THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 340


__ADS_3

MENYELESAIKAN KEKACAUAN


**************************************


Selamat membaca.....


“What the difference of this door and that? ( Apa perbedaan pintu ini dan itu? )”


Papa Lucca bersuara, berdiri di depan salah satu pintu ramping dengan dua daun pintu berwarna hitam, namun


lapisannya terlihat juga cukup tebal.


Ada dua bagian tempat ber-void seperti Ballroom itu, yang satu pintunya agak ramping dan yang satu agak lebar. “This one, is entrance for a very ‘special’ guests ( Yang ini, pintu masuk untuk tamu – tamu yang sangat ‘spesial’”


Papa Lucca manggut – manggut, setelah mendengar penjelasan Kafeel barusan.


**


“Luther!” Papa Lucca memanggil salah satu orangnya.


“Yes Sir?” Pria sangar berbadan besar itu kemudian mendekat pada Papa Lucca.


“Where do you think that Iraqi could be?. This room, or there? ( Dimana menurutmu si Irak itu berada?. Ruangan ini, atau itu? )” Ucap Papa Lucca seraya bertanya pada orangnya yang bernama Luther itu sembari menunjuk pada dua pintu berbeda.


“This one of course ( Aku yakin didalam sini )”


“Okay” Sahut Papa Lucca. “Then I go in here ( Kalau begitu aku masuk ke dalam sini )”


Poppa, Daddy R dan Daddy Dewa mengangguk.


“Three of you feel free to choose! Cause I want to ‘collect a debt’ ( Kalian bertiga bebas memilih! karena aku mau ‘menagih hutang’ )”


“Take us in Ka ( Bawa kami masuk Ka )” Ucap Poppa kemudian.


***


“Let Lucca do what he want to do, we stick on the first plan ( Biarkan Lucca melakukan apa yang dia mau, kita tetap pada rencana pertama )”


“Then we clean up this side ( Maka kami akan membereskan bagian sini )”


“Lo ikut kedalam atau ikut Lucca, Wa?”


“Biar adil, gue temani Lucca!”


***


Daddy Dewa dan Papa Lucca berikut beberapa anak buah mereka yang ikut bersama dengan kedua orang dari


bagian The Hot Daddies of Adjieran Smith itu dihadapkan pada sebuah lorong dimana ada dua orang yang berjaga disana.


Dua orang yang perawakannya bak pengawal pribadi itu langsung mendekati Daddy Dewa dan Papa Lucca


bersamaan.


Dua orang itu memperhatikan benar – benar Daddy Dewa dan Papa Lucca serta orang – orangnya sebelum mereka mulai berbicara.


Raut wajah kedua orang itu dapat dikatakan seperti sedikit bingung.


“Maaf Tuan – Tuan, anda – anda ini siapa?” Tanya salah seorang dari dua laki – laki yang menjaga  lorong tersebut.


Pasalnya mereka heran, karena setahu mereka semua kamar eksklusif telah terisi semua. Enam orang yang


terdaftar sebagai pemesan ruangan khusus itu pun juga sudah datang dan berada di kamar yang sudah mereka pesan sebelumnya.


Tapi sekarang ada tamu lain lagi yang datang sementara enam ruangan yang seperti sebuah kamar itu sudah


kesemuanya terisi oleh si pemesan. Yang membuat aneh adalah, dua orang yang berdiri paling depan dihadapan dua penjaga itu bisa memasuki ruangan dengan akses sangat terbatas, bahkan dua penjaga ini harus meminta ijin terlebih dahulu untuk keluar dari sana.


“Tell me, do you guys have an Iraqi guess right now? ( Katakan padaku, kalian ada tamu seorang Irak saat ini? )” Papa Lucca yang bertanya.


“Excuse me Sir, I have to confirmed about all of you first to my Boss ‘cause every room here are occupied ( Maafkan saya Tuan, saya harus mengkonfirmasi tentang kalian terlebih dahulu pada Bos kami karena setiap ruangan disini telah terisi )”


Satu penjaga mencoba menghentikan Papa Lucca yang sudah berjalan lurus menuju bagian lorong yang terpecah tiga.


Papa Lucca menatapnya, saat salah seorang penjaga itu sudah berdiri didepannya.


“Just answer when I asked ( Jawab saja jika aku bertanya )” Papa Lucca dengan cepat sudah mencekal leher pria penjaga keamanan yang tadi berdiri dihadapannya dan memposisikan tangannya yang lain dengan siap untuk memelintir leher penjaga keamanan tersebut.


Sementara penjaga yang satunya terlihat sudah mengangkat tangan karena todongan beberapa pistol di kepala dan tubuhnya sembari salah seorang anak buah The Daddies menggeledah dan mengambil senjata api yang dimiliki oleh satu penjaga keamanan tersebut. Satu orang pribadi Papa Lucca juga sudah menggeledah dan merampas senjata dari penjaga keamanan tersebut, yang sedang dicekal Papa Lucca.


“Take me to that Iraqi ( Bawa aku ke si Irak )”


“Yes – Sir”


**


“Stupido! ( Bodoh! )” Umpat Papa Lucca setelah melepaskan satu peluru dari pistolnya pada pria yang tadi ia cekal dan kemudian disuruhnya untuk membawa Papa Lucca ke ruangan tempat orang yang sedang ia cari berada.


Namun sayangnya satu penjaga itu hendak menekan sebuah tombol di dinding dan sebelum sempat penjaga itu


menekannya, Papa Lucca sudah memuntahkan satu peluru dari pistolnya ke kepala orang tersebut.


Padahal Papa Lucca tidak berniat untuk menghabisinya jika orang itu patuh padanya.


“Hey!” Beberapa orang kemudian datang dengan mengacungkan senjata pada Papa Lucca dan orangnya yang


bernama Luther setelah mereka mendengar suara letusan senjata, tanpa mereka melihat sekelompok orang yang bersama Papa Lucca dan Luther.


“Dasar setan pembuat keributan” Daddy Dewa bergumam sembari mengokang senjatanya, dan anak buah yang


bersamanya pun sudah juga mempersiapkan senjata mereka untuk dapat langsung menembak jika diperintahkan.


Papa Lucca dan Luther diam ditempat mereka sampai empat orang kemudian mengepungnya dan Luther lalu


bertambah empat lagi.


“Sebaiknya kalian sedikit menegakkan tubuh, karena kami mulai sedikit ‘sibuk’ disini”


Daddy Dewa berbicara lagi dan sudah mengangkat senjatanya begitupun anak buah mereka.


DEZIING!


DEZIING!


DEZIING!


Suara letusan senjata juga terdengar kemudian dari senjata Daddy Dewa dan anak buahnya kala orang – orang


yang sudah mengepung Papa Lucca hendak menembaknya dan Luther.


Daddy Dewa dan anak buah yang bersamanya tidak punya pilihan selain menembaki delapan orang yang tadi


mengepung Papa Lucca dan Luther tanpa ampun. Karena jika tidak, delapan orang yang nampak terlatih itu yang kemungkinan besar akan membantai dirinya dan semua yang bersamanya.


**


Lantai dimana Daddy Dewa dan Papa Lucca berikut orang – orangnya berada kini sudah mereka kuasai dalam waktu yang tidak lama. Semua orang yang tidak mau diajak bekerjasama untuk tidak melakukan perlawanan apalagi penyerangan dihabisi tanpa diberikan kesempatan. Terlebih oleh anak buah Papa Lucca yang tak kenal ampun seperti Tuannya.


“Ada apa ini?. Kalian siapa? Aku tidak merasa ada urusan dengan kalian” Ucap salah seorang pria dalam satu kamar setelah penggeledahan dilakukan pada enam ruangan yang ada dilantai tersebut. Dua orangnya yang berjaga didepan pintu sudah dilumpuhkan, dan satu yang bersamanya kini sedang mengangkat tangan seperti Bosnya yang nampak terkejut tapi tetap terlihat tenang.


Daddy Dewa yang mengurus orang – orang yang berada dalam lima ruangan, sementara Papa Lucca menyelesaikan urusannya dengan orang yang ia cari dalam satu ruangan lainnya. “Tidak ada apa – apa. Tidak perlu tahu kami siapa. Jika kau pergi tanpa melakukan hal yang bodoh maka kami akan membiarkanmu pergi”


Daddy Dewa menjawab pertanyaan pria tersebut, yang sepertinya mau bekerjasama dan tidak melakukan gerakan yang mencurigakan. Namun Daddy Dewa tetap mengarahkan senjatanya ke orang tersebut. Meskipun anak buahnya sudah menggeledah dua pria dihadapan mereka ini dan merampas senjata yang mereka punya.


“Kalau begitu apa aku dan orangku yang masih tersisa ini boleh pergi?” Tanya pria dengan penampilan perlente tersebut. “Aku tidak tertarik untuk mengganggu urusan kalian”


Pria itu berkata lagi dengan lugas.


“Silahkan pergi jika begitu”


“Baik, terima kasih” Sahut pria berpenampilan perlente itu dengan tenangnya.


“Satu hal” Suara Daddy Dewa membuat pria perlente itu menghentikan langkahnya dan setengah berbalik, melihat pada Daddy Dewa.


“Ada apa?” Tanya pria itu dengan tenangnya.


“Aku rasa kau cukup pintar untuk menganggap apa yang kau lihat ini tidak terjadi. Dan kami akan menganggapmu tidak ada disini malam ini”

__ADS_1


Ucapan Daddy Dewa yang mengandung makna itu terlontar pada pria perlente di hadapannya yang kemudian


mengangguk.


“Sudah kubilang kalau aku tidak tertarik untuk mengganggu urusan kalian” Sahut pria perlente tersebut.


“Bagus jika memang paham. Karena kami tidak hanya akan ‘memburu’ kau seorang, tetapi juga keluargamu”


Pria perlente itu mengangguk lagi kemudian langsung melangkah pergi dari tempatnya.


Pria tersebut sepertinya tahu kalau Daddy Dewa bukan berasal dari golongan sembarangan. Meski ia tidak


mengenalnya, tapi melihat apa yang dilakukan pria yang tadi berbicara padanya serta orang – orang yang terlihat bak pasukan elit terlatih berikut senjata mereka yang sangat tidak pasaran yang bersama Daddy Dewa, pria perlente itu cukup tahu diri dan tidak mau membahayakan dirinya sendiri.


Jadi pria perlente itu memilih pergi, dan mencantumkan baik – baik dalam otaknya tentang peringatan halus yang diberikan padanya oleh Daddy Dewa tadi. Apa yang terjadi dalam tempat bernama ‘Heaven’ hari ini cukup hanya ia simpan saja sendiri, dan hal itu pun ia katakan pada satu orang yang bersamanya.


Cukup tahu saja. Karena pria perlente itu tahu, dengan ia diam tentang apa yang tadi ia alami dan banyaknya jasad yang ia lihat saat ia keluar dari ruangan yang beberapa adalah orang – orangnya, toh juga dia melindungi rahasianya sendiri.


Hal yang sama dilakukan oleh empat orang pria perlente lainnya yang dibiarkan pergi oleh Daddy Dewa, karena


mereka mau bekerjasama tanpa perlawanan dan melenggang pergi setelah Daddy Dewa memberikan peringatan yang sama seperti pada pria perlente yang pertama.


Siapapun orang yang sedang ‘mengacak – acak’ tempat bernama Heaven ini, lima pria perlente itu tidak ingin ikut campur dan mencamkan baik – baik di otak mereka tentang peringatan yang sampai pada mereka tadi.


Karena pasti, siapapun orang – orang ini, jelas sangat tidak bisa dianggap remeh karena sudah berhasil membuat kekacauan yang teramat sangat di Heaven yang mereka tahu seharusnya tempat tersebut tidak ‘tersentuh’.


Selain untuk melindungi nama baik mereka sendiri di luar sana, lima orang perlente itu tidak ingin hancur kehidupannya akibat mengabaikan peringatan dari salah seorang yang sedang mengacaukan tempat bernama Heaven tersebut padahal tempat tersebut punya backing yang sangat kuat.


Jadi jika pria  yang memberi peringatan pada mereka beserta orang – orangnya tadi dapat membuat kekacauan yang sepertinya kehancuran dari tempat yang bernama ‘Heaven’ tersebut, jelas mereka lebih kuat dari backing


yang tempat bernama Heaven itu punya. Bodoh sekali rasanya jika mau cari gara – gara.


**


Sementara itu di tempat Papa Lucca punya urusan ...


Brak!


Luther mendobrak pintu dengan keras menggunakan kakinya.


Dimana Papa Lucca sudah siap dengan senjata di tangannya yang sudah terarah tegak lurus dengan raut wajahnya yang dingin.


BANG!


BANG!


BANG!


Tiga peluru dimuntahkan Papa Lucca dari pistolnya.


Dan ia langsung menyungging miring saat sudah berada di dalam satu ruangan dimana orang yang ia cari ada


disana dengan pakaian yang sedikit berantakan dan seorang wanita yang tak memakai pakaian yang tidak utuh berjongkok dan menangis sambil duduk bersedekap.


Papa Lucca menyeringai sembari menatap pria Irak yang kini sudah berdiri menempel pada dinding dibelakangnya dan mengangkat tangan dengan wajah yang sangat terkejut saat melihat orang yang kini ada dihadapannya.


Luther memerintahkan wanita yang rasanya adalah seorang wanita penghibur yang sedang ketakutan itu untuk


pergi keluar dari ruangan. Dan wanita itu pun dengan segera berdiri dan berlari tanpa menghiraukan untuk memungut pakaiannya yang berserakan di lantai.


“Luc-Lucca ..”


“HEH!”


Papa Lucca mendengus dan memandang sinis pada pria Irak tersebut.


“You totally wasting my time to find you.. ( Kau benar – benar membuang waktuku untuk menemukanmu )..”


“Look..”


BANGG!


Satu peluru dimuntahkan oleh Papa Lucca ke bahu kanan orang yang ada dihadapannya itu hingga laki – laki


tersebut memekik kesakitan dan langsung terjatuh dan bertumpu pada kedua lututnya.


Luther hingga laki – laki Irak tersebut mendongak agar wajahnya mengarah ke Papa Lucca.


Wajah tampan nan bengis Papa Lucca dengan mata yang menyorot tajam kini sudah berada dekat sekali dengan


pria tersebut yang wajahnya sudah tegang ketakutan saat melihat Papa Lucca sudah mengangkat sebuah pisau yang sudah dipastikan sangat tajam dan tangan satunya sudah menempelkan pistol ke bawah dagu pria Irak tersebut.


“How dare you stolen from me ( Beraninya kau mencuri dariku )” Ucap Papa Lucca sembari mengusapkan pisau di


tangannya ke pipi pria Irak tersebut.


Suara pekikan pria Irak tersebut terdengar lagi, saat pisau yang di usapkan ke pipinya itu digoreskan cukup dalam.


“A f*ck*n thief.. ( Pencuri sialan )..”


“Look – I will return everything .. I – I don’t mean.. ( Begini – aku akan mengembalikan semuanya.. aku – aku tidak bermaksud.. )”


Pria Irak yang fasih berbahasa Inggris dan nampak sangat ketakutan itu tergagap.


Namun sejenak kemudian ..


“Aarrggghhh!!!!!” Suara pekikan pria Irak kian melengking saat pisau Papa Lucca ditusukkan ke bagian atas dadanya dengan cukup dalam.


“I never forgive everyone who don’t know how to thank me plus, dare stolen from me ! ( Aku tidak pernah mengampuni orang yang tidak tahu berterima kasih padaku ditambah, berani mencuri dariku! )”


“Please .. ( Tolong.. )” Pria Irak itu berbicara lagi. ““Aarrggghhh!!!!!” Dan memekik lagi karena Papa Lucca memutar pisau yang sudah tertancap di dada pria Irak tersebut secara perlahan sembari juga menyeringai.


“Please what? ( Tolong apa? )”


Papa Lucca masih menyeringai dan tangannya masih memutar perlahan pisau yang masih ia tancapkan ke dada pria Irak tersebut.


“Please .. don’t kill me .. ( Tolong .. jangan bunuh aku ) ..” Pria Irak itu memohon dengan lirihan. “Have a mercy .. I’ll give back everything that I took from you.. ( Berbelas kasihan lah.. akan ku kembalikan semua yang pernah kuambil darimu .. )”


Pria Irak itu terus memohon dan Ia meringis kesakitan saat Papa Lucca mencabut pisau yang tertancap di


dadanya secara perlahan. “A mercy, huh? ( Pengampunan, huh? )”


Papa Lucca meninggikan seringainya.


“I Don’t Know Who is ‘Mercy’! ( Aku tidak kenal siapa itu ‘Ampunan’! )”


Papa Lucca bicara dengan penuh penekanan seiring pekikan yang keluar lagi dari mulut laki – laki Irak tersebut kala Papa Lucca menancapkan pisaunya di salah satu paha laki – laki tersebut dengan sangat kuat.


“AARRGHHH!!!” Kini teriakan laki – laki Irak tersebut menggantikan pekikan nya kala ibu jari Papa Lucca menekan luka tusukan dari pisaunya di dada laki – laki Irak tersebut hingga ibu jari Papa Lucca bisa merasakan tulang selangka si pria Irak tersebut dan menekannya hingga terdengar bunyi patahan.


Tak ayal suara teriakan yang memilukan menggema dalam kamar tersebut selain darah yang langsung keluar


dengan deras dari dada si pria Irak tersebut lalu Papa Lucca menjauhkan tangannya dari sana.


“Haven’t finish yet? ( Belum selesai juga? )”


Daddy Dewa sudah berdiri setengah menyandar sembari menyalakan sebatang rokok di pintu ruangan tempat


Papa Lucca berada.


“Not yet ( Belum )”


“AARGHH!!!!”


“Now I’m done ( Sekarang sudah )” Ucap Papa Lucca yang sudah berbalik sembari menyeka tangannya yang


berlumuran darah dengan sapu tangan yang diberikan Luther pada Papa Lucca.


Setelah pisau milik Papa Lucca di tekan lebih dalam pada paha laki – laki Irak tersebut oleh si Papa Syaiton, dan Papa Lucca menggeser pisau tersebut yang masih tertancap dalam di paha si pria Irak hingga membentuk sayatan panjang dan dalam bersamaan dengan cairan kental berwarna merah keluar begitu derasnya dari sana.


“Seems that he’s still alive ( Sepertinya dia masih hidup )”


“Just for few minutes ( Hanya untuk beberapa menit )” Ucap Papa Lucca yang kemudian berjalan melewati Daddy Dewa. "He will feel the horrible dying before ( Dia akan sekarat dengan cara yang begitu menyiksa sebelumnya )"


Daddy Dewa menyungging miring sembari menatap pria Irak yang kondisinya terlihat menyedihkan juga


mengerikan walaupun tak banyak luka ditubuhnya. Namun luka yang dibuat Papa Lucca cukup membuat seseorang dapat kehilangan nyawa karena kehabisan darah dalam waktu yang cepat.

__ADS_1


“I don’t like to give an easy death to them who betray me ( Aku tidak suka memberikan kematian yang mudah pada mereka yang mengkhianatiku )” Ucap Papa Lucca sambil berlalu diikuti dengan Daddy Dewa dan Luther.


***


DEZIING!!!!....


Suara desingan senjata masih terdengar kala pintu pembatas ruang sangat eksklusif tempat bernama ‘Heaven’ itu


dibukakan oleh anak buah Papa Lucca dan Daddy Dewa.


Namun tak lama hening sudah tak ada lain suara desingan dan letusan senjata kala Papa Lucca dan Daddy Dewa


sampai disebuah reling panjang yang menyerupai reling balkon.


Anak buah mereka yang berjejer diatas dengan senapan serbu pun sudah tak lagi dalam posisi siap menembak dan beberapa mulai turun ke lantai bawah, beberapa nampak masih berjejer menyisir dengan pandangan mereka dan beberapa masuk kembali ke bagian dalam ruangan yang sangat eksklusif tempat Papa Lucca dan Daddy Dewa berada tadi.


“What a long life two Drakes!... ( Dua Naga yang panjang umur memang! )” Ucap Papa Lucca saat melihat Poppa dan Daddy R berdiri dengan tegaknya sembari mengedarkan pandangan dan masih memegang senjata api di tangan mereka.


Poppa dan Daddy R nampak sama – sama berdecih.


“Too  bad that we missed ‘The Party’ down there .. ( Sayang sekali kita melewatkan ‘Pesta’ di bawah sana ) ..” Ucap Daddy Dewa saat dia dan Papa Lucca bersandar di reling tersebut menatap ke lantai di bawah mereka.


Dimana banyak tubuh yang sepertinya sudah tak bernyawa, bergelimpangan di lantai dan bersimbah darah.


“Seems nothing left ( Sepertinya tidak ada yang tersisa )”


“What a perfect! ( Sungguh sempurna! )” Seru Poppa sembari berbalik dan menatap ke lantai atas dimana selain para penembak jitu yang merupakan orang – orangnya ada disana bersama Daddy Dewa dan juga Papa Lucca.


Namun, sepersekian detik kemudian ...


BANG!


Suara letusan senjata api terdengar, berikut dengan peluru yang keluar dari senjata tersebut dan mengarah pada


Poppa.


“Now nothing’s left ( Sekarang sudah tidak ada yang tersisa )” Ucap Papa Lucca.


“*ARE YOU FUC*N CRAZY??!! ( APA KAU SUDAH GILA??!! )”


Ah itu Poppa yang mengomel sembari memukul - mukul pelan kepalanya dengan melotot tajam pada Papa Lucca,


yang meloloskan peluru tepat di atas kepala licinnya hingga membuat satu orang yang tadi hendak menembak Poppa dari belakang ambruk sebelum sempat meletuskan senjata api di tangannya.


“I JUST SAVE YOUR SLIPPERY HEAD DONALD DUCK! ( AKU BARU SAJA MENYELAMATKAN KEPALA LICINMU ITU DONALD BEBEK! )”  Sahut Papa Lucca sembari cengengesan melihat Poppa yang masih melotot padanya dari lantai bawah.


“STUPIDO DIO! ( SETAN DUNGU! ) YOU ALMOST MAKE A SCRATCH ON MY SACRED HEAD! ( KAU HAMPIR MENGGORES KEPALAKU YANG KERAMAT INI! )”


Poppa terus saja mengomel pada Papa Lucca yang nampak masa bodoh dan mulai berjalan turun dari lantai atas bersama Daddy Dewa yang cekikikan.


Daddy R juga ikut terkekeh saja melihat si Poppa yang mengomel ria pada pada Papa Lucca.


**


“You welcome ( Sama – sama )”


Papa Lucca berkomentar didepan Poppa setelah ia dan Daddy Dewa sudah menghampiri Poppa dan Daddy R


dilantai bawah termasuk juga Kafeel dan Omar yang masih mencekal Dilara.


“Hish! This is my Little F fave beside my down head, you know?! ( Ini kesayangannya Little F selain kepala bawah gue, tahu?! )” Poppa masih saja mengomel sembari menunjuk – nunjuk kepalanya pada Papa Lucca yang nampak malas – malasan menanggapi omelan Poppa padanya.


“Si Donald Bebek tua ini kalau sudah mengomel, mengalahkan ibu – ibu komplek. Haisshh” Celetuk Daddy Dewa


sembari geleng – geleng.


Sementara Daddy R cengengesan saja.


Namun disaat Poppa masih mengomel ..


“TELLAAAA!!...” Tiba – tiba terdengar Dilara berteriak dengan histeris dengan air matanya yang berderai, sembari


menatap panggung.


Membuat empat hot daddies yang sedang berdiri berdekatan berikut orang – orang mereka melihat Dilara dan


mengikuti kemana arah mata Dilara tertuju, serta tangan Dilara yang seolah ingin menggapai sesuatu di depannya.


“Biarkan dia” Poppa menyuruh Omar untuk melepaskan Dilara dari cekalan orang kepercayaannya itu.


“TELLAAAA!!...”


Dilara langsung melesat menuju panggung dimana anak gadis semata wayangnya itu berada, namun pemandangan yang didapati oleh Poppa, Daddy R, Daddy Dewa dan Papa Lucca nampak begitu miris.


Empat hot Daddies itu kini memandangi Dilara yang sedang meraung sembari memeluk anak gadisnya yang sudah


tergeletak bersimbah darah.


“Price that old hooker must pay.. ( Harga yang harus pe**cur tua itu bayar )..”


“Well, seems that we don’t have to bother ourselves to punish her. Losing her only beloved daughter in that way will be a regret in her life forever ( Yah, sepertinya kita tidak perlu repot untuk menghukumnya. Kehilangan satu – satunya anak gadis kesayangan dalam cara yang seperti itu akan menjadi penyesalan seumur hidupnya )”


“KALIAN SEMUA PEMBUNUHHH!! .. TEL – LAAAAA!!!! ..” Dilara histeris bak orang tidak waras. Sekejap dia nampak geram, namun sekejap kemudian dia meraung dan menangisi lagi putrinya yang kemungkinan besar tidak sempat menghindar atau berlindung hingga tewas karena terkena beberapa tembakan di tubuhnya itu.


Lalu Dilara nampak mengajak bicara jasad anak gadisnya dan kemudian ia tersenyum sendiri sembari merapihkan


rambut dan mengusap – usap wajah anak gadisnya yang bernama Stella dan sudah tewas dengan kondisi yang memprihatinkan itu.


“I think it’s worthed ( Aku pikir itu sepadan )” Ucap Daddy R.


Daddy Dewa, Poppa dan Papa Lucca manggut – manggut sembari memperhatikan Dilara yang sepertinya akan


menjadi tidak waras tak lama lagi, karena wanita itu masih nampak seperti mengajak ngobrol jasad putrinya, lalu tersenyum dan tertawa bak orang yang sedang bercerita lalu menangis dan meraung lagi sembari memeluk jasad putrinya itu. Empat Hot Daddies itu kemudian saling tatap, karena mereka nampak sepemikiran saat ini.


“Biar aku yang mengurusnya Om”


Kafeel bersuara, sembari memandangi empat orang pria yang merupakan teman almarhum sang ayah.


“Omar dan Luther akan membantumu” Ucap Poppa sembari merangkul dan meremas pelan pundak Kafeel.


“Iya Om” Sahut Kafeel seraya tersenyum pada Poppa dan tiga lainnya. “Terima kasih”


Poppa tersenyum dan Daddy R kemudian gantian menepuk – nepuk pundak Kafeel.


“Keluarga kami akan menyambutmu dengan tangan lebar Ka” Ucap Daddy R. “Beristirahatlah setelah ini, pulang lalu temui ibu dan adikmu. Dan datanglah ke Kediaman kami setelahnya”


Kafeel mengangguk dengan tersenyum. “Iya Om ..” Ucap Kafeel lalu Daddy R memeluknya, begitupun Poppa.


Kafeel menyambut pelukan hangat itu tanpa sungkan, sementara Daddy Dewa dan Papa Lucca menepuk – nepuk pelan pundak dan punggung Kafeel.


“Kita pulang sekarang?” Celetuk Daddy Dewa.


Daddy R, Papa Lucca dan Poppa langsung mengangguk bersamaan.


**


‘You just need to keep your distance as much as you can if you don’t like us. And if you dare to disturb us, you’ll see ..... would you be a dead body? Or live in a horrible life , ‘untill you’ll die by yourself’


‘( Kau hanya perlu menjaga jarak mu sejauh mungkin jika kau tidak menyukai kami. Dan jika kau sampai berani mengganggu kami, kau akan lihat .. apakah kau berakhir menjadi sebuah jasad? Atau kau menjalani hidup yang mengerikan, sampai kau mati dengan sendirinya )’


----- Men of Adjieran Smith ----


***


To be continue...                                   


Mayan dah ini tiga ribuan lebih kata. Semoga syuka


💖Support kalian begitu berarti💖


Jadi Like, Komen, apalagi Hadiah en Vote syangat – syangat membuat emak bahagia.


Makasih sayang – sayangnya emak semua....


Salam sayang


Emaknya Queen

__ADS_1


__ADS_2