THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 210


__ADS_3

FEELING


(Perasaan)


 


 


Selamat membaca ..


⭐⭐⭐⭐⭐⭐


Jakarta, Indonesia


“Dreanya mana Bang?.”


“Sebentar lagi turun Mam. Tadi aku bicara sebentar padanya.” Sahut Varen pada Mama Jihan.


“Udah dinasehatin tuh si Juleha, Bang?.”


Momma yang masih nampak sebal pada Andrea itu bertanya pada Varen. Varen menggeleng. “Aku bicara hal lain dengan Drea, Mom.”


“Drea tuh ngambek sama kamu ya Bang?.”


“Yah begitulah.”


“Ngambek kenapa sih?.”


“Ada lah Mom.”


“Nasehatin tuh dia, macem – macem aje kelakuan. Ini lagi nih Poppanya, bukan anaknya dilarang malah di diemin. Momma ampe enek sendiri ngomelin die.” Omel Momma.


“Sekarang lo paham ya Jol perasaan kita orang kalau lo sedang ngambek pada si Donald Bebek dan melakukan hal – hal diluar batas normal, hem?.”


Momma mencebik sambil melirik sebal pada Daddy Jeff yang sedang meledeknya.


“Masih mau bertahan atau mau mundur nih?. Mumpung Poppa sama Mommanya disini.” Tanya Papi John seraya


meledek.


Anggota keluarga yang lain hanya terkekeh.


Varen tersenyum saja sambil menyendokkan makanan ke piringnya sambil menunggu Andrea turun.


“Persiapkan saja hatimu, jantungmu dan lapangkan lah dadamu jika masih tetap ingin bersama Andrea.” Celetuk Poppa sambil cengengesan.


Varen pun manggut – manggut saja. Lagi – lagi yang lain terkekeh. Tak lama Andrea pun turun bergabung.


****


“Little Star ..” Varen kembali menyusul Andrea yang hanya sebentar duduk bersama di bawah saat makan, ngobrol sebentar sambil diomelin Momma sekali lagi, lalu pamit untuk naik ke kamarnya. “Do you have home work?. ( Apa kamu ada PR? ).” Tanya Varen yang sudah masuk ke kamar Andrea dan melihat gadis itu sedang duduk dimeja belajarnya.


“Ga ada. Aku hanya merapihkan buku pelajaran untuk besok saja.”


“Abang minta maaf ya?.” Ucap Varen yang sudah mendekati Andrea, tersenyum dan mengacak rambut gadis tercintanya itu pelan.


“Abang ga perlu minta maaf.”


“Perlulah, kan Abang sudah menyangka kalau Drea menanggapi Arya?, hem?.” Varen menundukkan tubuhnya dan


bertopang diatas meja belajar Andrea serta menatap gadis itu sembari tersenyum. “Sini.” Varen menegakkan lagi tubuhnya, meraih lembut lengan Andrea, mengajak Andrea duduk di sofa.


***


“Drea tahu kenapa Abang begitu?.” Ucap Varen saat dia dan Andrea sudah duduk disofa dalam kamar Andrea. “Abang cemburu.”


Andrea menatap Varen.


“Abang tahu dia punya perasaan pada kamu dan sudah menyatakannya juga.”


“Tan – Tan yang cerita?.” Tanya Andrea dan Varen tersenyum sambil memainkan anak rambut Andrea dan satu tangan Varen terentang diatas sandaran sofa.


“Abang yang bertanya padanya lebih dulu, sebelum Abang kembali ke Massachusetts beberapa hari lalu.” Jawab


Varen. “Abang pun tahu dia gencar mendekati kamu belakangan ini. Iya kan?.”


Andrea mengangguk pelan.


“Kenapa kamu tidak bilang soal kita padanya?.”


“Drea belum sempat. Lagipula Drea juga ga kepikiran. Terlalu bahagia. Tahu Abang mencintai Drea, sebagaimana


Drea mencintai Abang.”


“Masa?.” Goda Varen sambil mendekatkan wajahnya dan membuat wajah Andrea sedikit bersemu. Andrea sedikit


menunduk lalu mengangguk. Varen gemas.


Cup!.


Varen mengecup sudut bibir Andrea. Wajah Andrea makin bersemu. Membuat Varen menarik lagi sudut bibirnya


sambil tetap memandangi Andrea. “Drea lucu kalau malu – malu begini. Membuat Abang gemas.”


“Memang Drea lucu dan menggemaskan dari lahir juga.”


“Iya. Makanya Abang jatuh cinta. Merasa gila. Karena sudah jatuh cinta pada seorang bayi.” Varen terkekeh kecil. Andrea menatapnya.


Cup!.


Varen mengecup pipi Andrea. Iya, Abang selalu gemas kalau dekat Andrea. Dari dulu hingga sekarang. Dulu, pipi Andrea begitu chubby, kenyal bak squishy. Membuat Varen selalu ingin mengunyel nya, terlebih jika Andrea sedang merajuk. Andrea akan menggembungkan pipinya, lalu Varen akan memeluknya sambil menciumi wajah Andrea bertubi – tubi hingga gadis itu kegelian dan tertawa lebar.


Sekarang pun masih sama. Varen masih suka gemas. Meski pipi Andrea tak lagi chubby. Tapi tetap Varen selalu gemas ingin mengunyel pipi Andrea yang kenyal, yang teksturnya sama halus dengan kulit bayi.


Namun saat ini Abang sudah mulai menahan diri, sekuat tenaga. Karena Abang percaya, kalau sekarang, yang kenyal dan menggemaskan pasti bukan hanya didaerah pipinya saja. Kalau ga sengaja kesenggol gimana?.


“Lain kali, kalau memang ada yang mengganjal dihati Abang, lebih baik Abang langsung bicara to the point.


Drea ga suka disindir.”


“Iya. Pasti Abang ingat.”


“Besok Abang antar Drea ke Sekolah?.”


“Engga.” Sahut Varen dan Andrea hanya manggut – manggut saja. “Drea kan besok ga sekolah.”

__ADS_1


“Hah?. Memang kenapa?. Perasaan ga libur deh besok. Bukan tanggal merah.”


“Memang bukan. Tapi Drea ga perlu ke sekolah. Sudah Abang mintakan ijin ke sekolah Drea, Abang juga sudah


bicara pada Poppa dan Momma and they don’t mind ( mereka tidak keberatan ). Besok malam kan acara Drea, jadi ijin saja, biar kamu tidak terlalu lelah.”


“Hum ..”


***


Pagi hari


“Nanti kita ke Hotel jam berapa?.”


“Selepas makan siang.”


“Gaun untuk Drea sudah siap Mi?.” Tanya Varen.


“Udeeh Abang, gaun Drea, setelan Abang sama pakaian buat kita semua udah siap semua. Mommy Ara sudah


menyuruh mereka membawanya ke Hotel.”


Varen manggut – manggut dan hendak memanggil Andrea untuk turun sarapan.


***


“Permisi Den Varen.” Seorang asisten rumah tangga menyusul Varen yang sudah berada didepan pintu kamar Andrea.


“Ya kenapa Bi?.”


“Bibi mau panggil Non Andrea.”


“Iya memang aku mau panggil untuk sarapan”


“Bukan itu Tuan.”


“Ada Den Arya, katanya mau jemput Non Andrea.”


“Ck!.”


Varen berdecak sebal.


“Suruh tunggu saja.”


“Baik Den.”


***


“Eh Abang pacar. Baru Drea mau keluar panggil Abang sekalian.” Andrea tersenyum lebar saat Varen masuk ke


kamarnya. Moodnya si Juleha udah bagus lagi karena semalam seperti biasa bujuk rayu ayang beb bisa meluluhkan hatinya. Varen tersenyum dan mengacak rambut Andrea pelan.


Varen menyentuh pipinya sendiri dengan telunjuk. Andrea tersenyum lebar.


“Cie ... Abang pacar pagi – pagi udah minta cium sama Drea...” Goda Andrea.


“Pipi.”


“Bibir juga boleh. Uuumm...” Andrea memonyongkan bibirnya dengan lucu membuat si Abang terkekeh geli.


“Kecil – kecil genit.”


“Yuk turun.”


“Nanti. Kamu disini dulu. Tunggu sebentar, nanti Abang panggil lagi. Jangan keluar dari kamar sebelum Abang datang lagi.” Sahut Varen saat Andrea mengajaknya turun untuk sarapan. Andrea merasa sedikit heran.


“Memang kenapa?.”


“Ga apa. Drea sayang Abang kan?.”


“Pake tanya lagi.”


“Sayang ga?.”


“Iya jelas sayang lah! Cinta malah!.”


“Nah ya sudah. Dengarkan ucapan Abang kalau begitu. Drea tunggu disini sebentar. Abang tidak akan lama.”


“Tapi Drea lapar.”


Varen mendengus pelan.


“Nanti Abang suruh Mba Adis atau Bi Farah antarkan susu untuk mengganjal perut kamu.”


“Ya sudah deh. Memang ada apa sih?.”


“Katanya mau jadi pacar yang baik?.”


“Iya deh iya. Drea tunggu Abang disini. Jangan lama – lama loh.”


***


“Morning Abang gue yang gantengnya tanpa akhlak..” Nathan menyapa Varen yang baru saja keluar dari kamar Andrea.


“Morning.”


“Itu bocah titisan laba – laba beracun belom bangun?.”


“Sudah. Dan lo tolong temani dia sebentar, jangan biarkan dia keluar kamar sampai gue kembali lagi kesini.”


“Ck. Males ah. Gue lapar ini. Lagian kenapa sih?.” Bantah Nathan yang memang sudah lapar dan pagi ini ada jadwal kuliah. “Iya deh, iya iya, gue jagain tuh titisan laba – laba beracun sampe lo balik lagi kesini.”


Nathan mengiyakan pada akhirnya setelah mendapat tatapan tajam dari sang Abang meski tak berkata.


“Sensi amat pagi – pagi.” Celetuk Nathan. “Jangan lama – lama lo Bang!.”


“Hem.”


***


“Ada apa mencari Andrea?.”


Varen sudah menemui Arya yang sedang duduk di ruang tamu, dan nampak mengobrol sekilas dengan Poppa dan


Daddy Jeff dan Papi John yang baru pulang jogging lalu masuk ke dalam.

__ADS_1


“Eh, Hai Bang.”


Arya bangun dan menyapa Varen dengan tersenyum.


“Tadinya gue mau jemput Andrea, mau nganter ke Sekolah. Tapi kata Uncle Andrew, Andrea ijin ga sekolah hari ini.”


“Lalu kenapa lo masih disini?.”


“Gue mau ketemu Drea Bang. Ada yang mau gue bicarakan. Karena ponselnya sulit gue hubungi juga.”


“Soal?.”


“Pribadi.”


“Drea masih tidur.”


“Ga apa. Gue tunggu sampai Drea bangun.” Arya teguh pendirian nampaknya.


“Lo ingat nanti malam pesta ulang tahun Andrea kan?.”


“Iya gue ingat.”


“Diundang kan?.” Tanya Varen datar seperti sejak awal dia berbicara dengan Arya.


“Iya gue diundang. Keluarga kami semua bahkan.”


“Datang atau berhalangan?.”


“Datang.”


“Ya sudah temui saja Andrea nanti malam.”


***


Malam sudah tiba. Belum terlalu malam sih. Di salah satu Hotel berbintang lima di Jakarta. Hotelnya Daddy R.


Tempat yang sama dimana Poppa dan Momma mengadakan resepsi pernikahannya.


Salah satu tempat bersejarah dalam rentetan kisah di Keluarga Adjieran Smith.


Seluruh anggota keluarga Adjieran Smith sudah berpakaian rapih. Makhluk – makhluk indah dengan usia yang berbeda itu sudah rapih dengan pakaiannya, dan para wanita sudah cantik dengan polesan make up yang disesuaikan dengan acara. Tak tipis, tak menor juga. Pas di masing – masing wajah mereka.


Hanya satu yang belum kelihatan dan belum berbaur dengan para tamu yang sudah berdatangan di Ballroom dan yang juga berada di bagian taman yang juga sudah disulap dengan dekorasi yang indah.


Teman – teman sekolah Andrea juga diundang semua, bukan hanya teman sekelas, bukan juga hanya angkatannya


saja, tetapi saru sekolah, termasuk para Guru, Kepsek berikut staffnya.


Kolega dan kerabat, keluarga dekat, baik yang berada di Jakarta atau di luar Jakarta, juga yang berada di luar negeri pun hadir.


Tak nampak seperti perayaan pesta ulang tahun yang ke tujuh belas. Karena dekorasinya yang nampak indah bak


dekorasi pernikahan saja, meski yah kesan pesta tujuh belas tahun pun memang cukup terlihat.


Namun dari para tamu yang terlihat seperti memang bukan sekedar pesta ulang tahun biasa. Toh ada beberapa


tokoh publik figur tanah air yang datang, baik sebagai tamu maupun sebagai pengisi acara.


Dan orang – orang yang nampak seperti high class socialita pun nampak seliweran selain dari para siswa di sekolah Andrea. Mereka tahu Andrea, setidaknya angkatannya Andrea Smith, murid yang pernah berdandan culun, dan entah dari keluarga mana, meski beberapa barang yang menempel ditubuhnya selain seragam sekolah menunjukkan kalau Andrea dari keluarga berada. Hanya tahu Andrea termasuk anak orang kaya.


Namun setelah kasus perkelahian, identitas Andrea terkuak, berikut wajah aslinya.


Murid satu itu bukan sekedar anak orang kaya. Keluarga Andrea adalah donatur terbesar, terkuat di sekolahnya.


Bahkan yang membawa sekolah mereka menjadi sekolah terfavorit karena lengkap dan canggihnya fasilitas, dan


masa depan yang bisa di songsong dengan beasiswa dan pekerjaan yang dijanjikan oleh keluarga tersebut untuk tiap siswa yang berprestasi.


Dan kini semua murid itu pun hanya bisa ternganga saja sejak masuk ke dalam Ballroom. Kalau masalah Hotel Bintang Lima sih, ga kaget. Tapi saat masuk ke dalam Ballroom, melihat dekorasinya, termasuk para tamu yang kebanyakan jelas bukan dari kalangan biasa, membuat mereka amat sangat terperangah.


“Ini sih crazy rich juga kalah.”


“Ga sabar pengen makan.”


Dan banyak lagi ucapan ketakjuban teman satu sekolah Andrea. Namun khusus para tamunya Andrea, teman –


teman satu sekolahnya itu, diberikan satu sudut terpisah, tetap di jamu dengan sangat baik juga mewah, bahkan pelayan terpisah.


Kan pestanya Drea, jadi tamu Andrea yang lebih diutamakan pelayanannya. Mendapat sambutan hangat dari para


makhluk indah dari tiap keluarga Andrea bahkan. Poppa dan Momma juga khusus menyempatkan diri menghampiri teman – teman dan guru Andrea secara pribadi untuk mengucapkan terima kasih sebelum acara dimulai.


“Itu Papahnya Andrea?.” Celetuk teman seangkatan Andrea.


“Iya. Pantes aja si Drea bisa gebokin si Theo ama temen – temennya waktu itu. Nah itu bapaknya aja Hercules.”


"Tapi macho banget bapaknya Drea, Anjiirr.... mau gue jadi sugar baby nya sih."


"Mimpi lo ketinggian. Jatoh, mati!. Liat noh mamahnya Drea. Tuhan lagi bahagia kali waktu nyiptain mamahnya Drea. Lo sama upilnya mamahnya Drea juga masih cakepan upilnya dia daripada muka lo."


“Pantes Andrea cakepnya kelewatan sampe ga bisa puter balik. Mamahnya Masya Allah, jelmaan bidadari.”


***


Di area luar Ballroom..


“Bang.”


“Ya?.”


“Bisa minta waktu lo sebentar?. Gue mau bicara empat mata.”


“Soal?.”


“Andrea.”


Varen mengangkat satu alisnya pada Arya yang sedang bicara padanya.


“Kenapa dengan Andrea?.”


“Gue cinta dia.”


“Lalu?.”


“Karena lo Abangnya, dan Drea.. gue tahu dekat banget sama lo. Jadi gue mau bilang.. tolong ijinin gue mendekati adik lo itu. Gue mau mengambil hatinya. Gue mau berusaha mendapatkan cintanya.. ”

__ADS_1


***


To be continue....


__ADS_2