Jangan lupa Yeeeee para reader yang blaem - blaem
__ADS_1