
♦ MISFORTUNE ♦ Musibah ( Part 2 – Bagian 2 )
***
Selamat membaca ...
***
Beberapa tahun yang lalu,
“Kyara, you want to break up everything we have because of that man? ( Kyara, kamu mau memutuskan semua hal
yang sudah terjadi diantara kita karena pria itu? ).”
“No Shaheer!.”
“Don’t lie to me, Kyara! You choose him because he’s a rich man, don’t you?. ( Ga perlu bohong padaku, Kyara! Kamu memilihnya karena dia pria kaya, bukan begitu? ).”
“No Shaheer, I’m not that kind of woman! ( Tidak Shaheer, aku bukan wanita seperti itu! ).”
“Ya?!. We are okay, just right before he showed up! ( Oh ya?!. Kita baik – baik saja sebelum dia muncul! ).”
“Sha – heer... you hurt me ( Sha – heer... kau menyakitiku ).”
“I hurt you, huh?! ( Aku menyakitimu, ya?! ).” Pria tersebut sedang mencekal leher wanita yang sedang berbicara dengannya. “YOU HURT ME MORE! ( KAU LEBIH MENYAKITIKU! ).”
“Uhuk... Uhuk...”
“We’re loving each other Kyara, but that man came up and make everything between us are not okay! ( Kita saling mencintai Kyara, tapi pria itu datang dan membuat hubungan kita menjadi tidak baik! ).”
“We’re never been okay, Shaheer ..... You know exactly why I accepted this relation. You know exactly the reason.... ( Kita tidak pernah baik – baik saja, Shaheer..... Kau tahu dengan pasti mengapa aku mau menjalin hubungan dengan kamu. Kamu tahu benar alasannya ) ...”
“The reason is, you love me! ( Kenyataannya adalah, kau mencintaiku! ).”
“Please, Shaheer..... ( Tolonglah, Shaheer ) .... You better than this ( Kamu lebih baik dari ini ) ...”
“Let’s end this conversation, Kyara! ( Mari kita akhiri pembicaraan ini, Kyara! ).” Pria itu menarik paksa tangan sang wanita. “Let’s go to meet your parents!. I’m gonna marry you! ( Ayo kita temui orang tuamu!. Aku akan menikahimu! ).”
“No Shaheer! ( Tidak Shaheer! ). I won’t marry you! ( Aku tidak mau menikah denganmu! ). This is enough..... ( Ini sudah cukup ) ...”
“Kyara!.”
“Enough Shaheer, please ... ( Cukup Shaheer, tolonglah )...... I never loved you. You make have no choice to agree having this relation with you ... ( Aku tidak pernah mencintaimu. Kamu membuatku tidak memiliki pilihan untuk menjalin hubungan ini denganmu ) .... Beside, I'm tired with the pressure from your sister, also ( Lagipula, aku sudah lelah dengan tekanan yang juga diberikan oleh adik perempuan kamu )...”
“Shut your mouth, Kyara ( Tutup mulutmu, Kyara ).”
“You make me have no choice by accepting you, because you always try to hurting yourself and I can’t stand with that..... ( Kamu membuatku tak mempunyai pilihan selain menerima kamu, karena kamu selalu berusaha untuk menyakiti dirimu sendiri dan aku tidak tahan melihatnya ).”
Mata sang wanita itu sudah berkaca – kaca sembari berbicara dengan lembut pada pria yang sedang nampak gusar padanya itu.
“I tried, Tor God Sake I’ve been tried ( Aku sudah mencobanya, Demi Tuhan aku sudah mencoba ). To accept you, love you .... But still, I can’t ( Untuk menerimamu, mencintaimu.... Tapi tetap, aku tidak bisa ).”
*“I said, shut your fckin’ mouth, Kyara! ( Aku bilang, tutup mulut sialanmu itu, Kyara! ).”
“I love him! ( Aku mencintainya! ). I love that man! ( Aku mencintai pria itu! ). Sincerely love him ... ( Tulus mencintainya ), aside from whoever he is ( terlepas dari siapapun dia ).”
PLAK!
“YOU SUCH A MATREALISTIC B*TCH! ( KAU HANYA SEORANG PEREMPUAN J*LANG YANG MATRE! ).”
“You may say everything you want to say about me, you may think think that I’m a bad woman, but I really don’t care ..... ( Kamu boleh mengatakan apapun tentangku, kamu boleh berpikir kalau aku wanita yang buruk, tapi aku benar – benar tidak perduli ) ...”
“........”
“I feel enough with you, Shaheer ... ( Sudah cukup, Shaheer )..... I want my life back ( Aku ingin hidupku kembali ) ....”
“You are belong to me. Kyara! ( Kau itu milikku, Kyara! ).”
“I won’t stay with you anymore. I don’t care what you are going to do, but I’m not going to continue our relation which based on my pity feeling and also because I’m afraid to you. ( Aku tidak ingin bersamamu lagi. Aku tidak perduli apa yang akan kamu lakukan, tapi aku tidak akan melanjutkan hubungan yang berdasarkan atas rasa kasihan aku padamu, sekaligus karena aku merasa takut padamu ).”
“Stop talking, Kyara! ( Berhenti bicara Kyara! ).”
Pria itu mengangkat telunjuknya di wajah wanita yang ia panggil dengan Kyara itu.
__ADS_1
“Or what? ( Atau apa? ). Are you going to try hurting yourself again, like always? Because I always feel weak if you did that ( Kamu akan mencoba menyakiti dirimu lagi, seperti biasa?. Karena aku selalu lemah akan hal itu ).”
“No, I won’t hurting myself this time. Well, not only me ( Tidak, aku tidak akan mencoba menyakiti diriku lagi kali ini. Yah, tidak hanya diriku sendiri ).”
“What do you mean? ... ( Apa maksud kamu? ) ....”
““I’m gonna hurt us both... ( Aku akan menyakiti kita berdua )....”
“What?!.. ( Apa?! ........). What are you .... ( Apa yang sedang ) ...”
“Your place is next to me, live ... or dead! ( Tempatmu adalah disisiku, hidup .... atau mati! ).”
“Argh!.”
***
“Argh!.”
“KAK – ARA!!!!!!.” Fania langsung berlari keluar sembari berteriak dari kafe saat melihat Ara nampak hendak tumbang. “Ya Allah, Kak..” Mata Fania berkaca – kaca, melihat darah yang sudah merembes di pakaian Ara. “SOMEBODY CHASE HER! SHE STAB MY SISTER! ( SESEORANG KEJAR DIA! DIA MENUSUK KAKAKKU! ).”
“Sweety ....” Potong Ara pelan.
“Kak Ara, tahan sebentar ya, kita ke Rumah Sakit! ....” Fania menopang tubuh Ara yang sudah merosot.
“MA’AM! ( NYONYA! ).” Supir Fania dan Ara, serta dua pria lain yang mereka kenal datang dengan sangat tergesa. Sementara beberapa orang yang kebetulan ada ditempat kejadian datang mengerubung termasuk para pelayan dan pengunjung kafe.
“I’ll call ambulance and police! ( Aku akan menghubungi ambulans dan polisi! ).”
“Very sorry Ma’am! We thought Mrs. Ara was talking with her friends! ( Benar – benar minta maaf Nyonya! Kami kira
Nyonya Ara sedang berbicara dengan temannya ).”
“No time to talk! Help her! ( Ga ada waktu buat bicara! Tolong dia! ).”
“Yes, Ma’am ( Ya, Nyonya ).”
Pria berjas yang merupakan pengawal pribadi itu langsung membawa tubuh Ara ke dalam mobilnya bersama Fania. Sementara supir mereka mengikuti dari belakang.
“Desmon is chasing that woman, Ma’am! ( Desmon, sedang mengejar wanita tadi, Nyonya! ).”
“Tahan ya Kak Ara ....”
Tangan Fania mengelus kepala Ara dengan matanya yang kini basah.
Sementara tangan satunya menekan luka tusuk di perut Ara, agar pendarahan sedikit tersumbat. Ara mengangguk lemah dan nafasnya sedikit lambat.
“HURRY UP, HALDIS! ( CEPAT, HALDIS! ).”
***
Time before ...... ( Waktu sebelumnya ) ...
“Ara ...” Suara seseorang yang memanggil dirinya membuat Ara berbalik.
“Mi – Mira???? ....”
“Long time no see, huh?. ( Lama ga ketemu, ya? ).”
“How are you Mira?. ( Apa kabarmu Mira? ).”
“Still same ... ( Masih sama ).” Sahut wanita yang menegur Ara itu. Tersenyum miring. “Feel feud to you ( Masih dendam padamu ).” Sambungnya. "I can't believe I have this chance..... ( Aku tak percaya akhirnya aku memiliki kesempatan ini )..."
Wanita bernama Mira itu menggumam.
“Mira ....”
“Look at you! Seems that you’re having a happy life after you killed my brother... ( Lihat dirimu! Sepertinya kau menjalani hidup yang bahagia setelah membunuh kakakku ....).”
“I didn’t kill him, Mira ... ( Aku tidak membunuhnya, Mira ) ... He was died because of himself, even he also tried to kill me ( Dia meninggal karena kesalahannya sendiri, bahkan dia juga mencoba membunuhku ).”
“And you supposed to be dead also, that day! ( Dan kau seharusnya juga mati, hari itu! ).”
“Mira ...”
“My brother will be so happy to see you..... ( Kakakku akan senang bertemu denganmu )....”
__ADS_1
“What are .... ( Apa maksud ....).”
STAB!
“Argh!.”
****
St. Thomas’ Hospital
Fania tidak bisa duduk diam, setelah Ara yang tadi ditusuk oleh seorang wanita itu langsung ditangani Judith dan Owen saat mereka sampai di Rumah Sakit.
Rasa panik dan takut kini sedang benar – benar menyelimutinya.
Fania meraih ponselnya dari dalam tas.
Calling Kak Reno
“Halo Little F ...”
“Kak ...”
“Ada apa Little F?.” Tanya Reno dari sebrang telepon.
“Kak Ara, Kak Ren....” Fania terisak dan Reno langsung terdengar panik.
“Ara kenapa?!.”
Fania mengatur suaranya yang mulai serak itu. “Kak Ara ditusuk orang, Kak ....”
“APA?!.”
Fania spontan mengangguk seolah Reno dapat melihatnya. “Saat ini lagi ditangani sama Judith dan Owen.”
“Gue balik sekarang!.”
“Iya, Kak ...”
***
“Heart!...”
“D ..” Fania langsung berlari ke pelukan Andrew yang datang bersama Nino ke Rumah Sakit. “Kak Ara, D.....” Ia langsung menangis dipelukan Andrew.
“Sh-sh, Don’t cry, Heart ... ( Jangan menangis, Sayang ) ....” Andrew mencoba menenangkan Fania.
“Perempuan itu yang menusuk Kak Ara.... tapi aku ga jelas lihat wajahnya tadi.” Fania masih terisak. “Salah aku ....”
Andrew menghapus air mata Fania.
“No, Heart ( Tidak, Sayang ). Bukan salah kamu ... Aku sudah tahu siapa pelaku penusukan Ara. Ezra sedang mengejarnya. Kamu sendiri ga apa – apa?.”
“Aku ga seharusnya membiarkan Kak Ara sendirian tadi.”
“No, Heart ( Tidak, Sayang ), berhenti menyalahkan diri kamu sendiri.”
Andrew masih mendekap Fania dan Nino berdiri di depan ruang operasi sambil sibuk juga dengan ponselnya.
“Aku baru hanya kasih tahu Kak Reno.”
“Dad dan Mom akan segera menyusul kesini setelah mereka menjemput Varen.” Ucap Andrew.
“Keluarga di Indo sudah dikasih tahu juga?.”
“Su ...”
“Andrew, Fania, Nino...”
Judith dan Owen sudah keluar dari kamar operasi. Wajah Fania, Andrew dan juga Nino seketika langsung tegang.
“How is Ara and her baby? ..... ( Bagaimana Ara dan bayinya? ...).”
Tiga orang keluarga Ara itu menunggu jawaban Judith dan Owen dengan rasa panik dan takut.
***
__ADS_1
To be continue....