
Sorry untuk Up yang agak lama hari ini ye.
Tiga ribu lapan ratus kata sekian kalo ga salah.
Mayan dah yak, setara dua episodehhhhhh
*************************************************
MENUJU AKHIR KEGILAAN
**********************************
Selamat membaca ....
**************************
Rumah Sakit
“Haish, kenapa aku sampai melupakannya?” Ucap Varen.
“Tapi aku kan tidak!..”
“Termasuk si penjaga Panti keparat berikut kaki tangannya yang bejat itu juga! Hish!”
Varen mendengus kesal.
“Jangan lupakan dua Dokter dan juga kaki tangannya yang juga masuk dalam sindikat mereka”
Varen dan Poppa manggut – manggut mendengar ucapan Daddy R.
“Mereka semua berada di penjara?” Tanya Varen.
Daddy R dan Poppa pun mengangguk.
“Semua, kecuali pe**cur tua dan orang kepercayaannya itu”
Gantian Varen yang manggut – manggut.
“Aku akan meminta Uncle Sean untuk mengirim mereka ke ‘Playground’”
“Sudahlah ..” Sambar Daddy R. “Kami urus dulu satu pimpinan para tikus – tikus selokan itu. Setelahnya baru kami urus tikus – tikus anak buahnya yang tersisa. Termasuk si kepala Panti itu. Sekejap mata saja mengurus kotoran – kotoran macam mereka”
“Lagipula kau kan sudah cukup repot. Mereka, biarlah urusan dua ayahmu yang super hebat ini!”
“Halah!”
“Poppamu benar. Selain itu lihat wajahmu. Sudahlah matamu macam mata panda yang tidak tidur selama sebulan, belum lagi kau begitu kusut hingga kami bahkan nampak lebih muda darimu!”
“Cih! Usia sudah mau setengah abad saja masih narsis!”
“Hoy! Usia bukan ukuran okay?!. Kami masih sanggup menjatuhkan lawan dalam ring asal kau tahu! Selain
ketampanan dan kegagahan kami yang tidak memudar!”
Poppa terkekeh kecil. “Bahkan pesona kami masih bisa menyihir para wanita segala usia diluar sana, tak kalah darimu!”
“Ya! Ya!”
Varen memutar bola matanya malas.
“Ya sudah kau jagalah putri, dan kedua Mommy mu itu. Termasuk dua adikmu yang ada didalam itu”
“Apa Mom dan Momma tahu kalian mau kemana dan mau apa?”
“Mereka sudah puluhan tahun hidup bersama kami. Tidak perlu kami katakan Mom dan Momma mu pasti paham apa yang akan kami lakukan”
“Poppa mu benar” Timpal Daddy R. “Kau kan tahu sendiri, ibumu yang dua ini seperti apa?. Mereka sudah pasti sangat memahami kami, termasuk apa yang akan kami lakukan perihal ini”
“Ya sudah” Sahut Varen.
**
“Heart, aku dan R pergi dulu, hem?” Pamit Poppa pada wanita tercintanya itu, setelah dirinya dan Daddy R kembali ke ruang rawat Andrea.
“Iya ..” Sahut Momma sembari memandang Poppa dengan penuh arti.
“Jika ada apa – apa langsung beritahukan kami” Timpal Daddy R.
“Iya ..” Mommy Ara yang menyahut.
“Kenapa melihatku seperti itu, hem?” Tanya Poppa pada Momma.
“Ga boleh emang ngeliatin suami sendiri?”
“Aku semakin tampan, hem?”
Momma dan Mommy Ara langsung terkekeh mendengar celetukan Poppa, sementara Daddy R juga mendengus geli sembari geleng – geleng termasuk tiga anak mereka yang berada dekat dengan Poppa dan Momma yang sedang berdiri.
“Narsis ga ilang – ilang!” Celetuk Momma.
Poppa terkekeh kecil, lalu memandangi wajah Momma yang selalu ia pandangi dengan hangat karena Poppa
begitu mensyukuri kehadiran Momma dalam hidup selain hatinya.
“Apa kamu keberatan dan sedang berpikir untuk menahan aku dan R?” Tanya Poppa dan Momma menarik sudut
bibirnya kemudian menggeleng.
“Aku sebenarnya berharap, kalau semua orang jahat itu biar hukum saja yang mengurusnya. Tapi selain aku tahu kalian, apa yang terjadi pada Via terlebih Drea membuat aku cukup sakit hati”
“....”
“Dan aku ingat beberapa orang – orang jahat dikehidupan kita dahulu serta kejadian yang mengiringinya, ingat betapa besar pengorbanan dan kesusahan kalian .. beberapa duka yang kita pernah rasakan, aku ga akan menahan kalian”
“....”
“Aku tahu betul kalian, para pria di keluarga ini seperti apa tabiatnya. Aku bisa membayangkan seberapa kejam mungkin hal yang bisa kalian lakukan untuk membalas mereka yang jahat pada kita”
“....”
“Tapi aku tidak pernah ingin tahu detailnya. Cukup cinta kasih kalian saja yang perlu aku tahu da rasakan setiap detailnya. Selebihnya aku ga perduli. Yang aku tahu, kalian hanya mencoba melindungi dan membela keluarga ini”
“Love you, Momma ...” Ucap Poppa yang kemudian menempelkan bibirnya di kening Momma, hingga kecupan penuh kasih sayang di bibir wanita terkasih Poppa itu. Terlepas dari Andrea dan putri – putrinya yang lain yang ia sayangi. Termasuk, para Moms lain serta para nenek yang juga disayanginya.
“Hati – hati ya ..” Ucap Momma sembari menangkup wajah Poppa yang langsung menerbitkan senyumnya lalu
mengangguk kemudian.
“Aku tinggal sebentar ya?”
Momma pun mengangguk.
“Ya sudah, kami tinggal dulu”
“Iya..”
“Adrieanna, Dolcezza. Kalau kamu ingin tetap disini, kamu juga harus tetap beristirahat”
“Si, Poppa!”
“Abang, Rery, kami titip para wanita cantik ini pada kalian”
“Aye Captain!”
“Okay!”
“Ya sudah. See you guys soon!”
“Memang Poppa dan Dad mau kemana sih?” Celetuk Rery seraya bertanya.
“Rapat orang tua”
***
🎵‘Till I Collapse I’m Spilling This Raps Long As You Feel ‘Em🎵
Poppa memutar kencang audio dalam mobil yang ia kendarai bersama dengan Daddy R didalamnya.
🎵‘Till The Day That I Drop You’ll Never Say That I’m Not Killing ‘Em🎵
Genre musik yang sedari muda Poppa memang suka terputar saat ini dalam mobil Poppa yang membuat kepala dan tangannya bergerak mengikuti irama lagu tersebut.
🎵Cause When I’m Not, Then I’mma Stop Penning Them🎵
Lagu Rap yang kadang banyak berisi caci maki, terutama dari seorang Rapper kulit putih yang memang Poppa
sangat sukai lagu – lagunya.
Daddy R mendengus geli saja melihat si Poppa, namun tak menampik Daddy R juga menyukai Rapper kulit putih
yang Poppa sukai itu. “Tidakkah diusia kita yang hampir setengah abad ini rasanya sudah tidak cocok mendengarkan lagu seperti ini lagi”
“Lalu kita harus mendengarkan lagu Wonderful Tonight , sekarangbegitu?” Sahut Poppa. “Yang ada gue mengantuk!”
Daddy R terkekeh. Lalu ia melemparkan pandangannya keluar mobil.
“Menurut lo pela**r tua itu sudah tiba?”
“Entah! And I don’t care! Dia sudah atau belum datang sama saja, tetap akan gue hilangkan nyawanya juga!”
“Jangan menambah dosa, sudah tua”
Seketika Poppa pun tergelak.
**
Poppa menghentikan mobil yang ia kendarai sejenak, saat hampir mencapai sebuah tempat yang cukup gelap dan sangat sepi. Serta hanya terlihat satu bangunan yang nampaknya bekas sebuah pabrik yang sudah terbengkalai begitu lama.
“Lo benar akan membebaskan anak gadis dan suami dari pela**r tua itu, saat wanita itu menyerahkan dirinya?” Tanya Daddy R sembari mengecek pistol semi otomatis miliknya.
“Tidak akan gue habisi yang jelas” Sahut Poppa yang juga sedang mengecek pistol semi otomatis miliknya.
“Tapi dari wajah Poppa, Dad R bisa menebak, kalau nasib suami dan anak gadis pela*r tua itu pastinya akan
menderita. Hem?. Because I know you so well!*”
“Hahahahaha!! Kakak Ganteng bisa saja ..”
Daddy R mendengus geli. “Nasib buruk pada anak gadis gadis pela**r tua itu dan suaminya, memiliki orang tua macam mereka”
“Makin buruk, karena ibu laknatnya itu berurusan dengan kita” Sahut Poppa. “What a shame ( Sayang sekali ), gadis secantik dan semuda itu, harus kuhancurkan karena ibu laknatnya, termasuk ayahnya”
“Poppa kejam sekali”
“Apa Daddy R kini menjadi berbelas kasih karena semakin tua dan takut mati lalu masuk neraka?? ..”
“Ah tidak juga..”
“Hahaha!!”
Poppa kembali menyalakan mesin mobilnya saat ia dan Daddy R selesai mengecek senjata api milik mereka, lalu Poppa melajukan mobil yang dikendarainya menuju sebuah pabrik terbengkalai yang nampak sepi itu.
Poppa dan Daddy R sudah menggunakan satu alat komunikasi portable di salah satu telinga mereka. “Apa semua sudah siap?”
Daddy R berbicara dan suaranya sudah juga terdengar di alat komunikasi yang tertempel di telinga Poppa.
Juga sudah tersambung jalur komunikasinya, karena sahutan cepat sudah terdengar di telinga Daddy R dan Poppa, setelah Daddy R berbicara.
“Hoy! Ayahnya Dewa Perang, apa kau sudah siap di posisimu?”
“Jangan meremehkan Zeus”
“Cih!”
**
Daddy R dan Poppa sudah mencapai Pabrik yang terbengkalai itu.
“Aku mencium ‘penyambutan’ untuk kita”
__ADS_1
“Biarlah mereka bahagia ..”
Poppa menyahut santai.
“Sebelum mati ..” Sambung Poppa yang meneruskan laju mobilnya untuk masuk lebih dalam ke area Pabrik. Melewati lahan kosong yang sangat gelap dan sepi, lalu turun ke sebuah jalanan yang sedikit landai dimana ada sebuah lorong tak berpintu yang menyerupai sebuah gapura yang tersusun dari batu bata.
Hingga akhirnya mobil Poppa mencapai sebuah tempat yang cukup tertutup, dimana banyak sekali kendaraan yang
terparkir disana. Begitu kontras dengan apa yang nampak dari luar, karena didalam sini, kendaraan – kendaraan yang berjajar merupakan golongan kendaraan mewah, bahkan beberapa diantaranya ada yang merupakan mobil – mobil edisi terbatas.
Belum lagi beberapa mobil yang juga nampak seragam, seperti mobil – mobil yang disediakan untuk para pengawal pribadi di Keluarga Adjieran Smith. “Cih! Gue heran, banyak sekali laki – laki laknat yang datang ke tempat super nista seperti ini! .. Apa mereka tidak mendapat kepuasaan dari pasangan mereka?!”
“Mereka tidak memiliki para Dewi Khayangan seperti para wanita di Keluarga Adjieran Smith, that’s why!”
“Huh!” Poppa mendengus sinis. “Jika boleh aku ingin sekali membantai semua laki – laki laknat disini yang membeli para gadis muda hanya untuk kesenangan mereka!”
“Jika mereka cari masalah atau ikut campur..” Timpal Daddy R. “Ya lahap saja sekalian..”
Lalu Daddy R menyalakan rokok yang sudah ia selipkan di bibirnya sebelum melangkah keluar dan turun dari mobil.
“Jadikan ‘Heaven’ ini menjadi surga yang berlumur darah saja ..” Sambung Daddy R. “Setidaknya kita sedikit membantu membersihkan bumi dari manusia – manusia yang lebih kotor dari kita, bukan begitu”
“Wait, ralat!” Sambar Poppa. “Kita tidak kotor okay?. Suami yang sangat setia dan ayah yang baik, bukan pecandu”.
“Okay gue ralat. Kita bukan kotor, tapi Gila!”
“Hahahaha ..”
“Dan gue rasa pun, dari para ‘tamu’ itu ada beberapa yang akan membantunya untuk menyerang kita, jika kita
mengacak – acak tempatnya nanti”
“Well, seperti yang Kakak Ganteng katakan tadi, Lahap saja sekalian! Naga ini sudah lama tidak ‘makan’!”
**
“Penyambutan yang cukup meriah”
“Heh!” Poppa memandang sinis sekaligus berdecih remeh setelah mendapati beberapa orang sudah berdiri di
hadapannya dan Daddy R tepat saat mereka baru sampai di dekat kap Maybach Exelero yang Poppa kendarai.
“Jadi seperti inikah jenis orang – orang bodoh yang dipekerjakan para kaum BPJS negeri ini?”
“BPJS?”
“Budget Pas – pas an Jiwa Sosialita”
Ah iya, mulut Poppa akan menjadi sangat manis cuma sama Momma aja.
“Mulut lo Donald Bebek!” Suara Daddy Dewa yang terdengar terkekeh geli di alat komunikasi yang terpasang di telinga Poppa dan Daddy R.
“Punya uang yang digitnya masih bisa tertulis di buku tabungan tapi sok punya bodyguard”
Daddy R mendengus geli mendengar ucapan Poppa yang berbisik padanya kala dengan santai dua orang Hot
Daddy yang tetap nampak hot di usia mereka yang hampir setengah abad itu menyandar di kap mobil sporty berwarna hitam pabrikan Jerman dengan harganya yang mencapai delapan juta dolar Amerika. Itu pun, baru harga pembuka.
Sementara yang dimiliki keluarga Adjieran Smith ini sudah dipesan lebih khusus dengan modifikasi spesial. Jadi untuk satu mobil ini kira – kira mereka sudah menggelontorkan uang sebesar sebelas juta dolar.
( Itung ndiri dah berapa rupiah itu )
“Iya juga ya. Bahkan ce**na da*am gue rasanya lebih mahal daripada harga pistol yang mereka pakai”
“Memang cocok lo berdua! Naga lemes!” Suara Daddy Dewa yang terkekeh lagi, sementara anak buah mereka
termasuk Omar sedang sekuat tenaga untuk tidak ikut terkekeh mendengar percakapan para Tuan mereka yang kadang gokil itu.
Poppa juga ikut terkekeh geli mendengar cemoohan Daddy R pada enam orang bersenjata dengan tutup kepala
yang kini sudah mengepung dua hot daddy yang nampak masa bodoh dengan kondisi mereka yang sedang di kepung itu.
Poppa dan Daddy R malah nampak asik kasak kusuk malah terdengar suara kekehan dengan bahu mereka yang
terlihat sedikit bergetar. “Hoy! Naga renta! Gibah kalian tolong ditunda. Ada enam senjata yang mengarah pada kalian berdua, Opa!”
Poppa dan Daddy R sama – sama mendengus geli sekali lagi mendengar celetukan Daddy Dewa sebelum kepala
mereka menoleh menatap orang – orang bersenjata yang kini bertambah lagi dua orang.
“Kasihan ...” Celoteh Daddy R yang sudah menegakkan dirinya seperti Poppa, menatap remeh delapan orang
bersenjata yang kesemuanya sedang menodongkan senjata mereka ke arah dua Hot Daddy yang suka gesrek itu.
Poppa manggut – manggut sembari mengerucutkan bibirnya.
“Sudahlah bayaran kecil. Harus mati pula!”
“Jangan mengejek. Lo sudah menggaji Omar sudah benar belum?”
“Hey Omar ...”
Poppa mengajak bicara orang kepercayaannya itu dalam alat komunikasi portabel mereka.
“Beritahu padanya semakmur apa kau sekarang sejak jadi orang kepercayaanku, hem?”
“Sangat makmur Tuan” Suara Omar terdengar menyahut dengan cepat dari sebrang saluran komunikasi mereka.
“Ha, see?. Dengar sendiri kan?”
Poppa mengendikkan bahunya dengan pongah.
“Jika Omar tidak bekerja pada gue, dia hanya akan berakhir jadi penjual parfum biang di daerah Jakarta Timur sana”
Daddy Dewa dan Daddy R terkekeh, sementara orang yang diejek Bosnya barusan itu sedang menatap tajam pada anak buahnya yang nampak sekuat tenaga, tengah menahan diri mereka untuk tidak terkekeh.
Mendengar sang atasan yang dibilang bisa saja jadi penjual parfum biang oleh salah satu Bos besar mereka yang suka sekate – kate itu kalo kata Keluarga Cemara.
“Semoga engkau selalu diberi kesabaran, Omar ..” Celetuk Daddy Dewa yang mendengar ejekan Poppa pada orang kepercayaannya itu.
“Selalu Tuan”
Hingga sebuah suara membuat Poppa dan Daddy R menoleh pada laki laki berambut warna chestnut yang menatap sangar pada dua Hot Daddy itu dan seolah pamer dengan gaya – gayaan mengokang senjatanya dihadapan Poppa dan Daddy R dari tempat pria itu berdiri.
“Macam topeng monyet!” Celetukan asal keluar lagi dari mulut Poppa. Membuat lagi – lagi mereka yang terhubung dalam satu saluran komunikasi dengannya itu tak bisa untuk tidak terkekeh. Termasuk juga Daddy R yang berdiri tepat disamping Poppa.
“BICARA APA KAU?!”
“Cih!” Poppa dan Daddy R sama – sama berdecih sinis pada pria yang sebelumnya mengokang senjata sok hebat dan barusan menghardik keduanya.
“GELEDAH MEREKA!”
“Coba saja jika berani” Sahut Daddy R dengan santai, namun matanya menyorot tajam.
Lalu suara ketukan khas yang dihasilkan dari sebuah high heels terdengar menyentuh lantai semen dan suara
langkah itu kian mendekat pada dua Hot Daddy yang menatap lurus ke arah suara ketukan langkah itu berasal.
“Memang bernyali besar ternyata ya?” Dan suara seorang wanita terdengar dari belakang delapan orang yang sedang mengepung Poppa dan Daddy R Itu. Disusul dengan kemunculan seorang wanita yang berpakaian dengan warna merah mencolok kehadapan Poppa dan Daddy R dengan diapit dua pria.
“Sungguh gue tak menyangka...”
Poppa bersuara, mendekatkan mulutnya ditelinga Daddy R.
“Boneka Anabelle itu ternyata ada dalam kenyataan”
Ya sudah, Daddy R tak sanggup menahan geli dalam perutnya, hingga ia terkekeh sampai menunduk dan
menggeleng setelah mendengar celetukan si Poppa barusan, berikut bahunya yang nampak bergetar.
“Fotonya saja sudah jelek sekali. Ternyata wajah aslinya malah lebih membuat gue mual!”
Kekehan yang tak hanya berasal dari Daddy R pun terdengar lagi, setelah Poppa berbisik kembali
Membuat wanita yang baru muncul itu memicingkan matanya menatap pada Poppa dan Daddy R. Karena pria yang
satu nampak cekikikan ga kelar – kelar, yang satu setelah kasak – kusuk nampak berdiri tegak sembari memandanginya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan cara melihatnya yang sukar untuk diartikan.
Namun setelahnya wanita yang baru muncul dengan diapit dua pria itu nampak tak lagi ambil perduli, lalu ia
menyungging miring pada Poppa dan Daddy R.
“Sepertinya kalian tidak takut mati, ya?”
“Sudah kubilang, Nyaliku tak berbatas”
“Bu ..”
Salah seorang yang mengapitnya kemudian berbisik di telinga wanita itu, setelah laki - laki berambut warna chestnut yang sebelumnya berlagak di depan Poppa dan Daddy R selesai membisikkan sesuatu pada laki - laki yang kini sedang berbisik di telinga Bos wanitanya itu.
Wanita yang adalah Dilara itu langsung menoleh pada orang kepercayaannya yang bernama Lais itu setelah
laki – laki itu selesai berbisik padanya.
“Maybach Exelero Very Limited Edition, Special Custom! ..” Celetuk Poppa saat menyadari Dilara melirik mobil yang berada di belakang dua pria yang punya aura tidak biasa itu.
Dilara spontan melirik memang, pada mobil hitam berdesain sporty yang berada dibelakang dua pria yang menyandera putri dan suaminya itu, saat Lais mengatakan kalau dua pria dihadapan mereka ini sepertinya bukan orang biasa.
“Aku yakin kau tak sanggup membelinya”
Melihat dari mobil yang rasanya juga belum pernah terlihat ada yang wara wiri di jalanan kota tempat mereka berada. “Tidak kusangka, dua gadis yang bernama Andrea dan Kevia itu bukan sekedar ‘anak orang kaya’ biasa”
Dilara menarik sudut bibirnya, lalu berkata lagi,
“Padahal rasanya keluarga kalian tidak cukup terkenal di kalangan kami”
Dimana Poppa dan Daddy R juga menyungging miring. “Karena kau dan ‘kalangan’ mu itu jauh dari pantas untuk mengenal kami”
“Hei! Jaga bicaramu!” Lais mengangkat telunjuknya. Mengarah pada Poppa dan Daddy R, yang lagi – lagi
menyungging miring.
"Cih! Anak muda jaman now. Kurang ajar sekali!"
“Sudah! Aku tidak mau berbasa – basi lagi!”
Dilara kini menatap tajam pada Poppa dan Daddy R.
“Mana anak gadis dan suamiku?!” Tanya Dilara dengan membulatkan matanya.
Kini Poppa dan Daddy R lebih menarik tinggi sudut bibir mereka.
Membuat Dilara mulai semakin nampak tak senang. “Berhenti bermain – main denganku! Aku peringatkan pada
kalian berdua!”
Poppa dan Daddy R sama – sama mendengus.
“Sebelum kau memberi peringatan pada kami, apa sudah kau cek ulang situs gelap milikmu?”
“Apa, katamu?..”
Namun kemudian Dilara yang tadinya sedikit tidak paham maksud ucapan Poppa yang berucap barusan akhirnya
menyuruh salah satu anak buahnya mengecek situs gelap yang amat sangat rahasia miliknya.
Mata Dilara seketika membulat sempurna, setelah salah seorang anak buahnya menunjukkan sesuatu dalam benda persegi tipis yang berukuran medium itu. “Stel – la ..”
Dilara terlihat cukup syok saat ini. Poppa dan Daddy R nampak senang melihatnya. “Apa sudah ada yang
menawar anak gadismu itu?” Celetuk Poppa dengan santainya.
“BRENGSEK KALIAN!” Hardik Dilara yang nampak mulai ber api – api dengan mengarahkan telunjuknya ke arah
Poppa dan Daddy R yang kini sudah menyeringai padanya.
“Bagaimana rasanya?...”
“Melihat anak gadismu sendiri berada dalam daftar situs pelelangan terkutukmu itu?”
__ADS_1
Daddy R dan Poppa saling menyahut dengan ucapan mereka yang terdengar bak cemoohan untuk Dilara.
“KALIAN!! ...”
Dilara mengepal geram memandang nyalang pada Daddy R dan Poppa yang masih menyeringai.
“HILANGKAN STELLA DARI DAFTAR!!” Perintah keras Dilara pada anak buahnya, mengabaikan Daddy R dan
Poppa sejenak.
Lais dan satu anak buahnya yang sebelumnya mengapit Dilara nampak sibuk dengan tab dan juga sebuah laptop
kecil
“Sedang kami kerjakan Bu!”
Lais menyahut cepat.
“Tidak bisa Bu!”
“APA?!” Dilara nampak begitu terkejut. “APA MAKSUD KAMU GA BISA?!”
“Ada orang lain yang mengendalikan situs kita!” Sahut anak buahnya selain Lais yang nampak sibuk dengan laptop kecil dihadapannya.
Poppa dan Daddy R menikmati saja kegusaran Dilara bercampur geramnya saat ini.
“HUBUNGI GIO! SURUH DIA YANG MENGURUSNYA! HAPUS FOTO STELLA DARI SANAA!!...”
“Sudah Bu! Gio juga angkat tangan. Dia sulit menembus jaringan yang sepertinya meretas kontrol situs kita”
Dilara yang mulai histeris itu nampak memarahi anak buahnya dengan geram.
“AKU TIDAK MAU TAHU CEPAT BUAT STELLA HILANG DARI DAFTAR! SEBENTAR LAGI WAKTU PELELANGAN TIBA! KITA GA MUNGKIN MENGUSIR TAMU – TAMU YANG SUDAH DATANG!”
Daddy R dan Poppa makin menikmati tontonan didepan mereka saat ini.
“LAIS! GARVI!”
“Saya akan mengecek ke dalam Bu!”
Pria berambut chestnut itu mengatakan idenya.
“Jika Nona Stella ada didaftar, kemungkinan besar dia sudah ada didalam”
“YA SUDAH CEPAT! TUNGGU APALAGI?!...”
“Iya Bu!” Lalu pria berambut chestnut itu melesat cepat dengan membawa dua orang bersamanya.
Lais mengalihkan pandangannya pada Daddy R dan Poppa.
“Saya rasa ini kerjaan mereka Bu” Ucap Lais.
“Hahaha ...”
“Kalian! ...”
“Anak buahmu ada yang pintar juga ternyata”
Daddy R menyambar omongan.
“DIAM! ...”
Dilara memekik kencang.
Tak lama anak buahnya yang tadi masuk ke dalam untuk mencari anak Gadis Dilara sudah kembali lagi menghampiri Bos perempuannya itu.
“BAGAIMANA?! ADA STELLA DI DALAM?!”
Pria berambut chestnut menggeleng. “Tidak ada Bu” Ucapnya.
Dilara menggeram. “DIMANA KALIAN SEMBUNYIKAN ANAK GADISKU?!”
“Apa kau sudah siap memberikan nyawamu?”
Poppa yang menyahut. Membuat Dilara semakin nampak geram.
“Apa Kalian Tidak Sadar Posisi Kalian Hah?!” Ucap Dilara dengan dadanya yang nampak kembang kempis. “Kalian Tidak Akan Lolos Dari Peluru – Peluru Anak Buahku!”
Dilara dengan ancamannya pada Poppa dan Daddy R. Merasa diatas angin karena melihat dua pria yang kiranya sebaya dengan dirinya itu hanya berdua saja, sementara dia sendiri membawa pasukan.
“LAIS! GARVI! BERIKAN TAB DAN LAPTOP ITU PADA MEREKA!” Perintah Dilara dengan tegas. “DAN KALIAN! CEPAT BUAT ANAK GADISKU MENGHILANG DARI DAFTAR!”
Dilara menunjuk Daddy R dan Poppa dengan kemarahannya yang semakin kian meningkat. “Jika kami tidak mau?”
Celetuk Poppa. “Lagipula, sebentar lagi pelelangan akan dimulai bukan?. Siapa tahu anak gadismu sudah berada diatas panggung lelang?”
“JANGAN MACAM – MACAM! CEPAT BERIKAN ANAK GADISKU ATAU KUHABISI KALIAN SEKARANG JUGA! DISINI, AKU BEBAS MELAKUKAN APAPUN MESKIPUN TAMU – TAMU YANG ADA MELIHATKU MEMBUNUH KALIAN BERDUA DI HADAPAN MEREKA!”
“Huum, aku penasaran berapa harga tertinggi yang bisa anakmu capai”
“DIAAMM!!!....” Dilara memekik tajam, dengan matanya yang sudah memerah. Memandang nyalang pada Poppa dan Daddy R yang tersenyum miring dan sinis. “Cepat, Serahkan, Anak Gadisku!”
“Kau mendekatlah dulu. Akan kuberikan kau kesempatan bertemu anak gadismu, sebelum ku lubangi kepalamu dan kuambil kedua ginjalmu yang tak berguna itu”
“Benar – benar cari mati!”
Daddy R dan Poppa sama – sama mendengus sinis.
“Kau yang cari mati, karena sudah mengusik kami”
“HAHAHAHAHA!! ....”
Dilara tertawa bak orang gila.
“Kesabaranku sudah benar – benar habis ....”
Dilara dengan cepat menghentikan tawanya. Dan kini melotot penuh ancaman pada Poppa dan Daddy R.
“SHIL!”
Dilara menunjukkan eksitensinya pada Poppa dan Daddy R.
“Satu kesempatan terakhir, sebelum kusuruh mereka memenuhi badan kalian dengan peluru. Dimana Anak Gadisku?!”
Dilara menaikkan dagunya.
“Kalian tidak punya celah untuk lari, Brengsek!”
Kemudian Dilara terkekeh sinis.
“Buka mata kalian baik – baik” Dilara menunjuk beberapa orang lagi dengan senjata ditangan mereka yang
bergabung mengelilingi Poppa dan Daddy R dengan senjata yang sudah kompak terarah pada dua Hot Daddy itu.
Yang kini memutar tubuh mereka pelan, memperhatikan orang – orang bersenjata yang mengelilingi mereka
dengan santainya.
“Bekerjasamalah, mungkin kalian akan kuampuni” Tuntut Dilara sinis. Namun Poppa dan Daddy R malah berdecih dan menyeringai kemudian.
“Perlu ku hitung sampai tiga?”
“Perhatikan saja mataku....” Ucap Poppa kini dengan wajahnya yang sudah berubah nampak serius.
“Hm?”
Dilara nampak bingung.
“Saat mataku berkedip, pasukan pecundangmu ini....”
Poppa menatap Dilara dengan menyeringai.
“Shup!”
Poppa mengibaskan tangan ke arah lehernya, membuat gerakan seolah memotong. Dan disaat yang bersamaan,
DEZIING!
Suara peluru yang terlepas terdengar bersamaan dengan darah yang muncrat dari sebuah jaringan lapisan kulit tangan.
DEZIING!
DEZIING!
DEZIING!
Kemudian suara rentetan peluru selanjutnya terdengar meletus bersamaan hingga berkali – kali, menembus
beberapa pasang tangan yang tadinya mengacung tegak memegang senjata yang terarah pada pada Poppa dan Daddy R.
DEZIING!
DEZIING!
DEZIING!
DEZIING!
Dan tanpa jeda, rentetan peluru kembali beterbangan menembus kepala orang – orang yang mengitari Poppa dan Daddy R. Hingga orang – orang tersebut tumbang hampir disaat yang bersamaan.
“Suara yang indah!” Suara Daddy Dewa terdengar di alat komunikasi jaringan mereka.
“Tidak salah memang aku membayar kalian mahal!”
Poppa berceloteh saat semua orang yang mengitarinya sudah tumbang didekatnya dan Daddy R berikut darah segar yang mulai mengalir mewarnai lantai di bawah mereka.
“Bulls Eye!. ( Tepat sasaran! ). Membuatku bangga menjadi Bos kalian!”
“Terima kasih Tuan” Sahutan dari beberapa suara terdengar dialat komunikasi di telinga Poppa dan Daddy R.
“Setelah ini kalian akan kuberi bonus liburan....hebat sekali! Benar – benar sekejap mata....” Poppa masih berceloteh sambil memutar sekali lagi badannya, memandangi jasad – jasad dari orang – orang yang berpakaian hitam -hitam yang tadi mengelilinginya dan Daddy R.
“Terima kasih Tuan”
“My pleasure”
Poppa menyeringai setelahnya menatap pada Dilara yang kini sudah pucat pasi melihat hampir seluruh anak
buahnya tumbang hanya dalam hitungan detik saja.
DEZIING!
“Kalian menyisakan satu”
Entah kapan Daddy R mengeluarkan senjatanya, namun dia sudah merobohkan satu lagi anak buah Dilara yang memiliki rambut berwarna chestnut, tepat di kepalanya dan membuat Dilara serta Lais berjengkit.
DEZIING!
Satu suara letusan halus terdengar lagi, dan itu dari pistol Poppa yang ia muntahkan pelurunya ke tangan Lais yang hendak mengeluarkan senjata dari balik jasnya. Dan suara Lais yang mengaduh kesakitan pun langsung terdengar.
“Tanganmu tak cukup cepat anak muda!”
“Kalian ....”
“Keluarlah wahai prajurit – prajurit hebatku!” Seru Poppa. “Tunjukkan padanya seberapa besar hal yang dapat
kulakukan!”
Dan tak butuh waktu lama, untuk kemunculan beberapa orang berkaos hitam dengan senjata laras panjang
otomatis di tangan mereka yang jumlahnya dua kali lipat dari anak buah Dilara.
“Si – siapa ..”
“Kau mengusik keluarga yang salah, perempuan Sundal!”
**
To be continue.....
__ADS_1