THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 8


__ADS_3

AKU DIMATAMU# Part 3


💗💗💗💗💗


Happy reading...


“Loh, kok udah balik lo?.” Tanya Jeff yang sedikit heran, sambil melirik jam tangannya. Karena pria itu sudah kembali ke kamar hotel tempat mereka menginap, padahal katanya itu sibule koplak mau nongkrong bareng Bryan dan Arman.


“Terus lo udah balik?. Kenapa ga nyusul?.”


“Baru sampai gue juga. Cape. Besok kan mau ajak Nathan jalan – jalan lagi.” Sahut Jeff.


“Gimana Nathan, sehat?.”


“Sehat. Makin aktif dia.”


“Ibunya?.”


“Sehaatt...” Sahut Jeff malas dan John terkekeh.


“Hati lo yang ga sehat ya?. Berdebar – debar pasti.” Celetuk John.


“Ga usah sok mengatai gue!. Kayak hati lo sehat aja mikirin si Prita.”


“Gue ketemu dia.”


“Hah?. Lo ketemu si Prita maksudnya?.” Jeff terkejut mendengar ucapan John.


“Biasa aja ekspresi lo!.” Sahut John.


“Tell me ( Ceritain ke gue ).”


“Gue ketemu dia memang di Kafe tempat gue janjian sama anak – anak. Tapi gue ga sempat bicara sama dia. Keburu kabur itu anak.” John kemudian mendengus.


“Hahahahaha.”


“Ketawa lo!.” John melirik sebal pada Jeff yang tergelak.


“Sudah gue duga. Nah lo bisa ketemu dia, lagi manggung disitu si Prita?.”


“Kayaknya. Tapi pas gue datang, musiknya lagi break.”


“Nah bisa ketemu dia?.” Tanya Jeff antusias.


“Si Bryan yang melihat dia awalnya. Gue langsung noleh pas dia noleh.” Jawab John.


“Terus?.”


“Ya terus dia kabur!. Gue kejar dia udah keburu pergi pakai motornya.”


Jeff tergelak lagi. “Kok tuh anak belum info ke gue kalo dia ketemu lo?.”


“Sibuk kabur!” Sahut John sebal. “Sampai sekarang gue benar – benar ga paham kenapa Prita menjauhi gue, menghindari gue sampai seperti ini. Gila! dia benar – benar musuhin gue, Jeff!.”


“Ya kan udah dibilang dia sakit hati waktu lo bentak – bentak dia dulu.”


“Gue membentak dia juga ga sampai parah – parah amat, Jeff.”


“Judulnya lo membentak dia. Bahkan orang tuanya aja sama si Kajol ga pernah membentak dia seperti yang lo lakukan. Ditambah lo bangga – banggain si Aila dulu, nah dengar si Prita mengkritik mantan lo itu lo keliatan banget ga terimanya. Seolah lo nunjukin kalau si Prita salah banget. Lo bahkan kasih peringatan ke dia. Inget ga lo?!.”


Jeff berkata panjang lebar. John menghela nafasnya. “Iya gue ingat.”


“Nah, si Prita sakit hati lah sama lo!.” Celetuk Jeff. “Lo tau apa yang dia bilang sama Andrew depan gue dan R?.”


“Apa?.”


“Prita minta tolong. Prita ga mau lagi ada urusan apapun sama orang yang namanya John Smith!.” Ucap Jeff yang mengulang kalimat Prita. “Jadi tolong jauhkan dia dari Prita sejauh – jauhnya.”


“Dia sampai bilang begitu, Jeff?.” John seakan tak percaya.


“Yap.” Sahut Jeff sambil manggut - manggut.


“Segitunya ya dia tersinggung sama gue?.” John menunduk lesu. “Dia bahkan ga mau kasih gue kesempatan untuk


minta maaf.” Ucap John nampak putus asa. “Dia bahkan buru – buru pergi dari tempat tinggalnya disini.”


“Apa?!. Lo udah tahu tempat tinggal si Prita disini?!.” Tanya Jeff dengan terkejut. “Gerak cepat juga lo!.”


“Tetap aja percuma. Prita udah keburu pergi dari sana.”


“Tau darimana?.” Tanya Jeff.


“Gue datangi unit apartemennya. Kebetulan satu gedung sama si Ical. Gue sambangi dia sudah ga ada. Sampai gue cek ke dalamnya juga. Kebetulan temannya yang tinggal bareng dia pas dateng. Jadi gue minta masuk.”


“Si Amel?.” Tanya Jeff lagi.


“Entah. Gue ga tanya namanya. “Masa bodoh!. Gue Cuma mau ketemu aja sama si Priwitan.”


John menghela nafasnya lagi.


“Gila ya, lo bahkan tahu nama temannya si Prita yang tinggal bareng dia.” John geleng – geleng memandang Jeff. Dan laki – laki itu tergelak lagi.


“kan gue udah bilang, si Prita itu adik gue. Jadi dia dalam pengawasan gue lah!.”


“Emang sialan lo Jeff!.”


“Udah pasrah aja pasrah.”


John memijat pelan pelipisnya. Laki – laki itu sedang berpikir keras. ‘Putar otak lo John.’

__ADS_1


John sedang menerka – nerka keberadaan Prita. ‘Kalau dia meninggalkan Bandung... ah, gue tahu dia kemana!.’


***


‘Cinta....’


Jeff melirik wanita yang sedang duduk disampingnya.


‘Heh, I guess it’s too soon ( Gue rasa itu terlalu cepat ).’ Batin Jeff berpendapat pada Jihan yang sedang memangku Nathan, di kursi penumpang sampingnya. “Ji.” Panggil Jeff pada Jihan dan wanita itu pun menoleh padanya.


Jeff sudah terbiasa dengan keberadaan Jihan setiap kali ia mengunjungi Nathan. Dan setiap kali dia mengajak Nathan pergi jalan – jalan seperti hari ini. Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang kembali ke rumah Jihan.


“Ya?.” Sahut Jihan dan wanita itu sedikit tersenyum pada Jeff.


‘Beautiful ( Cantik ). Damned! ( Sial! ).’ Batin memuji sekaligus mengumpat saat Jihan menoleh padanya dengan sedikit tersenyum.


Jihan nampak menunggu Jeff berbicara. “Ada apa?.” Tanyanya karna Jeff tak bersuara.


“Hah?.”


Jeff sedikit salah tingkah, karena baru saja dia melamun. Ia kembali fokus ke jalanan di depannya.


“Tadi kamu panggil saya?.” Ucap Jihan.


“Oh itu. Kamu.... sama pacar kamu itu sudah lama berhubungannya?.” Tanya Jeff. ‘Haish, ngapain gue tanya soal


itu?.’ Jeff membatin.


“Apa saya boleh memilih untuk tidak menjawab?.” Sahut Jihan.


“Ya terserah kamu. Saya hanya bertanya.”


“Saya rasa urusan kita hanya pada Nathan. Selebihnya soal pribadi jangan saling mencampuri, bukan begitu?.”


“Yah, kamu benar.” Jeff berlagak masa bodoh. ‘Sialan.’ Lagi – lagi ia mengumpat dalam hati.


Sejenak mereka berdua terdiam. Sementara Nathan pulas dipangkuan Jihan karena lelah bermain.


“Lusa saya ke kembali ke London. Mungkin sekitar tiga minggu atah bahkan lebih saya  berada disana.” Ucap Jeff yang masih membahasakan dirinya dengan sebutan ‘saya’ pada Jihan.


“Oke.” Sahut Jihan singkat,


‘Oke?.’ Jeff membatin. ‘Hanya oke?.’ Ia kesal sendiri. “Kamu jangan macam – macam selama saya berada di London.” Ucap Jeff.


“Maksudnya macam – macam?.”


“Yah mencoba mencari masalah dengan saya soal Nathan.”


“Maksud kamu membawa Nathan pergi jauh dari kamu, begitu?.” Ucap Jihan seraya bertanya.


“Iya.” Sahut Jeff.


‘Makin cantik kalau tertawa dia.’


“Dan kamu pikir aku, eh – saya ..”


“Aku saja.”


“Hah?.” Jihan nampak sedikit bingung.


“Pakai aku aja, jangan saya. Pakai kata ‘aku’ membahasakan diri kamu ke saya. Lebih enak didengar.” Ucap Jeff.


“I, iya ...” Jihan nampak ragu – ragu menjawab.


“Kamu kenapa sih kayaknya takut sama saya?.” Tanya Jeff tanpa menoleh, fokus ke jalanan.


“Ya habis Daddynya Nathan nyeremin. Suka mengancam.”


Jeff menoleh sambil menaikkan satu alisnya. Jihan nampaknya sadar kalau ia kelepasan bicara.


“Eh – itu.. aku.. maksud aku..”


“Jadi menurut kamu aku menyeramkan gitu?.” Tanya Jeff setengah menggoda. Sikap kikuk Jihan nampaknya kini menjadi hiburan tersendiri untuk Jeff.


“Ya engga.” Sahut Jihan cepat.


“Lalu?.” Sambar Jeff.


“Ya.... kamu... tampan ....”


“Oh ya?.” Jeff tersenyum sambil menoleh pada Jihan yang barusan memujinya.


“Ya .. masih lebih tampan Nathan sih...” Jihan nampak salah tingkah dan Jeff menyunggingkan salah satu sudut bibirnya.


‘Menggemaskan.’


Jeff memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah Jihan.


“Berhubung, sudah sampai. Terima kasih ya Jeff, untuk hari ini.” Ucap Jihan sembari tersenyum.


“Aku yang harusnya berterima kasih.” Sahut Jeff.


Jihan menoleh pada Jeff.


“Ga keberatan kan, kalau aku ga lagi menggunakan kata ‘saya’ kalau mengobrol dengan kamu?.” Ucap Jeff yang


sadar kalau Jihan pasti sedikit aneh mendengarnya membahasakan ‘aku’ pada wanita itu. Jihan mengangguk sambil tersenyum.


“Tunggu Ji.” Jeff menahan lengan Jihan yang hendak membuka pintu mobil.

__ADS_1


“Kenapa?.” Tanya Jihan.


“Kamu tunggu, biar aku yang gendong Nathan ke dalam rumah.”


Jeff menyegerakan membuka pintu mobil disampingnya dan berjalan cepat menuju sisi pintu tempat Jihan duduk memangku Nathan. Jeff langsung mengambil Nathan yang masih terlelap perlahan dari pangkuan Jihan.


“Thanks ya.” Ucap Jihan.


“Ji.” Panggil Jeff.


“Ya?.”


“Jadi menurut kamu aku tampan?.” Jeff iseng menggoda Jihan sambil berjalan ke arah pintu rumah.


“Mm.. memang begitu kenyataannya.”


“Terus?.”


“Terus apa, maksudnya?.”


“Apa aku cukup tampan untuk tak hanya jadi Daddynya Nathan, tapi untuk Mommynya juga?.”


 Pepet terus Bang Jeeff....


********


Bekasi, Jawa – Barat


John kembali lebih dahulu dari Bandung semalam.


“Benar – benar, gue ga percaya dengan apa yang gue lakukan ini. Demi maaf si Priwitan. Sialan!.”


John menggumam sendiri kala sudah memarkirkan mobilnya dihalaman rumah Keluarga Cemara.


“Prita, kamu udah ga bisa kabur lagi sekarang.”


John keluar dari mobil dan langsung melangkah menuju pintu masuk yang sudah dibukakan oleh salah satu asisten rumah tangga Keluarga Cemara.


“Assalamu’alaikum Bi.”


Sapa John pada irt Keluarga Cemara yang membukakan pintu dan berdiri menyambutnya.


“Wa’alaikumsalam Tuan John.” Jawab si Bibi dengan tersenyum ramah.


“Papa sama Mama mana Bi?. Sepi perasaan?.”


“Bapak sama Ibu lagi ke Bogor dari tadi pagi Tuan. Ada sodaranya yang nikahan.”


“Ke Bogor?.”


“Iya.”


“Prita ikut juga?.” Tanya John lagi.


“Non Prita?.” Bibi mengernyitkan dahinya.


“Iya. Dia udah kembali dari Bandung kan semalam?.”


“Belum, Tuan.”


“Kalo Bibi disuruh bohong sama dia, jangan diikutin.” John sedikit kesal. “Dia ada di kamarnya, kan?.”


“Eh, engga ada Tuan.”


Wanita paruh baya itu mengikuti John yang sedang melangkah menuju kamar Prita.


“Bener deh Tuan John, bibi ga boong. Non Prita ga ada disini.” Si Bibi pun nampak jujur.


John menghiraukannya. Ia menghentikan langkah saat sudah berada di depan pintu kamar Prita.


“Prita!.”


“Tuan...”


Bibi coba berbicara pada John yang sedang mengetuk pintu kamar Prita dan memanggil gadis itu.


'Ga percaya banget' Batin si Bibi.


Namun John tak menggubrisnya.


Bibi pun membuka pintu kamar Prita yang tak terkunci itu. “Tuan John sih ga percaya amat sama Bibi. Tuh liat sendiri emang Non Prita ga ada disini, Tuan.”


“Prita?.”


John masih penasaran, meski kamar Prita memang kosong dan rapih. Terlihat memang tidak ada tanda – tanda aktifitas.


John mengecek kamar mandi. Kosong juga.


“Ga percaya amat sama Bibi. Orang ga ada non Pritanya. Belum pulang kesini, Tuan. Tapi tadi pagi Non Prita telfon emang. Titip pesen buat Tuan John.”


John langsung antusias mendengarnya.


“Terus dia bilang apa, Bi?.” John meraih kedua lengan wanita paruh baya yang sempat kaget karena John memegangnya.


“Anu Tuan John, Non Prita bilang. Tuan John jangan cari – cari dia lagi....”


**


To be continue.....

__ADS_1


__ADS_2