THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 238 – VAREN & ANDREA - SERIES


__ADS_3

💞    K E M E S R A A N    💞  


 


Selamat membaca ....


*************************


Pertemuan antara sosis jumbo dan apem itu begitu berkesan bagi Varen dan Andrea. Keduanya seolah terbang hingga langit ketujuh kala mereka mencapai puncak kegiatan panas mereka.


Masih ada desir yang tersisa, meski Varen sudah melepaskan naga kecilnya dari gua Andrea. Tadinya ingin Abang biarkan saja naga kecilnya tertidur sebentar di gua, kalau seketika bangun lagi kan ga susah. Ah, Abang sudah ketularan para Daddies mesumnya itu kayaknya.


Nikmat sumpah!– Hati Abang berkata dengan sejujurnya. Benar – benar surga dunia.


Gua kecil milik Andrea adalah surga dunianya Varen sekarang.


Tapi Abang rasanya tak tega, kalau ingat Andrea sempat mengeluarkan air mata saat naga kecilnya memaksa masuk meski perlahan, ya agak didorong dikit sih biar Lep maksimal!.


**


Varen membetulkan anak rambut Andrea dan menyeka peluh yang ada didahi istri kecilnya itu setelah Varen berpindah tempat dan berbaring disisi Andrea yang juga menghadapnya.


Padahal pintu balkon terbuka lebar dan angin juga menelusup kedalam, tapi Varen dan Andrea begitu kegerahan.


Varen dan Andrea masih sedikit tersengal namun kelegaan sudah menyelimuti hati mereka sekarang. Tak lagi sama – sama penasaran, selain merasa pernikahan mereka sudah terasa lengkap kini, terlepas adanya buah hati nanti.


Kayaknya sih akan ketagihan dengan kegiatan bercocok tanam tadi.


“Terima kasih, ya?” Ucap Varen sambil mengusap lembut sisi wajah Andrea dengan punggung tangannya.


“Sama – sama Abang”


“Maaf ya, pasti sakit sekali tadi”


Andrea menarik sudut bibirnya. “Normal kan, memang seperti itu katanya kalau yang pertama. Yang berikutnya sih katanya..”


“Katanya apa, hem?” Varen memajukan wajahnya dengan raut wajah yang seolah menggoda Andrea karena menggantungkan kata – katanya. Yang Varen tahu betul jawabannya.


Emak: “Apaan emang jawabannya Bang?”


Varen : “Enak lah! Apalagi???!!!..”


Varen: “Sudah sana pergi, Emak.. ganggu aja!”


Emak: “W!@#***K!!!”


“Yang berikutnya?.. apa heeemmm???..” Varen masih menggoda Andrea sambil mesam – mesem.


“Abang ih! Mesum deh sekarang!”


“Tapi Drea suka kaaann????”


Andrea mencebik manja. Padahal dia lumayan merasa malu sekarang, kalau ingat tadi Abang berada diatas sambil maju mundur cantik, eh maju mundur ngilu – ngilu sedap deng. Dengan wajah mendamba dan peluh seperti dirinya, jantung Andrea rasanya deg deg ser. Varen terkekeh kecil melihat wajah malu – malu Andrea.


“I love you, Little Star ..”


“Love you too, Abang..”


Varen membawa Andrea dalam pelukan. Menempelkan pipi Andrea kedada bidangnya yang polos itu. ‘Sht!’*


Abang spontan mengumpat dalam hati, baru ingat kalau ia dan Andrea masih polos tanpa sehelai benang pun ditubuh mereka sekarang. Karena saat Andrea abang bawa dalam dekapan, Nunu dan Nana juga terasa mencolek dirinya.


Jadi pengen lagi kan tuh si Abang.


**


“Kenapa?” Tanya Varen kala setelah sejenak mereka saling diam dalam dekapan, Andrea menggeser dirinya.


“Drea ingin ke kamar mandi”


“Drea memang bisa jalan sendiri?”


Andrea mengangguk, Varen pun melepaskan dekapannya. “Shhhh” Namun segera bangun dari ranjang dan memakai langsung hanya celana panjangnya saja yang ia  ambil sembarang saat ia mendengar Andrea meringis. Varen kemudian bergerak ke sisi ranjang dimana Andrea sudah duduk disana dan membalut dirinya dengan selimut.


“Maaf, hem?. Abang kasar ya tadi?” Tanya Varen yang cemas.


“Engga kok Abang, tadi Abang ga kasar sama sekali” Jawab Andrea dengan tersenyum.


“Tapi sepertinya kamu kesakitan sekali Little Star”


“Hanya sedikit perih”


Varen jadi tak tega, padahal tadinya mau minta nambah.


“Drea tunggu disini sebentar”


“........”


Andrea memperhatikan Varen yang berjalan cepat kedalam walk in closet. Lalu tak lama Varen keluar dengan membawa benda yang sepertinya itu adalah kaos miliknya.


“Pakai ini” Ucap Varen dengan menunjukkan kaos miliknya yang ia bawa, karena ribet lihat Andrea membalut dirinya dengan selimut.


“Eh, Abang ..” Andrea sedikit terkesiap saat Varen mencoba membuka selimut yang ia balut kan ketubuhnya.


“Abang sudah lihat semua, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tak perlu malu lagi”


“Eeennnggg..”


Andrea memang benar malu, meski Abang juga benar saat bilang kalau seharusnya Andrea tak perlu malu lagi padanya, karena Abang sudah melihat keseluruhan tubuhnya.


Sudah dibuka, diputer, dicelupin sama digoyangin bahkan. Tapi tetap saja, semburat merah muda muncul lagi diwajah Andrea saat selimut yang membalut tubuhnya sudah terbuka dan dihempaskan Abang ke bawah kakinya, lalu Abang memakaikan kaos miliknya ditubuh polos Andrea.

__ADS_1


Abang juga buru – buru memakaikan Andrea kaosnya, takut khilaf kalau melihat tubuh telanjang Andrea. Yang ada acara ke kamar mandinya Andrea akan Varen sabotase.


Syut!


“Eh, Abang!”


Andrea memekik karena Varen tau – tau mengangkat tubuhnya.


“Kalau tadi bergerak sedikit saja, Drea sudah kesakitan, pasti akan sakit juga kalau Drea bawa jalan”


Begitulah Varen pada Andrea. Terlalu cinta jadi terlalu perhatian, bisa panik seketika kalau Andrea mengeluh sakit sedikit saja. Andrea pun akhirnya pasrah, saat Varen menggendongnya masuk ke dalam kamar mandi mereka.


***


Varen hendak berjalan menuju walk in closetnya untuk mengganti celana panjangnya. Namun sebelum itu ia memunguti pakaiannya dan Andrea yang tercecer dilantai. Mata Varen juga melirik kearah ranjang dan ada bercak kemerahan diatas seprei yang sewarna dengan merahnya mawar.


Varen menyunggingkan senyumnya sesaat. ‘Milikku seutuhnya ..’


Kemudian Varen membawa pakaiannya dan Andrea yang sudah ia ambil dari lantai ke dalam walk in closet.


***


Varen menaikkan alisnya. Saat kain segitiga yang ia tahu itu adalah dalemannya Andrea tersangkut dijarinya.


Abang tak habis pikir, mengapa penutup bagian rahasia punya Andrea itu hanya selebar mungkin dua ruas jari tangannya saja lingkaran itu segitiga yang bukan bermuda. Bentuk kupu – kupu dibagian depan memang terlihat lucu dan menggemaskan.


Tapi bentuk belakangnya... rasanya tak bisa disebut sebagai penutup kalau menurut si Abang. Kalau melihat kecilnya lebar bagian belakang itu sih paling paling hanya menutupi .. ah sudahlah. ‘Untuk apa memakai dalaman jika tidak menutupi seluruhnya?’.


Abang membatin sambil memperhatikan kain segitiga penutup bagian rahasia Andrea yang sudah ia obrak abrik tadi.


‘Ck!’ Abang berdecak dalam hati. Gara – gara itu kain berenda, pikiran Abang jadi gremet – gremet lagi kan mengingat sesi panasnya dengan Andrea tadi.


***


Di dalam kamar mandi..


Andrea sedikit meringis saat dia sedang buang air kecil. Intinya sedikit agak terasa panas dan sedikit perih.


“Abang ..” Andrea menggumam. Ia menyunggingkan senyumnya. Rasanya tak percaya kalau dia dan Abang sudah


melakukannya. Ritual sakral suami istri.


Ada hangat direlung hatinya yang bercampur dengan bahagia. Ada rasa tak percaya juga, kalau dia dan Abang bisa sampai ke tahap ini.


‘Eh?’


Andrea seperti menyadari sesuatu. Ada sesuatu yang tidak ia temukan dibagian bawahnya saat ia sudah membersihkan diri setelah menyelesaikan panggilan alamnya barusan.


“Alamak! ****** ***** gue!” Andrea menepak jidatnya.


***


Andrea coba mencari sampai keatas ranjang. Ada bercak kemerahan disana yang ia sadari kalau itu adalah darah perawannya.


Wajah Andrea jadi merona. Lalu mencoba mencari kain segitiga nya lagi. “Ehem” Andrea seketika menoleh. “Cari ini?” Itu Varen dan ia menunjukkan pada Andrea kain berbahan semi brokat, berbentuk kupu – kupu dan bertali tipis.


Andrea mendelik. “Abang ih!”


Varen terkekeh.


“Sini kan!” Andrea coba berdiri. “Sshh ..”


Perih di bagian antara pahanya sedikit terasa lagi.


“Masih sakit sekali kah?” Tanya Varen khawatir yang tadinya masih ingin menggoda Andrea, tapi sekarang ia urungkan karena melihat Andrea yang meringis.


Andrea menggeleng.


Varen menarik Andrea agar kakinya menjuntai ke bawah ranjang. Membuat Andrea sedikit kikuk juga. “Eh, Abang. Drea bisa pakai sendiri” Ucap Andrea menahan tangan Varen yang hendak memakaikan segitiga pengamannya itu.


Namun Varen menyingkirkan tangan Andrea dengan pelan dan meneruskan memakaikan Andrea segitiga pengamannya. “Kan aku sudah bilang tadi, sekarang sudah tak ada lagi jarak antara kamu dan aku, Little Star.. aku sudah melihat dan merasakan setiap inci tubuh kamu. Jadi jangan lagi merasa risih padaku”


Varen kemudian tersenyum setelah berhasil memakaikan segitiga pengaman Andrea. Andrea pun mengangguk


meski sedikit ragu, juga masih sedikit malu. “Makasih ya Abang” Ucap Andrea. Varen mengecup pipi Andrea kemudian.


“Drea lapar?” Tanya Varen sambil mengambil selimut yang tercecer dilantai, yang sempat digunakan Andrea untuk membalut tubuhnya tadi.


“Engga” Sahut Andrea. “Sini biar Drea, Abang” Ucap Andrea menghampiri Varen yang sedang merapihkan selimut itu.


“Tak apa. Hanya begini saja. Sudah biasa di Massachussets mengurus diri sendiri, termasuk merapihkan tempat tidur”.


Andrea sedikit merasa tidak enak. “Tapi sekarang Abang kan sudah punya istri..” Ucap Andrea pelan. “Seharusnya


Drea yang mengurus Abang sekarang” Sambung Andrea.


Varen tersenyum, sembari membawa Andrea duduk ditepi ranjang lalu duduk berhadapan.


“Jangan terlalu dipikirkan, Sayang” Ucap Varen lembut.


“Iya, tapi kan ..”


“Menjadi istri Abang, jangan sampai membebani kamu. Abang yang mau menikahi kamu buru – buru, jadi Abang tidak mau egois dengan mengharuskan kamu mengurus ini itu soal Abang. Cukup Drea mencintai Abang”


“Tapi Drea mau benar – benar berperan sebagaimana layaknya istri. Seperti Momma yang mengurus Poppa”


“Bukannya sudah tadi, berperan jadi istri? Hem? Itu buktinya” Goda Varen sambil menunjuk bercak kemerahan disprei. Yang membuat Andrea malu sendiri.


“Abang ih!”


“Hahaha” Varen tergelak melihat wajah Andrea yang merona sembari memukul pelan dada bidang si Abang.

__ADS_1


*****


“Ini, minum dulu tehnya. Mumpung masih hangat” Varen yang tadi pergi ke dapur membuat teh untuk dirinya dan Andrea sudah kembali lagi ke kamar.


Andrea yang sedang bersandar di pintu balkon itu menoleh saat mendengar suara Varen. Tadinya ia yang menawarkan diri untuk membuat teh, namun si Abang menahannya. Jangan membantah-begitu


kata Abang. “Makasih Abang”


Andrea mengambil cangkir berisikan teh hangat yang dibuatkan Varen. Menyesapnya sembari memperhatikan


Varen yang juga bersandar di sisi sebrang Andrea yang juga sedang menyesap tehnya.


‘Abang ga kedinginan apa?’ Batin Andrea yang melirik pada riti sobek diperut si Abang yang tercetak sempurna itu.


Abang memang sudah mengganti celana panjangnya dengan celana rumahan, tapi Abang tidak menggunakan atasan. Membuat Andrea gagal fokus kan.


Jadi ingat lagi saat si Abang sedang memacunya dan tangan Andrea juga ikut menjelajah kala Abang sedang memberinya kenikmatan diantara perihnya.


Selain kepala dan rambut Abang yang seingat Andrea, sempat Andrea jambak berikut bagian atas tubuh Abang lainnya yang dijelajah oleh tangan Andrea, perut kotak – kotak itu juga sempat dielus oleh Andrea, saat satu kakinya diletakkan si Abang dipundaknya.


‘Aigoo, mesum kan tuh gue?!’


Andrea merutuki dirinya sendiri, lalu membuang pandangannya ke arah balkon sambil menyesap kembali tehnya.


*****


“Kita bermalam disini malam ini”


“Iya Abang”


“Besok Abang minta seseorang mengantarkan baju ganti untuk Drea” Ucap Varen yang kemudian membawa Andrea masuk ke kamar, karena udara sudah mulai terasa dingin saat mereka berdiri disela pintu kamar dan balkon tadi.


“Drea ingat kayaknya disini ada beberapa baju Drea deh”


“Memang?” Tanya Varen dan Andrea langsung mengangguk.


“Kan Drea ada kamar juga disini. Baju – baju Drea yang disini setahu Drea ga pernah Drea bawa” Jawab Andrea.


“Oh iya, iya” Timpal Varen. “Mau Abang ambilkan?. Siapa tahu ada piyama yang bisa kamu pakai”


Andrea menggeleng.


“Drea .. suka pakai kaos Abang begini” Ucap Andrea pelan sambil setengah menunduk dan menggigit bibir bawahnya sendiri.


Sedikit malu, tapi entah seneng aja bisa pakai kaos si Abang meski kaki jenjangnya terekspos dengan indah, karena hanya satu bahan saja yang menempel dibagian bawahnya.


“Ya sudah, lebih baik kita istirahat?” Ucap Varen seraya bertanya, siapa tahu Andrea memang lelah karena kegiatan panas mereka tadi. Namun Andrea menggeleng.


“Abang istirahat aja duluan ga apa – apa. Drea belum mengantuk dan lagipula ini juga belum terlalu malam” Sahut Andrea.


“Masa kamu Abang tinggal tidur?”


“Ya ga apa – apa. Drea juga ga akan kabur.” Sahutan Asal meluncur dari bibir Andrea yang membuat Varen mendelik dan mencondongkan wajahnya pada Andrea.


“Coba saja kalau berani kabur dari Abang”


“Haha. Abang ih geli!” Andrea tergelak kala Varen menggelitiki pinggangnya.


Hingga tanpa sengaja mereka berdua jatuh diatas ranjang dengan Varen yang berada diatas Andrea, lalu keduanya saling diam sejenak dan saling tatap dalam diam, namun ada cinta yang dalam disana.


“I love you, Alvarend..” Andrea membelai wajah Varen pelan, yang membuat si pemilik wajah memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut Andrea.


“I love you more, Miracle Andrea”


Ada sesuatu yang berdesir kemudian, hingga membuat Andrea dan Varen kemudian sudah saling bertukar saliva. Dan kemudian terdengar geraman tertahan dari Varen kala tangan Andrea mendarat dimana naga kecil sedang bersemayam anteng disana, tapi sudah perlahan mulai menggeliat kala tangan Andrea mengusap pelan dan teratur dari luar.


Varen memejamkan matanya, mencoba menetralkan nafasnya. Itu nikmat, tapi menyiksanya.


Sentuhan Andrea itu membuat si naga kecil minta dibebaskan dari kurungannya. Tapi Varen masih tak tega, mengingat Andrea tadi yang masih meringis beberapa waktu lalu saat Varen memasangkan segitiga pengamannya.


“Little Star ..” Varen berucap pelan, sembari tangannya memegang tangan Andrea, dalam upaya menghentikan Andrea melakukan kegiatannya mengelus – elus naga kecil dari luar celananya.


Karena naga kecil itu bukanlah seorang bocah yang akan tertidur jika dielus kepalanya, melainkan sebaliknya. Naga kecil Varen malah akan terus bangun dan meregang hingga batas maksimal jika tangan Andrea terus saja mengelusnya.


“Abang.. Drea mau lihat ini”


“A-apa? ..”


Varen tergugu, sedang menelaah permintaan Andrea barusan.


“Boleh?”


“Engggg .”


“Drea penasaran, mau pegang langsung juga. Boleh?..” Tanya Andrea denga raut wajah yang polos namun ada


semburat kemerahan di wajahnya.


Varen melongo sekaligus meneguk kasar salivanya. “Little Star..” Varen mengerang pelan, kala jemari Andrea


sudah menelusup kebalik celananya sebelum Varen menjawab pertanyaannya.


Varen memejamkan mata\, menikmati kenikmatan dibawah sana yang enggan dia tolak. Dan kini ada api yang perlahan menjalar ditubuhnya. Yang pada akhirnya membuat Varen meraih tengkuk Andrea dengan cepat\, m*l*m*t kembali bibir merah muda yang manis bak semangka itu dengan liar.


“Jangan salahkan Abang jika setelah ini Abang tak bisa menahan diri”


Masuk Pak Ekooo....


*****


To be continue ..

__ADS_1


__ADS_2