
♣ SUATU KEADAAN ♣
**************************
Selamat membaca ...
Tentang Nathan dan Kevia sudah menggapai bahagianya.
Saat ini Nathan dan Kevia sedang menikmati Honey Moon mereka dengan menjelajahi benua Eropa. Meski Nathan
sudah sering, namun Kevia belum pernah sama sekali ke Eropa. Dan yang Nathan tahu juga, dari dulu Kevia ingin sekali bisa mengunjungi Paris.
Jadilah sekalian Nathan membawa Kevia untuk berbulan madu tidak hanya ke Paris namun negara – negara Eropa lainnya, dan terakhir mampir ke London untuk memperlihatkan pada Kevia Mansion keluarga mereka yang berada disana.
Memperkenalkan juga Kevia pada seluruh pekerja di Mansion mereka yang berada di London, karena saat
pernikahan Nathan dan Kevia di Jakarta hanya sebagian saja yang datang.
Apa yang pernah terjadi dalam masa lalu mereka, biarlah menjadi suatu pelajaran berharga tak hanya bagi
keduanya, tapi juga untuk seluruh anggota keluarga mereka yang lain.
Tak bosan lagi untuk mengulang setiap nasehat agar kesalahan yang pernah dilakukan Nathan tak ada lagi yang mengulangnya didalam keluarga mereka.
Nasehat itu kini baru sampai pada Mika yang dianggap sudah paham tentang pergaulan karena dia sudah memasuki usia remaja.
Waktu yang rentan bagi seseorang karena diusia tersebut biasanya para anak sedang menggali jati dirinya dan kelabilan pasti juga menyelimuti mereka diusia remaja.
PR para Dads dan Moms masih panjang, karena masih ada tujuh krucil yang masih dalam masa pertumbuhan.
Tugas yang sama juga diemban para kakek dan nenek serta para kakak untuk membimbing tujuh krucil itu akan
menjadi pribadi lebih baik dari mereka kedepannya.
Belum lagi dua pasangan muda, yang mudah – mudahan disegerakan diberi momongan oleh Sang Pencipta.
Maka nanti bertambahlah tugas dan tanggung jawab Varen, Andrea, Nathan dan Kevia yang tak hanya membimbing adik – adik mereka, namun kelak harus bisa menjadi panutan anak – anak mereka.
Makanya doa disertakan disetiap waktu agar kiranya semua keluarga selalu sehat disetiap harinya.
Aamiin.
**
Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia....
“Jeff dan Abang belum kembali Ji?” Tanya Papi John setelah ia sampai rumah setelah hampir seharian berada di Perusahaan dan ia juga sudah bebersih dan langsung turun ke ruang makan.
Saat ini hanya tinggal mereka yang memang berdomisili di Kediaman Utama yang berada di Jakarta, karena yang lain sudah kembali ke tempatnya masing – masing.
“Jeff sudah di jalan sih katanya”
“Humm”
“Kamu makan aja duluan John, ga usah tunggu Jeff” Ucap Mama Jihan.
Papi John manggut – manggut. “Iya gampang. Lagipula aku tunggu Prita dan krucils turun juga kan?” Sahut Papi
John. “Little Star mana?”
“Tadi pergi dijemput Ammar mau dinner diluar sama Abang dan Rendy dan Marsha juga katanya”
“Humm ya sudah”
**
Sepasang pengantin baru yang sudah menghabiskan tiga minggu Honey Moon dengan berkeliling Eropa termasuk
mampir ke London, selain untuk mengunjungi keluarga mereka yang berdomisili di sana, Nathan juga sekalian mengajak Kevia berkeliling London dan sekitarnya kini sudah kembali ke Jakarta.
“Kamu sudah harus mengatur jadwal kuliah dan jadwal kamu bekerja di Perusahaan Boy” Daddy Jeff meraih cangkir kopinya saat ia dan mereka yang berada di Kediaman Utama sedang duduk bercengkrama di sabtu siang menjelang sore itu.
“Iya Dad”
Nathan mengiyakan tanpa ragu. Sudah janjinya kalau ia akan menjadi anak yang patuh pada orang tua setelah kasusnya dengan Kevia dulu.
Toh juga Nathan sadar akan statusnya sekarang. Ia sudah menjadi suami dan sudah kewajibannya untuk memberi
nafkah lahir dan batin bagi Kevia.
Meskipun tanpa harus bekerja pun, rasanya uang Nathan cukup untuk membiayai hidupnya dan Kevia. Jatahnya
sebagai cucu dari Gappa saja sudah lumayan jumlahnya, belum dari orang tuanya, ditambah Nathan adalah seorang gamer papan atas seperti halnya Abang yang dapat menghasilkan pundi – pundi yang lumayan jumlahnya hanya bermodal duduk didepan komputer sambil main game.
Namun Nathan ingin mengikuti jejak para pria dalam keluarga mereka, yang merupakan para Pebisnis handal
diluar hal – hal mengerikan yang pernah terjadi di keluarga mereka.
Para pebisnis itu bisa menjadi seseorang berdarah dingin yang tak kenal ampun jika keluarga mereka terusik sedikit saja. Walau begitu, Gappa, para Dadsnya, Abang bahkan Ake Herman adalah panutannya dengan kelebihan mereka masing – masing.
“Via mau kuliah?”
“Terserah Jo, Ma”
“Loh kok terserah aku?”
“Ya kan apa – apa harus ijin suami bukannya?”
“Aduh, istri sholehah”
“Memang Drea ga sholehah?” Andrea melirik sinis pada si Abang yang ada disampingnya. Mereka yang sedang
duduk bercengkrama bersama itu terkekeh kemudian termasuk si Abang sendiri.
“Sirik aja lo cute girl”
“Ye, memang gue sholehah! Coba, gue selesai kuliah aja langsung pulang. Kalaupun mau pergi gue telpon nih
suami gue, kalo ga bisa dihubungi gue ga jadi pergi. Hayo?”
“Iyaa istri kecil Abang nih, sholehahnya bukan main. Makanya Abang cinta mati kan?”
“Idih! Sok banget mesra!”
“Ye sirik!” Ledek Andrea sembari menjulurkan sedikit lidahnya, setelah Varen kemudian memangku nya tanpa risih didepan para Mom dan Dad yang sedang bersama mereka. Sudah biasa sih, semua anggota keluarga sudah tahu sangat tentang Masya Allah nya kebucinan si Abang pada Andrea. Kevia tersenyum saja, ia sudah mulai terbiasa dengan tingkah polah tiap – tiap orang dalam keluarga suaminya.
“Jadi gimana itu si Via boleh kuliah ga?” Celetuk Daddy Dewa yang kemarin baru kembali dari Norwegia.
__ADS_1
“Ya bolehlah” Sahut Nathan. “Mau kuliah kan?”
Nathan beralih pada Kevia.
Kevia mengangguk. “Iya mau”
“Nah berarti tinggal tentukan mau kuliah dimana”
“Kalau soal itu aku belum kepikiran”
“Passion kamu?” Tanya Mama Jihan pada menantunya itu.
“Via maunya sih psikologi gitu”
Nathan yang menyahut.
“Iya kan?”
Kevia pun mengangguk, mengiyakan.
”Iya maunya. Berhubung pernah tinggal di panti dulu saat Via sedang ‘terganggu’ bersama teman – teman sefrekuensi, rasanya Via ingin punya ilmu berlebih soal psikologi. Berharap bisa lebih membantu”
Nathan dan yang lainnya tersenyum.
“Kami akan sangat mendukung kalau begitu, Sayang”
“Makasih, Ma”
**
“Eh iya waktu itu kan katanya ada masalah di pantinya Marsha?. Gimana itu sudah selesai?. Yang pernah pergi mereka balik lagi atau gimana?”
“Sudah dianggap selesai kan, Vi?”
“Iya sudah. Tapi mereka yang pergi dari panti itu ga ada yang kembali satupun”
“Ya sudah keputusan mereka seperti itu, Vi”
“Iya” Sahut Kevia. “Tapi ada sedikit yang mengganjal dihati aku tentang mereka yang meninggalkan panti” Kevia nampak berpikir.
“Janggalnya?”
“Via juga ga bisa jelasin sih, Mi. Cuma rasanya ada yang aneh aja gitu dengan mereka yang meninggalkan panti. Beberapa ada yang Via kenal dekat soalnya” Ucap Kevia. “Dan mereka itu masuk dalam kategori labil banget, mesti dipeluk banget. Yah, bukan menghina tapi kondisi mental mereka lebih parah dari Via saat Via tinggal di panti dulu.”
Nathan dan yang lainnya fokus mendengarkan.
”Bukan sakit jiwa dalam artian gila sih. Cuma kalau diarahkan kesesuatu yang salah, dengan kondisi mereka yang belum pulih banget pastinya bisa membuat mereka salah melangkah. Yah labil lah bahasanya. Meski fisik mereka sehat dan ya mental mereka sudah lumayan baik dari sebelumnya. Cuma kalau mereka pergi gitu aja, apalagi ada yang kasus ketergantungan narkoba juga, ngerinya mereka terpengaruh lagi”
“Ya sudah, jangan terlalu merasa terbebani”
“Sedikit iya”
“Mungkin itu karena kamu dekat, baik dengan yang bersangkutan maupun ikatan batin kamu dengan panti milik Marsha itu cukup kuat aja Via... Makanya kamu kepikiran”
“Iya mungkin” Sahut Kevia yang kemudian mengurai senyuman tipis dibibirnya.
**
“Jo....” Kevia dan Nathan sedang berada di dalam kamar mereka untuk beristirahat, karena setelah sampai di Jakarta, lelah itu baru mereka rasa.
Nathan yang sedang berdiri sambil menghisap batang nikotin itu pun menarik Kevia dalam dekapannya setelah
mematikan rokok yang belum habis dia hisap. “Kenapa hem?”
“Kamu nih. Masa aku larang?” Nathan mencubit gemas hidung Kevia. “Ya boleh lah. Tapi lusa aja ya?. Kita kan baru pulang. Istirahat dulu. Nanti lusa aku temani” Ucap Nathan.
Keviapun mengangguk.
“Ya udah, ayo tidur”
Nathan menyeringai jahil.
“Ayo!”
Digandengnya Kevia dengan semangat.
“Aku lagi halangan”
Lesu kemudian.
**
Bogor, Jawa – Barat, Indonesia ..
“Kalian ga apa – apa kan kalau kami tinggal sebentar?”
“Iya ga apa – apa Kak”
“Ga apa – apa kan Litlle Star?. Kebetulan sedang disini, aku sama Nathan mau berkunjung ke factory dulu”
“Iya Bebeb Abang...” Sahut Andrea manja.
“Ya sudah, Meissa dan Niki akan menjaga kalian selama kami tinggal. Ammar akan ikut aku dan Nathan”
“Oh iya mana mereka? Ga ada itu mobilnya”
“Sebentar lagi sampai. Habis isi bensin”
“Oooo ...”
“Bulet!”
“Ya udah aku sama Via turun deh ya. Kalian langsung jalan aja”
“Nanti tunggu dua orang itu muncul” Sahut Varen cepat.
“Ah cie Bebeb Abang, takut banget istrinya tergores”
“Amit!”
“Sirik!”
**
“Kalian tunggu dimobil aja” Titah Andrea pada kedua pengawal pribadi yang ditempatkan Abang untuk menjaganya dan Kevia, setelah kedua orang itu selesai menurunkan barang – barang yang dibawakan sebagai hadiah untuk mereka yang tinggal di panti milik Marsha tempat Kevia pernah tinggal saat jiwanya sedang sangat labil empat tahun lalu.
“Tapi kami diminta Tuan Muda Alvarend untuk selalu dekat dengan Nona dan Nona Kevia”
Niki, salah satu pengawalnya berbicara.
“Ini Panti, bukan sarang teroris. Aku sama Via didalam itu untuk menyapa dan bercengkrama dengan mereka yang tinggal disini. Nanti mereka malah ga nyaman kalau kalian berada didalam”
__ADS_1
Andrea menelisik penampilan kedua pengawal pribadinya dan Kevia itu.
“Iya kalian disini saja. Mas Niki kan sudah tahu didalam itu bagaimana?” Kevia menambahkan.
‘Mas lagi. Ish Nona Muda istrinya Tuan Jonathan ini kenapa selalu panggil gue dengan embel – embel Mas. Muka gue gantengnya ga kalah kayak V – nya bts gini masa dipanggil Mas?’
“Niki!”
“Um – Ya Nona Andrea?”
“Dengar ga itu yang barusan Via bilang?. Kamu kan udah tahu didalam kayak apa, jadi ga usah berlebihan!” Timpal Andrea.
“Iya dengar Nona” Sahut Niki sopan.
“Lagipula sepertinya mereka sedang kedatangan beberapa tamu. Kalau mereka lihat kalian nanti disangka panti ini tempat perekrutan calon pembunuh bayaran malahan!. Pokoknya kalian tunggu dimobil. Mata kalian kan jeli. Kalau ada yang mencurigakan diluar pasti kalian juga bisa langsung tahu! Lagian kalian nih ga punya stok pakaian lain di lemari selain setelan jas apa? Heran deh betah banget pake Jas. Ya udah pokoknya kalian tunggu disini aja. Dalam mobil sekalian kalau perlu.”
Niki dan satu pengawal pribadi lainnya yang adalah seorang wanita itu langsung mengangguk setelah mendengar cerocosan salah seorang Nona Muda mereka yang kecepatan bicaranya luar biasa. Terserah Nona Muda Andrea lah.
“Baik Nona”
Niki dan Meissa menjawab bersamaan sementara Kevia mesam – mesem saja.
“Ya sudah. Ayo Vi kita kedalam” Ajak Andrea pada Kevia yang sudah menggandeng tangan wanita yang bisa
dikatakan adalah kakak iparnya itu. Mereka berdua pun langsung memasuki panti milik Marsha dimana banyak anak – anak broken home atau pun yang kehilangan arah atas apa yang sudah menimpa hidup mereka, hal buruk jelasnya, ditampung dan dirangkul disana.
**
“Viaa!!!...”
"Kak Viaa!! ..."
Sebagian besar penghuni panti yang sudah diperlebar lahannya oleh Marsha sebagai pemilik tunggal, dengan bantuan dari Kevia dan Nathan juga keluarga mereka itupun berhambur sumringah saat melihat Kevia yang datang bersama Andrea siang itu.
Kevia tampak juga sumringah dan Andrea menunjukkan senyum cantiknya.
Mereka yang tadi memeluk Kevia kemudian beralih untuk menyalami Andrea. Lalu berkumpul di ruang tengah panti tersebut untuk membuka hadiah yang Kevia dan Andrea bawakan untuk mereka.
Kevia yang ikut membantu membukakan hadiah yang banyaknya adalah pakaian serta peralatan lainnya bersama
Andrea kemudian celingukan.
“Mba Emali mana?” Tanya Kevia pada salah satu penghuni panti yang kira – kira seusia Andrea.
“Di kantor. Lagi ada tamu”
“Siapa? Donatur?”
“Tau. Ibu – ibu. Baru liat”
“Huumm”
“Tapi bawahannya sering kesini”
“Kok kamu tau?” Tanya Kevia.
“Aku merhatiin. Soalnya aneh!” Jawab gadis yang sedang diajak bicara oleh Kevia itu.
“Anehnya?”
“Lo tau Eshal kan?” Ucap gadis tersebut sembari setengah berbisik.
“Iya taulah!”
“Eshal itu pergi, setau gue, setelah beberapa kali diajak ngobrol sama bawahannya itu ibu – ibu”
“Terus?”
“Nah, kalo gue inget – inget ya, sebelum Eshal mereka yang kabur dari sini itu setelah itu bawahan ibu – ibu yang lagi ngobrol sama Mba Emali mulai sering dateng kesini, donatur sih kata Mba Emali waktu gue tanya”
“Hanya kebetulan aja kali?”
Kevia berbicara santai dan Andrea memperhatikan gadis yang sedang mengobrol setengah berbisik dengan Kevia
itu.
“Kok masih terima donatur Vi?. Bukannya kamu udah bilang sama Kak Marsha kalau keluarga kita yang akan jadi donatur tunggal tempat ini?”
“Iya juga sih”
“Tuh, aneh kan?”
“Nanti coba aku tanya Kak Marsha lagi. Mungkin belum bilang aja kali ke Mba Emali” Ucap Kevia.
“Kamu kenapa bicaranya bisik – bisik gini?”
“Habis gue ngerasa sejak itu bawahan si ibu tamunya Mba Emali mulai sering dateng kesini, kayaknya gerak gerik kita orang tuh ada yang ngawasin”
“Perasaan kamu aja kali La”
“Entah. Tapi gue merasa itu bawahan termasuk si ibunya itu mencurigakan, Mba Emali juga agak – agak mencurigakan gelagatnya sejak mereka sering kesini. Bawahan itu ibu sih, kalo ibunya baru gue liat hari ini”
“Mencurigakan gimana?”
“Yah mencurigakan aja” Sahut gadis yang dipanggil La oleh Kevia itu. “Lagian yang pergi dari sini selain Eshal, itu anak cewe semua yang mukanya cakep – cakep kayak Eshal. Filia.. Halyn... sama Lina”
Kevia terdiam sesaat. Andrea memperhatikan. “Kenapa Vi?” Tanya Andrea. Kevia menggeleng dan tersenyum
kemudian. “Benar itu yang dia bilang?”
“Iya benar” Jawab Kevia.
“Aneh kan?”
“Mungkin kebetulan aja kali La”
“Ya terserah aja sih”
‘Memang agak aneh sih ..’ Kevia membatin.
‘Ini cewe lagi bener apa engga ya?. Kalau benar rasanya butuh diselidiki ga?’
Andrea juga membatin sembari memandangi gadis yang dipanggil La oleh Kevia itu.
‘Tapi ini anak bukannya ketergantungan narkoba ya?. Mereka yang ketergantungan narkoba parah bukannya
suka halu? Tapi dia sudah agak baik juga kan kondisinya kalau menurut ceritanya Via waktu itu’
Otak cantik Andrea sedang berpikir dan menimbang.
‘Ah nanti gue bicarakan aja sama Abang soal omongannya ini cewe’
__ADS_1
**
To be continue ..