THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 279


__ADS_3

PLEASE COMEBACK


( Tolong Kembalilah )


 


 


Selamat membaca ...


**********************


Suami yang ditinggal istrinya disebut Duda


Istri yang ditinggal suaminya disebut Janda


Anak yang ditinggal orang tuanya dapat disebut yatim piatu


Tapi ...


Apa sebutan untuk orang tua yang ditinggal anaknya? ...


Tak ada ...


Karena perasaan orang tua yang ditinggal anaknya itu ... 


Bak sesuatu yang begitu besar dan berat membentur dada hingga menghimpit jantung, menyumbat pita suara ...


Tak terlukiskan sakitnya...


 


“Mama Bear ...”


Daddy Jeff mendekati Mama Jihan yang kemudian menghapus air matanya.


“Jangan dilihat lagi postingannya Rina, nanti kamu malah makin terbebani, Sayang....” Ucap Daddy Jeff sambil membawa kepala sang Istri untuk bersandar dibahunya.


Mama Jihan menggerakkan kepalanya pelan tanda mengiyakan.


“Iya, aku hanya ga sengaja lihat lagi storynya Rina ini ... Aku seperti merasakan dukanya. Ga kebayang jadi Rina .... Nathan seperti ini saja aku rasanya sudah hancur, Papa Bear ...”


“Ya sudah makanya jangan dilihat lagi, nanti kamu malah merasa terbebani”


“Aku takut Papa Bear ... aku takut jika bernasib sama dengan Rina yang kehilangan putranya... aku sangat takut .....” Mama Jihan melirih.


“Jangan berpikir yang bukan – bukan. Apa yang menimpa Rina dan suaminya, tidak akan sampai terjadi pada kita. Nathan kita akan akan baik – baik saja ...”


“Aamiin”


‘Semoga .....’ Daddy Jeff membatin sambil memandangi sang putra yang masih terlelap dalam komanya.


***


“Nat - han ...”


Mama Jihan teringat sebuah story yang diposting oleh salah seorang temannya yang baru saja kehilangan salah seorang anaknya, di laman medsos milik Mama Jihan.


Postingan teman Mama Jihan yang singgah di kepalanya itu, membuat Mama Jihan kembali berurai air mata saat


dipandanginya sang putra yang kini sudah dua minggu masih memejamkan mata..


“Nathan ga cape tidur udah lama begini? ...” Seperti biasa Mama Jihan mengajak Nathan bicara.


Selain untaian doa yang selalunya ada disetiap detakan jantung di dada.


Berharap, sangat – sangat berharap. Juga mengucapkan doa ditiap hembusan nafasnya, kalau apa yang menimpa


salah seorang temannya, yang ditinggal pergi selama – lamanya oleh anaknya itu, jangan sampai dialaminya.


“Tan - Tan, bangun si! Bau, kan badan lo belum mandi sudah empat belas hari!” Itu Andrea yang berada disamping Mama Jihan yang ikut mengajak Nathan bicara dengan keceriaan yang selalunya ia punya, tapi air mata sudah juga turun kepipinya.


Kondisi Nathan masih sama. Ia masih terbuai dalam komanya yang sudah mencapai dua minggu.


“Gue kangen tau Tan – Tan! Gue kangen ada yang manggil gue Cute Girl ..... bangun si – Taann....” Andrea yang kemudian terisak itu kemudian direngkuh Varen dengan perlahan.


“Sudah ah, jangan nangis terus. Tuh lihat hidungnya sudah merah macam tomat”


Abang mencoba menghibur Andrea yang sedang ia peluk itu. Abang memang menggoda Andrea, namun Abang menatap sendu pada Nathan yang masih terbaring diam ditempatnya.


‘‘Bangun Tan.  Jadilah pejantan tangguh. Mau menyaingi gue bukannya?’’


Varen berbisik di telinga Nathan.


“Bangun cepat, kita mau Touring. Mau ikut ga?. Bangun cepat, gue tungguin. Kita semua tungguin lo”


Varen mengusap kepala Nathan dengan sangat pelan. Tanda sayang Abang sampaikan lewat belaian di kepala Nathan yang sangat hati - hati Abang sentuh dan ia usap dengan sangat pelan.


“Bangun Tan, kasihan para Moms sudah hampir habis air matanya, kasihan Mama Bear, Than. Tuh Gamma, Ene,


Oma, Nenek mereka semua juga sama tuh hampir habis air matanya. Pulang Than, gue juga ga mau kehilangan lo ...”


Varen tersenyum segaris memandangi Nathan.


“Cepat pulang, temukan jalan buat kembali, Brother. Kami semua sayang lo”


***


‘Katanya tak akan gentar? .... katanya mau diperjuangkan ... apanya? ....’


‘Katanya sayang? ...’


‘Malah begini .... – tukang ngibul kan?’

__ADS_1


‘Berencana pergi gitu aja ....’


‘Kamu mau balas dendam ke aku ... ya?’


***


“Mama Bear ....”


Daddy Jeff menghampiri Mama Jihan yang bersama Andrea, Daddy R dan Nino sedang berdiri di sisi ranjang Nathan.


Para orang – orang terdekat Keluarga Adjieran Smith sudah silih berganti berdatangan untuk menjenguk Nathan.


Nino yang merupakan orang kepercayaan Daddy R sejak dulu dan merupakan sahabatnya juga sudah beberapa hari berada di Jakarta bersama istrinya yang merupakan sekertaris pribadi Poppa di Smith Company yang berada di London.


Keluarga Cemara juga sudah ikutan datang, sementara Papa Lucca dan keluarga kecilnya kemungkinan besar akan segera sampai di Jakarta.


“Kita pulang dulu? Kamu butuh istirahat. Lagipula kasihan juga Aina”


Daddy Jeff menunjuk ke arah sofa dimana putrinya sudah nampak terlelap dipangkuan Mommy Ara.


“Iya Mama Bear, lebih baik Mama Bear pulang untuk beristirahat. Ini sudah malam, kasihan itu Aina”


“Drea benar Ji, pulang dulu saja. Kamu dan Jeff beristirahatlah yang cukup. Biar kami yang disini”


Daddy R menimpali. Mama Jihan pun mengangguk dengan melemparkan senyumnya.


Wajah Mama Jihan juga sudah tak sesuram sebelumnya. Dokter menyampaikan kabar baik terkait kondisi Nathan,


yang meskipun belum sadar dari komanya, namun pembengkakan pada otak Nathan sudah mulai berangsur membaik. Setidaknya ada hembusan angin segar bagi keluarga.


Tangan Nathan yang cedera patah tulang pun juga sudah ikut membaik nampaknya. Karena Dokter berikut perawat rajin memeriksa kondisi Nathan. Dan bekerja dengan sangat baik.


Meskipun secuil, jika ada celah untuk sebuah harapan. Rasanya itu patut disyukuri dan didorong lagi dengan doa, agar harapan akan Nathan yang dapat secepatnya sadar bisa menjadi kenyataan.


**


“Ya sudah kami pulang dulu ya?”


“Iya, istirahat. Besok pun kalau mau datang ya santai aja. Cukupkan dulu istirahat kalian, tidak perlu terburu – buru. Pikirkan kesehatan kalian sendiri, termasuk juga Aina.” Ucap Daddy R.


“Iya Kak Ren. Makasih ya?”


“Halah Ji, macam sama siapa aja kamu segala berterima kasih”


“Tau nih! ...”


“Ya sudah kami pulang dulu”


“Hati – hati”


“Mama, titip Jonathan ya?”


“Iya Ma.....”


*****


Andrea yang sudah kembali duduk disisi ranjang Nathan, kembali berbicara pada kakaknya itu.


“Lo kenyang apa makan dari selang begitu?. Ga kangen sama kamar lo, kasur lo. Kan enakan di rumah Tan....?.”


Andrea masih berbicara seolah sedang ngobrol atau curhat pada Nathan yang seringnya ia lakukan.


Namun saat ini ia berbicara setengah berbisik, karena tak mau menganggu orang yang nampak sudah pulas disofa dengan wajah lelahnya, yang jika membuka mata wajah tersebut nampak sendu.


Daddy R dan Mommy Ara yang juga malam ini ikut menjaga Nathan setelah saling bergantian dengan anggota


keluarga yang lain sedang pergi keluar untuk membeli makanan.


“Tan. Ck. Bangun kenapa Tan?. Betah banget sih tidur lama – lama. Ga pegal – pegal itu badan lo. Ngatain gue kebluk. Sendirinya nih? Tidur empat belas hari mau lima belas hari malahan. Parahan elo kebluk nya kan?”


Andrea menyungutkan bibirnya sambil menusuk – nusuk pelan tangan kiri Nathan, karena tangan Nathan yang sebelah kanan masih dibalut dengan gips akibat patah tulang.


“Mana ga mandi lagi, ga gosok gigi. Ish! Banyak pasti kotoran gigi dan mulut lo bau banget itu pasti! Eyyuuhhh.. Ga betah gue sih ... udah gitu lo kan janji mau colab mukbang di konten gue...”


“Ka... pan...”


Andrea terkesiap dan bangun dengan cepat dari duduknya. “Taan-.. Tan?? ...” Andrea tergagap. Rasanya ia


mendengar suara Nathan, namun Nathan masih terlihat diam tanpa pergerakan.


Andrea kemudian memandangi Nathan lamat – lamat.


“Saking kangen sama lo ya Tan, gue sampai berhalusinasi...”


Andrea menyunggingkan senyum tipisnya lalu membelai pelan kepala Nathan.


“Bangun Tan.. sedih tahu ga? gue lihat lo begini...”


Andrea menelungkupkan wajahnya disamping tangan Nathan setelah menghapus sebulir air matanya.


“Sayang tahu, gue sama lo ..”


“Ma – sa..”


**


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith


 


“Istirahat sana Kak Jeff, Ji. Bukannya pada langsung istirahat”


Momma menyarankan setelah Daddy Jeff dan Mama Jihan sudah sampai di Kediaman, kemudian memberikan Aina pada pengasuhnya untuk dibawa kedalam kamarnya, karena bocah perempuan anak kedua Daddy Jeff dan Mama Jihan, adiknya si Tan – Tan itu sudah begitu pulas dari sejak mereka membawanya pulang dari Rumah sakit.

__ADS_1


Dan kini Daddy Jeff serta Mama Jihan ikut bergabung dengan Momma sama Poppa yang masih belum pergi ke


kamar mereka untuk beristirahat, setelah keduanya bebersih diri.


“Mau makan?” Tanya Momma.


Daddy Jeff dan Mama Jihan kompak menggeleng.


“Kami semua sudah makan tadi” Mama Jihan yang menjawab Momma. “Kalian kok belum tidur?” Mama Jihan balik bertanya pada Momma dan Poppa.


“Bat couple ( Pasangan kalong ) mana pernah mereka tidur cepat kalau ga mau syubiduppappaw sama sakit, ga mungkin mereka tidur cepat” Ledek Daddy Jeff sambil terkekeh kecil. Momma, Poppa dan Mama Jihan juga ikut terkekeh.


Drrrttt..


Ponsel Momma yang dikecilkan volume deringnya itu berbunyi dan bergetar dimeja kecil samping Andrew, karena


tadi Momma meletakkannya disana. Poppa langsung meraihnya dan alisnya terangkat satu melihat nama pemanggil, lalu memandangi Daddy Jeff, Jihan dan Momma bergantian dengan cepat.


Membuat ketiga orang yang ditatap Andrew dengan seperti itu keheranan. “Kenapa Drew?” Tanya Daddy Jeff.


“Siapa, D?” Tanya Momma sembari melirik ponselnya yang sedang dipegang Poppa.


“Little Star ....” Jawab Poppa langsung dan Daddy Jeff langsung saling tatap dengan Mama Jihan.


Keduanya kini tak lagi berwajah santai seperti tadi, begitupun Momma dan Poppa. Takut jika ada kabar yang tidak mengenakkan tentang Nathan.


“Yes, Little Star? ....”


“POP!!!!!”


“What is it? .... ( Ada apa? )”


Poppa langsung mengloud speaker kan panggilan dari Andrea itu di ponsel Momma dan terdengar suara Andrea berseru seperti panik dari sebrang ponsel, dan keempat orang itu semakin nampak cemas dan panik juga.


Mereka saling tatap dengan kecemasan.


“TAN – TAN! TAN – TAN!”


**


“Bangun Tan.. sedih tahu ga? gue lihat lo begini...”


Andrea menelungkupkan wajahnya disamping tangan Nathan setelah menghapus sebulir air matanya.


“Sayang tahu, gue sama lo ..”


“Ma – sa..”


Andrea langsung lagi mengangkat kepalanya dengan cepat setelah ia mendengar lagi sayup – sayup suara Nathan yang begitu pelan dan terbata.


“T-an, Taan? ..” Andrea tergagap. Memastikan apa yang didengar telinganya barusan.


“Be-ne-ran, sa-yang, gue? ..”


“YA ALLAH TAN – TAAAANNN!! ....”


Andrea spontan teriak dengan kencang saat perlahan mata yang sudah selama kurang lebih empat belas hari


tertutup itu perlahan terbuka, lalu tersungging senyuman tipis dari bibirnya.


"Be - ri - sik Cu - te Gi - rl .."


Memandang pada Andrea, namun matanya mengerjap – ngerjap perlahan sedikit cepat, seperti sedang menyesuaikan pandangannya.


“Be-ne-ran, lo, - sa-yang, gue, cu-te - girl? ..”


“Iya Taaan, gue sayaaaaang, huuu ...”


Si Juleha kejer.


**


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith


“Yes, Little Star? ....”


“POP!!!!!”


“What is it? .... ( Ada apa? )”


“TAN – TAN! TAN – TAN!” Suara Andrea terdengar nyaring.


“Kenapa dengan Nathan Little Star?!” Daddy Jeff meraih ponsel dari tangan Poppa. Ia bertanya dengan panik dan cemas setengah mati.


“Papa Bear! Tadi Drea dan Abang hubungi Papa dan Mama Bear tapi kalian ga angkat!” Cerocos Andrea dengan


cepatnya.


“Ya sudah, kenapa Little Star?!.... Nathan kenapa?!....”


Kembali Daddy Jeff bertanya dengan panik, sementara Mama Jihan sudah berkaca – kaca dan Momma merengkuhnya.


“TAN – TAN SADAR! TAN – TAN SADAR PAPA BEAAARR!! ......”


**


To be continue...


Gimana, hati udah pada stabil wahai reader emak yang blaem - blaem ...?


Kalo udeh, ya tolong jempol dikondisikan.


Ma acih

__ADS_1


Loph Loph


Emaknye Queen


__ADS_2