
KILAS BALIK
SEPENGGAL CERITA CINTA NATHAN
( Bagian 1 )
*********************************************
Selamat membaca ...
*************************
Empat tahun lalu ... kira - kira ..
Jonathan Alton Smith, pria muda dengan fisik yang mendekati sempurna, ditambah ia berasal dari keluarga kaya raya yang kekayaannya tak terkira. Membuat Nathan seolah memiliki susuk pemikat yang menempel ditubuhnya.
Kalau soal kekayaan keluarganya Nathan tak sombong akan hal itu, tak juga memamerkannya.
Tapi kalau soal fisik, dan betapa rupawan wajahnya, soal itu Nathan sadar betul.
Makanya mudah sekali bagi Nathan untuk mendapatkan pacar atau sekedar gebetan.
Nathan selalu menjadi Most Wanted Boy di tempat dimana dia menimba ilmunya, punya pesona yang kurang lebih
sama seperti para Dads-nya, juga Abang Varen yang kesemuanya memiliki masing – masing pesona dalam dirinya.
Hampir sama seperti sang Daddy, Nathan yang sadar atas kelebihannya, fisik terutama, ia gunakan untuk
memikat wanita, di sekolahnya terutama. Nathan bak seorang Pangeran yang hanya tinggal tunjuk, para gadis akan bertekuk lutut dengan mudahnya.
Nathan sering gonta – ganti pacar, karena peraturan yang tidak tertulis yang ia buat sendiri untuk dirinya.
Cukup satu bulan, habis itu ganti pacar, karena cewe – cewe yang ngantri jadi pacar Nathan itu kalau dijejerkan, panjangnya bisa seperti antrian mereka yang mau naik Commuter Line kalau hari senen pagi di depan loket tiket.
Bahkan sejak pertama masuk SMA saja, hampir semua kakak kelas cantik di sekolah sudah dipacarinya. Tapi dari semua cewe – cewe yang pernah pacaran dengannya. Pacaran Nathan ya memang hanya sebatas kata itu saja.
Cuma buat cie – cie an, teman ngobrol, teman jalan sambil pegangan tangan, sekaligus gelendotan.
Ga ada yang di seriusin\, ga ada juga yang digre** - g**pein. Nathan di cap Playboy memang\, tapi Playboy cap – cap an. Casanova amatiran bukan kawakan seperti sang Daddy dulu.
Karena ada Mama Jihan yang selalu tak bosan mengingatkan, agar meski diberi kebebasan, Nathan ga boleh
kebablasan. Belum lagi pelototan Mama Jihan dan repetan nasihat dari mulutnya kalau Nathan main diluar rumah kelamaan.
Kalau Daddy Jeff lebih santai, lebih memberi kebebasan namun dengan catatan.
Banyak juga sih tapi itu catatan, yang selalu Nathan ingat dalam ingatan. Nathan tak dididik dengan terlalu keras, namun dia diberikan nasehat berikut perumpamaan, serta gambaran baik dan buruknya masa depan dari setiap tindakan.
Tapi Nathan memang tumbuh menjadi anak yang patuh pada kedua orang tuanya. Tak neko – neko perilakunya.
Tak mendapat larangan untuk pacaran, tapi ya itu, harus tahu batasan. – Kata Mama Jihan.
Iya, Nathan paham. Nathan tunduk pada ucapan Mama Jihan soal ‘batasan’. Tapi tak menampik kalau Nathan
menyukai wanita cantik. Maklum, turunan.
Tapi yah, namanya pergaulan ada yang suka bikin penasaran. Kelas dua SMA Nathan kenal yang namanya ciuman. Itu saja sih, bibir saja yang bergerilya, tangan tetap dikondisikan. Masih ketahan.
Yang mana ciuman itu Nathan lakukan saat dia pacaran dengan cewe yang seangkatan dengannya, yang masuk
daftar gadis – gadis inceran Nathan di SMA nya. Yang membuat Nathan tak lagi bergonta – ganti pacar karena merasa nyaman. Celisa namanya, pacar Nathan. Cantik nan ceria namun ada centil nya juga.
Tapi dimata Nathan Celisa itu paket lengkap. Dengan Celisa, Nathan merasa bahagia. Karena kata Nathan,
Celisa itu dahlah cantik, pengertian pula. Jadi cukup Celisa aja, ga mau yang lain lagi.
Tapi hari itu, saat Nathan naik ke kelas tiga di SMA ...
“Eh, baru aku mau susul ke kantin” Ucap Nathan pada sang pacar.
Yang tahu – tahu menyambanginya di kelas sambil mengerucutkan bibir pada saat jam istirahat.
“Kenapa cemberut gitu?”
“Sebel aku!”
“Sama aku?”
“Bukan”
“Terus sama siapa?”
“Anak – anak di Kantin, di Osis”
“Memang kenapa?. Ada yang usil sama kamu, ada yang resein kamu?. Siapa?. Bilang!. Tunjuk yang mana, nanti
aku kasih pelajaran kalau ada yang berani jahatin kamu”
“Ga ada kalau itu. Ya ga akan ada sih, mereka kan tahu kalau aku pacar kamu, mana berani mereka jahatin pacarnya Kapten basket yang jago beladiri?”
“Nah terus, kamu jadinya sebel kenapa?”
“Dibanding – bandingkan!”
“Dengan siapa?”
“Kevia!”
“Siapa dia?”
“Itu loh anak kelas dua yang pindahan dari Jogja, yang sekarang selalu jadi bahasan anak – anak disini. Yang kata mereka cantik, pinter, jago fisika, bla bla bla... sebel banget aku dengernya!. Masa aku dibandingin sama dia Cuma gara – gara dia kemarin memboyong piala Juara satu Olimpiade fisika Nasional?”
“Alah itu aja kamu pikirin!”
“Ya aku sebel aja! Mereka bilang aku ga sehebat dia karena ga bisa memboyong piala waktu aku yang ikut lomba! Ish kesel aku tuh!”
“Udah ah, ngapain kamu pusingin sih? Soal gitu aja?”
"Ya habis mereka pada nyinyirin aku. Terus itu cewe juga kayaknya seneng banget kalo aku dibandingin tapi akunya yang dijelekin. Sok pinter, sok cakep!"
__ADS_1
***
Nathan sedang berada di lapangan basket bersama teman – temannya. Kebetulan ga ada jadwal anter pacar pulang, karena sang pacar sedang punya jadwal kumpul bareng gengnya.
Jika waktu pulang sekolah tiba, Nathan, kalau ga ada acara kencan dengan sang pacar, ga akan buru – buru
pulang ke rumah.
Kalau ga kumpul di tempat Sony, sahabatnya. Atau main ke rumah temannya yang lain, paling – paling ya di
sekolah, main sekalian latihan basket. Olahraga favoritnya, jago hitungannya. Makanya Nathan jadi Kapten tim basket di SMA nya, sejak kelas dua sampai sekarang.
“Yang mana sih anaknya?”
“Siapa?”
“Ck! Itu si Kevia Kevia yang kalian sering omongin!”
“Wah, ga beres nih si Jo! Katanya Celisa seorang sekarang?. Nah taunya gatel juga mau macarin cewe terbadai di sekolah tahun ini?!”
“Apaan ga ada! Gue Cuma penasaran!. Celisa curhat ke gue, gue anggap angin lalu. Tapi ternyata itu cewe yang namanya Kevia bikin kuping gue panas, karena keseringan gue denger namanya disebut sebut sekarang!”
“Hahahaha!..”
“Jangan pada ketawa! Masih ada ga tuh anaknya?”
“Masih!”
“Sok tahu lo!”
“Yah emang masih ada, tadi gue lihat masih di kelasnya. Kayaknya lagi bantuin Bu Sinta koreksi tugas”
“Gila lambe turah, tau banget lo soal si Kevia?!”
“Ye, gue juga lagi usaha kali. Siapa tahu dia mau gue anter pulang?. Ini makanya gue tungguin”
“Tuh! Tuh! Kevia tuh!” Sony menunjuk ke satu arah.
Nathan melihatnya, gadis bernama Kevia yang menjadi perbincangan hangat sejak kepindahannya. Yang kata
teman – teman Nathan cakepnya luar biasa, bak bidadari surga.
Membuat Nathan seringkali memutar bola matanya malas, karena teman – temannya itu ia anggap berlebihan
dalam memuji. Celisa itu udah yang paling cakep di sekolah mereka, ga akan ada lagi yang ngalahin cakepnya itu pacar Nathan. Iya, benar. Tapi itu sebelum Kevia datang. “Kevia ...”
Sony dan semua teman fucek boy nya Nathan kompak berdiri dan memanggil gadis bernama Kevia dengan wajah
mupeng mereka. Nathan tetap duduk ditempatnya saat tadi mereka menjeda latihan basketnya untuk istirahat sesaat.
Yang dipanggil sembari digoda manja, menoleh ke arah suara. Nathan memperhatikannya.
Bukan Hoax ternyata. Bener kata para fucek boy seangkatannya. Gadis bernama Kevia itu emang bener ternyata kalo cantiknya paripurna.
Tersenyum dengan manisnya ke arah mereka yang memanggilnya, namun tak bicara pun menghampiri. Hanya sedikit menggerakkan kepala, kemudian gadis itu pergi bersama temannya.
***
“Cel, kamu kenapa?” Wajah Nathan cemas saat masuk UKS sekolah
“Jatuh saat selesai latihan Voli”
“Bisa jatuh gimana sampai cedera begini?”
“Ya aku didorong ditangga,
gimana ga jatuh sih?!”
“Didorong sama siapa?!”
“Kevia!”
“Hah?!”
“Kayaknya dia sirik sampe dendam sama aku, karena kamu. Dia tuh suka sama kamu kayaknya. Aku sering
mergokin dia merhatiin kamu. Tapi mungkin dia tau kalau kamu cinta mati sama aku, ga akan tergoda cewe lain, makanya dia begitu tadi. Dorong aku dengan keras sampai begini deh aku ...”
Nathan mengepalkan tangannya
"Padahal aku cuma tanya aja loh, tapi dia malah nyolot!"
"Nanti aku kasih dia pelajaran"
“Awww!!! ...”
Ringisan Celisa yang kesakitan itu membuatnya geram pada dia yang berani mendorong pacarnya. ‘Gue akan buat perhitungan sama itu cewe!’
***
“Aduh!”
Nathan mencengkram pergelangan tangan seseorang dengan kencang dan kuatnya hingga si empunya tangan mengaduh kesakitan lalu meringis kemudian.
“Berani – beraninya lo nyakitin Celisa, hah?!”
“Apaan sih? Gue ga ngerti?!” Timpal si pemilik tangan yang masih dicengkram Nathan. Kevia, yang disambangi
Nathan keesokan hari, yang sudah ditunggunya sedari pulang sekolah tadi. Karena gara – gara dia, kaki Celisa cedera sampai kesulitan berjalan.
Nathan tak terima.
“Elo kan yang dorong cewe gue sampai dia cedera kemarin saat kalian selesai d klub voli? Ngaku lo!”
“Oh ..” Kevia menyahut dengan datarnya. Membuat Nathan menatap nyalang padanya. Namun kemudian gadis
itu malah tersenyum miring padanya. “Kalo iya, kenapa?” Sahut Kevia seolah menantang cowo yang tak melepas cengkraman tangannya. Hingga kemudian cengkraman itu mendarat di dagunya.
“Lo, jangan sok kecakepan! Gue peringatkan lo sekali ini dan untuk terakhir kalinya. Berani lagi lo macam – macam sama Celisa, gue ga akan segan buat nyakitin lo!” Nathan memajukan dirinya sembari mengangkat telunjuknya.
__ADS_1
“Oh, jadi Kapten tim basket yang hebat itu ternyata kasar ya sama perempuan?”
“Terserah lo mau bilang apa!. Lo camkan baik – baik peringatan gue! lo ga ada apa – apanya dibanding Celisa!”
“Ga kebalik tuh?”
Nathan yang sudah hendak meninggalkan Kevia itupun menghentikan langkahnya, menoleh pada gadis yang
seolah tak ada takut – takutnya. Malah nampak menantang dirinya.
“Cewe lo yang ga ada apa – apanya dibanding gue. Makanya dia insecure sama gue”
“Jaga mulut lo!”
“Bilang itu sama cewe lo! Dia yang harusnya jaga mulutnya agar jangan seenak ngatain orang. Playing victim pula!”
“Diem lo cewe munafik!. Di depan orang aja lo sok – sok diam, sok imut, sok jaim! Mereka tau ga sih, kalau lo, yang mereka idolakan itu punya kelakuan yang ternyata memuakkan hah?!. Mereka tahu ga sih kalau lo itu cewe kasar? Tukang fitnah pula!”
Mata Nathan menyorot tajam pada Kevia.
“Mau gue hancurkan image lo?! Kalau gue mau, sekejap mata, image lo yang seolah lo ratu di ini sekolah akan gue hempas sampai ke tanah! Ngerti lo?!”
“Terserah! Silahkan aja! Gue ga takut! Yang jelas kalo cewe lo itu berani lagi cari masalah sama gue, gue pun ga akan segan”
“Kurang ajar lo ya!”
“Lain kali, kalau dia keterlaluan, ga akan Cuma gue dorong dari tangga. Kalau perlu gue dorong dari lantai tiga”
“CEWE BANG**T!”
Tangan Nathan sampai dileher Kevia.
Rasa yang menurut Nathan adalah cinta pada Celisa dan merasa tak terima karena kekasihnya disakiti, ditambah yang menyakitinya malah menantang dan balik mengancam Nathan, membuatnya geram hingga lupa kalau yang sedang ia cekik itu adalah seorang perempuan.
“Ini peringatan!”
Nathan berucap tajam, mengeratkan cengkraman, lalu menghempaskan Kevia melalui lehernya dengan kasar
sembari mendorongnya kuat, hingga tubuh Kevia menghempas kursi didekatnya sebelum tubuhnya jatuh ke lantai. Tapi Nathan tak iba. Hanya menatap gadis itu saja yang terduduk memegangi lehernya.
“Udah gue bilang, gue ga akan segan”
Nathan balik badan kemudian meninggalkan Kevia yang memang sudah tinggal sendirian di kelasnya. Heran juga
sebenarnya, kenapa gadis itu selalu keluar dari kelas saat sekolah sudah mulai agak sepi. Diam – diam memang Nathan sempat memperhatikan. Tapi kali ini buat Nathan itu sebuah kesempatan untuk membuat perhitungan pada cewe bernama Kevia yang berani membuat kekasihnya cedera.
***
Tiga hari Nathan tak melihatnya.
Gadis bernama Kevia, yang ia cengkram tangan dan lehernya, dan ia hempaskan dengan kasar ke atas lantai.
Membentur kursi kayu sebelum gadis itu terduduk dan terbatuk dilantai. Yang Nathan tinggalkan tanpa Nathan beri pertolongan.
‘Apa dia cedera?’
Nathan bertanya dalam batinnya, kala teman – temannya sedang membahas sang Idola. Siapa lagi?. Ya itu
Kevia, yang tak mereka lihat sudah tiga hari lamanya, dan guyonan receh karena tak melihat sang Idola itu membuat panas kuping Nathan, namun ia tak beranjak meninggalkan kursi kantin tempatnya duduk sekarang.
“Eh iya gue baru tau loh” Sepasang siswi berbincang di belakang Nathan dan teman – temannya berkumpul.
“Soal Via yang ribut sama Kak Celisa?”
Membuat Nathan dan teman – temannya memasang telinga.
“Iya”
“Gara – gara itu ya Via ga masuk tiga hari? Dia si skors atau apa sih?”
“Engga, si Via sakit katanya”
“Oh, ya ga apa sih kalo sakit mah. Gue pikir dia diskors gara – gara ribut sama Celisa”
Dua siswi itu tak sadar Nathan yang ada dibelakang mereka.
“Gue ga terima kalau Via yang diskors gara – gara itu. Lah si Celisanya yang memang cari ribut duluan sama Via!”
“Sok tahu lo!”
“Tau ya gue, karena gue ada disana. Nih kuping gue denger sendiri si Celisa ngatain Via pecun!”
Nathan mengerjapkan matanya.
“Karena takut Kak Jo naksir Via, secara Via cakepnya kelewatan begitu. Pinter banget lagi. Kalem pula! Ga kecentilan kek si Celisa biar cakep juga.”
“.......”
“Padahal si Via, kalo Kak Jo lewat dan anak kelasan kita pada heboh, dia berdiri dari bangkunya aja engga!.
Emang si Celisanya aja yang kelewatan. Makanya di lawan sama Via. Udah dari dulu kan emang si Celisa itu makin belagu sejak pacaran sama Kak Jo, suka seenaknya. Tapi ga ada yang berani ngelawan dia karena takut sama Kak Jo”
Didetik itu Nathan digelung rasa bersalah, pada gadis yang tiga hari lalu Nathan ancam dan disakiti fisiknya.
“Lagian ya, itu si Celisa juga jatoh karena kualat. Dia yang mau dorong Via, malah dia sendiri yang jatoh. Emang enak?!”
‘Ya Tuhan ...’ Hati Nathan jadi tak tenang.
***
To be continue...
Belok dikit cerita ga ape – ape ye?
Hehehehe
Nikmatin aje dulu
__ADS_1