THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 216


__ADS_3

🎆 OH MY..  OH HWOW!  🎆


 


 


Selamat membaca...


************************


Jakarta, Indonesia...


Andrew dan yang lainnya sudah berada di ruang santai keluarga pada waktu sarapan pagi ini. Dia dan semua orang yang semalam ada saat Varen mengatakan niatnya untuk menikahi Andrea saat gadis itu lulus nanti, sedang menyampaikannya pada para kakek dan nenek. Kebetulan yang bersangkutan belum turun.


“Well, Dad rasa itu tidak masalah. Aku menikahi Mom kalian saat usianya delapan belas tahun. Dan kalian lihat kami sekarang.” Dad Anthony, sang Gappa yang lebih dahulu menyampaikan pendapatnya.


“Iye bener. Bagus kan kalo si Abang mau halalin si Drea buru – buru. Entar abis nikah kan enak pacarannya biar kate mau ngapain juga. Mamah nye Fania sama Prita juga nikah sama Papah, umurnya masih lapan belas tahun. Nih Alhamdulillah ampe sekarang bae – bae aje. Ye kan Mah?.”


Mama Bela alias Ene, mengangguk mengiyakan ucapan Papa Herman alias Ake.


“Iya sih, biarkan aja kalau memang si Abang mau menikahi Andrea cepat – cepat. Meringankan beban kamu juga kan Drew.” Mama Anye bersuara. “Istri dan anak perempuan itu kan tanggungan suami dan ayahnya. Kalau Drea menikah, ya tanggungan kamu hanya tinggal Fania. Ga berat – berat amat pertanggung jawabannya kamu nanti kalau Drea udah punya suami.”


“Iya betul itu. Abang sudah mapan ini. Dia kita tahu pasti akan sangat bertanggung jawab pada Andrea. Usia jangan jadi halangan. Bagus malah kalau laki – laki mau langsung seperti Abang, macam kalian juga kan?. Toh nanti Andrea juga akan bisa menyesuaikan sendiri saat sudah menjadi istri.”


“Apa dia sudah membicarakan pada Drea soalnya rencananya itu, Little F?.” Reno bertanya pada Fania.


“Katanya biar kita yang tanya langsung kesediaannya si Juleha entar. Semalem gue udah ngobrol sama si Abang. Dia bilang tergantung Andrea aja.” Jawab Fania.


Reno pun manggut – manggut.


Tak lama Rojali dan Juleha pun turun bergabung dengan mereka semua yang tengah sarapan di ruang santai keluarga mereka.


****


‘Eh?. Ada apa dengan mereka sih?.’


Andrea yang sedang menikmati sarapannya berdua dengan Varen itu memperhatikan sekelilingnya, dimana ia merasa kalau semua mata sedang memandanginya dan Varen. Lalu ia melirik Varen yang sedang menyuapi dirinya sendiri setelah menyuapi Andrea, sekaligus suapan terakhir karena makanan dalam piring yang dipegang Varen sudah habis mereka makan berdua.


“Mau tambah Little Star?.” Tanya Varen dan Andrea menggeleng.


“Sudah kamu tanyakan padanya bocah tengik?.” Poppa berbicara pada Varen yang sudah berdiri untuk menaruh


piring kotor.


“Belum.” Jawab Varen karena paham maksud pertanyaan Poppa. “Kalian tanyakan saja langsung padanya. Kan Poppa bilang aku tidak boleh memaksa dia.”


“Jadi kalau dia menolak, kamu akan menerimanya dengan lapang dada?.”


“Iya.”


“Yakin?.”


“I’m a man with my words. ( Aku pria yang memegang kata – kataku ).” Varen sedang menyahuti Poppa dan Daddy R.


Andrea memperhatikan saja.


“Mereka lagi bicarakan apa sih Tan?.” Bisik Andrea pada Nathan yang kemudian mengendikkan bahunya.


“Mau jus atau air putih Little Star?.” Varen beralih ke Andrea.


“Air putih saja.” Sahut Andrea.


“Tanyakanlah. Aku yakin kalian susah tidur karena penasaran akan jawaban Drea.” Ucap Varen yang sudah kembali ketempatnya tadi sambil menyodorkan air putih dalam gelas pada Andrea. Yang orangnya sedikit bingung karena mendengar namanya disebut Abang barusan.


“Jawaban?. Jawaban aku?. Soal apa sih?. Ga paham aku” Ucap Andrea sambil meraih gelas yang disodorkan Varen padanya.


“Abang mau menikahi kamu.”


“Iya aku tahu. Kan dua hari lalu kami tunangan. Ya orang tunangan kan ujungnya akan nikah harusnya.” Sahut


Andrea kemudian meminum air dalam gelas yang sudah ia pegang.


“Siap memang?.” Tanya Mommy Ara yang dijawab anggukan karena Andrea sedang menenggak air dalam gelas. “Pas kamu lulus SMA loh, Abang mau langsung nikahin kamu.”


“Blurfff!!!” Apes bagi Tan – Tan yang memang sedari tadi duduk didekat Andrea, karena seketika Juleha menyemburkan air yang sedang diminumnya.


“DREA!”


Nathan spontan langsung menoyor Andrea karena wajahnya seketika basah akibat semburan Juleha yang kemudian terbatuk karena ucapan Mommy Ara.


Nathan balik dapat toyoran dari Varen yang tak terima ayang bebnya di toyor Nathan, sementara anggota keluarga lain terkekeh.


“Ya lagian ga sopan banget sih adek merangkap tunangan lo!”


“Namanya juga orang kaget.”


“Ga pake nyembur juga.” Protes Nathan sambil mengelap wajahnya dengan tangan kaosnya sementara pelaku penyemburan sedang terbatuk, mengabaikan protes dan toyoran Nathan, memandang pada Mommy Ara lalu pada Varen yang sedang tersenyum padanya sembari mengelus punggung dan membantu menyeka mulut Andrea.


“Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...”


Andrea mengepalkan satu tangan yang kemudian ia tempelkan dibibirnya.


‘Apa? Apa? Gimana?  tadi... barusan Mommy Peri bilang apa?’


Andrea membatin, lalu menoleh pada Mommy Ara kemudian memperhatikan semua orang, terakhir pandangannya berhenti pada Varen yang sedang tersenyum padanya lalu mengambil gelas yang dipegang Andrea.


“Masih mau minum?.” Tanya Abang lalu Andrea menggeleng.


“Tadi.. Mommy..  bilang apa?.”


Andrea ragu bertanya, sedikit terbata.


“Mommy Peri bilang, Abang akan nikahi kamu saat kamu lulus nanti.” Sambar Mami Prita yang cengengesan.


“Hah?! What?!. ( Apa?! ).”


Andrea kaget.


‘Oh My God, nikah? Pas lulus?. Ga salah?.’


“Mau?.” Tanya Abang, sementara Andrea mendelik dengan mulut yang menganga. Yang kemudian dikatupkan oleh Varen yang terkekeh kecil.


“Bercanda aja nih Abang.” Andrea mendorong pelan lengan Varen sambil terkekeh kecil


“Abang serius.”

__ADS_1


Andrea terdiam, bengong, memperhatikan raut wajah Abang yang seperti ucapannya tadi. Serius!.


“Abang mau menikahi kamu saat kamu lulus sekolah nanti, Little Star. Abang sudah mengatakan niat Abang pada semua, termasuk Poppa dan Momma.”


Mata Andrea kini benar – benar terfokus pada Varen yang sedang bicara padanya sekarang, sedang juga menatapnya.


“Me-nikah ... saat ... aku ... lulus SMA...?.” Andrea memastikan. Siapa tahu pendengarannya bermasalah?. Tapi


rasanya tidak karena Varen langsung mengangguk, begitupun semua orang yang manggut – manggut, dan Nathan cengengesan.


Varen menatap Andrea dengan tersenyum dengan pandangannya yang teduh, dan kini tangannya sudah membelai


rambut Andrea dengan lembut. “Apa kamu bersedia, Little Star?.”


“Ta .. Tapi .. kenapa .. kenapa ..?.”


“Ya ga apa – apa, Abang hanya ingin saja.” Sahut Varen.


Andrea mengerutkan dahinya. Ia bingung. Lumayan syok sih. Lulus dari SMA mungkin akan dalam hitungan kurang


dari enam bulan lagi. Dan Andrea mengingat usianya. Tujuh belas tahun, Oh My Hwow! Dan dia sudah akan dinikahi.


“Me.. memang.. harus ya?.. kita menikah secepat itu?..” Tanya Andrea pelan.


“Abang hanya tidak ingin kehilangan kamu.” Jawab Varen jujur sambil masih membelai lembut rambut Andrea dan memandang gadis itu lekat – lekat. “Tapi semua terserah kamu, Little Star. Itu keinginan Abang, tapi kalau kamu menolak pun Abang tidak akan memaksa.”


Andrea masih terdiam. Otaknya sedang bekerja memikirkan semua yang baru saja ia dengar. Andrea cinta Abang Varen iya, bahagia waktu ditembak Abang pasti. Terus waktu dilamar saat acara perayaan ulang tahunnya pun tanpa ragu ia menjawab mau. Tapi Andrea berpikir, Abang Varen hanya sekedar mengikat.


Toh kan banyak orang yang habis tunangan ga langsung menikah. Yang bahkan sudah bertahun – tahun tunangan


baru menikah kan banyak tuh. Kecuali orang – orang di keluarganya sendiri memang.


Sejauh yang Andrea tahu sih, para Mommies dinikahi tak lama setelah mereka dilamar oleh para Daddiesnya. Tapi kasusnya bukankah berbeda?. Drea masih SMA loh ini?. Masih belasan tahun bahkan.


Jadi Andrea pikir setelah tunangan, dia akan merasakan yang namanya momen pacaran dengan Abang layaknya


anak perempuan seumurnya. Tunangan aja diusia belia, untuk sebagian orang kayaknya agak aneh. Ini lagi nikah. Ah, otak Andrea rasanya mumet sekarang.


“Jadi apa jawaban kamu?.” Suara Poppa membuyarkan lamunan Andrea. “Kami semua menunggu jawabanmu.”


Andrea tidak langsung menjawab, menatap satu – satu anggota keluarganya mulai dari Abang sampai ke kakek dan neneknya.


“Aku ....”


Andrea tergugu.


“Aku .. apa boleh minta waktu untuk memberikan jawabannya?.” Tanya Andrea dengan wajahnya yang nampak ragu kemudian menunduk.


“Ya sudah.”


Varen menyahut. Andrea langsung mendongak menatap si Abang.


“Tak apa jika kamu memang tidak siap. Abang mengerti.” Ucap Varen lagi dengan tersenyum. Tipis. Tapi, membuat ada rasa sedikit getir dihatinya


“Abang marah?.” Andrea menatap polos pada Varen. Anggota keluarga yang lain juga sedang memperhatikan Varen.


Abang tersenyum memang, tapi rasanya dibalik senyumnya itu nampak ada sebuah kekecewaan yang sekuat tenaga ia tutupi didepan Andrea. Apalagi Momma setelah mengobrol semalam dengan Varen.


Momma tahu betul seberapa besar asa yang Varen gantungkan untuk bisa menikahi Andrea secepatnya, saat putrinya lulus SMA nanti. Varen akan lemah seketika pada Andrea, seperti halnya para Daddies yang lemah pada para Mommies.


“Drea ..”


Andrea menggantungkan kalimatnya, hatinya terasa tidak enak. Kenapa senyuman Abang terasa seperti Abangnya itu sedang menahan sesuatu?.


“Ya sudah yuk, Abang mau siap – siap. Mau antar Ake dan Ene pulang. Drea mau ikut?.”


Varen sudah berdiri, membelai lagi rambut Andrea lalu beralih ke Ake Herman dan Ene Bela yang kemudian mengangguk dan berdiri dari tempat mereka yang memang sudah akan kembali ke rumah yang berada di Bekasi hari ini.


“Drea .. mau..”


“Ayo, siap – siap kalau begitu.” Sahut Varen.


“Drea mau menikah sama Abang saat lulus nanti.”


***


“Little Star ...” Varen dan Andrea sedang dalam perjalanan pulang setelah mengantar Ake dan Ene dan tinggal di rumah Keluarga Cemara sebentar. Ingin menginap, tapi besok Andrea harus sekolah.


“Iya Abang?.” Sahut Andrea seraya menoleh pada Varen yang duduk dibangku kemudi.


“Apa kamu benar – benar yakin dengan jawaban kamu soal pernikahan kita tadi?.” Tanya Varen lembut. Andrea mengangguk. Varen tersenyum. “Abang akan memberi waktu kamu untuk berpikir jika memang itu yang kamu mau, Little Star”


Andrea menggeleng dan tersenyum pada Varen yang sedang kembali fokus ke jalanan lalu menoleh padanya dan begitu seterusnya. “Drea sudah yakin Abang.”


Senyuman Varen tersungging lebar, pada gadis yang sedang merona disampingnya. Tersenyum dengan cantiknya.


“Abang jangan menyesal aja nanti punya istri anak kecil yang manja.” Canda Drea. “Drea Cuma bisa masak mi instan loh. Sama nasi di Magic Com” Membuat Varen terkekeh geli sambil mengendarai mobilnya.


“Delivery online banyak. Kita bisa pesan makanan, sekaligus bantu para Ojol biar punya banyak orderan. Lagipula di rumah banyak pelayan.” Sahut Varen. “Jangan lupa, nih anak didiknya Chef Dewa Mabuk, jadi Abang yang akan masak untuk Nona Andrea. Eh calon Nyonya Abang deng!.” Varen menyempatkan menoel hidung Andrea yang wajahnya kemudian bersemu, sadar dengan ucapan ‘calon Nyonya Abang’.


Ah, angan Andrea kemudian melayang.


**


Andrea sedang berada dikamarnya sendiri. Sedang menatap foto si Abang embeb diponselnya. Wajah tampan yang bagi Andrea terpahat dengan sempurna itu tak pernah bosan untuk ia lihat baik foto maupun orangnya langsung.


Menggetarkan jiwa kalau kata Andrea si Abang tuh. Apalagi kalo udah senyum terus menunjukkan sisi lembutnya


pada Drea, belum lagi Abang itu romantis dengan kata – katanya yang kadang puitis. Bikin sejuk. Kalah AC.


Ah, Drea gemas sendiri. Kalau ingat lamaran Abang saat pesta ulang tahunnya beberapa hari lalu. Dan tadi pagi Abang bilang mau menikahi Andrea saat ia lulus nanti. Jantung Andrea jadi dag dig dug ga jelas saat ini.


Beberapa bulan lagi.. hanya tinggal beberapa bulan lagi, Andrea akan jadi istri Abang Varen.


Menutup wajahnya sendiri setelah meletakkan ponselnya sambil badannya goyang – goyang ga jelas kek cacing kremi.


Sampai,


Syut!


Serasa ada yang menoyor kepala Andrea dan ia langsung membuka tangkupan tangannya diwajah.


“Tan – Tan ih!. Kepala gue difitrahin tahu ga?!.”


“Bodo!.” Jawaban ngeselin dari orang yang kini sudah melemparkan dirinya dikasur Andrea.

__ADS_1


“Mau ngapain?.”


“Abang mana?.”


“Mau nge-gym katanya.” Sahut Andrea dan Nathan hanya ber oh ria. “Kenapa emang nanyain Abang?.” Tanya Andrea.


“Mau ngajakin Mabar!.”


“Ya udah sana susul Abang di ruang gym.”


“Ya udah yuk susulin Abang. Kita keluar kek bentar cari jajanan.”


“Ayo deh.”


**


“Eh cute girl saklek, gue mau tanya.” Tanya Nathan saat ia dan Andrea tengah berjalan menuju ruang gym.


“Gue mau jawab.” Sahut Andrea enteng.


“Serius nih gue!.”


“Ya udah tanya. Biasanya juga asal nanya. Tumben ijin.”


“Lo beneran udah siap mau nikah muda?.”


“Kenapa memang?.”


“Nanya aja. Penasaran lo kan masih muda banget.”


“Kata Ake sama Ene kurang – kurangi dosa pacaran.”


“Huumm. Berarti lo udah siap juga dong?.”


“Jadi istri?.”


“Iya. Jadi istri. Nah lo harus paham tuh soal begituan.”


“Begituan apaan?.”


“Heleh! Sok polos lo!. Begituan. Ulala Beibeh. Wik Wik.” Si Tan – Tan cekikikan.


Andrea mendelik. Ia paham maksud Nathan yang menjurus ke area dewasa, dan itu terlewat dari pikiran Andrea. Sekaligus membuat wajah putihnya kini membias merah muda, nampak kuping Andrea juga ikut memerah.


“Ca elah, mikir jorok pasti lo ya?.”


Yang mana pikiran Andrea langsung buyar, lalu spontan mengepret Nathan.


Andrea paham soal dewasa meski usianya masih belia. Di London dulu\, pendidikan S**s sudah diberikan saat ia masih sekolah yang setara dengan SMP. Mengingat disana negara bebas\, dan pendidikan s**s memang diberikan sebagai bahan edukasi untuk mencegah yang namanya pelecehan seksual.


Belum lagi, tak semua teman Andrea juga berada di jalan yang lurus. Ga usah temannya, toh si Tan – Tan juga bukan termasuk golongan lurus, agak zig – zag dia. Salah satu fucek boy, playboy dari sejak SMP sampai sekarang, meski masih sadar batas karena teringat selalu nasehat Mama Jihan dan para Mommies lainnya, untuk menghindari yang namanya s*x before married.


Judulnya jangan ikut jejak Daddy Jeff dan Papi John dulu yang merupakan mantan fucek boy garis keras.


“Belajar lo dari sekarang, biar nanti ga kayak gedebong pisang pas malam pengantin.” Si Tan – Tan nyeletuk tanpa akhlak sambil cekikikan.


Andrea mendelikkan matanya pada Nathan.


“Siap – siap lo, digempur sosis jumbonya Abang.”


“TAN – TAN!.”


Andrea memekik, jengah, malu juga dan si Tan – Tan tertawa ngakak.


“Sok tahu lo!.”


“Ih, memang iya. Jumbo itu sosisnya Abang pasti, lo ga liat ototnya si Abang makin jadi sekarang. Pasti kan.. Hmmmphhhh”


“Diem ga?!.” Sumpah Andrea malu membahasnya, entah kenapa otaknya jadi travelling berikut jantungnya jadi


ga santuy. Ia membekap mulut Nathan.


“Apa sih kalian?. Ribut aja.” Abang keluar dari ruang Gym setelah Andrea dan Nathan sudah sampai didepan ruangan tersebut, dan tangan Andrea sudah melepaskan mulut Nathan. Andrea tanpa sadar meneguk salivanya.


“I.. ini Tan – Tan cari Abang, minta temenin aku.” Andrea sedikit gugup, pasalnya Abang shirtless saat ini dengan peluh disekitar area kotak – kotak yang bukan papan catur itu. Sialnya ucapan Nathan yang tanpa akhlak itu langsung mampir diotak Andrea.


“Huum ... kenapa Tan?.”


Abang kembali masuk ke ruang gym, Andrea dan Nathan mengekori.


“Mau ngajakin mabar?.”


Varen melanjutkan latihannya. Mengambil tempat di atas matras alas angkat beban. Bikin Drea gagal fokus.


“Jumbo kan gue bilang juga apa.” Bisik si Tan – Tan, tanpa akhlak yang kurang ajarnya membuat bola mata Andrea menjurus pada sesuatu yang ah, yaa nampak sedikit menggembung?. Dari balik celana olahraga dari pria yang sedang telentang itu.


Ga ketat sih itu celana olahraga, tapi ga longgar juga. Jadi saat Abang sudah memposisikan tangannya pada sebuah barbel berukuran besar kemudian terlentang....


‘Oh My God! Oh No! Oh My Hwow!.’


Andrea menggigit bibir tanpa sadar, Jantungnya tak karuan, rahimnya seolah bergetar.


“Selesai ini ya Tan kalau mau Mabar.”


“Iya gampang. Kita cari jajanan aja dulu yuk Bang. Iseng gue. JMM yuk ah. Nih adek sekaligus calon istri lo kan doyan jajan.”


“Memang Drea mau jajan apa?.”


“Sosis jumbo.”


*


To be continue ....*


Salam Sayang


 





 

__ADS_1


 


__ADS_2