
đ GETARAN đ
đđđđđđđ
ă
Selamat membaca ....
************************
Varenâs POV
Saat itu ...
Diantara sedih aku merasakan bahagia. Sedih karena aku takut kehilangan Momma, dan aku pikir bayi dalam perut Momma, adik yang ku tunggu â tunggu tidak selamat, karena Momma mengalami kecelakaan hebat.
Saat aku datang bersama Mommy dan Oma yang sudah menangis saat Nina mengatakan kalau Momma kecelakaan dan kondisinya cukup parah, akupun ikut menangis. Bahkan sudah menangis sebelum kabar via telepon dari Uncle Nino sampai.
Entah kenapa hari itu aku begitu merindukan Momma sampai menangis pun aku tak tahu kenapa. Mungkin karena
hubunganku dan Momma begitu dekat dan eratnya. Aku begitu menyayanginya, seperti aku menyayangi Mommyku sendiri, Mommy Ara.
Dan saat mereka bilang ada bayi kecil diperut Momma, aku rasanya tak sabar ingin segera melihat bayi itu keluar dari perut Momma. Aku penasaran sekaligus tak sabar untuk segera melihat makhluk yang disebut âadikâ.
Aku bertemu Dad di Rumah Sakit saat aku, Mommy dan Oma sampai. Dad nampak tak karuan dengan wajahnya yang terlihat sembab.
Seketika aku takut, takut kalau ternyata Momma sudah âpergiâ. Dad memelukku, sedikit terisak dan mengatakan kalau Momma baik â baik saja, hanya Momma masih tertidur.
Saat aku lihat Momma tak membuka matanya, dengan balutan perban dikepala, serta sebuah penyanggah dilehernya, serta beberapa luka dibagian tubuhnya yang lain, serta alat â alat rumah sakit yang terpasang ditubuh Momma, tangisku makin keras. Dan aku melihat perut Momma yang tadinya besar kala itu tidak lagi besar. Aku rasa, Momma tidak baik â baik saja.
Poppa berada disisi Momma. Wajah Poppa yang biasanya nampak tegas itu sungguh berbeda. Sangat berbeda. Poppa nampak kacau, nampak hancur. Wajahnya begitu muram dan ia seringkali meneteskan air matanya. Namun Poppa tersenyum saat melihatku, sambil menghapus air matanya. Membawaku mendekat dengannya yang duduk disamping Momma.
Poppa memelukku.
****
âApa Momma akan meninggal, Poppa?.â
âTidak My Prince .... Momma hanya sedang tertidur ...â
âTapi mengapa Poppa menangis terus?.â
âIâm okay, My Prince.. kamu jangan menangis ya?. Nanti Momma sedih.â
âIya.... Poppa...
âDaddy ...â
âYa My Boy?.â
âKenapa perut Momma tidak lagi besar?. Apakah adikku meninggal?.â
âTidak sayang, adik kecilmu selamat. Aunt Judith dan Uncle Owen sudah membantu menyelamatkannya.â
âDimana dia?. Apa boleh aku melihatnya?. Apa dia sepertiku?.â
âDia perempuan My Boy. Adik perempuan yang cantik. Sangat cantik. Kau ingin melihatnya?.â
âIya Daddy, aku ingin melihatnya sekarang.â
***
Pada saat itu.
Detik itu.
Untuk pertama kalinya aku melihat dia.
Bayi kecil didalam sebuah kotak kaca yang mereka sebut inkubator.
Mungil, nampak tenang, dengan mata terpejam berbalut selimut warna merah muda yang dibalut begitu rapat pada tubuh mungilnya. Cantik, seperti Momma.
Namun aku belum diperbolehkan menyentuhnya, hanya bisa melihatnya dibalik kaca.
Ya Tuhan ... dia seperti boneka yang sering kulihat di Toko Mainan, tapi bayi mungil itu lebih cantik daripada semua boneka di dunia ini aku rasa. Dia sangat cantik, terlalu cantik bahkan.
Aku tanya namanya, Dad bilang Poppa belum memberikannya nama. Poppa bahkan belum melihatnya, karena Poppa ingin melihatnya bersama Momma. Dia seperti bintang yang bersinar dalam hari kami yang sedang suram saat menunggu Momma sadar. Jadi kuberikan nama untuknya, panggilan sebelum Poppa dan Momma memberinya nama nanti.
Little Star.
Bintang Kecil.
Bintang Kecil â Ku.
Aku benar â benar ingin menyentuh dan memeluknya. Tapi saat itu mereka bilang belum bisa, karena belum saatnya adik kecil perempuanku dikeluarkan dari kotak kaca itu.
Aku bersabar menunggunya, menunggu adik perempuan cantikku itu dikeluarkan dari kotak kaca tersebut. Terlalu bersabar, hingga aku bersikukuh tidak mau pulang sampai aku bisa menyentuhnya.
Kadang aku suka geli sendiri kala ingat waktu itu. Betapa semua orang berlomba untuk membujukku pulang dan datang lagi keesokan harinya, hingga mereka menungguku kelelahan hingga aku terlelap dan diam â diam membawaku pulang.
**
__ADS_1
Aku merengek minta diantar ke Rumah Sakit dengan segera saat aku dengar Momma sudah sadar.
Selain itu aku berpikir, jika Momma sudah sadar berarti Little Star akan dikeluarkan dari kotak kaca seperti Putri Tidur dalam film Snow White. Aku menjadi sangat tak sabar.
Hari itu aku terpaku.
Saat Poppa mendekatkan Little Star padaku.
Menyuruhku untuk menggendongnya. Dan aku malah terdiam. Melihat Little Star bergerak perlahan dalam selimut yang membalutnya itu membuatku seolah tak bisa menggerakkan tubuhku, dan semua orang mentertawakan kegugupanku kala itu.
**
âIni, Little Starmu. Bukankah kau sangat ingin menyentuhnya, My Prince?.â
Ucap Poppa padaku yang sudah didudukkan pada sofa di ruangan tempat Momma dirawat. Aku melihat Momma
tersenyum dan mengangguk padaku.
Akupun menerimanya. Bintang kecilku, diletakkan diatas kedua tanganku, dan Mommy memposisikan tanganku agar erat memegangnya namun tetap juga memegangi Little Star dengan tangannya. Takut terlepas dari peganganku yang hari itu benar â benar untuk yang pertama kalinya menggendong seorang bayi.
âDia cantik, kan?.â Ucap Mommy padaku.
âSangat Mommy ... dia ... sangat cantik ... dan lucu ...â
Pertama kali aku menyentuhnya. Little Starku, Bintang Kecilku. Lembut sekali kulitnya. Wajahnya begitu menggemaskan. Membuatku penasaran...
âApa boleh aku menciumnya?.â
Tanyaku waktu itu pada Poppa dan ia mengangguk sembari tersenyum lalu terkekeh kecil.
Aku sudah merasakannya sejak itu. Getaran yang tak ku mengerti artinya saat aku mencium pipi Andrea saat bayi, kala aku menggendongnya untuk yang pertama kali.
Tapi jika sekarang aku terang â terangan bilang pada Poppa.
âApa boleh aku menciumnya?.â
Poppa pasti bilang.
âApa kau mau mati?.â
Haha, sudah terbayang wajah Poppa yang sangar itu jika aku berkata ingin mencium putrinya. Tapi Poppa menyayangiku. Aku tahu itu. Dari dulu hingga sekarang. Poppa pun tahu betapa aku sangat menyayangi Andrea.
Poppa pernah bilang ...
âJika kau ingin menjaganya, jagalah dia dengan sepenuh hatimu. Jika kau ingin terus hidup bersamanya, pastikan didalam sini..â ( Poppa menunjuk dadaku ). âHanya ada Andrea seorang.â
Dan memang iya, dari sejak Andrea muncul ke dunia, di hati ini hanya ada dia seorang. Tak perduli banyaknya gadis seusiaku yang sering mengerumuni, menggoda bahkan terang â terangan menyatakan suka padaku bak lalat pengganggu. Tapi mereka, tak ku pandang sedikit pun.
Jagad Raya seolah berputar pada satu titik, saat tangan mungil Andrea menggenggam telunjukku untuk yang pertama kalinya.
Aku mencintainya. Cinta yang gila, cinta yang seolah tak masuk akal. Aku mencintai seorang wanita dari sejak ia bayi. Hingga sekarang .... hingga bayi kecil itu sudah berumur tujuh belas tahun saat ini.
I Love You Miracle Andrea. sejak dulu, sekarang dan selamanya.
Varenâs POV off
**
âMenggemaskan.â Batin Varen saat ia sudah melepaskan bibir Andrea yang tadi dikecupnya singkat namun lembut. Mengecupnya dengan sangat hati â hati bak bibir itu adalah sebuah kristal yang jangan sampai pecah.
Wajah Andrea yang merona, nampak malu â malu hingga menundukkan wajahnya.
âAbang mencintai kamu, dari dulu hingga sekarang... tujuh belas tahun rasanya cukup untuk menyimpannya rapat â rapat didalam sini, Little Star ...â
Varen menunjuk dada kirinya dan satu tangannya menggenggam erat tangan Andrea yang merona, terpaku dan
membeku. Kadang mengerjap â ngerjapkan matanya dengan cepat, karena masih tak percaya beberapa detik lalu bibir sang Abang yang dicintainya menempel lembut dibibirnya.
âHaish, jangan pasang ekspresi seperti itu Little Star ...â Batin si Abang yang gemas. âApa Drea marah, Abang cium Drea?.â
Andrea menundukkan pandangannya lalu menggeleng pelan. âDrea...â
âLihat Abang.â
Varen menangkup lagi wajah Andrea dan menatapnya lagi lekat â lekat.
âNo one loves you, like I do ( Tidak ada yang mencintaimu, seperti aku mencintaimu ), Miracle Andrea....â
âI love you too, Abang...â
âI Love you More, Little Star ...â
âDrea rasa mimpi, Abang menyatakan cinta sama Drea ....â Ucap Andrea setelah melepaskan pelukannya namun wajahnya begitu dekat dengan Varen. âUmm... tapi Abang beneran cinta kan sama Drea?. Bukan karena Abang kasihan karena Abang tahu Drea mencintai Abang bukan sebagai adik ke kakaknya?.â
Varen menangkup wajah Andrea yang sedang menggigit bibir bawahnya.
âHish, kalau mereka tidak sedang menunggu di bawah, rasanya ingin ku kecup lagi bibir Little Star lebih lama. Ah, sayang kalau hanya dikecup sih ... Hish!... Abang yang gigit bibir Drea boleh ga sih? ...â
âAbaanng....â
Suara Andrea mengembalikan fokus si Abang dari bibir bawah Andrea yang tadi sempat digigit pelan oleh siempunya.
âI â iya? ...â
__ADS_1
âAbang belum jawab pertanyaan Drea tadi ...â
âPer-tanyaan ..?.â Abang sedikit tergugu akibat sal fok ama bibir Andrea.
âAbang sedang memikirkan apa sih?.â
âBibir.â
âBibir? ..â
âAh â eh .. kamu jangan suka menggigit bibir kamu seperti itu, nanti luka.â
Varen menelan ludahnya. Andrea hanya manggut â manggut.
âAyo!.â
âKemana?.â
âMomma dan yang lain sudah menunggu kamu di bawah.â
âWah ada Surprise Party buat aku?.â
âBegitulah..â Sahut Varen yang terkekeh kecil. "Seperti biasa...."
âAyo Abang!.â Andrea bangkit dengan cepat. Nampak Antusias. Varen terkekeh melihatnya. Andrea dengan kelakuannya yang selalu nampak menggemaskan untuk Varen.
âSini!.â Varen masih duduk diranjang sambil menepuk â nepuk pundaknya.
âEngga ah! Tadi sudah di gendong, Drea jalan aja!.â Sahut Andrea karena paham kode Varen kalau si Abang menyuruhnya untuk gendong belakang seperti biasa.
âAyo, cepatlah Tuan Putri .. Sini!.â Ucap Varen kembali menepuk â nepuk pundaknya.
âUmmm okelah! Tapi nanti kalau aku diledek Abang tanggung jawab loh ya?.â
âBaru Abang cium. Sebentar juga itu. Masa sudah harus tanggung jawab?.â
âAbaaanggg...â
âIyaaaa ..â
âNah gitu dong! ...â
Andrea pun memposisikan dirinya dipunggung Varen yang kemudian mengangkatnya.
âDr-eaa..â Suara Varen terdengar gugup.
âAbang wangi banget.â
Andrea mengendus diceruk leher Varen hingga ujung hidungnya menyentuh leher si Abang. Menghirup dalam â dalam aroma Mint yang menguar dihidung Andrea. Aroma yang yang sama seperti nafas si Abang. Aroma yang memberi kesan maskulin dan dewasa pada laki â laki yang memakainya.
âI â iyya.. tapi jangan seperti itu, Abang geli ini. Nanti kalau kita jatuh gimana?.â
âIya, iya.â Sahut Andrea yang kemudian menaruh dagunya dipundak Varen.
âAstaga!.â Varen membatin, ia bukan kegelian lagi, tapi bulu dilehernya sudah meremang.
Karena Andrea bukan lagi mengendusinya, tapi sudah menguselkan hidungnya diceruk leher Varen yang seketika merasakan ada getaran yang tak nyaman ditubuhnya.
âDr-eaaaaa....â
Suara Abang kian gugup, sedikit bergetar. Setelah tujuh belas tahun rasanya kali ini sudah berbeda jika Andrea berbuat seperti ini padanya.
âHabis Abang wangi banget, Drea suka!.â
âIy â ya .... tapi jangan gitu ...â
Varen menggerakkan lehernya.
âIni Kenzo LâEau ya kan Bang?.â
âHu â um......â Sahut Varen yang sedang berusaha menetralkan nafas plus debar dan getar yang mulai melanda
dalam dirinya.
"Aku suka banget kalau Abang pakai parfum ini."
âPlease Dreaa ....â Memohon dalam hati. Ada rasa yang sedikit ngilu di suatu tempat, karena Andrea tak berhenti mengusel dilehernya.
Kesal sih, biar bagaimanapun Varen adalah pria dewasa yang sudah sensitif pada hal â hal yang berbau keintiman. Tambah lagi ini yang lagi ngusel gadis yang dicintai oleh si Abang. Dan gadis yang dicintai itu sudah bertransformasi menjadi gadis belia menuju dewasa.
Mana Andrea ngusel dileher pula, salah satu titik server cabang yang connect ke server pusat, ye khan??? ....
Masa mau bentak Drea? Ga mungkin juga kan?. Mana Varen tega bentak si Little Star yang memang menggemaskan itu. Tapi ini bocah kayaknya ga paham kalau dia sedang mengganggu ketenangan server pusat, yang bisa menyebabkan ke â error â an.
âHish!. Menyesal gue menawarkan untuk menggendong dia seperti ini. Oh Drea ... kamu bukan gadis sepuluh tahun lagi sayang ......â
Varen membawa langkahnya lebar â lebar untuk segera keluar dari kamarnya. Agar Andrea segera menghentikan perbuatannya di leher Varen.
Abang sedikit migrain gara - gara uselan.
**
To be continue........
__ADS_1