
Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye
***********************************************************************
TINGKAH
**************
Selamat membaca....
Tinggal setengah jalan lagi, Ann akan sampai di titik pemberhentian track untuk para pemain ski profesional itu.
Ann juga sudah dapat melihat orang-orang yang berada di titik tersebut, dari tempatnya berada dan papan skinya masih sedang meluncur cantik juga.
Hingga kemudian Ann dihadapkan pada sebuah lereng menanjak dan dipastikan setelah melewatinya, sejenak Ann akan berada di udara.
Papan ski Ann masih meluncur, saat lereng yang bak ombak membeku itu sudah ia lihat.
‘Apakah aku harus mengurangi kecepatanku? Atau bagaimana?...’
Ann membatin seraya menimbang-nimbang.
‘Apa aku harus berhenti dulu ... Aaa tungguuu!!!....’
Belum sampai keputusan Ann ambil, papan skinya sudah terlanjur menyentuh titik undakan yang bentuknya seperti ombak yang membeku, dan Ann pun melayang.
“YEEAAHHHH!!!....”
Cukup tinggi, namun Ann malah memekik senang.
Tak lama sih, karena...
‘Oh No....’
Gabruk!
Ann yang oleng karena bingung cara mendarat setelah ia meluncur, kemudian melayang kala papan skinya sudah menyentuh undakan berbentuk bak ombak membeku itu dan akhirnya Ann mendarat dengan tubuhnya
yang menghantam salju duluan.
Tidak hanya gabruk ...
Sruutt!!!
‘Oh ini sungguh memalukan!’
Ann membatin sebal, karena permukaan salju yang licin itu, membuat tubuh Ann tidak jatuh terdiam, melainkan tubuhnya yang kini meluncur hingga berguling diluar kendali pada permukaan salju.
Ann terus saja merutuk dalam hatinya hingga sampai dia berhenti dan suara beberapa pria yang ia kenal terdengar mendekat di telinganya.
***
Rery datang dengan berlari tergesa, setelah sampai di titik pendaratan track ski untuk para pemain ski profesional itu. Apa yang tertangkap mata Rery, membuatnya benar-benar khawatir akan keadaan Ann.
“Aa – nn ..”
Suara Rery terdengar lirih sembari mendekati Ann yang sudah dikerubungi keluarganya yang juga nampak sedang berbicara pada Ann yang tubuhnya nampak tertelungkup itu
“Ann??....”
Uncle Nino yang berada didekat Ann itu terdengar memanggil Ann sembari mengelus kepala Ann yang tertutup topi berbahan wol.
‘Oh tidak, apa Ann mengalami patah tulang????..’ Batin Rery berspekulasi
“Sweety..” Kini Uncle Ezra yang nampak mengajak bicara Ann yang tubuhnya masih telungkup itu.
“Aa – nn...”
Rery yang sudah berada didekat Ann itu kembali lirih memanggil Ann yang belum meresponnya, sembari Rery memandang pada Uncle Nino dan Uncle Ezra.
“What happened?! Where’s the rescue team?! ( Apa yang terjadi?! Mana regu penyelamat?! )” Tanya Rery dengan
panik. “Why don’t rescue Ann?! ( Mengapa tidak menyelamatkan Ann?! )” Cecar Rery.
“They were here, but Ann refused .. ( Mereka tadi sudah disini, tapi Ann menolaknya )...” Sahut Uncle Nino.
“But why?!.... ( Tetapi kenapa?! .. ) Aa – nn....”
Rery beralih pada Ann, seraya menundukkan tubuhnya dimana Rery memang sudah bersimpuh didekat Ann.
“Ann said she’s okay, but she don’t move from her position .. ( Tadi Ann bilang dia baik – baik saja, tapi dia tidak mau bergerak dari posisinya ) ..” Kata Uncle Ezra dengan raut wajahnya yang sedikit bingung, sama seperti Uncle Nino dan beberapa kerabat pria yang ikut mencari Ann tadi dan mengerubung disekitar Ann.
“Hey, Ann, are you okay? Feel hurt?? ... ( apa kamu baik – baik saja? Ada yang dirasa sakit? )...” Tanya Rery dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Namun sedikit bingung juga, karena kemudian Ann mengangkat satu
jempolnya yang terbungkus sarung tangan.
Lalu tangan Ann bergerak melambai pelan, seolah menyuruh seseorang mendekat padanya.
Rery langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Ann seraya membelai lembut kepala Ann. “Mana yang sakit?..”
“Tidak ada.....”
“Lalu mengapa kamu tidak bergerak, Ann??.....”
“Aku - malu.....” Ucap Ann pelan, dan Rery melongo dimana Ann masih berbicara pelan sedikit berbisik padanya, lalu Rery geleng – geleng kemudian.
***
Tak berapa lama Papa Lucca berikut para Dad sudah juga berada di tempat Ann.
“ANN!!” Seru Papa Lucca, berikut para pria yang datang bersamanya.
Wajah para Dad itu pun sontak cemas seperti Rery tadi.
“Where’s the rescue team??!! ( Mana regu penyelamat??!! )” Pekik Poppa yang melihat Ann hendak di gendong
belakang oleh Rery.
“They’re gone .. ( Mereka sudah pergi )...”
Uncle Nino yang menyahut. Dan para Dad yang baru tiba itu pun menunjukkan raut kebingungan.
“But why?! ( Tapi kenapa?! )” Pekik Papa Lucca. "Why don't give a rescue to Ann?????!! .. ( Mengapa tidak memberikan pertolongan pada Ann???!! .. )"
“Ann is okay ( Ann baik – baik saja )”
“You really okay, baby?.. ( Benar kamu baik – baik saja, sayang? )..”
“Ann baik – baik saja Dad ..” Sahut Rery pada Daddy R yang nampak panik dan sedang mengecek tubuh Ann
karena melihat lengan jaket yang dikenakan Ann sedikit sobek.
“Let me! ( Biar aku saja! )” Seru Papa Lucca yang mengambil alih Ann yang hendak di gendong belakang oleh Rery.
“Papaa!!!....”
__ADS_1
Ann langsung memekik saat Papa Lucca hendak mengangkat tubuhnya dan sudah meletakkan satu tangannya
dibawah kedua lutut Ann.
“What is it?! ( Kenapa?! )” Seru Papa Lucca yang terkejut karena Ann memekik itu.
“Something’s hurt?! Your leg ... is it broken??!! ( Kamu kesakitan?! Kakimu... apakah patah??!! )”
“You feel hurt in your back?!... Your hips?!... ( Kamu merasakan sakit di punggungmu?!... Pinggangmu?! )...”
Papi John ikut bertanya sembari ikut mengecek Ann bersama Papa Lucca, dimana Daddy yang lain juga sudah
dekat mengerubung si iblis kecil yang wajahnya lebih terlihat seperti merungut ketimbang kesakitan. Mencemaskan Ann, takut gadis itu memiliki luka serius di tubuhnya, meski tak nampak ada darah.
Lalu Ann menggeleng.
“Then why you screamed when I touched you??? ( Lalu mengapa kau berteriak saat aku memegangmu??? )”
“That’s because you want to carry me like that! ( Itu karena Papa ingin mengangkatku seperti tadi! )” Sambar Ann. “Just carry me on your back ( Papa gendong aku di punggungmu saja )”
“It is more safety to carry you on front than at back ( Lebih aman menggendongmu didepan daripada gendong
belakang ), Baby....”
Daddy Jeff menimpali. “No Papa Bear..” Ann segera menggeleng.
“But why, baby?... ( Tapi kenapa, sayang?.... )”
“I want to hide my face .. ( Aku ingin menyembunyikan wajahku )..”
Ann berkata pelan.
Dengan segera Papa Lucca mengecek wajah Ann. “Your face is okay, not even a scratch on it.. ( Wajahmu baik – baik saja, bahkan tidak ada goresan disini )...”
Papa Lucca menggerakkan pelan wajah Ann dimana para Dads masih memperhatikan.
“Or you feel hurt on your neck???!!!! ... ( Atau kau merasakan sakit di lehermu???!!! )” Tanya Papa Lucca masih nampak cemas dan panik itu.
“Papaa!!.. I’m okay, okay??!! ( Aku ini baik – baik saja, oke??!! )” Seru Ann. “I feel ashamed ... you, know?... ( Aku ini malu... tahu? )..”
“Shameed?? .. ( Maluu??? ... )”
“People must be looking at me, thug? ( Orang – orang kan pasti melihat padaku, tahu? )”
“Why have to feel ashamed?.. You just fell from that high! Of course people will looking at you! ( Kenapa harus merasa malu?.. Kau baru saja jatuh dari ketinggian seperti itu! Tentu saja orang – orang akan memperhatikanmu! )”
“That’s why ( Ya justru itu ) Papaa..”
“Now stop talking! ( Sekarang diamlah! )”
Papa Lucca menyambar sembari kembali hendak menggendong Ann yang terdengar merengek barusan.
“Papaaa!! ...”
“Ochh!” Seru Papa Lucca karena Ann mencubit pahanya. “It’s hurt you know?! ( Sakit tahu?! )” Desis Papa Lucca seraya meringis.
“Carry me on your back! ( Gendong aku di punggungmu! )”
“Just do what she ask! .. ( Lakukan saja apa yang dia minta!.. )” Daddy Dewa mendukung Ann.
“Alright! Alright! ( Baiklah! Baiklah! )”
Papa Lucca mendengus sebal.
“You really captious, just like your Mama when she was carping!”
Papa Lucca menggerutu sembari dia menggendong Ann, sebagaimana keinginan putri semata wayangnya itu.
**
Rery dan yang lain akhirnya mengekori Papa Lucca yang menggendong belakang Ann, dimana gadis itu
menyembunyikan wajahnya di punggung Papa Lucca.
“Benar Ann baik – baik saja, Boy?“
“Ya, Pop” Sahut Rery. “Dia baik – baik saja”
“Lalu mengapa sikap Ann aneh seperti itu?”
“Itu karena dia malu” Sahut Rery pada Daddy R yang ikut bertanya setelah Poppa.
“Malu?”
Para Dad selain Poppa dan Daddy R serempak bertanya.
“Heemmm...”
“Malu kenapa?..”
“Karena dia terjatuh dengan tidak cantik ...”
“Apa?..”
“Ann gusar seperti itu karena dia malu tidak mendarat dengan baik, katanya...”
“Haa??..”
“Ann bilang, dia takut jika adegan jatuhnya yang tidak cantik itu ada yang merekamnya lalu orang-orang akan
mengenali wajahnya...”
“....”
“Karena menurut Ann hal itu sangat memalukan untuknya yang jatuh bak kura-kura yang tersandung lalu berguling dalam cangkangnya”
Dan para Dad pun spontan terkekeh setelah mendengar cerita Rery yang menjelaskan sikap Ann yang nampak uring – uringan itu.
“Haishhh, kita semua mengkhawatirkan jika dia terluka parah, tapi anak itu malah pusing dengan pose jatuhnya yang tak cantik ...” Celetuk Poppa sembari cekikikan dan geleng-geleng.
“Semoga saja setelah Little Star, hanya Ann saja yang absurd tingkahnya macam Little Star dan si Kajol!”
“Maklumlah keturunan makhluk astral, jadi pola pikirnya pun tidak macam manusia normal!”
“Betul sekali Bapak John, Ann bahkan tidak terluka dengan serius setelah jatuh dari jarak yang cukup jauh! Gue rasa dia dilindungi oleh pasukan jin yang dikelola oleh itu si setan alas!”
“Hahahaha!!! ..” Para Dad termasuk Varen spontan tergelak bersama.
**
Puas bermain di gunung Matterhorn, para pelancong dari rombongan The Adjieran pun berjalan-jalan sebentar berkeliling Switzerland.
Baru setelahnya mereka semua kembali ke Resort yang akan mereka tempati selama semalam, karena esok hari
mereka semua akan pergi ke Italia dengan menggunakan sarana transportasi kereta api.
__ADS_1
**
“Jangan ulangi lagi loh Ann!..” Itu Rery yang sedang berada di ruang santai dalam Resort yang sudah disewa sebanyak beberapa unit untuk rombongan mereka itu.
“Siapa suruh kamu meninggalkan aku?!” Sahut Ann dengan merungut pada Rery.
“Iya maaf ..”
Rery yang super sabar menghadapi Ann itu memang selalunya begitu.
Selalu meminta maaf pada Ann, meskipun jika itu anak setan yang berulah duluan.
“Tapi jangan diulangi lagi!” Seru Rery.
“Iyaa ..”
Ann menjawab patuh pada Rery.
“Ingat jangan tinggalkan aku lagi”
“Iyaa ..”
“Promise to forever?!..”
“(Janji untuk selamanya?!)..”
“Heeemm ....”
Rery menjawab santai.
“Rery!”
“Apaa??!!..”
“Kalau berjanji itu harus serius!” Seru Ann.
“Iyaaa .. aku janji Aann ..”
“Nah seperti itu”
Sementara Rery santai saja menanggapi tingkahnya Ann, mereka yang sedang bercengkrama di satu unit Resort
yang sama terkekeh saja melihat tingkah polah dua anak manusia itu. Kedua orang tua Ann hanya geleng – geleng saja melihat kelakuan putri kandung semata wayang mereka itu
“You can’t ask like that Ann .. ( Kamu tidak bisa meminta seperti itu Ann ) ..” Kata Mama Fabi.
“Ask what Mama? ( Meminta apa Mama? )” Tanya Ann.
“Things that you ask Rery to make promise of it!”
“(Hal yang tadi kamu minta Rery untuk berjanji!)”
“Of course I can Mama ( Tentu saja aku bisa Mama )”
Seperti biasa, Ann sulit untuk pasrah. Terlebih, jika menyangkut soal Rery.
“No, You – Can’t ( Tidak, Kamu – Tidak Bisa )”
“But why???? ( Tapi kenapa?? )”
“Because, Rery, has his own life ..”
“(Karena, Rery, punya hidupnya sendiri..)”
“And Rery’s life.. is me!.. right Rery?! .. (Dan hidup Rery .. adalah aku!.. Benarkan Rery?!)..”
“Heemm ..” Rery yang sedang bermain game online di ponselnya itu manggut – manggut saja.
Mama Fabi memutar bola matanya malas pada anak kandungnya yang memang selalu ngeyel jika dinasehati
tentang sikapnya yang bukan over lagi, tapi super posesif pada Rery.
“Rery said ‘Hem’, means Yes! (Rery bilang ‘Hem’, itu artinya Iya!)”
Kembali semua orang yang sedang di dekat Ann itu terkekeh saja melihat Ann yang selalunya seperti itu jika menyangkut Rery.
Papa Lucca juga hanya mendengus geli saja melihat dan mendengar sahutan Ann pada Mama Fabi yang sedang menasehatinya itu.
“You, can’t own someone’s life, Ann.. Perhaps when he grow up, Rery fallin to a girl?, Then you just can’t hold Rery like this, you know? ..”
“(Kamu, tidak bisa memiliki hidup seseorang, Ann.. Bisa saja saat dewasa, Rery menyukai seorang gadis?, Maka kamu tidak bisa mengekang Rery seperti sekarang, tahu?)..”
“It won’t be happen! (Itu tidak akan terjadi!)” Sambar Ann dengan sangat yakin.
“Of course it could be .. (Tentu saja bisa terjadi)..” Mama Fabi yang jengkel itu juga tidak mau kalah.
“I’ll make sure it won’t be happen!.. Rery will only fall in love with me, when we grow up! Right Rery?!.. (Aku pastikan itu tidak akan terjadi!.. Rery hanya akan jatuh cinta padaku, saat kami dewasa nanti! Benar kan Rery?!)”
“Heemm ..” Sahutan yang sama dari Rery.
“Anything could be happen in future, Dolcezza ..”
“(Apapun bisa terjadi dimasa depan, Sayang)..”
“And I will vanish that girl!.. (Dan aku akan mengenyahkan gadis itu! ..)”
“....”
“I will choke that girl neck with no mercy! (Akan aku cekik leher gadis itu tanpa ampun!)”
“Haisshh, I thought the psycho side will end in Abang .. (Kupikir sisi psycho akan berakhir di Abang..)”
Poppa yang terkekeh mendengar ucapan Ann itu bergumam, yang mendapat sambutan kekehan dari mereka yang mendengar gumaman Poppa itu.
“How ‘bout if Rery defend her? .. (Lalu bagaimana kalau Rery membelanya?)”
“Haishh ..”
Papa Lucca menggeleng malas jika sudah melihat dan mendengar anak dan istrinya sudah mulai berdebat seperti itu.
“Maybe Rery will love that girl that much? (Mungkin saja Rery sangat mencintai gadis itu?)” Tambah Mama Fabi yang memang sedang meledek putri kandungnya itu.
“Stop it Fabi .. my head getting dizzy listening both of you! (Hentikan Fabi... kepalaku sudah mulai pusing mendengarkan kalian berdua!)”
“He won’t! (Rery tidak akan!)” Sambar Ann. “But, if Rery dare to see another girl, I will make him blind! (Tapi, jika Rery berani melihat gadis lain, akan aku buat mata Rery buta!)”
**
To be continue..
Jangan lupa tinggalkan jejak
LIKE
KOMEN
__ADS_1
VOTE en HADIAH mah serah daaahhh