
Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye
***********************************************************************
HO A! HO E!
Selamat membaca.....
“Kak Kafeel itu seumur Abang!”
Mika yang tahu tentang cowok yang secara tiba-tiba ditunjuk Valera sebagai pangeran impiannya itu, memberitahukan rentang usia cowok yang memang tampan dan berbadan tegap macam Abang pada saudarinya itu.
“So what?” Santai saja Valera menyahuti ucapan Mika barusan.
“Val, kamu sehat?”
“Sangat sehat untuk berkenalan dengan Pangeran aku dimasa depan” Sahut Valera lagi dengan santainya.
Mika pun geleng-geleng dibuatnya.
‘Crazy teenager sister I have ( Saudari remajaku yang gila )...’
“Mika! Val! Come! ( Kemari! )”
Itu Papi John yang berteriak sembari melambaikan tangannya ke arah Mika dan Valera yang memang sedang berjalan ke tempat dimana Papi John dan para ortu mereka berada saat ini.
“Tuh kan, Such things bring grist to his mill! ( Pucuk dicinta ulam pun tiba! )....”
Valera memainkan alisnya seraya menatap Mika sambil membalas lambaian Papi John.
“Hhh...... what-evah!”
Mika memutar bola matanya malas.
“Comiing Papii!!..”
Sahutan Mika pada panggilan Papi John dengan antusias dan berbinar.
***
“Haiii!!! ...” Valera menyapa antusias semua orang saat dia dan Mika sudah sampai dimana keluarganya sedang mengerubung itu.
“Nah ini Ka, dua ekor lagi” Itu Daddy Jeff yang berucap saat Mika dan Val sudah bergabung bersama mereka. Sementara saudara-saudarinya yang lain sudah kembali melipir ke tempat mereka semula sebelum dipanggil untuk diperkenalkan pada Kafeel berikut pada ibu dan adiknya.
“Apa sih Papa Bear, memang kami lumba-lumba?” Protes Mika.
“Ini Mika kan ya?”
Kafeel mengenali Mika yang langsung mengangguk dan bersalaman dengan Kafeel, karena adik dan ibu Kafeel sudah digeret oleh istrinya Uncle Rico untuk diperkenalkan pada lainnya yang berada disudut yang berbeda.
“Iya Kak, aku Mika”
“Wah, sudah besar ya?. Padahal tahun lalu terakhir ketemu belum sebesar ini?”
Mika menarik sudut bibirnya.
“Kalau yang ini, Valera, ya?” Kafeel beralih ke Val dengan tetap tersenyum.
“Betul sekali!” Sahut Val dengan cepat, menampakkan senyumannya. “Hi Kak Kafeel, salam kenal”
“Salam kenal juga Valera..”
Kafeel menyambut uluran tangan Valera yang kelewat semangat itu.
‘Ini si Val kenapa coba?’ Andrea membatin sembari menelisik sikap Valera yang sepertinya sangat bersemangat.
“Time flies ya?” Ucap Kafeel sembari menoleh sejenak pada Varen dan mereka yang ada bersamanya itu. “Udah pada besar aja ini adik-adik”
Mereka yang bersama Kafeel manggut-manggut sembari tersenyum.
“Pasti dia ga inget sama gue deh Va. Terakhir ketemu waktu dia umur lima tahun ya kalau ga salah, saat gue ke London?”
Varen manggut-manggut.
“Perpaduan Uncle R sama Aunt Ara banget ya Valera ini?”
“Cantik kan aku?”
Kafeel pun sontak terkekeh mendengar ucapan Valera barusan.
‘Heemmmm.... suara tawanya crunchy sekali, macam keripik kentang kesukaan aku! ....’ Valera membatin gemas.
“Pastinya dong!” Sahut Kafeel yang kemudian mengusap seraya mengacak pelan rambut Valera karena ia gemas pada adiknya Varen itu.
“Tunggu ya?” Ucap Valera yang tidak memalingkan wajah dan matanya dari Kafeel. Membuat Kafeel sedikit bingung, termasuk mereka yang berada di dekat Valera.
“Tunggu apa?” Tanya Kafeel spontan.
“Tunggu lima tahun lagi, tunggu usia aku tujuh belas tahun”
***
“By the way, are we having a formal dinner tonight?..... ( Ngomong-ngomong apa acara makan malam nanti itu formal? )...” Tanya Mama Fabi yang sedang duduk-duduk santai bersama Papa Lucca, Gappa, Gamma dan Nenek Yuna serta beberapa kerabat mereka yang lain.
“No. Just a casual dinner ( Tidak. Hanya makan malam santai saja )”
Gappa yang menyahut.
Mereka yang bersama Gappa pun langsung manggut-manggut.
**
Kapal pesiar the Adjieran Smith sudah mencapai titik pertama rute berpesiar mereka. Namun hanya melewatinya saja, tidak bersandar disana karena lebih memilih satu negara berikutnya yang lebih bagus spot lautnya untuk berwisata.
“Kenapa Mas Ipul?” Itu Varo yang bertanya, selepas pintu kamar yang ditempatinya bersama Rery dan Felix, anak Uncle Nino, berikut satu asisten rumah tangga pria terpercaya di Kediaman itu diketuk dari luar, dan laki-laki yang dipanggil Mas Ipul itu kemudian membukanya dan berbicara dengan orang yang mengetuk pintu kamar mereka.
“Itu Den Varo, kita di suruh ke ruang makan sekarang katanya...”
“Ohhhh....”
Varo, Rery dan Felix kemudian langsung berhambur keluar kamar berikut Mas Ipul.
Lalu the three little guy ( Tiga anak cowok ) yang kurang lebih sama coolnya, namun berbeda usia itu mengayunkan langkah mereka menuju dining room. Dimana para orang tua dan tetua, saudara-saudari mereka berikut teman-teman sebaya dari para kerabat sebagian besar sudah berkumpul disana.
****
“Little Star, aku gabung di luar sama ‘the men’ ya?” Kata Varen sembari bangkit dari duduknya setelah acara makan malam santai yang sebelumnya dibuka oleh kata sambutan dari Gappa untuk menyambut para tamu yang Gappa dan seluruh keluarga sebut sebagai kerabat.
Dan sesi makan malam tersebut diiringi oleh musik dari sekelompok pemusik yang memang bekerja dalam kapal pesiar untuk menghibur para tamu jika kapal milik The Adjieran Smith itu sedang dipakai untuk komersil.
__ADS_1
Satu kelompok musik pegangan Momma, yang memang sedari muda passionnya disana, selain otomotif. Bedanya para pemain musik termasuk vokalis yang berada dalam naungan MO milik Momma dan Mami Prita dengan para pemusik lain adalah, para pemusik yang masuk dalam MO-nya Momma dan Mami Prita diharuskan utuk menguasai berbagai macam jenis musik.
Jadilah, karena para pemusik dalam naungan MO milik Momma dan Mami Prita itu katakanlah segala bisa.
Mau musik pop, bahkan dangdut dan daerah para pemusik asuhan Momma dan Mami Prita itu banyak sudah menguasai lagu-lagunya. Serta beberapa lagu dari berbagai belahan dunia.
Makanya sudah banyak pihak yang berkenan memakai jasa para pemusik yang berada dalam naungan MO Momma dan Mami Prita yang merupakan penghibur musik paket lengkap itu.
Jadi selain Momma memliki kafe yang berdampingan dengan bengkel berikut tempat memodifikasi kendaraan yang sudah memiliki beberapa cabang di dunia itu, Momma juga memliki sebuah Music Organizer yang dikelola bersama Mami Prita.
“Heemmmm ..” Sahut Andrea pada ucapan Varen tadi, hanya dengan deheman malas-malasan.
Varen menyunggingkan senyumnya sembari mengacak pelan rambut Andrea yang dikuncir kuda, karena memang acara makan malam santai jadi mereka yang berada dalam jamuan makan malam pertama dalam kapal pesiar itupun berpakaian casual lebih ke santai saja.
“Awas ya, jangan ngobrol dengan Arya tanpa aku”
Varen membisikkan larangannya di telinga Andrea sebelum dirinya dan Nathan pergi keluar menyambangi para pria yang hobi menyesap batangan nikotin, seperti halnya mereka berdua itu.
“Heemmmm ..” Lagi-lagi Andrea hanya menyahut dengan dehemannya saja berikut ekspresi yang sepertinya sedang malas menanggapi si Abang.
“Janji dulu” Pinta Varen. Andrea mencebik. “Little Star..”
Andrea yang nampaknya sedang sebal pada si Abang itupun menyahut kemudian.
“Iyaaa Abaangg.....” Sahut Andrea sembari melirik malas pada si Abang yang langsung tersenyum setelah mendengar jawaban Andrea, meski istri kecilnya itu nampak sedang merajuk padanya.
“Ya sudah, aku tinggal dulu sebentar ya?. Sebatang saja kok!” Ucap Varen lagi.
“Hemm....”
“Love you” Ucap si Abang sebelum hengkang dari tempatnya bersama si Tan-Tan yang terkekeh kecil melihat Andrea yang nampak sedang merajuk itu.
“Hemm....”
“Jangan cemberut gitu ah..”
“Dah sana ih! Katanya mau merokok!”
“Iya, iya....” Varenpun melenggang menuju bagian luar dari ruang makan, untuk menghampiri para Dadnya yang sebagian terlihat sedang mengobrol bersama beberapa kerabat pria mereka.
“Vi-Baby, Mom, kami tinggal dulu ya?” Pamit Tan-Tan
***
“Ish! Ga peka banget jadi suami!” Andrea menggerutu dalam gumaman selepas si Abang melenggang dari hadapannya. “Sekarang aja cemburu sama Kak Arya, tadi di kamar aku ditinggal tidur!”
“Kenapa sih?”
Itu Via yang mesam-mesem melihat Andrea yang sedang bergumam dengan wajahnya yang nampak sebal.
“Apalagi?!. Tuh si Alvarend bikin kesal!” Sahut Andrea dengan merungut dan Via serta Mommy Ara yang duduk semeja dengan mereka terkekeh kecil.
Sementara Daddy R sudah lebih dulu memisahkan diri sebelum si Abang dan Tan-Tan berpamitan pada tiga wanita itu.
“Habis bertengkar sama Abang?” Tanya Mommy Ara.
“Ya, engga .....”
Andrea menjawab pertanyaan Mommy Ara dengan masih sedikit merungut.
“Lalu kenapa anak merangkap menantu Mommy ini merungut begitu, hem?...”
“Ya aku sebal saja Mom ...” Sahut Andrea.
“Ya sebal, tadi kan banyak waktu di kamar, mesra-mesraan kek gitu. Eh, Drea malah ditinggal tidur!”
“...........”
“Terus tadi sebelum makan malam, malah main game!”
Kevia dan Mommy Ara sontak terkekeh. “Ya udah cuekin aja itu si Alvarend!” Celetuk Mommy Ara. “Lebih baik kita gabung ke tempat Momma aja yuk?”
Mommy Ara menunjuk kesatu arah dimana Momma sedang terlihat bercanda tawa dengan beberapa kerabat wanita serta Mami Prita disana. Andrea dan Via pun sontak mengangguk.
Dan ketiga wanita itu pun langsung beranjak dari tempatnya untuk pergi ke meja dimana Momma dan Mami Prita berada.
****
Sementara itu di tempat dimana para pria yang seperti sedang berlomba mengumpulkan asap di udara
“Kau berulah apalagi pada Little Star, hem?! ..” Celetuk Daddy R saat si Abang dan Tan-Tan sudah ikut bergabung bersamanya dan beberapa pria lain di sebuah bagian kapal yang memiliki sofa melingkar. Si Abang langsung mendengus geli mendengar celetukan sang Daddy kandungnya itu.
“Merajuk karena aku tinggal tidur dan bermain game”
“Jadi Little Star merajuk karena kau tidak mengajaknya bermesraan saat di kamar?”
“Hem begitulah Dad....” Sahut si Abang pada Daddy Jeff yang barusan bertanya padanya.
Daddy Jeff beserta beberapa pria lain yang juga para Dadnya si Abang dan Tan-Tan itu mendengus geli.
“Persis macam Poppanya sekali si Little Star!....” Timpal Daddy R. “Yang akan merajuk habis-habisan jika Momma-mu menolak memberi jatah!....”
Suara kekehan renyah sontak terdengar.
“Macam Daddy R-mu itu tidak!”
Suara kekehan terdengar lagi.
“Bahkan tadi aku merasakan kamarku dan Momma-mu bergetar akibat guncangan dari kamar Daddy-mu!”
“Hahahahaha..”
“Haish! Para Pak Tua ini...”
Varen geleng-geleng saja dengan kelakuan para Dadnya yang sering lupa usia itu.
"Memang kau belum bernananina dengan Little Star?" Tanya Daddy Dewa iseng.
Varen menggeleng.
"Biar Little Star fit dulu lah!" Sahut Varen santai.
Kemudian para pria itu, melakukan pembicaraan santai yang ditemani iringan musik berikut kerabat mereka yang sedang bernyanyi bergantian di dalam ruang makan.
Yang suasananya dapat terdengar dan terlihat dari luar. Karena ada televisi layar datar yang tergantung di beberapa sudut kapal, terutama di bagian geladak kapal sekitar ruang makan.
**
“Gue duluan kedalem ya” Pamit Nathan pada si Abang yang sedang mengobrol bersama Kafeel dan Rendy serta Sony. Nathan sedikit gatal, karena di dalam terdengar sedang dangdutan.
__ADS_1
Dan biasanya kalau sudah ada musik favoritnya sebagian besar orang-orang di Indo itu sudah dimainkan, akan ada aja kelakuan orang-orang yang mengundang gelak tawa. Dan biasanya memang Nathan suka iseng mengabadikan momen-momen kocak tersebut.
“Kalau Little Star tanya, bilang gue sedang mengobrol dengan Kafeel dan Rendy!... Bentar lagi gue masuk!...”
Nathan mengangkat jempolnya dan masuk ke area ruang makan yang sudah ricuh dengan gelak tawa dan orang-orang yang sedang berjoged ria itu.
Sementara si Abang asik ngobrol bersama Kafeel dan Rendy di dekat para Dadnya yang juga masih berada di tempat mereka tadi. Yang juga sedang asik mengobrol dengan beberapa kerabat yang seusia mereka.
Poppa nampak anteng , karena yang terdengar sedang menyanyi dangdut itu bukan suara Momma melainkan si ayah mertua, yakni Ake Herman, yang meski udah uzur tapi semangat dangdutannya belom kendor.
Namun setelahnya, Poppa tahu-tahu berdiri dengan wajah yang nampak was-was.
“ASSALAMU”ALAIKUM EPERI BODIIIHHH!!!!...”
Karena saat ini suara Momma sudah lantang terdengar selepas Ake Herman selesai bernyanyi.
Poppa jadi was-was kalau sedang dangdutan gitu, terus suara si Momma terdengar. Bukan apa-apa, Momma memang sudah kepala empat sekarang, tapi bodi Momma tidak terlalu berubah. Termasuk bemper nya yang dulu sekali membuat Poppa pusing dan lemas saat pertama kali melihat bemper Momma melenggok alamahoy ke kiri dan ke kanan mengikuti suara gendang.
Nah, sejak itu, setiap kali si Momma nyanyi dangdut di depan umum, Poppa akan berdiri dibelakang Momma untuk menutupi bemper si Momma yang bisa membuat imin pria lain suka ga kuat.
🎶🎶
Lama sudah, kucinta padamu...
Tapi, dihati hanya terpaku...
🎶🎶
Kini Papi John juga ikutan berdiri dan mengekori Poppa yang sudah berjalan masuk ke dalam ruang makan, selepas suara Mami terdengar juga menyanyi menyahut nyanyian Momma.
🎶Karena hidup kita berbeda... Kau t’lah berdua.. kini ku yang merana..🎶
Pada akhirnya, para Dad mengikuti jejak Poppa dan Papi yang masuk kembali ke ruang makan, dimana Varen, Kafeel dan Rendy tetap di tempat mereka karena masih asik mengobrol dengan juga terkekeh kecil melihat keseruan didalam.
Namun tak lama, si Abang asik mengobrol dengan dua kerabatnya itu. Perhatian si Abang seketika teralih, karena suara yang dikenal Varen terdengar di mikrofon berikut sosoknya yang nampak di layar datar.
“Coba suara gendangnya diperjelas! Kalau kurang tambahkan galon air minum!”
Dan Abang sontak saja membulatkan matanya, sembari mengayunkan langkahnya lebar-lebar menuju ruang makan dimana suara itu kembali berucap saat suara gendang dibulatkan lalu bilang,
“Ih gurih banget goyangan Drea kan ya?”
Disertai orangnya yang memang sedang meng-geol sedikit diatas panggung.
**
Sementara itu di ruang makan
🎶🎶
Lama sudah, kucinta padamu... Tapi, dihati hanya terpaku...
Karena hidup kita berbeda... Kau t’lah berdua.. kini ku yang merana..
🎶🎶
“Naek sini Juleha!”
🎶Cintaku, kini terisolasi ..🎶
“Tau daripada cembetut mending joged sana!”
🎶Siang malam kau s’lalu dihati ...🎶
“Coba suara gendangnya diperjelas! Kalau kurang tambahkan galon air minum!”
Itu Andrea yang mengambil mikrofon milik Momma dan berbicara pada pemusik yang cekikikan kemudian berikut orang-orang yang mendengar celotehan si Juleha itu.
🎶Tidur pun aku tak bisa nyenyak ..🎶
🎶S’lalu teringat ..🎶
Itu Mami yang bernyanyi,
🎶Terbayang di mata...🎶
Kemudian suara gendang yang digantungkan sebentar dan dihentak lagi terdengar.
“Ih gurih banget goyangan Drea kan ya?”
Itu suara celetukan si Juleha lagi yang menggeolkan pelan bemper nya yang bohay itu perlahan.
Disambut langsung dengan gelakan semua orang.
🎶Eh sampai kapan...🎶
“Asseekk...”
“HEEE AA!!!!”
“HOOBBAA ...”
Suara-suara yang mengiringi geolan si Juleha kian ricuh terdengar bercampur gelakan.
🎶Hidupku begini ..🎶
“HAADDUUUHHH!!! .....”
Termasuk suara rusuh profokatip si Tan-Tan yang menjadi suara latar saat Andrea bergoyang, membuat pria-pria seusianya yang ikut tergelak, sedikit merasa gemas juga pada si Juleha yang pelan aja joged nya, ditempat malah.
Namun karena pelannya itu goyangan bemper Juleha yang nampak mendayu bak nyiur melambai, membuat hati para pria muda berdebar-debar bahkan sampai menggigit bibir bawah mereka.
Ada yang dirasa nyer-nyer-an
“Kamera suruh shoot gue dari deket Tan!”
🎶🎶🎶🎶🎶
“Jangan hanya setengah badan! ...”
Si Juleha masih berkoar.
“Sampai bawah! Biar body aku keliatan! ...”
🎶🎶🎶🎶🎶
“Biar nyut-nyutan itu si Alvarend!”
**
__ADS_1
To be continue...
Ritual jangan lupaahhh ...