THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 325


__ADS_3

LUBANG HITAM


Selamat membaca ..


***********************


Rumah Sakit ..


“Ada berita yang ingin kusampaikan. Sekaligus aku membutuhkan satu keputusan”


“Jangan membuat kami khawatir, Alan”


“Aku tidak bermaksud tapi .... kalian perlu melihat ini”


Dokter berkharisma itu menyodorkan sebuah amplop berlogo Rumah Sakit yang langsung diterima oleh Daddy R.


“Benarkah ini???”


Momma Ara bertanya sembari menutup mulutnya saat melihat apa yang tertulis pada suatu berkas dalam map yang barusan diberikan Dokter Alan. Pertanyaan Mommy Ara mewakili Momma, Poppa dan Daddy R yang nampak tersenyum dengan mata yang berkaca – kaca.


“Seperti yang kalian lihat. Itu benar, Andrea sedang mengandung saat ini. Usia kehamilannya sudah mencapai kurang lebih empat minggu”


Dua pasang orang tua itu berbinar haru dan bahagia.


”Maaf stafku sedikit ceroboh karena berkas pemeriksaan yang seharusnya keluar bersama laporan visum ini


terselip olehnya. Jadi aku pun baru saja tahu beberapa saat lalu”


“Tapi tunggu dulu. Kau memberitahukan ini pada kami.... apa Drea keguguran?”


Dokter Alan menggeleng. “Calon cucu kalian masih ada di dalam kandungan Andrea”


“Ada masalah bukan?”


Poppa langsung saja menebak, karena membaca raut wajah Dokter Alan.


Dokter Alan kini mengangguk dan anggukan itu membuat binar bahagia yang tadi ada di wajah dua pasang orang tua itu menghilang.


“Katakan”


“Sebenarnya kandungan Andrea cukup sehat, cukup kuat, karena masih bertahan setelah apa yang terjadi padanya”


“Lalu masalahnya?” Tanya Daddy R.


“Bayi itu kemungkinan besar tidak normal”


Dua pasang orang tua yang bersama dengan Dokter Alan sontak terkejut dengan perkataan sang Dokter.


“Ap – a, apa maksudnya tidak normal?”


“Resiko cacat lahir”


Daddy R, Mommy Ara, Momma dan Poppa mencelos hatinya.


Mommy Ara dan Momma sudah berkaca – kaca sembari menutup mulut mereka.


“Maaf, tapi.... aku tetap harus mengatakan ini. Obat bius yang masuk kedalam tubuh Andrea, sangat tidak wajar baik jumlah dan jenisnya yang bahkan lebih dari dua macam. Jadi mohon maaf harus kukatakan itu berpengaruh pada kondisi janinnya”


“Lalu soal keputusan yang ingin kau tanyakan pada putra kami?” Tanya Poppa.


“Apa dia mau mengeluarkan janin di perut Andrea, atau mempertahankan dengan segala resiko yang bisa terjadi baik pada janin atau ibunya” Jawab Dokter Alan pasti. “Kelainan pada janin Andrea rasanya sudah bisa dipastikan, meskipun kelainan seperti apa nantinya tidak dapat diketahui saat ini. Apakah cacat fisik atau gangguan fungsi organ”


“......”


“Dan untuk ibunya sendiri, memiliki resiko tersendiri, apabila mempertahankan kondisi janin yang seperti ini. Yang jelas cukup tinggi. Jika bertanya tentang saranku, akan lebih baik diangkat saja. Tapi kembali lagi aku serahkan keputusan pada kalian”


“Ya Tu – han...”


“Seharusnya aku berbicara dengan Alvarend dan Andrea, tetapi karena kondisi Andrea tidak memungkinkan, aku tadinya akan menyampaikan pada Alva. Namun berhubung dia tidak ada dan kalian kan orang tua Alva dan Andrea”


Mommy Ara dan Momma tak dapat menahan air mata mereka.


“Ada baiknya aku cepat mendapatkan jawaban tentang keputusan kalian”


Dokter Alan memandangi satu – satu empat orang didepannya dengan perasaan prihatin.


“Apa tidak ada pengobatan untuk menghilangkan resiko cacat lahir seperti yang kau bilang Alan?”


“Sayangnya belum ada” Jawab Dokter Alan dengan berat.


Daddy R dan Poppa nampak sedang berpikir. “Sebaiknya kau yang berbicara langsung pada Alvarend, Alan”


“Baiklah”


***


Sarang Anaconda ....


“Siapa setelah ini?”


“Orang yang diurus Tuan Andrew Tuan”


“Dimana dia?”


“Playground, Tuan”


‘Playground?’ Rendy membatin. ‘Tempat apa lagi itu Ya Tuhan .... Bukan taman bermain beneran pasti. Yakin gue sih!’


“Keluarganya juga?”


“Keluarganya sudah diamankan oleh Tuan Andrew, namun Tuan Andrew memerintahkan untuk menempatkan mereka di luar Playground”


“Kita ke Playground”


“Baik Tuan”


Ammar hanya bisa menuruti keinginan sang Tuan.


Varen sudah hendak pergi, namun rematan pelan di pundaknya membuat Varen tidak langsung berjalan menuju mobil.


“Kamu perlu mengisi perutmu dulu, Alva”


Uncle Lingga berujar.


“Istriku hanya memperoleh asupan dari selang, Uncle. Bagaimana aku bisa makan sekarang?”


Uncle Lingga memahami perasaan Varen atas apa yang dikatakannya barusan. Namun sebagai salah satu kerabat dekat Varen dan para Dad nya, Uncle Lingga sudah menganggap Varen bak putranya sendiri.


Dan meskipun jarang sekali bertemu, namun Varen dan Uncle Lingga cukup terbilang dekat dan intens berkomunikasi meski lewat telepon.


“Aku tahu kamu begitu mengkhawatirkan Andrea, Alva. Daftarmu kan masih panjang, setidaknya kau hangatkan dulu perutmu dengan secangkir teh hangat” Ucap Uncle Lingga.


“Uncle Lingga bener Bang. Paling engga lo hangatkan dulu itu perut lo” Timpal Nathan.

__ADS_1


“Ayolah. Aku punya persediaan makanan dan minuman yang lebih dari cukup disini. Tidak akan membutuhkan waktu lama untuk menyuguhkan”


“Mendingan lo ikuti saran Uncle Lingga, kalau energi lo banyak terbuang tanpa ada asupan ke tubuh lo, yang ada lo juga ikutan makan dari selang kek Andrea. Mau lo?”


Varen menimbang – nimbang. “Baiklah”


Namun pada akhirnya Varen mengiyakan, meski sedikit ragu sebelumnya.


Uncle Lingga spontan menarik sudut bibirnya dan merapatkan Varen dengan merengkuh pundaknya, lalu membawa Varen dan tiga orang yang datang bersamanya ke sebuah ruangan yang mirip dengan sebuah ruang makan dan pantry.


***


“Apa yang akan kau lakukan pada si Prima itu?”


“Entahlah, Uncle. Belum terpikirkan olehku”


Uncle Lingga manggut – manggut saja, sementara Nathan, Rendy dan Ammar menutup mulut mereka saja saat ini, hingga sampai seorang anak buah Uncle Lingga membawakan minuman hangat untuk kelima orang yang sedang duduk di dalam ruangan yang menyerupai ruang makan dan pantry tersebut. Dan satu orang lagi membawakan sandwich sebagai makanan.


“Silahkan kalian minum dan makanlah dulu” Uncle Lingga mempersilahkan. “Alva pasti akan menolak jika kutawarkan makanan berat. Bagaimana dengan kalian?. Meskipun tempat ini rongsokan, tetapi aku punya Chef handal disini. Jika kalian meminta steak sekarang pun bisa aku sediakan.”


Varen menyunggingkan satu sudut bibirnya, lalu menyesap teh hangat yang disuguhkan untuknya. Nathan dan


Rendy terkekeh kecil sembari menikmati teh dan sandwich yang disediakan.


Sementara Ammar mengikuti jejak sang Tuan Muda. Ia hanya menyesap teh panas didepannya.


Sejenak, lima orang yang sedang duduk menikmati teh dan sandwich itu terdiam dan larut dalam pikiran mereka masing – masing.


Hingga suara deringan ponsel yang berasal dari saku kemeja Rendy terdengar.


“Kalau Marsha atau orang tua lo meminta lo balik, atau panggilan untuk lo ke Rumah Sakit, lebih baik lo balik Ren. Lo punya tanggung jawab pada pasien – pasien lo"


Varen bersuara sebelum Rendy meraih ponselnya.


“Sekalian gue titip tolong lihatkan Drea”


“Ya”


Rendy pun langsung mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya.


“Ya, Pa?”


“.......”


“Iya Pa, Rendy lagi sama Alva ini”


Mendengar namanya disebut Varen langsung menoleh pada Rendy yang menerima panggilan dengan berdiri.


Terlebih sebutan ‘Pa’ yang keluar dari mulut Rendy dan menanyakan tentang dirinya, Varen langsung berpikir kalau panggilan dari Dokter Alan ke ponsel putranya itu menyangkut tentang Andrea.


Varen kemudian berdiri.


“Sebentar” Rendy menyodorkan ponselnya pada Varen. “Papa mau ngomong sama lo”


Varen mengangguk dan langsung menerima ponsel yang Rendy sodorkan padanya.


“Ya Uncle?. Apa Drea baik – baik saja?”


“Andrea baik – baik saja sekarang. Dia sudah sadar dari biusan namun tidak lagi histeris”


“Apa dia sudah bisa diajak berkomunikasi?”


“Untuk yang satu itu belum. Tapi mungkin dalam satu dua hari ke depan Andrea sudah dapat berkomunikasi”


“Ada hal lain yang harus kusampaikan padamu terkait Andrea. Sekaligus aku membutuhkan keputusan darimu


untuk melakukan tindakan. Orang tua kalian disini, tetapi mereka memintaku untuk bertanya padamu, karena mereka bilang kamu yang lebih berhak untuk membuat keputusan”


Varen mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan Dokter Alan dari seberang telepon.


“Drea..... apa terkait kondisi tubuhnya, Uncle?” Tanya Varen takut – takut. “Jangan katakan jika ia menderita sesuatu? ...”


Empat orang yang berada didekat Varen sebatas memperhatikan Varen yang sedang menerima panggilan dari


Dokter Alan itu.


“Tidak Alva. Sejauh ini tidak ada yang serius perihal kondisi dalam tubuh Andrea. Hanya saja...” Dokter Alan menggantungkan kalimatnya.


“A – pa... Uncle? .....” Varen sedikit tergugu, hatinya sedikit mulai tak menentu.


“Andrea sedang hamil”


“Apa?! Benarkah itu Uncle?? .....”


Senyum Varen mengembang sempurna kini. Bahagia juga terpancar disana.


“Namun Alva, maaf jika apa yang akan aku katakan sedikit mengganggu kebahagiaanmu saat ini”


Senyum bahagia yang sempat terbit di wajah Varen perlahan meredup setelah perkataan Dokter Alan barusan.


“Ke – napa, Uncle? .....”


“Maaf Alva, tapi aku harus memberikanmu pilihan antara mempertahankan bayimu dan Andrea atau mengangkatnya. Karena bayi kalian sangat beresiko akan cacat lahir jika kalian ingin mempertahankannya, termasuk resiko yang akan menyertai Andrea, jika kamu memilih mempertahankan namun bayi itu tidak mampu bertahan ditengah jalan”


Dan perkataan Dokter Alan membuat Varen seolah tersambar petir disiang bolong. Tidak hanya mengejutkan, namun pilu dan sakit kini bergulung dan mengetat dihati Varen hingga membuat dadanya terasa begitu sesak.


Dokter Alan menjelaskan semua hal seperti yang sudah ia katakan pada Poppa, Momma, Daddy R dan Mommy


Ara sebelumnya pada Varen sekarang. Varen mendengarkan tiap kata yang diucapkan Dokter Alan sambil menahan sembilu dalam hatinya.


Pedih, sangat.


Yang Varen rasa sekarang. Kebahagiaan yang sudah didepan mata untuk menyempurnakan kebahagiaannya bersama Andrea di hari depan, kini seolah mengurai dan terhapus begitu saja.


Pilihan yang diutarakan Dokter Alan, bagi Varen saat ini seperti dua bilah mata pisau tajam yang akan tetap menusuknya di sisi manapun yang ia pilih.


***


“Apa kau bisa memberikan keputusanmu sekarang Alva?”


“....”


“Maafkan aku jika aku harus mengatakan kenyataan ini padamu, dan menempatkanmu pada posisi yang sulit. Jika


memang kamu membutuhkan waktu, silahkan kamu pikirkan dulu. Tetapi apa yang menjadi keputusanmu nanti, lebih cepat lebih baik”


“....”


“Jika memang kamu memutuskan untuk mengangkat calon bayi kalian, maka akan aku lakukan dengan segera.  Tapi jika kamu mau mempertahankan itu pun kembali lagi padamu, meskipun aku tidak menyarankan. Tapi semua adalah hakmu untuk memutuskan. Karena ...”


“Lak-lakukan saja.... opsi yang pertama, Un-cle....” Suara Varen terdengar parau saat ia berbicara di sambungan telepon pada ponsel Rendy. Lalu Varen mematung kemudian ditempatnya, setelah sambungan telepon yang ia lakukan telah ia selesaikan.


"Ang-kat saja.... jika-itu... bisa membahayakan Drea ...." Ucap Varen begitu pelan dan parau.

__ADS_1


Tangan Varen terkepal kuat, hingga tanpa sadar ponsel Rendy yang ia genggam pun seketika patah dalam genggamannya. “Va....” Rendy mendekati Varen dan terdengar nafas sahabatnya itu kini mulai memburu.


Nathan dan Uncle Lingga akhirnya ikut mendekati Varen yang sedang mematung namun tangannya terkepal


nampak begitu kuat, matanya berkaca – kaca dengan rahang yang kian mengetat.


“Bang....” Nathan sudah berdiri dari duduknya, begitupun Uncle Lingga.


“Alva, ada apa?....”


“AARRGGHHH!!!!”


Teriakan begitu kencang dari Varen keluar dari mulutnya.


BRAGGGG!!!


Sekaligus melemparkan Ponsel Rendy yang berada dalam genggaman Varen dan juga sudah patah itu ke tembok dengan sekuat tenaga, dengan wajah yang penuh amarah dan sepertinya bercampur frustasi karena air mata nampak juga sudah turun ke pipi Varen.


Ammar juga sudah berdiri dari duduknya dengan keterkejutan yang sama seperti tiga orang lain yang berada di dekatnya.


“SIALAAANNN!!!! ..”


Varen mengumpat dengan sangat keras.


Namun tubuh Varen  merosot ditempatnya kemudian, hingga lututnya menghantam lantai di bawah kakinya dengan cukup keras.


“Alva!”


“Bang!”


“Tuan!”


Varen mengumpat berkali – kali, namun pria itu nampak begitu frustasi sampai – sampai ia berkali – kali menghantam lantai dengan tinjunya dan mungkin akan terluka jika Uncle Lingga tidak menahan tangannya.


Ammar, Rendy, Nathan dan Uncle Lingga sungguh terkejut namun hati mereka terasa mencelos juga melihat pria yang biasa berdiri dengan gagahnya, kini seolah lemah, luruh dalam duka, yang empat orang ikut berjongkok didekat Varen belum tahu kenapa.


Namun Varen, nampak jelas terlihat begitu terluka saat ini.


****


“Ada apa Bang?”


Nathan mencoba bertanya pada si Abang yang kini tubuhnya bergetar, sembari mencengkram rambutnya sendiri,


menggeram dengan geraman yang terdengar sedikit mengerikan.


‘Apa Drea ... Ga! Ga mungkin!’ Nathan sembari membatin. “Bang ...”


Nathan menyentuh punggung Varen, mengusapnya perlahan. Sungguh, rasanya Nathan tak tahan melihat Abang


sekarang.


Namun Nathan juga penasaran, takut juga sebenarnya.


Kenapa Abang menjadi seperti ini setelah berbicara di telepon dengan Dokter Alan.


“Bang... ada apa Bang? ... apa terjadi sesuatu sama Drea?...”


Begitu perlahan Nathan kembali bertanya, Rendy pun sama ikut bertanya. Sementara Uncle Lingga sudah berdiri dan sepertinya hendak menelpon, setelah sebelumnya meminta salah satu anak buahnya mengambilkan sebotol air mineral.


Namun Abang bungkam. Ia hanya tertunduk dengan masih mencengkram rambutnya dengan kepala yang sudah


menyentuh lututnya.


****


Nathan, Rendy maupun Ammar membiarkan dulu Varen tanpa lagi mengajaknya bicara.


Air mineral yang disodorkan pada Varenpun ditepis dengan begitu kuatnya oleh Varen hingga botolnya terpental cukup jauh.


Jadi akhirnya tiga orang itu membiarkan, menunggu Varen tenang dengan sendirinya.


Namun ketiganya tetap berada mengitari Varen, bahkan Nathan dan Rendy ikut bersimpuh di sisi Varen. Meski dalam hati sesungguhnya tiga orang itu sangat penasaran dengan alasan yang dapat membuat seorang Varen menjadi begitu nampak frustasi seperti sekarang ini.


Seketika otak tampan Nathan memikirkan sesuatu.


Dia mengkode Ammar dengan matanya, lalu membuat tangannya dengan kode seperti sedang menelpon.


Ammar paham. Ia pun langsung mengangguk. Sementara Rendy kemudian berdiri untuk mengambil serpihan ponselnya yang tadi dilempar ke dinding oleh Varen.


“Am – mar ....” Tiba – tiba suara parau nan dalam milik Varen terdengar, tepat saat Ammar akan membuat panggilan di ponselnya. Bersamaan dengan Uncle Lingga yang sudah masuk kembali ke ruangan dimana Varen dan yang lainnya berada.


“Y – a Tuan?...” Jawab Ammar yang sempat sedikit terkejut itu,


Pada Varen yang masih duduk bersimpuh ditempatnya, namun kedua tangannya kini sudah lepas dari rambutnya.


Varen tidak langsung berbicara lagi. Ia seperti sedang menetralkan dirinya sendiri.


Terlihat Varen berkali – kali menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat. Kepala Varen mendongak, jakunnya beberapa kali bergerak seperti sedang menelan batu besar disana, berikut rahangnya yang kian mengetat.


Namun ada sebulir air mata yang jatuh dari sudut matanya.


Varen mengepalkan lagi tangannya dan langsung ia letakkan di atas pahanya.


Nathan langsung bergerak saat melihat Varen hendak berdiri, dan dengan sigap bersama Rendy dan Ammar memegang tubuh si Abang yang nampak sedikit terhuyung kala ia coba berdiri.


Varen mengangkat tangannya saat Nathan dan Ammar mencoba memapahnya. “I’m okay now” Ucap Varen dengan


suaranya yang masih terdengar parau. Nathan dan Ammarpun melepaskan tubuh Varen dan laki – laki itu mengusap dua sudut matanya kemudian.


“Ammar...”


Sekali lagi Varen memanggil Ammar.


Varen sudah tak lagi gusar. Ia nampak tenang, meski awan mendung nampak masih menyelimutinya.


Varen sepertinya sudah dapat menguasai emosinya sekarang. Ia terlihat tenang, namun perlahan terlihat menjadi


terlalu tenang dengan pandangan matanya yang nanar. Wajah Varen terlalu dingin, hingga sedikit menakutkan.


Nathan lekat memperhatikan, sekaligus menebak – nebak melalui raut wajah Abang.


‘Perasaan gue makin ga enak, kalau lihat Abang kelewat tenang begini setelah sangat kacau tadi’ Nathan Membatin.


“Iya Tuan”


“Wanita yang terakhir bersama istriku dan satu pria yang berada bersamanya dan hendak melecehkan istriku saat itu ada dimana?”


‘Alamat ini sih!’


****


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2