THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 144


__ADS_3

♥♥   TAK AKAN ADA LAGI JARAK   ♥♥


****


Selamat membaca...


London, Inggris.......


🌟Author’s POV on🌟


Fania, Andrew, Reno, Michelle, Dewa, Dad serta Vla pada akhirnya sudah mendarat di London dengan selamat.


Lega! Rasanya, bisa kembali ke kota ini. Perjalanan ke Luar Negeri kali ini terasa lama sekali dan begitu melelahkan. Sering memang meninggalkan London dalam kurun waktu yang bahkan lebih lama dari waktu mereka di Italia, dua minggu belakangan.


Namun dua minggu yang baru saja dilewati dengan duka dan luka serta bahaya terasa bak bertahun – tahun lamanya bagi Dad dan Pangeran – Pangeran Keluarga Adjieran Smith. Bagi dua J, Reno dan Dad terlebih lagi.


Kalau Dewa dan Andrew tak lagi merasakan kerinduan pada wanita tercintanya, karena seminggu yang lalu Michelle dan Fania berhasil menemukan mereka di Kediaman Lucca. Perjuangan para istri yang ingin tahu kabar tentang suami – suami mereka, apapun itu.


Tak rela rasanya kalau harus kehilangan orang – orang tercinta dengan cara yang mengerikan, dan akan terasa


lebih sakit juga rasanya jika tidak tahu apa – apa, terlebih lagi tanpa usaha yang maksimal. Dewa dan Andrew kini memendam rindu pada bidadari – bidadari kecil mereka saja. Selain kerinduan pada Mom dan segenap keluarga mereka yang lainnya.


Dan yah, setelah sempat dikabarkan meninggal dalam ledakan, menghancurkan orang yang sudah mengusik ketentraman keluarga mereka dari sejak jaman buyutnya si pria tamak dan jahat bernama Joven itu sampai harus bertaruh nyawa dalam baku tembak dan pertempuran yang cukup sengit, namun semua sudah terbayar dengan kelegaan dan kepuasan. Hanya tinggal sedikit lagi, dua hal tadi bertambah dengan kebahagiaan.


Kini Dad dan para Pangeran sudah tiba di London. Termasuk juga Fania, Michelle dan Vla yang sudah termasuk dalam bagian para Pangeran.


Helikopter yang mereka tumpangi sudah mendarat dengan mulus di sebuah Landasan Pribadi pada sebuah lahan yang cukup besar. Hari sudah lewat tengah malam saat ini, namun wajah – wajah yang akan bertemu dengan istri dan anak – anak tercinta berikut orang – orang yang mereka kasihi nampak begitu bersemangat sekali.


🌟Author’s POV off🌟


****


“You’re don’t want to coming with us, Vla? ( Lo beneran ga mau ikut kita, Vla? ).” Tanya Dewa pada babang Tamvan asal Rusia itu.


“Naahh.... not now I guess. You guys better have your reunion with you’re all beloved first ( Enggalah.... ga sekarang sih sepertinya. Kalian lebih baik berkumpul dulu dengan orang – orang yang kalian sayangi ).” Sahut Vla.


“But you’re also part of the beloved, right Kak Fania? ( Tapi kamu juga bagian dari yang kami sayangi, benar kan Kak Fania? ).”


Fania menggangguk antusias pada ucapan Michelle.


“Michelle right ( Michelle benar ). Kamu, Bi, Paman Li sudah sangat membantu aku dan Michelle. You of course, especially ( Kamu terutama, tentunya ).”


Vla tersenyum sumringah. Begitupun lainnya. “Well, I always weak to beautiful ladies. Especially these ladies of Adjieran Smith’s ( Yah, aku selalu lemah pada wanita cantik. Terutama para wanita dari keluarga Adjieran Smith ). Ladies that I care a lot ( Para wanita yang amat aku kasihi ).”


“Ohhh Vla.... you’re so sweet....” Fania langsung berhambur pada Vladimir dan memeluk pria Rusia tampan itu, bersama juga dengan Michelle.


“Kajoooll....” Abang Donald berkata datar sambil memberikan lirikan penuh arti pada Fania.


“Ah elah, gitu aje cembokur Donald Bebek!.”


Fania melepaskan pelukannya dari Vladimir seiring kekehan semua orang yang terdengar.


“Alright then, see you guys soon. Bryan and Paman Li must be miss me that much ( Baiklah kalau begitu, sampai


ketemu lagi dengan kalian secepatnya. Bryan dan Paman Li pasti udah kangen padaku ).” Mereka terkekeh lagi. “Beritahu saja jika kalian semua sudah berkumpul di Mansion.” Sambung Vla menggunakan Bahasa.


Ucapan Vla dijawab anggukan oleh para personel Adjieran Smith termasuk juga Dad. “Thank you Vladimir, I owe you a lot ( Terima kasih Vladimir, aku berhutang banyak padamu ).” Ucap Dad sambil memeluk anak dari salah satu sahabatnya itu.


Dad merengkuh kedua bahu Vladimir dan menatap penuh arti padanya.


“Evgen taught you very well! ( Evgen mendidikmu dengan sangat baik ).” Ucap Dad lagi.


“Please don’t mention it Sir. Papa was so lucky to have you as his best friend. Beside, I already consider all of you as my own family ( Jangan bilang begitu, Tuan. Papa sangat beruntung bisa memiliki anda sebagai sahabat baiknya. Lagipula aku sudah menganggap kalian sebagai keluargaku sendiri ).” Sahut Vla.


“Kita memang keluarga Vla!....” Ucap John mewakili keluarganya.


“Thanks, Bro....” Sahut Vla.


“We’re all who supposed to thank you ( Kami semua yang seharusnya berterima kasih ).”


“Ah Taci! ( Ah Diam! ).” Celoteh Vla menirukan Lucca, merekapun tertawa bersama.


“Okay better I’m leaving now. See you guys soon ( Oke sebaiknya aku pergi sekarang. Kita bertemu secepatnya ).” Pamit Vla pada semua.


“Say my greeting to Bryan and Li ( Sampaikan salamku pada Bryan dan Li ).”


“I will, Sir ( Pasti, Tuan ).”


“Dad!. Call me Dad, like my kids called me ( Dad! Panggil aku Dad seperti anak – anakku yang lain ). You are one of them now ( Kamu bagian dari mereka semua sekarang ). You part of this family ( Kamu bagian dari keluarga ini ).”

__ADS_1


“Thanks Dad.”


Dad pun memeluk Vla sekali lagi, diikuti oleh para pangeran juga. Kemudian pria Rusia itu memisahkan diri dari Dad dan yang lainnya dan pergi menuju tempat Paman Li dengan menggunakan mobil berikut supir yang sudah disediakan untuknya. Dad beserta anak – anak dan menantunya itupun juga memasuki dua mobil yang berbeda untuk pergi menjemput mereka yang berada di Save House.


"Sampaikan salam kami pada Bryan dan Paman Li juga!." Seru Jeff dan Vla mengangkat jempolnya sambil berjalan.


Beberapa orang kepercayaan para pria Adjieran Smith juga nampak ada di landasan untuk menyambut para Bos mereka dengan wajah yang penuh kelegaan juga bahagia. Termasuk juga Ezra yang merupakan orang kepercayaan Andrew dan memang amat sangat setia pada Andrew dan keluarga Adjieran Smith.


“Cie abang Romah mo ketemu Anihhh...”


Goda Fania pada si kakak ganteng termasuk juga dua J sebelum ia masuk mobil. Para Pangeran termasuk Dad terkekeh.


“Ngomong apa sih lo, Little F.... Gaje!.” Celetuk kakak ganteng yang menirukan adik kesayangannya yang kadang gesrek itu.


“Tau nih! Sudah cepat masuk mobil!. Kangen nih kita orang sama mereka yang ada di Save House. Terutama istri dan anak – anak kita orang.” Timpal John.


“Ca ilah. Kangen sama Mom, Kak Ara, si Priwitan ama Jihan pasti lebih – lebih khan ???....” Goda Fania lagi. “Aku sudaaah rinduuuu .... lincah manjaaaahhh.... syikapmu....” Dan tujuh orang yang bersamanya itu terkekeh geli saja mendengar si Kajol menyanyikan sebait lagu entah lagu apaan, itu tujuh orang ora paham.


Dan merekapun akhirnya sudah masuk ke tiga mobil berikut supir yang disediakan untuk mereka.


Mobil yang ditumpangi beberapa anggota keluarga yang melebihi keluarga sultan itu pun melaju keluar dari landasan pribadi mereka dengan iringan beberapa mobil lain didepan dan belakangnya.


****


”Aku benar – benar merindukan Andrea.” Bisik Andrew pada Fania dalam dekapannya.


Fania tersenyum dan mengangguk pada Andrew yang nampak merindukan putri semata wayangnya.


Sama seperti Andrew, ia pun amat merindukan putri kecilnya itu.


“Andrea pasti sangat bahagia, D. Karena ia selalu menunggu Poppanya pulang kerja, membawakan dia boneka dan memberikan ciuman selamat malam untuknya.” Ucap Fania sedikit lirih, karena teringat seminggu yang penuh duka kala itu.


“I’m sorry.” Andrew menghapus air mata Fania yang turun sebulir itu.


Fania menggeleng pelan. “Yang penting Andrea ga kehilangan Poppanya.” Ucap Fania dengan tersenyum.


“Tidak akan pernah, Heart. Andrea akan selalu bersama Poppa dan Mommanya.”


****


“Loh, ini kan rute menuju Mansion?.”


“Exactly ( Tepat sekali ).”


“Memang Mom dan yang lainnya sudah dibawa kembali ke Mansion?.”


Dewa hanya tersenyum. Sementara Michelle menunggu jawaban yang lebih dari sekedar senyuman.


“Bukannya kita semua berencana untuk memberikan surprise untuk mereka?.” Tanya Michelle lagi.


“Memang.” Sahut Dewa. Masih tersenyum dan membawa Michelle kembali dalam dekapan.


“Lalu?.”


“Tenanglah. Nanti kamu juga akan tahu.”


****


Save House


“Mommy....” Ara yang belum sepenuhnya tertidur dengan Valera disisinya itu langsung terhenyak mendengar suara sang putra yang masuk ke kamarnya itu.


“Hey, My Prince .... belum tidur?.”


“May I sleep with you and Valera? ( Bolehkah aku tidur bersamamu dan Valera? ).” Tanya Varen yang sudah menghampiri sang Mommy yang kini sudah duduk disisi ranjang dan kemudian membawa Varen dalam dekapan dengan tersenyum.


“Of course, My Prince. Why not?.” Jawab Ara. “Tapi bagaimana dengan Nathan?. Dia tidur sendirian? Atau Lita bersamanya?.”


“Nathan juga tidur bersama Mama Jihan.” Sahut Varen.


“Ya sudah sini.” Ara berdiri dan membiarkan Varen berbaring ditempatnya tadi.


“Terima kasih Mom....”


“Tidak perlu berterima kasih Sayang.” Ucap Ara. “Bukankah kita sudah sering tidur bersama – sama seperti ini?.”


Varen manggut – manggut.


“Hanya saja sebelum disini, Dad selalu ada bersama kita.” Ucap Varen dan suaranya sudah terdengar lirih bersamaan dengan matanya yang sudah berkaca – kaca.

__ADS_1


“Hey, My Prince ....”


“I miss Daddy, Mommy... I miss him so much - ...” Varen mulai terisak.


Ara mengusap – usap dada Varen dengan lembut seraya tersenyum sambil juga menghapus air mata sang putra


yang turun pada akhirnya.


“Dad akan selalu ada bersama kita. Dia tidak akan kemana – mana.” Ucap Ara sambil menahan sesak didadanya


melihat Varen yang terlihat begitu sedih hingga air mata yang turun sebulir itu berubah jadi isakan pelan dan anak itu mencoba menutupinya dengan meletakkan satu tangan diatas kedua matanya.


Ara pun ingin menangis rasanya. Namun ia harus menampakkan ketegarannya pada Varen yang kini sedang bersedih itu.


“Hey, lihat Mommy. Dad akan selalu ada disini, dan disini.” Ara menunjuk kepala dan dada sebelah kiri Varen. “Hem?.” Ucap Ara yang matanya sudah berkaca – kaca namun ia tetap tersenyum pada Varen, sambil menghapus air mata sang putra yang sudah membasahi kedua pipinya itu. Varen pun mengangguk dan sedang mencoba menghentikan isakannya.


Ara menyelimuti Varen dan memberikan satu kecupan dikening putranya itu. “Nitey Nite, Mommy.”


“Nitey nite, My Prince. Tidur ya?. Mommy pindah ke sebelah Valera, hem?.” Ucap Ara sambil membelai kepala dan wajah Varen seraya tersenyum. Varen mengangguk lagi. Ara menelan keras salivanya, saat mata Varen sudah terpejam.


‘Mommy pun sangat merindukan Dad, My Prince....’


Ara menahan tangis dengan menggigit bibir bawahnya.


Kemudian Ibu Peri beringsut ke sisi ranjang yang lain disamping putri kecilnya dan Reno. Ia memandangi Varen dan Valera saat sudah berbaring miring, masih menahan kuat dirinya untuk tak menangis karena takut mengganggu tidur kedua anaknya, namun air matanya sudah mulai turun pada akhirnya, hanya Ara tak mengeluarkan suara dalam tangisnya.


‘Honey, aku tak mau sendirian membesarkan dan melihat mereka tumbuh .... aku membutuhkan kamu, Demi Tuhan aku membutuhkan kamu Hon ....dada aku sudah terlalu sesak Hon, menahan duka dan rindu bersamaan.’


Ara tak sanggup menahan air matanya lagi. Tak ingin kalau tiba – tiba Varen terbangun dan melihatnya menangis, Ara memposisikan dirinya tidur menyamping berlawanan arah dengan kedua anaknya dan Reno..


‘Tuhan, jika boleh aku meminta, hadirkan dia yang aku cinta.’


Air mata Ara pun belum kering hingga sampai ia terlelap


**


“............”


Ara sudah jauh terlelap sebelum sebuah suara sedikit mengusik tidurnya. Ara mengerjap kan matanya perlahan.


Ia masih dalam posisi sebelumnya saat menangis membelakangi Varen dan Valera hingga ia jatuh terlelap bersama tangisnya.


“I....miss.... you.... Daddy....” Suara Varen yang terdengar menangis tersedu – sedu membuat Ara membuka kedua matanya. Kemudian menutupnya sekejap lagi sambil menghela nafas. Dada Ara terasa sesak lagi, namun ia belum membalikkan badannya.


Meskipun menurut Ara sepertinya Varen mengigau karena terlalu rindu pada sang Daddy, namun tetap saja itu membuat hatinya terasa perih dan tenggorokannya rasa tercekat. Mungkin sama sepertinya, Varen pun belum siap untuk hidup tanpa sang Daddy.


“Jangan pergi lagi Daddy... Jangan tinggalkan aku, Mom dan Val lagi....”


Ara menghapus air mata. Menguatkan dirinya dulu, mencoba menormalkan wajahnya untuk membangunkan Varen yang sedang mengigau.


“I won’t....”


Ara tak jadi membalikkan badannya.


Entah sedang berhalusinasi atau Ara merasa sudah mulai gila.


Ia menarik nafasnya dalam – dalam sambil memejamkan lagi matanya sebentar. ‘Bahkan suaranya masih terdengar begitu jelas ....’


“Daddy I miss.... you.... I miss you soo much ....”


“I miss you too, My boy....”


Suara yang dirindukan Ara itu terdengar lagi. Tubuhnya tiba – tiba membatu dan lidahnya terasa kelu.


“Don’t you miss me, too.... Ibu Peri?...”


Ara sontak membulatkan matanya, tubuh yang tadi membatu itu perlahan berbalik dengan air mata yang turun namun ia abaikan.


🍂  ‘Dan Di Dunia Ini Aku Tak Mau Sendiri’  🍂


Wajah itu ada disana berikut dengan sosoknya yang memeluk erat Varen dalam pangkuannya.


“You don’t want to hug me?.... ( Apa kamu tidak ingin memelukku? ....) .... Don’t you miss me?.... ( Apa kamu tidak merindukanku? ....) ....”


Satu tangan sosok yang memangku Varen itu terentang satu ke arah Ara yang bibirnya terkatup rapat, namun air matanya sudah terus turun bersamaan dengan bahu Ara yang bergetar.


“Because I miss you like crazy.... ( Karena aku teramat sangat merindukanmu .... ) ....”


Tangis Ara pun pecah pada akhirnya. Tangan yang tadi hanya terentang mengarah padanya, kini kedua tangan kokoh itu sudah mendekapnya dengan sangat erat setelah menurunkan Varen dari pangkuannya.

__ADS_1


*


To be continue....*


__ADS_2