THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
BONUS CHAPTER


__ADS_3

Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye


***********************************************************************


Selamat membaca .....


**************************


Cinta itu indah.


Setidaknya itu yang kami rasa saat kami telah merasa yakin menemukan seseorang yang akan menjadi pendamping hidup, sampai nanti ajal memisahkan.


Bahkan ada harap, jika ajal menjemput kami dan orang terkasih kami secara bersamaan, agar tidak saling merasakan yang namanya kehilangan dan menjalani sisa hidup dengan rongga kesedihan dalam hati tanpa seorang belahan jiwa disisi kami.


Egois memang,  jika dipikir..


Karena ada anak-anak yang akan langsung ditinggalkan kedua orang tuanya. Tapi tanpa seorang belahan jiwa pun, rasanya hidup akan terasa hampa.


Ya sudahlah, berserah pada ketentuan Yang Maha Kuasa saja, untuk hal yang disebut ‘ajal’ itu. Bagaimana nantinya takdir hidup kami pada akhirnya, biarlah itu menjadi ketetapan yang menjadi rahasia-Nya bagi para umat-Nya.


Hanya doa kami, untuk anak-anak kami nanti saat usia mereka sudah cukup untuk mengenal apa itu cinta, indahnya cinta itu sendiri pun akan menyelimuti mereka juga. Berikut kebahagiaan yang menyertainya.


***


Author’s POV


Cinta itu indah.


Bagi mereka para orang tua, di Dinasti The Adjieran Smith.


Dari kisah cintanya Daddy R dan Mommy Ara, Poppa dan Momma, Daddy Dewa dan Mom Ichel, Papa Bear dan Mama Bear sampai Papi John dan Mami Prita.


Bahkan Varen dan Andrea, lalu Nathan dan Kevia, jangan lupakan juga Papa Lucca dan Mama Fabi.


Masing-masing punya kisah berbeda yang berakhir dengan bahagia dan kelanggengan dalam keharmonisan hidup berumah tangga.


Dan yang perlu digaris bawahi adalah, hidup berdampingan dengan dekat dan erat bersama mereka yang tercinta.


Setiap kisah punya alurnya, punya konfliknya. Namun pada akhirnya, cinta meraja hingga menang. Didukung rasa saling percaya, serta kesetiaan, yang memang dipahat dengan waktu dengan sedikit ujian-ujian cinta untuk menguatkan jalinan cinta dan perasaan dalam hati masing-masing.


Makanya dari mulai Daddy R dan Mommy Ara, hingga sampai ke Nathan dan Kevia, merasakan cinta itu indah karena sudah meraihnya. Sampai dengan saat ini.


Untuk apa yang sudah para Dad dan Mom serta para kakak yang sudah meraih keindahan dari kata ‘cinta’ yang banyak maknanya itu, harapan mereka adalah. indahnya cinta dan bahagia bisa para pewaris muda di Dinasti The Adjieran Smith dapat dan rasakan seperti halnya mereka kelak.


Saat para pewaris muda dari mulai Mika, Valera, Aro, Isha, Rery, Ann, Aina dan Ares menginjak usia dewasa.


Selain kesuksesan dalam hidup tentunya. Baik cinta, karir maupun ketentraman. Seperti tentram nya keluarga The Adjieran Smith saat ini.


Saat Mika dan Valera sudah mulai beranjak untuk menuju kedewasaan, diikuti oleh para adik-adik mereka. Kehidupan dalam keluarga tersebut selaras saja sampai dengan detik ini.


Jadi yah, harapan para orang tua, kakak, maupun para tetua. Para pewaris muda itu akan menggenggam bahagianya.


Author’s POV off


****


Kediaman Utama Keluarga The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia


Waktu liburan di London tiba, dan seperti biasa momen ini dijadikan ajang untuk berkumpul keluarga yang cetar membahenol itu.


Hanya saja, tahun ini belum ada rencana untuk plesiran ke luar negara, mengingat kesehatan salah satu tetua sedang menurun. Jadi acara kumpul-kumpul di masa liburan kali ini, cukup menjadikan Kediaman Utama yang berada di Jakarta itu sebagai base-camp.


Tidak dirasa suatu masalah besar jika tidak liburan ke luar negeri bagi para anggota keluarga dari Dinasti Adjieran Smith tersebut. Toh rasanya mereka sudah mengunjungi setiap di negara yang ada di dunia ini kecuali negara konflik. Lagipula bukan liburannya yang penting, tapi kebersamaan lah yang diutamakan.


Berterima kasihlah pada Gappa dan tetua yang lainnya, yang mengajarkan pada anak-anak mereka arti sebuah keluarga dan mencontohkannya. Dan Poppa serta para orang tua yang lainnya patuhi dan jalani, lalu menurunkan dan mengajarkan hal yang sama pada anak-anak mereka. Dan bersyukur karena para anak di generasi Abang Varen itu benar-benar menelan bulat-bulat apa yang selalu dikatakan para orang tua, tentang nilai sebuah keluarga.


Dimana kasih sayang antar anggota didalamnya harus selalu dijunjung tinggi. Dan Varen sampai Ares pun sungguh-sungguh menerapkannya. Tidak pernah ada pertengkaran yang berarti, kecuali adu mulut, saling meneguhkan pendapat jika membahas suatu hal. Kurang lebih ga jauh beda sama bapak en emaknya pada lah. Ga ada yang pendiam, cuman beberapa yang agak-agak cool aja. Diluar tapi. Kalo lagi berkumpul ria seperti sekarang ini sih, sisi cool-nya suka ketinggalan dimana gitu.


***


“Abang” Itu Valera.


Yang memanggil Varen yang sedang duduk landai di kursi kolam renang bersama para adik, dan satu adik yang merangkap istrinya serta satu adik iparnya yang memilih berkumpul di area kolam renang outdoor sembari barbekyuan.


Sementara para orang tua dan tetua berada di area dalam kediaman, bermain dengan dua cucu dan cicit yang merupakan anggota baru dalam Dinasti keluarga mereka. Membiarkan saja para anak-anak memiliki acara mereka sendiri, terpisah dari para orang tua dan tetua.


“Hem?”


Varen yang nampak sibuk dengan ponselnya sembari satu tangannya merangkul posesif Andrea, menyahut selintas saja.


“Kak Kafeel kapan kembali dari Beijing?”


Valera bertanya pada si Abang yang sedang fokus pada ponselnya, sembari disuapi daging barbekyu oleh Andrea hasil panggangan beberapa asisten rumah tangga.


“Punya ponsel kan?!”


“Ya punya....”


“Nah ya sudah, tanya sendiri. Nomor ponsel Kafeel kamu punya. Feature chat ada, your phone pun ga pakai pulsa, bebas telepon. Bebas mau telepon ke negara mana juga, mau sampai meledak itu cellphone pun bisa!”


Yah, begitulah Abang Varen. Kalo mode freezer frozen food-nya on, ngomongnya irit banget. Bahkan saking iritnya, nyaut cuma pake kode kepala.


Tapi giliran si Abang mau menyahut, seringnya ketus. Bikin sebel para adik.


Hanya ya itu, ga ada yang berani melayangkan protes pada Abang Varen. Takut Abang marah. Ngelirik aja Abang sinis, nyeremin. Gimana tuh kalo si Abang marah?.


Muka Abang Varen tuh, adem kalo lagi mandangin Andrea aja.


Tapii kalo mode perhatian sayangnya Abang lagi on juga, ya ampun Abang Varen itu baenya bukan maen sama ade-adenya, mau apa diturutin.


Jangankan di traktir makan di restoran mewah, kalo perlu restorannya si Abang beliin sekalian.


Seperti waktu Putra lahir tuh. Satu pusat belanja di tutup sama Abang, saking dia mau ngebelanjain ade-adenya sampe puas tanpa ada gangguan orang luar.


Meskipun uang di satu rekening Abang lumayan bergoyang bak ombak di lautan kalau air laut mau pasang, akibat para adik yang tak tahu diri itu benar-benar memanfaatkan keroyalan si Abang yang membelanjakan mereka hari itu.


Kalo kata para ade,


“Iyah, orang Abang bilang, suka, ambil, ga pake liat harga”


Nah ya sudah angin surga bagi para adik huru-hara plus tak tahu itu, termasuk Andrea, yang ikut menguras uang suaminya juga bersama para adik-adiknya.


“Yah, aku kan itungannya adik juga, double job malah. Ya adik, ya guling hidup. Jadi aku double haknya” – Gitu kata Andrea tanpa beban, padahal jatah uang belanja bulanannya dari si Abang bisa bangun kos-kosan.


Jangan lupakan Nathan yang juga ikutan macam Andrea.


“Gue adik lo juga Bang itungannya” – Kata si Tan-Tan. Memboyong Kevia juga untuk ikut di belanjain. “Via juga dong Bang?. Istri gue, adik lo juga dong? Jadi dapet jatah di belanjain juga dong iya apa iya?”

__ADS_1


Abang pun pasrah, saat melihat tagihan belanja yang gulungannya kayak red carpet di acara piala oscar.


Panjangnya kebangetan.


Didukung nominal angka yang luar biasa banyak komanya. Untung Abang kaya raya punya uang war biasah banyaknya, jadi Abang tidak sampai koma, melihat struk belanja adik-adiknya yang tak tahu diri itu.


Tapi Yah, Abang juga sempat memijit pelipisnya saat melihat jumlah total belanja para adik kesayangan, namun pas di sayang-sayang, tak tahu dirinya kelewatan.


“Adik-adik tanpa akhlak memang”


Gumamannya Abang kala itu saat melihat struk belanja adik-adiknya sembari mendengus saja.


Cuman yah, tebal dengusan Abang.


Pasalnya bukan hanya pakaian dari ujung rambut sampai ujung kuku termasuk beragam aksesoris, tapi barang-barang unfaedah pun dibeli oleh para adik tanpa akhlak itu.


Bahkan Tan-Tan, Rery dan Aro membeli action figure dengan harga puluhan juta rupiah.


Kan, kurang berakhlak gimana itu mereka?.


**


“Abang”


“Hem?”


“Kak Kafeel kapan kembali dari Beijing?”


“Punya ponsel kan?!”


“Ya punya....”


“Nah ya sudah, tanya sendiri. Nomor ponsel Kafeel kamu punya. Feature chat ada, your phone pun ga pakai pulsa, bebas telepon. Bebas mau telepon ke negara mana juga, mau sampai meledak itu cellphone pun bisa!”


“Ya aku kan tanya sama Abang ada maksudnya!” Kata Valera. “Aku memang sudah tanya sama Kak Kafeel kapan dia pulang ke Jakarta” Sambungnya. “Dua hari lagi katanya ....”


“Nah terus, kenapa tanya sama aku kalau sudah tanya langsung ke orangnya dan sudah dapat jawabannya juga?”


“Ya aku kan mau tanya detailnya sama Abang, soalnya aku tuh mau kasih surprise lah untuk Kak Kafeel”


“Halah!”


“Surprise apalagi sih Val?... Kamu itu kan sudah bikin Kak Kafeel syok dengan pernyataan cinta kamu di kantor Abang waktu itu ....”


“Hah?!”


“What?!”


“Seriusan itu yang Kak Drea bilang Val?!”


“Kamu nembak Kak Kafeel gitu?!”


Dan rentetan pertanyaan dari para saudara dan saudarinya Valera terkecuali Abang dan Andrea itu dijawab dengan anggukan kepala Valera.


“Hu’um” Valera mengangguk imut tanpa beban.


“Gokil mampus!”


“Astogeee ...”


Dan rentetan sahutan ricuh dari para saudara-saudari Valera langsung juga mengudara.


“Malu-maluin!”


Abang terakhir berucap sembari memandang malas pada adik kandungnya itu.


“Tauh ih, benar itu kata Abang!” Sambar Mika. “Malu-maluin.... Masa cewek nembak cowok?”


“Ih, mana ada malu-maluin?!” Cetus Valera. “Emang kenapa cewek nembak cowok? Emansipasi dong! Kalau cowoknya pasif, ya ceweknya harus pro aktif!”


Si ahli debat dan memang jago debat karena sering memenangkan ajang itu saat Valera masih duduk di pendidikannya yang setara dengan SMA tidak akan menyerah begitu saja jika ia dipojokkan.


Terlebih mengenai perasaannya pada pria yang sudah ada di hatinya sejak lama, yang menurut Valera itu adalah Cinta yang sebenar-benarnya.


“Ya emansipasi ga begitu juga! Masa nembak cowok? Di depan orang banyak lagi?”


“Ya jam pulang kantor, di lobi kantor. Banyak orang lah. Coba itu adiknya Alvarend. Luar angkasa bukan?? ....”


Andrea berujar sembari cengengesan. Melirik pada si Abang yang memutar bola matanya malas.


“Mi apa Kak Drea?”


Itu Isha, yang sampai melongo namun kemudian cengengesan.


“Mi Tek-Tek!” Timpal Andrea.


Lalu Isha dan Andrea saling terkekeh, diikuti dengan yang lainnya.


“Gila! Gila! Abang ade, sama-sama ngebetan!”


Itu Tan-Tan dengan celetukan asalnya seperti biasa.


“Dulu kakaknya yang ngebet ngawinin bocah SMA, sekarang adenya yang ngebet ngejar om-om!”


“Heits sembarangan aja bilang Kak Kafeel om-om!.... Kalau Kak Kafeel om-om, berarti Abang juga om-om dong?!....”


Valera menukas ucapan Nathan yang tidak hanya tergelak sendiri.


“Kak Kafeel kan seumur Abang!” Valera masih mendebat saat para saudara-saudarinya masih cekikikan, kecuali si Abang yang geleng-geleng malas.


“Kamu benar-benar suka sama Kafeel memang?” Tanya Varen sembari menatap adik kandungnya itu, namun tidak dengan tampang serius.


“Cin-ta!”


Valera menyahut dengan pedenya.


“Bukan hanya suka!” Tambah Valera. “Catat itu” Membuat raut wajahnya sedikit serius.


Varen kembali memutar bola matanya malas.


“Ga ada masalah kan, kalau Val suka dengan pria dewasa macam Kak Kafeel?”


“Aku tidak mempermasalahkan rentang usia. Dad dan Mom pun sama. Apalagi Kafeel yang kami sudah tahu dia orang dengan pribadi yang bagaimana. Fine-fine saja, kami semua menyukainya. Tapi soal perasaanmu pada Kafeel itu lebih baik kau yakinkan lagi” Cerocos Varen. “Lagipula kau kan masih delapan belas tahun!....”


“Valera yakin Abaanggg.... Kalau tidak yakin, masa Val sampai menyatakan cinta Val pada Kak Kafeel didepan orang banyak?!”


“Saranku, kau lebih baik fokus pada pendidikanmu terlebih dahulu”

__ADS_1


“Bisa seiring sejalan kan antara pendidikan dan cinta?”


Kembali Valera melakukan pembelaan atas dirinya.


“Kak Drea, bahkan Abang nikahi saat dia masih sekolah, hayo?”


Abang kena skak-mat ade kandungnya.


Hanya decakan lidah Abang saja yang terdengar kemudian. Yang lain terkekeh saja. Valera kalau soal perasaannya pada Kafeel, tidak akan gentar walau Abang sekalipun yang harus ia jadikan lawan debat.


“Tapi setidaknya jual mahal dong Val....”


Mika kembali berkomentar.


“Tuh dengar Kakak Mika ngomong. Jangan terlalu-lalu ditunjukkan banget sikap kamu yang mengejar Kafeel”


Si Abang menimpali namun Valera mencebik.


“Abang, Val begitu agar Kak Kafeel sadar....”


Tentu saja si ahli debat itu tidak akan letih mengeluarkan debatan nya soal pria yang digilai nya sampai ke tulang itu.


“Kalau Val itu punya perasaan mendalam sama dia .... siapa tahu ternyata Kak Kafeel juga menyimpan rasa pada Val tapi dia ga enak sama Abang atau keluarga kita dan dia memendam perasaannya yang sebenarnya kalau mencintai Val, dan berpikir Val ga mungkin menyukai apalagi mencintai dia, kan kasihan Kak Kafeelnya? ... jadi ya Val permudah lah!”


“Luar biasa”


Via sampai berdecak kagum pada salah satu adik iparnya yang belia itu, namun pemikirannya sungguh tak terkira.


Via pun geleng-geleng.


“Pede mampus!”


Celetukan berbeda keluar dari mulut Aro.


“Lalu, tanggapan Kak Kafeel saat mendengar pernyataan cinta kamu Val?”


Itu Ann yang baru bersuara, karena tadi dia sibuk mondar-mandir mengambil daging barbekyuan bersama Rery.


“Diterima? Kak Kafeel punya perasaan yang sama dengan kamu? ....”


“Boro-boro!” Abang yang menyahut. “Ditolak mentah-mentah!”


Disaat yang sama Valera mengerucutkan bibirnya, dan saudara-saudarinya lagi-lagi tergelak tanpa akhlak.


“Ya ga ditolak mentah-mentah juga si!” Sanggah Valera.


“Kan aku bilang apa?. Jual mahal makanya jadi cewek! Ditolak didepan orang banyak gitu kan malu?”


“Ih engga tuh aku ga malu!”


Valera menimpali celotehan Mika.


“Kak Kafeel ga nolak aku mentah-mentah si! Abang aja berlebihan ....”


Valera dengan pembelaannya.


“Kak Kafeel senyum dan mengusap kepala aku. Yee ..”


“Nah terus, Kafeel bilang apa?” Nathan bertanya, iseng aja sama salah satu adik angkatnya itu. “Punya perasaan yang sama dengan kamu dia?” Tanya Nathan lagi.


“Punya sih firasat aku!”


Kembali Valera dengan kepedeannya.


“Memang Kak Kafeel ngomong gimana?” Itu Rery yang bertanya.


“Ya Kak Kafeel bilang kalau dia sayang sama aku....” Valera seperti menggantungkan kata-katanya.


“Ta-Pii?? ....”


Kekompakan para saudara-saudari Val langsung menyorot pada Valera, kecuali Abang yang nampak melandaikan lagi tubuhnya, sementara Andrea cekikikan saja.


“Sebagai adik....”


“Buahahaha!....”


Gelakan tanpa akhlak pun mengudara lagi dari para saudara-saudari Val, lebih nyaring bahkan.


“Silahkan kalian tertawa lah sepuasnya!....”


Valera memandang sebal pada saudara-saudarinya itu.


“Seiring sejalan pasti tumbuh cinta di hati Kak Kafeel buat aku .... coba aja. Kalau Kak Kafeel memang menganggap aku adik, katanya. Tapi dia kan bilang juga,  kalau dia sayang sama aku. Dari adik turun ke hati nanti pasti”


“Eh Val dengerin....”


Aro bersuara.


“Nanti kalau mau pulang ke London, pastikan baca peta biar tidak tersesat di jalan...”


“Dih, mana ada aku akan tersesat di jalan mau pulang ke London?”


Valera langsung saja menyambar, menimpali ucapan Aro barusan.


“Gaje!” Timpal Valera lagi sembari memandang sebal pada Aro.


“Karena apa Sha?” Mengabaikan Valera yang memandang sebal padanya, Aro menoleh pada Isha yang cengengesan.


“Iya, baca peta biar tidak tersesat di jalan, biar jelas arahnya....”


Kembaran Aro itu pun menimpali ucapan sang kakak lelaki yang lahir beda lima minit je....


“Sama seperti hubungan. Harus jelas kalau mau pacaran. Jangan ampe terjebak di ade-ade an”


Eyyaaa ....


**


🍹 BONUS CHAPTER 26 🍹


Ditunggu Bon-chap yang ke 27 ye


Jangan lupa tinggalkan jejak


Tararenkyu buat kalian yang masih setia dimari


Pokoknya jempol kalian sungguh berarti buat emak lah

__ADS_1


__ADS_2