THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 206


__ADS_3

 ##  SEPOTONG HATI  ##******************************


Selamat membaca...


 


Jakarta, Indonesia ..


“Bersiaplah, Little Star.”


“Untuk?.”


“Mengganti tujuh belas tahun keposesifan kamu pada Abang. Kini bersiaplah, untuk menghadapi keposesifan Abang seumur hidup kamu.”


“Abang? Posesif sama Drea?.”


“Kenapa? Ga boleh?.”


“Boleh Abang. Drea malah bahagia kalau Abang posesif sama Drea. Tandanya Abang benar – benar cinta dong sama Drea?.”


“Pintarrrrr.”


**


Andrea terdiam didalam mobil setelah dalam perjalanan pulang dari Bandara setelah jet pribadi yang membawa


Varen dan beberapa orangnya lepas landas dari Bandara.


Ucapan Varen sebelum pergi ia ingat lagi. ‘Drea ga kebayang di posesifin sama Abang.’ Tersenyum sendiri. ‘Abang kalau cemburu gimana ya?.’ Andrea larut dalam lamunannya.


“....”


‘Hihi, di cemburuin Abang .. ada juga gue kayaknya sih yang akan cemburuan, punya pacar kayak Abang. Dia


belum jadi pacar aja, gue udah sering marah – marah kalau Abang punya teman cewe. Gimana sekarang coba?.’ Andrea masih melamun dan senyam – senyum sendiri.


“WOY!.”


Andrea mengendikkan bahu kala ada suara yang berteriak tepat dilubang telinganya.


“Tan – Tan ih!!!.”


Andrea spontan mengepret lengan Nathan. “Lagian malem – malem bengong! Kesambet aja lo!.” Celetuk Nathan


yang berada satu mobil dengan Andrea bersama Daddy R dan Mommy Ara yang mesam – mesem aja denger itu anak berdua yang dibelakang mereka.


“Masa bodoh!. Rese!”


“Mesam – mesem ga jelas lagi. Abis obat lo?!.” Celetuk Nathan lagi yang cengengesan.


“Iseng!.”


Andrea mencebik.


“Lagi ngebayangin ciuman Abang lo yaaa??? ..” Goda Nathan.


“Ih, apaan sih Tan - Tan?? ..” Andrea mendorong lengan Nathan pelan.


“Cie.. malu – malu.. si Cute Girl!. Lihat tuh Dad, Mom. Calon mantu kalian yang bocil merah mukanya langsung..


ahahaha..” Nathan tergelak puas melihat wajah Andrea yang merona akibat godaannya.


Daddy R dan Mommy Ara langsung menengok sambil cengengesan.


“Memang benar kamu sudah dicium Abang, Little Star?.” Goda Daddy R.


“Daddy apaan sih ah!.” Andrea jadi malu.


Daddy R dan Mommy Ara makin tersenyum lebar melihat Andrea yang malu – malu.


“Napsuan juga si Abang. Gue kira Pak Ustad lempeng – lempeng aja. Ternyata suka nyosor! ..” Timpal Nathan


sembari terkekeh.


“Pak Ustad apaan tau Tan – Tan!. Ga jelas!”


“Yah si Abang kan rajin ibadah tuh! Gue kira nanti dia cari istri pakai cara Taaruf.” Celetuk Nathan asal yang membuat Daddy R dan Mommy Ara cekikikan. “Eh, ternyata tergoda juga sama bibir lo, Cute Girl!.”


“Seksi soalnya bibir gue!.”


“Hahahahahaha ..”


“Itu urusan masing – masing personal dengan Yang Maha Kuasa, Nathan.” Timpal Mommy Ara. “Yang penting kamu sebagai umat beragama, ya jalankan saja dulu kewajiban sesuai agama yang dianut. Masalah kekurangan yang ada, atau mungkin ada ketidak sesuaian yah, Abang dan kita kan sama hanya manusia biasa.”


“Tuh dengarkan Mommy Peri bicara. Masih mending Abang ibadahnya rajin. Nah elo?!.”


Nathan cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Aku kan hanya manusia biasa Neng Andrea ..”


"Ngeles aja lo!."


“Jadi, sudah berapa kali dicium bibir sama Abang?.”


“Daddyyy!!..”


“Hahahaha..”


**


Esok hari


“Sweety.”


“Ya Daddy Boo – Boo?.”

__ADS_1


“Daftar undangan kamu masih ada lagi yang mau ditambah ga?.” Tanya Daddy Dewa pada Andrea yang sudah siap


berangkat ke Sekolah itu.


Andrea yang sedang menenggak susunya itu menggeleng. “Ahh .. engga Daddy, sudah semua itu. Aku kan Cuma mau undang angkatan aku saja. Tapi kalian malah mengundang satu sekolah.” Sahut Andrea malas. Dan mereka yang sedang sarapan bersama Andrea, terkekeh saja.


Andrea pun langsung bangkit setelah menyelesaikan sarapannya dan menyalimi para Daddies, Mommies yang masih ada di rumah, serta para kakek dan neneknya.


“Drea berangkaat!.. Assalamu’alaikum!.” Ucap Andrea seraya berjalan keluar.


“Wa’alaikumsalam.”


**


“Eh? ..”


Andrea sedikit terkejut menemukan seseorang yang berpapasan dengannya saat hendak menuju mobil dimana


Ammar sudah menunggunya.


“Pas banget. Untung gue keburu sampe.”


“Kak Arya?. Kok ga bilang mau datang?.” Sapa Andrea seraya bertanya pada Arya yang tahu – tahu muncul di


rumahnya pagi ini. Arya tersenyum.


“Habis ponsel lo mati dari semalam gue coba hubungi.” Jawab Arya.


Andrea mengernyitkan dahinya. Namun kemudian ia mengingat memang ponselnya disuruh dimatikan sama Abang, sejak kemarin. Kalau kata Abang, sedang kumpul keluarga jangan fokus ke hal lain.


“Oh iya. Memang gue matikan Kak. Lagi kumpul semua soalnya.”


Arya manggut – manggut.


“Iya gue tahu. Gue tadinya mau kesini kemarin, tapi pas gue telpon Kak Jo, katanya keluarga kalian sedang berkumpul. Jadi ga enaklah kalau gue datang.”


“Sorry ya, Kak?.” Ucap Andrea yang merasa tak enak.


“Ya udah, berangkat bareng gue ya?. Udah kesini kan gue?. Masa Drea tega?.” Pinta Arya.


“Mm.. bentar gue ijin Poppa dulu ya?.” Ucap Andrea sedikit ragu. Arya mengangguk.


“Gue ikut ke dalam deh. Ga sopan kalau ga menyapa keluarga lo juga.”


Andrea mengangguk mengiyakan.


**


“Ga apa – apa kan kalau gue tiba – tiba dateng gini buat jemput lo?.”


“Santai Kak.”


“Habis lo susah dihubungi. Pesan gue juga lo baca doang tapi ga dibales?. Tapi gue paham sih. Pasti lo sibuk sama keluarga lo yang luar biasa itu kan ya?. Rame banget keluarga kalian soalnya. Seru kalau lihat postingannya Kak Jo.” Cerocos Arya.


“Pesan?. Memang Kak Arya kak Arya teksting gue?.”


“Masa sih?. Gue sempat mengecek sebelum mematikan ponsel. Banyak sih ucapan selamat dari teman – teman. Dari Kak Sony juga ada, tapi gue perasaan ga lihat pesan dari lo Kak?. Malah gue pikir lo pakai ponsel Kak Sony itu, ya memang ga sempat gue balas juga, keburu sibuk buka kado. Hehe..”


Arya menoleh dengan menunjukkan wajah heran. “Aneh. Orang sudah lo baca kok. Nanti ya gue kasih lihat. Lo aja kali yang lupa?.”


“Bentar ya, gue aktifkan ponsel gue dulu.” Ucap Andrea yang membuka tas, lalu mengeluarkan ponselnya.


“Eh iya Drea. Bang Alva tadi gue ga lihat?.” Ucap Arya seraya bertanya karena sempat melirik Andrea yang menyalakan ponselnya, lalu ada gambar Andrea bersama keluarganya dan seketika Arya teringat Varen yang dicintai Andrea itu.


“Abang sudah kembali ke Massachusetts semalam. Ada sedikit pekerjaan disana.” Sahut Andrea.


“Oohh.” Arya ber – oh ria, sambil memfokuskan dirinya dibalik kemudi. “Syukur deh.” Gumamnya.


“Kenapa, Kak?.” Tanya Andrea yang sepertinya mendengar Arya mengatakan sesuatu dengan pelan.


“Ah – engga. Ini aja tumben udah agak macet jam segini ke arah sekolah lo.”


“Senin ini Kak. Biasa.”


‘Paling engga selama beberapa hari kedepan kan gue bisa terus pedekate sama di Drea. Setahu gue Bang Alva kan over protektif sama Andrea. Meskipun si Drea cinta sama dia. Tapi kayaknya orang sedewasa Bang Alva pasti suka sama cewe seusianya’ Arya membatin.


Ia menyunggingkan senyum tipis yang tak dilihat Andrea yang nampak sibuk dengan ponselnya.


‘Eh iya, Bang Alva kan sudah punya cewe ya kalo gue ga salah, makanya si Drea sedih.’ Arya membatin lagi. ‘Kalau gitu, nanti gue minta ijin dia sekalian buat deketin Drea.’


"Tuh Kak. memang ga ada pesan dari lo tuh." Andrea menunjukkan ponselnya pada Arya.


"Aneh."


**


“Makasih ya Kak Arya, sudah mengantar gue lagi pagi ini.”


“Eh bentar, Drea.”


Arya menahan tangan Andrea, saat mereka sudah sampai diparkiran sekolah Andrea, dan gadis itu hendak keluar


setelah melepas sabuk pengamannya.


“Apa Kak?.”


“Happy Birthday ya.”


“Makasih Kak.”


Arya nampak mengambil sesuatu dari sakunya. “Ini.” Menyodorkan sebuah kotak kayu yang terbungkus pita.


“Ih repot – repot banget sih lo Kak.” Ucap Andrea yang tahu bahwa itu kado ulang tahunnya dari Arya.

__ADS_1


“Ga ada yang repot buat lo Drea .. nih terima dong. Ga boleh menolak pemberian orang lain.”


“Iya deh, iya..”


Andrea pun menerima kado dari Arya dengan senyuman lebar.


“Buka dong. Masih setengah jam lagi kan masuk kelasnya?.” Ucap Arya sambil melirik arlojinya. Andrea mengangguk dan membuka kotak pemberian Arya.


Sudut bibir Andrea tertarik keatas. “Bagus banget Kak.”


“Hhh syukur deh kalau lo suka.”


“Sukalah Kak. Bagus banget ini gelangnya.” Ucap Andrea yang kemudian menoleh sembari tersenyum pada Arya.


“Pakai ya?.” Pinta Arya dan Andrea mengangguk. “Sini gue pakaikan.” Arya mengambil gelang fari kotak yang diberikannya pada Andrea. Sebuah gelang emas putih yang terukir nama Andrea dibagian luarnya.


“Makasih ya Kak Arya?.”


“Sama – sama.”


“Ya udah gue masuk ya?.”


“Okee cantiiiik..”


***


‘Hai Drea, udah tidur?.’


‘Belum Kak.’


‘Besok masih sekolah loh, jangan tidur malam – malam.’


‘Iya, ini juga mau tidur sih. Cek ponsel bentar.’


‘Oh Ya udah Sweet Dream ya cantik. Besok gue jemput lagi ya?.’


‘Ga usahlah Kak, nanti lo repot. Bukannya juga lo kuliah?’


*‘Kan gue bilang, ga ada yang repot buat lo.**Soal kuliah bisa diatur. Ga bentrok juga sama waktu mengantar lo ke sekolah. **Atau ga boleh ya sama Poppa kalau gue anter jemput lo ke sekolah?. ’*


‘Santai Poppa sih kalau sama lo Kak. Kecuali lo bukan anaknya om Rico yang ga Poppa kenal tuh baru. Lagipula kan udah sering lo antar jemput gue sebelum ini. Poppa juga tahu.’


‘Hehe, syukur deh kalo gitu. Ya udah Drea istirahat deh ya?. Mimpi indah ya cantik.’


‘Okeeee..’


‘Mudahan mimpiin gue. Hahaha ..’


***


Massachusetts, Amerika Serikat...


 


Varen langsung mengaktifkan ponselnya saat sudah sampai di Massachusetts. Lumayan pegal badannya dengan


perjalanan puluhan jam diudara. Namun Varen sudah berjanji akan langsung mengabari Andrea jika sudah sampai di Massachusetts. Melirik ponselnya, dan berpikir kalau Andrea kemungkinan sudah tidur saat ini.


Varen hendak berkirim kabar lewat aplikasi pesan saja, nanti jika waktu di Indonesia sudah pagi, baru dia akan menelpon atau melakukan panggilan video dengan Andrea yang sudah dirindukan si Abang meski baru sehari tak bertemu dan mengobrol.


Varen memegang dua ponsel, dan menyalakan keduanya bersamaan.


Tiit... Tiit... Tiit...


Rentetan nada notifikasi di kedua ponsel terdengar. Varen membuka pesan diponsel utamanya. Pesan dari Andrea yang paling pertama ia baca.


‘Jangan lupa kabari Drea kalau sudah sampai ya Abang.’


Varen menyunggingkan senyum lebar, namun tak langsung menjawab pesan dari Andrea.


Tiit... Tiit... Tiit...


Nada notifikasi diponsel Varen yang satu lagi terus terdengar. Sebuah ponsel khusus hasil modifikasi Varen yang memang jago dalam soal teknologi. Ponsel yang ia buat, sebagai kloning ponselnya Andrea.


Bukan ponsel kloningan biasa. Si Abang sudah mendesainnya sedemikian rupa, sehingga seluruh aktifitas yang dilakukan Andrea dalam ponselnya bisa ia lihat, bisa ia tahu.


Dari mulai apa yang Andrea cari di browser, hingga aktifitas di akun sosmednya Andrea, termasuk juga setiap panggilan, baik panggilan masuk atau keluar, bahkan si Abang yang jenius itu sudah mengaturnya sedemikian rupa sehingga percakapan diponsel Andrea bisa terekam, meski ia tak mendengarnya secara langsung.


Begitupun semua jenis pesan yang masuk ke ponsel Andrea.  Varen pun bisa akan selalu tahu keberadaan Andrea


dimanapun jika ia membawa ponselnya. Termasuk kamar mandi. Bahkan jika Abang berotak kotor, mungkin kegiatan Andrea dikamar mandi bisa Varen bisa lihat tanpa sensor.


Jangan tanya mengapa Abang bisa. Ya tentu saja bisa. Abang itu kan jenius. Bahkan dia mendesain satu perangkat khusus yang kini sudah digunakan oleh sebuah Lembaga Rahasia untuk membantu melacak sebuah target dengan akurasi diatas sembilan puluh persen.


Ponsel khusus itu memang sudah disiapkan Abang untuk mengkloning ponsel Andrea, sebelum ia kembali ke Jakarta beberapa waktu lalu. Sehingga semua kegiatan Andrea mulai sekarang, tidak akan ada yang luput dari pengawasan Varen. Just in case, Andrea ingin menyembunyikan sesuatu?.


Maklum, mode bucin nan posesif Abang sudah diaktifkan sejak Andrea menerima cintanya.


“Cih!.”


Varen berdecih. Dari sekian rentetan pesan yang masuk ada sebuah pesan dari sebuah kontak yang membuat


wajah Abang menjadi tak senang dan menggumam kesal.


“Jangan coba mengganggu milik gue, Arya Narendra”


***


To be continue...


Ma acih masih setia nungguin up ini novel.


Mohon maaf untuk sementara waktu, emak ga bisa bales komen. Sistem di web khusus Author lagi bermasalah atau emang pengaturan di PC nya emak yang bermasalah, entahlah. Error terus yang jelas asal mau jawab komen kalean.

__ADS_1


Yah emak cuma bisa bilang makasih aje deh yak, untuk setiap apresiasinya. Mohon maaf kalo masih ada kekurangan. Typo de el el, karena Emak hanya Emak - Emak biasa soale. Hehe..


Loph Loph


__ADS_2