THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 129


__ADS_3

💖💖 APPLE OF MY EYE – ( JANTUNG HATI ) 💖💖


******************************


Selamat membaca ...


Pedih Hatiku, Tersayat Rindu, Terbayang Kenangan Saat Bersamamu..


*****


‘Karna gue ga tega lihat kurcaci yang ga bisa – bisa masukin bola.’


‘Kamu benar – benar membuat aku khawatir, Heart.’


‘Who loves you? ....’


‘I Love you, Heart....’


‘Y – you ..’


‘Oh God ..’


‘HEART!’


Sepasang mata terbuka dengan perlahan. Sedikit mengernyit saat kedua mata itu sudah terbuka sepenuhnya. Atap


berwarna putih yang pertama kali sepasang mata itu tangkap berikut cahaya lampu yang begitu terang.


“Ini .... dimana ...?. Michelle! Vla!.”


Sepasang mata milik Fania langsung membola, saat ia teringat dua orang yang pergi bersamanya sebelum pergi ke sebuah Mansion untuk mencari seseorang yang bernama Lucca. Fania bangkit dengan tersentak. Namun kemudian ia terdiam sebentar dalam duduknya.


“Better you have a good explanation or your brain will be on my shoes ( Sebaiknya kau punya penjelasan yang bagus atau otakmu akan berada disepatuku ).”


Fania teringat kalau ia berbicara dengan seorang pria yang hanya ia lihat sepatunya saja, serta suara yang begitu dingin dan mendominasi sebelum semuanya gelap dan ia tak ingat apapun lagi.


‘D ....’ Fania juga ingat, saat ia sedang berbicara dan dadanya terasa sesak, matanya yang juga basah dan buram, ada Andrew dimatanya. Yang ia rasa sebagai halusinasi, karena maut seperti sudah didepan mata.


Namun sejenak kemudian Fania teringat lagi pada Michelle dan Vla. Ingat juga kalau ia merasakan ujung pistol menempel dibelakang kepalanya.


“Apa gue udah mati?.” Gumam Fania. Ia melebarkan lagi matanya, masih dalam duduknya. Mencoba memfokuskan


diri dan pandangannya. ‘Ini seperti kamar tidur?.’ Ia pun membatin.


Fania memandangi lagi sekelilingnya.


“Ini gue mimpi?. Atau emang udah mati?.” Fania mencubit dirinya. Terasa sakit dan ia pun langsung beringsut dari tempatnya. Kemudian berdiri dengan tergesa.


Rasa dingin pada telapak kakinya menyadarkan dia kalau sepatu boots yang dia pakai sudah terlepas, namun kemudian ia kembali memperhatikan keadaan sekitarnya.


Kamar tempat Fania berada itu begitu mewah, elegan dan terkesan klasik dan indah. Didominasi oleh kayu yang halus dan mengkilat, sepertinya bukan kayu sembarangan.


Fania berjalan perlahan menuju jendela yang tirainya tertutup. Ia menyingkap sedikit tirai tersebut sambil memicingkan mata dan menjelaskan apa yang bisa dilihatnya. Suasana diluar masih gelap, masih sama saat ia datang bersama Michelle dan Vla ke sebuah Mansion.


“Itu kayak halaman tadi tempat gue diinterogasi?.” Fania menutup tirai tersebut dan terdiam sejenak. “Michelle! Vla!.” Fania memekik pelan. Ia kembali mengingat dua orang itu. “Sepatu gue mana?.”


Mata Fania berkeliling mencari boots yang sebelumnya ia pakai dengan buru – buru, namun sebisa mungkin tidak menimbulkan kebisingan. Ia harus keluar dari kamar tempatnya berada sekarang, mencari Michelle dan Vla sekaligus mencari tahu dimana dia sebenarnya sekarang. Begitu yang ada di otak Fania saat ini.


Fania menemukan boots miliknya, namun tidak langsung ia pakai. Ia berpikir jangan sampai membuat suara. Jadi ia menenteng boots miliknya itu sambil memutar knob pintu kamar tempatnya berada sekarang, dengan sangat hati – hati dan perlahan sambil melipat bibirnya.


‘Ga dikunci! ...’ Fania merasa lega. Lalu ia membuka pintu secara sangat perlahan, menyembulkan sedikit kepalanya sambil celingak celinguk ke kiri dan kanan. ‘Aman kayaknya! ..’


Fania tak melihat siapapun dilorong depan kamar tempatnya saat ini.


Sempat memperhatikan sebentar, sekelilingnya yang nampak seperti kediaman seorang bangsawan karena desain tempat itu begitu klasik, selain indah.


Fania kemudian berjalan ke arah kirinya, karena sebelah kanan dari tempatnya itu dinding yang dihiasi sebuah lukisan mahal. Ia berjalan mengendap – endap disepanjang lorong hingga ia melihat tangga kayu besar.


‘Kalo gue lewat situ, bahaya ga ya?.’ Fania berpikir sebentar dan coba berpikir cepat.

__ADS_1


Sekali lagi Fania celingukan. Mencoba mencari alternatif jalan keluar lain. Coba berjalan ke sisi kiri tangga yang juga terlihat ada beberapa pintu disana.


Fania mencoba berjalan ke arah tersebut, sambil melirik tangga, dan melihat – lihat situasi, namun menjaga jarak dari tangga agar tidak terlihat seandainya ada orang dibawah sana. Fania mencoba peruntungan nya dengan berjalan ke sisi tangga.


‘Kalo ga ada jalan laen, kayaknya gue harus lewat jendela!.’ Batin Fania dan ia terus berjalan. ‘Michelle... Vla.... mudahan kalian ga apa – apa ..’ Fania terus bergerak dengan mengendap – endap.


“Miss.. ( Nona ) ..”


GLUK!.


Sebuah suara milik seorang pria membuat Fania spontan menghentikan langkah dan menelan kasar salivanya.


*****


‘Scusi il disturbo, Signore .. Qualcuno costretto a conoscerti. ( Maaf mengganggumu, Tuan .. Ada yang


memaksa bertemu denganmu ).’


'Chi?. ( Siapa? ).'


'Lui dice, lui invia messagio.( Dia bilang, dia menyampaikan pesan ).’


'Cosa?. ( Apa? ).’


'I Nero Fuoco. ( Api Hitam ).’


'COSA?!. ( APA?! ).’


'Ecco Cosa Dice. ( Itu yang dia katakan ).’


'Predentelo!.'  Bawa dia! ).’


*****


"Guys, I think that we should to take precautions.( Aku rasa kita harus berjaga – jaga ).”


"What is it?. ( Ada apa? ).”


Klik!!


 ( Suara senjata yang dikokang terdengar )


"Let’s go and see!. ( Ayo lihat ).”


"Let me go first. ( Biar aku dulu yang pergi ).”


*****


“This way, Miss ..... ( Lewat sini, Nona ).”


Pria yang memergoki Fania sedang mengendap – endap itu merentangkan tangannya pada tangga besar yang tadi


Fania lihat. Tangga besar yang tadi ia hindari untuk kabur. Dia teringat pada suara dingin nan mendominasi, serta samar wajah sang pria akibat matanya terhalang bulir air mata.


Fania sudah memakai kembali bootnya setelah pria tadi mempersilahkan dirinya untuk memakai bootnya dan duduk diatas sebuah kursi tak jauh dari tempat mereka berada tadi.


Fania mengangguk pelan saat pria itu nampak mengarahkan jalan dengan sopan.


Seperti Theresa versi cowok, pria yang nampak seperti kepala pelayan itu menurut pendapat Fania.


Fania berjalan dibelakang pria tersebut. Meski Fania melangkah dengan ragu, namun ia tetap patuh mengekori pria itu sambil satu tangan Fania memegang pegangan tangga kayu yang berada disamping kanannya. Tak berusaha untuk kabur dan berulah. Sepertinya semalam ia tak jadi ‘dihabisi’ dan pelayan yang sedang berjalan didepannya ini


memperlakukannya dengan begitu sopan.


Mungkin benar pria yang semalam itu adalah Lucca Valentino dan ia memang seorang teman, serta mungkin pria itu sudah tahu identitasnya. Entahlah, Fania hanya ingin tahu tentang Andrew dan yang lainnya dari pria bernama Lucca itu, lalu mencari Michelle dan Vla.


***


Pria yang seperti seorang kepala pelayan itu sudah mencapai lantai bawah. Ia membalikkan tubuhnya dan berdiri miring sembari tersenyum dengan ramah sambil juga merentangkan satu tangannya untuk mempersilahkan Fania berjalan lurus ke satu ruangan.

__ADS_1


“MICHELLE!.”


“Kak Fania..”


Fania langsung memeluk Michelle yang juga langsung memeluk dirinya. “Where’s Vla?!. ( Vla mana?! ).”


Fania yang sudah melepaskan pelukannya dari Michelle itu bertanya dengan cemas pada adik iparnya .


“He’s okay, don’t worry, Kak. ( Dia baik – baik, jangan khawatir, Kak ).”


“Hh, syukurlah ..... dimana dia sekarang, Chel?.”


Fania bertanya lagi, sambil celingukan sebentar.


Michelle meraih kedua lengan Fania dan mengelusnya pelan sembari tersenyum namun matanya berkaca – kaca.


“Kenapa, Chel?. Apa lo udah ketemu Lucca?.” Tanya Fania yang menyadari kalau mata Michelle berkaca – kaca.


Michelle mengangguk sambil masih tersenyum. “Udah Kak..” Sahut Michelle dan sebulir air matanya menetes.


“Te-rus, dia bilang apa Chel?..” Tanya Fania lagi takut – takut karena melihat Michelle meneteskan air mata. “Apa..”


Fania menggantung kata – katanya bersamaan dengan suara yang agak sedikit ricuh, seperti orang berlari diatas lantai kayu, terdengar mendekat ke arah Fania dan Michelle yang sedang berdiri berhadapan itu.


“Kak ..”


Michelle menggeser tubuh Fania dan menghadapkannya ke satu arah.


‘Kala Purnama Menghampiriku, Tak Tertahan Linang Air Mata ..’


***


Mata Fania mulai berkaca – kaca, perlahan air mata mulai keluar dan menetes sebulir demi sebulir kepipinya, saat Michelle menggeser arah tubuhnya dan sesuatu, bukan, sosok seseorang yang begitu ingin ia temui, ingin ia peluk dan tak akan dilepas lagi.


Fania terpaku, membeku ditempatnya. Sungguh ia tak ingin terlalu berharap, tapi perasaannya menginginkan ia berlari ke arah dimana ia melihat seseorang yang amat dinantinya, yang juga seperti sedang berlari kearahnya. Antara nyata dan halusinasinya, tak ingin berharap karena memang sejak insiden yang seperti petir disiang hari itu, Fania sering berhalusinasi, bahkan berbicara sendiri.


Tapi sosok itu kian nyata, kian mendekat. Apa Michelle juga melihatnya?. Atau ia sudah terlalu gila atas harapnya?. Fania lunglai dan akan melorot jatuh diatas kedua lututnya, terisak sambil menutup mulutnya dengan bahu yang bergetar.


Hingga dua tangan kekar menangkap tubuhnya yang hampir melorot itu dengan cepat. Seiring harum yang menguar kian menelusup begitu dekat di hidung Fania dan dekapan itu terasa begitu sangat nyata.


‘Jika ini mimpi, aku tak ingin terbangun lagi. Jika ini halusinasiku seperti semalam, saat samar – samar kulihat dia dan mendengar suaranya, mencium harum tubuhnya, jadi gilapun aku tak apa.’


“Heart ....”


Suara yang terdengar itu membuat isakan Fania makin kencang, bahunya makin bergetar. Seiring dekapan yang merengkuhnya kian erat.


“I’m here, Heart .. I’m here .. ( Aku disini, Heart ... Aku disini )..”


“D!!!..” Fania histeris. Entah nyata atau tidak, rasanya ia tak perduli. Suara seperti suara Andrew yang parau itu terasa begitu dekat ditelinga Fania. Halusinasi itu terasa begitu nyata untuknya. “Jangan pergi, D ..... jangan pergi lagi .. meski Cuma bayangan tetaplah disini.. jangan tinggalin aku..”


***


To be continue ......


Baper nih yeeee ..... hiya hiya hiya ..


Nyanyi ah ..


đŸŽ”đŸŽ”Betapa hati rindu pada dirimu, duhai kekasihku....  Segeralah kembali pada diriku, duhai kekasihku...đŸŽ”đŸŽ”


- - -


đŸŽ”đŸŽ”Semoga kita dapat bertemu lagi seperti dahulu ... Supaya kita dapat bercinta lagi seperti dahulu ..đŸŽ”đŸŽ”


 


Hoa! Hoe!


Haseeeekkkk.......

__ADS_1


💃💃💃💃


__ADS_2