THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 138


__ADS_3

🔘 MISSION looks IMPOSSIBLE 🔘


âšȘ  Misi yang nampak Mustahil  âšȘ


******************************************************************************


Selamat membaca ........


******************************************************************************


 


Rome, Italy


Seorang pria yang berperawakan tampan dan berpenampilan bak seorang kepala mafia dengan wajah dingin dan tegas nan mendominasi kini sudah berada di salah satu Hotel Mewah yang berada disebuah kota yang merupakan Ibu Kota negara Italia.


Lucca, disambut oleh seorang pria setengah baya yang memakai setelan jas rapih yang kemudian membawanya


untuk menemui seseorang yang sudah amat menantikan kedatangannya. Seorang laki – laki tampan berperawakan Inggris nampak langsung berdiri dari duduknya saat melihat Lucca tiba.


Lucca berdiri dengan tegaknya berikut ekspresi dingin yang mendominasi khas Lucca dengan pandangannya yang nampak tajam pada pria yang kini sudah berhadapan dengannya sambil melempar senyum dan nampak berusaha untuk bersikap sopan pada Lucca.


“Signore Lucca Valentino, e un onore conoscerti. ( Tuan Lucca Valentino, sebuah kehormatan bisa bertemu denganmu ).”


“Joven Zepeto.... just speak with your English because your Italiano is very bad. ( Joven Zepeto.. berbicaralah dengan Bahasa Inggris mu karena Bahasa Italia mu sangat buruk ).” Ucap Lucca datar baik nada bicara maupun ekspresinya. Dan pria bernama Joven Zepeto itu tersenyum tipis.


“Very well. ( Baiklah ). Forgive me, if make you uncomfortable. ( Maafkan aku, jika sudah membuat anda tidak nyaman ).”


“Since I don’t like small talk, just repeat what you have said to my right hand about your ‘offer’. ( Aku tidak suka berbasa – basi, ulangi saja apa yang sudah kau sampaikan pada orang kepercayaanku tentang ‘tawaran’ mu.”


Joven mengangguk dan mempersilahkan Lucca untuk duduk bersama, berhadapan dengannya lalu mengatakan


keinginannya agar Lucca dapat membantu menemukan orang yang sudah meledakkan gedung miliknya yang berisikan senjata api, uang bahkan berbagai jenis barang lainnya yang merupakan sumber mata uangnya.


Joven juga menjelaskan kalau malam ini dia akan melakukan transaksi cadangan untuk transaksi pertamanya yang


gagal hingga ia mengalami kerugian jutaan dolar akibat gedung tempat penyimpanan  berikut barang dan sejumlah


uang cash yang sangat banyak itu meledak, hancur, dan hangus terbakar tanpa sisa.


Lucca mendengarkan dengan baik setiap hal yang Joven katakan. Namun ekspresinya tetap sama seperti saat


ia datang tadi, meski Lucca duduk dengan begitu elegan, membuatnya nampak berkharisma, selain aura mafia yang memang terpancar dari dalam dirinya.


Joven juga menginginkan Lucca untuk bergabung bersamanya, memperbesar bisnis dan kekuasaannya. Dan itulah


alasan terbesar Joven menginginkan Lucca menerima tawarannya, karena ia tahu kekuasaan Lucca hampir mencapai satu Italia, belum lagi dibeberapa negara lainnya. Akan menjadi keuntungan besar bagi Joven jika Lucca mau bekerja sama dengannya dan menerima penawarannya itu. Setidaknya dia merasa jika hal itu terjadi, tidak akan ada yang berani menyentuhnya di Italia ini.


“Your offered was so tempting. But let me ask you one thing. ( Penawaranmu terdengar menggoda. Tapi aku mau bertanya satu hal padamu ).” Ucap Lucca.


“Feel free to do that. ( Silahkan saja kalau begitu ).” Sahut Joven.


Lucca menatap Joven. “Adjieran Smith.” Ucap Lucca lagi. “How do you get those from them?. Because from what I


know, they are a big, and wealthy family. Even richer from me. Also one of strong family. From what I’ve heard, now you have a half of their wealthy in you hand now. How can be?. ( Bagaimana kau bisa mendapatkan itu semua dari


merek. Karna setahuku, mereka adalah keluarga yang besar dan sangat kaya. Bahkan lebih kaya dariku, juga mereka termasuk kuat. Dari apa yang kudengar, kau memiliki setengah kekayaan mereka ditanganmu sekarang. Kenapa bisa begitu? ).”


“Well, now still half. But soon, I will owned their everything. Since that family is no longer exist!. ( Yah, sekarang memang baru setengahnya. Tapi aku akan memiliki keseluruhan apa yang mereka punya secepatnya. Sehubungan karena keluarga itu sudah tak lagi ada! ).”

__ADS_1


Joven berbicara dengan sedikit menggebu serta terpancar dendam dari sorot matanya.


“Beside, I supposed have to what they have, but they won’t let me, so I dispossesed them from this world when they’re off guard and take what should I have. ( Lagipula, aku seharusnya memiliki juga apa yang mereka miliki, tapi mereka tak membiarkanku. Jadi aku mengusir mereka dari dunia ini saat mereka lengah dan mengambil apa yang sudah seharusnya ku miliki ).”


Lucca tersenyum miring. “Sounds coward to me. ( Terdengar pengecut bagiku ).” Joven setengah terhenyak dengan


ucapan Lucca barusan. “But, this world is a battle, right?. The strongest win. ( Tapi dunia ini adalah sebuah pertempuran, bukan?. Yang terkuat menang ).”


Joven tersenyum penuh arti.


“I couldn’t agree more. ( Aku sangat setuju ).” Sahut Joven. “Well, as I said. Adjieran Smith’s was dispossed. Zepeto’s replace them. All of things that Adjieran Smith have, will be mine with no exception. That’s why I offered you a half of it, if you pleased to cooperate with me. ( Yah, seperti yang ku bilang, klan Adjieran Smith sudah tiada. Klan Zepeto yang kini menggantikan mereka. Semua yang Adjieran Smith punya, akan menjadi milikku tanpa terkecuali. Itulah mengapa aku menawarkanmu setengahnya, jika anda berkenan untuk bekerjasama denganku ).”


“Seem that you already sure they’re all really dispossed. ( Sepertinya kau begitu yakin kalau mereka sudah benar – benar tiada ).”


“They blown in front of my eyes. ( Mereka meledak didepan mataku ).” Sahut Joven. None of them showed after almost a month, so they must be already gathered ‘above’. ( Tidak ada lagi yang muncul setelah hampir sebulan, jadi mungkin mereka sudah berkumpul ‘diatas’ ).”


Joven nampak pongah.


“So, are you accept what I offered and we can have a deal now? ( Jadi, apa anda menerima apa yang kutawarkan dan kita bisa mencapai kesepakatan sekarang? ).” Ucap Joven seraya bertanya pada Lucca yang sedang mengeluarkan cerutunya dari saku jas.


“Big offered for a big favour of my power, sounds not bad. ( Tawaran besar untuk bantuan yang besar dari kekuasaanku, terdengar lumayan ).”


Lucca menyalakan cerutunya dengan sebuah pemantik besi.


“Let me know if you serious with that. ( Buktikan jika kau memang serius ).”


“Well let me prove it to you ( Ijinkan aku membuktikannya kalau begitu ).” Ucap Joven yang kemudian berdiri. “Shall we?. ( Mari? ).”


Joven mempersilahkan Lucca dengan sopan. Lucca pun seraya berdiri sambil memainkan pemantik besinya setelah mematikan bara dicerutunya pada sebuah asbak.


“Very nice match you have, by the way. ( Ngomong – ngomong, pemantik milikmu itu sangat bagus ).” Puji Joven.


Lucca tersenyum miring. “This, could means two things. Your family needs you, or your death is right behind you. ( Ini, bisa berarti dua hal. Keluargamu membutuhkanmu, atau mautmu sudah berada tepat dibelakangmu ).” Ucap Lucca yang setengah menyeringai dan Joven mengernyitkan dahinya karena tak paham maksud Lucca.


**


“Is my men not enough?. ( Apa orang – orangku tidak cukup? ).”


Lucca berkata datar saat melihat barisan mobil yang nampak sebuah barikade yang menunggu sesuatu datang


untuk mereka kawal. Ia sedikit terkejut juga melihatnya, karena itu memang bukan orang – orangnya yang dikerahkan seolah akan mengawal Joven dan barang miliknya hingga ia akan melakukan transaksi besar – besarannya sebentar lagi.


“I’m so sorry, I don’t mean to offend you. I just improve. ( Mohon maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu. Aku hanya berimprovisasi ).”


Lucca hanya tersenyum miring mendengar ucapan Joven barusan yang duduk bersebelahan dengannya dalam sebuah mobil.


'Even your improvement can not stop the two drakes that will eat you alive!. ( Bahkan improvisasimu tidak dapat menghentikan dua naga yang akan memakanmu hidup - hidup! ).' Lucca membatin seraya tersenyum miring menatap barisan mobil hitam yang sudah dipastikan terisi oleh orang - orang bersenjata.


**


“HEART!!!!.”


“LITTLE F!!!!.”


Andrew dan Reno berteriak sangat kencang. Andrew hendak menghampiri Pagani Huayra BC yang ia sudah yakin


betul siapa yang sedang mengendarainya. Namun Andrew tak sempat, karena mobil tersebut sudah bergerak masuk dengan sangat cepat ke dalam kolong truk.


Andrew dan Reno benar – benar panik setengah mati melihatnya. Andrew sampai memukul kemudi mobil yang sedang ia pegang, karena merasa telat untuk menghadang Fania dan rasanya ia akan mengutuk dirinya sendiri jika wanita tercintanya itu sampai celaka.

__ADS_1


**


“Kolong truk itu ga seberapa tinggi, jadi lo ga perlu ngeluarin badan lo. Gue rasa tangan lo sampai untuk memasang tanpa badan lo harus sedikit keluar. “Bisa?.”


“Bisa Kak!.”


“Ya udah. Here we go! (Kita jalan sekarang!).” Fania memegang erat kemudi, lalu menginjak pedal gas mobil dalam – dalam,  sambil kemudian satu tangannya bergerak cepat di perseneling mobil.


Debar jantung Michelle sudah berdegup kencang sambil memegang erat – erat peledak ditangannya.


“Kita hanya punya satu kesempatan, jangan sampai gagal.”


“Iya Kak!.” Sahut Michelle cepat.


VROOOOMMM ..


Suara mobil yang dipacu cepat terdengar.


WHOSSHHHHH!!! ..


“SEKARANG CHEL!.” Fania berseru dengan kencang dan cepat pada Michelle, dan Michelle pun langsung mencondongkan tubuh sambil mengulurkan tangannya keatas mobil untuk menempelkan peledak yang sudah direkatkan pada sebuah bahan bertekstur lilin yang bisa menempel.


Michelle merekatkan dengan kuat, sekaligus memastikan kalau peledak itu benar – benar tertempel dibawah truk dimana mereka sedang berada dibawahnya sekarang. “Done!.”


Fania melirik spion disampingnya, sedang mengira – ngira dengan cepat.


ZRAK!!


Fania langsung mengarahkan kemudinya ke arah kiri setelah Michelle mengatakan ‘sudah’ dan duduk kembali ke


posisinya semula.


****


Andrew dan yang lainnya benar - benar menyaksikan saat Pagani Huayra BC Silver itu pun masuk dengan mulus kedalam kolong truk dalam kecepatan tinggi namun stabil dan hanya memerlukan waktu sekian detik saja hingga mobil tersebut itu melesak keluar dengan cepat dan lincah dari kolong truk melalui sisi kiri truk.


“Akan gue buat dia ga bisa beranjak dari ranjang setelah semua ini selesai!,” Andrew bergumam pelan, namun


suaranya tetap terdengar di saluran komunikasi yang terhubung oleh lima pangeran lainnya.


Lima pangeran yang lain pun sontak terkekeh berikut kelegaan diwajah mereka yang tadi melihat Fania mengendarai mobil dengan lincah dan terlihat begitu penuh perhitungan dengan jago masuk ke bawah mobil truk tanpa kendala, dan keluar lagi dengan cepat, berikut prediksi yang tepat hingga bisa keluar dengan begitu mulusnya dari dalam kolong truk, tanpa sedikit pun goresan mengenai mobil yang wanita itu kendarai.


Enam Pangeran tersebut menggeleng takjub dan tak percaya dengan apa yang sudah mereka saksikan, berikut kelegaan dalam hati masing – masing.


**


“Hah, Syukurlah ... “ Michelle menarik nafas lega disamping Fania saat sudah selesai dan Fania memperlambat laju mobilnya untuk menepi sebentar, hendak memperhatikan enam mobil yang berjalan beriringan yang juga sudah memperlambat laju mobil mereka.


“Syukur deh, lo batal jadi jendes Chel.” Ucap Fania sambil terkekeh. “Coba kalo kita ga dateng tepat waktu.. jadi janda kembang lo bisa – bisa.” Michelle ikut terkekeh.


“Boo – Boo selamat, aku selamat, Kak Fania yang sepertinya akan tidak selamat.”


Michelle menunjuk mobil Andrew dan Reno yang sudah lebih mendekati mobil yang Fania dan Michelle tumpangi itu.


“Oh No! No! No!.” Fania sedikit meringis. "Haduhh, alamat ini mah." Ngeri - ngeri sedep akan menghadapi dua pria dalam dua mobil yang dimaksud. "Lo juga ikut tanggung jawab Chel, ada sama gue disini. Pasti bakalan kena semprot juga lo."


"Ih, aku kan diajak Kak Fania. Aku tinggal bilang kalo Kak Fania yang paksa aku ikut, we."


"Ish, dasar ipar durjanah!."

__ADS_1


**


To be continue.....


__ADS_2