THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 232 – VAREN & ANDREA - SERIES


__ADS_3

# NUNU NANA #


**********


Selamat membaca.....


 


“Little Star, hari ini Abang ga antar kamu ke sekolah ya?. Abang mau ke Perusahaan dengan Daddy R dan Poppa”


“Iya ...”


“Ga apa – apa kan?” Tanya Varen saat mereka berdua sudah selesai Subuh berjamaah. Andrea tersenyum.


“Iya ga apa – apa”


“Tapi nanti pulang sekolah kamu Abang yang jemput”


“Hari ini Drea agak telat pulangnya. Mau pemilihan Ketua OSIS yang baru sama mau rapat soal Pensi dulu” Ucap Andrea. “Abang juga kalau kiranya hari ini repot, ga usah maksain jemput Drea. Toh ada Ammar”


“Ya sudah nanti kita berkabar saja ya?”


Andrea pun mengangguk dan segera masuk ke dalam walk in closet untuk bersiap – siap ke sekolah. Sementara Varen keluar lagi dari kamarnya dan Andrea sekarang, karena satu dan lain hal.


**


Di dalam walk in closet ..


Andrea mematut dirinya di cermin besar sebuah bufet yang kini jadi meja riasnya. Beberapa printilan milik Varen seperti parfum dan sebagainya juga ada di bufet yang cukup besar itu. Sementara printilan milik Andrea menguasai delapan puluh persen bufet yang cukup besar tersebut.


Angan Andrea melayang sembari ia berpakaian. Ingatannya mundur pada apa yang terjadi semalam.


“Eh, maaf. Abang mengganggu kamu ya?”


“Engga kok Bang, Drea belum pulas”


“Ya sudah kita tidur sekarang, hem? Besok kan kamu masih sekolah?”


“.....”


“Selamat malam, Little Star, My Little Wife”


“.....”


“Kenapa, hem?”


“Engg.. itu ... “


“Apa, hem?”


“.....”


“Ada yang mengganggu pikiran Drea?”


“Engga, sih ..”


“Katakan saja kalau ada yang ingin Drea sampaikan pada Abang”


“Engg, ga jadi”


“Ada apa sih? Jangan menyembunyikan sesuatu dari Abang. Bilang saja. Kalau ada sikap atau ucapan Abang yang tidak mengenakkan Drea, jangan sungkan untuk mengatakannya, biar Abang bisa koreksi diri”


“Eh, engga kok bukan itu!”


“Lalu?”


“Engg .. Abang .. apa ga meminta .. hak Abang sebagai suami Drea ..?”


“Huum soal itu ya..? Abang ...”


“.....”


“Drea jangan tersinggung tapi ya?”


“.....”


“Abang kok rasanya .. masih sungkan untuk itu. Drea kan masih pakai seragam, Abang kok merasa Drea ini masih Little Starnya Abang, Drea kecilnya Abang”


‘Cih! Mana ada anak kecil yang ukuran dadanya 36 D?’


Andrea menggerutu dalam hati.


**


“Abang kok rasanya .. masih sungkan untuk itu. Drea kan masih pakai seragam, Abang kok merasa Drea ini masih Little Starnya Abang, Drea kecilnya Abang”


“Drea sudah tujuh belas tahun Abang, Drea juga sudah paham soal itu”


“Iya Abang tahu. Anggap saja Abang belum siap”


“Sebagai wanita Drea ini kurang menarik ya Abang?”


‘Bahkan kamu lebih dari menarik untuk Abang, Little Star ...’


Angan Varen terbang ke momen semalam saat ia tengah dalam perjalanan dalam mobil yang ia tumpangi bersama


Daddy R, dan seorang supir yang mengemudikan mobil tersebut.


Tuk!


Gulungan koran ditangan Daddy R mendarat pelan dikepala Varen yang Daddy R perhatikan nampak melamun itu. “Pagi – pagi jangan berpikiran kotor” Ledek Daddy R. Varen yang spontan menoleh pada Daddynya saat kepalanya terasa dipukul sesuatu itu langsung terkekeh.


“Enak saja”


“Apa semalam begitu menggelora sampai kau terbayang – bayang terus?” Ledek Daddy R lagi sambil mesam – mesem kini.


“Aku belum menyentuh lah!”


“Benarkah?”


“Apa aku pernah berbohong?” Varen balik bertanya.


“Amazing sekali putraku ini! Pertahananmu patut diacungi jempol”


“Of course lah! Aku kan tidak seperti kalian my Daddies yang mesumnya diatas rata – rata pada para Mommies ku!”


“Heh! Kau belum merasakannya saja!” Ledek Daddy R yang kemudian terkekeh.


“Whatever”

__ADS_1


“Jujur padaku, apa kau benar – benar masih perjaka?”


Varen spontan mendelik mendengar pertanyaan sang Daddy. “Of course I’m still virgin! (Tentu saja aku masih perjaka!) Hish! Pertanyaan macam apa itu?! Aku bukan seperti Papi dan Papa Bear dulu, okay?!”


“Okay, Okay” Kekeh Daddy R.


“Ck! Sudah tahu mataku ini hanya melihat Little Star. Wanita diluaran membuatku jijik! Masih saja berpikir konyol!”


Daddy R tergelak.


“Memang kau tidak merasa tergoda?”


“Sudah aku bilang aku jijik pada wanita diluaran!” Protes Varen lagi.


“Aku bukan bicara soal wanita lain, bocah tengik. Haahh... kau ini!”


“Lalu maksud pertanyaanmu tadi?”


“Little Star lah. Apa kau tidak tergoda olehnya? Little Star mewarisi tak hanya wajah cantik Momma kalian. Tapi juga bentuk tubuhnya. Bukan rahasia umum kalau body Little Starmu itu, mewarisi bentuk tubuh seksi para Mommies mu”


“Ck!”


Varen berdecak sebal pada sang Daddy, kemudian ia memalingkan wajahnya kearah jendela mobil. Daddy R terdengar terkekeh lagi disampingnya.


“Yeah .. untuk ukuran anak tujuh belas tahun... Andrea boops itu hampir sama sizenya dengan para Mommies kalian”


“Seriously Dad?! (Yang benar saja Dad?!). Kau berbicara tentang hal itu? Cih! Benar – Benar!”


“Hahaha!!! ....”


“Little Star itu anakmu juga! Masa memperhatikan sampai sebegitunya?!” Protes keluar lagi dari mulut Varen.


“Aku ini sedang bicara dari perspektif pria bodoh! Kau pikir aku tak bermoral?!”


Gantian Daddy R yang protes.


“Ya habis Dad membahas bentuk tubuh Drea?!”


“Aku kan hanya bertanya ... apa kau tidak tergoda dengan Little Starmu, karena dia termasuk dalam kategori seksi, bocah tengik!. Aku membahasnya sebagai bentuk kebanggaan saja memiliki putri cantik nan seksi...”


“Haish ...”


“Jangan bilang kau tidak menyadari itu?”


“Masa bodoh!”


“Haha!”


‘Dad tidak tahu saja, aku bukan menyadari lagi. Sejak Little Star berumur lima belas tahun pun aku sudah sadar kalau bongkahan didepan dan belakangnya itu sudah over size dari para gadis seumurannya’


Varen membatin sambil melengos lagi kearah jalanan dari jendela mobil disampingnya.


‘Dan aku sudah hampir gila menahan untuk meminta hakku sebagai suaminya, mengingat Little Star masih berseragam SMA ...’


***


Minggu berganti..


“Jadi Abang belum nyentuh lo sampe sekarang, Drea?!” Tanya Nathan berikut raut wajahnya yang tak percaya, setelah Andrea bercerita soal hubungan ranjangnya dan Varen yang belum dilakukan sampai sekarang, karena Nathan yang kepo itu selalu memancing – mancing Andrea untuk bercerita padanya soal urusan pribadinya.


Andrea hanya mengangguk saja sambil mendekap bantal kursi di kamar Nathan yang tadinya sedang bermain game di pc, namun langsung meninggalkan permainannya setelah mendengar cerita Andrea. Nathan sampai geleng – geleng tak percaya.


“Ck! Ck! Gilaa kuat banget itu si Abang imannya. Padahal kan pabrik susu lo itu lumayan bisa bikin dia sesak nafas!”


“Ish! Ga sopan lo!” Protes Andrea.


“Yee gue sih bicara kenyataan Cute Girl sengklek! ... memang boops lo gede diatas rata – rata cewe seumuran lo. Makanya gue heran si Abang ga ngiler ama itu pabrik susu lo.. Kalau bukan Abang pasangan lo, gue rasa lo sudah diobrak – abrik!. Nah pabrik susu lo itu aja udah gemoy banget!”


Nathan tertawa geli. Sementara Andrea mengerucutkan bibirnya.


Yah, bukan sepenuhnya salah si Tan – Tan atau para orang tua yang sering memberikan nasehat padanya dan saudara yang lain, tapi pergaulan dan canggihnya teknologi yang bisa membuat Tan – Tan dan muda – mudi sepertinya kadang melenceng dalam pergaulan mereka.


Bahkan anak – anak usia belasan yang usianya dibawah Andrea pun banyak sekali yang sudah paham tentang hal – hal yang berbau dewasa.


Jadi salah siapa?.


“Atau mungkin Abang takut disangka pedofil kali kalo make elo, Drea?!” Ledek Nathan. “Lo kan masih sekolah. Takut berasa nge - lecehkan bocil kali, Hahahaha....” Nathan tergelak.


“Tau ah! Umur gue juga beda berapa tahun sama Abang. Ga jauh – jauh amat!. Nah itu aja, si Jane anaknya Uncle Dave sama Aunt Viola sudah living together sama pacarnya sejak di High School. Ga mungkin mereka ga berhubungan badan kan?”


“Yaa Abang masih risih kali kalo minta jatah suami sama lo? Lo nya memang sudah siap?”


“Siap lah!”


“Ah, kegatelan memang lo sih kalo sama Abang!” Celotehan Nathan dan Andrea mencebik.


“Suka – suka gue lah!” Tukas Andrea. “Heran gue sih sama Abang. Padahal cowok – cowok lain aja asal lihat gue jalan kalau di Mal, pasti matanya ga jauh – jauh dari boops gue. Abang, melirik saja engga perasaan”


“Ya Abang masih risih kali sama lo, sungkan. Secara lo kan selama ini gadis kecilnya. Ga tega mau ngajak lo mantap – mantap”


Andrea mengendikkan bahunya sembari mendengus frustasi.


“Grepe – ***** juga pernah si Abang sama lo?” Pertanyaan tanpa akhlak meluncur lagi dari mulut si Tan – Tan.


“Engga”


“Buseet kuat bener – bener tuh si Abang” Celoteh Nathan. “Memang lo pengen banget apa di mantap – mantap sama Abang?” Ledek Nathan lagi.


“Yaaa pengen tahu aja..”


“Haha .. cewe abg jaman now... mesum abes!” Seloroh Nathan.


“Macam lo sendiri ga mesum aja!”


“Nah gue sih cowo! Wajar kalau cowo mah. Lagian lo pengen banget dijamah si Abang!”


“Tapi gue ini istrinya! Is – tri!” Andrea menekankan kalimatnya. “Udah ah! Jangan bahas soal itu lagi!”


Namun kemudian Andrea sudah nampak mulai sebal dengan topik obrolannya dan Nathan. Sementara ia menunggu mereka yang sedang bekerja kembali ke rumah, termasuk Varen yang beberapa hari ini sudah mulai cukup aktif di dua Perusahaan milik Keluarga Aditama dan Adjieran Smith.


Belum lagi si Abang juga sudah memantapkan diri untuk mengambil satu gelar lagi. Namun ia masih menunggu


Andrea mengambil keputusan soal kuliahnya nanti. Apakah tetap masih ingin tinggal di Indonesia, atau mungkin mau kembali ke London, atau bahkan mau ikut pindah ke Massachussets.


“Lo pancing coba si Abang?”


“Pancing gimana?”


“Ya ilah bloon banget!”

__ADS_1


“.....”


“Ya lo pancing, pakai baju tidur seksi kek, apa kek gitu. Lo tanya tuh di Uncle Gugel”


“.....”


“Kalau cowonya pasif, nah cewenya tuh yang harus agresif!!. Lagian udah suami istri juga” Lagi, usulan asal dari Nathan terlontar.


Andrea terdiam. Otak cantiknya sedang berpikir sambil menimbang – nimbang. ‘Begitu ya’


***


Ya lo pancing, pakai baju tidur seksi kek, apa kek gitu. Lo tanya tuh di Uncle Gugel.


“Ck! Kenapa baru kepikiran sekarang? Gue kan ga punya lingerie ...”


Andrea menggerutu didalam walk in closet, sementara Varen tadi masih nampak sibuk dengan laptopnya setelah selesai bersih – bersih badan dan makan.


“Ah, ini aja! Harusnya ini untuk ke pantai. Ah pakai saja.”


Andrea senyum – senyum sembari mengambil salah satu baju di dalam lemarinya.


“Lumayan lah!”


Andrea mematut dirinya di kaca meja rias.


“Mari kita goda Abang suami”


***


Andrea menggeleng pelan, kala melihat Varen masih sibuk dengan laptop miliknya yang suaminya letakkan diatas


pangkuannya yang sedang duduk disofa.


“Abang ....”


Andrea memeluk Varen dari belakang dan seketika suaminya itu menoleh sembari tersenyum. Beberapa waktu belakangan, sejak tinggal sekamar, kecanggungan diantara Varen dan Andrea untuk bersikap mesra jika sedang berdua didalam kamar memang sudah perlahan terkikis.


Namun paling jauh hanya sebatas saling bertukar saliva. Varen nampak sangat menahan dirinya untuk berbuat lebih jauh pada Andrea, meski Little Star tercintanya itu sudah menjadi istri sahnya.


“Lama sekali didalam walk in closet?”


“Cari baju tidur” Sahut Andrea yang menopangkan dagunya dipundak Varen dengan manja. Sementara Varen


menyentuhkan pelan kepalanya ke kepala Andrea.


“Kenapa?”


“Tidak punya yang baru”


“Hummm... mau shopping besok?” Tanya Varen. “Besok Abang free, kalau kamu mau Abang antar kamu, sekaligus kita kencan”


“Benar nih?!” Andrea nampak sumringah dan melepaskan cepat rangkulannya dari Varen lalu beringsut kehadapan


suaminya lalu duduk disebelahnya. Sementara Varen yang memang mendongak saat Andrea melepaskan rangkulan dibahunya lalu bergerak didepannya sebelum mengambil tempat, cukup terpana juga dengan Andrea.


Pasalnya, Andrea yang biasanya menggunaka piyama atau kaos dengan celana pendek untuk tidur itu, kini sedikit berbeda.


T-shirt tanpa lengan yang hanya sebatas udel, berikut celana pendek yang kebih pendek dari yang biasa Andrea gunakan sehari – hari kalau di rumah, membuat Varen cukup memperhatikannya. Terlebih lagi bagian atas T-shirt yang dipakai Andrea, begitu rendah potongannya selain nampak begitu ketat. Terlalu ketat bahkan.


Membuat Varen tanpa sadar menelan salivanya. Lalu buru – buru kembali menatap laptopnya. Andrea menyunggingkan senyum jahil karena ia sadar kalau Varen sempat memperhatikan penampilannya.


“Ehem.. Kamu.. pakai baju Mika?”


Varen nampak canggung. Bertanya tanpa menoleh pada Andrea. Sok sibuk pada laptop padahal fokus si Abang pada apa yang tadi dikerjakannya sudah mulai ambyar.


“Enak saja. Baju aku lah!”


“Sepertinya kekecilan. Malah lebih terlihat seperti ukuran baju Val”


“Ih, memang modelnya seperti ini” Sahut Andrea.


“Kamu ga merasa sesak apa?”


Varen sok cool.


“Engga”


‘Hish! Aku yang sesak’ Batin Varen. “Ganti sana”


“Memang kenapa sih?” Tanya Andrea. “Bagus kan ini?”


“.....”


“Coba lihat deh.” Andrea menarik lengan Varen hingga mau tidak mau tubuh suaminya itu menghadap miring padanya.


“Nampak sesak” Ucap Varen datar, tetap sok cool, padahal hatinya sudah berdebar – debar berikut ia sendiri yang mulai merasa sesak disalah satu bagian tubuhnya.


“Biasa saja ah. Aku nyaman – nyaman saja”


‘Abang yang ga nyaman’ Batin Varen. Lalu melengos lagi ke laptopnya. “Tidak baik tidur menggunakan pakaian yang terlalu ketat” Ucap Varen.


“Bukannya ini membuat mereka nampak perfect?”


Varen spontan menoleh pada Andrea. “Mereka?”


Andrea manggut – manggut.


“Mereka siapa?”


“Nunu and Nana”


“Nunu and Nana?” Varen tak paham, sementara Andrea tersenyum jahil. “Siapa Nunu and Nana?”


“Ini”


Andrea mencondongkan tubuhnya di depan Varen.


“Nunu” Menggerakkan sesuatu berukuran 36D yang sebelah kanan. “Nana” Kemudian yang kiri. Abang menelan


kasar salivanya. “Abang mau, kenalan sama mereka?”


‘Tarik nafas... hembuskan...’


Abang membatin, bersamaan dengan tenggorokannya yang terasa kering.


Susu cap Nona Andrea begitu menggoda, meski baru nampak luar dan atasnya saja.


***

__ADS_1


To be continue ..


Ok, emak bikin susu dulu


__ADS_2