
♣TIDING♣ Kabar
Selamat membaca ....
*****
Kafe Fania, London, Inggris
John : Gue sudah melamar Prita!.
BLUUURFFF!.
“Uhuk.. Uhuk ..” Andrew sampai menyembur dan terbatuk saat membaca ketikan John di grup.
Fania yang sedang berada di kasir sambil mengecek persediaan barang – barang kafenya karena tamu agak ramai
saat ini, kebetulan ia menoleh pada Andrew dan melihat suaminya itu menyemburkan minumannya hingga terbatuk.
‘Si Poppa kenapa ..?.’Fania langsung berjalan untuk menghampiri Andrew. “Kenapa, D?.” Tanyanya pada Andrew
yang sedang menyeka mulut dan kemejanya dengan tisu.
“Ah, nothing Heart ( Ah, ga apa – apa Sayang ).”
“Kamu kayaknya kaget gitu?.”
“Biasalah ini obrolan lelaki. Suka aneh – aneh mereka.”
“Mereka siapa?.”
“Ini kami - kami di grup khusus para lelaki Smith.” Ucap Andrew yang langsung memasukkan ponselnya ke saku kemeja.
“Oh.” Sahut Fania yang hanya ber oh ria. ‘Obrolin apaan sih emang itu para bapak – bapak kang gibah di grup,
sampe si Donald Bebek nyembur begitu?.’
***
Frognal, London, Inggris
John : Gue sudah melamar Prita!.
BLUUURFFF!.
“Hon, are you okay? ( Sayang, kamu ga apa – apa? ).” Ibu Peri yang sedang berbadan dua itu buru – buru menghampiri suaminya yang sedang duduk disofa dalam kamar mereka dan nampak menyemburkan air putih yang baru saja disesapnya sambil memegang ponsel sembari melihatnya. Ara mengelus – elus punggung Reno. “Ada apa?.”
Reno memberikan ponselnya pada Ara.
“Beneran ini si John sudah melamar Prita?.” Tanya Ara yang terkejut juga membaca ketikan John di grup.
“Dia bilang begitu di grup. Kemungkinan benar.”
“Coba minta fotonya Hon, ada ga?.” Ucap Ara seraya bertanya pada Reno.
“Kamu minta aja coba.”
‘Picture Please ... ( Fotonya tolong ... ).’
Ara mengetik chat di grup atas nama Reno.
‘Bukti dibutuhkan kalau benar memang sudah melamar.’
Jeff : Betul!!! Mana buktinya lo sudah melamar Prita, John?.
Dewa : Yes! Jangan – jangan hoax!
John : Sembarangan lo Wa!. gue memang sudah melamar Prita tadi!.
Reno : Foto mana foto!.
John : Wait ( Tunggu ).
John : Sabar ya my all brothers. Gue minta foto dari si Rico dulu. Dia yang tadi sempat mengabadikan
momen indah antara gue dan adik iparnya si Donald Bebek.
Reno : 😫Lama
John : Sabaaar kakak ganteng. Wkwkwk.
Tak lama John mengunggah satu foto saat dia melamar Prita yang diabadikan oleh Rico.
( Sorry othor ga menyertakan gambar. Ga nemu yang pas sama halu nya emak. Wkwkwkwkwk )
John : Bagaimana para Brothers tercintaku?. Apa sudah percaya sekarang, hem?.
“Seriusan dia Hon!.”
“Bucin!.” Sahut Reno.
Reno dan Ara sama – sama terperangah melihat foto yang diunggah oleh John.
***
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
John : Gue sudah melamar Prita!.
BLUUURFFF!.
Jeff menyemburkan kopi yang disediakan oleh Jihan sebelum sesi encup – encupan panasnya dengan wanita itu.
Jihan yang terkejut karena Jeff yang menyemburkan kopinya itu langsung berdiri untuk mengambil tisu.
“Kamu ga apa – apa, Jeff?.”
Jihan bertanya sambil mengambil tisu sambil mengusap punggung Jeff pelan. Ia juga membantu menyeka percikan kopi disekitar mulut Jeff.
__ADS_1
Jeff menoleh sejenak pada Jihan dengan tersenyum.
“Thanks ya.”
“Kenapa?. Ada berita kurang bagus?.” Jihan memberanikan diri untuk bertanya, karena Jeff nampak menyemburkan kopi setelah membaca pesan.
“Engga, ini si John.”
“John kenapa?.”
“Si John katanya melamar Prita.”
Jihan membulatkan matanya.
“Oh ya?.”
“Hem .....”
“Memang mereka pacaran?.”
“Baru sehari.”
Jihan membulatkan lagi matanya.
“Astaga! Baru sehari pacaran sudah ada acara lamar – melamar?.”
“Kami para pria Keluarga Smith tidak suka membuang banyak waktu sebenarnya.”
Jeff sejenak mengenyampingkan ponselnya. Ia menoleh dan menatap Jihan.
“Lucky you ( Kamu beruntung ), bertemu aku disaat aku bukan lagi seperti Jeff yang dulu, Ji. Sedikit banyak Fania punya peran didalamnya. Kalau aku masih seperti Jeff yang dulu, aku sudah akan memaksa kamu menikahi aku sejak aku menemukan Nathan.” Ucap Jeff. “Tapi karena aku mencintai kamu, aku memilih untuk berjuang dengan benar.”
Jihan tersenyum tipis. ‘Berjuang dengan benar juga ujung – ujungnya ada maksa nya.’ Batin Jihan.
“Dan jika kamu menolak, aku akan bawa paksa Nathan bersamaku.” Ucap Jeff lagi. ‘Nanti juga akan terpaksa gue pakai itu alasan, kalau dia menolak untuk gue nikahi. Coba saja. Pergerakan gue sudah cukup lambat.’
Jihan tak berkomentar.
Notifikasi pesan grup diponsel Jeff terdengar lagi.
Jeff kembali lagi meraih ponselnya, setelah menunggu John mengirimkan foto tanda bukti dia sudah melamar Prita sambil mengobrol dengan Jihan.
“Damned! Beneran dia melamar si Prita.”
“Ada fotonya?.”
“Ini si John kirim barusan.”
“Boleh lihat?.”
“Boleh.” Ucap Jeff. “Cium dulu tapi.” Jeff menyeringai jahil.
“Mending ga usah lihat deh.”
“Mau lihat tapi cium dulu, atau ga lihat tapi tetep cium?.” Pilihan yang maksa.
Jihan mencebik dan Jeff terkekeh.
“Cepat Ji. Atau mau aku teruskan yang tadi terhenti?.”
Tanduk sang Casanova yang hobi maksa seperti para lelaki Smith lainnya pun mulai menampakkan ujungnya.
‘Bener – bener simalakama gue sih kalo sama dia nih!.’ Jihan menggerutu dalam hatinya.
****
Jakarta, Indonesia
John : Gue sudah melamar Prita!.
BLUUURFFF!.
Dewa yang sedang duduk – duduk diruang tengah sambil memegang minuman kaleng ditangannya pun sontak mengikuti jejak ketiga rekannya yang menyemburkan minuman dari mulut mereka saat membaca ketikan pesan John di grup para lelaki Klan Smith itu.
“What’s wrong Boo – Boo? ( Ada apa Boo – Boo? ).”
( Ca elah unyu – unyu beut yak panggilan si Michelle buat Kang Mas Dewa. Wkwkwk )
“Ga apa – apa yang.”
“Kamu sampai menyembur begitu?.”
“No, bukan apa – apa. Biasalah ini bapak – bapak lagi gosip di grup.”
“Kalian nih mengalahkan perempuan, senang bergosip.” Ucap Michelle sambil geleng – geleng.
“Yah kadang para lelaki ini juga butuh bergibah, Yang..” Sahut Dewa dan mereka berdua terkekeh. ‘Jangan kasih tahu ayank dulu deh sebelum dapet konfirmasi dari Andrew soal Fania tentang hal ini.’ Batin Dewa. ‘Ini momih nya Mika kan suka longcer mulutnya.’
“Bukan sedang membahas perempuan – perempuan diluaran kan?.” Tatap Michelle penuh selidik.
“Bukan dong Yang. Memang aku kurang setia apa sih sama kamu?. Hanya ada Michelle seorang dimata Dewa.”
Dewa mengerlingkan satu matanya pada Michelle.
“Ish. Gombal.”
Dewa terkekeh.
“Ya sudah aku lihat baby Mika dulu.”
“Iya. Tunggu aku dikamar ya.”
“Ih ngapain coba masih sore begini?!.”
“Yah ngapain kek suami istri ini.”
Michelle menjulurkan lidahnya sedikit pada Dewa. Lalu ia melangkah menuju kamar putrinya dan Dewa.
__ADS_1
“Nekat emang si John.” Gumam Dewa saat John mengirim fotonya yang sedang melamar Prita dalam grup para lelaki bucin itu. "Takut banget si Prita lepas kayaknya."
Dewa : Gila! Gila! Gercep!.
John : MUST! ( HARUS! )
Reno : Cowok yang kepalanya shining ( bersinar ) kalau kena lampu bak cahaya ilahi mana nih. Belum komen dari tadi.
John : Paling dia lagi nyusu sama si Kajol.
Jeff : Pelanggaran si botak. Sesi menyusu gue malah dia yang salip.
Dewa : Gaaaaa Heraaaaan.
*-*
Andrew : Berisik!.
Bekasi, Jawa - Barat, Indonesia
“Makasih sekali lagi ya, Prita.” Ucap John saat dia dan Prita sudah sampai di halaman rumah Keluarga Cemara.
“Sama – sama, Kak.”
“Kamu ga apa – apa kan kalu ga ke kafe hari ini?.”
“Ga masalah.”
“Sudah bilang tapi ke Fania?.”
“Ga masalah kok Kak, dari awal juga Kak Fania bilang se sempet nya gue aja kalo dateng ke Kafe, yang penting gue pantau sekaligus setor laporan.”
“Prita.”
“Ya?. Kenapa Kak?.” Tanya Prita saat mereka berjalan masuk ke dalam rumah dari halaman.
“Kalau bisa mulai sekarang, jangan gunakan kata gue dan elo lagi diantara kita. Bisa?.”
“Iya Kak.” Sahut Prita sembari tersenyum.
“Makasih ya. Pengertian banget sih calon istrinya John Smith.”
Prita terkekeh pada John yang mencubit gemas hidungnya.
“Assalamu’alaikum.”
John dan Prita mengucapkan salam saat sudah memasuki rumah Keluarga Cemara.
“Wa’alaikumsalam.” Terdengar sahutan dari Papa Herman dan Mama Bela juga asisten rumah tangga mereka.
Prita dan John langsung menyambangi kedua orang tua itu untuk salim.
“Papa, Mama belum tidur?.”
John menyapa kedua orang tua Prita dan Fania itu.
“Belom lama nyampe abis dangdutan.”
“Amit dah. Masuk angin tau rasa.”
Papa Herman, Mama Bela berikut John terkekeh mendengar ucapan si Priwitan.
“Duduk John. Pasti si Prita nih ya, yang minta jemput kamu. Ngerepotin John melulu kamu Prit. Dulu aje kaga mau nemuin. Sekarang mentang - mentang udeh baekan maen suruh – suruh orang anter jemput.”
“Siapa yang nyuruh – nyuruh sih?. Orang Kak John yang nawarin sendiri.”
“Iya Ma, Pa. Memang John kok, yang menawarkan diri untuk antar jemput Prita.”
“Tuh dengerin. Suka suudzon sih.”
“Tetep aje ngerepotin John!.” Timpal Mama Bela tak mau kalah. “Nah mobil kamu mana, Prit?.”
“Di apartemen Diana.”
Papa Herman dan Mama Bela hanya ber oh ria.
“John nginep aja. Cape pasti kan?.”
‘Wuih. Asik.’ Batin John riang gembira disuruh menginap sama calon mertua yang belum tahu apa – apa. “Iya Pa. Gampang.” Menjawab dengan sok cool pada Papa Herman.
“Udeh pada makan?.”
John dan Prita sama – sama mengangguk.
“Mau ngopi John?.”
Papa Herman menawarkan.
“Iya, terima kasih Pa.” Sahut John. “Em ... Pa, Ma ada yang ingin John bicarakan.”
“Soal?. Serius amat mukanya.”
John menyunggingkan senyum. Sedikit deg – degan. Prita yang sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan John sekarang. Ia pun ikutan tegang. Takut kedua orang tuanya tak merestui dia dan John.
Ah jadi kisah Isabela, dong.
“Soal John dan Prita, Pa, Ma ....” John memandang serius pada Papa Herman dan Mama Bela, setelah sebelumnya menoleh pada Prita.
“Maksudnya soal kamu dan Prita? ....” Papa Herman angkat bicara, sedikit heran dengan sikap dan ucapan John. Termasuk Mama Bela yang ikut serius memperhatikan. Papa Herman dan Mama Bela sejenak saling pandang.
“John ingin meminta izin Pa, Ma.” Ucap John dengan lugas. “John ingin meminta izin Papa dan Mama untuk serius dengan Prita.”
“Mak – maksudnya....?.”
“Maksudnya, John sudah menyatakan perasaan John pada Prita, Pa, Ma. Saya mencintai putri bungsu Papa dan Mama, dan saya ingin dia menjadi teman hidup saya.”
****
__ADS_1
To be continue .....