THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 107


__ADS_3

💔💔💔💔  SORROW  💔💔💔💔  Duka ( Part 2 – Bagian 2 )


****************


Selamat membaca..


************


Hari sebelum ancaman


Adjieran Smith’s Mansion, Regent’s, London, England


Kini Hancur berderai... Kesedihan berantai ..


Kuncup dihatiku yang lama tersimpan, Kini layu sebelum berkembaaang.. 


Tiada seindah waktu itu, dunia berseri –seri


Malam bagai siang, seterang hatiku, penuh harapan padamu ....


“Wah Fania, kamu tahu lagu itu?.” Tanya Mom saat Fania selesai menyelesaikan satu lagu sambil memainkan piano. Fania mengangguk.


“Tau, Mom.”


Dad dan yang lainnya nampak menikmati lagu lawas yang tadi dimainkan Fania.


“Hebat kamu, tahu lagu lama begitu. Itu kan lagu jaman Mom, Mama Bela dan Mama Anye muda. Iya kan Jeng Anye?.” Ucap Mom lagi seraya bicara pada Mama Anye yang memang masih berada di London.


“Iya bener.”


Mama Anye mengiyakan ucapan Mom, sementara sisanya tersenyum.


“Kamu tahu banyak tentang lagu – lagu lawas dong, My Dear?.”


“Lumayan Mom. Dulu pernah dikontrak jadi penyanyi untuk satu perkumpulan para muda mudi era tahun jebot.” Sahut Fania dan mereka semua terkekeh.


“So, how many song reportoires that you have memorized? ( Jadi berapa banyak daftar lagu yang kamu hafal? ).”


“Sekitar ribuan – an kurang lebihnya, D.” Sahut Fania. “Aku kan all around singer. Dulu waktu masih freelance aku banyak ikut event dan band yang punya warna musik berbeda, jadi yah perbendaharaan lagu aku banyak.”


“Wow ...” Semua orang rasanya takjub pada perbendaharaan lagu yang Fania tahu.


“Pantas, waktu di Jakarta rata – rata pemusik kafe itu mengenal lo ya, Little F?.”


“Wes, bukkan lagi kakak ganteng!. Coba cari penyanyi kafe yang kayak gue nih, yang tahu semua jenis lagu , bahkan lagu yang ada di side B nya para artis ternama aje gue lumayan tau!.”


“Iya, Iya. Hebat memang adik gue. Ga perlu diragukan lagi.” Sahut Reno dan mereka pun terkekeh lagi.


“Jadi sekarang sedang suka mendengarkan lagu lawas?.”


“Keingetan aja sih tiba – tiba. Tau – tau pas lagi senandung yang keingetan ini lagu. Dan lagu ini tuh, pernah pas banget aku nyanyiin waktu lagi kangen – kangennya sama itu orang dua.” Ucap Fania sambil menunjuk Andrew dan Reno.


“But that song feel so deep and sad (Tapi lagu itu terdengar dalam dan sedih).” Celetuk Michelle.


“Ho oh.” Sahut Fania.


“Bagus sih lagunya, tapi terasa menyayat hati. Kak Fania juga menyanyikan nya tadi seperti meresapi sekali.” Sambung Michelle.


Fania tersenyum.


“Memang Kak Fania lagi patah hati, gitu?.” Ucap Michelle iseng sambil melirik Andrew. “Kak Andrew buat kesel lagi ya?.”


Goda Michelle dan mereka semua terkekeh sementara Andrew memandang sebal pada adiknya itu.


“Sembarangan!. Hubungan gue dan Fania amat sangat erat dan mesra asal lo tahu, Chel!.” Sergah Andrew pada adik kandungnya itu.


“Ga tau juga. Ada something di hati gue ini, bawaannya rada sedih aja perasaan.” Ucap Fania sambil tersenyum tipis.


Ucapan Fania membuat Andrew dan Reno entah kenapa spontan saling tatap. ‘Apa dia sedang memiliki firasat akan terjadi sesuatu?.’



“Ndrew!.” Panggil Reno pada Andrew saat mereka berdua tengah merokok bersama di halaman belakang Mansion.


“Hem?.”


“Lo ingat ga tadi Little F bilang apa?.”


“Which one? (Yang mana?).”


“Little F bilang, saat ini perasaannya sedang sedih aja. Dia bilang seperti ada something dihatinya.”


Andrew manggut – manggut. “Your thought is same with me (Pikiran lo sama seperti gue). Dari tadi gue sedang memikirkan ucapannya itu. But I still haven’t anything (Tapi masih belum ketemu jawabannya). Gue sedang menerka – nerka.”


Reno terdiam sesaat.


“Kalau disini sepertinya baik – baik saja, tidak ada yang terasa mengganjal.”


“Ya, tapi tetap saja gue merasa sedikit gelisah juga kalau Little F sedang punya sesuatu yang nampak seperti sebuah firasat, menurut gue.”


“Iya juga sih ...”

__ADS_1


“Apa di Indo masalah?.” Tanya Andrew.


Reno menggeleng. “Sepertinya semua juga baik – baik saja. Baik John dan Jeff pun tidak ada yang mengatakan


kalau ada masalah disana.” Sahut Reno.


Andrew manggut – manggut. “Tapi ada baiknya kita sedikit berhati – hati saat ini, R. Kepekaan Little F akan sesuatu yang buruk akan terjadi itu seringnya kejadian. Dan jujur, ya ucapan dia tadi itu membuat gue merasa kalau Little F itu sedang memiliki firasat, dan rasanya hal kurang baik akan terjadi.”


“Iya lo benar, Ndrew. Gue pun sedang merasa seperti itu.”


***


Esok harinya


“Ya, Omar .. maaf mengganggumu dijam begini. Aku hanya penasaran, apa ada masalah disana?.” Andrew yang menjadi sedikit tak tenang karena ucapan Fania saat mereka tengah berkumpul setelah makan malam kemarin.


Tidak ada yang menghubungi Andrew yang memberitahukan kalau ada masalah memang. Baik John atau Jeff juga


tidak ada yang menghubunginya, namun Andrew rasa penasaran yang pada akhirnya ia menghubungi Omar karena sudah terlalu malam dan pasti orang – orang di rumah utama sudah beristirahat.


“Oh iya, Tuan Andrew, tadi siang Tuan Jeff mendapatkan ancaman saat ia sedang berada di kantornya di Bandung.”


“Apa?. Ancaman?.”


“Iya Tuan. Ada yang mengirimkan pesan ancaman berikut foto – foto Nyonya Jihan.”


“Apa?!." Andrew terkejut. "Tapi kenapa Jeff tidak memberitahukan apapun padaku?.”


“Mungkin belum sempat, Tuan. Karena hari ini Tuan Jeff benar – benar sibuk mencari tahu siapa yang berani mengancamnya dengan menggunakan Nyonya Jihan.” Ucap Omar.


“Baiklah Omar, terima kasih atas informasimu. Beritahukan padaku jika kalian sudah menemukan si pengancam itu.”


“Baik Tuan.”


Andrew memutuskan panggilannya.


“Jadi memang benar kan intuisi Little F itu ... Pasti akan ada sesuatu yang tidak baik kalau tiba - tiba perasaannya terganggu.”


Andrew membuka kembali ponselnya dan menulis pesan pada Reno.


****


Esok pagi


“R, sudah baca pesan gue semalam?.”


“Sudah. Have you called Jeff? (Sudah lo hubungi Jeff?).”


“Sebentar, Ndrew.”


“So, kenapa lo ga cerita?.”


“Gue belum sempat, rencananya hari ini gue mau bilang sama lo setelah cek up bayi kami.”


“Lo dimana sekarang?.”


“Di ru..”


“Halo, Jeff??...”


“DADDYY!!!! .. MAMAAAA!!!..”


“Jeff?! What happened?! (Ada


apa?!).”


“JEEFF!!.”


“NATHAN! NYONYA!.”


“NATHAN!! JIHAN!!.”


“JEFF!!!!!.” Suara Andrew membuat seluruh keluarga yang sedang berada di ruang makan akhirnya berhambur dan menghampirinya.


“Kenapa Ndrew?!.”


Reno yang berada disamping Andrew terlonjak kaget karena Teriakan Andrew yang memanggil nama Jeff.


“Entah! Tapi gue mendengar teriakan Nathan dan Jeff yang menyebut nama Jihan!.” Sahut Andrew yang masih


menempelkan ponsel ditelinganya. “JEFF!!!.” Teriak Andrew lagi. “Masih tersambung panggilan gue, tapi.... “ Andrew menajamkan telinganya di ponsel. “Terlalu ribut!. Ya Tuhaaan, ada apa sebenarnya.”


“................”


“JEFF!!!.”


“D, ada apa?.”


“Andrew, Jeff kenapa?.”


“Entah! Ini....”

__ADS_1


“Halo?.”


“Halo, Jeff??.”


“Oh maaf Pak, saya sekuriti bla ..... bla ... pemilik ponsel ini sedang....”


Orang yang menyambung berbicara di ponsel Jeff menjelaskan apa yang terjadi pada Andrew, dan Andrew sontak membulatkan matanya.


“APA??!!.”



“Gue hubungi Omar!.” Seru Reno sambil meraih ponsel dan menekan nomor Omar. “Lo hubungi John!.” Serunya


lagi pada Andrew yang langsung mengangguk dan menghubungi John. “CK!.” Reno berdecak karena Omar tidak menjawab panggilannya.


“Halo John! ....” Andrew yang sudah terhubung dengan John langsung berbicara dan mencari tahu.


“Ya Tuhan, semoga Jihan dan bayinya baik – baik saja ....” Ara sudah begitu panik termasuk juga keluarga mereka yang berada di dekat Andrew dan Reno setelah Andrew mendapatkan penjelasan dari seorang sekuriti yang mengamankan ponsel milik Jeff yang tercecer. Dan Andrew menjelaskan kembali situasi yang terjadi pada keluarganya yang berhambur mendekat pada Andrew setelah mendengar teriakan pria itu yang menyebut nama Jeff.


Mata Fania dan Ara, serta Michelle, Mom dan Mama Anye sudah basah. Dad sendiri berdiri didekat Reno yang sedang berusaha menghubungi Omar namun salah satu pengawal pribadi terpercaya mereka itu, belum juga mengangkat telponnya.


**


Saat ini


Jakarta, Indonesia


Hal yang terasa menyakitkan adalah kehilangan seseorang yang kita cintai sepenuh hati. Jeff sedang terluka saat ini, bukan fisik, melainkan hatinya. Dibalik pintu berwarna putih itu istrinya sedang berjuang sendirian.


Terjebak dalam rasa bersalah yang menganggap dirinya tak berguna karena tak mampu menjaga Jihan dengan baik, hingga istrinya itu sampai terluka didepan matanya.


Mata Jeff memandang nanar pada pintu tersebut, tubuhnya terasa lemas, hingga Eddie yang mendampinginya pun merasa khawatir. “Minum dulu Tuan.” Jeff menyodorkan sebotol air mineral yang kemudian ditolak oleh Jeff.


Ponsel Eddie kemudian berdering dan pria itu segera mengangkatnya.


“Ini Tuan Andrew ....”


Eddie menyodorkan ponselnya pada Jeff yang diterima pria itu dengan wajah dan matanya yang memerah. Air mata Jeff menetes tanpa bisa dicegah saat pria itu berbicara dengan Andrew disebrang telpon.


**


John, Prita dan Ibu Yuna sudah sampai ke rumah sakit menyusul Jeff. Nathan dipercayakan John pada Omar yang menjaganya di rumah setelah pria itu datang bersama Nathan dan menceritakan semua yang telah terjadi di rumah sakit. Jeff langsung memeluk ibu mertuanya dengan sama – sama menangis. John dan Prita juga ikut menitikkan air matanya sembari memeluk Jeff karena ikut sedih dengan apa yang menimpa Jihan.


Semua orang langsung bergegas mendekat saat seorang dokter keluar dari kamar operasi Jihan.


“Bagaimana keadaan istri dan anak saya, Dokter?.”


Jeff bertanya dengan tidak sabar sekaligus takut.


“Istri anda berhasil kami selamatkan, hanya saja mohon maafkan kami, karena kami tidak bisa menyelamatkan bayi didalam kandungannya.” Hati Jeff begitu terluka mendengarnya.


Air matanya kembali lagi menetes. Ibu Yuna segera memeluk menantunya yang nampak terpukul sampai menangis sambil menutup mulutnya.


**


Jeff sudah bersama John dan beberapa kerabat dekat mereka di sebuah area Pemakaman keluarga. Dihari yang sama, bayi kecil milik Jeff dan Jihan itu dimakamkan.


John yang menyarankan agar pemakaman bayi mungil itu segera dilakukan meski keluarga dari London belum tiba.


Jeff menyetujui saran John tersebut, selain dia juga tak mau lama – lama membiarkan bayi kecilnya yang sudah tak bernyawa itu. Ia tak tega, pun tak kuat.


Pemakaman bayi mungil yang berjenis kelamin laki – laki milik Jeff itu berlangsung secara sederhana. Hanya John anggota keluarga yang menemaninya, sebagian lagi adalah teman dan kerabat dekat dua J dan keluarganya. Prita dan ibu Yuna juga tidak ikut, karena mereka berdua menemani Jihan di rumah sakit.


“Selamat tinggal, my boy... maafkan Daddy yang tidak mampu menjaga kamu, tidak mampu melindungi kamu dengan baik ....”


Ucapan terakhir Jeff pada putra keduanya itu sebelum bayi laki – laki mungil itu dimakamkan.


Sebuah kalimat sederhana, namun membuat siapapun yang mendengarnya dapat menitikkan air mata.


Jeff tak mampu menyembunyikan betapa ia terluka dengan kepergian putra keduanya dan Jihan. Ia akhirnya luruh setelah pemakaman selesai dan ia masih berjongkok di sisi pusara putra keduanya itu.


“Daddy dan Mama sangat mencintai kamu Sayang ....” John dan para kerabatnya pun kembali menitikkan air mata mereka saat melihat Jeff yang terisak dan mengusap usap nisan putra keduanya itu yang seharusnya lahir ke dunia hanya tinggal menunggu dua bulan lagi.


Namun takdir berkata lain.


**


Hatiku hancur mengenang dikau .. Berkeping – keping jadinya ....


Kini air mata jatuh bercucuran ... Tiada lagi harapan ... 


Kuncup dihatiku yang lama tersimpan, Kini layu sebelum berkembang.. 


Tiada seindah waktu itu, dunia berseri –seri, Malam bagai siang, seterang hatiku, penuh harapan padamu ....


-       Layu Sebelum Berkembang     -


**


To be continue.....

__ADS_1


__ADS_2