THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 68


__ADS_3

🍁PERENCANAAN🍁


******


Selamat membaca....


******


“Jadi kita bakal ngelamar Jihan ke rumah barunya?.”


Fania sudah berkumpul bersama seluruh Keluarga Adjieran Smith setelah Dad, Mom, Reno, Ara, Varen berikut Mama Anye sudah sampai di Jakarta. Jeff mengangguki ucapan Fania.


“Who’s first? You or you? (Siapa yang duluan? Kamu atau kamu?).”


Dad bertanya seraya menunjuk dua J.


“Any (Terserah aja).” Sahut John.


“Pendapat kalianlah .. Kami ikut saja kalian maunya bagaimana.”


“Fania, any idea? (Fania ada ide?).”


“Fania ikut aja, Dad.” Sahut Fania.


“Kenapa ga dibarengi aja sih, disatu tempat gitu?.” Mom mengajukan ide. “Kan enak tuh kita mengaturnya sekalian.” Ucap Mom.


“Ga enak sama papa dan mama, ga enak juga sama keluarganya Jihan. Masa resepsi nanti sudah berbarengan, lamaran juga. Iya ga Jol?.”


John berpendapat.


“Kalo menurut gue sih, ide Mom boleh juga tuh. Resepsi kan udah dibarengin tuh.” Sahut Fania. “Kan enak jadi sekalian capenya. Anggep aje lamaran masal, nah akad nikah bareng juga, untung udeh pada sunat kan, kalo kaga pas udah itu sepaket ama sunatan masal.”


Ucapan Fania membuat seluruh keluarga tergelak geli. “Jol, Jool. Lo sih seriusnya Cuma lima menit kalo diajak bicara.” Celetuk Jeff sembari terkekeh.


“Ih gue serius itu.”


“Ya ya ya..”


“What about you first, Jeff? (Gimana kalau lo aja yang duluan, Jeff?). Jihan toh hanya ada sedikit keluarganya, setelah itu kita sekalian buat pesta lamaran saat John melamar Prita di rumah papa dan mama.”


Giliran Andrew yang mengajukan pendapat.


Anggota keluarganya manggut – manggut.


“Gue setuju dengan idenya Andrew.” Sahut Reno.


Michelle dan Dewa mengangkat jempol mereka,  mama Anye juga ikutan.


“Kita bisa buat acara yang agak meriah kan?. Lagipula keluarga papa dan mama juga lebih banyak daripada keluarganya Jihan dan kita juga kenal dengan para tetangga baik yang dirumah lama mereka dan dirumah yang sebelumnya.”


‘Bau – bau minta dangdutan ini sih.’ Batin si Kajol penuh selidik.


“Iya Andrew benar juga. Aku setuju seperti itu.” Ucap Ara.


‘Pinter juga ini si botak.’ Batin kakak ganteng. ‘Dad kesampaian mau lihat goyang biduan, sepertinya. Hahaha.’


'My Son, he knows me so well ( Anak lelakiku, memang paham betul ).' Batin Dad yang iseng pengen liat goyang biduan lagi. “Twins? (Anak kembar?). Do you guys agree? (Kalian berdua setuju?).” Tanya Dad dan dua J dan kedua pria yang dimaksud itu mengangguk setuju.


“Ya sudah kalau begitu lebih baik kita tentukan waktunya. Lebih cepat lebih baik. Tapi jangan buru – buru macam


si Donald Bebek itu!.” Ucap Mom dan yang lain pun terkekeh lagi. Lalu mereka semua pun menentukan tanggal lamaran untuk dua J berikut persiapannya.


***


John menyambangi Prita di rumah Keluarga Cemara. Setelah kejadian tak mengenakkan yang menimpa Prita, selain John dan keluarganya yang lain mewanti – wanti agar untuk sementara waktu Prita tidak melakukan kegiatan diluar, Prita sendiri juga rasanya masih enggan untuk kemana – mana dulu.


“Bolehkah saya masuk, Nona Prita?.” Kepala John menyembul di pintu kamar Prita yang tidak terkunci setelah ia membukanya. Sudah beberapa kali mengetuk tidak ada jawaban, jadi John berinisiatif membuka pintu kamar Prita.


“Eh Kak John?.” Prita terkesiap saat melihat kehadiran John. Ia yang sedang berleha – leha diatas tempat tidurnya sambil memasang headset ditelinga dan nampak sibuk dengan laptopnya.


“Pantas aku ketuk – ketuk pintu ga ada jawaban.” Ucap John saat Prita sudah berdiri dihadapannya.


John meneguk salivanya. Pasalnya Prita menggunakan pakaiannya saat di rumah kalau sedang tidak menunggu tamu. Racerback tanktop berbelahan dada sedikit rendah dan hotpant yang hanya menutupi setengah pahanya yang mulus itu cukup membuat John dag dig dug serrr ..


‘Haish ...ingin gue usap - usap.’


Mata sibule koplak fokus tertuju pada penampilan Prita yang sudah berjalan membelakanginya.


“Masuk Kak, sorry berantakan. Kak John ga bilang mau dateng.”


“Mau ajak kamu keluar sih rencananya. Sekalian bicara soal acara lamaran kita nanti. Tadinya mau sekalian bicara sama papa dan mama, tapi kata bibi mereka sedang ke Bogor.”


John sudah mendudukkan dirinya diatas sofa dalam kamar Prita.


“Iya, lagi ke rumah om Pras sekalian ngasih tau acara lamaran kita sama sodara yang laen.”


Prita duduk disamping John.


“Eh iya Prita minta bibi buatin minum dulu buat Kak John ya?.”


“Ga usah, bibi juga pasti udah buatkan.”


“Mmm. Kak John mau ajak Prita kemana memangnya?.” Ucap Prita sambil menopangkan sikunya diatas bantal kecil sambil menoleh pada John.


Gluk!.


John kembali menelan salivanya. Dengan posisi Prita yang seperti itu, sedikit membuat apa yang tersembunyi dibalik racerback tanktopnya itu terlihat meski samar. Tapi bikin penasaran.


“Permisi Non Prita, Tuan John, ini minuman Tuan John.”

__ADS_1


Bibi datang dengan membawa nampan yang berisikan cangkir dan potongan kue.


“Makasih ya Bi.”


John dan Prita bicara bersamaan.


“Iya sama – sama. Non Prita mau dibuatin minum juga sama diambilin kue lagi?.”


“Ga usah Bi.”


“Ya udah, Bibi permisi kalau begitu.”


John dan Prita sama – sama mengangguk.


“Minum dulu, Kak.”


John menghela nafasnya dengan sangat pelan. Prita yang sedang menyodorkan cangkir berisi kopi dengan setengah menunduk itu sedikit membuat dengkul John gemetar.


“Memang untuk acara lamaran masih ada yang kurang ya Kak?.”


John tak menjawab. Fokusnya pada suara Prita sedang lumayan ambyar.


“Kak?.”


‘Gue jadi ingin minum susu.’ Batin sibule koplak yang sedang curi – curi pandang tapi fokus ke pabrik susu milik si Priwitan yang masih tertutup terpal tapi cukup menggoda imin itu. Rasanya John ingin lari ke pintu kamar Prita dan menguncinya.


*****


“Memang Kak John mau ajak Prita kemana?.” Tanya Prita pada John saat ia sudah berada dalam mobil kekasih dewasanya itu.


“Lihat rumah.” Sahut John.


“Hah?.”


“Aku mau ajak kamu untuk melihat beberapa rumah yang aku rasa cukup bagus.”


“Maksudnya Kak John mau beli rumah gitu?.” Tanya Prita.


“Kita.”


Prita terdiam.


“Kenapa?.”


“Aku rasa sih ga perlu deh Kak.”


“Memang kenapa?.”


“Apartemen Kak John kan udah ada. Buat apa beli rumah?.”


“Memang kamu ga apa – apa tinggal di apartement?.”


“Ga masalah sih Kak. Lagian setelah lamaran kita ga buru – buru nikah juga kan?.”


“Memang kenapa kalau kita buru – buru nikah setelah lamaran?.” Tanya John kemudian.


“Prita belum siap Kak, kalau harus nikah cepat – cepat.”


Raut wajah John sedikit berubah, sambil menoleh lagi pada Prita yang kini sedang menatapnya.


John belum lagi bersuara dan tatapannya kini lurus kedepan.


“Prita ....”


“Kita bicarakan soal itu nanti.” John memotong ucapan Prita. “Aku sudah terlanjur janji dengan satu agent hari ini, jadi setidaknya kita lihat dulu salah satu rumah. Setelahnya baru kita bicara.”


“Iya Kak ....”


***


“Kamu masih meragukan aku Prita?.” John langsung bertanya to the point pada Prita saat keduanya sudah sampai di apartemen John.


“Bukan begitu maksud Prita. Prita bukannya ragu sama Kak John. Justru Prita ragu sama diri Prita sendiri.”


Prita tertunduk dalam duduknya di sofa kini.


“Prita... kayaknya belum mampu untuk menjadi seorang istri.”


John berpindah duduk tepat disamping Prita.


“Lihat aku. Apa yang membuat kamu merasa tidak mampu?.”


John menatap lekat pada Prita.


“Ya ... Prita takut aja ga bisa ngimbangin Kak John aja. Kan ... perbedaan kita banyak, Kak....”


“Umur maksud kamu?.”


Prita terdiam.


“Kamu malu, kalau bersuamikan pria yang punya perbedaan umur sangat jauh dengan kamu?.”


Prita menggeleng cepat. “Engga Kak, sama sekali engga.”


“Lalu?.”


“Prita ga pede Kak.” Ujar Prita. “Kehidupan sosial kita jauh berbeda. Pergaulan Kak John pastinya kan high class, orang – orang disekitar Kak John, termasuk cewe – cewe itu kan pasti dari kalangan terpelajar seperti Kak John. Sementara Prita, kuliah aja engga.”


Prita berbicara dengan menundukkan wajahnya lagi.

__ADS_1


“Prita takut malu – maluin Kak John nantinya.”


“Jadi itu alasan kamu tidak ingin menikah cepat – cepat?.” Tanya John.


Prita mengangguk.


“Ditambah lagi aku Cuma dancer kak.”


John meraih dagu Prita agar menatapnya.


“Kamu hanya mencari alasan, Prita.” Ucap John.


“Prita bukan mencari alasan, Kak... memang itu yang....”


Cup.... Prita tak sempat melanjutkan kata – katanya karena bibir John keburu membungkam nya. Merangkul pinggang Prita dan memperdalam ciumannya.


Prita memejamkan mata saat John memperdalam ciumannya pada Prita.


Ciuman dalam namun lembut dari John itu begitu membuai nya.


Prita membuka matanya saat John telah menghentikan ciumannya.


“Kamu tahu, Prita ... seberapa besar aku menahan diri aku untuk tidak menerkam kamu saat ini?.”


John menatap Prita lekat – lekat.


“Semua itu karena aku tulus mencintai kamu.” Ucap John. “Kamu memang bukan wanita pertama dalam hidup aku,


tapi apa yang aku rasakan pada kamu, itu tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Bahkan mungkin saat aku merasa jatuh cinta pada Aila pun tidak sampai seperti ini.”


Prita tak berkomentar.


“Baru ini aku merasa bagaimana cemburu yang berlebihan, betapa aku takut kehilangan.” Ucap John lagi. “Dan aku tahu, pasti ada yang mengganjal dalam hati kamu tentang masa lalu aku. Tentang aku yang pernah tidur dengan beberapa wanita....”


“Stop!.” ( Kau mencuri hatiku.... hatiku ... ) 😃


Prita menempatkan telapak tangannya dibibir John.


“Sebelum Prita jatuh cinta sama Kak John, sedikit banyak Prita sudah mendengar tentang masa lalu Kak John. Tapi Prita tetap jatuh cinta kan?.”


Prita menghela nafasnya.


“Prita ga perduli berapa banyak cewe yang udah pernah bersama Kak John, dan berapa banyak cewe yang udah


Kak John bawa kesini. Dan bukan itu alasan Prita ragu untuk menikah dengan Kakak. Jadi soal cewe – cewe itu jangan kak John bahas lagi depan Prita. Prita ga suka dengernya.”


John membawa Prita untuk bersandar didadanya.


“Oke, aku ga akan bahas soal itu lagi. Tapi janji.”


“Apa?.”


“Jangan pernah berhenti mencintai aku.”


“Iya Prita janji.”


“Satu hal lagi.”


“Apa?.”


“Baru kamu wanita yang pernah tidur di ranjang aku.”


“Yang lainnya main di kamar tamu?. Apa disofa ini?.”


John terkekeh. 'Sok tahu banget dia soal 'main'.' Batinnya.


“Enak aja. Kamu satu – satunya wanita yang berstatus pacar aku yang aku ijinkan masuk kesini. Tidur dikamar aku pula.”


“Masa?.”


“Beneran Prita .... selain bibi atau keluarga kita yang pernah datang kesini, ga ada lagi wanita – wanita lain yang aku ijinkan datang apalagi masuk kesini. Bahkan di lantai bawah pun sudah aku minta security untuk menghadang mereka yang pernah mencoba kesini.” Jelas John. “Percaya atau engga ya itu kenyataannya.”


“Iya deh Prita percaya.”


“Terdengar seperti terpaksa itu ucapan.”


Prita terkekeh. “Kak John aja sendirinya tukang maksa sama aku.”


Gantian John yang terkekeh. “Masa?.”


“Iya emang. Ciuman pertama Prita aja Kak John renggut dengan paksa....” Prita sedikit salting saat berbicara dan menoleh lalu mendapati John menatapnya dengan senyuman yang nampak aneh baginya. “Kenapa ngeliatin Prita begitu?.”


“Tadi kamu bilang apa? Ciuman pertama kamu sama aku?.” Ucap John dengan tersenyum.


Prita mengalihkan pandangannya.


“Lihat aku sini.” John menangkup wajah Prita dengan senyuman jahil diwajahnya.


Wajah prita sedikit merona.


“Jadi selain aku pacar pertama kamu, ciuman pertama kamu juga milik aku?.” Seringai miring tersungging diwajah John.


“Tau ah!.” Prita mencoba mengalihkan pembicaraan. Wajahnya masih sedikit bersemu.


‘Pacar pertama, ciuman pertama. Berarti pabrik susu nanti gue yang gunting pita.’ Batin msum sibule koplak berkata. Otaknya mulai travelling. 'Berarti pengeboran pertama tambang Prita, gue juga dong ya?.*’


Si bule koplak cengengesan ga jelas.


‘Pengeboran pertama nanti, gaya apa enaknya?.’

__ADS_1


*****


To be continue ...


__ADS_2