THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 149


__ADS_3

  HAPPINESS  TOWARD ALL THE MORE 


       ( Bahagia Kian Menjelang )


Selamat membaca.......


*****


Save House..


“Haish bagaimana Mom bisa tidak teringat pada Lucca?.. padahal dia sudah seperti kalian juga.” Mom menyesali dirinya sendiri setelah mendengar cerita bagaimana para pria bisa lolos dari ledakan di rumah Uncle Keenan.


“Aku pun tidak terpikir sampai ke Lucca, Mom.” Ara menimpali. “Dia sangat jarang berkumpul bersama kita, bahkan aku saja bisa dihitung dengan jari bertemu Lucca dan hanya sekali bertemu dengan istrinya.”


“Aku juga tidak pernah tahu tentang Lucca.” Ucap Michelle. “Kenapa kalian tidak pernah cerita sih?.” Tanyanya.


“Yah, Mom pun juga sangat jarang bertemu dengan Lucca dan Fabiana meski Mom sudah menganggap mereka


seperti halnya kalian, putra – putri kami.”


“Well, Kami memang tidak mengekspose kedekatan kami dengan Lucca.” Sahut Dewa. “Selain untuk pertahanan, disaat – saat genting seperti yang baru aja terjadi, Mom tahu sendiri Lucca itu benci terekspos.”


Mom berikut para wanita hanya manggut – manggut.


“But he will come here soon, as he promised to me ( Tapi dia akan datang kesini secepatnya, seperti janjinya padaku ).”


“Dan Mom akan paksa dia untuk sering – sering berkumpul dengan kita, agar wajahnya yang terlalu tegang seperti over dosis botok meskipun dia tampan itu sedikit santai.” Timpal Mom atas ucapan Dad.


Yang lain pun spontan tergelak.


"Iya bener tuh, Mom. Kebanyakan botok itu orang keknya. Mukanya kaku banget biar dia lagi ngomong juga." Celetuk Fania dan keluarganya tergelak lagi. 'Untung aje cakep.' Batinnya. Memuji pria lain didepan Andrew secara terang - terangan sangat tidak dianjurkan soalnya.


“Ya sudah, lebih baik kita semua pergi beristirahat sekarang.”


“Mama Anye bener tuh, kasihan anak – anak, istirahat mereka terganggu oleh kita dari semalam.” Sahut Fania.


Semua orang mengiyakan dengan anggukan. Lalu mereka semua kembali ke kamar masing – masing bersama istri dan putra – putri mereka.


*****


Sementara itu di Italia ....


"Uhuk.... Uhuk.... Uhuk.... Uhuk...."


Seorang pria yang baru saja menenggak segelas air tiba - tiba tersedak tanpa sebab.


'Who is talking about me? ( Siapa yang sedang membicarakanku? ).'


*****


Hari tak lagi pagi, karena semua yang berada di Save House baru pergi beristirahat saat pagi menjelang akibat semalaman mengobrol dan melepas rindu dengan semua keluarga selama beberapa minggu.


Bahagia. Sangat!. Hati seluruh anggota Keluarga Adjieran Smith begitu bahagia saat ini. Duka itu sudah terbang, luka itu telah terobati. Tak ada lagi pedih dan perih dalam hati akibat rasa kehilangan. Semua awan hitam telah bergeser, untuk memberi ruang pada pelangi.


“Greetings to all of you, Fabulous and Happy People of My Beloved Fam! .... ( Salam untuk kalian semua, Wahai


Orang - Orang Menakjubkan nan Bahagia di Keluargaku Tercinta! ).”


Suara si Donald Bebek yang berat dan ngebas itu menyapa setiap orang yang berada di Save House saat ini.


Dan hari ini suara berat dan ngebas milik Andrew itu menyiratkan keceriaan dan kebahagiaan yang ia rasa.


“Thanos sama Maleficent sudah bangun tuh!....” Celetuk kakak ganteng yang sedang menggendong Valera. Mereka


pun terkekeh seraya menoleh pada Andrew dan Fania dan Andrea dalam gendongan Andrew.

__ADS_1


“Whatever you say R .... ( Terserah deh lo bicara apa R ).... Yang penting gue, Fania dan Andrea Ba – Ha – Gia!!.”


“Ya.... Ya.... Ya....”


“All of Us Thanos! All of us are happy! ( Kita semua Thanos! Kita semua bahagia! ) Very! ( Sangat! ).” Ara menimpali dengan tersenyum sumringah.


Semua anggota keluarga yang kini sudah berkumpul pada ruangan yang memang dipakai untuk berkumpul itu pun


manggut – manggut sambil menikmati cemilan dan minuman yang telah disediakan Ben dan Theresa sambil menunggu Nino atau Ezra datang untuk menginformasikan kalau mereka semua sudah bisa kembali ke Mansion.


“Okay .... okay ....”


“Jadi, bagaimana ‘pertempuran’ dalam tanah kalian?. Sukses?.”


Pertanyaan Mom yang iseng itu kembali membuat semua anak dan menantunya terkekeh geli dan tergelak, termasuk juga Dad dan Mama Anye.


“Success of course! ( Sukses dong! ). Kapan lagi, iya ga?.”


“Pasti.”


“Pasti Kak Jihan ‘dihajar’ habis – habisan sama Kak Jeff, ya Kak?.” Celetuk Prita sambil cekikikan dan menoleh pada Jihan yang duduk disampingnya. Yang lain juga ikut cekikikan.


“Bukan lagi, Prita!. Bumi gonjang – ganjing!.” Jihan melirik pada Jeff yang masih cekikikan dan kini menoleh padanya.


“Hahahaha!....”


Semua orang kembali tertawa geli.


“Like Andrew said ( Seperti yang Andrew bilang ), who knows ( siapa tahu ) adiknya Nathan bisa muncul, kan? ....”


“Ya jika memang hadir adiknya Nathan, Andrea atau bahkan Valera dan si kembar serta Mika gara – gara ‘peperangan’ kalian semalam, nanti Mom akan panggil mereka Kura – Kura Ninja!. Pas kan, lahir didalam tanah? ....” Timpal Mom yang membuat ia terkekeh sendiri diikuti Dad dan yang lain pada akhirnya.


“Dikata got kali ini Save House.” Celetuk Fania pelan.


****


Fania menoleh kala mendengar suara Andrew dibelakangnya bersamaan dengan rengkuhan dua tangan kekar di


pinggangnya.


“Kenapa, hem?.” Tanya Andrew pelan ditelinga Fania. Dan istri tercintanya itu pun tersenyum.


Andrew belum melepaskan rengkuhannya dipinggang Fania.


“Kamu sedang teringat akan hari – hari itu ya?.”


“Iya ..”


Andrew makin mendekap Fania dengan sedikit membungkuk dari belakangnya. “Maaf..” Ucap Andrew pelan. “Maaf sudah membuat kamu bersedih.”


“Karna aku ga rela kehilangan kamu, D.”


“Akupun sama.” Andrew menegakkan tubuhnya dan melepaskan rengkuhannya sambil membalikkan tubuh Fania


agar menghadapnya. “Aku dan yang lain melewati waktu yang berat juga saat terpisah dengan kalian.” Ucapnya. “Meski kami tahu kalian akan baik – baik saja disini, tapi kami tahu kalau kalian pasti sangat menderita mengira kami semua menjadi korban dalam tragedi di rumah Uncle Keenan.”


Andrew mendesah setengah frustasi mengingat waktunya dan para pria di Italia saat sedang memisahkan diri dari para istri dan anak – anak mereka. Ia membawa Fania dalam dekapannya erat.


Fania balik mendekap juga suaminya itu. “Yang penting sekarang kita semua sudah berkumpul lagi, tanpa kurang satu apapun.” Ucap Fania seraya melepaskan dekapannya hingga tubuhnya dan Andrew sedikit berjarak, namun kedua tangannya masih melingkar dipinggang Andrew. “Bahagia punya kita sekarang.”


Andrew pun mengangguk sambil tersenyum dan mendekap Fania sekali lagi sambil memberi kecupan dipucuk kepala istrinya itu.


“Ya sudah yuk, semua orang pasti sudah siap untuk kembali ke Mansion. Mereka pasti juga sedang menunggu kita.”


“Iya ayo.”

__ADS_1


“Kapan – kapan kita bisa kesini lagi kalau kamu mau.”


“Iya nanti kalau aku lagi bosen tinggal diatas tanah, aku minta kamu ajak aku kesini lagi.” Ucap Fania setengah terkekeh.


“Dengan senang hati, Nyonya Andrew Smith.” Andrew pun tersenyum sumringah pada Fania. “Lagipula kita belum mencoba tempat lain disini selain kamar kita semalam kan?.”


“Dasar Donald Bebek ....”


Cup!


“Haish pasangan bebek mesum! Ga dimana - mana.”


“Cih! Mengganggu saja lo R.”


**


Para krucil sudah menunjukkan wajah sumringah mereka karena sudah diberitahukan bahwa mereka akan segera kembali ke Mansion yang mereka sudah rindukan dengan segala fasilitasnya.


Para orang tua pun sama senangnya, yah setidaknya selain dari mereka yang hilang, kini bisa kembali menghirup udara segar setelah beberapa minggu hanya merasakan oksigen dari sebuah alat pengatur oksigen didalam Save House.


“Jadi ada pintu rahasia lain selain dari yang ada disana, Dad?.”


Varen bertanya dengan matanya yang berbinar.


“Yup!.” Sahut Reno pada putra pertamanya itu.


“Cool ( Keren ).”


Varen sumringah dan semua orang pun tersenyum.


“Tapi kalian berdua harus berjanji dulu pada kami.” Ucap Reno pada Varen dan Nathan.


“Apa Dad?.” Tanya Varen pada sang Daddy.


“Iya Dad Reno, kami harus janji apa?.” Nathan ikut bertanya.


“Kalian harus merahasiakan tempat ini dari siapapun.” Sahut Reno. “Bisa?.”


“Bisa!.” Jawab Varen dan Nathan berbarengan dengan begitu antusias.


“Good!.” Reno mengacak – acak rambut kedua bocah tersebut dengan tersenyum sumringah. “Ingat ya, jagoan harus menepati kata – katanya.” Ucap Reno. “Tempat ini selamanya hanya akan menjadi rahasia kita.”


“Oke Daddy Reno ....”


“My lips are sealed ( Mulutku terkunci rapat ).”


Dua bocah itu menampakkan kesungguhan di wajah mereka namun nampak menggemaskan bagi para orang tua dan kakek nenek mereka.


Andrew pun kemudian menekan tombol yang tersembunyi dilantai tak jauh darinya. Lalu dinding yang rapat itu pun bergeser dan menampakkan beberapa lapisan pintu yang satu – satu terbuka.


Varen melihatnya dengan takjub, begitu pula Nathan. Andrea juga melihat pintu yang berlapis itu terbuka nampak juga terlihat senang, bahkan gadis kecil menggemaskan milik Fania dan Andrew itu sampai bertepuk tangan hingga semua orang kembali tersenyum lebar.


Belum lagi Varen yang memang sangat menampakkan ketakjubannya, belum lagi Nathan yang juga sampai membuka mulutnya saking takjub juga melihat pintu yang terbuka otomatis itu.


Bahkan Mika juga nampak tertawa lebar melihatnya dalam gendongan Michelle yang kemudian mengajaknya bercanda.


Kalau sikembar sih masih woles aje, karena belom gedean lagi, seperti empat orang kakak – kakak mereka.


“Let’s go!!!! ( Ayo!! ).” Seru Reno pada dua bocah laki – laki yang sudah menggandengnya.


“Kita macam mau mengajak mereka karya wisata ....” Celetuk John yang menggendong putrinya itu. Sementara yang mendengar hanya terkekeh saja.


“Ya udah kalau gitu ini Save House jadiin aje kebon binatang, atau.... time zone.” Timpal Prita. “Atau engga sea world sekalian. Ganti dah tuh dinding ama kaca, taro deh ikan apaan kek, dugong kalo perlu.”


***

__ADS_1


To be continue....


__ADS_2