
♣YANG HARUS DISELESAIKAN♣
♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣
Selamat membaca....
♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣
Rumah sakit...
Andrea hendak dibawa Abang kembali ke brankarnya oleh Varen, setelah hati yang tadinya resah dan gusar itu
kini sudah me-lega bahagia. Varen menggeser posisinya untuk segera turun dari ranjang.
“Eh – Abang, sudah, Abang istirahat aja disini...”
Andrea menahan Varen yang meminta pouch infus yang dipegang Rery.
Namun Varen dengan cepat menggeleng.
“Abang sudah cukup beristirahat nya kok!”
Varen berkilah.
“Bohong itu Kak Drea. Abang baru tiduran setengah jam, baru pulas paling sepuluh menitan!...”
“Ck!”
Varen berdecak seraya mendelik pada Rery.
“Sok you know ah!” Kilah si Abang lagi.
“Memang iya”
“Sudah sini berikan itu pouch infusan padaku”
“Aba – ng, Drea mau, Abang teruskan istirahat ...”
“Little Star, Abang sudah merasa segar kok sekarang”
“Aba – ng, Drea mohon...? ...”
“Little Star, sayang...” Varen mengelus pipi Andrea. “Abang sudah merasa cukup beristirahat, melihat kamu sudah jauh lebih baik dan tidak menolak Abang saja, itu menghilangkan penat dan lelah Abang. Dan kamu juga seharusnya jangan turun dari ranjang kamu, Little star...”
“Drea, ga tenang... Momma dan Poppa, juga Mommy Peri dan Dad R tadi sudah menjelaskan semuanya. Yang terjadi di yacht setelah Drea pingsan untuk yang kedua kalinya. Lalu Drea ingat wajah Abang, waktu Drea suruh pergi saat Abang datang tadi ... maafkan Drea, ya Abang?...”
“Engga sayang, kamu ga perlu minta maaf”
“Maaf ya Abang, Drea tahu pasti Abang sudah melalui banyak hal, tapi kepala Drea itu terasa sakit beberapa waktu lalu, semuanya berputar disini”
Andrea menunjuk kepalanya dengan wajahnya yang sendu.
“Drea ga tau, mana yang benar dan mana yang engga. Yang jelas saat kepala Drea sakit, yang Drea lihat hanya laki ...”
“Ssstt! Sudah. Jangan kamu ingat lagi. Keparat itu tidak pantas kamu ingat ...”
“Drea... takut Abang ... Drea takut, kalau Drea sudah kotor ...”
“Itu ga pernah terjadi, okay?! Abang pastikan hal seperti itu tidak akan menimpa kamu lagi”
Andrea mengangguk kala ia setengah tertunduk. Varen kembali membawa Andrea dalam dekapan.
“Sudah ya?”
Varen menciumi pucuk kepala Andrea yang kemudian mengangguk lagi.
“Kamu kembali ke ranjang kamu ya?” Bujuk Varen.
“Iya, tapi Abang tetap harus melanjutkan istirahat Abang, kalau tidak Drea akan tetap disini aja”
“Ya sudah, Abang antar Drea ke ranjang Drea, memastikan Drea kembali beristirahat, setelahnya Abang akan
melanjutkan istirahat Abang, hem?”
“Janji? ...”
“Janji” Angguk Varen.
“Sa – yang Abang ...” Ucap Andrea dan merengkuh tubuh Varen dengan manja.
Varen tersenyum dan balik merengkuh Andrea. “Sa – yang Drea ...”
“Ehem! Ehem!” Rery berdehem. “Bisa tolong ke – uwu – an – nya di akhiri?. Tangan dan kaki aku sudah pegal!”
***
“Bisa aku bicara sebentar dengan kalian, Moms, Pop, Dad?”
“Tentu” Sahut Poppa.
Varen mengajak ke empat orang tua yang dua adalah mertuanya juga untuk keluar dari ruang rawat Andrea
sejenak, dan Andrea kembali tertidur. Tak lama setelah diberikan obat oleh perawat.
***
“Apa .. kalian sudah cerita soal calon anak kami pada Little Star ...???” Tanya Varen langsung pada intinya kepada empat orang tuanya itu.
Dua pasang Dads dan Moms itu pun sama – sama menggeleng dengan kompak. “Belum”
“Kalau begitu... nanti aku saja yang akan memberitahunya ..”
Dua pasang Dads dan Moms itu kemudian saling tatap, saat Varen berbicara sambil matanya mengarah ke lantai
Rumah Sakit.
Daddy R meletakkan satu tangannya di bahu Varen. “Bang...”
Varen pun langsung menoleh padanya. “Iya Dad aku paham. Aku akan menunggu sampai Little Star jauh lebih baik dari sekarang saat mengatakannya”
“Bukan itu Bang”
Daddy R menyahut.
“Lalu?”
__ADS_1
“Kami berempat serta seluruh keluarga sudah sempat membicarakan soal ini. Soal janin dalam perut Drea yang
tidak bisa dipertahankan ..”
“.............”
“Dan kami semua sepakat, kalau menurut kami, sebaiknya Drea tidak perlu tahu soal ini ...”
Varen terdiam sejenak. Nampak sedang berpikir. Diimbuh oleh Momma yang kemudian berkata, “Tapi kembali lagi semua terserah pada Abang...”
Sejujurnya ada galau yang sedikit membelit dalam hati Varen perihal calon bayinya dan Andrea yang ia putuskan untuk diangkat demi kebaikan, baik untuk Andrea atau janin itu sendiri.
Varen melipat bibirnya sembari memandangi ke empat orang tua yang ada di hadapannya itu bergantian. Lalu ia menarik nafas dan menghembuskannya pelan. “Aku.... mungkin Little Star bisa saja membenciku jika ia tahu aku yang menyuruh Uncle Alan dan Aunt Claris untuk mengangkat calon bayi kami..”
“.............”
“Tapi ... menurutku Little Star berhak tahu tentang hal itu”
“.............”
“Meski dengan resiko, Little Star mungkin akan membenciku seumur hidupnya karena aku yang menyuruh Dokter
untuk mengambil janin dalam perutnya, bahkan sebelum ia sempat mengetahuinya...”
“.............”
“Atas pertimbangan itu kan, kalian berencana untuk menyimpan ini dari Little Star?”
Ke empat orang yang bersama Varen kompak mengangguk.
Varen menarik sudut bibirnya. “Thanks Moms, Dad, Pop .. Terima kasih sudah memikirkan sampai seperti itu”
“Kami hanya ingin kamu dan Little Star menjalani hidup dengan tenang ...”
Varen kembali menarik sudut bibirnya, memandangi satu persatu Moms dan Dads yang ada di hadapannya.
“Aku justru tidak ingin hidup terbebani dengan menyembunyikan hal ini dari Little Star ...” Ucap Varen.
“.............”
“Aku akan menyiapkan diri untuk segala konsekuensi dari Little Star nanti..”
“.............”
“Meskipun dia mungkin saja akan membenciku, aku tetap harus memberitahunya akan hal itu ...”
“.............”
“Yah, tapi nanti. Setelah kondisinya sudah jauh lebih baik” Sambung Varen lagi.
Ke empat orang tua Varen pun manggut – manggut. “Jika itu memang sudah menjadi keputusanmu, Boy” Sahut Poppa.
“Iya Pop”
“We will always support no matter what ( Kami akan selalu mendukungmu apapun itu )”
Daddy R menimpali dan Varen mengangguk seraya tersenyum pada kedua Dadsnya itu, juga pada kedua Moms yang kemudian merengkuh si Abang dari sisi kanan dan kirinya.
“Kamu pergi lanjutkan istirahat sana!...”
“Hh.. Rery itu sama keras kepalanya dengan para Dads dan Abangnya!...”
“Sementara An, macam Little Star yang dulu selalu menempel pada kamu, Bang. An akan mengekori kemana si
Donald Bebek Junior itu pergi”
“Apa itu artinya kau akan berbesan dengan Papa Lucca, Pop?” Celetuk Varen sembari terkekeh kecil. Poppa dan tiga lainnya juga ikut terkekeh kecil.
“Kita lihat saja nanti!”
***
“Kalian masuklah dulu, aku dan Andrew mau membicarakan sesuatu dengan Abang sebentar” Ucap Daddy R pada
Mommy Ara dan Momma. Keduanya langsung mengangguk dan masuk kembali kedalam ruang rawat Andrea.
Lalu Daddy R dan Poppa mengajak Varen untuk pergi ke tangga darurat Rumah Sakit yang berada di lantai ruang rawat Andrea.
Seperti biasa, dua orang ditugaskan untuk mengamankan area tersebut sebelumnya, karena pembicaraan yang
akan dilakukan cukup serius.
“Kau akan tetap tinggal disini, atau mau kembali ke Kediaman dulu?” Tanya Daddy R pada putra kandungnya itu.
“Aku akan tinggal. Aku tidak akan jauh – jauh dari Little Star ...”
Poppa dan Daddy R manggut – manggut. “Kau tidak mau membersihkan dirimu?”
“Aku bisa mandi disini. Aku juga sudah menyuruh Nathan untuk mengirim seseorang membawakan pakaian ganti
dan peralatan mandiku serta Little Star”
“Little Star belum memungkinkan untuk mandilah!” Celetuk Poppa.
“Ya, setidaknya kan tubuhnya harus dibersihkan”
“Dua Mommy mu sudah melakukannya”
“Huuummm”
“Ya sudahlah kalau begitu” Ucap Daddy R kemudian. “Jika memang kau akan stay disini, berarti kami bisa menitipkan Little Star dan dua Moms mu itu padamu sebentar”
“Kalian mau kembali ke Kediaman?”
“Tidak”
Daddy R dan Poppa kompak menyahut.
“Lalu?”
Poppa menyungging miring.
“Don’t you forget ( Kau jangan lupa )...”
Poppa melirik arloji di pergelangan tangannya.
__ADS_1
“Aku tidak pernah menyisakan satu kotoran pun, Boy”
“Dilara maksudmu, Pop?”
***
Beberapa waktu sebelumnya,...
“Tuan,”
“Ada apa, Omar?”
“Ini sepertinya, wanita itu Tuan” ( Omar menunjukkan ponsel yang berada dalam genggamannya pada Poppa yang
sedang bersama Daddy R dan Daddy Dewa )
“Sepertinya gue jadi ‘bermain’ malam ini R!”
“Angkatlah!”
“Mau anda yang berbicara, atau saya saja Tuan?”
“Biar aku saja”( Poppa menggerakkan tangannya, mengkode agar Amma menyerahkan ponsel yang hanya disetel dalam mode getar itu )
“Sepertinya kau sudah menerima pesanku, Ibu Dilara?. A.K.A Jessy Tabita.... Benar?”
“Siapa kau sebenarnya, hah?!”
“Siapapun aku, Kau! Telah mengusikku melalui dua putriku”
“Apa.... kau ayah dari gadis yang bernama Andrea, atau Kevia itu?” ( Suara dari sebrang ponsel yang menempel di telinga Poppa terdengar gusar )
“Benar sekali!”
“Berani sekali kau, hah?!”
“KAU YANG BERANI, WANITA KEPARAT!”
“Aku yakin kau tidak tahu siapa aku, dan apa yang bisa aku lakukan untuk menghancurkanmu!”
“Kau! Lebih – Tidak - Tahu Siapa Diriku, Dan Apa Yang Bisa Aku Lakukan Padamu....”
“Jadi apa maumu?!”
“KAU!”
“Heh! Permintaanmu terlalu tinggi, Pak!”
“Aku Bukan Bapakmu!”
“Lepaskan anak gadisku! Atau kau akan menyesal!”
“Silahkan, jika memang kau bisa ....” ( Tantang Poppa )
“Lepaskan anak gadis dan suamiku!”
“Datang, dan jemputlah mereka sendiri....”
“Gadis yang bernama Andrea dan Kevia bukankah sudah selamat?. Jadi kau tidak perlu menahan lagi anak gadis
dan suamiku!”
“Sudah kubilang, kau sudah mengusikku. Dan aku tak terima meskipun kedua putriku sudah selamat”
“Sebutkan berapa!”
“Hahahahaha!!..”
“.............”
“Aku- Tidak Butuh Uang Harammu”
“Kau sok sekali ya?!”
“Sangat! Jadi serahkan dirimu padaku\, atau ku penggal kepala suamimu dan kubuat putrimu menjadi p*la***r jalanan”
“Keparat Kau!!!!”
“Tik-tok-tik-tok.... waktu berjalan perempuan laknat. Apa pilihanmu?”
“Kau!.."
"Waktuku terbatas"
"Katakan! Kapan dan dimana aku bisa menemuimu? Tapi setelah itu lepaskan anak gadis dan suamiku!”
“Datanglah dulu .... Ibu Di-la-ra....”
“Katakan tempat dan waktunya!”
“Di tempatmu meraup uang dari tubuh – tubuh gadis yang tidak berdosa”
“Kapan?!”
“Di waktu yang sama setiap kali kau melakukan ‘pelelangan’”
“Kau sungguh bernyali untuk mengajakku bertemu di daerah kekuasaanku!”
“Ah, perlu kau tahu.... Nyaliku tak terbatas!”
“Kau! Akan menyesal telah menantangku!”
“Simpan ancamanmu, sampai saat nanti kita bertemu ...”
“.............”
“Termasuk, simpan dengan baik juga nyawamu, karena aku yang akan mengambilnya dari tubuhmu....”
“Kau tidak akan mampu!”
*“**See - Ya!**( Sampai jumpa! ),**B*tc*H!****”***
***
To be continue ...
__ADS_1