THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 321


__ADS_3

⚫BITTER ( GETIR )⚫


************************


Selamat membaca ..


Momma rasanya belum puas mengeluarkan unek – uneknya pada Poppa. Namun Momma sadar kalau waktu dan


tempatnya kurang tepat untuk mencecar laki – laki plontos yang gantengnya minta dicipok-kalau kata Momma. Namun sekarang membuatnya kesal setengah mati. Jadi Momma sekuat tenaga menahan diri untuk menjeda dulu ngomelin si Poppa.


Sedikit merasa kasihan juga pada Poppa, karena bagaimanapun Momma melihat kelelahan di wajah suami


tercintanya itu.


“Udah cepet pulang sana”


Momma menyuruh Poppa untuk pulang dan beristirahat.


Namun Poppa nampak urung untuk beranjak dari ruang rawat Andrea dan meninggalkan Momma disana, meski ada si Abang dan Mommy Ara serta beberapa pengawal yang ditempatkan di luar ruangan.


“Poppa sayang, apa kamu tuli karena sudah tua, hem?” Ucap Momma sedikit sarkastik.


Tapi Poppa malah tersenyum saja.


“Ga usah tebar pesona. Ga ngaruh sekarang” Sambung Momma dengan nada suaranya yang masih terdengar sebal. “Pulang ga?!..”


“Ngg.. tapi aku berat meninggalkan kamu sendirian disini”


“Lebay”


“Bukan lebay, Heart ..”


“Pulang ga. Satu ..”


“Tapi ..”


“Kalau mau aku pertimbangkan soal maafin ini kasus pembiusan suami ga ada akhlak ke istrinya. Mendingan kamu


pulang sekarang. Istirahat sana”


Daddy R, dan tiga Daddy lainnya termasuk Varen dan Mommy Ara terkekeh saja melihat naga yang sedang di cerocosin entog. Dimana wibawa naga merosot tajam menjadi cacing kremi sekarang.


“Hh..” Poppa menghela nafasnya sedikit frustasi.


Iya memang, Poppa merasa tubuhnya letih. Meski selalu menjaga kebugaran, tetap saja usia bisa menjadi salah satu faktor ketahanan seseorang.


Tapi Poppa yang selalunya memang over segala – galanya pada Momma akibat cintanya yang kelewat batas itu,


nampak berat meninggalkan wanita tercintanya untuk menjaga Putri mereka di Rumah Sakit.


Selain itu, menurut Poppa, Abang juga tidak beristirahat dengan baik. Pastinya putra sekaligus menantunya itu juga letih bukan main.


Tapi kalau disuruh pulang Poppa yakin, pasti Abang yakin akan sangat menolak. Toh Poppa pernah berada di posisi Abang saat Momma pernah sekarat.


“Aku bisa beristirahat disini Heart. Aku tidak masalah untuk tidur di sofa. Lagipula disini juga ada kamar, aku bisa beristirahat disana tanpa harus meninggalkan kamu dan Little Star”


“Rery hari ini sampai. Aku disini sama Drea, kamu bisa sekalian urus Rery” Sahut Momma.


“Iya, tapi Rery juga mandiri. Di Kediaman banyak orang yang akan memperhatikan dan mengurusnya, dan nanti juga pasti dia akan datang untuk menjenguk kakaknya”


“Ck ..”


“Biar R dan dua J berikut Dewa saja yang kembali ke Kediaman. Aku disini menemani kamu dan Abang menjaga


Little Star”


“Dua ..” Momma melanjutkan hitungannya. “Hitungan ketiga, masih belum pulang, aku cuekin seumur hidup”


Sungguh statement yang membuat Poppa tidak punya pilihan selain mengiyakan keinginan Momma sekarang.


“Ya sudah, ya sudah, aku pulang” Ucap Poppa pasrah.


“Istirahat yang bener. Jangan lupa makan. Minum Vitamin. Udah tua soalnya”


Meski ucapan Momma terdengar ketus dan sedikit sarkastik, wajah Poppa malah nampak sumringah.


“Makasih ya?”


“Ga usah kesenengan dulu. Kalo kamu sakit, nanti aku repot. Lagian aku masih marah ini. belum tersalurkan dengan benar emosi aku”


“Iya aku tahu”


“.........”


“Tetapi aku juga tahu, kalau semarah apapun Momma pada Poppa ini, tapi Momma selalu perhatian. Ya kan?”


Momma mendengus. “Ge – er!” Kilah Momma. Namun Poppa tetap menyunggingkan senyumnya.


“Love you ..” Poppa mendaratkan satu kecupan di kening Momma dengan lembut. Lalu di ujung hidung Momma, kedua pipi dan bibir Momma yang seolah tak termakan usia. Tetap dan akan selalu menggoda untuk Poppa.


Ini,  yang seringnya meluluhkan Momma. Sikap mesra Poppa yang tak lekang oleh waktu dari sejak mereka pacaran kurang lebih sejak dua puluh tahun lalu. Sikap yang sama, tak pernah berkurang sedikit pun.


“Aku pulang dulu ya?. Aku hanya akan istirahat sebentar, dan aku akan segera kembali kesini”


“Aku bilang istirahat yang cukup ngerti ga?” Tuntut Momma sembari masih memasang wajah sebal.


“Ya sudah iya, aku akan menuruti keinginan Nyonya Andrew Smith yang cantik jelita ini, bahkan mengalahkan


jelitanya sendiri”

__ADS_1


“Gombel!”


Gombal-Jol!


“Udah sana ah!”


Momma mencebik.


“Iya, iya Poppa pulang sekarang, Momma ..”


Poppa tersenyum kecil lalu mendaratkan satu kecupan lagi dengan lembut di kening Momma.


“See you soon, Momma kesayangan Poppa” Ucap Poppa.


“Tau ah!”


**


Saat ini....


“J-a... jang-aannn ...”


“Little Star...”


“Drea...”


“J-a... jang-aannn ...”


“Little Star...”


“Drea...”


“J-a... jang-aannn ... per-gi ...”


“Little Star, tenang sayang... buka mata kamu, ini aku, Ini Abang, Little Star ...”


“Drea ...”


“Ja... JANGAANNNNN!!!!...”


“Little Star, tenang sayang.. ini aku, ini Abang...”


“Kalian tolong minggir sebentar”


“LEE-PAASSS!! ...”


“Little Star ...”


“Drea ...”


“Little Star!”


Andrea tetap saja histeris dan meronta meski Varen sudah memeganginya dengan kuat.


Mereka yang berada di dalam ruang rawat hanya bisa menatap dengan cemas, sambil membiarkan Dokter Alan


mengambil tindakan.


Varen sudah berkali – kali memanggil nama Andrea, mencoba menyadarkan istri kecil tercintanya itu kalau dirinya sudah aman. Namun Andrea seolah tak mendengarkan.


“Aku harus memberinya penenang” Ucap Dokter Alan.


“Tapi dia baru saja siuman Uncle ..”


“Jika tidak Drea akan seperti ini terus”


“Ga apa Bang, biar Drea tenang dulu”


“Baiklah”


Varen mengiyakan Dokter Alan untuk menyuntik Andrea dengan obat penenang.


Meski sedikit tidak rela, karena Andrea baru saja siuman kemudian harus dibuat tak sadarkan diri lagi, namun tak menampik kalau hati si Abang rasa mencelos melihat Andrea yang langsung histeris kala terbangun tadi.


“Apa tidak masalah menyuntikkan lagi obat penenang padanya, sementara ditubuh Drea ada dzat – dzat berbahaya yang disuntikkan oleh para keparat itu padanya?” Ucap Varen dengan khawatir pada Dokter Alan, setelah tubuh Andrea melemas dan ia sudah dibuat tertidur lagi.


Dokter Alan tersenyum tipis.


“Kamu jangan khawatir soal itu. Aku tahu apa yang aku lakukan”


“Kenapa bisa sampai seperti itu, Uncle?. Dia bahkan sepertinya tak mendengarkanku”


“Wajar sebenarnya, bagi mereka yang tubuhnya mengandung dzat – dzat yang kau lihat daftarnya pada lembaran hasil lab yang ku tunjukkan padamu sebelumnya” Jelas Dokter Alan.


“...........”


“Terlebih, salah satu dzat yang masuk ke tubuh Drea, tanpa tercampur dengan yang lainnya akan membuat gelisah yang teramat sangat. Tercampur seperti itu, seperti narkoba efeknya. Bisa halusinasi dan paranoid”


Varen mengusap kasar wajahnya.


Sementara Momma, Mommy Ara, Ake , Ene, Gappa dan Nathan mendengarkan baik – baik penjelasan Dokter Alan.


Setelahnya hati mereka dirasa sama mirisnya dengan Abang perihal kondisi Andrea.


“Tapi tidak akan berlangsung lama kan?..” Tanya Momma. “Setelah ini, Drea akan bisa tenang kan?”


Dokter Alan menggerakkan kepalanya. “Semoga saja tidak. Tapi mengingat kadar banyaknya yang masuk ke tubuh Drea dan banyak campurannya, bisa jadi saat bangun dia akan seperti tadi lagi”


“...........”

__ADS_1


“Kalian tahulah bagaimana para pecandu yang seringnya berhalusinasi. Meski Drea bukan seorang pecandu, kalau dengan kadar obat dan campuran dalam darahnya seperti itu. Ya Drea akan sama seperti mereka untuk sementara waktu”


“...........”


“Linglung, Halusinasi, paranoid, gelisah berkepanjangan. Prof saja, sudah bisa menyerang sistem saraf pusat. Ditambah jika ada kemungkinan Drea memiliki trauma, selain akan membuat penurunan tekanan darah dan ber-efek ke jantung. Ada kemungkinan bukan hanya halusinasi atau paranoid saja”


“Apa kemungkinan yang lebih buruk dari itu?”


“Aku khawatir, Drea bisa mengalami delusi jika dia memiliki trauma apabila trauma itu menempel di alam bawah sadarnya”


Varen dan keluarganya menghela nafas frustasi sembari melirik pada Andrea.


“Sorry to say (Maaf jika harus mengatakan ini), Tetapi jika Drea ‘menggila’ maka aku harus membuatnya tak sadarkan diri, agar penanganan untuk membersihkan semua obat bius yang tercampur di darahnya tidak terganggu”


“Apa itu akan sangat menyakitinya Uncle?”


“Aku tidak akan membiarkan gadis kecil kesayanganku dan Aunt-mu ini menderita Alva”


Dokter Alan merangkul pundak Varen dan menekan pelan untuk membuat si Abang sedikit tenang.


“Kalian sabarlah, aku harus menunggu efek obat penenang hilang dan Drea sadar kembali. Jika dia histeris seperti tadi. Maka akan aku akan langsung mengambil tindakan seperti yang kukatakan tadi”


“Baiklah Uncle. Terima kasih banyak”


“Tak perlu berterima kasih, Alva. Kita ini keluarga”


Momma dan mereka yang bersamanya tetap ikut berterima kasih pada Dokter Alan sebelum ia keluar dari ruang rawat Andrea.


“Satu lagi” Ucap Dokter Alan sebelum pergi. “Aku tahu kamu akan selalu siaga menjaga Drea, tapi ya aku katakan jangan lengah, jika ada indikasi tubuhnya ‘menagih’, Drea bisa menyakiti dirinya sendiri”


“Could be like that Alan? (Bisa sampai seperti itu Alan?)”


“Aku hanya memprediksi berbagai macam kemungkinan Mister Anth, bukan satu dua macam saja yang tercampur dalam darah Drea sekarang. Drea mungkin memang bukan seorang pecandu sebelumnya, tidak pernah menggunakan obat – obat terlarang. Namun semua dzat yang sudah tercampur kedalam darahnya sudah terlanjur menjalar dan pastinya sudah sampai pada saraf dan otaknya.”


Dokter Alan kembali bicara panjang lebar menanggapi pertanyaan Gappa.


“Aku mengambil satu – satu kemungkinan yang bisa terjadi dari setiap dzat berdasarkan hasil lab, jadi yah segala kemungkinan dari setiap obat itu bisa terjadi. Bahkan hingga ke kerusakan saraf permanen. Sekalipun penanganan terbaik aku berikan dan lakukan, tetap semua butuh proses dan waktu”


“...........”


“Dan sayangnya memang, untuk tindakan selanjutnya, aku harus menunggu reaksi kedua Drea setelah ia sadar dari penenang. Juga pertimbangan atas kondisi tubuh Drea sendiri. Karena ada beberapa obat yang mungkin bisa menimbulkan efek samping lainnya jika aku gegabah soal kondisi Drea ” Sambung Dokter Alan.


Gappa dan yang lainnya manggut – manggut.


“Maaf, tapi kalian harus sedikit bersabar”


Gappa dan lainnya kembali manggut – manggut, meskipun ada kegetiran yang menyelimuti hati mereka sekarang.


***


Telah sampai dipenghujung hari yang kian gelap di luar. Gappa, Ake dan Ene sudah diminta untuk pulang dengan diantar beberapa anak buah mereka oleh Varen, Momma, Mommy Ara dan Nathan yang bertahan untuk menjaga Andrea yang menunjukkan tanda – tanda kalau ia akan kembali sadar.


Varen dan Nathan yang sedang berada di dekat Andrea menyadarinya kala pergerakan di brankar tertangkap mata


mereka.


“A-baangg..”


Suara lirihan keluar dari mulut Andrea.


“Little Star ....”


“A-baangg.. ma-maafin Drea .. Abaanngg ..”


“Little Star ....”


“Drea..”


Varen, Momma, Mommy Ara dan Nathan mencoba memanggil Andrea dengan pelan.


“A-baangg.. ma-maafin Drea .. Abaanngg ..”


Namun Andrea seolah tak mendengar, tak melihat mereka yang berada disekelilingnya.


Mata Andrea terbuka, tidak histeris memang, namun Andrea meracau seiring dengan tangisannya yang terdengar.


“Little Star ... ini Abang Little Star ...”


“Maafin Drea Abaanngg ......”


“Little Star, sayang, lihat Abang sini......”


“Drea sudah kotor Abaanngg ...” Andrea tetap bergeming dalam racauan dan tangisannya.


“Drea.... sayang... kamu udah ga apa – apa, Nak .....” Momma ikut bersuara.


“Drea sudah kotor Abaanngg ...”


“Little Star, Sayang. Hey, lihat Abang. Drea, lihat Abang”


“Drea sudah tak pantas untuk Abaanngg .....”


“Little Star!!”


Varen sedikit mencengkram lengan Andrea.


“LEEEEPPPAASS!!! JANGAN SENTUH AKUUUUU!!...”


***

__ADS_1


To be continue ..


__ADS_2