THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 179


__ADS_3

♥♥   S’PERTI MATI LAMPU YA ZHE-YENK   ♥♥


 


Selamat membaca...


 


Jakarta, Indonesia


“Tan....” Andrea menahan Nathan saat mereka sudah menyelesaikan sarapan.


“Hem?.” Sahut Nathan.


“Nanti antar lihat Sekolah loh.”


“Nanti pas masuk juga lihat....”


“Ih, mau lihat sebelum mulai masuk justru. Mau menghafal rute jalan dari sini ke sana.”


“Hey, sis lo mau ngapalin jalan emang mau ngelamar jadi Ojol?!.” Ucap Nathan asal membuat Andrea mencebik yang sudah tahu apa itu Ojol, karena sudah sering memesan makanan lewat aplikasi yang pakai jasa Ojol kalau sedang di Jakarta.


Sementara itu John dan yang lainnya yang mendengar hanya terkekeh kecil. “Kamu kan sekolah juga diantar supir, Giggles.”


“Aku juga ingin merasakan naik angkutan publik disini, Papi.” Sahut Andrea.


“Elah, ga usah cari ribet oh Nona Andrea yang blaem – blaem. Kayak Poppa bakal kasih lo ijin naik angkutan umum aja!.”


“Nathan benar. Poppa tidak akan memberi kamu ijin untuk bersekolah dengan angkutan umum.”


“Yup! Begitupun kami.” Timpal Jeff atas ucapan Jeff.


“Ck....”


“Tau lo!. Katanya hari ini mau minta dianter ke rumah Ene sama Ake?. Jadi ga?.”


“Eh iya! Jadi dong.”


“Ya udah ayo!.”


“Oke!. Gue ambil tas sama ponsel dulu.” Sahut Andrea semangat. Setengah berlari Andrea pun menaiki tangga menuju kamarnya. Nathan juga sama. Ia masuk ke kamarnya sebentar untuk berganti baju dan mengambil dompetnya untuk ia bawa.


***


London, Inggris


 


Dua Hot Daddies sedang berbicara santai di ruangan pribadi salah satunya.


“Lo dan Fania ke Jakarta sebelum Little Star mulai bersekolah atau setelah itu?.”


Reno menyeruput kopinya hitamnya.


“Sebelum Drea masuk. Lusa gue dan Fania ke Indo.” Jawab Andrew yang kemudian ikut menyeruput kopi hitamnya juga. “Gue harus memastikan kalau Drea akan baik – baik saja, saat jauh dari gue dan Fania dalam waktu lama. Memberi tahu dia apa yang bisa dan harus dia lakukan serta yang tidak.”


“Rery ikut?.” Tanya Reno.


“Entahlah dia mau ikut atau tidak. Lo tahu sendiri dia lebih menempel pada Ara sekarang – sekarang ini.” Sahut Andrew. “Semalam kami tanya dia bilang, I tell you later ( Aku kasih tahu nanti ). Dasar Kids jaman Now.” Sambungnya, dan Reno pun terkekeh.


“Yah, kakaknya kan sudah tinggal jauh. Wajar Rery kesepian dan lebih senang tinggal bersama gue dan Ara karena ada Valera disana.”  Ucap Reno dan Andrew manggut – manggut.


“Hummmm...”


“Lo ga mau menambah anak bebek lagi?.”


Andrew terkikik.


“Yah gue sih terserah adik tercinta lo itu. Tapi dia tidak lagi membahas soal menambah anak semenjak Rery lahir. Dan gue memilih untuk tidak membahasnya juga. Karena takutnya dia pikir gue sangat ingin menambah anak lagi, tapi kemudian ternyata Little F tidak memungkinkan hamil lagi, dia akan sangat terbebani dan gue tidak ingin itu terjadi.”


“Ya lo benar juga.”


“Lo saja sana beri Valera adik. Nanti keburu jadi kakek – kakek.” Ledek Andrew dan Reno tergelak.


“Gue dan Ara sudah usah setiap hari, setiap waktu malah kalau ada kesempatan.”

__ADS_1


Duo R ‘n D itu sama – sama terkekeh.


“Ya belum dikasih lagi mau apa?. Lagipula gue dan Ara sudah cukup bersyukur bisa memiliki anak tidak hanya satu, setidaknya anak kami bukan anak tunggal seperti ayah dan ibunya, terlepas dari para saudaranya yang lain.”


Andrew manggut – manggut.


“By the way, si Abang sudah punya kekasih?. Gue lihat banyak cewe – cewe yang comment menggoda dibeberapa fotonya.”


Reno setengah terkekeh. “Entah. Gue tidak mau turut campur untuk masalah pribadinya. He’s a Man now ( Dia seorang pria sekarang ). Tapi sepertinya sih belum. Dia masih fokus untuk menembus rekor kita yang punya lebih dari dua gelar. Lagipula kan jodohnya sudah ditentukan?.”


“Haha!...”


“Dan gue rasa, Little Star tidak akan tinggal diam jika ada wanita yang dekat dengan si Abang.” Dua Hot Daddies itupun kemudian tertawa bersama.


***


Jakarta, Indonesia 


 


Beberapa hari kemudian Andrew, Fania dan Rery pun datang ke Jakarta untuk menemui Andrea, sebelum gadis remaja itu memulai kesibukannya sebagai anak SMA.


“Seriously Poppa??!. ( Serius ini Poppa???! ).” Andrea tidak percaya tentang syarat yang diberikan sang Poppa saat ia sudah mulai bersekolah nanti.


“Very!. ( Sangat! ).” Sahut Poppa.


“Yang benar saja Poppaa...”


Andrea menatap kacamata yang diberikan sang Poppa, lalu menoleh kepada Poppanya lagi.


“Tapi mataku normal Poppa.”


“Aku tahu dan itu sudah didesign serta dibuat khusus oleh pihak Veithdia hanya untuk kamu atas permintaanku. Jadi tidak akan mempengaruhi penglihatanmu.”


“Tapi aku akan terlihat seperti seorang kutu buku dan anak yang aneh kalau aku harus menggunakan kacamata ini, Poppa ...” Rengek Andrea.


“Bagus. Memang itu yang kumau. Agar tidak ada siswa laki – laki kurang ajar yang mendekati dan menggodamu. Dan kamu bisa bersekolah dengan tenang.” Ucap Andrew santai.


Andrea menggeleng.


“Poppaaa..” Andrea coba mengiba.


“Akan kuberi kamu pilihan. First ( Pertama ), kamu tetap bersekolah disini, dengan berpenampilan seperti yang sudah aku haruskan. Jika tidak kembalilah ke London suka atau tidak. Atau jika masih berkeras ingin sekolah disini, akan ku tempatkan belasan bodyguard untuk mengawal mu saat sekolah.”


“Po – op...”


“Kedua, kamu masuk asrama di Perancis sana.”


Poppa sudah menurunkan titahnya dengan datar namun wajahnya yang tegas itu menunjukkan keseriusan.


“Your choice!. ( Pilihan ada di kamu ).” Ucap Andrew lagi dan seketika Andrea langsung lesu sembari menatap sang Momma, meminta bantuan. Namun sayang, sang Momma menggeleng pelan, menandakan kalau ia tidak mungkin menyanggah ucapan suaminya jika sedang serius seperti ini.


‘Sukurin. Kirim ke Timur Tengah kalau perlu. Biar bermain dan berteman sama para Onta di gurun!.’


Nathan cekikikan, namun dalam batinnya saja. Ngeri kalau lihat si Poppa lagi serius seperti sekarang. Jangankan dirinya, para Daddies pun tak ada yang berani menyela ucapan Poppa Andrew jika dia sedang dalam mode seperti itu.


“Jadi mau pilih yang mana?.”


Andrea menghela nafasnya frustasi.


“Iya sudah aku mau sekolah disini, dan akan mengikuti apa yang Poppa minta dengan penampilan aku.”


Andrew pun tersenyum. “Bagus.. That’s my girl!. ( Itu baru Putri Poppa ).”


“Tapi Poppa harus pegang kata – kata Poppa untuk membiarkan aku bersekolah dengan normal loh ya!. Aku tidak mau ada bodyguard disekeliling aku saat sekolah.”


“Tapi kamu akan tetap di beri penjagaan dan pengawasan oleh anak buah Omar.” Ucap Andrew.


“Iya tapi ga boleh mencolok dan mereka tidak banyak serta tidak sampai masuk ke sekolah. Poppa sudah janji...”


“Ya...”


Andrew menyahut cepat.


“Pastikan kamu selalu mengikat rambut kamu saat sekolah, tidak memakai atasan yang ketat dan rok yang kamu kenakan juga harus sepuluh centi meters dibawah lutut.”

__ADS_1


“Oh My God, Poppaa ..”


‘Kaga sekalian anaknya disuruh pake gamis ke sekolahan.’ Momma membatin.


‘Pupus sudah harapan gue mendapat popularitas di Sekolah seperti saat di St. George.’ Andrea membatin pasrah. Bayangan kesuraman pergaulannya di SMA sudah terbayang di otaknya kini.


***


🎵🎵Don't cry, snowman, don't you fear the sun,  Who'll carry me without legs to run, Honey,  Without legs to run, Honey...🎵🎵 ..


Andrea tersenyum sendiri melihat Poppa dan Mommanya yang nampak mesra dan memang selalu terlihat seperti itu. Sang Momma sedang bermain piano dan memainkan sebuah yang katanya lagu kebangsaan Momma dan Poppa.


Bahkan rasanya Andrea hampir tidak pernah melihat keduanya bertengkar hebat, hanya perdebatan – perdebatan kecil tapi selalunya berakhir dengan saling merayu dengan berbagai cara.


‘Gue sama Abang akan seperti Momma dan Poppa ga ya kira – kira dimasa depan nanti.’ Andrea berkhayal sembari mesam – mesem. ‘Ihhh ... Andrea apa sihhhh ... ‘ Menggoda dirinya sendiri sambil mesam – mesam, gemes sendiri.


“Kenapa itu dia?.”


Papi John memperhatikan anak asuh Nyi Blorong yang berkelakuan nampak aneh dalam pandangannya.


**


Andrea sudah memulai hari – harinya sebagai anak SMA. Berpenampilan bak cewe cupu sesuai perintah sang Poppa.


Dan memang tidak ada siswa pria yang satu angkatan atau bahkan kakak kelas yang meliriknya. Kalau sekilas dilihat, memang sudah enggan untuk memperhatikan cewek berkacamata dengan rambut kuncir kuda, berikut baju gombrang dan rok yang sedikit panjang diatas rata – rata.


Tapi pada akhirnya Andrea terbiasa. Toh si Poppa ada benarnya, dia tidak harus mengalami godaan – godaan menyebalkan dari kakak kelas yang suka iseng gangguin cewe – cewe, anak baru yang punya kecantikan diatas rata – rata yang seangkatan dengan dirinya.


Padahal kalo diperhatikan, kecantikan Andrea tidak benar – benar tertutupi oleh kacamatanya. Tapi kalau lihat penampilan Andrea yang bak anak cupu dan alim itu para siswa populer sudah keburu buang muka duluan saat melihat dirinya.


Hanya ada satu orang kakak kelas yang mengetahui identitas Andrea yang sebenarnya. Anak laki – laki dari seorang kerabat dekat keluarganya. Kak Arya, anaknya Uncle Rico, teman dekatnya Papi dan para Daddies nya yang lain termasuk Poppa.


Namun Arya sudah juga diberitahu untuk menutup mulutnya tentang siapa Andrea, seperti dulu saat kakaknya Arya bersekolah di tahun yang sama dengan Nathan. Menutup mulut tentang identitas asli Nathan, semata – mata agar Nathan dan Andrea bisa bebas bergaul namun tetap diawasi.


**


 


“Wuih!.”


Suara Nathan yang nampak seperti menemukan sesuatu yang menarik membuat orang – orang yang sedang mengobrol santai di ruang keluarga menoleh padanya.


“Abang udah punya pacar sekarang!.”


**


“Ck!.”


Andrea sedang mondar – mandir sambil menempelkan ponsel ditelinganya. Tepat saat Nathan menunjukkan foto dipostingan terbaru Varen dalam laman medsos nya, Andrea langsung galau plus kesal setengah mati, tambah lagi si Abang ga mengangkat panggilannya, dan kolom komentar medsos nya dimatikan.


“Ciee .. galau nih ye.. Ciaannnn...” Suara iseng tiba – tiba terdengar di kamar Andrea berikut sosok yang wajahnya nampak menyebalkan bagi Andrea saat ini.


Andrea hanya melirik sinis, masih sibuk mencoba menelpon Varen.


“Yahh Abang udah punya pacar ..... Andrea bukan kesayangan Abang Varen lagi dehhh ..” Ledek Nathan penuh totalitas. “Mana cakep banget lagi cewenya.. Pinter banget si Abang cari cewe. Pake kaos aja cakep banget itu cewe.”


“Diam ga lo Tan – Tan?!.” Sembur Andrea.


“Abang sudah menemukan tambatan hati ... Udah bukan Abangnya Andrea seorang lagi.. Tak ada lagi kasih sayang Abang buat Andrea seorang....” Tapi Tan – Tan malah baca puisi.


“Tan – Taan diaamm! ..”


“Hahhhhh! ... dunia terasa gelap bagi Andrea sekarang ..”


Tan – Tan masa bodoh dengan semburan dan pekikan Andrea yang nampak makin kesal dengan ejekannya itu.


“🎵🎵S’perti Mati Lampu Ya Sayang..🎵🎵”


Dan Nassar pun datang.


“🎵🎵S’perti Mati Lampuuuu....🎵🎵”


**


To be continue ..

__ADS_1


__ADS_2