
♣ (BUKAN) MISSION IMPOSSIBLE ♣ Bagian 1
*********************************************************
Selamat membaca ..
*********************************************************
Save House.......
“Apa kamu sudah bisa mendapatkan gambar mereka Varen?.”
“Belum Mommy. Jangankan gambar, titik posisinya pun sulit untuk ditemukan. Aku hanya masih bisa sampai dititik terakhir saat Mommy berbicara dengan Momma dan Mom Michelle.
Ara memijat pelipisnya, kepalanya pusing serta hatinya khawatir.
“Ya Tuhan, ini sudah dua hari.”
Ara mendekati putranya yang nampak sibuk didepan layar komputer yang berisikan angka – angka beserta huruf
berwarna hijau dalam beberapa tabel yang entah Ara sendiri pun tak paham. Ara khawatir pada Fania, Michelle juga Vladimir. Namun ia pun tidak ingin memporsir kemampuan putra pertamanya itu.
Semua orang selain Ara dan Varen juga sudah merasa cemas pada keadaan Fania dan Michelle saat ini. Yang mereka tahu dari Ara dan Varen kalau dua orang itu sebentar lagi sampai ditempat seseorang yang kemungkinan besar tahu soal para pria mereka.
“Tenanglah Mommy. Aku yakin Momma, Mom Michelle dan Uncle Vladimir baik – baik saja.” Ucap Varen yang sejenak mencoba menenangkan sang Mommy. Ara mengangguk dan tersenyum pada putra pertamanya dan Reno itu. “Aku akan terus berusaha, Mommy.”
“Okay My Prince, Mommy percaya pada kamu.” Ucap Ara, lalu Ara kembali duduk disisi Varen mendampingi sang putra yang nampak bekerja keras mencari keberadaan Fania dan Michelle melalui sinyal satelit.
**
“I can’t hold any longer to distract their system, they will found out if I still hold it more few seconds. Get out now, Fania! ( Gue ga bisa menahan lebih lama lagi untuk mengalihkan sistem mereka, mereka bisa tahu dengan cepat kalau gue menahannya lebih dari beberapa detik lagi !. Keluar sekarang, Fania! ).”
Suara Vladimir terdengar panik disaluran telekomunikasi mereka.
“We must to go to them! ( Kita harus menghampiri mereka! ).” Andrew tergesa menyalakan mesin mobilnya. Hanya tinggal kurang dari sepuluh detik namun mobil yang dikendarai Fania bersama John juga didalamnya belum terlihat keluar dari dalam gedung.
Reno pun sama paniknya dengan Andrew. Dia juga tergesa menyalakan mesinnya. Wajahnya sudah mulai nampak tegang seperti Dewa yang duduk disampingnya. Begitu juga Lucca yang ikut merasa tegang disamping Andrew.
“Wait! ( Tunggu! ).” Ucap Lucca sambil menahan lengan Andrew yang sudah siap menggerakkan perseneling dengan sedikit kuat. Sebuah GTR hitam muncul kemudian, melaju dengan sangat cepat dari dalam gedung hingga melewati pagar besi yang sudah dibuka lebar oleh anak buah Lucca yang menyamar sebagai penjaga keamanan.
Dan dua orang anak buah Lucca itupun langsung menutup pagar besi dari luar, setelah mobil GTR hitam itu keluar dari dalam gedung dan mereka menjauh, kembali ke mobil mereka.
Ciiittttt!! ..
Bunyi ban yang berdecit dengan aspal terdengar. Berhenti tepat disamping mobil Andrew.
****
‘SHT ! ( SIAL! ).’* John mengumpat saat dia sedikit terpeleset saat ingin memasang peledak yang terakhir, dan peledak dalam pegangannya hampir saja jatuh kelantai.
Fania langsung turun dari mobil yang mesinnya ia biarkan menyala untuk membantu John setelah memasang rem
tangan.
__ADS_1
John sudah dengan cepat juga memasangkan peledak setelah hampir terjatuh tadi, lalu ia dan Fania langsung masuk kembali ke mobil juga dengan cepat. Sambil melirik penghitung waktu lagi Fania menginjak pedal gas dalam – dalam, memainkan perseneling dan melaju secepatnya sambil matanya juga melirik CCTV yang terpasang disana.
Wajah Fania sedikit tegang, namun fokusnya pada kemudi untuk melaju tetap terkendali hingga ia melihat pagar besi yang sudah terbuka lebar dengan dua orang berpakaian penjaga keamanan serba hitam ada dikedua sisinya sambil melambaikan tangan mereka, mengkode Fania agar ia terus melaju.
**
“I know how to drive, Lucca ( Aku tahu cara mengemudi, Lucca ).”
Fania yang sudah menghentikan mobilnya disamping mobil Andrew membuka kaca mobil disampingnya dan berkata pada Lucca yang berada disamping Andrew, sambil Fania menyunggingkan senyum padanya.
John yang bersama Fania juga cengengesan, begitu pun Andrew yang sedikit menggoyangkan kepalanya sambil
tersenyum lebar.
Andrew tersenyum pada Fania, lalu menoleh pada Lucca. Fania menutup kembali kaca mobilnya lalu kembali melajukan mobil yang ia kendarai ke arah lurusnya melewati mobil yang dikemudikan Reno. Andrew dan Reno yang tadi sudah sempat menyalakan mesin mobil mereka pun, juga dengan cepat menggerakkan perseneling dan memutar balik mobilnya searah dengan mobil Fania yang sudah melaju duluan.
****
Kini keenam orang yang berada dalam tiga mobil tadi sudah berada di lantai atas sebuah gedung yang berada cukup jauh dari gedung yang tadi mereka pasangkan peledak.
Mereka berenam berdiri berjajar di balkon gedung sambil menatap ke satu arah.
“Ready to see a fireworks show? ( Siap untuk menyaksikan pertunjukkan kembang api? ).” Ucap Andrew sambil menatap lurus pada gedung dalam pandangannya. “Please do the honor, Heart ( Tolong lakukan kehormatan ini, Heart ).” Andrew berdiri dibelakang Fania sembari memberikan sebuah alat bertombol merah diujungnya, yang merupakan sebuah pengontrol jarak jauh, ke tangan istrinya. Fania menoleh pada suaminya
itu.
“Do it ( Lakukanlah ). Untuk keluarga kita.”
Fania menoleh pada John yang barusan berbicara padanya sambil sedikit mengacak rambutnya.
BLAAARRRR!!! ................
Suara dentuman sangat keras yang beruntun pun terdengar sekaligus nyala api yang sangat besar, terdengar dan terlihat dari tempat dimana Vla, Lucca, Andrew, Fania, Reno, Dewa dan John saat ini.
Meski sangat berjarak dan tak mungkin mereka terkena efek ledakan, tetap saja, api kemerahan yang seperti sedang menantang langit itu sejenak membuat mereka mengernyitkan dahi dan spontan mengangkat tangan mereka sebatas mata seperti mereka terkena silau mentari.
Gedung yang mereka tatap itu runtuh dan hancur seketika tanpa jeda. Ledakan nampak masih terdengar. Tak mungkin sempat rasanya ada yang bisa menyelamatkan diri dari ledakan dan keruntuhan gedung tersebut. Keenam orang itupun menyunggingkan senyum mereka. Senyum kepuasaan atas keberhasilan rencana mereka, dan pengorbanan karena terpisah dengan sebagian keluarga mereka.
“Let’s go back to Mansion ( Ayo kita kembali ke Mansion ).” Ajak Reno setelah gedung yang mereka ledakkan itu sudah runtuh dan hancur sepenuhnya, dengan api yang masih membumbung tinggi. Kelima orang yang lainnya pun mengangguk dan mereka semua meninggalkan gedung tempat mereka sekarang dengan perasaan puas.
**
Mansion Lucca, Viterbo, Italia
Keenam orang yang sukses melaksanakan misi mereka untuk meledakkan gedung yang merupakan aset terbesar
milik pria bernama Joven Zepeto itu sudah sampai di Mansion pribadi milik Lucca. Mereka disambut dengan senyuman lebar empat orang lainnya yang tinggal disana saat keenam orang tersebut melakukan misi diluar.
“Just like I said, she’s the right person! ... ( Sudah gue bilang kan, dia memang orang yang tepat! )....” Ucap Vla yang menyambut Andrew, Reno, John, Dewa, Lucca dan Fania sambil membuka lebar kedua tangannya berikut senyuman lebar yang sudah terpasang di wajah Rusia tampannya itu. Lalu memeluk keenam orang yang baru saja datang itu satu – satu, diikuti oleh Jeff dan Michelle.
Sementara Fabiana langsung menghampiri dan memeluk suaminya dan memberikan kecupan mesra, lalu memberikan selamat pada mereka yang sudah sukses dengan misinya.
“Kajolita Esperansa de la Costa!.” Ucap Jeff dengan sumringah pada Fania dan istri si Donald Bebek itu terkekeh berikut yang lainnya.
Dad juga ada bersama empat orang yang tinggal di Mansion nya Lucca.
__ADS_1
Memeluk keenam orang yang baru datang ini dengan senyuman dan gurat bahagia sekaligus bangga pada anak –
anaknya, juga pada menantu perempuannya yang kadang emezing itu kalo gesreknya ga kumat.
“I’m glad all of you are okay ( Aku senang kalian semua tidak apa – apa ).” Ucap Dad yang wajahnya sudah tidak terlalu murung.
“Setidaknya Dad sudah sedikit bisa bernafas lega kan, Dad?.”
“Ya Fania. Dad hampir sulit bernafas karena memikirkan kalian.” Ucap Dad lagi. “But at least now I a little bit relieve ( Tapi setidaknya sekarang aku memang sedikit lega ). Dad benar – benar merindukan mereka semua yang berada di Save House.”
“Mereka semua juga sangat merindukan kalian. Aku harap kita dapat segera berkumpul lagi.” Sahut Fania sambil merengkuh pinggang Dad Anthony.
“We will, Heart ( Pasti, Heart ).”
**
“Bagaimana dengan Hongkong dan Guatemala?.” Tanya Dewa pada Jeff dan Vla.
“Nino, Ezra and Lucca’s men already make them 'busy' ( Nino, Ezra dan orang – orangnya Lucca sudah membuat
mereka 'sibuk' ).”
“Well, now we just have to wait our ‘guest’ to come here ( Yah, sekarang kita hanya tinggal menunggu ‘tamu’ kita datang kesini ).” Ucap Lucca yang kini sudah duduk bersama sang istri disisinya.
“Are you guys sure that he will come? ( Apa kalian yakin dia akan datang? ).” Istri Lucca yang tak banyak bicara itu melemparkan pertanyaan pada semua orang yang ada didekatnya, termasuk suaminya sendiri.
“He will! ( Dia pasti datang ). For million dollars loss .... sure, he will come ( Untuk kerugian jutaan dollar.... tentu saja, dia akan datang ).”
“Alone! ( Sendiri! )..” Timpal Reno atas ucapan Andrew. Dia menyunggingkan senyum sinis karena laki - laki yang mereka maksud pasti akan datang ke Italia. Gurat kepuasan ada diwajah si kakak ganteng, karena para sekutu dari Joven tidak akan bisa memberikan bantuan pada pria itu akibat Nino, Ezra serta orang - orang Lucca juga sedang memporak - porandakan para sekutu dari pria bernama Joven itu.
“Gue yakin saat ini dia sudah mendapat kabar tentang kejutan yang menghanguskan jutaan dolarnya.”
“I’m sure he is! ( Gue yakin sudah! ).” John menimpali ucapan Dewa. Sisanya menarik sudut bibir mereka keatas.
“Dan gue yakin dia sedang sibuk saat ini untuk mempersiapkan kedatangannya kesini, mencari tahu siapa yang sudah membakar habis jutaan dolarnya.”
"Bad on him, his big backup don't have time to back up him no more! .. ( Kasihan dia, pendukung terbesarnya tidak lagi bisa mendukungnya )." Ucap Jeff sinis.
"What dead bodies can do, huh? .. ( Emang mayat bisa apa? )." Timpal Vla sambil juga terkekeh sinis.
“Your guys men in London, also ready if he makes step there like our prediction? ( Orang kalian di London, apa sudah siap jika dia melakukan langkah seperti prediksi kita? ).”
Lucca bertanya pada para Pangeran Smith.
“They are on the ball! ( Mereka sudah sangat siap! ).”
Lucca pun langsung manggut – manggut mendengar ucapan Andrew barusan. “Sounds great! ( Bagus kalau begitu!
). Now we can have a little bit rest, and get ready for the last and final step ( Sekarang kita bisa sedikit beristirahat, dan bersiap untuk tahap terakhir yang utama ).”
“Can’t wait for that! ( Gue ga sabar! ).”
“Joven Zepeto not realize, that he just took his foot off the tiger’s mouth ( Joven Zepeto tidak sadar, kalau ia sudah meletakkan kakinya ke mulut harimau ).” Ucap Andrew datar namun penuh penekanan.
****
__ADS_1
To be continue...........................