THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 92


__ADS_3

💋 AKU PADAMU 💋***


Selamat membaca ...


“Yank!.”


Dewa menemukan Michelle di taman komplek setelah mengenali mobil Michelle yang terparkir di dekat lapangan


basket bersejarah bagi Reno, Fania dan Andrew. Michelle yang masih terduduk di kursi kemudi namun sudah membuka pintu mobilnya dan duduk menyamping hanya melengos sekilas tanpa menjawab.


Dewa berjongkok dihadapan Michelle.


Michelle hanya melirik namun tetap diam. “Yank.” Dewa mengelus – elus dengkul Michelle.


Namun Michelle tetap tak merespon. Ia memandang lurus kedepannya. Dewa menghela nafasnya.


“Maafin aku ya?.”


Dewa memandangi Michelle yang belum meresponnya itu.


“Yank.. please jangan begini ....” Dewa meraih tangan Michelle. “Wanita....”


“I have told you (Sudah aku bilang), lupakan aku pernah bertanya.” Michelle berkata tanpa menoleh pada Dewa. Membuat suaminya itu menghembuskan nafas frustasi.


“Kita pulang kalau begitu.” Ajak Dewa. “Ya?.”


“Mau pergi kan?. Just go. (Pergilah sana).”


Dewa berdiri dari jongkok nya, setengah membungkuk sambil menangkup wajah Michelle. “I’m not going anywhere without you. (Aku ga akan pergi kemana – mana tanpa kamu).”


Michelle melirik sinis.


“Omong Kosong!.”


“Dengerin aku.” Dewa masih menangkup wajah istrinya yang cantik namun ketara banget judesnya kalo udah ngambek itu. “Aku minta maaf. Oke?.” Ucapnya. “Aku bukannya marah kamu memeriksa ponsel aku. Aku hanya ..”


“Hanya takut ketahuan sisi b*jingan kamu!.” Ucap Michelle pedas.


‘Astaga pedes banget mulutnya istri gue nih, Untung gue cinta mati sama dia.’


Dewa membatin, sejenak kemudian ia tersenyum.


“Wanita yang kamu tanyakan tadi itu teman aku Yank, iya aku pernah dekat.” Dewa mulai menjelaskan.


“Bilang aja mantan! Ga usah berbelit – belit.” Sahut Michelle sinis.


“Yank, aku pernah dekat, bukan berarti pacaran sama dia.”


Michelle berdecak.


“Waktu di Norweg, ayahnya itu adalah Dokter yang merawat aku sampai aku sembuh. Jadi aku lumayan dekat sama dia. Dia yang sering membantu bahkan menyemangati aku.” Dewa kembali menjelaskan. “Tapi setelah aku tahu, kalau dia punya perasaan berlebih sama aku dan dia juga sempet menyatakan, aku mulai menjaga jarak dengan dia.”


Dewa yang sedikit lelah membungkuk itu kemudian mendudukkan dirinya didekat kaki Michelle.


“Ya kamu kan tahu waktu itu aku sedang naksir siapa.” Ucap Dewa. “Makanya aku ke London saat sudah benar - benar pulih pasca kecelakaan”


Michelle bergeming.


“Ya karena aku menolak dia, terus aku ke London, terakhir yang aku tahu dia pindah ke Brazil. Setelah itu aku lose contact. Nah tadi pagi, dia ada hubungi aku dan aku ga tahu darimana dia dapat nomor contact aku yang baru ini.”


“Kamu ga pernah cerita!.”


“Buat apa Yank. Toh aku juga udah lupa, kalau dia ga telpon aku tadi pagi.”


“Alasan!.”


“Kok alasan sih?. Ya memang itu yang sebenarnya, Yank.” Sahut Dewa.


“Kenapa sewot aku periksa ponsel kamu?!.”


“Ya maaf aku hanya panik tadi.”


“Kenapa harus panik kalau ga ada apa – apa?!.”


“Justru aku takut kalau dia ada kirim pesan aneh – aneh dan kamu mikir juga yang aneh – aneh nantinya. Karena setelah telponnya tadi pagi, aku abaikan telpon dia yang berikutnya.”


Michelle berdecak lagi. “Dia ga tahu kamu sudah menikah memangnya?!.” Tanya Michelle dengan sinis.

__ADS_1


“Dia ga tanya, hanya tanya kabar dan basa – basi yang lain. Dia bilang kalau dia sedang ada di Jakarta dan tahu kalau sekarang aku disini juga. Entah dia tahu darimana.”


“Udahlah jangan kebanyakan alasan! Pas sekali kan kamu bilang mau pergi bertemu dengan calon partner bisnis kamu dan kamu ga mau ajak aku. Padahal sebenarnya kamu janjian sama dia!.” Cerocos Michelle.


“Ya ampun Yank, Demi Tuhan, engga..” Dewa menyanggah dugaan Michelle. “Aku memang ada janji sama teman –


teman yang mau join bisnis resto sama aku.” Dewa mengeluarkan ponselnya. “Nih, kalau kamu ga percaya.”


Dewa pun menunjukkan beberapa pesan diponselnya.


“Itu! Wanita itu ajak kamu ketemuan!.” Michelle menunjuk satu pesan.


“Ya aku ada balas pesannya ga?.”


“Sengaja aja! Mana aku tahu kalau kamu ga hubungi dia..”


‘Astaga, curigaan banget ini si Ayank.’ Dewa membatin. “Ini coba lihat log panggilan aku.”


“Bisa dihapus kan?.”


“Ga ada yang aku hapus Ayaaaank..”


“Bohong!.”


“Demi Tuhan Ayank, mati nih aku sekarang kalau aku bohong.”


Dewa berkata dengan frustasi.


“Percaya sama aku, please?. Ya udah sekarang gini deh, kamu mau aku ngapain supaya kamu percaya sama aku?. Tapi yang jelas sekarang kita pulang dulu ya?.” Ucap Dewa memohon. “Satu, aku ga enak menitipkan karena menitipkan pada Andrew dan Fania kalau terlalu lama.”


Dewa menegakkan dirinya.


“Dua, nanti kalau ada patroli security komplek dan menemukan kita mojok disini, mereka pikir kita melakukan hal yang tidak senonoh. Ketiga, Disini banyak nyamuk Yaank .. Kita pulang ya?.” Dewa memelas. “Sekali lagi aku minta maaf kalau sudah menyinggung kamu. Tapi tolong jangan meragukan aku.” Dewa mengelus punggung tangan Michelle. “Yah?.” Mengecupnya lembut. “Hanya kamu Yank, ga akan ada yang lain.”


Michelle tak menjawab, memandangi wajah Dewa yang sedang memohon dengan memelas lalu ia mengangguk pelan.


“Mana kunci mobil kamu?.” Tanya Dewa.


“Tuh!.” Michelle menunjuk kunci mobil yang masih menempel di dekat kemudi.


“Nah itu mobil kamu?.”


“Nanti aku suruh Atha ambil.”


**


Kediaman Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia ...


Reno dan Andrew sedang duduk di ruang tengah saat Dewa dan Michelle kembali ke kediaman utama.


Dua pria itu nampak sedang menunggu Dewa dan Michelle kembali. Michelle yang menanyakan Baby Mika pada dua kakak laki – lakinya itu langsung melangkah menuju kamarnya setelah Andrew bilang kalau Fania dan Ara sedang berada di kamar Dewa dan Michelle.


“Sudah selesai masalah kalian?.”


“Sudah.”


“Kalian bertengkar soal apa?.”


“Hanya sedikit salah paham.” Sahut Dewa pada Andrew dan Reno.


“Perempuan?.”


Dewa mengangguk.


“Jangan coba macam – macam dengan bermain dibelakang adik gue.” Andrew sedikit memperingatkan.


“Satu aja ga habis, Ndrew.” Sahut Dewa sambil geleng – geleng dan Reno serta Andrew terkekeh. “Lagian juga, gue sekarang udah cinta mati sama Michelle. Bodoh kalo gue mau macem – macem.”


“Baguslah kalau paham.”


“Menghadapi satu itu aja gue masih suka kerepotan.”


“Yah setidaknya lo bersyukur, kalau Michelle dan yang lainnya ga se ekstreem Fania kalau ngambek.” Celetuk Reno. “Terakhir dia terbang dari London ke indonesia karena ngambek habis dimarahin sama si Donald Bebek.”


“Coy, coy jangan deh Michelle se ekstreem Naomy. Kalo ga sakit jantung, gue senget.” Sahut Dewa yang membuat Reno dan Andrew terkekeh geli. ‘Untung gue ga jadi nerusin ngejar si Naomy dulu.’ Batin Dewa. “Memang hebat lo Ndrew, gue akuin.” Dewa menepuk – nepuk bahu Andrew. “Kuat banget memang lo menghadapi Naomy. Salut gue!.”


“Of course lah gue harus kuat!.” Timpal Andrew. “Daripada gue harus kehilangan dia dan gue tidak bisa merasakan goyangan maut di ranjang yang wanita lain pastinya tidak bisa lakukan. Gue akan sekuat tenaga menabahkan hati  demi jurus – jurus maut  Fania gue, yang bisa membuat ranjang dan seluruh tubuh gue gemetaar.”

__ADS_1


Andrew tergelak, begitupun Reno dan Dewa.


“Geblek!.” Celetuk Dewa kemudian meneruskan gelakannya.


“Benar yang lo bilang Wa. Senget!.” Timpal Reno.


“Efek goyang patah – patah.”


"Weits, itu goyang model lama, Wa. Yang terbaru akan membuat lo tergolek pasrah!." Andrew cekikikan. "Haish, gue jadi pengen lagi."


'Botak sialan! Bikin penasaran.' Batin Reno dan Dewa sambil berharap, Ara dan Michelle sudah tahu 'jurus' baru yang diumbar si Donald Bebek.


**


Tiga pria yang tadi duduk – duduk di ruang tengah sudah kembali ke kamar mereka masing – masing bersama


pasangannya. Termasuk Dewa yang kini sudah mengajak Michelle duduk di sofa dalam kamar mereka. “Yank.”


Dewa menggenggam tangan Michelle yang matanya sedang menatap televisi.


“Hem.” Sahut Michelle.


Dewa menolehkan wajah Michelle padanya. “Udah ga marah, kan?.” Tanyanya sungguh – sungguh.


“Ponsel kamu mana?.”


“Diatas nakas. Kenapa?.”


“Mau lihat – lihat.”


‘Masih aja ga percaya.’ Dewa membatin namun berdiri untuk mengambil ponselnya. “Ini.”


“Ga ikhlas amat mukanya.” Ucap Michelle setengah sinis.


‘Oh Tuhan, sabar kan lah hati ini.’ Dewa membatin lagi. “Aku ikhlas Ayaaaank, terserah ini mau kamu apain ponsel aku. Mau kamu banting juga boleh.” Ucapnya dengan tersenyum.


“Ini.” Michelle memberikan ponselnya pada Dewa.


“Apa?.”


“Ponsel aku.”


“Iya aku tahu, ini ponsel kamu. Kenapa dikasih ke aku, mau suruh kamu periksa?.” Ucap Dewa. “Aku ga ingin memeriksa ponsel kamu, Yank. Kalau kamu mau memeriksa ponsel aku silahkan aja.”


“Kamu pakai ponsel aku dan aku pakai ponsel kamu mulai sekarang.” Ucap Michelle santai.


Dewa yang hendak mengganti Channel TV sedikit terkejut mendengar ucapan Michelle barusan.


“Hah?.”


“Kenapa?. Ga mau?.”


Dewa mengusap tengkuknya. “Ya ga apa – apa si .. tapi apa ga repot kalau nanti ada telpon dati kolega aku dan


kamu harus memberikan nomor ponsel kamu yang aku pakai ini?.”


“Engga.” Sahut Michelle.


“Ya sudah.” Dewa pasrah. “Demi kamu apa sih yang engga, Yank.” Dewa membawa Michelle dalam pelukannya. ‘Iyain aja lah. Harus kuat seperti si Andrew bilang tadi. Daripada gue harus kehilangan aneka goyangan dan segala jurus maut yang bisa membuat gue melayang, lebih baik ikutin aja maunya si Ayank deh!.’


Dewa mengeratkan pelukannya pada Michelle yang nampak sibuk dengan ponsel milik Dewa.


‘Andrew bilang si Naomy punya jurus baru. Si Ayank udah dibagi belum ya?..’


“Boo – Boo!.”


“Apa lagi Yank?.”


“Nih si Savana o Nana kirim pesan tuh. Why won’t pick up my calls and reply my messages ( Kenapa ga mau


angkat telpon dan balas pesan aku ) katanya. Cih!.”


“Terserah kamu deh Yank, mau dijawab atau engga, mau balas pun terserah kamu mau bilang apa sama dia. Yang jelas kalau sudah selesai, simpan itu ponsel. Karena aku butuh peregangan otot.”


**


To be continue..

__ADS_1


__ADS_2