THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 58


__ADS_3

  WASPADALAH 


Selamat membaca...


“Well, karena kamu sudah menjadi milik aku sekarang, dan aku tentunya harus memastikan lagi kalau kamu ga akan berulah.”


“Maksudnya?.”


“Maksudnya aku harus menandai wilayah teritorial aku bukan?.”


“A-apa......?.”


Jeff menarik Jihan dalam dekapannya dengan cepat.


Tak butuh waktu lama bagi Jeff untuk kembali menguasai bibir Jihan. Dengan lembut kali ini.


Manis, saat Jihan membalas ciumannya dengan cara yang sama. Terlalu lembut mungkin hingga suara cecapan pun tak terdengar dari bibir dua insan yang sedang bertaut itu. “Akan aku tandai, tapi mungkin tidak sekarang.” Ucap Jeff dan melepaskan ciumannya. Membawa Jihan kearah sofa dan mendudukkan wanita itu disana.


‘Hah selamat.’ Batin Jihan.


“Tunggu disini.”


Jihan mengangguk lalu Jeff nampak masuk ke kamarnya.


****


Jihan mendongak saat Jeff sudah kembali dari kamarnya dan pria itu kini berdiri didepannya.


“Aku pikir kamu ganti baju.” Ucap Jihan yang tadi mengira Jeff akan mengganti pakaiannya karena akan mengantarnya pulang ke Bandung.


“Aku belum tidur dengan cukup dan aku rasa kamu juga butuh istirahat. Lagipula ini masih teramat sangat pagi untuk membangunkan supir. Kita akan beristirahat dahulu baru aku akan mengantar kamu kembali ke Bandung. Kamu ijin saja hari ini.”


Jihan mengangguk. Jeff menggeser meja dekat sofa dengan kakinya. Membuat Jihan merasa sedikit heran.


Sedikit terkejut karena Jeff kini berlutut didepannya lalu menggenggam satu tangannya. “Maaf, aku tak bisa memikirkan cara picisan untuk melakukan ini. Aku bukan orang yang romantis.”


Jeff merogoh saku dengan satu tangannya.


“Tapi kalau soal ketulusan, aku rasa aku punya dan tak kalah oleh para bucin diluar sana.”


Hati Jihan berdebar saat Jeff mengangkat sebuah kotak didepannya sambil membuka kotak kecil tersebut.


“Menikahlah denganku dan jawabannya harus iya.” Ucap Jeff dengan percaya diri.


Jihan terkekeh geli. Ia tak habis pikir pada pria tampan yang sedang berlutut melamarnya ini. Tak ada romantis – romantisnya saat melamar baik suasana maupun ucapannya. Tapi entah kenapa bahagia dihati Jihan begitu membuncah. Pria yang sepertinya angkuh namun punya sisi lain selain dari keangkuhan dan percaya dirinya. Melamarnya hanya dengan cara sederhana, namun Jihan suka.


Jihan merasa bahagia.


“Bener – bener ga ada romantisnya...”


“Well, maaf soal itu. Sudah aku bilang aku bukan pria yang romantis.” Jeff tersenyum. “Tapi aku mencintai kamu.” Ucap Jeff dengan serius. “Menikahlah denganku. Jika kamu mencari kenyamanan, akan aku berikan rasa nyaman lebih dari yang kamu butuhkan.  Jika kamu mencari cinta, akan aku berikan semua cinta yang kamu cari dan kamu butuhkan sampai kamu tidak akan pernah merasakan adanya cinta yang lain untuk kamu selain dari aku.”


‘Katanya bukan pria romantis. Tapi apa yang dia bilang barusan bahkan gue sendiri ga sampai untuk bisa merangkai kata – kata seperti dia ini.’


Jihan tersenyum.


“I love you, Jihan Shaquita. Menikahlah denganku.” Ucap Jeff dengan serius namun tersenyum.


Jihan tak bisa menghentikan senyumnya. Ia mengangguk sambil membelai wajah Jeff.


“I love you too, Jeff Alton Smith. Dan aku terima lamaran kamu yang ga ada romantis – romantisnya ini.”


Jeff terkekeh. Senyuman lebar kini terpatri di wajahnya. Bahagia, karena Jihan menerima lamarannya yang sedikit memaksa namun tulus dari dasar hati dan senyum serta tatapan tulus Jihan pun terpancar untuknya.


Jeff memasangkan cincin yang sudah ia persembahkan di salah satu jari Jihan. “Aku harap kamu menyukai cincin ini.”


‘Buta kali kalo gue ga suka sama ini cincin.’


“Suka?.”


“Iya aku suka, Jeff.”


“Syukurlah.”


“Ngomong – ngomong ini tadinya cincin untuk siapa?.”


Jeff yang sudah duduk disamping Jihan langsung menoleh saat mendengar pertanyaan Jihan.


“Biasa aja dong ngeliatinnya, kan aku hanya tanya. Soalnya tiba – tiba kamu sudah mempersiapkan cincin ini.” Ucap Jihan. ‘Pas banget lagi dijari gue gini.’


Tak!


Jeff menyentil dahi Jihan.


“Sakit Jeff.”


“Kamu kalau bicara dipikir dulu makanya. Ya cincin ini khusus aku pesan untuk kamu lah. Sudah aku persiapkan sejak beberapa waktu lalu. Bareng si John waktu memesan cincin untuk Prita. Walaupun saat itu kami masih ragu, tapi niatan untuk John memiliki Prita dan aku memiliki kamu sudah ada dan lumayan kuat.” Jelas Jeff. “Makanya saat niatan untuk memiliki kalian – kalian wanita yang sudah memenangkan hati kami sudah semakin besar, kami pesanlah cincin ini.”


Jihan pun tersenyum mendengar penjelasan Jeff barusan.


“Makasih ya ..”


Jeff tersenyum. “Aku yang seharusnya berterima kasih. Meskipun memaksa kamu untuk bersedia menikah denganku nanti.”


Jihan dan Jeff pun terkekeh bersama.


“Tapi hebat perkiraan kamu. Bisa pas begini cincinnya dijari aku.” Ucap Jihan dan Jeff tersenyum lebar.


“Jangankan ukuran jari kamu. Ukuran dada kamu pun aku tahu dengan pasti.” Sahut Jeff dengan menyeringai jahil.


‘Salah ngomong gue.’


***


“Yuk, aku mau ajak kamu ke Rumah Utama dulu. Aku sudah minta ijin pada Ibu sekalian minta tolong menjaga Nathan. Aku juga sudah menghubungi atasan kamu dikantor.”

__ADS_1


“Hah?.”


“Kenapa?. Ga boleh aku memintakan ijin untuk calon istri aku?.”


“Ya, bukan ga boleh. Tapi...”


“Tapi apa?.”


“Tapi Bu Ria itu kan rada judes, Jeff.” Ucap Jihan. ‘Pasti nanti gue kena semprot sama dia kalo ijin gara – gara hal pribadi gini.’


“Jangan khawatir. Atasan kamu itu tahu aku. Dia ga akan berani macam – macam sama kamu.” Ucap Jeff sambil membelai kepala Jihan lalu menggandeng tangannya keluar dari Penthouse. “Akan aku buat dia tidur dijalanan kalau dia berani – berani lagi macam – macam sama kamu.”


Jihan mendelik tak bersuara.


‘Sebesar itukah kekuasaannya?.’


**


“Kenapa sih senyum – senyum gitu dari tadi aku perhatiin?.”


Jihan ikutan tersenyum melihat tingkah Jeff yang mesam – mesem sepanjang perjalanan dari Penthouse nya hingga mereka sudah sampai di Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith di Jakarta.


“Bahagialah.” Sahut Jeff sambil memarkirkan mobilnya. “Yuk.”


Jeff mengajak Jihan keluar dari mobilnya untuk segera masuk ke dalam Kediaman Utama.


‘Ah iya gue lupa kalau ada si Kajol juga.’


Jeff membatin saat melihat mobil Andrew yang sudah terparkir dihalaman Kediaman Utama mereka itu.


‘Walau Jihan bukan anggota keluarganya, entah kenapa gue merasa was – was bisa bernasib seperti si John yang dikerjai sama si Kajol.’ Batin Jeff tengah khawatir.


Jihan yang tangannya sudah digenggam Jeff, sedikit heran karena Jeff sedang nampak melamun. “Jeff?.” Panggilnya sambil menggoyangkan pelan tangannya yang sedang di genggam oleh Jeff.


Jeff terhenyak. “Hemm?...”


“Kenapa?.”


“Ada Fania. Kalau ada sesuatu yang terjadi diluar nalar saat didalam nanti, yang perlu kamu lakukan adalah percaya padaku.”


“Apa kamu memperingati aku soal Fania?.” Tanya Jihan sedikit heran.


“Iya.” Sahut Jeff. ‘Tentu saja, siapa lagi?.’ Batinnya. 'Hanya dia seorang yang super iseng dan parahnya virus isengnya itu pun sudah menjalar kepada anggota keluarga yang lain.'


“Memang kenapa?. Dia bukan fine – fine aja sama hubungan kita?.”


“Memang. Tapi dia patut diwaspadai. Mengingat apa yang dia lakukan pada John kemarin dia rencanakan hanya dalam waktu beberapa menit.” Si bule gila waspada.


“Memang John diapain sama Fania?. Aku jadi penasaran.”


“Nanti aku ceritakan.” Sahut Jeff cepat. “Yang jelas wanita cantik yang sedang melihat kita sekarang itu, adalah Poison Ivy musuhnya Batman dan Robin. Cantik, sangat, tapi licik dan mematikan.” Bisik Jeff pada Jihan yang kemudian terkekeh. ‘Terlebih lagi kalau si Kajol sudah tersenyum seperti itu. Entah apa yang ada diotaknya untuk


mengerjai gue nanti kalau dia tahu gue sudah melamar Jihan.’


“Ya, dia pasti akan meledek kita. Tapi ledekannya itu bisa membuat orang stroke seketika.”


***


“Wuih mesra amat Jack ama Rose titanic.”


Semua yang berada didekat Fania spontan menoleh.


‘Waspada Jeff.’ Batin Jeff menyiapkan dirinya. Sejauh ini rasanya masih aman.


“Ada yang baru jadian nih kayaknya.” Fania memainkan alisnya karena melihat Jeff dan Jihan yang tangannya saling menggenggam.


Jihan melepaskan genggaman tangannya dari Jeff untuk menyapa dana cipika cipiki dengan Fania.


Fania menyambut Jihan dengan sumringah begitu juga Prita dan Michelle yang kemudian berdiri untuk mendekati dan menyapa Jihan. “Apa kabar Fania?.” Sapa Jihan. “Kalian juga apa kabar?.” Sapanya pada Prita dan Michelle.


“Baik Alhamdulillah, Han.” Sahut Fania.


“Baik Kak Jihan.” Sahut Prita dan Michelle.


“Lo sendiri apa kabar?.” Tanya Fania pada Jihan.


“Aku baik Fan.”


“Sini Kak.” Ajak Michelle agar Jihan ikut bergabung bersama mereka di ruang santai.


“Nathan ga diajak?.” Tanya Fania setelah Jihan juga menyapa Andrew, John dan Dewa yang juga sedang berkumpul disitu.


“Engga Fan.”


“Yah ..... Padahal kangen gue sama dia.” Ucap Fania. “Ga bawa kartika sari, Han?.”


‘Jangan sampai dia tahu kalau Jihan dari apartemen gue.’


“Yah maaf semalam buru – buru kesini nya.”


“Hah?. Udah dari semalem kesini nya?.”


“Iya ..”


‘Haish si Jihan nih.. Ga ngerti kode mata gue apa? ..’


“Berarti lo nginep di apartemennya Kak Jeff..?.” Fania memicingkan matanya pada Jeff.


‘Siap – siap Jeff.’


“Wah modus Kak Jeff.”


Celetukan bukan keluar dari mulut Fania, melainkan dari mulut Michelle.


‘Ah iya gue lupa, nona satu itu juga bahaya mulutnya.’ Batin Jeff. “Ck! Jangan asal Chel!. Gue ga apa – apain dia, okay?.”

__ADS_1


“Kalian percaya?.” Si Kajol bertanya pada yang lain dengan raut wajah yang meledek.


“Engga!.” Sahut Andrew, John, Prita, Michelle dan Dewa kompak.


“I don’t care!. ( Gue ga perduli! ). Kalian percaya atau engga.”


Jeff menyahut dengan wajah sebal, sementara yang lain terkekeh.


“Jangan asal celap – celup anak orang lagi lo Jeff!.” Celetuk Andrew.


“Ga istri ga suami sama usilnya!.” Sahut Jeff


“Iya Ji, minta kepastian dulu dong dari dia.” John bersuara. Jihan hanya tersenyum mendengar ucapan Andrew dan John.


“Weits, jangan underestimate gue lo bule koplak. Dua sama kita sekarang.” Timpal Jeff.


“Maksudnya lo udah ngelamar Jihan?.” Tanya Fania antusias.


“Lo ga lihat itu cincin pengikat dijarinya?.” Sahut Jeff dan Fania langsung mengangkat tangan Jihan.


“Ish! Gila gercep lo Kak!.”


“Beneran Ji?. Kak Jeff udah lamar lo?.”


Jeff melirik pada Fania yang mendekati Jihan.


“Iya Fan.”


Jihan menjawab sambil mengangguk dan tersenyum pada Fania.


“Dan lo terima?.”


Jeff melirik lagi pada Fania.


“Iya, aku terima.”


“Jelas lah dia terima . Orang dia cinta sama gue juga.”


“Ye, pede banget.”


“Bener kok yang Jeff bilang, Fan. Aku terima karena aku juga mencintai dia. Toh kami juga sudah punya Nathan.” Ucap Jihan dan Fania manggut – manggut.


“Apa?. Lo mau mikir apa?. Mau mikir cara lo ngerjain gue seperti lo ngerjain si John kemarin?.” Jeff terkekeh. “Lo ga punya kesempatan kalau mau mengerjai gue sih.”


Jeff merasa menang karena yakin aman.


“Bersyukur lo si Jihan bukan ade atau kakak gue.” Cibir Fania sambil melirik pada Jeff. Kemudian tersenyum pada Jihan.


“Kalau iya, nasib lo bisa seperti gue Jeff!. Hipertensi dan serangan jantung bahkan stroke mungkin bisa menghampiri lo dalam sekejap.”


Korban Prank kemarin berkeluh kesah. Yang lain terkekeh geli.


“Oh iya, tadi Jeff bilang katanya kamu kemarin ngerjain John sama Prita?.”


Jihan penasaran.


Fania mengangguk sembari tersenyum jahil.


“Cerita dong. Penasaran.”


“Nanti aja lihat videonya?.”


“Hah? Sampe divideoin?.”


“Dibikin Live malah sama mereka nih dengan Keluarga di London.” Sahut Prita dan Jihan sampai membuka mulutnya.


“Ya ampun segitunya. Makin penasaran aku.”


“Gampang itu. Gue mau nanya sekali lagi sama lo Ji. Lo yakin ini nerima lamarannya Kak Jeff.”


“Ga perlu berusaha memprovokasi dia Kajol, Jihan sudah gue peringatkan.” Ucap Jeff santai namun hatinya sudah siaga satu.


“Siapa yang memprovokasi sih, orang gue Cuma mau nanya!.” Timpal Fania pada Jeff dan kemudian beralih lagi ke Jihan. “Yah, gue turut berbahagialah untuk kalian berdua.”


Sementara itu si Donald Bebek nampak berbisik dengan John dan Dewa.


“Taruhan?. Pasti kena juga dia.”


Ketiga pria itu terkekeh, sambil melirik pada Jeff.


‘Bicarakan apa mereka?.’ Jeff memandang curiga pada tiga orang saudara lelakinya, lalu melirik pada Fania.


“Tapi ya Han, gue bukan mau ngancurin kebahagiaan lo nih ya. Cuma sekedar ngingetin aje.”


Jeff langsung menoleh pada Fania.


“Ja....”


“Tapi gue rasa lo harus bener – bener memastikan deh kalau ga ada Nathan – Nathan yang lain yang bertebaran diluar sana.” Ucapan Fania membuat Jeff membulatkan matanya. “Ya secara lo pasti tau kan wadah celupan Kak Jeff banyak.”


‘Wah si Kajol.’


“Yah gue si demi kebaikan lo Ji ngomong gini. Kalo tau – tau nanti pas lo udah nikah sama dia eh nongol Nathan yang lain dari Mama Jihan yang lain, lo siap – siap dimadu Ji.” Ucap Fania dengan wajah serius namun kalau diperhatikan dengan seksama si Kajol berusaha sekuat tenaga menahan kedutan dibibirnya melihat Jihan yang seketika langsung menoleh dan menatap pada Jeff. “Emang mau lo dimadu, kalo ternyata ada cewe lain yang nasibnya sama kayak lo nih gegara dia?.”


Air muka Jeff langsung berubah panik.


'Biar kate dikit kan paling engga gue bisa bikin mukanya sibule gila panik ga karuan. Wahahaha.' Batin Fania.


“Gue bilang juga apa.” Si Donald Bebek nyeletuk pelan yang kemudian diiringi kekehannya bersama John dan Dewa.


“Ga ada Ji!. Sudah aku pastikan ga ada! Hanya kamu seorang, wanita yang mempunyai anak dari aku. Jangan terprovokasi ucapannya Medusa!.”


***


To be continue.....

__ADS_1


__ADS_2