THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 188


__ADS_3

❄EH, ABANG PULANG❄


 


 


Selamat membaca .....


**


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia ..


“Apa kamu masih mengingat ucapanku tentang bertanggung jawab atas segala hal yang kamu perbuat...?.” Andrew menyela kalimat putrinya itu.


“Ma – masih Poppaaa ....”


“Bagus.”


“Apa Poppa akan menghukumku...?.”


“Menurutmu?.” Andrew menatap putrinya itu lekat – lekat dan kini sudah mensedekapkan kedua tangan di depan dadanya.


Andrea takut – takut menatap Sang Poppa.


“Mungkin ...???.” Sahut Andrea pelan, sambil masih menatap Poppanya dengan raut wajah yang sedikit seolah meringis.


Andrew membungkukkan sedikit tubuhnya, mendekatkan wajahnya pada Andrea, yang spontan  memundurkan wajahnya lalu menunduk. “Lihat Poppa.”


“Aku ... minta maaf... Poppa ..”


“Untuk?.”


“Karena aku berkelahi...”


“Hahaha! ..”


“Pop?..”


Tak!


“Bodoh!.”


“Ouch!.”


Andrew meringis sambil mengusap jidatnya yang terkena sentilan sang Poppa.


“Pop tidak marah, Little Star ..”


“Benar Poppa?!!!.”


Andrew mengangguk sembari tersenyum sambil mengacak – acak rambut Andrea.


“I love you Pop!!!.” Andrea langsung loncat ke pelukan sang Poppa yang dengan sigap menangkapnya.


“I love you too, Princess.”


Andrew mencium pucuk kepala putrinya saat Andrea sudah menurunkan tubuhnya dari gendongan sang Poppa.


“Kamu tidak perlu takut jika melakukan hal yang benar. Tapi ingat, jangan bersikap seenaknya. Karena hal yang kamu anggap benar, belum tentu memang benar adanya. Tetap kamu harus menerima masukan dan saran dari orang lain.”


Andrea mengangguk antusias sambil tersenyum pada sang Poppa.


“Ingatlah selalu segala hal apa yang aku, Momma selalu katakan padamu. Jangan menindas orang lain yang lebih lemah darimu jika mereka memang tidak mengancam mu. Tapi jangan biarkan orang lain menindas mu dan memanfaatkan kelemahanmu.”


“Iya Poppa.”


“And listen to all your others Moms and Dads advice gave you ( Dan dengarkanlah setiap nasihat dari semua ayah dan ibumu yang lain ), termasuk dari para kakek dan nenekmu. Karena semua itu untuk kebaikanmu.”


Andrea mengangguk lagi lalu memeluk sang Poppa kembali. “Terima kasih Poppa.”


Andrew tersenyum lagi pada putrinya.


“Turunlah segera, Mom sudah memasak masakan kesukaanmu. Dan Rery sudah menanyakan mu sejak kemarin. Daddy R dan Mommy Ara juga ikut bersamaku juga Valera dan Oma. Gamma dan Gappa akan juga datang kesini setelah dari Perancis. Ake dan Ene sebentar lagi sampai. Mereka semua mengkhawatirkan mu”


“Sir, Yes Sir! ( Iya, Siap Pak! ).”


Andrew hanya terkekeh kecil melihat Andrea bak prajurit yang seolah sedang memberi hormat pada komandannya.


"Dan jangan galak - galak pada Abang."


"Hish! Masa bodoh kalau soal dia!. Semua orang datang kesini, tapi dia?!." Gerutu Andrea setelah Poppa berlalu dari kamarnya. "Nanti aku blocked sekalian! tidak hanya dari ponsel dan sosmed tapi dari hidup aku juga!. Marahin aku gara - gara teman cewenya! Cih! Abang macam apa??!!." Melanjutkan gerutunya sambil melangkah menuju kamar mandi untuk cuci muka.


****


Poppa dan mereka yang datang dari London dan sampai di Jakarta saat tengah malam itu sudah nampak berkumpul di ruang makan dan sisanya berpencar di ruang santai dengan piring makan yang sudah berisikan sarapan, baik yang ala Western ataupun ala Indonesia.


Ada nasi goreng kampung kesukaan si Andrea Ali yang sengaja dibuatkan Mommanya karena yakin si Drea udah kangen sama itu nasgor kampung buatan Momma.


“Nasi goreng kampuuungg!!!!.”


“Udah keluar itu setan gagu kemarin pagi dari badan si Drea kayaknya.” Gumam Nathan yang melihat si Drea sudah balik normal pagi ini. Berisik lagi pagi – pagi. “Seneng amat mukanya, yang habis gebukin anak orang!.”


Andrea melirik sinis pada Nathan yang iseng dengan celetukan nya.


“Daddy R!!!!.”


“Wow, coba lihat ini cewe jagoan anaknya si Donald Bebek dan si Kajol.”


“Jagoan neon!.”


“Sirik aja lo!.” Timpal Andrea pada Nathan. “Mommy Peri!!.”


“Sayang....”


“Momma!. My Blaem – Blaem Mommaa .... Ya ampun Drea kangen sama kalian semua!!....”


“Kangen! Kangen!. Bikin orang jantungan aja!.”

__ADS_1


“Ih, Momma nih, selalu saja menyentak kepala aku seperti itu.” Cebik Andrea pada Momma yang menoyor padanya.


“Apa?. Ga terima?. Mau berantem sini sama Momma?. Momma masukin ke perut lagi tau rasa!.” Timpal si Momma asal yang membuat yang lain terkekeh. Seperti biasa, biar pun usianya semakin matang dan udah punya anak perawan stok celetukan Fania belum berkurang.


“Muat memang si Drea lo masukin lagi ke perut?.” Celetuk Papi.


“Muat. Ke perut ikan paus!. Mau?!.” Sahut Momma sambil melirik pada Andrea sambil duduk disamping Poppa.


Andrea memonyongkan bibirnya pada sang Momma.


"Jangan diulangi lagi Juleha!."


"Iya Mommaaa.. kan sudah tahu pasti ceritanya kenapa aku bisa begitu?. Mereka yang mulai duluan."


“Sudah sarapan dulu.” Timpal Poppa yang puyeng udah kalo denger Fania ngoceh unfaedah pagi – pagi. Mereka semua pun sarapan dengan diselingi obrolan ringan dan candaan, dan tentunya membahas apa yang sudah si Andrea lakukan kemarin di Sekolah.


**


Para wanita sedang duduk – duduk santai di ruang keluarga. Sementara para pria dan anak – anak termasuk Andrea dan Nathan berada di area kolam renang selepas sarapan tadi.


“Aku pikir Kak Andrew akan memarahi Drea.”


“Haaah, marahin apaan. Dia justru udah ngomel karena takut itu si Juleha kenapa – napa. Eh pas Kak Jeff kirim foto itu dua anak yang di rumah sakit si Donald Bebek malah ngakak.”


*


Frognal, London*


“Kamu hubungi Prita, Heart. Aku akan menghubungi Jeff. Kita ke Jakarta hari ini juga!.” Ucap Andrew dan Fania langsung mengangguk.


“Jeff!.”


“....”


“Ck! Sudah jangan bertele – tele! Katakan apa yang terjadi?! Apa yang sudah terjadi?. Benar Drea berkelahi di Sekolah?!. Apa Drea terluka?.”


“....”


“Foto apa?.”


“....”


“Okay.”


...............


“Hahaha!.”


“Kenapa, D????.”


“Lihatlah.”


‘Lo lihat apa yang sudah si Drea lakukan pada beberapa murid di sekolahnya!.’


( Foto terlampir ).


‘Yang cewe itu harus dijahit dahinya, dan cowo disebelahnya itu lo lihat saja wajahnya. Satu lagi masih ditangani dokter karena rahangnya bergeser!.’


‘Belum lagi yang luka ringan di sekolah kata Nathan. Haish Donald Bebek!! Kenapalah tenaga lo yang macam Samson itu harus menurun pada si Andrea yang imut begitu???.’


“Ini... mereka begini karena Drea, D....?.”


“Ya begitu yang dibilang si Jeff. Hahaha.... tak sia – sia aku mengajarinya Kickboxing sejak usianya sebelas tahun. Hahaha!! ....”


“Ck! Malah ketawa lagi! Nah ini urusannya gimana ini kalau benar Drea yang membuat mereka sampai seperti ini, D?. Kalau orang tua mereka sampai menuntut Andrea gimana?.”


“Memangnya kamu lupa siapa Poppanya Andrea?. Belum lagi Daddy R. Apa kamu pikir kami akan membiarkan mereka menyentuh Putri kami?.”


“Ya tapi kan ....”


“Aku yakin bukan Andrea yang memulai. Nanti aku tanya lebih detail pada Jeff. Bersiaplah, kita akan ke Jakarta hari ini. Aku tak sabar ingin bertemu bintang kecil yang ternyata bisa berubah menjadi meteor. Hahaha!!!.”


“Kamu nih... nanti Drea dinasehatin juga, D.”


“Iya, iya. Sekalian nanti aku akan menyuruhnya berlatih Krav Maga, Jiu Jitsu dan Kendo juga. Hahaha!!.”


****


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia ..


“Kaga sekalian si Juleha diajarin nembak. Biar gue masukin tentara sekalian.” Celetuk Fania usai ia bercerita soal Ekspresi Andrew kala mendengar kabar kalau putrinya itu berkelahi di sekolahnya.


Michelle, Jihan, Ara dan Prita pun terkekeh. “Tapi memang hebat itu ya si Little Star bisa menghajar beberapa orang sekaligus, meski kakak kelasnya.”


“Kak Ara tau sendiri, si Drea waktu di London olahraganya apa?. Dari kecil dia udah berkuda, gue aje kecilnya naek delman.”


Empat orang Hot Moms itu terkekeh lagi.


“Belom kalo anak cewe sepantaran die waktu itu, senengnya gymnastic atau balet, dia malah milih basket, sepakbola, tambah lagi suka latihan kicboxing en Muaythay sama Poppanya. Ga heran sih kalo begitu tenaganya.”


“Nah sape dulu emaknya?. Nah elo waktu dulu senengnya apaan?. Boneka lo aja dikasih ke gue semua. Malah senengnya kutak katik pespa si Papah.” Celetuk Prita. "Lo aja pernah berantem waktu SD kata si Mamah."


Fania manggut – manggut. “Ya tapi kan gue berantem sama satu orang, kaga kayak die Prita. Galak dari kecil ga ilang – ilang tuh bocah.” Timpalnya. “Untung ada si Varen itu dia makanya dulu ga siapa aja dia gigit kalo dia kesel. Kalo engga kan enteng banget kadang tangannya, maen tepak tepak anak orang. Noh si Tan – Tan korban nyata. Untung die sabar kek emaknya.”


“Bisa aja kamu Fan.”


“Harap maklum ye, Mama Bear anaknya Hercules ya begitu dah.” Fania ngikik sendiri. “Tapi si Tan – Tan juga udeh tau si Drea jelek adatnya kalo kesel, masih aja demen godain.”


“Nathan itu biar sering jahil sama Drea, pada dasarnya dia sayang sama adiknya itu. Tapi yah, adek Drea kan hanya nurut sama si Abang.” Jihan bangkit untuk mengambilkan camilan untuk para ipar solmetnya itu.


“Eh, ngomong – ngomong si Abang. Dia kapan selesai kuliahnya sih, Kak Ara?.” Tanya Fania.


“Insya Allah tahun ini. Sedang mempersiapkan research paper ( skripsi ) untuk keduanya kok dia.”


“Jadi itu dia mau kuliah lagi katanya abis itu?.” Tanya Prita dan Ara mengangguk. “Demen amat belajar. Ga cukup apa itu dua gelar langsung dia kantongin?. Setara sama S2 ya kan Kak Ara? makanya dia lumayan lama disana yang harusnya tiga atau empat tahun kalo cuman S1 mah.”


“Ye emang elu! Kuliah kaga mau gara – gara ogah ketemu matematika?!. Ujung – ujungnya lo ketemu angka juga ngurusin debit kredit resto. Si Abang udeh ambil dua gelar sekaligus, plus extention belom lagi dia bangun bisnis disana, makanya lama si Massachusetts.”

__ADS_1


“Ye, kalo ngitung duit sih gue jago kaga usah pake kuliah!.”


“Benar itu, Prita.”


“Terus si Abang, mau lanjut di Harvard lagi kuliah selanjutnya?.” Tanya Fania.


“Sepertinya antara London atau di sini. Tapi ga langsung, dia mau mengelola R Corp bersama John kan.”


“Eh iya, ngomong – ngomong soal Abang.”


“Kenapa Ji?.”


“Drea kayaknya marah beneran itu sama si Abang.”


“Gara – gara Varen posting foto yang ada teman perempuannya?.” Sahut Ara sambil mencomot Loukumades yang dibawa Jihan. “Aku sudah suruh take down itu foto.” Sambungnya. “Sudah aku marahi juga.”


“Ngapain di marahin si Kak Ara?. Haknya si Varen itu sih. Itu aje si Juleha yang kelewatan!.”


“Ish, enak aja. Biar galak begitu, calon menantu aku dan R dimasa depan itu. Lagian aku lebih sayang sama Drea daripada Varen.”


“Hahahaha ..” Lima wanita itupun tergelak bersama. “Terus yang Kak Jihan tadi bilang?.”


“Oh iya bukan karena itu foto aja!.” Sahut Jihan. “Ceritain Chel.”


“Drea itu kan mengamuk karena kesal dimarahi si Abang.” Michelle angkat bicara.


“Iye, itu gue sama Kak Ara udeh diceritain Kak Dewa tadi. Nah terus?.”


“Kesalnya Drea itu berkelanjutan.”


“Berkelanjutan gimana?.”


“Marahnya!.”


“Hah?. Itu si Juleha marah lama ama Abangnya?. Masa?. Die diomongin suit sama Varen juga lulut langsung.” Sahut Fania.


“Kali ini si Juleha malah beneran kayaknya. Soalnya waktu si Abang telpon, dia ga mau terima. Berapa kali itu si Abang telpon gue, Papi, Kak Jihan, Kak Michelle dan semua orang disini biar bisa ngomong sama si Juleha. Tetep aja tuh anak lo kekeh ga mau nerima telpon si Abang. Segala pake bilang ga kenal pula.”


Fania melongo tak percaya sementara si Ibu Peri terkekeh.


“Kapok, marahi kesayangan aku dan R.”


“Dih emak yang aneh, bukan belain anaknya, malah belain anak orang.” Mereka berlima terkekeh lagi.


“Terus si Abang masih nelponin, Ji?.”


Jihan menggeleng.


“Terakhir waktu minta tolong sama Kak John, di loud speaker dan Drea bilang hal yang sama. ‘Dibilang aku ga kenal sama yang namanya Abang!.’. Gitu katanya abis itu langsung dimatikan sama Drea, bahkan ponsel Kak John di matikan sama itu anak.”


“Et eett gaya banget si Juleha. Dicuekin beneran sama si Abang, tau rasa die entar.” Celetuk Fania.


“Asal saat itu jangan ada yang nyenggol lagi itu anak lo. Bisa – bisa satu kota Jakarta dia amukin.” Timpal Prita dan mereka terkekeh lagi.


“Coba gue telpon si Abang deh.”


***


“Gimana Hon?.” Tanya Ara pada Reno saat malam sudah menjelang dan mereka sedang berada didalam kamar.


“Adam bilang, menurut security Apartemen si Abang, kemarin dia keluar Apartemen dengan tergesa menggunakan taksi.”


‘Mau kemana dia?.’ Batin Ara. “Coba dicek, tadi aku dan Fania coba menghubungi tapi ponselnya tidak aktif. Aneh juga dia mematikan ponselnya dalam waktu lama. Aku sedikit khawatir kalau Varen kenapa – kenapa, Hon.”


Reno mengangguk. “Tenanglah, tidak perlu khawatir. Varen bukan pria lemah dan bodoh.” Sahut Reno sambil memeluk Ara. “Aku sudah minta Adam untuk mencari tahu dengan teman satu timnya. Mungkin mereka sedang sibuk membuat inovasi baru lagi dalam teknologi. Karena yang kutahu, Putra kita itu sudah berhasil merangkul A-Tech sebagai Investor mereka.


”Ya sudah kita tunggu kabar dari Adam.”


***


Esok hari.....


“Pantes bakul nasi goyang – goyang.”


Mama Bela dan Papa Herman yang khawatir karena mendengar kabar si cucu pertama berantem di Sekolaan sudah sampai di Kediaman Utama di Jakarta sejak kemarin sore dan menginap disana.


“Bakul na-si??.”


“Noh, si Abang pulang!.”


Semua orang menoleh ke arah jari telunjuk Mama Bela yang sedang membantu menyiapkan sarapan di halaman belakang sedang mengarah.


***


“Abang Bawa Apaan?.”


“Abang Bawa Bungkusan.”


“Eh, Bungkusan nye Apaan.”


“Beginian....”


***


“Drea mana?.”


“Udah Pergi.”


“Kemana?.”


“Mau dimasukin Pesantren!.”


“Apaaa??!!!! ..”


***


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2